DI PEMAKAMAN PUTRIKU YANG BERUSIA ENAM TAHUN, AKU MENDEKATKAN WAJAH KE PETI PUTIHNYA—LALU MENDENGAR, “MAMA, AKU DINGIN… PAPA BILANG AKU HARUS TIDUR.”
Aku tidak berteriak.
Aku langsung mengeluarkan ponsel, menghubungi polisi dan ambulans, lalu membuka ikatan di pergelangan tangannya.
Beberapa jam kemudian, polisi menggeledah rumah mantan suamiku di Pondok Indah.
Di sana, mereka menemukan sebuah ruangan tersembunyi yang seharusnya tidak pernah diketahui siapa pun.
BAGIAN 1
“Mama… jangan biarkan Papa mengunciku lagi.”
Tubuhku membeku di depan peti putih kecil itu.
Selama dua hari, aku memaksa diriku menerima kenyataan paling kejam yang pernah bisa dialami seorang ibu:
Putriku yang baru berusia enam tahun, Alya, telah meninggal.
Setidaknya, itulah yang dikatakan mantan suamiku, Arga Pratama.
Arga meneleponku dan mengatakan Alya mengalami gangguan pernapasan mendadak saat tidur. Menurutnya, semuanya terjadi begitu cepat sehingga dokter tidak sempat menyelamatkannya.
Tapi sejak awal, ada terlalu banyak hal yang terasa janggal.
Aku tidak diizinkan melihat Alya di rumah sakit.
Aku tidak mendapatkan rekam medis lengkapnya.
Ketika aku meminta pemeriksaan medis independen sebelum pemakaman, ibu Arga, Bu Ratna, justru menuduhku sengaja membuat keributan.
Di depan beberapa anggota keluarga, dia berkata,
“Anak itu sudah pergi. Jangan jadikan pemakamannya panggung untuk pertengkaranmu dengan Arga.”
Aku menahan semuanya.
Amarah.
Kesedihan.
Dan firasat buruk yang sejak awal tidak mau meninggalkanku.
Namun sekarang…
suara kecil itu baru saja keluar dari dalam peti.
“Alya?”
Aku hampir tidak mampu mengeluarkan suara.
Kelopak mata putriku bergerak.
Aku langsung membuka bagian dalam peti.
Dan saat melihat wajahnya, lututku hampir kehilangan tenaga.
Alya masih hidup.
Wajahnya sangat pucat.
Bibirnya gemetar.
Tubuh kecilnya basah oleh keringat dingin, sementara napasnya begitu pelan hingga nyaris tidak terdengar.
Aku memasukkan kedua tangan untuk mengangkatnya.
Namun tanganku menyentuh sesuatu yang keras.
Aku melihat ke bawah.
Dan dunia seolah berhenti.
Pergelangan tangan Alya terikat ke bagian bawah lapisan peti dengan pengikat plastik tebal.
Ada pengunci kecil yang membuatnya tidak mungkin melepaskan diri sendiri.
“Mama…”
Suaranya sangat lemah.
“Aku dingin.”
Aku tidak menangis.
Aku bahkan tidak berteriak.
Ketakutan yang memenuhi tubuhku berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih dingin.
Kejernihan.
Aku harus mengeluarkan putriku dari sana.
Dan aku harus memastikan orang yang melakukan ini tidak sempat membawanya pergi lagi.
Aku memeriksa lengan Alya.
Di bagian dalam lengannya terlihat beberapa bekas tusukan kecil yang masih baru.
Sebagai dokter militer yang bertahun-tahun bekerja di lingkungan medis, aku tahu aku tidak boleh langsung mengambil kesimpulan.
Tetapi aku juga tahu bekas seperti itu harus segera diperiksa.
“Alya,” bisikku sambil mengusap rambutnya. “Siapa yang melakukan ini?”
Matanya mulai berkaca-kaca.
“Papa bilang itu obat supaya Alya tidur.”
Dadaku seperti dihantam sesuatu.
“Siapa yang bersama Papa?”
Alya menarik napas kecil.
“Nenek pegang tangan Alya.”
Aku menelan ludah.
“Lalu Tante Nadira kunci pintunya.”
Nadira.
Perempuan yang tinggal bersama Arga setelah perceraian kami.
Perempuan yang selama berbulan-bulan menjawab teleponku seolah dialah ibu Alya.
Tiba-tiba semua potongan kejadian selama tiga tahun terakhir mulai menyatu.
Tiga tahun sebelumnya, Arga mendapatkan hak asuh utama atas Alya setelah perceraian kami berubah menjadi pertarungan hukum yang panjang.
