SUAMIKU YANG KAYA RAYA MEMBAWA SEORANG PRIA TUA TUNAWISMA KE RUMAH DAN MENYURUHKU MEMANDIKANNYA — TAPI SAAT AKU MELIHAT TANDA LAHIR DI BAHUNYA, DUNIAKU SEAKAN BERHENTI
BAGIAN 1
“Aku mau kamu memandikannya di kamar mandi kita. Dan jangan panggil ART atau siapa pun. Kamu sendiri yang melakukannya.”
Aku menatap suamiku seolah dia baru saja kehilangan akal sehatnya.
Namaku Nadira Prameswari. Usia tiga puluh enam tahun.
Sampai sore itu, aku yakin sudah mengenal hampir setiap sisi lelaki yang menikah denganku selama lima belas tahun.
Suamiku, Arga Mahendra, adalah pemilik beberapa perusahaan konstruksi dan pengembang properti besar yang mengerjakan proyek di Jakarta, Tangerang, dan Bekasi.
Kami tinggal di sebuah rumah besar di kawasan Pondok Indah.
Hidup kami begitu nyaman sampai aku nyaris lupa bahwa kenyamanan semacam itu bukan sesuatu yang dimiliki semua orang.
Kami memiliki sopir.
Ada ART yang mengurus rumah.
Ada tukang kebun yang datang setiap hari.
Dan kalau aku menginginkan sesuatu, biasanya aku tidak perlu bertanya berapa harganya.
Namun Arga memiliki satu kebiasaan yang kadang membuatku kesal.
Kalau dia sudah memutuskan ingin membantu seseorang, hampir tidak ada yang bisa mengubah pikirannya.
Beberapa hari sebelumnya, Arga mengatakan bahwa dia ingin turun langsung membantu sebuah komunitas sosial yang membagikan makanan kepada orang-orang terlantar di sekitar terminal dan stasiun.
Biasanya perusahaan Arga memang rutin memberikan donasi.
Tapi kali ini dia tidak ingin sekadar mentransfer uang.
“Aku capek cuma tanda tangan cek atau kirim dana lalu selesai,” katanya saat sarapan. “Aku ingin bertemu langsung dengan orang-orang yang selama ini katanya kita bantu.”
Aku hanya mengaduk kopi.
“Ya, terserah kamu.”
Lalu aku mengatakan sesuatu yang sampai sekarang masih membuatku malu ketika mengingatnya.
“Memang ada orang yang benar-benar butuh bantuan. Tapi ada juga yang mungkin sudah nyaman hidup begitu.”
Arga menatapku beberapa detik.
Dia tidak marah.
Tidak membantah.
Dia hanya berkata pelan,
“Kadang kita gampang sekali menilai kehidupan orang lain kalau kita tidak pernah merasakan hidup mereka.”
Aku mendengus kecil.
Saat itu aku menganggapnya sedang sok bijak.
Aku belum tahu bahwa beberapa jam kemudian, kalimat itu akan menghantamku jauh lebih keras daripada yang pernah kubayangkan.
Sore itu aku baru pulang setelah makan siang bersama beberapa teman.
Begitu mobil berhenti di halaman rumah, aku melihat pintu depan terbuka.
Aku masuk sambil melepas kacamata hitam.
Lalu langkahku terhenti di foyer.
Arga berdiri di sana.
Dan di sampingnya ada seorang lelaki tua yang belum pernah kulihat sebelumnya.
Usianya mungkin sudah lebih dari enam puluh tahun.
Tubuhnya kurus.
Rambutnya panjang, kusut, dan sebagian sudah memutih.
Janggutnya tidak terawat.
Jaket yang dikenakannya sudah lusuh dan penuh noda.
Celananya kebesaran.
Sepatunya tampak seperti sudah bertahun-tahun tidak diganti.
Bahkan dari jarak beberapa meter, aku bisa mencium bau tubuh, asap jalanan, dan pakaian lembap yang bercampur menjadi satu.
Secara refleks aku menutup hidung.
“Astaga, Arga.”
Lelaki tua itu langsung menundukkan kepala.
Aku menunjuk ke arahnya.
“Dia siapa?”
Arga menjawab dengan tenang.
“Namanya Pak Lukas.”
Aku mengernyit.
“Namanya?”
Arga diam sebentar.
“Setidaknya itu nama yang selama ini dia pakai.”
Aku semakin bingung.
“Maksudmu apa?”
Lelaki tua itu akhirnya berbicara.
Suaranya serak, tetapi anehnya cara bicaranya sangat sopan.
“Saya tidak ingat nama lengkap saya, Bu.”
Aku menatapnya.
“Apa?”
“Saya tidak ingat siapa saya.”
Kupikir dia sedang bercanda.
Ternyata tidak.
Arga menjelaskan bahwa ia bertemu lelaki itu ketika membantu membagikan makanan.
Pak Lukas sudah bertahun-tahun berpindah-pindah antara terminal, kolong bangunan kosong, rumah singgah, dan emperan toko.
Tidak ada KTP.
Tidak ada kartu keluarga.
Tidak ada nomor telepon kerabat.
Tidak ada alamat rumah.
Bahkan tidak ada nama lengkap yang bisa dipastikan benar.
Satu-satunya cerita yang terus dia ingat adalah bahwa sekitar dua puluh tahun lalu, dia terbangun dalam keadaan terluka dan kebingungan di dekat lokasi proyek bangunan.
