Miliarder Memaksa Pelayan Bernyanyi untuk Menghibur Tamu, Tak Disangka Suaranya Membuat Seorang Tamu Menangis

Avatar penulis
Cerita 01
19 menit baca 849 tayangan
Miliarder Memaksa Pelayan Bernyanyi untuk Menghibur Tamu, Tak Disangka Suaranya Membuat Seorang Tamu Menangis
Indeks

Miliarder Memaksa Pelayan Bernyanyi untuk Menghibur Tamu, Tak Disangka Suaranya Membuat Seorang Tamu Menangis

Hanya karena segelas anggur tanpa sengaja tumpah mengenai sepatu mahal milik seorang miliarder, seorang pelayan muda terpaksa membungkuk untuk membersihkannya di bawah tatapan penasaran seluruh tamu di ruangan itu.

Namun penghinaan itu ternyata masih belum menjadi hal terburuk yang harus ia alami.

Pria yang memimpin salah satu grup properti terbesar di Jawa Tengah itu tiba-tiba meletakkan setumpuk uang pecahan Rp100.000 di atas meja, lalu dengan dingin memerintahkan gadis tersebut untuk bernyanyi demi menghibur para tamu kaya.

Ia percaya bahwa uang dapat membeli hampir segala hal.

Termasuk harga diri seseorang.

Miliarder Memaksa Pelayan Bernyanyi untuk Menghibur Tamu, Tak Disangka Suaranya Membuat Seorang Tamu Menangis

Namun begitu nada pertama terdengar, ruang pesta yang sebelumnya riuh tiba-tiba tenggelam dalam keheningan.

Seorang tamu lanjut usia yang dianggap sebagai legenda di dunia musik Indonesia perlahan berdiri dari kursinya.

Kedua tangannya gemetar.

Lalu, di tengah keterkejutan semua orang, pria itu tiba-tiba menangis.

Tak seorang pun mengetahui bahwa suara pelayan muda tersebut membawa sebuah rahasia yang telah terkubur selama lima tahun.

Dan orang yang mungkin harus membayar harga atas rahasia itu justru adalah keluarga sang miliarder yang baru saja mempermalukannya.

Malam di Semarang memiliki pesona tersendiri.

Dari rooftop Hotel Arunika Grand, deretan cahaya kota membentang menuju kawasan Kota Lama. Lebih jauh lagi, terlihat kawasan Pelabuhan Tanjung Emas dengan titik-titik cahaya kecil yang berkilauan di tengah malam.

Sebuah pesta yang dihadiri para pengusaha, investor, dan tokoh berpengaruh sedang berlangsung di ballroom paling mewah di hotel tersebut.

Suara gelas kristal saling beradu terdengar pelan.

Batik-batik mahal buatan tangan tampak di antara setelan jas berwarna gelap. Di atas meja-meja pesta tersusun anggrek putih, hidangan yang disiapkan khusus oleh koki ternama, serta botol-botol anggur impor yang hanya biasa terlihat dalam acara tertutup seperti itu.

Di tempat seperti ini, orang-orang hampir tidak pernah membicarakan hal-hal kecil.

Mereka membicarakan proyek bernilai triliunan rupiah, kawasan hunian baru, saham, hotel-hotel mewah di Bali, serta transaksi tanah yang sedang menjadi incaran di sekitar Jakarta, Surabaya, dan Jawa Tengah.

Di area khusus karyawan, Alya Prameswari sedang terburu-buru merapikan celemek hitamnya.

Usianya dua puluh empat tahun.

Wajahnya lembut dan cantik, tetapi kedua matanya selalu menyimpan kesedihan yang sulit disembunyikan.

Alya sudah bekerja di Arunika Grand selama hampir satu tahun.

Rekan-rekan kerjanya hanya mengenalnya sebagai gadis rajin, pendiam, dan tidak pernah membuat masalah.

Tak banyak yang tahu bahwa beberapa tahun sebelumnya Alya pernah mendapatkan beasiswa penuh untuk belajar vokal di sebuah institut seni di Yogyakarta.

Dulu ia percaya bahwa panggung akan menjadi masa depannya.

Sampai ayahnya meninggal dunia.

Keluarganya tenggelam dalam utang.

Ibunya, Bu Ratih, menderita penyakit ginjal serius dan membutuhkan perawatan jangka panjang.

Impian Alya tentang dunia musik akhirnya terlipat dan disimpan bersama lembaran-lembaran partitur lamanya.