Pekerjaanku sebagai dokter militer sering membuatku ditempatkan jauh dari Jakarta.
Arga menggunakan itu untuk membangun gambaran bahwa aku seorang ibu yang terlalu sibuk bekerja.
Ia membawa saksi.
Dokumen.
Pendapat profesional.
Dan tentu saja, ibunya selalu mendukung setiap pernyataannya.
Aku terus melawan keputusan itu melalui jalur hukum.
Namun perlahan, aksesku kepada Alya semakin terbatas.
Awalnya hanya perubahan jadwal.
Kemudian kunjungan dibatalkan karena Alya katanya sedang sakit.
Setelah itu Arga mengatakan Alya sedang mengalami masalah emosional dan membutuhkan “jarak.”
Setiap kali aku menelepon, selalu ada alasan.
Alya tidur.
Alya demam.
Alya sedang belajar.
Alya tidak ingin bicara.
Kadang Nadira yang menjawab.
“Jangan paksa dia, Valerie,” katanya suatu kali. “Dia sedang belajar menerima keluarga barunya.”
Kalimat itu menghantuiku berbulan-bulan.
Lalu datang telepon yang menghancurkan hidupku.
Arga mengatakan Alya meninggal saat tidur.
Lebih aneh lagi, keluarga Arga ingin proses pemakaman dan kremasi dilakukan secepat mungkin.
Saat aku mempertanyakannya, mereka mengatakan itu demi “ketenangan Alya.”
Sekarang aku tahu alasan sebenarnya mungkin jauh lebih mengerikan.
Aku meraba lapisan satin di bawah tubuh Alya.
Tanganku menemukan sesuatu.
Sebuah kunci kecil ditempel dengan selotip di bagian bawah peti.
Entah siapa yang menaruhnya atau untuk tujuan apa, aku tidak tahu.
Aku mengambilnya.
Tanganku gemetar saat mencoba membuka pengunci di pergelangan Alya.
Klik.
Satu terbuka.
Kemudian satu lagi.
Aku segera mengangkat tubuh putriku dan memeluknya erat.
Tubuhnya dingin.
Terlalu dingin.
Tetapi dia bernapas.
Putriku bernapas.
Tiba-tiba terdengar langkah kaki cepat dari lorong rumah duka.
“Valerie?”
Suara Arga.
Aku langsung berdiri.
Beberapa detik kemudian, Arga muncul di ujung lorong.
Begitu melihat Alya dalam pelukanku, wajahnya berubah.
Bukan terkejut.
Bukan lega.
Bukan ekspresi seorang ayah yang baru mengetahui anaknya ternyata masih hidup.
Yang kulihat adalah kepanikan.
“Apa yang kamu lakukan?!”
Aku tidak menjawab.
Aku membawa Alya masuk ke ruangan persiapan di samping aula, menutup pintu, lalu menguncinya.
Arga berlari mengejarku.
GEDOR!
Tangannya menghantam pintu.
“Buka pintunya!”
Aku mengeluarkan ponsel.
Tanganku masih gemetar ketika menghubungi layanan darurat.
Aku menyebutkan alamat rumah duka di Jakarta Selatan, menjelaskan bahwa seorang anak yang telah dinyatakan meninggal ternyata masih hidup, dalam kondisi lemah, dan ditemukan dalam keadaan terikat.
Aku meminta ambulans dan polisi datang secepat mungkin.
Petugas di telepon memintaku tetap bersama Alya dan tidak meninggalkan ruangan.
Di luar, Arga terus menggedor.
“Valerie! Buka!”
Kemudian suara Bu Ratna terdengar.
“Apa yang terjadi?”
Arga mengatakan sesuatu yang tidak jelas.
Lalu Bu Ratna berteriak.
Dan kalimat berikutnya membuat ruangan terasa membeku.
“Siapa yang membuka petinya?! Bukankah sudah dibilang jangan dibuka sebelum kremasi?”
Petugas darurat di telepon ikut mendengarnya.
Aku tidak mengatakan apa pun.
Aku hanya menatap pintu.
Lalu menatap putriku.
Alya memeluk seragamku erat.
“Mama…”
“Iya, Sayang.”
“Aku takut.”
“Mama di sini.”
Dia menyembunyikan wajahnya di dadaku.
Beberapa detik kemudian, dengan suara nyaris berbisik, Alya mengatakan sesuatu yang sama sekali tidak kupahami.
“Papa bilang kalau Alya tidur lama… Papa tidak perlu mengembalikan uang Kakek.”
Aku menegang.
“Uang Kakek?”
