Bagian 4 — Saat Semua Bukti Dibuka, Suamiku Kehilangan Perusahaan, Rumah, dan Perempuan yang Ia Bela
Tiga hari setelah pesta ulang tahun itu, rumah tanggaku resmi berubah menjadi perkara hukum.
Aku mengajukan gugatan cerai.
Bukan karena emosi sesaat.
Bukan karena Bu Ratih menyuruhku.
Bukan juga karena Nadira hamil.
Aku melakukannya setelah duduk hampir enam jam bersama Maya dan seorang pengacara keluarga yang kupilih sendiri.
Kami memeriksa rekening.
Sertifikat.
Perjanjian.
Kepemilikan rumah.
Bukti transfer.
Rekaman.
Email.
Percakapan.
Dan satu demi satu keputusan yang selama bertahun-tahun kubuat demi mempertahankan pernikahan ternyata justru mempermudah Raka mengeksploitasiku.
Namun ada satu hal yang sangat penting.
Rumah kami tidak bisa begitu saja dipindahkan atau dijaminkan tanpa persetujuanku.
Dokumen yang menggunakan tanda tanganku juga belum berhasil menyelesaikan pengikatan agunan.
Artinya—
mereka hampir berhasil.
Tetapi belum.
Aku masih sempat menghentikannya.
Begitu laporan resmi dibuat, Siska datang bersama pengacaranya.
Ia menyerahkan ponsel.
Laptop.
Flash disk.
Serta semua percakapan dengan Raka.
Aku tidak membenci Siska.
Namun aku juga tidak membenarkannya.
Ia menerima instruksi untuk memalsukan tanda tangan.
Ia tahu itu salah.
Ia tetap melakukannya karena dijanjikan uang.
Tetapi setidaknya, ketika menyadari akibatnya, ia memutuskan bekerja sama dan menyerahkan bukti.
Dari bukti Siska, gambaran masalah semakin jelas.
Raka mulai mengambil uang perusahaan lebih dari setahun sebelumnya.
Awalnya jumlahnya kecil.
Rp20 juta.
Rp35 juta.
Rp48 juta.
Ia menyamarkannya sebagai biaya operasional proyek.
Setelah Nadira kembali dari Singapura dan mendirikan perusahaan interior, jumlahnya membesar.
Raka memberikan beberapa kontrak kepada Nadira.
Sebagian pekerjaan memang nyata.
Namun biayanya dinaikkan.
Sebagian pekerjaan bahkan hanya ada di invoice.
Uang selisih itu kemudian berpindah ke rekening pribadi.
Digunakan untuk apartemen.
Mobil.
Perjalanan.
Modal perusahaan baru.
Dan gaya hidup mereka.
Raka tampaknya yakin semua itu akan tertutup setelah rencananya mengambil alih kendali Wijaya Cipta berhasil.
Masalahnya—
dia meremehkan ibunya sendiri.
Bu Ratih ternyata sudah curiga selama hampir lima bulan.
Awalnya karena satu hal sederhana.
Sebuah proyek renovasi kantor cabang di Jakarta mempunyai biaya interior Rp860 juta.
Bu Ratih pernah datang ke lokasi.
Menurut pengalamannya mendampingi suaminya membangun perusahaan selama puluhan tahun, pekerjaan seperti itu seharusnya tidak lebih dari sekitar Rp500–600 juta.
Beliau meminta dokumen.
Raka marah.
Mengatakan ibunya tidak mengerti harga material sekarang.
Bu Ratih tidak berdebat.
Beliau diam-diam meminta Pak Hendra melakukan audit.
Dari situlah semuanya terbuka.
Aku bertanya kepadanya,
“Kenapa Ibu tidak memberi tahu saya lebih cepat?”
Bu Ratih menjawab,
“Karena Mama masih berharap Raka menghentikannya sendiri.”
Beliau menatapku.
“Dan itu kesalahan Mama.”
Aku menggeleng.
“Kita berdua terlalu lama berharap dia berubah.”
Seminggu setelah ulang tahun, rapat pemegang saham luar biasa digelar.
Aku tidak ikut.
Itu bukan urusanku.
Namun Bu Ratih pulang sore hari membawa wajah sangat lelah.
“Raka diberhentikan.”
Aku mengangguk.
Beliau duduk.
“Kewenangan tanda tangan perusahaan dicabut. Audit penuh terus berjalan. Kalau ditemukan unsur pidana tambahan, perusahaan tidak akan menutupinya.”
Aku menatap beliau.
“Walaupun dia anak Ibu?”