Ia meninggalkan kampus, kembali ke Semarang, lalu menerima pekerjaan apa pun yang bisa membantunya membayar biaya kos, obat-obatan, ongkos pergi ke rumah sakit, serta berbagai biaya pengobatan yang tidak sepenuhnya ditanggung oleh asuransi.

“Alya.”

Manajernya memanggil.

“Meja nomor lima minta tambahan anggur. Tolong antar ke sana. Hati-hati sedikit. Pak Arga sedang duduk di meja itu.”

Alya mengangguk pelan.

Arga Mahendra.

Tiga puluh dua tahun.

CEO Mahendra Group, sebuah grup properti dan perhotelan dengan nilai bisnis mencapai puluhan triliun rupiah.

Di dunia bisnis, Arga dikenal tegas, dingin, dan hampir tidak pernah membiarkan perasaan memengaruhi keputusannya.

Alya menarik napas dalam-dalam, lalu membawa nampan berisi anggur menuju ruang utama.

Ia tidak tahu bahwa hanya beberapa menit kemudian, hidupnya akan berbelok ke arah yang sama sekali berbeda.

Ketika Alya tiba di meja nomor lima, seorang pria yang sedang asyik berbicara tiba-tiba mengayunkan tangannya ke belakang.

Lengannya menghantam nampan yang dibawa Alya.

Gelas di atasnya terbalik.

Anggur merah langsung tumpah mengenai sepatu kulit buatan khusus milik Arga Mahendra.

Seluruh meja mendadak sunyi.

Arga perlahan menundukkan pandangannya.

Wajah Alya langsung pucat.

“Maaf, Pak. Saya benar-benar minta maaf.”

Manajer segera berlari menghampiri mereka.

“Pak Arga, mohon dimaklumi. Karyawan kami benar-benar tidak sengaja.”

Arga tidak menjawab.

Ia mengambil selembar tisu, kemudian meletakkannya di lantai tepat di samping sepatunya.

“Bersihkan.”

Alya terdiam.

Puluhan pasang mata sedang menatapnya.

Beberapa orang bahkan mulai mengangkat ponsel mereka.

Wajah Alya terasa panas.

Ia ingin berbalik dan pergi.

Namun bayangan ibunya yang terbaring di ranjang rumah sakit tiba-tiba muncul di kepalanya.

Ia membutuhkan pekerjaan ini.

Akhirnya Alya membungkuk dan membersihkan noda anggur dari sepatu Arga.

Ketika kembali berdiri, punggungnya tetap tegak.

“Sudah bersih, Pak.”

Arga menatapnya selama beberapa detik.

Mungkin karena ia sudah minum.

Mungkin juga karena ia ingin menunjukkan kekuasaannya di hadapan para mitra bisnis.

Arga mengambil setumpuk uang rupiah dan meletakkannya di atas meja.

“Saya dengar para pegawai hotel biasanya punya bakat tersembunyi.”

Beberapa tamu tertawa kecil.

Arga melanjutkan,

“Bernyanyilah satu lagu. Kalau nyanyianmu bagus, uang ini menjadi milikmu.”

Alya menatap tumpukan uang itu.

Kemudian ia menatap pria yang berdiri di hadapannya.

Pada saat itulah Alya mengerti bahwa Arga sebenarnya tidak ingin mendengar musik.

Ia hanya ingin membeli sebuah pertunjukan.

Ia ingin menjadikan rasa malu seorang pelayan sebagai hiburan bagi seluruh ruangan.

Alya ingin menolak.

Namun ibunya membutuhkan uang.

Utang keluarganya telah melampaui tiga ratus juta rupiah.

Dengan langkah perlahan, Alya berjalan menuju panggung kecil.

Terdengar beberapa tawa pelan dari antara para tamu.

Apa yang bisa dilakukan oleh seorang pelayan yang baru saja bekerja selama dua belas jam penuh?

Alya menggenggam mikrofon.

Ia menutup mata.

Dan pada detik itu, hotel mewah tersebut seakan menghilang dari pikirannya.

Hotel mewah itu seakan menghilang dari pikirannya.

Alya tidak lagi melihat lampu kristal yang menggantung di langit-langit ballroom. Ia tidak lagi mendengar bisikan para tamu, suara gelas, ataupun tawa kecil orang-orang yang beberapa menit lalu menikmati penghinaannya.

