Perawat Mendonorkan Darah untuk Menyelamatkan Orang Asing Tengah Malam, Tak Disangka Dia Miliarder Paling Berpengaruh di Jakarta

Avatar penulis
Cerita 01
20 menit baca 465 tayangan
Perawat Mendonorkan Darah untuk Menyelamatkan Orang Asing Tengah Malam, Tak Disangka Dia Miliarder Paling Berpengaruh di Jakarta
Indeks

Perawat Mendonorkan Darah untuk Menyelamatkan Orang Asing Tengah Malam, Tak Disangka Dia Miliarder Paling Berpengaruh di Jakarta

Tak seorang pun menyangka bahwa beberapa kantong darah dari seorang perawat biasa pada malam hujan deras itu akan menyelamatkan nyawa salah satu pria paling berpengaruh di dunia keuangan Indonesia.

Dia tidak tahu siapa nama pria itu.

Dia tidak tahu bahwa kekayaan pria tersebut mencapai puluhan triliun rupiah.

Dan dia sama sekali tidak tahu bahwa hanya beberapa jam kemudian, seorang dokter senior akan tanpa malu mengambil seluruh jasa penyelamatan itu, menggunakan penyakit ayahnya untuk memaksanya bungkam, lalu menurunkannya dari seorang perawat menjadi petugas kebersihan.

Perawat Mendonorkan Darah untuk Menyelamatkan Orang Asing Tengah Malam, Tak Disangka Dia Miliarder Paling Berpengaruh di Jakarta

Semua orang mengira Alya Prameswari hanyalah perempuan miskin yang tidak punya uang, tidak punya koneksi, dan tidak memiliki siapa pun yang bisa melindunginya.

Namun mereka melupakan satu hal.

Pria yang terbaring di kamar VIP nomor 14 sudah sadar.

Dan Arga Wijaya bukanlah tipe orang yang mudah melupakan utang.

Terlebih lagi utang yang dibayar dengan darah.

Malam itu, Jakarta tenggelam dalam hujan deras yang turun sejak sore.

Air mulai menggenangi sejumlah ruas jalan di Jakarta Selatan. Antrean kendaraan mengular di sekitar Kuningan, sementara suara sirene ambulans bercampur dengan gemuruh petir di antara gedung-gedung tinggi yang diselimuti hujan.

Di Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit Sentra Medika Jakarta, jam dinding hampir menunjukkan pukul setengah tiga dini hari.

Alya Prameswari mengangkat tangan dan memijat pelipisnya perlahan.

Usianya dua puluh tujuh tahun. Tubuhnya ramping, rambut hitamnya disanggul rapi di balik penutup kepala perawat. Ini sudah menjadi shift keduanya dalam dua hari terakhir.

Mata Alya memerah karena kurang tidur.

Namun setiap gerakannya saat memeriksa infus, mengukur tekanan darah, dan menyiapkan obat tetap teliti seperti biasanya.

Dia tidak boleh melakukan kesalahan.

Sebab hanya dua lantai dari ruang IGD, ayahnya, Pak Hadi Prameswara, sedang dirawat di ruang perawatan intensif karena penyakit jantung yang cukup parah.

Setelah sebagian biaya ditanggung oleh asuransi dan BPJS, masih ada sejumlah biaya obat, perlengkapan medis, serta pengobatan di luar tanggungan yang harus Alya cari sendiri.

Utang biaya rumah sakit keluarga mereka sudah melebihi delapan puluh juta rupiah.

Bagi orang-orang yang tinggal di vila mewah Pondok Indah, jumlah sebesar itu mungkin hanya seharga sebuah jam tangan.

Namun bagi Alya, itu setara dengan gaji berbulan-bulan.

Tiba-tiba pintu otomatis IGD terbuka lebar.

Sebuah brankar didorong masuk dengan cepat.

“Korban kecelakaan lalu lintas! Laki-laki, sekitar tiga puluh lima tahun! Mengalami trauma di beberapa bagian tubuh, kehilangan banyak darah, tekanan darah terus menurun!”

Alya langsung berlari mendekat.

Pria yang terbaring di atas brankar mengenakan setelan jas yang sudah dipotong dan robek untuk menangani luka-lukanya. Kemeja putihnya berlumuran darah. Wajahnya yang tegas tampak sangat pucat.

Jam tangan di pergelangan tangannya begitu mahal hingga siapa pun pasti akan memperhatikannya.

Namun Alya bahkan tidak melihatnya untuk kedua kali.

Di matanya, pria itu hanyalah seorang pasien yang sedang perlahan kehilangan nyawa.

“Bawa ke ruang resusitasi nomor tiga. Hubungi dokter jaga sekarang juga.”