Bu Ratih lama tidak menjawab.
Kemudian berkata,
“Justru karena dia anak Mama, Mama terlalu lama memberinya kesempatan.”
Beliau memejamkan mata.
“Tapi menjadi ibu tidak berarti harus menyembunyikan kesalahan anak sampai orang lain menjadi korban.”
Kalimat itu menetap lama di kepalaku.
Raka datang malam itu.
Ia berdiri di depan rumah Bu Ratih hampir empat puluh menit sebelum akhirnya diizinkan masuk.
Penampilannya jauh berbeda dari laki-laki yang satu minggu sebelumnya duduk angkuh di samping Nadira.
Kemejanya kusut.
Matanya merah.
Wajahnya tampak lelah.
“Alya.”
Aku duduk di ruang tamu bersama Maya.
Bu Ratih berada di lantai atas.
“Aku mau bicara berdua.”
“Tidak.”
“Aku suamimu.”
“Status itu sedang kita selesaikan.”
Raka menatap Maya kesal.
“Aku nggak akan menyakitinya.”
Aku menjawab,
“Aku tidak takut kamu menyakitiku secara fisik.”
Aku menatapnya.
“Kamu sudah melakukan jenis kerusakan lain selama bertahun-tahun.”
Raka duduk.
Beberapa detik tidak ada suara.
Lalu ia berkata,
“Aku putus sama Nadira.”
Aku hampir tidak percaya bahwa itu kalimat pertama yang ia pilih.
“Lalu?”
Raka terlihat bingung.
“Aku bilang aku sudah putus.”
“Aku dengar.”
“Kamu nggak mau bilang apa-apa?”
“Apa yang kamu harapkan?”
Ia mengusap wajah.
“Aku sadar aku salah.”
Aku diam.
“Alya, semuanya kacau.”
“Perusahaanku hilang.”
“Rekeningku diblokir untuk audit.”
“Nadira pergi.”
Aku menatapnya.
“Jadi?”
Raka memukul lututnya sendiri.
“Aku kehilangan semuanya!”
Dan akhirnya aku mengerti kenapa dia datang.
Bukan karena aku.
Dia datang karena seluruh sistem yang selama ini melindunginya runtuh.
Aku tersenyum pahit.
“Kamu tidak kehilangan semuanya, Raka.”
“Kamu membuangnya.”
Ia menatapku.
“Bedanya besar.”
Raka kemudian mengatakan sesuatu yang selama empat tahun selalu ingin kudengar.
“Aku masih sayang kamu.”
Dulu mungkin aku akan menangis.
Mungkin aku akan menganggapnya kemenangan.
Mungkin aku akan merasa akhirnya dipilih.
Sekarang kalimat itu terdengar kosong.
“Sayang yang mana?”
tanyaku.
“Sayang waktu kamu menyewa apartemen dengan perempuan lain?”
“Atau sayang waktu kamu memakai uang tabungan kita?”
“Atau saat kamu menyuruh orang meniru tanda tanganku?”
“Aku panik.”
“Tidak.”
Aku menggeleng.
“Memalsukan tanda tangan bukan panik.”
“Memindahkan uang selama berbulan-bulan bukan panik.”
“Membuat perusahaan bersama perempuan lain bukan panik.”
“Itu rangkaian keputusan.”
Raka menunduk.
Aku melanjutkan,
“Dan yang paling aku ingat adalah rekamanmu.”
Wajahnya berubah.
Aku mengutip kalimatnya.
“Katamu aku gampang.”
“Katamu kalau aku disakiti pelan-pelan, aku akan merasa tidak layak dipertahankan.”
Raka memejamkan mata.
“Aku marah waktu ngomong itu.”
“Tapi kamu benar tentang satu hal.”
Ia mengangkat kepala.
“Aku memang sempat merasa tidak layak.”
Aku tersenyum.
“Sekarang tidak lagi.”
Raka menangis.
Aku belum pernah melihatnya menangis sejak ayahnya meninggal.
Tetapi anehnya, aku tidak merasa puas.
Aku juga tidak merasa ingin memeluknya.
Aku hanya lelah.
“Aku bisa berubah.”
katanya.
“Mungkin.”
Aku menjawab.
“Tapi perubahanmu bukan lagi tanggung jawabku.”
“Alya…”
“Aku berharap kamu berubah.”
Aku menatapnya.
“Supaya setelah ini kamu tidak menghancurkan orang lain.”
“Tapi pernikahan kita selesai.”
Untuk pertama kalinya, aku mengatakannya tanpa rasa takut.
Selesai.