Alya mengangguk kecil.
Dan saat itulah aku teringat sesuatu.
Ayahku, Brigadir Jenderal (Purn.) Surya Mahendra, sangat menyayangi Alya.
Sebelum meninggal, ia telah menyiapkan dana perwalian besar untuk pendidikan dan masa depan cucunya.
Dana itu tidak boleh digunakan sembarangan.
Sebagian besar baru bisa diakses sesuai ketentuan ketika Alya mencapai usia tertentu.
Tetapi setelah Arga memperoleh hak asuh, ia juga mendapat posisi penting dalam pengelolaan administratif dana tersebut.
Selama ini aku mengira perlindungan hukum dalam dokumen itu cukup kuat.
Bagaimana kalau aku salah?
Bagaimana kalau Arga telah menggunakan sebagian uangnya?
Bagaimana kalau kematian Alya akan menutupi sesuatu?
Suara sirene terdengar semakin dekat.
Arga berhenti menggedor.
Aku mendengar langkah kaki berlari menjauh.
Beberapa menit kemudian, petugas masuk ke gedung.
Alya langsung dibawa dengan ambulans ke rumah sakit dalam pengawasan ketat.
Polisi memisahkan semua orang yang berada di rumah duka.
Arga mencoba menjelaskan bahwa semuanya adalah “kesalahpahaman medis.”
Bu Ratna bersikeras dia hanya mengikuti instruksi.
Nadira menangis dan mengatakan dia tidak tahu apa-apa.
Namun polisi menemukan sesuatu di rumah duka yang membuat penjelasan mereka semakin sulit dipercaya.
Dokumen kremasi sudah disiapkan.
Prosesnya dijadwalkan dilakukan segera.
Dan di antara berkas yang diperiksa, ada beberapa informasi medis yang tidak sesuai dengan kondisi Alya saat ditemukan.
Tetapi itu baru permulaan.
Setelah dokter memastikan kondisi Alya mulai stabil, seorang penyidik mendatangiku.
“Bu Valerie, putri Anda mengatakan beberapa hal kepada petugas kami.”
Aku berdiri.
“Apa?”
“Dia menyebut sebuah ruangan di rumah ayahnya.”
Aku mengerutkan kening.
“Ruangan apa?”
Penyidik membuka catatannya.
“Alya menyebutnya kamar tanpa jendela.”
Aku merasa tengkukku dingin.
“Dia bilang apa lagi?”
“Katanya dia beberapa kali dikunci di sana ketika dianggap tidak menurut.”
Aku menutup mulut.
Penyidik melanjutkan.
“Dan menurut putri Anda, ada banyak kotak, obat-obatan, dokumen, dan foto dirinya di dalam ruangan itu.”
Polisi segera meminta izin penggeledahan berdasarkan bukti yang telah dikumpulkan.
Tak lama kemudian, tim penyidik menuju rumah Arga di Pondok Indah.
Aku tetap di rumah sakit bersama Alya.
Namun beberapa jam setelah penggeledahan dimulai, ponsel salah satu penyidik berdering.
Ia menjawab.
Wajahnya perlahan berubah.
“Apa maksudmu ada dinding palsu?”
Aku menatapnya.
Ia berjalan menjauh beberapa langkah.
“Buka.”
Hening.
“Ada apa di dalam?”
Ekspresinya menjadi semakin serius.
Kemudian ia menoleh kepadaku.
“Bu Valerie…”
Aku berdiri.
“Apa yang mereka temukan?”
Penyidik menutup telepon.
Ia menarik kursi di depanku, tetapi aku tidak duduk.
“Tim kami menemukan ruangan tersembunyi di belakang lemari besar di kamar kerja mantan suami Anda.”
Darahku serasa berhenti mengalir.
“Isinya apa?”
Dia terdiam beberapa detik.
“Rekaman kamera.”
“Dokumen keuangan.”
“Persediaan obat yang sedang kami identifikasi.”
“Dan beberapa folder yang semuanya diberi kode berdasarkan tanggal.”
Aku hampir tidak bisa bernapas.
“Folder tentang apa?”
Penyidik menatapku.
“Sebagian besar tentang Alya.”
Aku mencengkeram tepi meja.
Lalu dia mengatakan sesuatu yang membuat semuanya berubah.
“Tapi putri Anda bukan satu-satunya nama yang kami temukan.”
Aku menatapnya.
“Apa maksud Anda?”
Dia menarik napas panjang.
“Ada beberapa nama anak lain.”
Aku tidak bisa bergerak.
Di ranjang rumah sakit, Alya masih tertidur sambil memegang ujung seragamku.