Setelah itu ingatannya seperti terpotong.
Dia tidak tahu dari mana asalnya.
Tidak tahu apakah dia punya istri.
Tidak tahu apakah dia punya anak.
Tidak tahu apakah seseorang pernah mencarinya.
Dua puluh tahun.
Dua puluh tahun hidup tanpa tahu siapa dirinya sendiri.
Namun saat itu, bukannya merasa iba, aku justru memandang lantai marmer rumahku dan membayangkan kotoran dari sepatunya menempel di sana.
“Jadi?” tanyaku.
“Aku akan membantunya,” jawab Arga.
“Membantu bagaimana?”
“Kita cari identitasnya. Aku sudah menghubungi orang yang bisa membantu mengurus pengecekan data lama dan kemungkinan laporan orang hilang.”
Aku mulai memahami arah pembicaraan itu.
Dan aku tidak menyukainya.
“Lalu selama proses itu?”
“Dia tinggal di sini.”
Aku hampir tertawa karena mengira Arga bercanda.
Dia tidak tersenyum.
“Di sini?”
“Iya.”
“Di rumah kita?”
“Iya.”
Aku menurunkan suara.
“Arga, kita bahkan tidak mengenal orang ini.”
Pak Lukas kembali menunduk.
Aku melihat tangannya gemetar sedikit.
“Aku bisa pergi,” katanya lirih. “Saya tidak mau membuat masalah.”
Dia berbalik ke arah pintu.
Namun Arga menahan lengannya dengan lembut.
“Bapak tidak perlu pergi.”
Lalu suamiku menatapku.
Tatapan itu membuatku semakin kesal.
“Kamar tamu belakang kosong. Dia bisa tinggal di sana beberapa hari.”
“Beberapa hari?”
“Sampai aku menemukan tempat yang layak dan kita tahu siapa sebenarnya dia.”
Aku menyilangkan tangan.
“Lalu apa lagi? Besok kamu membawa lima orang lagi?”
“Nadira.”
“Rumah kita bukan tempat penampungan.”
Aku masih ingat ekspresi lelaki tua itu saat mendengar kalimatku.
Bukan marah.
Bukan tersinggung.
Lebih buruk.
Malu.
Seolah keberadaannya sendiri adalah sesuatu yang harus dia minta maafkan.
Arga menarik napas panjang.
Kemudian dia berkata,
“Aku sudah menyiapkan air hangat di kamar mandi kamar tamu.”
“Bagus. Suruh ART bantu dia.”
“Tidak.”
Aku menatapnya.
“Apa?”
“Aku mau kamu yang bantu.”
Aku yakin salah dengar.
“Maaf?”
“Kamu bantu Pak Lukas mandi.”
Aku hampir kehilangan kesabaran.
“Kita punya beberapa orang yang bekerja di rumah ini, Arga!”
“Aku tahu.”
“Lalu kenapa harus aku?”
Arga mendekat sedikit.
Suaranya tidak keras.
Justru sangat tenang.
“Karena sejak tadi kamu memperlakukannya seperti benda kotor yang kebetulan masuk ke rumah kita.”
Aku membeku.
“Kalau kamu memang percaya membantu orang itu penting, mulai dengan melihat dia sebagai manusia. Bukan sebagai pekerjaan menjijikkan yang bisa kamu serahkan kepada orang lain.”
Wajahku terasa panas.
Aku ingin membalas.
Tetapi Pak Lukas sudah berkata,
“Tidak apa-apa, Pak. Saya bisa mandi sendiri.”
Arga menatapnya.
“Tangan Bapak masih gemetar.”
Barulah aku memperhatikannya.
Benar.
Jari-jari lelaki tua itu bergetar cukup kuat.
Entah karena usia, kelelahan, atau sesuatu yang lain.
Aku mendengus.
“Baik.”
Aku berjalan menuju tangga.
“Silakan ikut saya.”
Pak Lukas mengikutiku perlahan.
Di kamar mandi tamu, aku mengambil sepasang sarung tangan karet.
Aku memakainya dengan gerakan sengaja yang mungkin terlalu kasar.
Aku menaruh kantong sampah besar di lantai.
“Pakaian Bapak masukkan ke sini,” kataku. “Tidak usah dipakai lagi.”
Dia mengangguk.
“Terima kasih.”
Aku tidak menjawab.
Setelah memberinya privasi untuk melepas pakaian dan masuk ke bak mandi, aku kembali membawa handuk, sabun, sampo, dan pakaian bersih milik Arga yang ukurannya kira-kira sesuai.
Ketika aku masuk lagi, air yang semula jernih sudah berubah keruh.
Aku menahan napas.
Pak Lukas menunduk.
“Maaf.”
Entah kenapa satu kata itu membuatku semakin tidak nyaman.
Bukan karena baunya.
Karena rasa malu di wajahnya.
Tetapi kesombonganku saat itu masih terlalu besar untuk mengakuinya.
“Angkat tangan kanan Bapak,” kataku.
Dia menurut.
Aku mengambil spons lembut dan mulai membersihkan bahunya.
Perlahan.
Satu kali.
Dua kali.
Lapisan kotoran mulai terangkat.
Kulit aslinya mulai terlihat.
Lalu tanganku berhenti.
Ada sesuatu di bahu kanan lelaki itu.
Kecil.
Berwarna sedikit lebih gelap daripada kulit di sekitarnya.
Bentuknya seperti bulan sabit.
Spons terlepas dari tanganku.
