TANDA TANGAN PALSU ITU MEMBUKA UTANG TERSEMBUNYI, DAN SATU REKAMAN MEMBUKTIKAN PERNIKAHANKU TELAH DIRENCANAKAN DEMI HARTA WARISAN

Avatar penulis
Cerita 05
6 menit baca 158 tayangan
Indeks

BAGIAN 2 — TANDA TANGAN PALSU ITU MEMBUKA UTANG TERSEMBUNYI, DAN SATU REKAMAN MEMBUKTIKAN PERNIKAHANKU TELAH DIRENCANAKAN DEMI HARTA WARISAN

Aku masih menatap tanda tangan palsu itu ketika suara Ardi kembali terdengar dari telepon.

—Nara, jangan melakukan sesuatu yang akan kamu sesali. Pulanglah. Kita bisa menyelesaikannya sebagai keluarga.

Aku hampir tertawa mendengarnya.

—Keluarga?

Tanganku tidak lagi gemetar.

—Tadi malam kamu mengatakan uang kita terpisah, pekerjaanmu bukan urusanku, dan aku harus berhenti bekerja untuk merawat ibumu. Sekarang, setelah aku menemukan namaku di dalam utang perusahaanmu, tiba-tiba kita menjadi keluarga?

Ardi terdiam.

Lalu suara ibunya terdengar dari kejauhan.

—Jangan banyak bicara dengannya! Suruh dia mencabut surat itu!

Aku memejamkan mata sebentar.

—Ardi, aku hanya bertanya sekali. Siapa yang memalsukan tanda tanganku?

—Tidak ada yang memalsukannya.

Aku menatap konsultan di hadapanku.

Dia menggeleng pelan.

—Kalau begitu, kenapa kamu memintaku jangan melapor polisi?

Telepon langsung terputus.

Untuk beberapa detik aku hanya duduk diam.

Pria yang membantuku memeriksa dokumen itu bernama Pak Surya. Dia tidak membuat kesimpulan tergesa-gesa. Dia hanya menyimpan salinan seluruh dokumen, mencatat waktu penerimaan, lalu berkata,

—Mulai sekarang, jangan bertemu mereka sendirian. Dan jangan serahkan dokumen asli apa pun.

Aku mengangguk.

Belum sampai lima menit kemudian, kakakku menelepon.

—Nara, kamu di mana?

Begitu mendengar suaranya, pertahananku hampir runtuh.

—Di kantor Pak Surya.

—Aku ke sana.

Empat puluh menit kemudian, kakakku datang bersama suaminya.

Aku menunjukkan tanda tangan itu.

Wajah kakakku berubah pucat.

—Ini mirip sekali.

—Tapi bukan milikku.

Dia memperbesar halaman tersebut.

Lalu tiba-tiba dia berhenti.

—Tunggu.

Dia membuka galeri ponselnya dan mencari foto dokumen yang dia ambil seminggu sebelum pernikahan.

Kami membandingkan keduanya.

Pada dokumen lama, bagian tanda tangan masih kosong.

Namun nomor identitas, alamat, dan informasi usahaku sudah tercantum lengkap.

Artinya seseorang menambahkan tanda tangan itu kemudian.

Pak Surya segera menghubungi pihak pembiayaan dan meminta riwayat dokumen.

Jawabannya datang menjelang siang.

Berkas tersebut dikirim dua hari sebelum pernikahan.

Pengirimnya adalah akun perusahaan keluarga Ardi.

Aku merasakan sesuatu runtuh di dalam diriku.

Jadi ketika aku sibuk mencoba gaun pengantin, menyambut keluarga, dan memastikan semua tamu mendapat tempat duduk, mereka sudah mengirim dokumen atas namaku.

Sekitar pukul satu siang, sebuah mobil berhenti di depan kantor.

Ardi turun bersama ayah dan ibunya.

Aku melihat mereka dari jendela.

Ibunya masuk paling depan.

Begitu melihatku, dia langsung berkata,

—Kamu keterlaluan, Nara! Baru sehari menjadi istri sudah membuat perusahaan suamimu hampir hancur!

Kakakku berdiri.

—Bu, jangan membentaknya.

—Ini urusan keluarga kami!

Aku bangkit perlahan.

—Kalau begitu jawab satu pertanyaan. Siapa yang menandatangani dokumen ini atas namaku?

Aku meletakkan salinannya di meja.

Wajah ayah Ardi menegang.

Ibunya justru berkata,

—Jangan membesar-besarkan masalah kecil.

Masalah kecil.

Dua kata itu menghapus sisa keraguanku.

—Memakai identitasku dan mencantumkan hartaku tanpa izin adalah masalah kecil?

Ardi maju.

—Nara, dengarkan dulu. Perusahaan sedang kesulitan arus kas. Kami mendapat proyek besar, tetapi membutuhkan modal. Kalau proyek itu berjalan, semuanya bisa dikembalikan.

—Kenapa tidak memberitahuku?

Dia tidak menjawab.

Aku melanjutkan,

—Kenapa harus menunggu sampai kita menikah?

Ibunya menyela.

—Karena kamu pasti menolak! Kamu selalu terlalu perhitungan soal uang.

Aku menatapnya.

—Jadi karena saya akan menolak, kalian merasa berhak menggunakan nama saya?

Ayah Ardi akhirnya bersuara.

—Tidak ada yang berniat merugikanmu. Tanahmu hanya dipakai untuk memperkuat posisi pengajuan.

—Tanpa izin saya.

Dia terdiam.

Pak Surya kemudian meminta mereka meninggalkan kantor jika tidak bersedia memberikan penjelasan resmi.