Hubungan Raka dan Nadira ternyata juga tidak bertahan.
Bukan karena aku menang.
Bukan karena aku merebut siapa pun kembali.
Hubungan mereka runtuh karena dibangun di atas kebohongan yang mereka ceritakan satu sama lain.
Raka mengatakan kepadanya bahwa aku sudah setuju bercerai.
Bohong.
Ia mengatakan rumah akan dijual secara sah.
Bohong.
Ia mengatakan uang modal berasal dari investasinya sendiri.
Bohong.
Sebaliknya, Nadira juga tidak sepenuhnya jujur.
Dalam audit ditemukan ia mengalihkan sebagian dana yang diberikan Raka ke rekening lain atas nama saudaranya.
Perusahaan barunya memiliki utang lama.
Beberapa vendor menagih.
Dan kepemilikan yang ia janjikan kepada Raka ternyata juga sedang ditawarkan kepada investor lain.
Mereka sama-sama menggunakan satu sama lain.
Ketika fondasinya retak, cinta yang mereka anggap begitu besar ternyata tidak mampu menahannya.
Ada satu hal yang awalnya membuatku khawatir.
Kehamilan Nadira.
Apa pun kesalahan orang tuanya, anak tidak boleh menanggung akibat.
Dua minggu kemudian, melalui kuasa hukumnya, Nadira meminta tes paternitas dilakukan pada waktu yang aman sesuai rekomendasi dokter atau setelah kelahiran.
Aku tidak ikut campur.
Itu bukan lagi urusanku.
Namun beberapa bulan kemudian aku mendengar hasilnya.
Anak tersebut memang anak Raka.
Raka akhirnya mengakui dan diwajibkan memenuhi tanggung jawab finansial sesuai kesepakatan hukum mereka.
Aku lega karena setidaknya satu orang dewasa tidak mencoba melarikan diri dari hak seorang anak.
Tetapi Raka dan Nadira tidak kembali bersama.
Nadira pindah ke Jakarta setelah menutup kantornya di Surabaya.
Perusahaan miliknya menghadapi tuntutan perdata terkait sejumlah transaksi.
Kasus mengenai dugaan transaksi perusahaan Wijaya Cipta diproses secara terpisah melalui jalur hukum dan audit.
Aku tidak mengikuti setiap perkembangannya.
Ada hal-hal yang setelah diserahkan kepada pengacara memang lebih sehat untuk tidak lagi kubawa tidur.
Proses perceraianku berlangsung beberapa bulan.
Tidak selalu mudah.
Ada hari-hari ketika aku masih bangun pukul tiga pagi dan merasa ingin muntah karena mengingat sesuatu.
Ada malam ketika aku membuka galeri ponsel dan melihat foto pernikahan kami.
Foto liburan.
Foto ulang tahun.
Foto Raka tidur di sofa.
Hal paling menyakitkan dari pengkhianatan bukan mengetahui bahwa semuanya palsu.
Karena tidak semuanya palsu.
Ada hari ketika kami benar-benar bahagia.
Ada makan malam yang benar-benar hangat.
Ada tawa yang benar-benar tulus.
Ada masa ketika aku yakin dia memang mencintaiku dengan caranya.
Justru itulah yang membuatnya sulit.
Seseorang tidak perlu menjadi monster setiap hari untuk menghancurkanmu.
Kadang dia bisa membuatmu tertawa pada hari Senin—
lalu berbohong kepadamu pada hari Selasa.
Rumah kami akhirnya dipertahankan sementara selama penyelesaian pembagian aset.
Setelah perjanjian hukum selesai, bagian Raka diselesaikan melalui mekanisme yang disepakati para pihak.
Aku memilih mempertahankan rumah itu.
Bukan karena kenangan.
Justru karena aku tidak mau kehilangan sesuatu yang kubangun hanya karena orang lain mencoba mencurinya.
Namun aku mengubah hampir semuanya.
Dinding ruang tamu yang dulu abu-abu aku cat krem terang.
Sofa kulit pilihan Raka kujual.
Ruang kerja lamanya kubongkar dan kuubah menjadi studio desain.
Foto pernikahan kuturunkan.
Rak minuman kerasnya kuganti dengan lemari sampel material.
Bu Ratih datang saat renovasi hampir selesai.
Beliau berdiri cukup lama di tengah ruang tamu.
“Beda sekali.”
Aku tersenyum.
“Memang sengaja.”
Beliau mengangguk.
“Bagus.”
Lalu seperti biasanya, beliau menambahkan,
“Tapi lampu di sini terlalu putih.”