Dalam pikirannya hanya ada sebuah rumah sederhana di pinggiran Semarang, sebuah piano tua yang beberapa tutsnya sudah menguning, dan sosok ayahnya yang duduk di depannya sambil tersenyum.

“Kalau suatu hari kamu bernyanyi, Alya,” kata ayahnya dulu, “jangan bernyanyi supaya orang mengagumimu. Bernyanyilah supaya mereka merasakan sesuatu.”

Alya menarik napas.

Lalu ia mulai bernyanyi.

Nada pertama keluar dengan lembut.

Tidak terlalu tinggi.

Tidak dibuat-buat.

Namun suara itu membuat percakapan di ballroom berhenti satu demi satu.

Seorang pengusaha yang sedang mengangkat gelas membiarkan tangannya menggantung di udara. Seorang perempuan yang tadi sibuk dengan ponselnya perlahan menurunkan layar. Bahkan para pelayan di sisi ruangan berhenti berjalan.

Suara Alya semakin kuat.

Ada luka di dalamnya.

Ada kehilangan.

Ada kerinduan seorang anak terhadap ayah yang tidak sempat mengucapkan selamat tinggal.

Dan ada kelelahan seorang perempuan muda yang selama bertahun-tahun harus berpura-pura kuat agar ibunya tidak kehilangan harapan.

Arga Mahendra yang tadinya duduk santai kini menegakkan tubuh.

Tumpukan uang di atas meja tiba-tiba terasa memalukan.

Beberapa menit sebelumnya ia mengira sedang menunjukkan kekuasaan.

Sekarang ia justru merasa seperti orang paling kecil di ruangan itu.

Di meja seberang, seorang pria berusia lebih dari enam puluh tahun mulai gemetar.

Namanya Bima Santoso.

Hampir semua orang di dunia musik Indonesia mengenalnya sebagai produser senior, komposer, sekaligus mantan konduktor yang terkenal keras terhadap penyanyi muda.

Selama puluhan tahun, hampir tidak pernah ada pertunjukan yang membuatnya kehilangan kendali atas emosi.

Namun malam itu matanya berkaca-kaca.

Ketika Alya mencapai bagian terakhir lagu, Pak Bima menundukkan kepala.

Air mata jatuh di pipinya.

“Tidak mungkin,” bisiknya.

Orang di sampingnya bertanya, “Pak Bima kenapa?”

Pak Bima tidak menjawab.

Begitu lagu selesai, keheningan masih bertahan beberapa detik.

Alya membuka mata.

Tidak ada yang tertawa lagi.

Ia meletakkan mikrofon.

Tidak menyentuh uang Arga.

Lalu ia turun dari panggung.

“Tunggu!”

Suara Pak Bima membuat Alya berhenti.

Pria tua itu berdiri.

“Siapa nama ayahmu?”

Pertanyaan itu membuat wajah Alya berubah.

“Maaf?”

“Nama ayahmu.”

Alya menatapnya ragu.

“Darma Pranoto.”

Pak Bima menutup mata.

Tangannya mencengkeram tepi meja.

“Darma…”

Ia berjalan mendekati Alya.

“Darma Pranoto dari Yogyakarta?”

Alya mengangguk perlahan.

“Bapak mengenal ayah saya?”

Pak Bima tertawa kecil, tetapi air mata kembali turun.

“Mengenal?”

Ia menatap Alya seolah melihat seseorang dari masa lalu.

“Dia sahabat saya.”

Seluruh ballroom mulai berbisik.

Pak Bima kemudian berkata, “Ayahmu adalah salah satu pencipta lagu terbaik yang pernah saya kenal. Orang-orang boleh melupakan namanya, tapi saya tidak pernah lupa caranya membuat melodi.”

Alya menundukkan kepala.

“Bapak salah. Ayah saya hanya guru musik biasa.”

“Tidak.”

Suara Pak Bima tegas.

“Dia menjadi guru musik setelah meninggalkan industri. Sebelum itu, dia seorang komposer.”

Alya tidak menjawab.

Ia sudah terlalu lelah untuk membuka kembali luka yang selama lima tahun berusaha ia tutup.

“Permisi.”

Ia berbalik dan berjalan menuju pintu belakang.

Di luar hotel, hujan sedang turun.

Alya berdiri di bawah kanopi kecil untuk karyawan.

Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya jatuh.

Ia tidak menangis karena Arga.

Ia menangis karena selama beberapa menit tadi ia merasa ayahnya masih hidup.

Pintu terbuka.

Arga muncul.