Sari, perawat muda yang berdiri di samping Alya, segera menelepon seseorang. Tak lama kemudian wajahnya berubah pucat.

“Mbak Alya… Dokter Bima tidak mengangkat telepon.”

Alya menoleh.

“Telepon lagi.”

“Saya sudah menelepon empat kali.”

Bima Santoso adalah dokter yang bertanggung jawab atas shift malam itu.

Namun sejak awal malam, tidak ada seorang pun yang melihatnya berada di bagian IGD.

Salah satu pegawai berbisik bahwa Bima meninggalkan rumah sakit untuk menghadiri sebuah pesta pribadi di Kemang.

Alya mengatupkan rahangnya.

Namun sekarang bukan waktunya untuk berdebat.

Dokter IGD muda lain yang masih berada di rumah sakit segera menangani pasien tersebut. Alya bersama tim membantu proses resusitasi, mengambil sampel darah, serta menghubungi unit transfusi darah rumah sakit.

Lima menit kemudian, hasil pemeriksaan membuat semua orang terdiam.

Golongan darah pria itu termasuk sangat langka.

Persediaan rumah sakit sudah tidak mencukupi.

Mereka segera menghubungi PMI DKI Jakarta.

Namun di tengah hujan deras, sejumlah ruas jalan sedang terendam banjir. Kendaraan pengantar darah dari fasilitas lain tidak dapat tiba dengan cepat.

“Berapa lama?”

“Mungkin lebih dari dua jam.”

Alya menatap layar monitor tanda-tanda vital.

Pria itu tidak punya waktu dua jam.

Kemudian Alya kembali melihat hasil pemeriksaan darah.

Sari seolah menyadari sesuatu.

“Mbak…”

Alya tidak menjawab.

Dia menggulung lengan bajunya.

“Periksa darah saya.”

Sari langsung panik.

“Jangan, Mbak. Mbak hampir tidak tidur selama dua hari.”

“Golongan darah saya sama.”

“Tapi Mbak bahkan belum makan malam.”

“Kalau hasil pemeriksaan saya memenuhi syarat, lakukan sesuai prosedur.”

Mata Sari hampir berkaca-kaca.

“Mbak bisa pingsan.”

Alya menoleh ke arah pria yang masih terbaring tak bergerak.

“Kalau kita tidak melakukan apa-apa, dia mungkin tidak akan bertahan sampai pagi.”

Sampel darah Alya segera diperiksa.

Cocok.

Setelah pemeriksaan yang diperlukan selesai dilakukan dan darah diproses melalui unit transfusi rumah sakit sesuai prosedur, jumlah darah yang aman kemudian diberikan kepada pasien.

Alya duduk bersandar di kursi di luar ruang resusitasi.

Wajahnya pucat pasi.

Kepalanya terasa berputar.

Dalam kondisi setengah sadar, pria yang terbaring di atas ranjang seolah bisa merasakan ada seseorang di dekatnya.

Tangannya bergerak sedikit.

Jari-jarinya yang dingin menyentuh tangan Alya.

Alya menunduk.

Dia tidak tahu apakah pria itu benar-benar sadar atau hanya bereaksi secara refleks, tetapi Alya tetap membiarkan tangannya digenggam.

“Bertahanlah,” bisiknya sangat pelan.

“Kamu belum boleh mati.”

Detak jantung pada monitor perlahan mulai stabil.

Alya mengembuskan napas lega.

Namun saat dia baru saja berdiri, seluruh lorong di depannya tiba-tiba berubah gelap.

Tubuhnya limbung.

Lalu Alya jatuh tak sadarkan diri.

Ketika Alya kembali membuka mata, hal pertama yang dia lihat adalah langit-langit putih ruang istirahat perawat.

Kepalanya terasa berat. Tenggorokannya kering. Seluruh tubuhnya seolah kehilangan tenaga.

Sari duduk di kursi di samping tempat tidur sambil memegang segelas air hangat.

“Mbak Alya akhirnya sadar.”

Alya mencoba bangun.

“Pasien tadi malam bagaimana?”

Sari segera menahannya.

“Pelan-pelan. Kondisinya sudah jauh lebih stabil.”

Alya mengembuskan napas lega.

Hanya itu yang ingin dia dengar.

Dia menerima gelas dari tangan Sari, minum beberapa teguk, lalu bertanya, “Dokter Bima sudah kembali?”

Wajah Sari langsung berubah.

Dia tidak segera menjawab.

Alya menatapnya.

“Sari?”

“Sudah.”

“Jam berapa?”

“Menjelang pagi.”

Alya menurunkan gelas.

