Bagian 3 — Saat Aku Kembali ke Kantor, Rahasia Keuangan Suamiku Mulai Terbuka
Aku tidak langsung menjawab Raka.
Tanganku masih berada di atas halaman proposal.
Diagram itu kubuat delapan tahun lalu ketika aku menangani peluncuran sebuah merek makanan beku.
Aku ingat setiap detailnya.
Bahkan bentuk panah biru yang sekarang dicetak ulang dalam warna hitam.
Ada satu kesalahan kecil pada kata “retention” yang dulu tertulis “retantion”. Presentasi final sudah diperbaiki, tetapi salinan awal yang kusimpan di hard drive rumah masih memiliki kesalahan itu.
Dan di proposal milik perusahaan Ardi, kesalahan yang sama masih ada.
“Aku tidak pernah memberikan file ini kepadanya,” kataku.
Raka menyandarkan punggung.
“Laptop lama kamu ada di rumah?”
“Ada.”
“Siapa yang bisa mengakses?”
“Ardi tahu password komputer keluarga. Hard drive lama pernah aku sambungkan ke situ.”
Raka mengangguk perlahan.
“Aku tidak butuh kesimpulan sekarang. Compliance yang akan menangani. Kamu jangan menghubungi Varuna mengenai tender ini. Jangan bicara kepada suamimu tentang dokumen ini sebelum kami selesai mengamankan bukti.”
Aku menarik napas.
“Dan aku tetap dikeluarkan dari penilaian Varuna?”
“Tentu.”
“Catat secara tertulis.”
Raka tersenyum tipis.
“Masih Maya yang dulu.”
“Justru karena dia suamiku, semuanya harus lebih bersih.”
Aku meninggalkan ruang rapat dengan kepala penuh suara.
Selama ini kupikir penghinaan saat Lebaran adalah batas terburuk Ardi.
Ternyata mungkin tidak.
Sore itu tim teknologi memeriksa metadata dokumen yang diserahkan Varuna.
Aku tidak ikut prosesnya.
Aku kembali mengerjakan riset konsumen.
Namun sekitar pukul lima, Raka datang membawa kopi dan berdiri di samping mejaku.
“File aslinya dibuat empat bulan lalu dari akun internal Varuna. Tapi beberapa elemen identik dengan materi lama Nusa Kreasi.”
Aku mengangguk.
“Berarti bukan sekadar kebetulan.”
“Belum boleh menyimpulkan siapa yang mengambil.”
Aku memahami maksudnya.
Jangan membiarkan sakit hati berubah menjadi tuduhan.
Aku hanya berkata, “Baik.”
Pukul 18.10, ponselku berbunyi.
Ardi.
Aku biarkan.
Lalu sebuah pesan masuk.
Pulang sekarang. Kita perlu bicara.
Aku tidak membalas.
Pesan kedua:
Ibu jatuh di kamar mandi.
Aku langsung berdiri.
Meski hubungan kami buruk, aku tidak akan bermain-main dengan kondisi orang tua.
Aku menelepon.
“Bagaimana kondisi Ibu?”
Nada Ardi terdengar jengkel.
“Pergelangan kakinya sakit.”
“Sudah dibawa ke klinik?”
“Belum.”
“Kenapa?”
“Makanya kamu pulang.”
Aku memejamkan mata.
“Kalau orang jatuh dan sakit, bawa ke klinik. Kenapa menunggu aku?”
“Biasanya kamu yang urus!”
Empat kata itu menjelaskan segalanya.
Biasanya kamu yang urus.
Bukan karena aku satu-satunya yang bisa.
Bukan karena mereka tidak punya kendaraan.
Bukan karena tidak ada fasilitas kesehatan.
Hanya karena mereka terbiasa menganggap tanganku selalu tersedia.
“Aku kirim alamat klinik ortopedi terdekat. Bawa Ibu.”
“Maya—”
Aku memutus sambungan.
Dua jam kemudian Citra mengirim foto Bu Ratna memakai penyangga pergelangan kaki.
Tidak ada retak.
Dokter meminta beliau mengurangi aktivitas beberapa hari.