Jatuh ke dalam air.
Aku tidak bisa bernapas.
Tidak.
Mustahil.
Aku mundur satu langkah.
Pak Lukas menoleh.
“Bu?”
Aku terus menatap tanda itu.
Bulan sabit kecil.
Persis di bagian atas bahu kanan.
Aku pernah melihatnya.
Bukan sekali.
Ratusan kali.
Saat masih kecil.
Saat seseorang menggendongku.
Saat aku duduk di pundaknya ketika menonton pawai.
Saat aku memeluk lehernya dari belakang sambil tertawa.
Tiba-tiba kamar mandi itu terasa berputar.
Tanganku gemetar hebat.
Aku menarik sarung tangan karet sampai terlepas, lalu berlari ke lemari kecil di sudut kamar.
Di bagian belakang rak ada kotak penyimpanan yang sudah lama kubawa dari rumah lama.
Tanganku mengobrak-abrik isinya.
Sampai akhirnya kutemukan sebuah dompet kecil berwarna cokelat.
Di dalamnya ada benda yang sudah kusimpan selama dua puluh tahun.
Sebuah liontin tua.
Warnanya sudah kusam.
Engselnya hampir rusak.
Aku membukanya.
Di dalam liontin itu ada foto kecil yang sudah memudar.
Foto seorang lelaki berusia sekitar empat puluhan yang sedang menggendong seorang gadis remaja.
Gadis itu adalah aku.
Aku menatap wajah lelaki dalam foto.
Lalu menatap Pak Lukas.
Foto.
Wajahnya.
Foto.
Wajahnya lagi.
Usia telah mengubah hampir semuanya.
Rambut hitam menjadi putih.
Wajah tegas menjadi kurus dan penuh garis.
Tubuh tegap menjadi rapuh.
Tetapi matanya…
Aku mengenal mata itu.
Air mataku jatuh sebelum aku sempat menyadarinya.
Pak Lukas terlihat bingung.
“Ada apa, Bu?”
Aku tidak menjawab.
Aku membalik foto kecil di dalam liontin.
Di belakangnya ada tulisan tangan yang hampir pudar.
Tulisan yang sudah kuhafal sejak usia enam belas tahun.
Aku menutup mulut dengan tangan.
Dua puluh tahun sebelumnya, ayahku pergi bekerja pada suatu pagi dan tidak pernah pulang.
Mobilnya ditemukan beberapa hari kemudian di dekat sebuah proyek pembangunan yang terbengkalai.
Polisi tidak pernah menemukan jasadnya.
Tidak ada saksi yang benar-benar tahu apa yang terjadi.
Ibuku menunggunya bertahun-tahun.
Aku juga.
Sampai akhirnya semua orang berkata hal yang sama.
Aku harus menerima kenyataan.
Ayah mungkin sudah meninggal.
Namun aku tidak pernah membuang liontin itu.
Tidak pernah.
Aku mendekati lelaki tua di bak mandi.
Kakiku hampir tidak sanggup menopang tubuhku.
“Pak…”
Dia menatapku.
Aku menunjukkan foto itu.
“Pernah melihat ini?”
Dia menyipitkan mata.
Kemudian sesuatu berubah di wajahnya.
Tangannya mulai gemetar lebih hebat.
“Aku…”
Dia menatap foto itu lama.
“Aku tidak tahu.”
Aku menunjuk lelaki dalam foto.
“Lihat baik-baik.”
Napasnya semakin cepat.
Aku hampir berbisik ketika bertanya,
“Bapak benar-benar tidak ingat siapa pun sebelum dua puluh tahun lalu?”
Dia menggeleng perlahan.
“Tidak.”
“Tidak ingat seorang perempuan bernama Ratih?”
Dia kembali menggeleng.
Air mataku semakin deras.
“Tidak ingat seorang anak perempuan?”
Tubuhnya mendadak kaku.
Aku melihat sesuatu melintas di wajahnya.
Ketakutan.
Kebingungan.
Lalu rasa sakit.
Tangannya naik perlahan ke kepala.
“Anak perempuan…”
Aku mendekat.
“Namanya Nadira.”
Pak Lukas menatapku.
Dan untuk beberapa detik, kami hanya saling memandang.
Lalu bibirnya bergerak.
“Nadi…”
Jantungku berhenti.
Aku tidak pernah memperkenalkan diriku kepadanya.
Sejak dia tiba, Arga hanya memanggilku dengan kata “kamu” di depannya.
Aku yakin.
Sangat yakin.
Aku menggenggam liontin itu erat-erat.
“Apa yang Bapak bilang?”
Lelaki tua itu menutup matanya.
“Nadi…”
Air mata mulai mengalir di pipinya.
“Aku… pernah memanggil seseorang begitu.”
Aku jatuh berlutut di lantai.
Semua kemarahan dan rasa jijikku menghilang dalam satu detik.
“Ayah?”
Dia membuka mata.
Aku menunjukkan liontin itu sekali lagi.
“Ayah pernah memberikan ini kepadaku saat ulang tahunku yang keenam belas.”
Dia menatap liontin tersebut.
Wajahnya mendadak pucat.
Tangannya terangkat perlahan.
Bukan ke arahku.
Ke arah liontin.
Jarinya menyentuh ukiran kecil di bagian belakang.
Lalu dia mulai menangis.
Bukan tangisan keras.
Hanya air mata seorang lelaki yang seperti baru saja menemukan pintu menuju kehidupan yang hilang.
