“KAMU BISA MEMBACA, TIDAK?” – SANG MILIARDER MENCIBIR, TAPI PELAYAN ITU HANYA MEMBACA SATU BARIS DAN MEMBUAT SELURUH RUANGAN TERDIAM!

Avatar penulis
Cerita 01
25 menit baca 991 tayangan
“KAMU BISA MEMBACA, TIDAK?” – SANG MILIARDER MENCIBIR, TAPI PELAYAN ITU HANYA MEMBACA SATU BARIS DAN MEMBUAT SELURUH RUANGAN TERDIAM!
Indeks

“KAMU BISA MEMBACA, TIDAK?” – SANG MILIARDER MENCIBIR, TAPI PELAYAN ITU HANYA MEMBACA SATU BARIS DAN MEMBUAT SELURUH RUANGAN TERDIAM!

“Kamu bisa membaca, tidak? Atau perlu saya ajari mengeja satu per satu?”

Suara cibiran Bram Santoso terdengar jelas di dalam ruang VIP berlapis kayu jati di Rumah Teh Arunika, Menteng, Jakarta Pusat.

Beberapa tamu yang duduk mengelilingi meja ikut tertawa.

Alya Pramesti tetap berdiri tanpa bergerak.

Gadis berusia dua puluh lima tahun itu mengenakan kebaya pelayanan berwarna cokelat muda yang bagian pergelangan tangannya sudah sedikit pudar. Kedua tangannya memegang nampan kayu di depan tubuhnya. Beberapa tetes teh melati tanpa sengaja memercik ke tepi tas kulit yang diletakkan di samping Bram.

Hanya itu.

“KAMU BISA MEMBACA, TIDAK?” – SANG MILIARDER MENCIBIR, TAPI PELAYAN ITU HANYA MEMBACA SATU BARIS DAN MEMBUAT SELURUH RUANGAN TERDIAM!

Namun bagi seseorang seperti Bram Santoso, pria yang terbiasa menggunakan uang untuk membuat orang lain menundukkan kepala, kejadian kecil itu seolah merupakan penghinaan yang tidak bisa dimaafkan.

“Kamu tahu berapa harga tas ini?” geram Bram. “Mungkin setara dengan gajimu selama satu tahun penuh.”

Alya menundukkan kepala.

“Maaf, Pak. Saya akan segera membersihkannya.”

“Maaf?”

Bram tertawa dingin.

Tangannya menghantam tumpukan dokumen tebal di atas meja.

“Kamu tahu berapa nilai sesuatu yang ada di atas meja ini? Ini transaksi senilai lebih dari satu triliun rupiah. Orang sepertimu mungkin bekerja seumur hidup pun belum tentu pernah melihat uang sebanyak itu.”

Duduk berhadapan dengan Bram adalah Raka Wibisana, tiga puluh delapan tahun, Presiden Direktur Wibisana Artha Group, salah satu kelompok usaha besar di bidang properti dan infrastruktur di Indonesia.

Berbeda dengan Bram, Raka tidak mengenakan jam bertabur batu mulia ataupun cincin emas besar.

Ia mengenakan batik berwarna gelap yang dijahit pas dengan tubuhnya, sementara di pergelangan tangannya hanya terpasang sebuah jam sederhana.

Di hadapannya tergeletak rancangan transaksi pembelian 85 persen saham PT Sagara Kencana, sebuah perusahaan yang memegang hak HGB atas lahan seluas hampir delapan belas hektare di kawasan Tangerang.

Jika transaksi tersebut selesai, Wibisana Artha akan menguasai lahan yang cukup luas untuk membangun sebuah kawasan terpadu baru.

Nilai transaksi yang tercantum mencapai Rp1,2 triliun.

Angka yang bahkan membuat orang-orang kaya di ruangan itu berpikir dua kali sebelum membubuhkan tanda tangan.

Sudah hampir satu jam Bram Santoso mendesak Raka agar segera menandatangani dokumen tersebut.

“Semua sudah beres,” katanya. “Dokumen HGB sudah diperiksa, data di BPN juga tidak ada masalah. Pajaknya sudah dibereskan. Kalau kamu membeli sahamnya hari ini, bulan depan proyek sudah bisa mulai dijalankan.”

Raka tidak menjawab.

Ia memegang pena dan membuka kembali lembar lampiran untuk terakhir kalinya.

Alya maju untuk menuangkan teh.

Seharusnya ia tidak melihat dokumen milik para tamu.

Namun ketika Bram menyebut “lampiran kewajiban PT Sagara Kencana”, pandangan Alya tanpa sadar jatuh pada satu baris tulisan kecil di bagian bawah halaman.

Hanya satu baris.

Tetapi tangan Alya seketika menegang.

Tiga tahun sebelumnya, Alya merupakan salah satu mahasiswa terbaik di Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Depok.

Ia hanya tinggal beberapa bulan lagi menyelesaikan kuliahnya ketika ayah angkatnya mengalami kecelakaan.

Sejak saat itu, Alya meninggalkan kampus, mengambil cuti akademik, dan mengerjakan pekerjaan apa pun yang bisa menghasilkan uang.

Namun ilmu hukum yang pernah dipelajarinya tidak pernah benar-benar menghilang.

Dan satu baris tulisan di hadapannya membuat semua pengetahuan yang pernah ia pelajari kembali bekerja hanya dalam hitungan detik.

Pihak pembeli ternyata tidak hanya membeli saham.

Menurut lampiran tersebut, pembeli juga menyatakan bersedia mengambil alih sejumlah liabilitas kontinjensi, kewajiban penjaminan bank, tunggakan pajak yang belum diselesaikan, serta kewajiban finansial lain yang melekat pada PT Sagara Kencana.