Aku lega.
Tetapi lima menit kemudian Bu Ratna mengirim pesan suara hampir tiga menit.
Aku memutarnya sekali.
Isinya bukan ucapan terima kasih.
Isinya adalah tuduhan.
Katanya seorang menantu yang baik tidak akan membiarkan mertua jatuh.
Katanya aku berubah sejak kembali bekerja.
Katanya perempuan yang terlalu sibuk mengejar karier biasanya lupa keluarga.
Aku menyimpan pesan itu tanpa membalas.
Malamnya aku pulang setelah Naya tidur.
Ardi menunggu di ruang makan.
Di depannya ada dua bungkus nasi Padang kosong.
“Kita bicara.”
Aku meletakkan tas.
“Aku capek.”
“Aku juga capek!”
Untuk pertama kalinya dia mengucapkan kalimat itu seolah baru menyadari bahwa rasa lelah bisa hidup di dalam rumah.
“Baru tiga hari,” jawabku.
Dia memukul meja dengan telapak tangan.
“Tiga hari cukup bikin semuanya berantakan!”
“Kenapa?”
“Apa?”
“Kalau selama tujuh tahun aku tidak melakukan apa-apa, kenapa tiga hari tanpaku membuat semuanya berantakan?”
Ardi diam.
Bu Ratna muncul dari kamar dengan kaki dibalut.
“Karena seorang istri memang punya kewajiban mengurus rumah.”
Aku menoleh.
“Kalau itu kewajiban, kenapa disebut tidak ada kontribusi?”
Bu Ratna membuka mulut.
Tak ada jawaban.
Citra keluar dari kamar sambil membawa ponsel.
“Kak Maya, jangan dibesar-besarkan terus gara-gara uang THR.”
Aku menatapnya.
“Ini bukan soal uang.”
“Lalu apa?”
“Cara kalian melihatku.”
Citra mendengus.
“Ya ampun. Semua orang tahu Kakak hidup enak. Rumah ada. Mobil ada. Belanja ada. Kakak enggak pernah kekurangan.”
Aku tersenyum kecil.
“Kalau begitu mulai sekarang kamu ambil kehidupan enak itu.”
“Maksudnya?”
“Kamu tinggal di sini hampir setiap hari. Coba kerjakan semuanya.”
Citra langsung tersinggung.
“Aku punya bisnis!”
“Nah.”
Aku menatapnya.
“Akhirnya kita sepakat bahwa waktu seseorang punya nilai.”
Ardi berdiri.
“Sudah.”
Dia menunjuk kursi di depannya.
“Duduk.”
Aku tetap berdiri.
Dia mengeluarkan buku tabungan digital dari ponselnya.
“Aku mau kasih tahu sesuatu supaya kamu sadar. Penghasilanmu nanti jangan dipakai sesuka hati. Rumah ini punya banyak pengeluaran.”
Aku tertawa pendek.
“Penghasilanku?”
“Kita suami istri.”
“Kemarin aku orang yang kontribusinya nol. Sekarang gajiku sudah jadi uang bersama?”
Wajahnya memerah.
“Itu bukan maksudku.”
“Tiga hari cukup cepat mengubah definisi.”
Aku hendak pergi ketika dia berkata,
“KPR dua bulan ini belum lunas.”
Langkahku berhenti.
Aku menoleh.
“Apa?”
Ardi mengusap wajah.
“Ada sedikit masalah cash flow.”
Sedikit masalah.
Rumah yang kami tempati dibeli empat tahun lalu.
Uang muka sebesar Rp420 juta berasal dari tabunganku sebelum menikah dan hasil penjualan sebidang tanah warisan dari ayahku.
Ardi membayar cicilan bulanan.
Setidaknya itulah yang selama ini kukira.
“Dua bulan belum dibayar?”
“Bakal kubayar.”
“Kenapa tidak bilang?”
“Karena bisa kuselesaikan.”
“Dengan uang apa?”
Dia tidak menjawab.
Aku langsung mengambil ponsel.
Akun KPR menggunakan email keluarga yang selama ini jarang kubuka.