Artinya, saat seluruh tim berjuang mempertahankan nyawa pasien, Bima Santoso benar-benar tidak ada di rumah sakit.

Namun sebelum Alya sempat mengatakan sesuatu lagi, terdengar suara gaduh dari lorong.

Beberapa orang berseragam keamanan berjalan cepat menuju ruang VIP.

Direktur rumah sakit juga terlihat turun langsung bersama sejumlah dokter senior.

Sari mendekat dan berbisik.

“Mbak tahu siapa pasien yang Mbak bantu tadi malam?”

Alya menggeleng.

“Arga Wijaya.”

Nama itu membuat tangannya berhenti bergerak.

Hampir semua orang di Jakarta pernah mendengarnya.

Arga Wijaya adalah pemimpin Wijaya Nusantara Group, sebuah kelompok usaha besar yang bergerak di bidang keuangan, logistik, properti, dan teknologi. Wajahnya sering muncul di majalah bisnis, tetapi dia terkenal sangat jarang berbicara mengenai kehidupan pribadinya.

Sari melanjutkan dengan suara pelan.

“Katanya kekayaan keluarganya puluhan triliun rupiah.”

Alya hanya mengangguk kecil.

Kemudian dia turun dari tempat tidur.

“Mau ke mana?”

“Bekerja.”

“Mbak baru pingsan.”

“Kalau saya tidak bekerja, tagihan rumah sakit ayah saya tidak ikut pingsan.”

Sari tidak bisa berkata apa-apa.

Alya merapikan seragamnya lalu berjalan keluar.

Di dekat ruang perawatan khusus, dia mendengar suara Dokter Bima.

“Pasien datang dalam kondisi kritis. Untung saya segera mengambil keputusan yang tepat dan memimpin penanganan sejak awal.”

Direktur rumah sakit tersenyum lebar.

“Luar biasa, Dokter Bima. Keluarga Wijaya pasti akan sangat berterima kasih.”

Alya berhenti.

Untuk beberapa detik, dia benar-benar tidak percaya pada apa yang didengarnya.

Bima bahkan tidak berada di gedung ketika Arga hampir meninggal.

Namun sekarang dia berdiri dengan jas dokter yang rapi, seolah dialah orang yang mempertaruhkan segalanya tadi malam.

Alya maju.

“Dokter Bima.”

Bima menoleh.

Senyumnya menghilang.

Alya berkata dengan tenang, “Dokter tidak berada di IGD ketika pasien datang.”

Suasana lorong langsung berubah.

Direktur rumah sakit mengerutkan kening.

Bima menatap Alya tajam.

“Kamu masih kelelahan. Sebaiknya kembali beristirahat.”

“Saya tidak sedang mengigau.”

“Alya.”

“Dokter meninggalkan jadwal jaga.”

Wajah Bima menegang.

Kemudian dia melangkah mendekat.

“Pikirkan baik-baik sebelum berbicara.”

Alya tahu ancaman itu bukan sekadar kata-kata.

Ayahnya sedang dirawat di rumah sakit yang sama.

Dia masih memiliki tagihan puluhan juta rupiah.

Bima mengetahui semuanya.

Direktur rumah sakit segera memotong pembicaraan.

“Cukup. Jangan membuat keributan di depan keluarga pasien penting.”

Alya menatap mereka satu per satu.

Tidak ada seorang pun yang bertanya apa yang sebenarnya terjadi.

Yang mereka lihat hanyalah Arga Wijaya.

Dan kemungkinan sumbangan besar dari keluarganya.

Alya perlahan mundur.

Dia memilih diam.

Bukan karena takut terhadap Bima.

Melainkan karena dia takut kehilangan satu-satunya pekerjaan yang masih bisa digunakan untuk membiayai pengobatan ayahnya.

Namun mereka tidak mengetahui bahwa dari balik kaca ruang VIP nomor 14, sepasang mata sedang memperhatikan semuanya.

Arga Wijaya sudah sadar.

Tubuhnya masih lemah, tetapi pikirannya bekerja dengan sangat jernih.

Dia tidak mendengar seluruh percakapan.

Namun dia melihat Alya.

Dan dia mengenali tangan itu.

Tangan kurus yang dia genggam semalam.

Arga juga melihat bekas jarum di lengan Alya.

Sementara Bima yang mengaku menyelamatkannya justru masih membawa aroma samar alkohol.

Beberapa menit kemudian, Bima masuk ke ruangan.

“Pak Arga, syukurlah Anda sudah sadar.”

Arga memandangnya tanpa ekspresi.

Bima melanjutkan panjang lebar tentang bagaimana dia “memimpin” proses penyelamatan.