Dengan kata lain, pihak yang mengambil alih kendali perusahaan setelah transaksi dapat ikut menanggung utang tersembunyi yang berada di dalam badan hukum pemegang HGB tersebut.

Ini bukan lagi sekadar membeli tanah.

Ini seperti membeli sebuah koper berisi bom, lalu dengan sukarela membawanya pulang ke rumah.

Tangan Alya sedikit bergetar.

Setetes teh jatuh mengenai tas milik Bram.

Dan kemarahan itu pun meledak.

“Orang sepertimu bahkan menuangkan teh saja tidak becus.”

Bram menunjuk langsung ke arah Alya.

“Kamu bisa membaca, tidak?”

Perlahan Alya mengangkat kepalanya.

Seluruh ruangan mendadak sunyi.

“Bisa, Pak.”

Senyum mengejek di wajah Bram langsung membeku.

Alya memandang dokumen kontrak di atas meja.

“Dan karena Bapak mempertanyakan apakah saya bisa membaca, izinkan saya membacakan satu kalimat dari lampiran nomor empat.”

Raka meletakkan penanya.

“Silakan.”

Wajah Bram seketika berubah.

“Raka, jangan buang waktu dengan seorang pelayan.”

Namun Raka tidak memandangnya.

Tatapannya hanya tertuju kepada Alya.

Alya berkata perlahan,

“Dalam klausul ini disebutkan bahwa setelah mengambil alih kendali PT Sagara Kencana, pihak pembeli menyetujui untuk menerima kewajiban finansial yang masih berjalan serta kewajiban penjaminan yang berkaitan dengan aset perusahaan, termasuk kewajiban yang belum tercantum dalam laporan utama.”

Ia berhenti sesaat.

“Pak Raka, menurut saya Bapak sebaiknya meminta tim Bapak memeriksa catatan kredit serta seluruh kewajiban penjaminan atas nama PT Sagara Kencana sebelum menandatangani dokumen ini.”

Bram langsung berdiri.

“Diam!”

Namun Alya tetap tenang.

“Kalau informasi yang pernah saya baca dalam dokumen publik bulan lalu masih benar, PT Sagara Kencana sedang mengalami masalah likuiditas. Kalau perusahaan ini memiliki pinjaman atau kewajiban penjaminan senilai ratusan miliar rupiah, Bapak bukan hanya membeli HGB atas sebidang tanah.”

Alya menatap langsung ke mata Raka.

“Bapak juga sedang membeli seluruh beban finansial perusahaan yang memegang hak atas tanah tersebut.”

Tidak ada lagi yang tertawa.

Raka segera mengambil ponselnya.

“KAMU BISA MEMBACA, TIDAK?” – SANG MILIARDER MENCIBIR, TAPI PELAYAN ITU HANYA MEMBACA SATU BARIS DAN MEMBUAT SELURUH RUANGAN TERDIAM!

“Kamu bisa membaca, tidak? Atau perlu saya ajari mengeja satu per satu?”

Suara cibiran Bram Santoso terdengar jelas di dalam ruang VIP berlapis kayu jati di Rumah Teh Arunika, Menteng, Jakarta Pusat.

Beberapa tamu yang duduk mengelilingi meja ikut tertawa.

Alya Pramesti tetap berdiri tanpa bergerak.

Gadis berusia dua puluh lima tahun itu mengenakan kebaya pelayanan berwarna cokelat muda yang bagian pergelangan tangannya sudah sedikit pudar. Kedua tangannya memegang nampan kayu di depan tubuhnya. Beberapa tetes teh melati tanpa sengaja memercik ke tepi tas kulit yang diletakkan di samping Bram.

Hanya itu.

Namun bagi seseorang seperti Bram Santoso, pria yang terbiasa menggunakan uang untuk membuat orang lain menundukkan kepala, kejadian kecil itu seolah merupakan penghinaan yang tidak bisa dimaafkan.

“Kamu tahu berapa harga tas ini?” geram Bram. “Mungkin setara dengan gajimu selama satu tahun penuh.”

Alya menundukkan kepala.

“Maaf, Pak. Saya akan segera membersihkannya.”

“Maaf?”

Bram tertawa dingin.

Tangannya menghantam tumpukan dokumen tebal di atas meja.

“Kamu tahu berapa nilai sesuatu yang ada di atas meja ini? Ini transaksi senilai lebih dari satu triliun rupiah. Orang sepertimu mungkin bekerja seumur hidup pun belum tentu pernah melihat uang sebanyak itu.”

Duduk berhadapan dengan Bram adalah Raka Wibisana, tiga puluh delapan tahun, Presiden Direktur Wibisana Artha Group, salah satu kelompok usaha besar di bidang properti dan infrastruktur di Indonesia.

Berbeda dengan Bram, Raka tidak mengenakan jam bertabur batu mulia ataupun cincin emas besar.

Ia mengenakan batik berwarna gelap yang dijahit pas dengan tubuhnya, sementara di pergelangan tangannya hanya terpasang sebuah jam sederhana.

Di hadapannya tergeletak rancangan transaksi pembelian 85 persen saham PT Sagara Kencana, sebuah perusahaan yang memegang hak HGB atas lahan seluas hampir delapan belas hektare di kawasan Tangerang.

Jika transaksi tersebut selesai, Wibisana Artha akan menguasai lahan yang cukup luas untuk membangun sebuah kawasan terpadu baru.

Nilai transaksi yang tercantum mencapai Rp1,2 triliun.

Angka yang bahkan membuat orang-orang kaya di ruangan itu berpikir dua kali sebelum membubuhkan tanda tangan.

Sudah hampir satu jam Bram Santoso mendesak Raka agar segera menandatangani dokumen tersebut.