Ada tiga pemberitahuan.
Keterlambatan pembayaran.
Denda.
Dan permintaan penyelesaian tunggakan.
Tanganku mulai dingin.
“Ardi.”
Dia memalingkan wajah.
“Uangnya ke mana?”
Bu Ratna ikut gelisah.
“Jangan interogasi suamimu begitu.”
Aku tidak menghiraukannya.
“Uangnya ke mana?”
Akhirnya Citra bersuara.
“Mas Ardi cuma bantu aku sedikit.”
Aku menatapnya.
“Berapa?”
Citra tidak menjawab.
“Berapa, Citra?”
“Bisnisku butuh modal.”
“Berapa?”
Ardi membentak,
“Rp85 juta! Puas?”
Ruangan seketika sunyi.
Delapan puluh lima juta.
Dia menunggakkan dua bulan cicilan rumah untuk memberi modal kepada adiknya.
Tanpa bicara denganku.
Tanpa mengatakan apa pun.
Citra buru-buru berkata,
“Itu pinjaman! Aku bakal balikin.”
“Kapan?”
“Ya kalau penjualan sudah stabil.”
Aku hampir tidak percaya.
“Bisnis yang bulan lalu kamu bilang untung besar?”
Citra memerah.
Bu Ratna langsung membela.
“Namanya saudara saling membantu.”
Aku memandang beliau.
“Dengan mempertaruhkan rumah tempat anak saya tinggal?”
“Jangan dramatis. Ardi bisa bayar.”
Aku mengambil napas panjang.
Kemudian sesuatu terlintas di kepalaku.
“Berapa lagi?”
Ardi mengernyit.
“Apa?”
“Kalau Rp85 juta ini baru yang aku tahu, berapa lagi uang rumah yang kamu berikan ke keluargamu?”
Tidak ada yang menjawab.
Itu sudah cukup.
Aku masuk kamar.
Ardi mengikuti.
“Maya, jangan cari masalah baru.”
Aku membuka laptop.
Mengecek rekening bersama.
Lalu kartu kredit tambahan yang selama ini dipakai untuk kebutuhan rumah.
Satu per satu transaksi muncul.
Rp12 juta untuk renovasi kios Citra.
Rp8,7 juta untuk cicilan motor Dimas—bukan motor untuk Dimas, tentu saja, tetapi motor yang diklaim Citra diperlukan untuk pengiriman.
Rp16 juta untuk arisan Bu Ratna.
Rp6,4 juta untuk perjalanan keluarga ke Bandung enam bulan lalu, yang dulu kukira dibayar Ardi sebagai hadiah ulang tahun ibunya.
Ada lagi.
Dan lagi.
Aku berhenti menghitung ketika jumlahnya melewati Rp140 juta selama empat belas bulan.
Bukan semuanya berasal langsung dari cicilan rumah.
Tetapi semuanya berasal dari keuangan keluarga kami.
Sementara aku membeli sepatu baru Naya dengan menunggu diskon.
Sementara aku menunda mengganti ponsel selama lima tahun.
Sementara setiap kali meminta tambahan uang belanja karena harga bahan makanan naik, Ardi akan berkata,
“Belajar hemat.”
Aku menatap lelaki yang berdiri di belakangku.
“Jadi begini cara kamu menanggung keluarga?”
“Mereka keluargaku.”
“Aku dan Naya apa?”
Dia diam.
Aku menutup laptop.
Malam itu aku tidak bertengkar lagi.
Aku justru menjadi sangat tenang.
Keesokan paginya aku menghubungi bank.
Meminta salinan histori pembayaran KPR.
Mengganti password email keluarga yang tercantum atas namaku.
Memisahkan pembayaran sekolah Naya ke rekening pribadiku.
Lalu menghubungi seorang pengacara keluarga yang direkomendasikan Ratih.
Namanya Diah Kusuma.
Kami bertemu saat makan siang.
Aku meletakkan semua catatan di depannya.
Diah membaca tanpa banyak ekspresi.
“Kamu mau langsung bercerai?”
“Aku belum tahu.”