Untuk pertama kalinya malam itu, wajah pria itu tidak menyimpan kesombongan.

“Alya.”

Gadis itu menghapus air matanya.

“Saya mau minta maaf.”

“Tidak perlu, Pak.”

“Saya sudah mempermalukan kamu.”

Alya tersenyum pahit.

“Bapak memberikan uang. Saya menyanyi. Bukankah itu yang Bapak inginkan?”

Arga terdiam.

“Saya salah.”

Alya menatapnya.

“Orang seperti Bapak mudah mengatakan salah setelah semuanya selesai.”

Ucapan itu menusuk lebih dalam daripada kemarahan.

Alya kemudian melangkah ke tengah hujan.

Arga ingin memanggilnya kembali, tetapi tidak melakukannya.

Untuk pertama kalinya, ia sadar ada masalah yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan mengambil dompet.

Malam itu Arga tidak bisa tidur.

Ia meminta asistennya mencari informasi mengenai Alya.

Apa yang ia temukan membuat dadanya sesak.

Alya pernah menjadi mahasiswa berprestasi di Yogyakarta.

Ayahnya meninggal lima tahun sebelumnya.

Setelah kematian Darma, keluarga mereka menanggung utang besar.

Ibu Alya, Ratih Prameswari, menderita penyakit ginjal dan harus menjalani perawatan rutin.

Alya berhenti kuliah dan bekerja di beberapa tempat sebelum akhirnya menjadi pelayan hotel.

Arga menutup dokumen itu.

Ia melihat telapak tangannya sendiri.

Tangan yang beberapa jam lalu melemparkan uang ke atas meja.

Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, Arga merasa malu terhadap dirinya sendiri.

Sementara itu, ponsel Alya berdering.

Telepon berasal dari rumah sakit.

Kondisi Bu Ratih memburuk.

Alya berlari ke rumah sakit dengan uang yang nyaris tidak cukup untuk ongkos.

Ia duduk berjam-jam di koridor, menghubungi kenalan, saudara jauh, bahkan bekas rekan kerja.

Tidak ada yang mampu membantunya.

Menjelang tengah malam, seorang petugas administrasi mendatanginya.

“Mbak Alya?”

“Iya.”

“Deposit untuk tindakan darurat sudah dibayarkan.”

Alya terkejut.

“Dibayar siapa?”

Sebuah suara terdengar dari belakang.

“Saya.”

Alya berbalik.

Arga berdiri beberapa meter darinya.

Wajah Alya langsung mengeras.

“Saya tidak meminta bantuan Bapak.”

“Saya tahu.”

“Kalau ini untuk menebus kejadian tadi malam, saya akan mengembalikannya.”

“Silakan.”

Jawaban Arga membuat Alya terdiam.

“Kalau kamu ingin mengembalikan, saya tidak akan melarang.”

Arga duduk di kursi seberang.

“Tapi malam ini, jangan pikirkan harga diri dulu. Pikirkan ibumu.”

Alya menahan air mata.

“Kenapa?”

“Karena saya akhirnya mengerti bahwa permintaan maaf tanpa tindakan tidak ada gunanya.”

Beberapa hari kemudian kondisi Bu Ratih stabil.

Pak Bima datang menemui Alya.

Ia membawa map tua berisi foto-foto Darma ketika masih aktif di dunia musik.

Pak Bima menjelaskan bahwa Darma pernah menciptakan sejumlah lagu dan komposisi, tetapi kemudian tersingkir setelah terlibat konflik mengenai hak cipta sebuah karya besar.

“Dia dituduh menjiplak,” kata Pak Bima.

Alya mengangguk.

“Itu sebabnya ayah tidak pernah mau membicarakan masa lalunya.”

Pak Bima menarik napas.

“Karena dia tidak menjiplak.”

Alya menatapnya.

“Bapak yakin?”

“Sangat yakin.”

Pak Bima menunjukkan sebuah foto.

Di dalamnya, Darma berdiri bersama beberapa musisi, termasuk seorang akademisi terkenal bernama Surya Wibowo.

“Pak Surya?”

Alya mengenali wajah itu.

“Iya. Sekarang dia dianggap maestro.”

Pak Bima mengangguk.

“Lagu yang membuat namanya terkenal diduga berasal dari karya ayahmu.”

Alya merasa seluruh tubuhnya dingin.

Selama bertahun-tahun, ia mengira ayahnya kehilangan karier karena kesalahan sendiri.