“Semua sudah beres,” katanya. “Dokumen HGB sudah diperiksa, data di BPN juga tidak ada masalah. Pajaknya sudah dibereskan. Kalau kamu membeli sahamnya hari ini, bulan depan proyek sudah bisa mulai dijalankan.”

Raka tidak menjawab.

Ia memegang pena dan membuka kembali lembar lampiran untuk terakhir kalinya.

Alya maju untuk menuangkan teh.

Seharusnya ia tidak melihat dokumen milik para tamu.

Namun ketika Bram menyebut “lampiran kewajiban PT Sagara Kencana”, pandangan Alya tanpa sadar jatuh pada satu baris tulisan kecil di bagian bawah halaman.

Hanya satu baris.

Tetapi tangan Alya seketika menegang.

Tiga tahun sebelumnya, Alya merupakan salah satu mahasiswa terbaik di Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Depok.

Ia hanya tinggal beberapa bulan lagi menyelesaikan kuliahnya ketika ayah angkatnya mengalami kecelakaan.

Sejak saat itu, Alya meninggalkan kampus, mengambil cuti akademik, dan mengerjakan pekerjaan apa pun yang bisa menghasilkan uang.

Namun ilmu hukum yang pernah dipelajarinya tidak pernah benar-benar menghilang.

Dan satu baris tulisan di hadapannya membuat semua pengetahuan yang pernah ia pelajari kembali bekerja hanya dalam hitungan detik.

Pihak pembeli ternyata tidak hanya membeli saham.

Menurut lampiran tersebut, pembeli juga menyatakan bersedia mengambil alih sejumlah liabilitas kontinjensi, kewajiban penjaminan bank, tunggakan pajak yang belum diselesaikan, serta kewajiban finansial lain yang melekat pada PT Sagara Kencana.

Dengan kata lain, pihak yang mengambil alih kendali perusahaan setelah transaksi dapat ikut menanggung utang tersembunyi yang berada di dalam badan hukum pemegang HGB tersebut.

Ini bukan lagi sekadar membeli tanah.

Ini seperti membeli sebuah koper berisi bom, lalu dengan sukarela membawanya pulang ke rumah.

Tangan Alya sedikit bergetar.

Setetes teh jatuh mengenai tas milik Bram.

Dan kemarahan itu pun meledak.

“Orang sepertimu bahkan menuangkan teh saja tidak becus.”

Bram menunjuk langsung ke arah Alya.

“Kamu bisa membaca, tidak?”

Perlahan Alya mengangkat kepalanya.

Seluruh ruangan mendadak sunyi.

“Bisa, Pak.”

Senyum mengejek di wajah Bram langsung membeku.

Alya memandang dokumen kontrak di atas meja.

“Dan karena Bapak mempertanyakan apakah saya bisa membaca, izinkan saya membacakan satu kalimat dari lampiran nomor empat.”

Raka meletakkan penanya.

“Silakan.”

Wajah Bram seketika berubah.

“Raka, jangan buang waktu dengan seorang pelayan.”

Namun Raka tidak memandangnya.

Tatapannya hanya tertuju kepada Alya.

Alya berkata perlahan,

“Dalam klausul ini disebutkan bahwa setelah mengambil alih kendali PT Sagara Kencana, pihak pembeli menyetujui untuk menerima kewajiban finansial yang masih berjalan serta kewajiban penjaminan yang berkaitan dengan aset perusahaan, termasuk kewajiban yang belum tercantum dalam laporan utama.”

Ia berhenti sesaat.

“Pak Raka, menurut saya Bapak sebaiknya meminta tim Bapak memeriksa catatan kredit serta seluruh kewajiban penjaminan atas nama PT Sagara Kencana sebelum menandatangani dokumen ini.”

Bram langsung berdiri.

“Diam!”

Namun Alya tetap tenang.

“Kalau informasi yang pernah saya baca dalam dokumen publik bulan lalu masih benar, PT Sagara Kencana sedang mengalami masalah likuiditas. Kalau perusahaan ini memiliki pinjaman atau kewajiban penjaminan senilai ratusan miliar rupiah, Bapak bukan hanya membeli HGB atas sebidang tanah.”

Alya menatap langsung ke mata Raka.

“Bapak juga sedang membeli seluruh beban finansial perusahaan yang memegang hak atas tanah tersebut.”

Tidak ada lagi yang tertawa.

Raka segera mengambil ponselnya.

“Dimas.”

Suara asistennya terdengar dari seberang.

“Ya, Pak?”

“Hubungi tim legal dan keuangan. Periksa seluruh data PT Sagara Kencana. Saya ingin tahu posisi pinjaman, jaminan, kewajiban pajak, dan setiap liabilitas yang belum dicantumkan secara jelas dalam dokumen transaksi. Sekarang.”

Wajah Bram Santoso seketika kehilangan warna.

“Raka, kamu serius mau mempercayai ucapan seorang pelayan?”

Raka menatapnya tanpa ekspresi.

“Saya tidak sedang mempercayai siapa pun.”

Ia meletakkan ponsel di atas meja.

“Saya sedang memeriksa fakta.”

Bram membuka mulut seolah ingin membantah, tetapi tak satu kata pun keluar.

Alya masih berdiri di samping meja dengan nampan di tangan. Jantungnya berdegup keras, tetapi wajahnya tetap tenang.

Sepuluh menit kemudian, ponsel Raka berdering.

Ruangan itu langsung sunyi.

Raka menyalakan pengeras suara.

“Pak Raka,” ujar Dimas dari seberang, suaranya jauh lebih serius daripada sebelumnya. “Kami menemukan masalah.”

Tatapan Raka mengeras.

“Jelaskan.”