“Kalau belum tahu, jangan mengambil keputusan karena marah. Tapi lindungi dokumenmu sekarang.”
Dia menuliskan daftar.
Dokumen rumah.
Rekening.
Bukti sumber uang muka.
Akta pernikahan.
Dokumen sekolah Naya.
Daftar aset.
Daftar kewajiban.
“Dan jangan tanda tangan apa pun dari suamimu sebelum kamu baca.”
Aku mengangguk.
Sebelum meninggalkan restoran, Diah berkata,
“Maya, satu hal.”
Aku menoleh.
“Jangan salah paham antara mempersiapkan diri dengan menghancurkan keluarga. Kadang mempersiapkan diri justru satu-satunya cara supaya kamu tidak ikut tenggelam.”
Kalimat itu tinggal di kepalaku.
Di kantor, situasi tender semakin serius.
Tim compliance menemukan bahwa bukan hanya satu diagram lama yang muncul dalam proposal Varuna.
Ada dua kerangka strategi.
Satu matriks segmentasi.
Dan satu contoh studi kasus yang berasal dari proyek lama Nusa Kreasi.
Ardi tercantum sebagai penanggung jawab proposal.
Raka memanggilku lagi.
“Kami akan meminta klarifikasi resmi dari Varuna.”
“Aku tetap tidak terlibat.”
“Ya.”
“Dan jangan gunakan hubungan pribadiku sebagai bukti.”
Raka menatapku.
“Kami punya metadata dan arsip internal. Tidak perlu.”
Aku mengangguk.
Aku tidak merasa puas.
Tidak merasa senang.
Yang kurasakan justru malu.
Bertahun-tahun aku mempertahankan seorang lelaki yang mungkin selama ini melihat semua yang kumiliki—waktu, tenaga, pengalaman, bahkan karya—sebagai sesuatu yang otomatis bisa dia ambil.
Sore itu Ardi menelepon dengan nada berbeda.
Tidak marah.
Tidak membentak.
Justru sangat lembut.
“May.”
Aku langsung tahu sesuatu terjadi.
“Ya?”
“Kamu sekarang di Nusa Kreasi, kan?”
Aku terdiam.
Dia melanjutkan.
“Kamu ketemu Pak Raka?”
“Kenapa?”
“Aku cuma tanya.”
“Kenapa, Ardi?”
Sunyi.
Lalu dia berkata,
“Perusahaanku dapat email klarifikasi dari Sagara Mart.”
Aku tidak menjawab.
“Kamu tahu soal itu?”
“Proses tender bukan urusanku.”
“Jangan bohong.”
“Aku sudah menyatakan konflik kepentingan. Aku tidak menilai perusahaanmu.”
Napasnya terdengar berat.
“May, proposal itu… ada beberapa materi lama kamu.”
“Aku tahu.”
“Dengar dulu.”
Aku menutup mata.
“Aku sedang mendengarkan.”
“Waktu itu aku butuh referensi. Aku cuma pakai beberapa slide. Timku kemudian mengembangkan.”
“Kamu menuliskan metodologi itu sebagai milik timmu.”
“Itu bahasa proposal.”
“Dan studi kasusnya?”
Dia diam.
“Ardi?”
“Aku bisa jelaskan.”
“Apakah kamu mengambil file dari hard drive-ku?”
Sunyi panjang.
Jawabannya datang sangat pelan.
“Iya.”
Aku tidak sadar ternyata satu kata bisa terdengar lebih menyakitkan daripada teriakan.
“Kapan?”
“Beberapa bulan lalu.”
“Dengan izin siapa?”
“Kita suami istri, Maya.”
Aku tertawa.
Kali ini benar-benar tertawa.
Bukan karena lucu.
Karena kalimat itu sudah terlalu sering dia gunakan sebagai kunci universal untuk membuka semua yang bukan miliknya.
Waktuku.
Uangku.
Tenagaku.
Sekarang pekerjaanku.
“Menjadi suamiku tidak membuatmu menjadi pemilik semua yang pernah kubuat.”
“Aku cuma perlu memenangkan tender ini.”
“Jadi kamu mengambil karyaku.”