“Aku ingat…” bisiknya.
Aku berhenti bernapas.
“Apa?”
“Liontin itu.”
Aku meraih tangannya.
“Ayah?”
Tiba-tiba terdengar suara dari pintu.
Aku menoleh.
Arga berdiri di sana.
Dia tidak tampak terkejut.
Tidak sedikit pun.
Justru ekspresinya membuat darahku terasa dingin.
Seolah-olah dia sudah menunggu momen ini.
Aku berdiri.
“Kamu tahu?”
Arga diam.
Aku menatapnya tajam.
“Arga… kamu tahu siapa dia?”
Suamiku masuk dan menutup pintu.
Lalu dia mengeluarkan sebuah amplop cokelat dari balik jaketnya.
“Aku belum tahu semuanya.”
Dia meletakkan amplop itu di meja.
“Tapi aku tahu kemungkinan siapa dia sebelum aku membawanya ke rumah.”
Aku menatapnya tak percaya.
“Sejak kapan?”
“Beberapa minggu.”
Dunia terasa berhenti untuk kedua kalinya.
“Kamu sudah mengenalnya beberapa minggu?”
Arga mengangguk.
“Dan ada alasan kenapa aku tidak langsung memberitahumu.”
Aku tertawa kecil karena syok.
“Alasan?”
Arga membuka amplop itu.
Di dalamnya ada salinan dokumen lama.
Foto.
Laporan polisi.
Catatan proyek.
Dan satu lembar dokumen yang langsung membuat wajah Pak Lukas berubah.
Tangannya mencengkeram sisi bak mandi.
“Apa itu?” tanyaku.
Arga tidak menjawab pertanyaanku.
Sebaliknya, dia menatap lelaki tua yang mungkin adalah ayahku.
“Pak,” katanya perlahan, “Anda bilang Anda ditemukan di lokasi proyek dua puluh tahun lalu.”
Pak Lukas mengangguk.
Arga mengeluarkan sebuah foto lama.
“Itu bukan proyek biasa.”
Aku mengambil foto tersebut.
Di bagian depan tampak sebuah bangunan setengah jadi.
Namun yang membuat tanganku dingin bukan bangunannya.
Melainkan logo perusahaan lama di papan proyek.
Aku mengenal logo itu.
Perusahaan tersebut dulu milik keluarga Arga.
Perusahaan yang kemudian diwarisi ayahnya.
Dan akhirnya menjadi fondasi kerajaan bisnis yang sekarang dipimpin suamiku.
Aku mengangkat wajah.
“Arga…”
Dia menatapku dengan ekspresi yang belum pernah kulihat sebelumnya.
“Polisi dulu menganggap ayahmu menghilang setelah kecelakaan.”
Dia berhenti.
“Tapi mungkin itu bukan kecelakaan.”
Pak Lukas mulai gemetar.
Aku merasakan tangannya menggenggam pergelangan tanganku.
Lalu dia berbisik,
“Aku ingat seseorang.”
Aku langsung berlutut di sampingnya.
“Siapa?”
Matanya menatap lurus ke arah Arga.
Namun kata-kata berikutnya bukan nama suamiku.
“Seorang pria…”
Napasnya tersengal.
“Dia mengenakan cincin besar.”
Arga mendadak pucat.
Aku melihat perubahan itu.
Dan saat itulah aku sadar.
Suamiku mungkin tidak membawa lelaki tua ini ke rumah hanya karena rasa kasihan.
Dia sedang mencari jawaban.
Jawaban tentang ayahku.
Tentang keluarganya sendiri.
Dan tentang sesuatu yang terjadi dua puluh tahun lalu yang mungkin telah menjadi rahasia di balik kekayaan keluarga Mahendra.
Aku menggenggam liontin itu erat-erat.
Sementara Pak Lukas menatap foto proyek tersebut, bibirnya bergerak lagi.
Kali ini suaranya jauh lebih jelas.
“Aku ingat kenapa aku berada di sana malam itu.”
Aku menatapnya.
“Ayah… kenapa?”
Dia mengangkat wajahnya kepadaku.
Air mata mengalir di kedua pipinya.
“Aku datang untuk menghentikan mereka.”
Lalu dia mengatakan satu kalimat yang membuat Arga langsung menutup pintu dan mengambil ponselnya.
“Karena aku menemukan sesuatu di proyek itu yang seharusnya tidak pernah kulihat.”
Dan untuk pertama kalinya sejak lelaki tua itu memasuki rumah kami, aku tidak lagi bertanya siapa dia.
Aku mulai bertanya…
siapa sebenarnya keluarga yang selama lima belas tahun ini kunikahi?
BAGIAN 2
“Aku datang untuk menghentikan mereka.”
Kalimat itu keluar dari mulut ayahku dengan suara gemetar.
Aku masih berlutut di samping bak mandi, menggenggam liontin yang selama dua puluh tahun menjadi satu-satunya benda yang menghubungkanku dengannya.
Arga berdiri beberapa langkah dari kami.
Wajah suamiku pucat.
“Ayah ingat apa?” tanyaku.
Lelaki yang selama ini dipanggil Pak Lukas itu memejamkan mata.
Keningnya berkerut seperti seseorang yang sedang mencoba membuka pintu yang telah terkunci terlalu lama.
“Jangan dipaksa,” kata Arga.
Aku menoleh tajam.
“Jangan suruh aku tenang setelah kamu mengaku sudah mengetahui kemungkinan identitas ayahku selama berminggu-minggu.”