Aku menatap wajah putriku.
Aku datang ke rumah duka untuk mengucapkan selamat tinggal kepadanya.
Sebaliknya, aku menemukannya masih hidup di dalam peti.
Dan sekarang polisi baru saja menemukan sebuah ruangan tersembunyi di rumah mantan suamiku—ruangan yang mungkin menyimpan jawaban tentang apa yang sebenarnya terjadi selama bertahun-tahun.
Namun ada satu hal yang belum diketahui siapa pun.
Sebelum tertidur di rumah sakit, Alya sempat membisikkan satu kalimat lagi kepadaku.
Kalimat yang saat itu tidak kupahami.
“Mama… ada anak lain yang pernah menangis dari balik tembok.”
Dan ketika polisi akhirnya membuka folder pertama dari ruangan tersembunyi itu…
mereka menemukan sesuatu yang membuat penyelidikan terhadap Arga berubah menjadi kasus yang jauh lebih besar daripada dugaan siapa pun.
BAGIAN 2
“Anak lain?”
Aku menatap penyidik di depanku.
Untuk beberapa detik, aku benar-benar tidak mengerti apa yang baru saja kudengar.
Di belakangku, Alya masih tertidur di ranjang rumah sakit. Selimut putih menutupi tubuh kecilnya sampai dada. Satu tangannya menggenggam ujung seragamku seolah bahkan dalam tidur pun dia takut aku akan menghilang.
Penyidik itu mengangguk.
“Tim kami menemukan beberapa folder dengan nama anak-anak. Kami belum tahu hubungan mereka dengan mantan suami Anda.”
“Berapa?”
“Enam.”
Aku merasa udara meninggalkan paru-paruku.
“Enam anak?”
“Enam nama.”
Dia sengaja menekankan perbedaannya.
“Kami belum tahu apakah semuanya korban. Kami juga belum tahu apakah semua dokumen itu dibuat oleh Arga. Jadi saya tidak ingin memberikan kesimpulan sebelum pemeriksaan selesai.”
Aku mengangguk.
Sebagai dokter, aku memahami itu.
Bukti dulu.
Kesimpulan kemudian.
Tetapi sebagai seorang ibu, pikiranku sudah berlari ke tempat-tempat yang membuatku takut.
Aku teringat bisikan Alya.
Ada anak lain yang pernah menangis dari balik tembok.
“Aku ingin melihat ruangan itu.”
“Tidak bisa sekarang.”
“Itu rumah tempat anak saya tinggal.”
“Dan sekarang tempat kejadian perkara.”
Aku menatapnya lama.
Dia tidak bergeming.
Akhirnya aku duduk kembali.
Untuk pertama kalinya sejak menemukan Alya di dalam peti, tubuhku mulai gemetar.
Bukan karena aku takut kepada Arga.
Aku takut pada apa yang mungkin dialami putriku selama aku tidak ada di sana.
Dokter datang tidak lama kemudian.
Hasil pemeriksaan awal menunjukkan Alya mengalami dehidrasi, penurunan suhu tubuh, dan efek obat penenang yang masih harus dianalisis lebih lanjut.
Yang paling membuatku terpukul bukan kondisi fisiknya.
Dokter anak yang mendampinginya mengatakan Alya menunjukkan respons ketakutan kuat terhadap pintu tertutup.
Setiap kali seseorang menutup pintu kamar, matanya langsung terbuka.
Setiap kali ada suara kunci, tangannya mencari tanganku.
Aku duduk di sampingnya sepanjang malam.
Ketika dia akhirnya bangun, hal pertama yang ditanyakannya bukan tentang Arga.
Bukan tentang neneknya.
Bukan tentang Nadira.
“Mama…”
“Iya?”
“Kalau aku cerita semuanya, Mama nggak pergi lagi?”
Aku menundukkan kepala agar mata kami sejajar.
“Mama akan dengarkan.”
Dia menatapku beberapa detik.
Lalu tangannya masuk ke bawah selimut.
“Aku simpan sesuatu.”
Aku mengira dia sedang bingung akibat obat.
Tetapi kemudian Alya menunjuk rambutnya.
Ada sebuah jepit kecil berbentuk bunga yang masih terpasang di sana.
“Ini punya Kak Rani.”
“Rani siapa?”
Wajah Alya berubah.
“Anak yang nangis.”
Jantungku berdegup lebih cepat.
Aku tidak menyentuh jepit itu.
Aku langsung memanggil penyidik.
Nama lengkapnya ternyata Rani Kusuma.
Usianya sebelas tahun.