“PT Sagara Kencana memiliki fasilitas kredit dan kewajiban penjaminan yang totalnya mendekati Rp470 miliar. Sebagian berkaitan dengan perusahaan afiliasi yang kondisi keuangannya sedang buruk. Ada juga kewajiban pajak yang masih dalam proses keberatan.”

Bram berdiri kaku.

Dimas melanjutkan,

“Yang paling penting, beberapa kewajiban tersebut tidak dijelaskan secara transparan dalam ringkasan transaksi yang dikirim Santoso Land kepada kita.”

Raka memandang Bram.

“Empat ratus tujuh puluh miliar?”

Bram menelan ludah.

“Itu hanya struktur pembiayaan sementara.”

“Struktur pembiayaan sementara yang tidak dijelaskan kepada calon pembeli?”

“Bisa dibicarakan.”

“Setelah saya menandatangani?”

Bram terdiam.

Raka mengambil pena yang sejak tadi berada di tangannya, lalu menutupnya perlahan.

“Transaksi selesai.”

“Raka, tunggu.”

“Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi.”

“Kita sudah menghabiskan tiga bulan untuk negosiasi ini!”

“Itu lebih baik daripada menghabiskan bertahun-tahun membayar utang yang sengaja Anda sembunyikan.”

Wajah Bram memerah.

“Saya bisa menjelaskan.”

“Jelaskan kepada pengacara saya.”

Raka berdiri.

Sebelum melangkah keluar, ia berhenti di dekat Alya.

Tatapannya jatuh pada gadis itu selama beberapa detik.

Tidak ada ucapan terima kasih.

Tidak ada pertanyaan.

Namun dari sorot mata Raka, Alya tahu satu hal.

Pria itu tidak akan melupakan apa yang baru saja terjadi.

Begitu Raka meninggalkan ruangan, Bram langsung berbalik ke arah Alya.

“Kamu sadar apa yang baru saja kamu lakukan?”

Alya tidak menjawab.

“Kamu menghancurkan transaksi lebih dari satu triliun rupiah!”

Pada saat itulah Pak Harun, manajer Rumah Teh Arunika, masuk dengan wajah panik.

“Ada apa ini?”

Bram menunjuk Alya.

“Pecat dia.”

Pak Harun bahkan tidak bertanya lebih dulu.

“Alya, kamu ikut campur urusan tamu?”

“Saya hanya memperingatkan tentang satu klausul yang—”

“Kamu pelayan!”

Suara Pak Harun menggelegar.

“Tugasmu menuangkan teh, bukan menganalisis kontrak para pelanggan!”

Alya menarik napas.

“Kalau saya diam, orang bisa kehilangan ratusan miliar rupiah.”

“Bukan urusanmu!”

Pak Harun menunjuk pintu.

“Mulai hari ini kamu tidak perlu bekerja di sini lagi.”

Alya menatapnya.

“Bagaimana dengan gaji saya bulan ini?”

“Dipotong untuk mengganti kerugian.”

Bram tersenyum puas.

Alya menundukkan kepala sebentar.

Uang itu seharusnya digunakan untuk membayar kebutuhan pengobatan ayahnya.

Tetapi ia tidak memohon.

Perlahan ia melepaskan celemek kerjanya, melipatnya dengan rapi, lalu meletakkannya di meja.

Sebelum pergi, Alya memandang Bram.

“Bapak memang memiliki banyak uang.”

Bram mendengus.

“Lalu?”

“Namun uang tidak bisa membuat sesuatu yang salah menjadi benar.”

Alya berbalik.

Ia berjalan keluar tanpa menoleh lagi.

Di luar, hujan turun deras di Jakarta.

Alya berjalan menuju halte TransJakarta dengan tas sederhana di bahunya.

Saldo di rekeningnya bahkan tidak sampai Rp80.000.

Malam itu ia tidak tahu bagaimana akan membayar tagihan rumah sakit.

Ia juga tidak tahu pekerjaan apa yang bisa didapat besok.

Namun untuk pertama kalinya sejak kehilangan pekerjaannya, Alya tidak menyesal.

Di seberang jalan, sebuah Toyota Alphard hitam masih terparkir.

Raka duduk di kursi belakang.

Dimas yang berada di depan menoleh.

“Pak, kita antar dia?”

Raka memperhatikan Alya berdiri di bawah atap halte.

“Tidak.”

Dimas terkejut.

“Kenapa?”

“Perempuan seperti dia tidak membutuhkan seseorang datang membawa mobil mahal lalu membuatnya merasa sedang dikasihani.”

Raka terdiam sebentar.

“Tapi cari tahu siapa dia.”

“Sejauh apa?”

“Hanya informasi yang bisa diperoleh secara sah. Pendidikan, pengalaman kerja, dan alasan seseorang dengan kemampuan seperti itu bekerja sebagai pelayan.”

Raka menatap tangannya sendiri.

Tangan yang hampir saja menandatangani kontrak senilai Rp1,2 triliun.

“Saya ingin tahu kenapa seluruh tim saya tidak melihat sesuatu yang bisa dia temukan dalam beberapa detik.”

Malam itu, Alya pergi ke sebuah rumah sakit di Jakarta Timur.

Ayah angkatnya, Pak Suyatno, masih menjalani perawatan setelah kecelakaan lalu lintas yang terjadi beberapa tahun sebelumnya meninggalkan berbagai komplikasi.

Sebagian pengobatan memang terbantu oleh BPJS, tetapi beberapa kebutuhan perawatan lanjutan membuat Alya terus berjuang mencari uang.

Seorang petugas administrasi menghentikannya di lorong.

“Mbak Alya?”

“Ya?”

“Keluarga perlu menambah sekitar Rp25 juta untuk rangkaian perawatan berikutnya.”

