Bagian 3 — Rekaman di Balik Pintu Membongkar Rencana Mereka Menguasai Uang dan Rumahku

Avatar penulis
Cerita 02
8 menit baca 954 tayangan
Bagian 3 — Rekaman di Balik Pintu Membongkar Rencana Mereka Menguasai Uang dan Rumahku
Indeks

Bagian 3 — Rekaman di Balik Pintu Membongkar Rencana Mereka Menguasai Uang dan Rumahku

Aku tidak langsung masuk.

Aku berdiri di balik dinding dekat ruang tamu dengan Kirana tertidur di gendongan, sementara ponsel di tanganku terus merekam.

Bu Marni berbicara tanpa tahu bahwa setiap kalimatnya sedang kusimpan.

“Kalau nanti sudah kembali ke Jakarta, jangan lembek lagi,” katanya. “Mulai bulan depan minta enam juta.”

Dimas menjawab, “Sekarang saja Maya sudah kirim tiga juta buat obat Bapak dan listrik.”

“Kurang.”

“Kalau langsung enam juta dia pasti tanya.”

“Ya bilang biaya hidup naik.”

Aku menahan napas.

Selama hampir setahun, aku memang mentransfer tiga juta rupiah per bulan.

Awalnya bukan kewajiban.

Pak Warto pernah masuk rumah sakit karena tekanan darah tinggi. Dimas saat itu mengaku sedang banyak cicilan. Aku menawarkan bantuan sementara selama tiga bulan.

Tiga bulan berubah menjadi enam.

Enam bulan berubah menjadi sebelas.

Aku tidak pernah mempermasalahkannya.

Aku pikir itu bagian dari keluarga.

Ternyata bagi mereka, bantuan yang kulakukan dengan sukarela sudah berubah menjadi hak.

Bu Marni melanjutkan,

“Rumah Bekasi itu juga percuma kosong dua kamar.”

Dadaku semakin dingin.

Rumah yang dimaksud adalah rumah kecil dua lantai yang kubeli tiga tahun sebelum menikah dengan Dimas.

Uang mukanya berasal dari tabunganku sendiri dan sedikit warisan almarhum nenekku.

Ketika menikah, cicilannya sudah lunas.

Sertifikat atas namaku.

Dimas tahu betul aku tidak pernah berencana memberikannya kepada siapa pun.

Aku bahkan pernah mengatakan bahwa suatu hari rumah itu mungkin akan menjadi tempat tinggal Kirana ketika besar.

Tapi suara suamiku berikutnya membuat kakiku lemas.

“Aku sudah bilang ke Ibu, nanti dicoba pelan-pelan.”

“Jangan dicoba. Pastikan.”

“Iya.”

“Kalau dia tidak mau?”

Dimas terdiam sebentar.

Kemudian dia tertawa kecil.

“Sekarang sudah ada Kirana. Maya paling takut anak tumbuh tanpa ayah. Dia tidak bakal berani macam-macam.”

Aku memejamkan mata.

Kalimat itu lebih menyakitkan daripada mangkuk kosong di meja makan.

Mereka bukan hanya menganggapku mudah dipaksa.

Mereka menjadikan anakku sebagai alat untuk memastikan aku tetap tinggal.

Bu Marni rupanya belum selesai.

“Uang yang kemarin kamu ambil itu aman?”

Aku membuka mata.

Uang apa?

Dimas menjawab,

“Aman. Dia belum cek.”

“Berapa?”

“Delapan belas juta.”

Jantungku berdetak keras.

Aku hampir masuk saat itu juga.

Tapi aku menahan diri.

“Buat atap belakang?”

“Iya. Sama bayar utang tukang.”

“Kalau Maya tanya?”

“Bilang saja kebutuhan mobil.”

Aku merasa darah naik ke kepala.

Kami mempunyai rekening bersama untuk biaya darurat keluarga.

Bulan lalu aku menyetor dua puluh lima juta setelah menerima bonus proyek.

Tiga hari kemudian Dimas bilang mobil perlu servis besar dan mungkin akan menggunakan sebagian dana itu.

Aku setuju maksimal lima juta.

Aku belum memeriksa mutasinya.

Ternyata yang diambil delapan belas juta.

Tanpa izin.

Dan dia sudah menyiapkan alasan palsu.

Bu Marni tertawa.

“Kalau sudah jadi suami, masa masih harus izin istri soal uang.”

Dimas ikut tertawa kecil.

Saat itu aku berhenti merekam.

Bukan karena sudah cukup.

Tapi karena kalau mendengar satu kalimat lagi, mungkin aku benar-benar masuk dan melempar sesuatu.

Aku mundur perlahan.

Tas popok Kirana masih ada di stroller dekat pintu.

Aku mengambilnya tanpa suara.