“Nadira—”
“Keluar.”
Arga terdiam.
“Aku mau membantu Bapak berpakaian dulu,” kataku. “Setelah itu kita bicara. Dan kali ini, kamu ceritakan semuanya.”
Arga mengangguk.
Sebelum keluar, dia meletakkan amplop cokelat di meja.
Aku membantu ayah mengenakan pakaian bersih.
Aku tidak memakai sarung tangan lagi.
Ketika tanganku menyentuh lengannya, rasa malu menghantamku.
Beberapa menit sebelumnya, aku bahkan jijik berada dekat dengannya.
Sekarang aku takut melepaskan tangannya.
Seolah kalau aku melepaskannya, dia akan menghilang lagi selama dua puluh tahun.
“Ayah…”
Dia menatapku.
Aku sendiri terkejut mendengar kata itu keluar begitu alami.
“Aku boleh memanggil Ayah begitu?”
Matanya berkaca-kaca.
“Aku tidak tahu apakah aku pantas.”
Dadaku sesak.
“Dua puluh tahun aku berharap bisa mengucapkannya sekali lagi.”
Bibirnya bergetar.
Kemudian tangannya yang kasar menyentuh pipiku.
“Nadi…”
Aku menangis.
Kali ini aku memeluknya.
Tubuhnya kurus.
Rapuh.
Namun entah bagaimana, pelukan itu terasa familiar.
Aku kembali menjadi gadis enam belas tahun yang berdiri di depan jendela setiap kali mendengar mobil berhenti, berharap ayahnya pulang.
Hanya saja sekarang dia benar-benar pulang.
Kami turun ke ruang keluarga.
Aku meminta seluruh staf pulang lebih awal.
Aku tidak ingin ada orang lain mendengar percakapan itu.
Arga sudah menunggu dengan laptop, beberapa map, dan amplop cokelat tadi.
“Aku ingin semuanya,” kataku. “Tidak ada lagi rahasia.”
Arga mengangguk.
Lalu dia mulai bercerita.
Beberapa minggu sebelumnya, saat memeriksa dokumen lama perusahaan keluarganya, Arga menemukan laporan proyek dari dua puluh tahun lalu.
Proyek itu adalah pembangunan kompleks pergudangan di kawasan industri Bekasi.
Saat itu perusahaan masih dipimpin ayah Arga, Surya Mahendra.
Nama ayahku adalah Rendra Prasetyo.
Dan ternyata ayah bukan pekerja biasa di proyek tersebut.
Dia adalah konsultan independen yang ditugaskan memeriksa struktur dan penggunaan material.
Aku menatap Arga.
“Ayahku insinyur?”
Ayah yang duduk di sebelahku memegang kepalanya.
“Insinyur…”
Dia mengulang kata itu perlahan.
Lalu mengangguk.
“Aku… menggambar.”
Tangannya bergerak di udara seperti memegang pensil.
“Aku selalu menggambar.”
Aku langsung teringat sesuatu.
Saat kecil, ayah sering menggambar rumah untukku.
Rumah dengan halaman luas.
Ayunan.
Dan sebuah pohon mangga.
Aku menutup mulut.
“Ya Tuhan.”
Arga melanjutkan.
“Ada laporan pemeriksaan yang dibuat ayahmu. Dia menemukan ketidaksesuaian antara material yang tercantum di dokumen dengan material yang benar-benar digunakan.”
“Material lebih murah?”
“Jauh lebih murah.”
“Siapa yang menggantinya?”
Arga diam.
Aku tahu dia tidak ingin menjawab.
“Siapa?”
“Ayahku yang menyetujui pembelian.”
Ruangan menjadi sunyi.
Aku memandang lelaki yang sudah kunikahi selama lima belas tahun.
“Jadi kekayaan keluargamu—”
“Jangan.”
Suara Arga berubah.
“Jangan menganggap aku sedang membela dia. Justru karena itulah aku menyelidikinya.”
Dia membuka sebuah dokumen.
“Rendra menolak menandatangani laporan kelayakan. Dia mengancam membawa bukti ke pihak berwenang.”
Ayahku tiba-tiba menarik napas tajam.
“Berkas biru.”
Kami menoleh kepadanya.
“Apa?”
“Berkas… biru.”
Dia memejamkan mata.
“Aku membawa berkas biru.”
Arga langsung membuka laptop.
“Aku menemukan catatan tentang itu.”
Ada salinan laporan keamanan lama.
Malam sebelum ayah menghilang, seorang petugas keamanan melihat Rendra memasuki lokasi proyek membawa map berwarna biru.
Dia tidak pernah tercatat keluar.
Aku merasa mual.
“Lalu?”
“Keesokan paginya ada laporan kecelakaan kecil di area belakang proyek. Ada bagian perancah yang roboh.”
“Dan ayah ditemukan di sana?”
“Tidak.”
Aku mengernyit.
Arga menatap ayahku.
“Menurut cerita Pak Lukas selama ini, dia sadar di dekat proyek. Tapi laporan resmi tidak pernah mencatat adanya korban.”
Aku menatap ayah.
“Bagaimana Ayah bisa sampai hidup di jalanan?”
Dia menggenggam kepalanya.
“Aku ingat hujan.”
Kami diam.
“Hujan deras.”
Napasnya mulai cepat.
“Mobil.”
Aku menggenggam tangannya.
“Tidak perlu dipaksa.”