Ternyata mungkin ada cerita lain.

Pak Bima kemudian menawarkan satu hal.

“Kembalilah bernyanyi.”

Alya tersenyum sedih.

“Saya sudah berhenti lima tahun.”

“Suara seperti milikmu tidak hilang. Hanya tertidur.”

Arga menawarkan tempat latihan dan biaya pelatihan, tetapi kali ini ia membuat semuanya melalui perjanjian resmi.

Tidak ada utang budi.

Tidak ada syarat hubungan pribadi.

Alya boleh menghentikan kerja sama kapan pun.

Ia membaca kontrak itu berkali-kali.

“Kenapa Bapak melakukan semua ini?”

Arga menjawab, “Karena dulu saya memakai uang untuk merendahkan kamu. Sekarang saya ingin belajar memakai apa yang saya punya tanpa merendahkan siapa pun.”

Alya akhirnya menerima.

Hari-hari berikutnya dipenuhi latihan.

Pada awalnya suaranya mudah lelah.

Tangannya gemetar setiap kali berdiri di depan mikrofon.

Namun Pak Bima sabar.

“Jangan mencoba menjadi Alya yang dulu,” katanya.

“Jadilah Alya yang sekarang.”

Perlahan suara Alya berubah.

Bukan lagi suara mahasiswa muda yang bermimpi menjadi terkenal.

Kini setiap nada membawa kehidupan yang telah ia jalani.

Arga sering datang melihat latihan dari kejauhan.

Ia tidak mengganggu.

Kadang mereka makan sederhana setelah latihan.

Nasi goreng.

Soto.

Atau sekadar kopi dan pisang goreng.

Untuk pertama kalinya Alya mengenal sisi lain Arga.

Di balik jabatan dan kekayaannya, Arga ternyata tumbuh di rumah yang dingin.

Ayahnya meninggal ketika ia masih muda.

Ibunya, Ratna Kusuma, membesarkannya dengan keyakinan bahwa kelemahan adalah sesuatu yang memalukan.

“Kata Ibu saya, kalau kita tidak menguasai orang lain, kita akan dikuasai.”

Alya menatapnya.

“Makanya Bapak melempar uang malam itu?”

Arga tertawa kecil.

“Mungkin.”

“Cara berpikir yang buruk.”

“Sekarang saya tahu.”

Hubungan mereka perlahan berubah.

Namun semuanya kembali terguncang ketika Alya menemukan sebuah buku catatan lama milik ayahnya.

Buku itu disimpan oleh seorang mantan petugas keamanan pusat kesenian.

Di dalamnya terdapat catatan mengenai proyek budaya, kontrak hak cipta, serta transaksi mencurigakan.

Salah satu nama yang berulang kali muncul adalah Ratna Kusuma.

Ibu Arga.

Alya merasa seolah tanah di bawah kakinya runtuh.

Ia mendatangi Arga.

Buku itu dilemparkan ke meja di antara mereka.

“Baca.”

Arga membaca halaman demi halaman.

Wajahnya perlahan pucat.

“Ini…”

“Ibu Bapak tahu tentang apa yang terjadi pada ayah saya.”

“Alya, saya tidak pernah…”

“Saya tahu Bapak mungkin tidak tahu.”

Air mata Alya jatuh.

“Tapi bagaimana saya bisa berdiri di samping Bapak setelah membaca ini?”

Arga tidak mencoba membela diri.

Ia hanya berkata, “Berikan saya waktu untuk memeriksanya.”

Alya tertawa pahit.

“Uang, pengacara, orang-orang Bapak?”

“Bukan.”

Arga menatapnya.

“Saya akan menyerahkan dokumen ini kepada pihak yang berwenang kalau memang terbukti.”

“Walaupun itu menyeret ibu Bapak?”

Arga terdiam beberapa detik.

“Walaupun itu ibu saya.”

Janji itu benar-benar ia tepati.

Arga menyewa firma hukum independen.

Bukti-bukti lama dikumpulkan.

Pak Bima memberikan kesaksian.

Seorang mantan pegawai menemukan salinan dokumen registrasi karya.

Hasil pemeriksaan awal menunjukkan bahwa karya Darma memang telah digunakan tanpa izin.

Lebih mengejutkan lagi, terdapat transaksi dari sebuah yayasan budaya kepada perusahaan yang terkait dengan Surya Wibowo dan kelompok bisnis tertentu.

Ratna mengetahui sebagian transaksi tersebut.