Aku menatapnya.
Beliau terdiam.
Kami sama-sama tertawa.
Itulah pertama kalinya kami bisa tertawa tentang kebiasaan beliau mengkritik.
Hubunganku dengan Bu Ratih tidak tiba-tiba menjadi sempurna.
Itu penting.
Karena kehidupan nyata tidak bekerja begitu.
Beliau masih keras.
Masih suka memberi pendapat yang tidak diminta.
Masih merasa resep rawon miliknya paling benar di seluruh Jawa Timur.
Aku juga tidak tiba-tiba melupakan empat tahun ketika perkataannya sering menyakitiku.
Tetapi ada perubahan.
Beliau belajar meminta maaf.
Aku belajar mengatakan ketika aku tidak suka.
Suatu sore beliau mengkritik jadwal kerjaku.
Aku langsung berkata,
“Ma, itu hidupku.”
Beliau terdiam.
Dua detik.
Lima detik.
Aku sudah bersiap untuk berdebat.
Ternyata beliau berkata,
“Iya.”
Kemudian kembali minum teh.
Aku hampir tertawa.
Kemajuan kecil tetap kemajuan.
Enam bulan setelah perceraian selesai, studionya berkembang.
Salah satu klien lamaku merekomendasikan kami untuk proyek hotel butik di Malang.
Nilainya paling besar sepanjang karierku.
Dulu aku mungkin akan segera menceritakannya kepada Raka.
Sekarang orang pertama yang kutelepon adalah timku.
Kami berteriak seperti anak sekolah.
Malamnya Bu Ratih mengirim satu pesan.
Mama dengar proyeknya dapat. Selamat. Jangan lupa makan.
Aku menatap layar cukup lama.
Lalu menjawab,
Terima kasih, Ma.
Tidak lebih.
Tidak perlu lebih.
Setahun setelah malam ulang tahun itu, Bu Ratih mengadakan makan malam kecil.
Bukan pesta besar.
Hanya sekitar dua belas orang keluarga dekat.
Aku sebenarnya tidak wajib datang.
Secara hukum, aku bukan lagi menantunya.
Namun Bu Ratih menelepon langsung.
“Kamu datang, kan?”
Aku bercanda,
“Takut ada yang minta kupaskan udang lagi?”
Beliau diam dua detik.
Lalu tertawa keras.
Untuk pertama kalinya aku mendengar Bu Ratih tertawa seperti itu.
“Kalau ada, Mama lempar sendok dulu. Jangan udang. Mahal.”
Aku datang.
Aneh rasanya memasuki rumah itu bukan sebagai istri Raka.
Tetapi aku tidak merasa asing.
Di meja makan ada udang bakar.
Sepupunya yang dulu pernah menertawakanku mendekat.
“Kak Alya.”
Aku menoleh.
Dia mengangkat satu udang.
Aku mengangkat alis.
Ia cepat-cepat berkata,
“Aku kupas sendiri.”
Seluruh meja tertawa.
Aku juga.
Bukan karena aku lupa.
Melainkan karena kenangan itu akhirnya tidak lagi memiliki kekuatan untuk menyakitiku.
Raka tidak hadir.
Aku mendengar ia pindah ke Jakarta dan bekerja pada perusahaan konstruksi yang jauh lebih kecil.
Ia tidak lagi memiliki posisi besar.
Tidak lagi mendapat mobil perusahaan.
Tidak lagi mempunyai bawahan yang mengurus semua keperluannya.
Sebagian aset pribadinya digunakan untuk menyelesaikan kewajiban hukum dan finansial.
Beberapa kerabat pernah berkata,
“Kasihan juga.”
Aku tidak ikut berkomentar.
Konsekuensi bukan kekejaman.
Kadang konsekuensi hanyalah tagihan dari keputusan yang terlalu lama dianggap tidak akan pernah datang.
Sekitar dua bulan kemudian, Raka mengirim email.
Tidak panjang.
Tidak meminta kembali.
Tidak menyalahkan siapa pun.
Ia menulis bahwa selama berbulan-bulan menjalani konseling, ia akhirnya mengerti satu hal:
dia selama ini selalu menganggap cinta berarti seseorang akan terus memaafkannya.
Aku membaca sampai akhir.
Kemudian menutup email.
Aku tidak membalas.
Bukan karena benci.
Melainkan karena beberapa percakapan memang tidak perlu dilanjutkan.
Dua tahun berlalu.
Aku membuka cabang kedua studionya di Jakarta.
Pada acara pembukaan, Bu Ratih datang membawa bunga.