Langkah Alya terhenti.

“Dua puluh lima juta?”

Petugas itu mengangguk.

“Kami bisa memberikan sedikit waktu, tapi sebaiknya segera diselesaikan.”

Alya hanya mampu mengangguk.

Beberapa jam lalu ia masih memiliki pekerjaan.

Sekarang bahkan gaji terakhirnya tidak diberikan.

Ia masuk ke kamar ayahnya.

Pak Suyatno sedang berbaring dengan wajah semakin kurus.

Dulu pria itu bekerja sebagai pengemudi ojek pangkalan, lalu pada malam hari berjualan nasi goreng di Bekasi.

Ia tidak pernah memiliki banyak uang.

Namun setiap kali mendapatkan rezeki lebih, selalu ada sebagian yang disisihkan untuk buku Alya.

Saat Alya diterima di Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Pak Suyatno berdiri di depan kampus Depok dengan mata berkaca-kaca.

Ia menceritakan kepada setiap orang yang dikenalnya,

“Anak saya nanti jadi orang hukum.”

Kemudian kecelakaan itu terjadi.

Alya mengambil cuti kuliah.

Laptop dijual.

Sepeda motor dijual.

Ia bekerja sebagai kasir, pelayan, penginput data, bahkan beberapa kali mengambil jadwal malam di minimarket.

Tiga tahun berlalu begitu saja.

Pak Suyatno membuka mata.

“Kamu baru pulang kerja?”

Alya tersenyum.

“Iya, Pak.”

“Capek?”

“Tidak.”

Itu bohong.

Pak Suyatno memandang putrinya.

“Jangan habiskan hidupmu hanya untuk merawat Bapak.”

Alya menggenggam tangannya.

“Aku tidak menghabiskan hidupku.”

“Lalu?”

“Aku cuma sedang mengambil jalan memutar.”

Keesokan paginya, di kantor pusat Wibisana Artha Group di kawasan SCBD, Dimas meletakkan sebuah berkas di meja Raka.

“Kami sudah memeriksa latar belakangnya, Pak.”

Raka membuka map itu.

“Alya Pramesti. Dua puluh lima tahun. Pernah menjadi salah satu mahasiswa dengan prestasi terbaik di Fakultas Hukum UI. Pernah memenangkan kompetisi moot court tingkat nasional.”

Raka mengangkat pandangan.

“Kenapa tidak lulus?”

“Ayah angkatnya mengalami kecelakaan. Dia mengambil cuti akademik.”

Dimas menyerahkan lembar berikutnya.

“Selama tiga tahun dia bekerja di banyak tempat untuk menanggung kebutuhan hidup dan pengobatan ayahnya.”

Raka membaca dalam diam.

“Dan Sagara Kencana?”

“Analisis Alya benar.”

Dimas menarik napas.

“Bahkan lebih buruk daripada dugaan awal. Kalau Bapak menandatangani kemarin, kita bisa menghadapi sengketa dan kewajiban ratusan miliar.”

Raka menutup map.

“Siapkan tawaran pekerjaan.”

Dimas tertegun.

“Sebagai penasihat hukum?”

“Tidak.”

Raka menggeleng.

“Dia belum menyelesaikan pendidikannya. Jangan memberikan jabatan yang belum sesuai kapasitas formalnya.”

Ia berdiri.

“Buat posisi analis kontrak di kantor direktur utama. Dia bekerja bersama tim legal, tetapi bukan menggantikan pengacara.”

“Gajinya?”

“Rp28 juta per bulan selama masa awal.”

Alis Dimas terangkat.

“Dan berikan jadwal fleksibel agar dia bisa menyelesaikan kuliahnya.”

Dimas tersenyum tipis.

“Bapak memikirkan ini cukup matang rupanya.”

Raka menatapnya datar.

“Dimas.”

“Ya, Pak?”

“Papua masih membutuhkan kepala cabang.”

Senyum Dimas langsung hilang.

“Saya segera siapkan suratnya.”

Siang itu, Raka datang sendiri ke kos kecil Alya di Tebet.

Ketika Alya membuka pintu, ia membeku.

“Pak Raka?”

“Saya boleh masuk?”

Alya menatap pakaian mahal pria itu, lalu melihat kamar kosnya yang sempit.

“Tempat saya tidak seperti kantor Bapak.”

“Saya datang untuk bertemu Anda, bukan menilai kamar.”

Alya akhirnya membiarkannya masuk.

Raka menyerahkan sebuah amplop.

Alya tidak langsung mengambilnya.

“Kalau itu uang terima kasih, saya tidak mau.”

“Bukan uang.”

“Lalu?”

“Undangan wawancara.”

Alya menatapnya bingung.

Raka meletakkan amplop di meja.

“Kemarin Anda menyelamatkan perusahaan saya dari keputusan yang bisa menimbulkan kerugian ratusan miliar rupiah.”

“Saya hanya membaca satu klausul.”

“Seluruh tim saya juga membacanya.”

Raka tersenyum tipis.

“Bedanya, mereka melewatkannya.”

Alya membuka amplop.

Matanya melebar ketika melihat posisi dan angka gaji.

“Analis kontrak?”

“Enam bulan percobaan. Kalau kemampuan Anda sesuai dengan yang saya lihat kemarin, kita lanjutkan.”

“Tapi saya belum menyelesaikan kuliah.”

“Karena itu Anda bukan saya angkat sebagai pengacara.”

Raka duduk.

“Perusahaan akan memberi fleksibilitas agar Anda bisa kembali menyelesaikan pendidikan.”

Alya membaca halaman kedua.

“Ada asuransi kesehatan keluarga?”

“Program perusahaan.”

“Untuk ayah saya juga?”