Tetapi dia terus bicara.
“Ada orang membawaku.”
“Siapa?”
“Aku tidak tahu.”
Kemudian dia berbisik,
“Cincin.”
Aku menoleh ke Arga.
“Cincin besar yang tadi Ayah sebut?”
Ayah mengangguk.
Arga berdiri dan berjalan ke lemari.
Dia kembali membawa album foto keluarga lama.
Tanganku mulai dingin.
Arga membuka beberapa halaman.
Kemudian menunjuk sebuah foto.
Ayahnya, Surya Mahendra, berdiri di sebuah acara peresmian proyek.
Di tangan kanannya ada cincin besar bermata hitam.
Ayahku melihat foto itu.
Wajahnya langsung berubah.
“Itu dia.”
Aku berdiri.
“Jadi ayahmu mencoba membunuh ayahku?”
“Nadira, kita belum tahu.”
“Ayahku mengenal cincin itu!”
“Aku tahu. Tapi kita harus membedakan apa yang dia ingat dan apa yang kita simpulkan.”
Aku benci bahwa Arga masuk akal.
Aku juga benci bahwa sebagian diriku ingin langsung menyalahkan keluarga suamiku.
Malam itu, kami membawa ayah ke rumah sakit.
Dokter menjelaskan bahwa trauma kepala berat dapat menyebabkan gangguan memori yang panjang dan tidak selalu pulih secara utuh.
Pemeriksaan lebih lanjut harus dilakukan.
Kami juga menyerahkan sampel untuk tes DNA.
Tiga hari kemudian, hasilnya datang.
Probabilitas hubungan biologis kami lebih dari 99 persen.
Aku membaca hasil itu berkali-kali.
Rendra Prasetyo adalah ayahku.
Ibuku sudah meninggal enam tahun sebelumnya.
Dia menunggu suaminya selama empat belas tahun.
Dan sekarang, ketika ayah akhirnya kembali…
Ibu tidak ada untuk melihatnya.
Malam itu aku duduk di kamar ayah sambil membawa foto ibu.
Aku meletakkannya di tangannya.
Dia menatap foto itu lama sekali.
“Ratih.”
Aku tersentak.
Itulah pertama kalinya dia mengingat nama ibu tanpa kubantu.
Air mata mengalir dari matanya.
“Dia menungguku?”
Aku tidak mampu berbohong.
“Setiap hari.”
Ayah menangis seperti anak kecil.
“Aku tidak pulang.”
“Ayah tidak memilih untuk pergi.”
“Tapi dia menunggu.”
Aku memeluknya.
“Ibu tidak pernah membenci Ayah.”
Aku tahu itu benar.
Sampai akhir hidupnya, ibu selalu menyimpan satu kursi kosong di meja makan saat ulang tahun ayah.
Sementara itu, Arga terus menyelidiki.
Kami menemukan mantan kepala keamanan proyek bernama Pak Hadi, sekarang berusia lebih dari tujuh puluh tahun dan tinggal di Bogor.
Saat kami menemuinya, tangannya langsung gemetar ketika melihat ayah.
“Pak Rendra?”
Ayah menatapnya.
Pak Hadi menangis.
“Saya kira Bapak sudah meninggal.”
Lalu cerita yang sebenarnya mulai terbuka.
Malam itu, ayah datang membawa bukti bahwa material proyek telah diganti dan sejumlah pembayaran dialihkan ke perusahaan pemasok tertentu.
Dia meminta bertemu Surya.
Terjadi pertengkaran.
Pak Hadi mendengar suara keras dari ruangan proyek.
Ketika masuk, dia melihat ayahku tergeletak setelah terjatuh dan membentur sisi meja.
Surya panik.
Aku mencengkeram kursi.
“Lalu?”
Pak Hadi menunduk.
“Pak Surya memerintahkan saya memanggil ambulans.”
Aku terdiam.
Itu bukan jawaban yang kuduga.
“Ambulans?”
“Iya.”
“Jadi dia tidak membuang ayah saya?”
“Tidak.”
Pak Hadi menggeleng keras.
“Pak Surya memang marah. Mereka bertengkar. Tapi ketika Pak Rendra jatuh, dia panik. Dia sendiri yang mencoba menghentikan pendarahan.”
Aku menatap Arga.
“Lalu apa yang terjadi?”
Pak Hadi masuk ke kamar dan kembali membawa sebuah kotak tua.
Di dalamnya ada buku catatan keamanan.
Satu nama tercatat malam itu.
Darmawan Kusuma.
Aku tidak mengenalnya.
Namun Arga langsung berdiri.
“Paman Darma?”
Pak Hadi mengangguk.
Darmawan adalah adik Surya.
Orang yang selama bertahun-tahun menjabat direktur keuangan perusahaan keluarga.
Dan orang yang masih hidup.
“Dia datang sebelum ambulans,” kata Pak Hadi.
“Kenapa?”
“Katanya dia akan membawa Pak Rendra ke rumah sakit sendiri karena ambulans terlalu lama.”
Ayah mendadak berdiri.
“Mobil hitam.”
Kami semua menoleh.
Ingatan itu datang seperti pecahan kaca.
“Dia memasukkanku ke mobil.”
Ayah menatap Arga.
“Bukan ayahmu.”
Lalu dia menunjuk foto lama Darmawan.
“Dia.”
Kami tidak mendatangi Darmawan sendirian.
Arga menyerahkan dokumen kepada pengacara dan pihak berwenang untuk diperiksa.