Beliau sudah berusia enam puluh dua.
Rambutnya lebih banyak putih.
Namun langkahnya masih tegas.
Di depan stafku beliau berkata,
“Jangan terlalu memuji Alya. Nanti sombong.”
Aku tertawa.
“Ma.”
Beliau langsung memperbaiki,
“Tapi dia memang kerja keras.”
Semua orang tertawa.
Setelah acara selesai, kami duduk di dekat jendela.
Jakarta hujan sore itu.
Bu Ratih berkata,
“Kalau waktu bisa diputar, Mama ingin memperlakukanmu lebih baik sejak awal.”
Aku memandang jalanan.
“Kalau waktu bisa diputar, saya juga ingin lebih cepat membela diri.”
Beliau mengangguk.
Kemudian berkata,
“Berarti kita sama-sama terlambat belajar.”
Aku tersenyum.
“Yang penting masih belajar.”
Banyak orang kemudian bertanya kepadaku,
“Bagaimana rasanya ketika ibu mertua akhirnya membelamu?”
Mereka membayangkan bagian paling memuaskan dari kisahku adalah ketika Bu Ratih menampar Raka.
Atau ketika perusahaan mencopot jabatannya.
Atau ketika rencana Raka dan Nadira hancur.
Bukan.
Bagian yang paling membebaskanku terjadi jauh setelah itu.
Suatu malam aku pulang dari kantor sendirian.
Membuka pintu rumah.
Menyalakan lampu.
Meletakkan tas.
Tidak ada orang yang mempertanyakan aku pulang jam berapa.
Tidak ada ponsel yang sengaja dibalik.
Tidak ada alasan perjalanan dinas.
Tidak ada perempuan lain yang harus kutakuti.
Tidak ada keluarga yang harus kuusahakan mati-matian agar menerimaku.
Aku membuat teh.
Duduk di sofa.
Rumah sangat sunyi.
Dulu aku takut pada kesunyian seperti itu.
Malam itu—
untuk pertama kalinya aku menyadari:
sunyi tidak selalu berarti kesepian.
Kadang sunyi berarti aman.
Aku tidak kehilangan rumah tangga.
Aku keluar dari rumah tangga yang sudah lama kehilangan rasa hormat.
Aku tidak kalah dari Nadira.
Karena pernikahan bukan perlombaan memperebutkan seorang laki-laki.
Dan aku tidak menang karena Raka kehilangan perusahaan, jabatan, atau perempuan yang dibelanya.
Aku menang ketika tidak lagi membutuhkan kehancurannya untuk merasa hidupku berharga.
Satu tahun setelah semuanya selesai, di ulang tahunku yang ke-34, Bu Ratih mengirim sebuah kotak kecil.
Di dalamnya tidak ada perhiasan.
Tidak ada barang mahal.
Hanya sebuah kunci cadangan rumahnya.
Dan secarik kartu.
Tulisan tangan beliau hanya dua kalimat:
“Status di atas kertas bisa berubah.”
“Kalau kamu masih mau, rumah Mama tetap rumahmu.”
Aku membaca kartu itu dua kali.
Lalu menangis.
Bukan karena sedih.
Melainkan karena setelah bertahun-tahun berusaha menjadi cukup baik untuk diterima—
akhirnya aku memahami sesuatu yang jauh lebih penting.
Keluarga bukan selalu orang yang terikat kepada kita lewat pernikahan.
Kadang keluarga justru adalah orang yang memilih berdiri di samping kita ketika orang yang seharusnya melindungi kita menjadi orang pertama yang mengkhianati kita.
Dan mengenai malam ketika semuanya dimulai?
Aku masih ingat udang panas itu.
Gaun Nadira yang terkena saus.
Tamparan yang mendarat di wajah Raka.
Amplop cokelat di atas meja.
Namun sekarang, ketika mengingat malam itu, yang paling jelas bukan lagi rasa malu.
Melainkan suara Bu Ratih yang menghentikanku tepat sebelum aku mengupas udang.
“Jangan sentuh.”
Dulu kupikir beliau hanya sedang menyelamatkan harga diriku di meja makan.
Ternyata malam itu beliau sedang melakukan sesuatu yang jauh lebih besar.
Beliau menghentikanku—
sebelum aku kembali menelan penghinaan dan menyebutnya sebagai harga yang harus dibayar untuk mempertahankan sebuah pernikahan.
Dan sejak malam itu, aku tidak pernah lagi mengorbankan harga diriku demi mempertahankan seseorang yang bahkan tidak takut kehilangan aku.