Ia tidak terbukti sebagai pelaku utama pencurian karya, tetapi ia pernah menandatangani dokumen yang membantu menutup masalah itu agar tidak merusak bisnis.

Ketika Arga menghadapi ibunya, pertengkaran besar terjadi.

“Kamu mau menghancurkan keluarga sendiri demi perempuan itu?”

Ratna berteriak.

Arga menatap ibunya dengan mata berkaca-kaca.

“Bukan Alya yang menghancurkan keluarga kita.”

“Lalu siapa?”

“Orang-orang yang mengira nama keluarga lebih penting daripada kebenaran.”

Ratna menamparnya.

Arga tidak bergerak.

“Kalau memang Ibu salah,” katanya pelan, “hadapi akibatnya.”

Ratna membeku.

Ia tidak pernah menyangka anak yang dibesarkannya untuk menjadi pewaris paling keras justru menjadi orang yang berani menentangnya.

Sementara penyelidikan berjalan, Alya mempersiapkan konser besar akhir tahun di Semarang.

Pak Bima ingin ia membawakan karya terakhir ayahnya.

Sebuah komposisi berjudul “Lagu untuk Mereka yang Bertahan”.

Masalahnya, Surya Wibowo juga mengklaim karya tersebut sebagai miliknya.

Perselisihan itu menjadi perhatian publik.

Nama Alya mulai muncul di media.

Ada yang mendukung.

Ada yang menuduhnya mencari ketenaran.

Alya hampir menyerah.

“Aku capek, Pak.”

Ia berkata kepada Pak Bima.

“Dulu saya cuma ingin ibu sembuh.”

Pak Bima tersenyum.

“Kalau begitu tetaplah berpegang pada hal itu. Jangan bernyanyi untuk mengalahkan Surya. Jangan bernyanyi untuk membuat Arga bangga. Bernyanyilah untuk dirimu sendiri dan ibumu.”

Malam konser tiba.

Ballroom Arunika Grand kembali dipenuhi tamu.

Tempat yang sama.

Lampu yang sama.

Namun Alya bukan perempuan yang sama.

Ia berdiri di belakang panggung mengenakan kebaya putih sederhana.

Tidak ada perhiasan mahal.

Hanya sebuah liontin kecil peninggalan ayahnya.

Arga datang.

Ia berhenti beberapa langkah darinya.

“Alya.”

Gadis itu menoleh.

“Semua dokumen sudah diserahkan ke penyidik.”

Alya mengangguk.

“Ibu Bapak?”

“Juga diminta memberikan keterangan.”

“Bapak baik-baik saja?”

Arga tersenyum pahit.

“Tidak.”

Alya menatapnya.

“Tapi mungkin untuk pertama kalinya saya tidak lari dari sesuatu hanya karena menyakitkan.”

Nama Alya dipanggil.

Ia berjalan menuju panggung.

Di barisan depan, Bu Ratih duduk dengan kursi roda.

Kondisinya sudah jauh lebih baik.

Pak Bima duduk di depan piano.

Surya Wibowo juga hadir, wajahnya tegang setelah sebelumnya menerima panggilan pemeriksaan.

Pak Bima berbicara kepada penonton.

“Malam ini kita tidak sedang menggelar pengadilan.”

Ia menunjuk partitur di depannya.

“Kita hanya akan memberikan sebuah lagu kembali kepada orang yang menulisnya.”

Layar besar menampilkan salinan partitur asli Darma lengkap dengan tanggal, catatan revisi, dan bukti penyimpanan lama.

Kemudian Alya mulai bernyanyi.

Arga menundukkan kepala.

Ia masih ingat perempuan yang dulu dipaksanya bernyanyi demi uang.

Sekarang perempuan itu berdiri di panggung karena keinginannya sendiri.

Saat Alya mencapai bait terakhir, Bu Ratih menangis.

Pak Bima juga menangis lagi.

Bahkan beberapa tamu yang dulu hadir pada malam penghinaan itu menundukkan kepala.

Lagu selesai.

Untuk beberapa detik, tidak ada suara.

Kemudian seluruh ballroom berdiri.

Tepuk tangan bergemuruh.

Alya melihat ke arah ibunya.

Bu Ratih mengangguk.

Alya tersenyum.

Untuk pertama kalinya sejak ayahnya meninggal, ia merasa benar-benar bebas.

Beberapa bulan kemudian, proses hukum menghasilkan titik terang.