“Jika persyaratannya terpenuhi, ya. Tim HR akan membantu prosesnya. Bukan bantuan pribadi dari saya.”

Alya terdiam.

Raka memahami sesuatu yang orang lain mungkin tidak pahami.

Ia membutuhkan pertolongan.

Tetapi ia tidak ingin dibeli.

“Kenapa Anda melakukan ini?”

“Karena saya membutuhkan orang yang berani mengatakan saya salah sebelum saya membuat kesalahan senilai satu triliun rupiah.”

Untuk pertama kalinya Alya tertawa.

“Wawancaranya kapan?”

“Besok, pukul delapan.”

“Bapak datang sendiri ke sini, tapi saya masih harus wawancara?”

“HR akan membenci saya kalau saya terus merekrut orang sesuka hati.”

Alya tersenyum.

“Baik.”

Hari pertama Alya masuk ke kantor Wibisana Artha Group terasa lebih menegangkan daripada ruang VIP di Menteng.

Desas-desus sudah menyebar.

“Itu pelayan yang menghentikan transaksi Sagara.”

“Katanya Pak Raka sendiri yang merekrut.”

“Dia bahkan belum lulus.”

Orang yang paling jelas menunjukkan ketidaksukaannya adalah Kirana Maheswari, kepala bagian legal.

Kirana memiliki gelar magister hukum bisnis dan pengalaman bertahun-tahun.

Ia memandang Alya dari ujung kepala hingga kaki.

“Ini bukan rumah makan.”

Alya tetap tenang.

“Saya tahu.”

Kirana menjatuhkan satu tumpukan dokumen di mejanya.

“Kalau begitu periksa ini.”

“Berapa lama?”

“Dua jam.”

Dokumen tersebut berkaitan dengan sengketa proyek resort.

Kontraktor menuntut sekitar Rp22 miliar karena menganggap Wibisana Artha melakukan penghentian sepihak.

Tim legal merekomendasikan penyelesaian damai.

Dua jam kemudian, Alya masuk ke ruang rapat.

Raka menatapnya.

“Ada sesuatu?”

“Ada.”

Kirana mencibir.

“Silakan, sang jenius.”

Alya membuka salah satu lampiran.

“Kontraktor mengatakan keterlambatan terjadi karena perubahan desain dari pihak kita.”

“Benar,” jawab Kirana.

“Tetapi berita acara serah terima lahan menunjukkan lokasi sudah diberikan sebelum mereka mengerahkan jumlah pekerja dan alat sesuai kontrak.”

Alya membuka dokumen lain.

“Laporan mingguan mereka sendiri juga mencatat kekurangan alat berat selama tujuh belas hari.”

Raka menatap Kirana.

“Kenapa dua dokumen ini tidak masuk laporan?”

Kirana terdiam.

Alya melanjutkan,

“Saya tidak mengatakan kita pasti menang. Tapi berdasarkan dokumen ini, perusahaan punya alasan kuat untuk tidak buru-buru membayar Rp22 miliar. Sebaiknya seluruh bukti diverifikasi lalu posisi negosiasi kita dihitung ulang.”

Hari itu, untuk pertama kalinya banyak orang berhenti menyebut Alya “pelayan dari Menteng”.

Namun hari itu juga, ia mulai memiliki musuh.

Tiga bulan berlalu.

Alya bekerja pada siang hari dan kembali mengikuti perkuliahan pada waktu yang memungkinkan.

Kondisi Pak Suyatno perlahan membaik.

Sedangkan hubungan Alya dengan Raka berubah dengan cara yang hampir tidak mereka sadari.

Raka mengetahui Alya selalu membeli nasi uduk di warung kecil dekat kantor.

Alya mengetahui Raka sering lupa makan siang ketika terlalu banyak rapat.

Suatu hari Alya meletakkan satu kotak nasi Padang di meja Raka.

“Makan.”

Raka mendongak.

“Kamu menyuruh atasanmu?”

“Tidak.”

Alya membuka laptop.

“Tapi kalau Bapak pingsan dalam rapat, jadwal saya ikut berantakan.”

Raka tertawa.

Jarak di antara mereka perlahan menyusut.

Tidak ada yang menyebut cinta.

Belum.

Sementara itu, Bram Santoso belum melupakan penghinaan di Menteng.

Gagalnya transaksi Sagara Kencana membuat berbagai masalah keuangan Santoso Land mulai terbuka.

Bram menyalahkan Alya.

Suatu malam, Alya menerima pesan dari nomor tak dikenal.

Kalau kamu ingin ayahmu tetap aman, bawa dokumen tender proyek Serpong. Jangan beri tahu siapa pun.

Wajah Alya memucat.

Namun ia tidak pergi sendirian seperti tokoh film yang sengaja masuk perangkap.

Ia mengambil tangkapan layar.

Lalu menelepon Raka.

Tidak sampai setengah jam kemudian Raka sudah berada di rumah sakit.

“Kamu tidak pergi ke mana-mana sendiri.”

“Tapi mereka menyebut ayahku.”

“Justru karena itu.”

Raka menghubungi tim keamanan, penasihat hukum, dan pihak berwenang.

Tim audit internal kemudian menyiapkan dokumen penanda yang tidak berisi rahasia strategis tetapi cukup untuk melacak sumber kebocoran.

Tiga hari kemudian, sebagian isi dokumen tersebut ditemukan beredar melalui sebuah akun perantara yang berkaitan dengan pihak luar.

Masalahnya, hanya empat orang yang memiliki akses.

Alya.

Raka.

Dimas.

Dan Kirana.

Kirana langsung menyerang lebih dulu.

Dalam rapat direksi, ia menunjukkan catatan sistem.

“Laptop Alya pernah membuka dokumen tersebut.”