Arga hanya mendengarkan.

Lalu dia bertanya, “Darah yang diberikan kepada saya berasal dari mana?”

Bima terdiam sesaat.

“Dari persediaan rumah sakit.”

“Golongan darah saya langka.”

“Benar.”

“Persediaannya cukup?”

Bima mulai berkeringat.

“Kami mempunyai prosedur darurat.”

Arga tidak bertanya lagi.

Dia hanya berkata, “Saya ingin istirahat.”

Setelah Bima pergi, Arga memanggil asistennya, Raka Mahendra.

“Periksa semua orang yang bertugas tadi malam.”

Raka mengangguk.

“Dan cari tahu siapa yang memberikan darah kepada saya.”

“Baik, Pak.”

“Jangan beri tahu siapa pun.”

Raka memahami nada suara atasannya.

Ada seseorang yang telah berbohong.

Dan Arga Wijaya tidak suka dibohongi.

Sore harinya, Alya dipanggil ke ruangan Bima.

Di atas meja sudah ada sebuah surat.

Bima mendorong surat itu ke hadapan Alya.

“Mulai hari ini, kamu tidak lagi bekerja sebagai perawat.”

Alya membeku.

“Apa maksud Dokter?”

“Kamu melanggar prosedur.”

“Saya membantu menyelamatkan pasien.”

“Kamu bertindak tanpa perintah saya.”

“Karena Dokter tidak berada di rumah sakit.”

Bima berdiri.

“Jaga ucapanmu.”

Alya menatapnya tanpa berkedip.

Bima lalu berkata lebih pelan, “Saya tahu ayahmu masih dirawat di ICU.”

Alya merasakan darahnya seperti berhenti mengalir.

“Jangan bawa ayah saya ke dalam masalah ini.”

“Kalau kamu tetap diam, saya bisa membantu memperpanjang waktu pembayaran.”

Alya akhirnya mengerti.

Ini bukan lagi sekadar perebutan jasa.

Ini pemerasan.

Dia menatap surat itu.

“Kalau saya menolak?”

“Kamu bisa keluar dari rumah sakit hari ini.”

Alya menelan napas.

Dia membayangkan ayahnya.

Pak Hadi yang kurus.

Selang oksigen.

Suara mesin monitor.

Akhirnya Alya mengambil surat tersebut.

“Apa pekerjaan baru saya?”

Bima tersenyum puas.

“Petugas kebersihan di lantai VIP.”

Alya memejamkan mata sesaat.

Lalu berkata, “Baik.”

Bima tampak terkejut.

Dia mengira Alya akan menangis atau memohon.

Namun perempuan itu hanya berdiri.

Sebelum keluar, Alya berkata, “Lantai kotor bisa dibersihkan.”

Dia menatap Bima.

“Tapi hati yang kotor belum tentu.”

Pintu tertutup.

Senyum Bima menghilang.

Keesokan paginya, Alya mengenakan seragam petugas kebersihan.

Dia mendorong troli menuju lorong VIP.

Beberapa mantan rekannya melihat dengan iba.

Sebagian lainnya memilih berpura-pura tidak tahu.

Alya tidak menyalahkan mereka.

Semua orang memiliki tagihan.

Semua orang punya keluarga yang harus dilindungi.

Ketika dia sampai di depan kamar nomor 14, pintu tiba-tiba terbuka.

Arga berdiri di sana dengan satu tangan memegang tiang infus.

Alya terkejut.

Ember di troli bergeser dan sedikit air mengenai sepatu kulit Arga.

“Maaf, Pak.”

Alya segera berjongkok.

Arga menatapnya.

“Sejak kapan Anda bekerja sebagai petugas kebersihan?”

Alya berhenti.

“Hari ini.”

“Sebelumnya?”

Alya tidak menjawab.

Arga melihat bekas memar besar di lengannya.

“Apakah Anda seorang perawat?”

Alya berdiri.

“Saya sekarang petugas kebersihan.”

“Bukan itu yang saya tanyakan.”

Alya akhirnya menatap matanya.

“Pak Arga sebaiknya kembali ke kamar. Kondisi Anda belum cukup baik untuk berdiri lama.”

Arga hampir tersenyum.

Bahkan dalam pakaian petugas kebersihan, Alya masih berbicara seperti perawat.

Sebelum dia bisa bertanya lagi, Alya sudah mendorong trolinya pergi.

Tidak lama kemudian, Raka datang membawa hasil penyelidikan.

“Pak, kami sudah menemukan jawabannya.”

Arga duduk tegak.

“Siapa?”

Raka menyerahkan dokumen.

“Alya Prameswari.”