Sebelum pergi, Ardi menatapku lama.

—Kalau kamu meneruskan ini, pernikahan kita selesai.

Aku menatap cincin di jariku.

Kemarin kalimat itu mungkin akan menghancurkanku.

Hari ini tidak.

Aku melepas cincin tersebut dan meletakkannya di meja.

—Pernikahan kita selesai saat kamu menggunakan namaku tanpa izinku.

Wajah Ardi langsung berubah.

Ibunya menarik lengannya dan mereka pergi.

Aku mengira kejutan terburuk telah berakhir.

Ternyata belum.

Sore itu, seorang perempuan bernama Rina menghubungiku.

Dia pernah bekerja sebagai staf administrasi perusahaan keluarga Ardi dan berhenti tiga bulan sebelumnya.

Pesannya hanya satu kalimat.

“Aku dengar pengajuan pinjaman dihentikan. Ada sesuatu yang harus kamu ketahui.”

Kami bertemu di sebuah kafe ramai.

Rina datang membawa laptop lama.

Dia tampak gugup.

—Aku tidak mau ikut campur rumah tanggamu. Tapi kalau aku diam, mereka mungkin akan menyalahkan orang lain.

Dia menunjukkan beberapa email kerja lama yang masih tersimpan sebagai arsip pribadinya.

Perusahaan keluarga Ardi ternyata telah mengalami masalah keuangan hampir dua tahun.

Beberapa proyek gagal.

Ada tagihan pemasok yang belum dibayar.

Mereka juga memiliki kewajiban kepada pihak lain yang jumlahnya jauh lebih besar daripada yang pernah Ardi ceritakan kepadaku.

Kemudian Rina membuka sebuah rekaman suara.

—Ini tidak sengaja terekam saat rapat internal. Aku sedang merekam catatan untuk membuat notulen.

Suara Ardi terdengar jelas.

“Kalau tanah Nara bisa masuk sebagai jaminan tambahan, pembiayaan pasti lebih mudah.”

Lalu suara ibunya:

“Tunggu sampai kalian menikah. Setelah resmi menjadi istrimu, lebih gampang membujuknya. Kalau perlu suruh dia berhenti dari toko. Kalau dia tidak sibuk, dia akan lebih mudah diatur.”

Darahku seperti berhenti mengalir.

Kemudian suara Ardi terdengar lagi.

“Dia percaya padaku. Aku yang akan urus.”

Aku tidak menangis.

Aneh sekali.

Setelah mendengar kalimat itu, justru tidak ada air mata yang keluar.

Semua kenangan empat tahun terakhir tiba-tiba terasa berbeda.

Makanan yang dia bawakan.

Bantuan di toko.

Pertanyaan tentang warisan.

Desakan mempercepat pernikahan.

Apakah semuanya palsu?

Rina seperti membaca pikiranku.

—Aku tidak tahu apakah sejak awal dia mendekatimu karena uang. Jangan menyimpulkan sejauh itu. Yang aku tahu, pembicaraan soal menggunakan hartamu memang terjadi beberapa bulan terakhir.

Aku mengangguk.

Itu sudah cukup.

Malamnya aku pulang ke rumah kakakku.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku tidur di kamar kecil yang dulu sering kupakai ketika baru memulai usaha.

Keesokan paginya aku pergi ke toko roti.

Delapan belas karyawan sedang bekerja seperti biasa.

Aroma mentega dan kopi memenuhi ruangan.

Seorang pegawai muda menyodorkan celemek kepadaku.

—Bu Nara, hari ini kita punya pesanan tiga ratus kotak. Siap?

Aku menatap celemek itu.

Tadi malam seseorang ingin membuatku meninggalkan tempat ini.

Tempat yang kubangun selama tujuh tahun.

Aku memakainya.

—Siap.

Namun pukul sepuluh pagi, dua orang dari perusahaan pembiayaan datang.

Mereka meminta berbicara denganku secara pribadi.

Salah satunya meletakkan sebuah map di meja.

—Bu Nara, setelah pemeriksaan internal, kami menemukan bahwa dokumen dengan tanda tangan Anda bukan satu-satunya masalah.

Aku menegang.

—Apa maksudnya?

Dia membuka halaman berikutnya.

Di sana terdapat daftar transaksi perusahaan keluarga Ardi selama hampir satu tahun.

Kemudian jarinya berhenti pada lima transfer besar.

Penerimanya bukan pemasok.

Bukan kontraktor.

Bukan pula karyawan.

Semua uang itu masuk ke rekening sebuah perusahaan yang baru berdiri delapan bulan lalu.

Aku membaca nama pemiliknya.

Tanganku membeku.

Pemilik perusahaan itu adalah adik laki-laki Ardi.

Petugas itu lalu berkata pelan,

—Jumlah totalnya hampir empat miliar rupiah. Dan kami menduga dana pinjaman baru yang menggunakan aset Anda juga direncanakan mengalir ke perusahaan ini.

Aku mengangkat kepala.

Saat itulah pintu toko terbuka keras.

Ardi berdiri di sana.

Wajahnya pucat.

Dia melihat map di meja, lalu menatapku.

—Nara… jangan percaya semuanya. Aku bisa menjelaskan.

Aku berdiri.

Namun sebelum aku sempat menjawab, petugas di sebelahku mengeluarkan satu dokumen terakhir.

—Pak Ardi, mungkin sebaiknya Anda menjelaskan ini terlebih dahulu.

Begitu melihat halaman tersebut, Ardi berhenti melangkah.

Dan untuk pertama kalinya, aku melihat ketakutan yang sebenarnya di matanya.

(Lanjutkan ke BAGIAN 3….)