Untung dompet, kartu identitas, charger, obat anak, dan beberapa lembar pakaian bayi selalu kusimpan di dalam tas itu.

Sejak Kirana lahir, aku sengaja membuat satu tas siap bawa kalau sewaktu-waktu harus ke dokter.

Kebiasaan kecil itu menyelamatkanku hari itu.

Aku berjalan keluar dari halaman.

Tidak memberi tahu siapa pun.

Tidak mengucapkan selamat tinggal.

Di ujung gang aku membuka aplikasi transportasi.

Tidak ada pengemudi yang mau masuk sampai rumah.

Akhirnya Bu Sari yang melihatku berjalan menghampiri.

“Kamu mau ke mana, Maya?”

“Ke jalan besar, Bu.”

Dia melihat wajahku.

Tidak bertanya terlalu jauh.

Suaminya mengantarku naik motor pelan-pelan sampai minimarket dekat jalan raya, sementara aku memeluk Kirana.

Dari sana aku mendapat mobil menuju Solo.

Sepanjang perjalanan, ponselku bergetar tanpa henti.

Dimas.

Bu Marni.

Adik Dimas.

Bibi Dimas.

Aku tidak mengangkat.

Aku hanya mengirim satu pesan kepada ibuku di Bandung.

Bu, aku sama Kirana aman. Jangan panik. Aku akan telepon setelah sampai penginapan.

Dua menit kemudian ibuku membalas.

Kamu sudah makan? Kirana sehat?

Aku menatap dua kalimat itu cukup lama.

Bukan: Kamu bertengkar dengan suami?

Bukan: Kamu bikin masalah apa?

Bukan: Kenapa keluar rumah?

Pertanyaan pertama ibuku hanyalah apakah aku sudah makan.

Entah kenapa justru itu membuat air mataku jatuh.

Aku memesan kamar hotel kecil dekat Stasiun Solo Balapan.

Begitu masuk, aku mengunci pintu.

Kirana terbangun dan mulai merengek.

Aku menyusuinya sambil membuka aplikasi bank.

Tanganku dingin.

Saldo rekening bersama memang berkurang delapan belas juta rupiah.

Transaksi dilakukan enam hari lalu.

Keterangan transfer:

BENGKEL MOBIL.

Namun penerimanya bukan bengkel.

Nama penerima adalah seorang laki-laki bernama Sutrisno.

Aku mengenal nama itu.

Tukang bangunan yang beberapa kali mengerjakan rumah orang tua Dimas.

Aku mengambil tangkapan layar.

Kemudian memeriksa percakapan WhatsApp dengan suamiku.

Enam hari lalu aku memang bertanya,

Mobil jadi masuk bengkel kapan?

Dimas menjawab,

Belum. Minggu depan mungkin. Uangnya masih aman.

Jadi bukan hanya mengambil uang tanpa persetujuan.

Dia berbohong setelahnya.

Malam itu aku tidak tidur.

Aku membuat tiga folder di laptop.

Rekaman.

Keuangan.

Dokumen Rumah.

Untuk pertama kalinya sejak menikah, aku berhenti berpikir sebagai istri yang sedang marah.

Aku mulai berpikir seperti seseorang yang perlu melindungi dirinya dan anaknya.

Pagi berikutnya Dimas datang ke hotel.

Aku tidak tahu dari mana dia mengetahui tempatku menginap.

Kemungkinan dia bertanya kepada sopir yang mengantarku atau orang desa melihat mobil yang kupesan.

Dia berdiri di depan kamar sambil membawa plastik berisi bubur ayam.

Ironis.

“Buka pintunya.”

Aku tidak membukanya.

“Kita bicara di lobi.”

Sepuluh menit kemudian kami duduk saling berhadapan.

Dia mendorong bubur ke arahku.

“Makan dulu.”

Aku tidak menyentuhnya.

“Delapan belas juta.”

Wajahnya berubah.

“Apa?”

“Jangan buat aku mengulang.”

Dia terdiam.

“Uang itu buat renovasi rumah Bapak.”

“Tanpa izin?”

“Aku mau ganti.”

“Kapan?”

“Nanti.”

“Kenapa ditulis bengkel?”

Dia mengusap tengkuk.

“Karena aku tahu kamu bakal ribut.”

Aku tersenyum tipis.

“Jadi kamu tahu itu salah.”

“Maya, jangan pakai kata salah-benar seperti kita orang asing.”

“Kita akan jadi orang asing kalau kamu terus begini.”

Dia langsung menatapku tajam.

“Jangan ancam cerai hanya gara-gara makan siang.”

Aku mengeluarkan ponsel.

Memutar bagian rekaman saat ibunya berkata,

Kalau hari ini dia mau makan nasi dingin tanpa membantah, berarti berikutnya lebih mudah.