Hak cipta karya Darma Pranoto dikembalikan kepada keluarganya setelah bukti dokumenter dan kesaksian lama diverifikasi.

Surya kehilangan hak atas karya yang sebelumnya ia klaim dan harus menghadapi proses hukum terkait pemalsuan dokumen.

Ratna mengakui bahwa bertahun-tahun sebelumnya ia memilih diam karena takut skandal akan menghancurkan sejumlah kerja sama bisnis.

Ia tidak diperlakukan sebagai seseorang yang kebal hukum hanya karena kaya.

Arga mengundurkan diri sementara dari posisi CEO agar restrukturisasi Mahendra Group dapat dilakukan secara independen.

Suatu sore, Ratna meminta bertemu Alya.

Mereka duduk berhadapan di taman rumah sakit.

Ratna terlihat jauh lebih tua dibanding beberapa bulan sebelumnya.

“Saya tidak meminta kamu memaafkan saya.”

Alya diam.

Ratna melanjutkan, “Saya hanya ingin mengatakan bahwa saya salah.”

Alya menatap perempuan itu.

“Yang paling menyakitkan bukan karena keluarga Ibu kaya atau berkuasa.”

Ratna menunduk.

“Yang paling menyakitkan adalah orang-orang tahu ayah saya sedang dihancurkan, tetapi memilih diam.”

Air mata muncul di mata Ratna.

“Saya tahu.”

Alya menarik napas.

“Saya tidak bisa melupakan.”

“Saya mengerti.”

“Tapi saya juga tidak mau menghabiskan hidup saya membenci Ibu.”

Ratna mengangkat wajah.

Itu bukan pengampunan penuh.

Namun bagi keduanya, itu adalah pintu kecil menuju sesuatu yang lebih baik.

Setahun kemudian, hidup Alya berubah.

Ia tidak menjadi bintang yang hidup dari skandal.

Ia memilih jalannya sendiri.

Ia merilis album pertama yang sebagian berisi karya-karya Darma Pranoto.

Pendapatannya cukup untuk membantu biaya pengobatan ibunya dan melunasi utang keluarga.

Bersama Pak Bima, Alya mendirikan program beasiswa untuk mahasiswa seni dari keluarga kurang mampu.

Arga ikut membantu dengan dana pribadinya.

Yayasan itu diberi nama Nada Harapan.

Suatu sore, Alya menemukan Arga sedang duduk di lantai ruang latihan bersama beberapa anak.

Seorang bocah sedang memukul-mukul tuts piano tanpa irama.

Arga terlihat putus asa.

“Kenapa?”

Alya tertawa.

“Saya baru sadar mengelola perusahaan jauh lebih mudah daripada mengajari anak tujuh tahun main piano.”

Alya duduk di sampingnya.

“Karena karyawan Bapak takut sama Bapak.”

Anak kecil itu berkata polos, “Aku nggak takut.”

Alya langsung tertawa.

Arga menghela napas.

“Karier saya selesai.”

Hubungan mereka tumbuh tanpa kontrak.

Tanpa kewajiban.

Tanpa uang di atas meja.

Suatu malam mereka kembali ke Arunika Grand untuk menghadiri acara amal.

Setelah acara selesai, Arga membawa Alya ke ballroom yang sudah kosong.

Ia menunjuk meja nomor lima.

“Ingat?”

Alya mengangkat alis.

“Sulit dilupakan.”

Arga terlihat gugup.

“Saya ingin melakukan sesuatu.”

Ia mengeluarkan dompet.

Alya langsung menyipitkan mata.

“Arga.”

“Tenang.”

Ia hanya mengeluarkan satu lembar uang Rp100.000 dan meletakkannya di meja.

Alya melipat tangan.

“Mau menyuruh saya menyanyi lagi?”

“Tidak.”

Arga mengambil uang itu kembali.

Ia lalu berlutut.

Mata Alya membesar.

Di tangan Arga ada sebuah kotak kecil.

“Uang itu dulu menjadi simbol dari hal paling memalukan yang pernah saya lakukan.”

Ia membuka kotak.

Sebuah cincin sederhana berada di dalamnya.

“Jadi malam ini saya tidak menawarkan uang.”

Alya menutup mulutnya.

“Saya cuma menawarkan diri saya sendiri. Seorang laki-laki yang keras kepala, masih belajar meminta maaf, tidak bisa main piano, dan mungkin akan terus membuat kesalahan.”

Alya tertawa sambil menangis.