Semakin banyak catatan lama ditemukan.
Dan kebenarannya jauh lebih rumit daripada yang kami bayangkan.
Surya memang terlibat dalam keputusan menggunakan material yang lebih murah.
Dia bersalah.
Namun pengalihan uang dalam jumlah besar ternyata dilakukan Darmawan melalui perusahaan pemasok yang diam-diam dia kendalikan.
Ayahku menemukan aliran dana itu.
Malam tersebut, dia datang untuk mengungkap semuanya.
Ketika pertengkaran terjadi dan ayah terluka, Darmawan melihat kesempatan.
Dia membawa ayah dengan alasan menuju rumah sakit.
Tetapi dia tidak membawanya ke sana.
Menurut penyelidikan lanjutan, Darmawan meninggalkan ayah yang masih hidup di dekat klinik kecil di pinggiran Bekasi.
Seorang warga menemukan ayah dalam keadaan kebingungan dan membawanya masuk.
Namun tanpa identitas dan dengan kondisi memori yang terganggu, jejaknya perlahan hilang.
Klinik itu tutup beberapa tahun kemudian.
Catatannya tidak pernah terhubung dengan laporan orang hilang di Jakarta.
Sementara itu, Darmawan mengatakan kepada Surya bahwa Rendra sadar di perjalanan, menyerangnya, lalu melarikan diri.
Surya mempercayainya.
Setidaknya pada awalnya.
Tapi ada satu kejutan lagi.
Arga menemukan surat lama milik ayahnya.
Surat yang tidak pernah dikirim.
Ditujukan kepada ibuku.
Ratih Prasetyo.
Tanganku gemetar saat membacanya.
Surya menulis bahwa dia merasa bertanggung jawab atas hilangnya Rendra.
Dia mengaku telah melakukan banyak kesalahan dalam bisnis.
Dia mengatakan Rendra benar mengenai laporan material.
Dan dia berjanji memperbaiki semuanya.
Namun surat itu tidak pernah sampai kepada ibu.
Kenapa?
Karena Surya meninggal mendadak sebelum sempat menyerahkannya.
Setelah kematiannya, Darmawan mengambil alih dokumen-dokumen perusahaan.
Surat itu disimpan.
Bersama berkas biru ayahku.
Dua puluh tahun.
Dua keluarga hidup di atas kebohongan satu orang.
Beberapa bulan kemudian, penyelidikan resmi terhadap Darmawan dibuka berdasarkan bukti keuangan, dokumen perusahaan, kesaksian lama, dan catatan yang masih dapat diverifikasi.
Aku tidak merasa lega melihatnya diperiksa.
Tidak ada kemenangan di sana.
Tidak ada satu pun proses hukum yang bisa mengembalikan dua puluh tahun kehidupan ayahku.
Tidak ada hukuman yang bisa membuat ibuku hidup kembali.
Tetapi setidaknya kebenaran akhirnya memiliki tempat untuk berdiri.
Arga juga mengambil keputusan yang tidak pernah kuminta.
Dia memerintahkan audit independen atas proyek-proyek lama perusahaan.
Beberapa keuntungan yang terbukti berasal dari praktik bermasalah dialokasikan melalui mekanisme hukum untuk kompensasi dan program bantuan pekerja.
“Kenapa kamu melakukan semua ini?” tanyaku.
Arga menatapku.
“Karena nama keluarga bukan alasan untuk menyembunyikan kesalahan keluarga.”
Aku menggenggam tangannya.
Untuk pertama kalinya sejak semuanya dimulai, aku menyadari sesuatu.
Aku sempat takut bahwa menemukan ayah akan membuatku kehilangan suami.
Ternyata justru melalui suamiku, aku menemukan kembali ayahku.
Ayah tidak pernah mendapatkan seluruh ingatannya kembali.
Beberapa bagian datang perlahan.
Aroma kopi hitam.
Lagu lama yang disukai ibu.
Cara membuat telur dadar yang dulu selalu terlalu asin.
Namaku.
Yang paling penting adalah namaku.
Suatu pagi aku menemukan ayah duduk di taman belakang.
Dia sedang menggambar.
Aku duduk di sampingnya.
“Ayah gambar apa?”
Dia menunjukkan kertas itu.
Sebuah rumah kecil.
Ada halaman.
Ayunan.
Dan pohon mangga.
Aku langsung menangis.
“Ayah dulu selalu menggambar rumah seperti ini untukku.”
Dia tersenyum.
“Aku tahu.”
Aku menatapnya.
“Ayah ingat?”
Dia mengangguk.
“Tidak semuanya.”
Lalu dia menunjuk gadis kecil yang digambar berdiri di bawah pohon.
“Tapi aku ingat kamu.”
Aku memeluknya.
Beberapa saat kemudian Arga keluar membawa tiga cangkir teh.
Ayah memandangnya.
“Kamu menemukan saya di tempat pembagian makanan itu?”
Arga tersenyum kecil.
“Tidak sepenuhnya.”
Aku mengernyit.
“Apa maksudnya?”
Arga duduk.
“Ada satu hal yang belum kuceritakan.”
Aku menatapnya curiga.
“Apa lagi?”
Dia mengeluarkan sebuah foto lama dari sakunya.
Foto pernikahan kami.
Di belakangnya terdapat tulisan tangan.
Aku mengenal tulisan itu.
Tulisan ibu.