Wajah Dimas berubah.

Aku melanjutkan.

Suara Dimas sendiri terdengar:

Makanya aku bilang Ibu saja yang mulai. Kalau aku yang ngomong dari awal, dia pasti curiga.

Dia langsung meraih ponselku.

Aku menarik tangan.

“Jangan sentuh.”

“Maya, hapus.”

Aku hampir tidak percaya.

“Bukan minta maaf. Yang pertama kamu pikirkan justru menghapus bukti?”

“Itu percakapan pribadi!”

“Itu percakapan tentang bagaimana kalian akan mengendalikan hidupku.”

“Kamu salah paham.”

Aku memutar bagian rumah Bekasi.

Kemudian bagian enam juta per bulan.

Kemudian bagian delapan belas juta.

Setiap rekaman diputar, wajahnya semakin pucat.

Akhirnya dia berkata,

“Ibu cuma bicara. Belum tentu dilakukan.”

“Tapi uang delapan belas juta sudah dilakukan.”

“Itu untuk orang tuaku!”

“Dan uangnya milik kita berdua.”

“Aku anak mereka.”

“Benar. Tapi aku bukan ATM mereka.”

Dia memukul meja dengan telapak tangan.

Beberapa orang di lobi menoleh.

“Maya, kamu sekarang merasa paling hebat karena penghasilanmu lebih besar?”

Aku berdiri.

“Percakapan selesai.”

Dia ikut berdiri.

“Kamu mau bawa Kirana pergi?”

“Dia bersamaku.”

“Aku ayahnya!”

“Dan aku tidak pernah bilang kamu bukan ayahnya.”

“Kalau kamu pulang ke Bandung, berarti kamu memisahkan aku dari anak.”

Aku menatapnya.

“Tidak. Aku memisahkan diriku dari orang-orang yang sengaja membuatku kelaparan untuk menguji apakah aku bisa dikendalikan.”

Aku pergi membawa Kirana.

Dua hari kemudian aku pulang ke rumah orang tuaku di Bandung.

Aku tidak langsung mengajukan perceraian.

Bukan karena ingin kembali.

Aku hanya ingin semua langkahku rapi.

Aku menemui pengacara keluarga.

Aku memeriksa seluruh dokumen.

Aku mengganti PIN keuangan pribadiku.

Aku memindahkan uang milikku dari rekening bersama, menyisakan jumlah yang jelas-jelas berasal dari kontribusi Dimas.

Aku mencetak mutasi bank.

Aku menyimpan rekaman di tiga tempat berbeda.

Dan aku memeriksa sertifikat rumah Bekasi.

Masih atas namaku.

Aku pikir setidaknya satu hal masih aman.

Sampai empat hari kemudian, sebuah mobil berhenti di depan rumah orang tuaku.

Dimas turun.

Bu Marni ikut turun.

Pak Warto.

Lina.

Dan seorang laki-laki yang kuingat pernah diperkenalkan sebagai paman Dimas.

Mereka datang membawa map cokelat.

Bu Marni masuk tanpa menunggu dipersilakan.

“Kita selesaikan sebagai keluarga.”

Ibuku berdiri di sampingku.

Ayahku duduk diam di sofa.

Aku menggendong Kirana.

Bu Marni mengeluarkan selembar kertas bermeterai.

“Kalau kamu mau pergi, silakan.”

Dia meletakkan kertas itu di meja.

“Tapi rumah Bekasi tidak bisa kamu bawa begitu saja.”

Aku melihat judulnya.

SURAT PERSETUJUAN PENGGUNAAN DAN PENGALIHAN HAK KELUARGA.

Di bagian bawah ada nama lengkapku.

Nomor KTP-ku.

Dan sebuah tanda tangan yang tampak seperti milikku.

Bu Marni tersenyum.

“Kamu sendiri sudah tanda tangan.”

Ruangan menjadi sunyi.

Dimas menunduk.

Aku mengangkat kertas itu mendekati wajah.

Aku mengenali tanda tangannya.

Bukan karena aku pernah membubuhkannya di dokumen itu.

Aku mengenalinya karena itu salinan tanda tanganku dari formulir administrasi rumah sakit saat aku melahirkan Kirana.

Aku menatap suamiku.

“Dari mana kalian mendapatkan ini?”

Tidak ada yang menjawab.

Aku meletakkan kembali surat tersebut.

Kemudian untuk pertama kalinya sejak mereka datang, aku tersenyum.

“Bagus.”

Bu Marni mengernyit.

Aku mengambil ponsel.

“Jangan ada yang pulang dulu.”

“Kenapa?”

“Karena mulai sekarang, yang kita bicarakan bukan lagi soal makan siang.”