Ruangan mendadak sunyi.

Raka menjelaskan bahwa Alya adalah perawat yang bertugas ketika Arga masuk IGD. Dia ikut menangani keadaan darurat dan, setelah proses pemeriksaan kecocokan dilakukan, darahnya digunakan untuk membantu Arga.

“Dokter Bima?”

“Tidak berada di rumah sakit pada saat itu.”

Raka mengeluarkan dokumen lain.

“Teleponnya terdeteksi di sebuah tempat acara di Kemang.”

Arga mengepalkan tangan.

“Kenapa Alya menjadi petugas kebersihan?”

“Surat pemindahannya ditandatangani pagi kemarin. Alasan resminya pelanggaran prosedur.”

“Alasan sebenarnya?”

Raka ragu sebentar.

“Ayahnya dirawat di ICU. Alya memiliki tunggakan biaya. Kami menduga Dokter Bima menggunakan kondisi itu untuk menekannya.”

Tatapan Arga berubah.

Dia bangkit meskipun rasa sakit masih menusuk tubuhnya.

“Panggil direktur.”

Satu jam kemudian, rapat darurat digelar.

Direktur rumah sakit, Bima, kepala keperawatan, dan beberapa orang dari manajemen duduk di ruangan konferensi.

Arga masuk dengan Raka.

Bima segera berdiri.

“Pak Arga, seharusnya Anda beristirahat.”

Arga meletakkan sebuah berkas di meja.

“Dokter Bima, jam berapa Anda tiba di rumah sakit malam itu?”

Wajah Bima berubah.

“Saya…”

“Jam berapa?”

“Sekitar…”

Raka menyalakan layar.

Data lokasi telepon Bima muncul.

Direktur menatapnya dengan wajah pucat.

Kemudian rekaman dari kamera di area pintu belakang rumah sakit diputar.

Bima terlihat baru masuk menjelang pagi.

Semua kebohongan runtuh.

“Pak Arga, saya bisa menjelaskan.”

“Belum selesai.”

Raka menunjukkan catatan unit transfusi.

Nama Alya tercantum jelas.

Arga kemudian melemparkan surat pemindahan Alya ke meja.

“Dan ini?”

Direktur rumah sakit mulai berkeringat.

Bima berdiri.

“Saya hanya menjalankan disiplin.”

“Dengan memindahkan orang yang menyelamatkan nyawa pasien karena dia tahu Anda meninggalkan tugas?”

Bima kehilangan kata-kata.

Arga berbicara tanpa meninggikan suara.

“Mulai hari ini, seluruh urusan ini akan diperiksa secara resmi.”

Dia menoleh kepada direktur.

“Bukan oleh saya. Oleh pihak rumah sakit, dewan etik, dan pihak berwenang yang terkait.”

Direktur mengangguk cepat.

Arga menambahkan, “Alya dikembalikan ke posisi sebelumnya sampai penyelidikan selesai.”

Bima mencoba mendekat.

“Pak Arga, saya mohon.”

Arga memandangnya.

“Ketika Alya memohon waktu untuk membayar pengobatan ayahnya, apakah Anda mendengarkannya?”

Bima membisu.

Sore itu, Alya dipanggil ke kantor direktur.

Ketika dia keluar, di tangannya ada surat pencabutan pemindahan.

Seragam perawatnya dikembalikan.

Namun ekspresinya tidak menunjukkan kegembiraan besar.

Arga menunggunya di ujung lorong.

“Kenapa Anda tidak terlihat senang?”

Alya menjawab, “Karena saya mendapatkan kembali sesuatu yang seharusnya tidak pernah diambil.”

Arga terdiam.

Jawaban itu menancap lebih dalam daripada ucapan terima kasih apa pun.

Dia mengeluarkan sebuah amplop.

“Ini untuk Anda.”

Alya tidak mengambilnya.

“Apa?”

“Lima ratus juta rupiah.”

Alya menatap Arga.

“Untuk apa?”

“Sebagai bentuk terima kasih.”

“Tidak.”

Jawabannya begitu cepat hingga Arga terkejut.

“Anda bahkan belum memikirkannya.”

“Saya tidak perlu.”

“Tagihan ayah Anda hampir seratus juta.”

“Saya tahu.”

“Uang ini bisa menyelesaikan semuanya.”

Alya menggeleng.

“Saya mendonorkan darah karena seseorang akan meninggal.”

“Dan saya adalah orang itu.”

“Itu tidak mengubah apa pun.”

Arga memandangnya lama.

“Kebanyakan orang akan menerima.”

“Berarti saya bukan kebanyakan orang.”

Alya lalu berjalan pergi.

Untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, Arga Wijaya tidak tahu harus berkata apa.

Beberapa hari kemudian, kondisi Pak Hadi memburuk.

Alya dipanggil ketika sedang bertugas.

Dokter jantung menjelaskan bahwa ayahnya membutuhkan tindakan operasi lebih cepat daripada perkiraan sebelumnya.

Alya duduk di samping ranjang ayahnya malam itu.

Pak Hadi membuka mata.

“Capek, Nak?”

Alya tersenyum.

“Tidak.”

“Kamu bohong.”

Alya tertawa kecil, lalu air matanya jatuh.

Pak Hadi mengangkat tangan yang kurus.

“Jangan menangis.”

“Biaya operasinya besar, Pak.”

“Ayah sudah tua.”

“Jangan bicara begitu.”

Pak Hadi memandang anaknya.

“Ayah hanya takut kamu menghabiskan hidupmu untuk menyelamatkan ayah.”

Alya menggenggam tangannya.

“Dulu Bapak bekerja siang malam untuk menyekolahkan saya.”

“Itu kewajiban ayah.”

“Sekarang ini kewajiban saya.”

Di balik pintu, Arga mendengar sebagian percakapan itu.

Dia datang untuk menjenguk Pak Hadi, tetapi tidak masuk.

Untuk pertama kalinya, dia memahami mengapa Alya menolak uangnya.

Perempuan itu tidak membutuhkan penyelamat.

Dia membutuhkan kesempatan yang adil.

Keesokan hari, Arga menemui Alya.

“Saya punya usul.”

“Kalau soal uang, jawabannya tetap tidak.”

“Bukan uang.”

Alya menatapnya curiga.

“Wijaya Nusantara mempunyai yayasan kesehatan.”

Alya diam.

“Yayasan itu sudah berdiri sebelum saya mengenal Anda. Ada program bantuan untuk pasien jantung berpenghasilan rendah.”

Arga menyerahkan berkas.

“Pak Hadi memenuhi syarat berdasarkan kondisi medis dan ekonomi.”

Alya membaca semuanya dengan teliti.

Tidak ada nama Arga dalam keputusan.

Tidak ada klausul balas jasa.

Tidak ada jabatan yang harus dia terima.

Alya mengangkat kepala.

“Bapak benar-benar memenuhi syarat?”

“Dokter dan tim yayasan yang memutuskan.”

“Bukan karena saya?”

“Bukan.”

Arga tersenyum tipis.

“Walaupun saya yang memastikan berkasnya tidak terselip di bawah tumpukan selama tiga bulan.”

Alya menahan senyum.

“Terima kasih.”

Itu adalah pertama kalinya dia menerima bantuan Arga.

Bukan karena merasa berutang.

Melainkan karena bantuannya diberikan dengan cara yang tetap menjaga martabat keluarganya.

Operasi Pak Hadi berlangsung hampir enam jam.

Alya menunggu di luar ruang operasi.

Arga duduk beberapa kursi darinya.

Tidak ada pengawal.

Tidak ada wartawan.

Hanya dua orang yang menunggu pintu terbuka.

Ketika dokter keluar, Alya berdiri begitu cepat hingga hampir terjatuh.

“Operasinya berjalan baik.”

Alya menutup mulut.

Air matanya tumpah.

“Terima kasih, Dokter.”

Setelah dokter pergi, Alya menangis tanpa suara.

Arga mendekat.

Untuk sesaat dia ragu.

Kemudian Alya sendiri yang bersandar ke bahunya.

Arga tidak berkata apa-apa.

Dia hanya berdiri di sana.

Beberapa minggu berikutnya, Pak Hadi pulih perlahan.

Sementara itu, penyelidikan terhadap Bima selesai.

Bima diberhentikan dari rumah sakit dan kasus pelanggarannya diteruskan ke organisasi profesi serta otoritas terkait.

Direktur rumah sakit juga mendapat sanksi administratif karena membiarkan keputusan personal memengaruhi perlakuan terhadap staf.

Alya tidak pernah merayakan kehancuran mereka.

Ketika Sari bertanya apakah dia puas, Alya hanya berkata, “Saya tidak ingin mereka hancur. Saya hanya tidak ingin ada Alya lain yang diperlakukan seperti saya.”

Kalimat itu kemudian sampai ke telinga Arga.

Dan dari sanalah muncul gagasan baru.

Enam bulan kemudian, Wijaya Nusantara Foundation meluncurkan program bantuan untuk tenaga kesehatan dan keluarga pasien yang mengalami kesulitan finansial.

Namun Arga tidak memberikan jabatan tinggi kepada Alya.