Seorang komisaris senior bernama Surya Atmadja menggeleng.

“Saya sudah memperingatkan dari awal. Menempatkan seseorang yang belum memiliki kualifikasi lengkap di level ini adalah kesalahan.”

Kirana menatap Alya.

“Dia punya motif. Ayah sakit. Membutuhkan banyak uang. Kalau Bram menawarkan jumlah yang cukup…”

“Cukup.”

Suara Raka memotong ruangan.

Kirana menoleh.

“Pak Raka masih ingin membelanya?”

“Saya tidak sedang membela Alya.”

Raka menatap kepala audit.

“Saya sedang membela proses yang benar. Silakan lanjutkan.”

Kepala audit berdiri.

“Fakta bahwa akun Alya membuka dokumen tidak membuktikan bahwa Alya yang membocorkannya.”

Dimas kemudian meletakkan beberapa dokumen di meja.

“Kami juga menemukan ini.”

Sebuah perusahaan konsultasi kecil milik kakak ipar Kirana menerima pembayaran sebesar Rp8,7 miliar dari badan usaha yang memiliki hubungan finansial dengan kelompok Santoso.

Wajah Kirana berubah.

“Itu transaksi bisnis biasa.”

Alya akhirnya bicara.

“Kalau begitu kontrak jasanya pasti ada.”

Kirana menatapnya.

Alya menunggu.

“Boleh kami lihat?”

Kirana tidak menjawab.

Tim audit kemudian mengungkap bahwa izin akses dokumen diperluas melalui akun administrator dari departemen Kirana pada hari ketika Alya sedang berada di kampus UI mengurus administrasi kuliahnya.

Tidak ada satu bukti ajaib yang langsung menyelesaikan semuanya.

Ada banyak potongan kecil.

Riwayat login.

Persetujuan akses.

Aliran dana.

Surel.

Tidak adanya kontrak jasa.

Dan akhirnya, seorang staf di bawah Kirana mengakui bahwa ia diperintahkan membuka akses di luar prosedur normal.

Raka memandang Kirana.

“Saya tidak akan menyatakan Anda melakukan tindak pidana. Itu bukan kewenangan saya.”

Ia berbicara dengan suara tenang.

“Tetapi mulai hari ini Anda dinonaktifkan dari jabatan sampai pemeriksaan selesai. Semua dokumen akan diserahkan kepada penasihat hukum independen dan pihak yang berwenang.”

Kirana memandang Alya dengan kebencian.

Namun Alya tidak membalas.

Kali ini ia bahkan tidak perlu memenangkan perdebatan.

Dokumen-dokumen itu sudah berbicara untuknya.

Penyelidikan berlangsung selama beberapa minggu.

Bram Santoso kemudian menghadapi pemeriksaan atas sejumlah transaksi keuangan dan dugaan penyembunyian kewajiban PT Sagara Kencana.

Kirana juga menghadapi penyelidikan internal dan proses hukum terkait penyalahgunaan akses serta pembayaran mencurigakan.

Wibisana Artha Group memperbaiki seluruh prosedur due diligence.

Setiap pembelian perusahaan yang memegang aset HGB harus diperiksa silang oleh tim legal, keuangan, pajak, dan pemeriksa independen.

Raka tidak memecat seluruh bagian hukum hanya karena satu kesalahan.

Ia memperbaiki sistemnya.

Alya juga tidak tiba-tiba berubah menjadi seseorang yang selalu benar.

Ia masih melakukan kesalahan.

Pernah suatu kali ia salah menafsirkan bagian dalam laporan awal sehingga Raka menyuruhnya mengulang analisis dari awal.

Alya kesal sepanjang hari.

Malamnya Raka meletakkan kopi susu di mejanya.

“Masih marah?”

“Iya.”

“Saya atasanmu.”

“Saya tahu.”

“Kenapa marah?”

Alya menatapnya.

“Karena Bapak benar.”

Raka tertawa.

“Itu alasan paling buruk untuk marah.”

Alya akhirnya ikut tertawa.

Setahun kemudian, Pak Suyatno sudah bisa berjalan sendiri tanpa bantuan.

Pada hari Alya akhirnya menyelesaikan pendidikan yang tertunda, Pak Suyatno mengenakan batik terbaik yang dimilikinya dan berdiri di kampus UI Depok dengan mata berkaca-kaca.

“Jalan memutarmu akhirnya selesai.”

Alya memeluknya.

“Belum, Pak.”

“Masih ada apa?”

“Aku masih mau berjalan jauh.”

Pak Suyatno tersenyum.

“Ya sudah. Jalan.”

Beberapa meter dari mereka, Raka berdiri sambil membawa bunga.

Ia tidak ikut campur dalam momen ayah dan anak itu.

Pak Suyatno yang lebih dulu memanggil.

“Raka!”

Raka mendekat.

“Ya, Pak?”

“Kenapa berdiri jauh-jauh?”

Alya langsung memerah.

“Pak…”

Pak Suyatno pura-pura tidak mendengar.

“Saya memang sudah tua, tapi belum buta.”

Dimas yang berdiri tak jauh dari sana buru-buru memalingkan wajah agar tawanya tidak terlihat.

Beberapa bulan kemudian, Raka mengajak Alya kembali ke Menteng.

Mobil berhenti di depan Rumah Teh Arunika.

Alya mengernyit.

“Kenapa kita ke sini?”

“Minum teh.”

“Jakarta penuh tempat minum teh.”

“Saya suka yang ini.”

“Kamu buruk sekali kalau berbohong.”

Raka tersenyum.

Manajemen Rumah Teh Arunika sudah berubah.

Pak Harun tidak lagi bekerja di sana setelah pemilik usaha melakukan evaluasi menyusul berbagai keluhan dari karyawan.