“Jangan pakai kata mencuri.”
“Aku tidak pernah memberikannya.”
“Maya, tolong.”
Nada suaranya berubah.
Aku belum pernah mendengar Ardi berkata tolong dengan cara seperti itu.
“Bicaralah sama Pak Raka. Bilang kamu memang pernah kasih aku file itu.”
Aku tidak langsung percaya apa yang baru kudengar.
“Kamu minta aku berbohong?”
“Bukan berbohong. Kita keluarga.”
“Kalau aku mengatakan aku memberikannya, itu bohong.”
“Kalau tender ini gagal, karierku bisa habis!”
Aku menatap jendela kantor.
Jakarta sedang diguyur hujan.
Lampu kendaraan menyebar seperti garis-garis panjang di kaca.
“Tiga hari lalu,” kataku perlahan, “kamu mengatakan aku tidak menghasilkan apa-apa.”
“May, jangan mulai lagi.”
“Hari ini kamu meminta perempuan yang tidak menghasilkan apa-apa itu menyelamatkan kariermu dengan mengakui bahwa hasil kerjanya memang boleh kamu ambil.”
“Situasinya beda!”
“Tidak.”
Aku menjawab sangat tenang.
“Situasinya justru akhirnya terlihat jelas.”
Aku memutus sambungan.
Malam itu Ardi tidak pulang sampai hampir tengah malam.
Aku tidur bersama Naya.
Sekitar pukul satu, aku terbangun karena mendengar suara keras dari ruang makan.
Ardi sedang bertengkar dengan Citra.
“Aku sudah bilang uang itu harus kembali!”
Citra membalas,
“Aku mana punya delapan puluh lima juta sekarang?”
“Aku butuh!”
“Dulu Mas sendiri bilang santai!”
“Aku bisa kehilangan kerja!”
Aku berdiri di balik pintu kamar.
Bu Ratna menyela.
“Jangan tekan adikmu. Dia juga lagi susah.”
Ardi meledak.
“Ibu tahu enggak sih sekarang masalahnya apa? Cicilan rumah telat! Kantor audit proposal aku! Kalau aku kena sanksi, kalian pikir uang bulanan datang dari mana?”
Tak ada suara.
Lalu Pak Hendra berkata pelan,
“Kenapa semuanya baru dibicarakan sekarang?”
Tidak ada yang menjawab.
Aku kembali ke tempat tidur.
Untuk pertama kali, aku tidak masuk ke tengah pertengkaran untuk memadamkan api.
Mereka yang menyalakannya.
Mereka yang harus belajar merasakan panasnya.
Dua hari kemudian, Varuna menonaktifkan Ardi sementara dari proyek tender selama pemeriksaan internal.
Sagara Mart meminta proposal diperbaiki dan mempertanyakan orisinalitas beberapa bagian.
Belum ada keputusan mengenai pekerjaannya.
Tetapi Ardi sudah panik.
Dia meneleponku sembilan kali.
Aku hanya menjawab sekali.
“May, pulang lebih cepat malam ini.”
“Untuk apa?”
“Kita perlu menyelesaikan ini sebagai suami istri.”
Aku tertawa kecil.
“Kamu ingin menyelesaikan rumah tangga atau menyelesaikan masalah kantor?”
“Maya.”
“Jawab.”
Dia tidak menjawab.
Malam itu ketika aku tiba di rumah, meja makan sudah dipenuhi orang.
Bu Ratna.
Pak Hendra.
Citra.
Ardi.
Dan seorang lelaki yang belum pernah kulihat.
Di depannya ada map cokelat.
Ardi berdiri.
“Ini Pak Bowo.”
“Siapa?”
“Kenalan keluarga. Dia biasa membantu urusan pinjaman.”
Dadaku langsung terasa dingin.
Pak Bowo membuka map.
“Bu Maya, sebenarnya tidak rumit. Untuk membereskan tunggakan dan kebutuhan usaha keluarga, ada fasilitas refinancing. Nilai rumah Ibu cukup.”
Aku menatap Ardi.
“Refinancing?”
Ardi menghindari mataku.