Arga berkata pelan,
“Beberapa minggu sebelum ibu kamu meninggal, dia pernah menghubungiku.”
Aku terdiam.
“Apa?”
“Dia meminta satu hal.”
Arga menyerahkan foto itu.
Di belakangnya tertulis:
Kalau suatu hari kamu punya kesempatan mencari Rendra lagi, jangan biarkan Nadira tahu sebelum kamu yakin. Aku sudah terlalu sering melihat anakku berharap lalu hancur.
Tanganku menutup mulut.
“Jadi…”
“Aku tidak pernah berhenti sepenuhnya.”
Arga menatap ayah.
“Setiap beberapa tahun aku meminta orang memeriksa laporan orang tanpa identitas, rumah singgah, dan data lama. Tidak pernah ada hasil.”
“Lalu Pak Lukas?”
“Beberapa minggu lalu, seseorang dari komunitas sosial mengirim foto beberapa lansia yang membutuhkan dokumen identitas. Aku melihat wajahnya.”
Arga menatapku.
“Aku tidak yakin. Tapi bentuk mata dan tanda lahir yang pernah disebut ibumu membuatku curiga.”
Aku mulai menangis lagi.
Jadi bukan kebetulan.
Pertemuan di tempat pembagian makanan itu memang terjadi.
Tetapi Arga datang ke sana karena sudah curiga siapa Pak Lukas sebenarnya.
“Kenapa kamu menyuruh aku memandikannya?”
Arga menunduk.
“Aku ingin kamu melihat tanda lahir itu sendiri.”
Aku memukul lengannya pelan sambil menangis.
“Kamu menyebalkan.”
“Aku tahu.”
Ayah tertawa.
Untuk pertama kalinya aku mendengar suara itu.
Tawa ayahku.
Aku tidak sadar betapa aku merindukannya.
Beberapa waktu kemudian, aku kembali ke komunitas tempat Arga menemukan ayah.
Kali ini aku datang sendiri.
Aku membagikan makanan.
Duduk bersama orang-orang.
Mendengarkan cerita mereka.
Ada mantan sopir.
Ada seorang lelaki yang kehilangan pekerjaannya setelah kecelakaan.
Ada orang yang keluarganya tidak pernah tahu dia masih hidup.
Aku tidak lagi bertanya dalam hati kenapa mereka tidak sekadar “memperbaiki hidup”.
Karena sekarang aku tahu.
Kita tidak pernah benar-benar tahu bagaimana seseorang bisa sampai pada titik terendahnya.
Sebelum pulang, aku melihat seorang lelaki tua duduk sendirian di ujung ruangan.
Bajunya kotor.
Rambutnya kusut.
Aku membawa sepiring makanan dan duduk di depannya.
Dia menatapku ragu.
“Tidak apa-apa, Bu. Taruh saja makanannya.”
Aku tersenyum.
“Boleh saya duduk sebentar?”
Dia mengangguk.
Aku duduk.
Tanpa sarung tangan.
Tanpa menutup hidung.
Tanpa merasa lebih tinggi darinya.
Malam itu ketika pulang, ayah sedang menungguku di ruang keluarga.
“Ayah dari mana?” tanyaku ketika melihatnya memakai sepatu.
Dia tersenyum.
“Mau jalan sebentar di taman.”
“Aku ikut.”
Kami berjalan berdampingan.
Pelan.
Tangannya menggenggam tanganku.
Aku teringat tangan yang sama pernah menggandengku ketika menyeberang jalan saat masih kecil.
Dua puluh tahun lalu aku kehilangan ayah.
Kupikir hari paling bahagia dalam hidupku adalah ketika aku menemukannya kembali.
Ternyata bukan.
Hari paling berarti adalah ketika aku menyadari bahwa lelaki tua yang dulu membuatku mundur jijik di foyer rumahku telah mengembalikan sesuatu yang jauh lebih besar daripada seorang ayah.
Dia mengembalikan kemanusiaanku.
Aku pernah berpikir kekayaan membuatku aman.
Bahwa rumah besar, uang, koneksi, dan nama keluarga bisa melindungiku dari kehidupan yang buruk.
Aku salah.
Hidup bisa mengambil nama seseorang.
Rumahnya.
Ingatan.
Keluarga.
Bahkan dua puluh tahun waktunya.
Tetapi ada satu hal yang tidak seharusnya kita ambil dari siapa pun.
Martabatnya.
Sekarang liontin tua itu tidak lagi kusimpan di kotak.
Aku memakainya setiap hari.
Di dalamnya masih ada foto seorang ayah berusia empat puluhan yang memeluk putrinya yang berumur enam belas tahun.
Tetapi aku menambahkan satu foto baru.
Foto tiga orang di taman rumah kami.
Aku.
Arga.
Dan seorang lelaki tua bernama Rendra Prasetyo yang akhirnya memiliki nama, keluarga, dan rumah lagi.
Ayah tidak mendapatkan kembali dua puluh tahun yang hilang.
Aku pun tidak.
Namun kami mendapatkan sesuatu yang tidak pernah kukira masih mungkin.
Kesempatan untuk membuat kenangan baru.
Dan setiap kali aku melihat tanda bulan sabit kecil di bahunya, aku selalu teringat sore ketika aku memakai sarung tangan karena takut menyentuh seorang tunawisma.
Padahal tanpa kusadari…
orang yang kutakuti untuk kusentuh itu adalah orang yang selama dua puluh tahun paling ingin kupeluk.
TAMAT.