Raka tidak membeli tempat itu.

Ia juga tidak menggunakan kekuasaannya untuk membalas dendam.

Ia hanya memesan ruang VIP yang sama.

Ruangan tempat mereka pertama kali bertemu.

Dua cangkir teh melati sudah tersedia di meja.

Tidak ada kontrak Rp1,2 triliun.

Tidak ada Bram.

Tidak ada suara orang menghina pelayan.

Raka menarik kursi untuk Alya.

“Masih ingat?”

“Susah dilupakan.”

“Saya juga.”

Mereka duduk.

Raka menatap meja yang dulu hampir menjadi tempat dirinya membuat kesalahan terbesar dalam karier.

“Hari pertama bertemu kamu, saya pikir sesuatu yang paling berharga di ruangan ini adalah transaksi Rp1,2 triliun.”

“Lalu?”

“Lalu saya tahu saya hampir membeli utang Rp470 miliar.”

Alya tertawa.

“Romantis sekali.”

“Saya belum selesai.”

Raka mengeluarkan sebuah kotak kecil dari saku.

Tawa Alya berhenti.

“Raka…”

“Saya sebenarnya menulis pidato.”

“Berapa halaman?”

“Empat.”

“Jangan dibaca.”

“Dimas juga bilang begitu.”

“Untuk sekali ini saya setuju dengan Dimas.”

Raka tersenyum.

Ia membuka kotak itu.

Sebuah cincin sederhana berada di dalamnya.

Tidak berlebihan.

Tidak dibuat untuk memamerkan kekayaan.

Raka memandang Alya.

“Saya tidak membutuhkan seseorang yang selalu mengatakan saya benar.”

Alya terdiam.

“Saya membutuhkan seseorang yang berani mengatakan saya salah ketika seluruh ruangan terlalu takut untuk bicara.”

Mata Alya mulai berkaca-kaca.

“Saya juga tidak bisa menjanjikan hidup akan selalu mudah. Pekerjaan saya akan tetap penuh rapat, sengketa, kontrak, dan orang-orang yang membuat kita ingin melempar dokumen ke dinding.”

Alya tertawa kecil.

“Itu sangat mungkin.”

“Tapi saya ingin menghadapi semuanya dengan kamu.”

Raka menarik napas.

“Alya Pramesti, mau menikah dengan saya?”

Alya memandang pria di hadapannya.

Setahun lalu, ia berdiri di ruangan yang sama dengan seragam pelayan yang sudah pudar.

Saldo rekeningnya tidak sampai Rp80.000.

Ayahnya sakit.

Kuliah yang pernah menjadi mimpinya terhenti.

Dan orang-orang menilai seluruh harga dirinya hanya dari pakaian yang dikenakannya.

Tetapi hidupnya tidak berubah karena seorang miliarder datang menyelamatkannya.

Hidupnya berubah pada saat ia memilih untuk tidak diam ketika melihat sesuatu yang salah.

Raka hanya menjadi orang yang melihat nilai dari keberaniannya dan membuka sebuah pintu.

Alya sendirilah yang kemudian berjalan melewatinya.

Ia mengulurkan tangan.

“Mau.”

Raka tersenyum lega.

“Tapi ada satu klausul.”

Ekspresi Raka langsung berubah waspada.

“Klausul apa?”

“Kalau setelah menikah kamu masih suka menandatangani dokumen tanpa membacanya sampai selesai…”

Alya menahan senyum.

“Saya tidak akan menyelamatkanmu untuk kedua kalinya.”

Raka tertawa.

“Saya setuju.”

Alya mengangkat alis.

“Kesepakatan lisan tidak cukup.”

“Jadi?”

“Buat tertulis.”

“Kamu benar-benar perempuan paling menakutkan di Jakarta.”

“Kamu masih bisa membatalkan lamaran.”

Raka memasangkan cincin di jarinya.

“Terlambat.”

Di luar jendela, gerimis mulai turun di Menteng.

Kendaraan masih memenuhi jalanan Jakarta.

Tak lama kemudian suara azan dari masjid di sekitar kawasan itu terdengar samar di antara suara hujan dan hiruk-pikuk kota.

Alya menyandarkan kepalanya di bahu Raka.

Ia bukan lagi pelayan yang bisa dihina seseorang dengan pertanyaan,

“Kamu bisa membaca, tidak?”

Ia telah menyelesaikan pendidikannya.

Ayahnya kembali sehat.

Ia memiliki karier yang dibangun dari kemampuan, kerja keras, dan keberanian, bukan belas kasihan.

Dan ia menemukan seseorang yang mencintainya bukan karena ingin menyelamatkannya, melainkan karena menghormati siapa dirinya.

Kemiskinan memang bisa memaksa seseorang mengganti pekerjaan.

Keadaan bisa membuat seseorang harus mengambil jalan memutar.

Pakaian sederhana bisa membuat orang lain meremehkan.

Namun tidak satu pun dari semua itu menentukan nilai seorang manusia.

Karena terkadang, orang yang dianggap paling tidak penting di dalam sebuah ruangan justru satu-satunya orang yang benar-benar membaca apa yang ada di depan mata.

Dan bagi Alya, satu baris kecil di sebuah kontrak bukan hanya menyelamatkan sebuah perusahaan dari kerugian ratusan miliar rupiah.

Satu baris itu juga membuka kembali jalan menuju kehidupan yang selama bertahun-tahun ia kira telah hilang.

Bukan kehidupan sebagai perempuan yang diselamatkan seorang miliarder.

Melainkan kehidupan seorang perempuan yang akhirnya mendapatkan kesempatan untuk berdiri di tempat yang sejak awal memang layak untuknya.