Dan ketika polisi memeriksa salah satu folder dari ruangan tersembunyi, nama itu memang ada.
Tetapi yang mengejutkan, Rani bukan anak asing.
Ibunya pernah bekerja di rumah Arga.
Namanya Sari.
Aku mengenalnya.
Setidaknya, aku pernah melihatnya.
Sari adalah perempuan pendiam yang beberapa kali membukakan pintu ketika aku datang menjemput Alya sebelum akses kunjunganku mulai dibatasi.
Kemudian suatu hari, Sari menghilang.
Ketika aku bertanya, Arga hanya mengatakan dia berhenti bekerja.
Aku tidak pernah memikirkannya lagi.
Sekarang polisi mulai mencarinya.
Sementara itu, isi ruangan rahasia mulai diperiksa satu per satu.
Tidak ada sesuatu yang fantastis.
Justru kenyataan yang ditemukan jauh lebih masuk akal—dan karena itu terasa lebih mengerikan.
Ada kamera kecil.
Hard disk.
Salinan dokumen medis.
Beberapa jenis obat yang memerlukan resep.
Berkas pengadilan.
Catatan psikologis.
Salinan tanda tangan.
Dan dokumen keuangan yang jumlahnya begitu banyak sampai penyidik keuangan khusus dipanggil.
Semua mengarah pada satu pola.
Arga ternyata telah membangun kebohongan sedikit demi sedikit selama bertahun-tahun.
Bukan hanya terhadapku.
Terhadap pengadilan.
Dokter.
Sekolah Alya.
Bahkan terhadap keluarganya sendiri.
Dalam beberapa rekaman, Alya terlihat menangis dan meminta meneleponku.
Kemudian ada rekaman setelahnya, ketika Arga berbicara kepada kamera.
“Valerie membatalkan lagi.”
Aku tidak pernah membatalkan.
Dalam video lain, Alya bertanya kenapa aku tidak datang pada hari ulang tahunnya.
Bu Ratna menjawab,
“Mamamu memilih pekerjaan.”
Padahal hari itu aku berdiri hampir dua jam di depan kompleks rumah mereka.
Satpam mengatakan keluarga sedang tidak berada di rumah.
Mereka ada di dalam.
Mereka selalu ada di dalam.
Aku menutup laptop setelah melihat rekaman itu.
Aku tidak sanggup melanjutkan.
Tetapi penyidik berkata ada satu bagian yang harus kulihat.
Sebuah video dari sekitar delapan bulan sebelumnya.
Arga duduk bersama seorang pria yang tidak kukenal.
Di atas meja terdapat dokumen dana perwalian Alya.
Suara mereka terdengar jelas.
“Kalau anaknya masih hidup, pemeriksaannya akan terus berjalan.”
Lalu Arga bertanya,
“Kalau penerima manfaat meninggal?”
Pria itu menjawab,
“Tergantung ketentuan trust. Jangan berasumsi uang otomatis jatuh ke wali.”
Arga terlihat kesal.
Dia bertanya lagi.
“Kalau biaya yang sudah dikeluarkan?”
“Harus dipertanggungjawabkan.”
Video berhenti.
Aku menatap penyidik.
“Berapa banyak uang yang dia ambil?”
Penyelidikan awal menemukan transaksi yang mencurigakan selama hampir dua tahun.
Bukan satu penarikan besar.
Arga lebih pintar dari itu.
Dia menggunakan banyak transaksi kecil yang tampak seperti biaya pendidikan, terapi, perawatan kesehatan, kursus, dan kebutuhan anak.
Masalahnya?
Sebagian penyedia jasa itu tidak pernah memberikan layanan kepada Alya.
Beberapa perusahaan bahkan terhubung dengan kenalan bisnis Arga.
Jumlah keseluruhannya sudah mencapai miliaran rupiah.
Tetapi ada kejutan lain.
Arga ternyata tidak bisa mendapatkan sisa dana hanya dengan kematian Alya.
Ayahku telah mengantisipasi kemungkinan penyalahgunaan.
Jika Alya meninggal sebelum usia tertentu, sebagian besar dana tidak jatuh kepada walinya.
Dana itu dialihkan ke sebuah yayasan pendidikan anak keluarga prajurit yang dibentuk ayahku.
Jadi rencana Arga sejak awal sebenarnya cacat.
“Kalau begitu kenapa?” tanyaku.
Penyidik menjawab pelan.
“Karena dia bukan sedang mencoba mendapatkan sisa uangnya.”
Aku terdiam.
“Dia mencoba menghilangkan orang yang suatu hari bisa membuktikan bahwa uang sebelumnya telah disalahgunakan.”