Arga melanjutkan.

“Tapi saya berjanji tidak akan pernah lagi membuatmu merasa harus menundukkan kepala di depan saya.”

Ia menatap Alya.

“Maukah kamu menjalani hidup bersama saya?”

Alya tidak langsung menjawab.

Ia melihat panggung.

Tempat di mana semuanya dimulai.

Kemudian ia melihat Arga.

“Dengan satu syarat.”

Arga menelan ludah.

“Apa?”

“Kalau kita bertengkar nanti, jangan pernah keluarkan setumpuk uang dan menyuruh saya bernyanyi.”

Arga tertawa.

“Saya janji.”

Alya mengulurkan tangannya.

“Kalau begitu, iya.”

Beberapa bulan kemudian mereka menikah dalam sebuah upacara kecil bernuansa Jawa Tengah.

Alya mengenakan kebaya putih.

Arga memakai beskap dan kain batik.

Bu Ratih duduk di barisan depan dengan senyum yang hampir tidak pernah hilang.

Pak Bima menjadi salah satu orang yang paling sibuk malam itu meski tidak pernah diminta.

Ia mengatur musik, memarahi pemain piano, memperbaiki mikrofon, dan akhirnya menangis sebelum pengantin perempuan muncul.

“Pak Bima sudah menangis lagi,” bisik Arga.

Alya tersenyum.

“Biarkan.”

Menjelang akhir acara, Alya berdiri di depan piano.

Arga mendekatinya.

“Kamu mau bernyanyi?”

Alya mengangguk.

“Untuk siapa?”

Alya melihat ibunya.

Lalu Pak Bima.

Kemudian foto kecil ayahnya yang diletakkan di sisi panggung.

“Untuk orang-orang yang memilih bertahan.”

Musik dimulai.

Suara Alya memenuhi ruangan.

Kali ini tidak ada penghinaan.

Tidak ada uang yang dilemparkan.

Tidak ada orang yang memaksanya.

Ia bernyanyi karena ia ingin bernyanyi.

Arga berdiri beberapa meter darinya dan tersenyum.

Ia akhirnya memahami sesuatu yang tidak pernah diajarkan oleh dunia bisnis kepadanya.

Kekayaan bukan tentang berapa banyak orang yang bisa diperintah.

Kekuatan bukan tentang membuat orang lain takut.

Dan cinta bukan tentang menyelamatkan seseorang dengan uang.

Kadang cinta berarti berdiri di samping seseorang ketika ia berjuang menyelamatkan dirinya sendiri.

Lagu berakhir.

Alya berjalan menghampiri Arga.

Di antara tepuk tangan para tamu, ia menggenggam tangan suaminya.

Beberapa tahun kemudian, Nada Harapan telah memberikan beasiswa kepada puluhan anak muda dari berbagai daerah.

Bu Ratih sering datang ke pusat pelatihan membawa makanan untuk murid-murid.

Pak Bima masih mengajar meskipun setiap tahun mengancam akan pensiun.

Arga kembali memimpin Mahendra Group setelah perusahaan menjalani restrukturisasi dan sistem audit baru.

Sedangkan Alya tetap bernyanyi.

Namun setiap kali seseorang bertanya kapan hidupnya berubah, ia tidak mengatakan saat menjadi terkenal.

Ia tidak mengatakan saat hak cipta ayahnya dikembalikan.

Ia juga tidak mengatakan saat menikah dengan seorang miliarder.

Alya selalu menjawab hal yang sama.

“Hidup saya berubah ketika saya berdiri di atas sebuah panggung dan menyadari bahwa orang yang mencoba merendahkan saya tidak pernah memiliki kuasa untuk menentukan nilai diri saya.”

Karena pada akhirnya, malam ketika seorang miliarder memaksanya bernyanyi bukanlah malam Alya kehilangan harga dirinya.

Justru malam itulah ia menemukannya kembali.

Dan suara yang awalnya diminta untuk menjadi hiburan orang-orang kaya akhirnya menjadi suara yang mengembalikan nama baik ayahnya, menyelamatkan masa depannya, serta mengajarkan seorang lelaki yang memiliki hampir segalanya bahwa ada satu hal yang tidak pernah bisa dibeli dengan uang.

Hati seseorang.

Hati hanya bisa diberikan.

Dan ketika diberikan dengan tulus, nilainya jauh lebih besar daripada seluruh kekayaan yang pernah dimiliki Arga Mahendra.