Dia sudah belajar.

Sebaliknya, dia bertanya apakah Alya bersedia menjadi anggota dewan penasihat lapangan secara sukarela beberapa kali dalam setahun.

“Tugasnya apa?”

“Memberi tahu orang-orang kaya seperti saya kalau ide kami bodoh.”

Alya tertawa.

“Kalau begitu pekerjaannya berat.”

“Saya tahu.”

Hubungan mereka tumbuh perlahan.

Bukan dari makan malam mahal.

Bukan perjalanan ke luar negeri.

Justru dari hal-hal sederhana.

Arga sering mengunjungi Pak Hadi.

Pertama kali dia datang membawa sekeranjang buah impor.

Pak Hadi melihatnya lalu bertanya, “Tidak ada martabak?”

Arga terdiam.

Alya tertawa sampai matanya berair.

Minggu berikutnya, Arga datang membawa martabak manis cokelat keju.

Pak Hadi langsung menyukainya.

“Sekarang kamu boleh datang lagi.”

Arga tertawa.

Alya yang berdiri di pintu hanya menggeleng.

Beberapa bulan kemudian, Arga mengajak Alya berjalan di taman kecil rumah sakit setelah shift sore.

Hujan baru saja berhenti.

Udara Jakarta terasa lebih ringan.

Mereka berhenti di dekat tanaman melati.

Arga berkata, “Saya masih ingat aroma ini.”

Alya menoleh.

“Melati?”

“Ya.”

“Malam kecelakaan?”

Arga mengangguk.

“Saya tidak ingat wajah siapa pun. Tapi saya ingat aroma melati.”

Alya tersenyum.

“Itu parfum murah.”

“Bagi saya tidak murah.”

Alya menatapnya.

Arga melanjutkan, “Itu petunjuk pertama yang membuat saya mencari Anda.”

Beberapa detik berlalu.

Kemudian Arga berkata, “Alya, boleh saya bertanya sesuatu yang tidak berhubungan dengan rumah sakit?”

“Silakan.”

“Kalau saya mengajak Anda makan malam, apakah Anda akan menganggapnya sebagai bentuk pembayaran utang?”

Alya berpikir.

“Bisa jadi.”

Arga menghela napas.

“Tapi kalau saya membayar makanan saya sendiri?”

Alya tertawa.

“Masih mencurigakan.”

“Kalau kita makan nasi goreng di pinggir jalan?”

Alya menatapnya.

“Itu sedikit lebih baik.”

Malam itu mereka makan nasi goreng di sebuah warung kecil di Jakarta Selatan.

Arga datang tanpa mobil mewah.

Tanpa jas.

Tanpa pengawal yang berdiri di belakang meja.

Alya melihat sisi dirinya yang belum pernah muncul di majalah bisnis.

Seorang pria yang ternyata tidak tahu cara memisahkan sambal terlalu pedas dari makanannya tanpa terlihat panik.

Seorang pria yang bisa tertawa.

Seorang pria yang masih menyimpan luka lama karena pernah dikhianati ketika bisnis keluarganya hampir runtuh.

Dan Arga melihat Alya bukan sebagai perempuan yang menyelamatkannya.

Melainkan seseorang yang memiliki mimpi, rasa takut, keras kepala, dan humor yang kadang membuatnya kehilangan jawaban.

Setahun setelah malam kecelakaan itu, Pak Hadi sudah cukup sehat untuk berjalan sendiri.

Pada sebuah sore, Arga datang ke rumah kecil Alya.

Dia tidak membawa cincin.

Tidak membawa wartawan.

Tidak membawa bunga sebanyak satu mobil.

Dia hanya duduk bersama Pak Hadi di teras.

Kemudian meminta izin.

“Pak Hadi, saya ingin serius dengan Alya.”

Pak Hadi menyeruput teh.

“Kamu sudah bicara dengan Alya?”

“Belum.”

“Kenapa bicara dengan saya dulu?”

Arga terdiam.

Pak Hadi tertawa.

“Anak saya bukan barang milik saya. Tanya dia.”

Arga tersenyum.

“Tapi saya tetap ingin Bapak tahu.”

Pak Hadi mengangguk.

“Kamu sayang dia?”

“Sangat.”

“Karena dia menyelamatkanmu?”

Arga menggeleng.

“Dulu mungkin saya mendekatinya karena rasa berutang.”

Dia melihat ke arah halaman.

“Tapi saya mencintainya karena dia tidak pernah membiarkan saya membeli tempat di hatinya.”

Pak Hadi tersenyum.

“Kalau begitu tanyakan sendiri.”

Malamnya, Arga menemui Alya.