Aku menutup mata.
Alya.
Putriku bukan jalan menuju uang.
Dia adalah saksi yang suatu hari akan cukup besar untuk bertanya ke mana uangnya pergi.
Polisi menemukan Sari keesokan harinya.
Dia tinggal bersama kakaknya di Bekasi.
Dan Rani masih hidup.
Ketika mendengar itu, aku menangis untuk pertama kalinya.
Bukan tangisan keras.
Aku hanya duduk di kursi rumah sakit dan menutup wajah.
Alya tidak berbohong.
Anak di balik tembok itu nyata.
Tetapi cerita Rani berbeda dari apa yang kami takutkan.
Dan justru kesaksiannya membuka bagian terakhir dari misteri.
Beberapa bulan sebelumnya, Rani ikut ibunya bekerja karena sekolahnya libur.
Dia dan Alya bermain bersama.
Mereka menemukan pintu tersembunyi di ruang kerja Arga.
Di dalamnya, mereka melihat dokumen dan kamera.
Arga memergoki mereka.
Rani dikunci sementara di ruangan penyimpanan lain agar tidak berbicara kepada siapa pun sampai Sari pulang.
Sari marah besar setelah mengetahuinya.
Dia mengancam akan melapor.
Tiga hari kemudian, dia dipecat.
Arga membayar pesangon besar dan mengancam akan menuduh Sari mencuri jika dia bicara.
Sari ketakutan.
Dia membawa Rani pergi.
Namun sebelum pergi, Rani memberikan jepit bunga itu kepada Alya.
“Kalau kamu takut,” katanya, “pegang ini. Biar kamu ingat ada orang yang percaya sama kamu.”
Itulah sebabnya Alya menyimpannya.
Bukan sekadar jepit rambut.
Itu pengingat bahwa seseorang di luar rumah itu mengetahui dia tidak sedang mengarang semuanya.
Namun Sari membawa sesuatu yang jauh lebih penting.
Sebelum dipecat, dia sempat mengambil foto beberapa dokumen di meja Arga.
Salah satunya adalah daftar obat.
Yang lain adalah rancangan surat yang menyebutkan kondisi kesehatan Alya.
Tanggal dokumen itu membuat semua orang terdiam.
Surat mengenai “kematian akibat gangguan pernapasan” Alya ternyata mulai disusun sebelum Alya dinyatakan meninggal.
Rencana itu bukan keputusan panik.
Sudah dipersiapkan.
Arga akhirnya diperiksa secara resmi bersama beberapa orang lain yang diduga terlibat.
Bu Ratna masih bersikeras bahwa dia percaya obat yang diberikan kepada Alya hanyalah obat tidur yang diresepkan.
Nadira mengatakan Arga memberitahunya bahwa Alya harus menjalani “terapi isolasi” karena gangguan perilaku.
Aku tidak tahu seberapa banyak masing-masing dari mereka benar-benar tahu.
Dan aku berhenti mencoba menebak.
Itu tugas penyidik dan pengadilan.
Tugasku sekarang adalah Alya.
Tetapi ada satu pertanyaan yang terus menggangguku.
Kunci.
Kunci kecil yang kutemukan ditempel di bawah lapisan peti.
Siapa yang menaruhnya?
Arga jelas tidak mungkin sengaja meninggalkan cara untuk membebaskan Alya.
Bu Ratna juga tidak mengakuinya.
Nadira menyangkal mengetahui kunci itu.
Polisi memeriksa rekaman CCTV rumah duka.
Dan di sanalah kejutan terakhir muncul.
Beberapa jam sebelum aku datang, seorang pegawai rumah duka masuk sendirian ke ruangan tempat peti Alya disimpan.
Namanya Pak Darto.
Usianya hampir enam puluh tahun.
Polisi memanggilnya.
Ketika aku bertemu dengannya, dia tidak berani menatap mataku.
“Saya minta maaf, Bu.”
“Kenapa Bapak minta maaf?”
Dia menelan ludah.
“Karena saya takut.”
Ternyata saat memindahkan peti, Pak Darto mendengar suara kecil.
Awalnya dia mengira hanya suara gesekan.
Lalu dia mendengar ketukan.
Tiga kali.
Pelan sekali.
Dia membuka bagian dalam peti dan melihat mata Alya bergerak.
Aku berdiri begitu cepat sampai kursiku terdorong ke belakang.
“Bapak tahu dia hidup?”
Air mata memenuhi matanya.
“Saya tahu ada sesuatu yang salah.”
“Kenapa tidak langsung memanggil polisi?”