Pak Bowo mengeluarkan beberapa lembar formulir.
“Karena sertifikat tercatat dalam pembelian selama pernikahan dan ada nama Ibu di dokumen pendukung, kami memerlukan tanda tangan Ibu.”
Aku bahkan belum menyentuh pulpen.
“Berapa pinjamannya?”
Pak Bowo berhenti.
Ardi buru-buru menyahut,
“Kita bahas nanti.”
Aku menatap Pak Bowo.
“Berapa?”
Lelaki itu menelan ludah.
“Pengajuannya Rp350 juta.”
Ruangan seolah kehilangan udara.
“Tiga ratus lima puluh juta?”
Ardi mendekat.
“Dengar dulu.”
“Untuk apa?”
“Nutup beberapa kewajiban. Sisanya bisa jadi modal Citra supaya bisnisnya bangkit dan uangku cepat kembali.”
Aku memandang satu demi satu wajah di meja itu.
Ternyata setelah rumah hampir terlambat dibayar karena memberi adiknya Rp85 juta, solusi mereka adalah mempertaruhkan rumah lebih jauh agar bisa memberikan adiknya uang lebih banyak.
Dan mereka mengundang seseorang ke rumah tanpa memberitahuku, berharap aku akan duduk lalu menandatangani.
Bu Ratna berkata,
“Maya, jangan keras kepala. Kalau usaha Citra maju, semua juga kembali ke keluarga.”
Aku mengambil formulir itu.
Merobeknya menjadi dua.
Kemudian empat.
Kemudian meletakkannya kembali di meja.
Wajah Ardi berubah merah.
“Kamu gila?”
“Tidak.”
Aku meraih tas.
“Justru untuk pertama kalinya aku berhenti ikut kegilaan kalian.”
Ardi mencengkeram pergelangan tanganku.
“Kamu tidak boleh pergi sebelum masalah ini selesai.”
Aku menatap tangannya.
“Lepaskan.”
“Maya—”
“Lepaskan tangan saya.”
Suara lain datang dari belakang.
Naya.
Dia berdiri di lorong dengan wajah pucat.
“Papa, jangan pegang Mama begitu.”
Ardi langsung melepaskan tanganku.
Aku menatap anakku.
Saat itulah keputusan yang selama beberapa hari terakhir masih kabur tiba-tiba menjadi sangat sederhana.
Aku masuk kamar.
Mengambil dua koper.
Memasukkan pakaian Naya.
Dokumen penting yang sudah kupisahkan.
Laptop.
Obat.
Beberapa barang pribadi.
Ardi berdiri di pintu.
“Kamu mau ke mana?”
“Ke rumah Mbak Ratih.”
“Kamu bawa Naya?”
“Ya.”
“Kamu tidak bisa seenaknya membawa anakku!”
Aku berhenti memasukkan pakaian.
Kemudian menatapnya lurus.
“Naya bukan barang yang bisa kamu klaim ketika convenient.”
“Aku ayahnya!”
“Bagus.”
Aku menutup koper.
“Besok kamu bisa mulai belajar apa artinya menjadi ayah tanpa menyerahkan semua pekerjaan kepada ibunya.”
Aku menggandeng Naya.
Ketika kami sampai di pintu, Bu Ratna mulai menangis.
Bukan karena takut kehilangan aku.
Kalimat pertamanya membuktikannya.
“Kalau kamu pergi, siapa yang urus Bapak?”
Aku menatapnya beberapa detik.
Lalu tersenyum tipis.
“Bu.”
“Bapak punya dua anak kandung.”
“Untuk pertama kalinya…”
“Cobalah telepon mereka.”
Aku membuka pintu.
Namun sebelum kami melangkah keluar, Ardi berkata dari belakang,
“Kalau kamu keluar malam ini, jangan harap bisa kembali seenaknya.”
Aku menoleh.
Tanganku masih menggenggam tangan Naya.
“Aku tahu.”
Lalu kutambahkan sesuatu yang membuat wajahnya langsung berubah.
“Karena besok pagi, Bu Diah akan mengirim surat undangan mediasi.”