Mereka berdiri di taman kecil depan rumah.

“Alya.”

“Ya?”

“Saya dulu berpikir segala sesuatu bisa diselesaikan dengan uang.”

Alya tersenyum.

“Saya ingat.”

“Saya pernah mencoba memberikan lima ratus juta rupiah kepada seseorang dan ditolak mentah-mentah.”

“Orangnya pintar.”

“Orangnya menyebalkan.”

Alya tertawa.

Arga lalu mengeluarkan sebuah kotak kecil.

Senyum Alya perlahan hilang.

Bukan karena takut.

Melainkan karena dia tahu apa yang akan terjadi.

Arga membuka kotak itu.

“Alya Prameswari, kali ini saya tidak menawarkan uang, pekerjaan, atau bantuan.”

Dia menarik napas.

“Saya hanya menawarkan hidup saya, dengan segala kekurangan dan keras kepalanya.”

Mata Alya mulai basah.

“Kalau saya menolak?”

“Saya akan tetap menghormati keputusan Anda.”

“Tidak ada ancaman?”

“Tidak.”

“Tidak ada kontrak?”

“Tidak.”

“Tidak ada lima ratus juta?”

Arga tertawa.

“Tidak.”

Alya akhirnya mengulurkan tangan.

“Kalau begitu saya terima.”

Beberapa bulan kemudian, mereka menikah dalam acara sederhana di Yogyakarta.

Alya tidak meninggalkan pekerjaannya sebagai perawat.

Arga juga tidak pernah memintanya.

Pak Hadi duduk di barisan depan dengan wajah paling bahagia.

Sari menangis sejak akad belum dimulai.

Raka bahkan harus beberapa kali mengingatkan Arga bahwa dia sedang tersenyum terlalu lebar di depan seluruh direksi perusahaan.

Setelah menikah, hidup Alya memang berubah.

Namun bukan seperti dongeng tentang perempuan miskin yang tiba-tiba menjadi kaya.

Dia tetap bangun pagi.

Tetap mengenakan seragam rumah sakit.

Tetap memeriksa tekanan darah pasien.

Tetap memanggil pasien lanjut usia dengan lembut.

Perbedaannya hanya satu.

Setiap kali shift malamnya selesai, sering kali ada seorang pria menunggu di parkiran dengan dua gelas kopi.

Arga.

Kadang memakai kemeja mahal.

Kadang hanya kaus sederhana.

Dan hampir selalu membawa martabak untuk Pak Hadi.

Yayasan kesehatan mereka juga terus berkembang.

Dalam beberapa tahun, ratusan keluarga mendapatkan bantuan operasi jantung dan pengobatan tanpa perlu menjual rumah atau terlilit utang.

Di salah satu ruangan yayasan terdapat sebuah foto sederhana.

Alya mengenakan seragam perawat.

Tidak ada gaun mewah.

Tidak ada perhiasan.

Di bawah foto itu tertulis satu kalimat:

“Dia menyelamatkan satu kehidupan dengan darahnya, lalu mengajarkan satu kehidupan lain bagaimana menggunakan kekayaan untuk menyelamatkan lebih banyak orang.”

Suatu malam, ketika hujan kembali turun deras di Jakarta, Alya berdiri di depan jendela rumah.

Arga datang dan memeluknya dari belakang.

“Hujannya mirip malam itu,” katanya.

Alya mengangguk.

“Kalau malam itu saya tidak bertugas, mungkin kita tidak pernah bertemu.”

Arga tersenyum.

“Kalau malam itu saya tidak kecelakaan, mungkin juga tidak.”

Alya menoleh.

“Jangan bilang kecelakaan itu keberuntungan.”

“Bukan kecelakaannya.”

“Lalu?”

Arga menggenggam tangannya.

“Orang yang saya temukan setelahnya.”

Di luar, hujan jatuh membasahi Jakarta.

Namun kali ini tidak ada sirene.

Tidak ada darah.

Tidak ada ketakutan.

Hanya suara hujan dan dua orang yang pernah bertemu di batas antara hidup dan mati.

Alya pernah memberikan darahnya tanpa mengetahui siapa pria yang dia selamatkan.

Arga kemudian menggunakan kekuasaannya bukan untuk membeli hati perempuan itu, tetapi untuk belajar menjadi seseorang yang layak mendapatkannya.

Dan pada akhirnya, mereka memahami satu hal yang tidak pernah tertulis dalam laporan medis mana pun.

Darah memang dapat menyelamatkan jantung yang hampir berhenti berdetak.

Namun kebaikan, keberanian, dan rasa hormatlah yang membuat sebuah hati benar-benar kembali hidup.