“Saya mau.”
Dia menunduk.
“Tapi Pak Arga datang.”
Arga memergokinya berdiri dekat peti.
Menurut Pak Darto, Arga mengatakan Alya telah mengalami kondisi medis langka dan gerakan tubuh yang terlihat hanyalah refleks setelah kematian.
Pak Darto tidak percaya.
Namun Arga menunjukkan dokumen medis.
Lalu mengingatkan bahwa membuka peti tanpa izin keluarga bisa membuatnya kehilangan pekerjaan.
Pak Darto panik.
Dia mundur.
Tetapi sebelum pergi, dia mengambil kunci dari meja persiapan dan menempelkannya di bawah lapisan peti.
“Kenapa?”
Dia akhirnya menatapku.
“Karena saya berharap ada orang yang lebih berani daripada saya.”
Aku ingin marah kepadanya.
Sebagian diriku memang marah.
Setiap menit berarti bagi Alya.
Tetapi aku melihat seorang lelaki tua yang dihancurkan rasa bersalah.
“Bapak seharusnya menelepon polisi.”
“Saya tahu.”
“Bapak seharusnya menolongnya.”
“Saya tahu.”
Dia menangis.
“Saya dengar dia bilang ‘Mama.’ Jadi saya pikir… kalau ibunya datang, mungkin Ibu akan membuka petinya.”
Aku terdiam.
Itulah alasan peti Alya tidak sepenuhnya terkunci.
Itulah alasan ada kunci.
Pak Darto takut.
Tetapi pada detik terakhir, dia meninggalkan satu kesempatan kecil.
Dan kesempatan itu cukup.
Pemulihan Alya berlangsung lama.
Bukan hanya tubuhnya.
Selama beberapa minggu, dia tidak mau tidur sendirian.
Kami membiarkan lampu lorong menyala.
Tidak ada pintu kamarnya yang dikunci.
Aku bahkan mengganti gagang pintu agar dia bisa membukanya dengan mudah dari dalam.
Suatu malam, aku menemukannya duduk di tempat tidur sambil memegang jepit bunga milik Rani.
“Mama?”
“Ya?”
“Papa jahat?”
Aku duduk di sampingnya.
Aku bisa saja mengatakan iya.
Tetapi aku tidak ingin masa kecilnya dibangun dari kebencianku.
“Papa membuat pilihan yang menyakiti banyak orang,” kataku. “Dan sekarang orang dewasa yang bertugas akan menentukan akibat dari pilihan itu.”
Alya berpikir.
“Nenek juga?”
“Semua orang harus menjelaskan apa yang mereka lakukan.”
Dia mengangguk.
Kemudian pertanyaan berikutnya menghancurkan hatiku.
“Mama marah sama Alya karena Alya nggak cerita dari dulu?”
Aku langsung memeluknya.
“Tidak.”
“Tapi Alya takut.”
“Kamu masih kecil. Kamu tidak seharusnya bertanggung jawab memperbaiki kesalahan orang dewasa.”
Dia mulai menangis.
Dan aku ikut menangis.
Untuk pertama kalinya, kami menangis bersama.
Bukan di ruang sidang.
Bukan di rumah duka.
Bukan di depan polisi.
Hanya seorang ibu dan anaknya di kamar kecil yang pintunya tidak pernah lagi dikunci.
Beberapa bulan kemudian, proses hukum masih berjalan.
Aku tidak mendapatkan jawaban cepat untuk semuanya.
Kenyataan tidak bekerja seperti film.
Ada pemeriksaan dokumen.
Kesaksian.
Audit.
Pengujian laboratorium.
Pengacara.
Sidang.
Dan banyak malam ketika aku harus menerima bahwa keadilan bergerak lebih lambat daripada rasa sakit.
Tetapi satu hal berubah lebih cepat.
Alya kembali kepadaku melalui proses perlindungan anak dan keputusan pengadilan yang baru.
Dana perwaliannya dibekukan sementara dan kemudian ditempatkan di bawah pengawasan profesional independen selama penyelidikan.
Aku tidak meminta menjadi satu-satunya pengelola.
Aku sudah belajar sesuatu.
Cinta tidak seharusnya berarti kontrol tanpa pengawasan.
Bahkan seorang ibu harus bisa mempertanggungjawabkan keputusan yang menyangkut masa depan anaknya.
Sari dan Rani datang mengunjungi kami suatu sore.
Begitu melihat Rani, Alya berlari.
Tidak ada kata-kata besar.
Rani hanya membuka kedua tangannya.
Alya memeluknya.
Lalu Alya melepas jepit bunga dari rambutnya.
“Aku balikin.”
Rani menggeleng.
“Buat kamu aja.”
“Tapi ini punya Kak Rani.”
Rani tersenyum.
“Sekarang punya kamu.”
Aku berpaling karena mataku mulai panas.
Setahun setelah hari pemakaman itu, aku membawa Alya ke tempat yang tidak pernah kubayangkan akan kami kunjungi bersama.
Makam ayahku.
Kakeknya.
Alya membawa bunga putih.
Dia meletakkannya perlahan.
“Kakek,” katanya, “uangnya masih ada.”
Aku hampir tertawa sekaligus menangis.
Aku berjongkok di sampingnya.
“Bukan uangnya yang paling penting.”
Alya menatapku.
“Terus apa?”
“Kamu.”
Dia tersenyum kecil.
Kami berdiri di sana beberapa saat.
Sebelum pulang, Alya menggenggam tanganku.
“Mama?”
“Hmm?”
“Kalau waktu itu Mama nggak buka petinya gimana?”
Aku tidak langsung menjawab.
Pertanyaan itu menghantuiku berkali-kali.
Bagaimana kalau aku percaya begitu saja?
Bagaimana kalau aku takut dianggap membuat keributan?
Bagaimana kalau aku pergi tanpa mendekat?
Akhirnya aku berkata,
“Mama membukanya karena Mama merasa ada sesuatu yang belum selesai.”
Alya menggeleng.
“Bukan.”
“Apa?”
Dia menunjuk telingaku.
“Karena Mama dengar aku.”
Aku menatapnya.
Dan tiba-tiba aku mengerti.
Selama bertahun-tahun, semua orang membuatku meragukan apa yang kulihat dan kudengar.
Mereka bilang Alya tidak ingin bertemu denganku.
Mereka bilang aku terlalu curiga.
Terlalu emosional.
Terlalu sibuk.
Terlalu sulit menerima bahwa putriku lebih bahagia tanpa diriku.
Sedikit demi sedikit, aku hampir belajar untuk tidak mempercayai naluriku sendiri.
Tetapi di depan peti putih itu, aku mendengar suara anakku.
Dan untuk sekali itu, aku tidak membiarkan siapa pun menjelaskan kepadaku bahwa suara itu tidak nyata.
Aku mendengarkannya.
Itulah yang menyelamatkannya.
Dalam perjalanan pulang, Alya tertidur di kursi belakang mobil.
Matahari sore masuk melalui jendela.
Jepit bunga kecil pemberian Rani masih terpasang di rambutnya.
Aku melihatnya melalui kaca spion.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku tidak melihat seorang anak yang sedang diperebutkan oleh dua orang dewasa.
Aku melihat putriku.
Hidup.
Bernapas.
Pulang bersamaku.
Kemudian mobil berhenti di lampu merah.
Alya terbangun sebentar.
“Mama?”
“Iya, Sayang?”
“Rumah kita ada kuncinya?”
Pertanyaan itu membuat dadaku sesak.
“Ada.”
Wajahnya sedikit tegang.
Aku melanjutkan,
“Tapi kunci itu untuk menjaga orang jahat tetap di luar.”
Aku menoleh dan tersenyum kepadanya.
“Bukan untuk mengurung kamu di dalam.”
Alya terdiam.
Lalu tersenyum.
Lampu berubah hijau.
Aku menjalankan mobil.
Dan saat kami bergerak menuju rumah, aku menyadari sesuatu yang tidak pernah diajarkan kepadaku oleh seragam, pangkat, pengadilan, atau semua pertarungan yang pernah kujalani.
Selama ini aku mengira tugasku sebagai ibu adalah memenangkan hak untuk menjaga Alya.
Ternyata aku salah.
Anakku tidak membutuhkan seseorang yang memiliki dirinya.
Dia membutuhkan seseorang yang mendengarnya.
Seseorang yang percaya ketika dia berkata takut.
Seseorang yang membuka pintu ketika orang lain menguncinya.
Dan seseorang yang tetap tinggal setelah pintu itu terbuka.
Hari itu, aku datang ke rumah duka karena mengira aku akan mengucapkan selamat tinggal kepada putriku.
Sebaliknya, dari dalam sebuah peti putih, Alya memberiku kesempatan kedua untuk menjadi ibunya.
Aku hampir kehilangan dirinya.
Tetapi aku tidak kehilangan suaranya.
Dan selama aku masih hidup…
tidak akan pernah lagi kubiarkan siapa pun membuat putriku takut untuk bersuara.
TAMAT.

