JANJI RAHASIA TENTANG RUMAH ITU MEMBUAT ARMAN TERDIAM, SEMENTARA NADIA MENEMUKAN ALASAN SEBENARNYA DI BALIK SEMUA KEBOHONGAN RATIH

Avatar penulis
Cerita 05
5 menit baca 427 tayangan
Indeks

BAGIAN 2 — JANJI RAHASIA TENTANG RUMAH ITU MEMBUAT ARMAN TERDIAM, SEMENTARA NADIA MENEMUKAN ALASAN SEBENARNYA DI BALIK SEMUA KEBOHONGAN RATIH

Aku menatap Arman.

Suamiku tidak segera menjawab.

Pecahan cangkir masih berserakan di lantai, tetapi tak seorang pun bergerak untuk membersihkannya.

Ratih berdiri beberapa langkah dariku dengan wajah pucat.

—Arman! Jangan diam saja! Istrimu mempermalukan Ibu di depan keluarga!

Biasanya, kalimat seperti itu cukup untuk membuat Arman membelanya.

Namun kali ini tidak.

Arman justru menatap ibunya.

—Ibu, apa yang ada di video itu benar?

Ratih terdiam.

—Apa maksudmu?

—Tentang rumah ini.

Suara Arman terdengar berat.

—Aku memang pernah bilang akan mempertimbangkannya. Tapi kapan aku berjanji akan memindahkan rumah ini atas nama Ibu?

Ratih langsung menunjukku.

—Semua ini karena dia! Sejak menikah, Nadia membuatmu berubah!

Aku hampir tertawa.

Dua tahun terakhir, setiap konflik selalu berakhir dengan cara yang sama.

Jika Ratih marah, aku penyebabnya.

Jika Ratih sakit, aku penyebabnya.

Jika Arman membela istrinya sekali saja, berarti aku telah menghasutnya.

Aku mengambil napas panjang.

—Arman, aku hanya ingin satu jawaban. Apakah kamu pernah membicarakan rumah ini dengan ibumu tanpa sepengetahuanku?

Ia menundukkan kepala.

Beberapa detik kemudian, ia menjawab:

—Pernah.

Dadaku terasa sesak.

—Kapan?

—Sekitar enam bulan lalu.

Ruangan kembali sunyi.

Arman menjelaskan bahwa Ratih pernah mengatakan dirinya merasa tidak memiliki jaminan di hari tua. Ia takut suatu hari aku mengusirnya jika hubunganku dengannya memburuk.

Karena terus didesak, Arman mengatakan bahwa jika keadaan mengharuskan, ia akan mencari cara agar ibunya memiliki tempat tinggal yang aman.

—Aku tidak pernah benar-benar berniat memberikan rumah ini begitu saja, Nadia.

Aku menatapnya.

—Tetapi kamu membicarakan rumah kita tanpa aku.

Arman tak mampu membantah.

Aku mengangguk perlahan.

—Itulah masalahnya.

Ratih mendadak menangis.

Ia menutupi wajah.

—Ibu hanya takut!

Namun kali ini salah seorang bibi yang biasanya membelanya justru bertanya:

—Kalau hanya takut, kenapa harus berpura-pura sakit dan menyalahkan Nadia?

Ratih langsung berhenti menangis.

Tak ada jawaban.

Aku mengambil ponsel.

—Masih ada satu hal lagi.

Aku membuka folder yang selama beberapa bulan terakhir kusimpan diam-diam.

Foto kemasan makanan.

Struk belanja.

Rekaman kamera.

Pesan di grup keluarga.

Aku tidak mengumpulkannya untuk membalas dendam.

Awalnya aku hanya ingin memastikan bahwa aku tidak sedang membayangkan semuanya.

Aku menunjukkan sebuah foto.

—Ini kue yang kubeli. Ibu bilang pusing setelah memakannya.

Lalu foto berikutnya.

—Tiga hari kemudian Arman membeli kue yang sama. Ibu makan tanpa masalah.

Foto berikutnya.

—Ini teh yang kubeli. Ibu bilang jantung berdebar.

Kemudian sebuah video.

—Seminggu kemudian teh yang sama disajikan oleh Arman. Ibu minum dua cangkir.

Tak seorang pun berbicara.

Aku menatap keluarga yang selama ini begitu mudah menasihatiku agar menjadi menantu yang sabar.

—Aku tidak meminta siapa pun memilih antara aku dan Ibu. Aku hanya ingin kalian memahami sesuatu. Selama dua tahun, setiap kali beliau mengaku sakit, kalian menyalahkanku tanpa pernah bertanya apa yang sebenarnya terjadi.

Bibi yang dulu paling sering mengkritikku menundukkan kepala.

—Nadia… Bibi minta maaf.

Aku tidak langsung menjawab.

Permintaan maaf tidak bisa menghapus dua tahun begitu saja.

Tetapi setidaknya untuk pertama kalinya, seseorang mengaku telah salah.

Ratih tiba-tiba mengambil tasnya.

—Baik! Kalau semua orang menganggap Ibu pembohong, Ibu pergi saja!

Ia melangkah menuju pintu.

Biasanya Arman pasti mengejarnya.

Kali ini, ia hanya berkata:

—Ibu, berhenti.

Ratih berbalik dengan mata membesar.

Arman berdiri.

—Ibu tidak perlu pergi malam ini. Tapi besok kita harus bicara serius.

—Kamu mengusir Ibu?

—Tidak.

Arman menggeleng.

—Aku sedang menetapkan batas.

Kalimat itu membuatku terkejut.

Mungkin karena selama pernikahan kami, aku belum pernah mendengarnya berbicara seperti itu kepada ibunya.

Arman melanjutkan:

—Nadia istriku. Rumah tangga ini milik kami berdua. Aku salah karena selama ini selalu meminta Nadia mengalah hanya supaya aku tidak perlu menghadapi konflik.

Ia menatapku.

—Aku juga salah karena membicarakan rumah tanpa sepengetahuanmu.

Aku tetap diam.

Aku belum siap memaafkannya.

Dan Arman tampaknya memahami itu.

Malam itu, acara keluarga berakhir jauh lebih cepat dari rencana.

Setelah semua orang pulang, aku masuk ke kamar dan mengeluarkan sebuah koper.

Arman berdiri di pintu.

—Kamu mau pergi?

—Untuk sementara.

Wajahnya berubah.

—Nadia…

Aku menutup koper.

—Aku tidak pergi karena ibumu, Arman. Aku pergi karena selama dua tahun, setiap kali aku membutuhkanmu berdiri di sampingku, kamu justru memintaku mengalah.

Ia tidak membela diri.

Aku melanjutkan:

—Aku perlu waktu untuk memikirkan apakah pernikahan ini masih bisa diperbaiki.

Malam itu aku tinggal di apartemen kecil milik seorang sahabat.

Untuk pertama kalinya setelah hampir dua tahun, aku tidur tanpa takut seseorang akan bangun pagi dan menemukan alasan baru untuk menyalahkanku.

Tiga hari kemudian, Arman mengirim pesan.

Bukan permintaan agar aku pulang.

Bukan pula alasan untuk membela ibunya.

Ia hanya menulis:

“Aku sudah membawa Ibu melakukan pemeriksaan kesehatan.”

Aku membaca pesan berikutnya.

Hasil pemeriksaan awal menunjukkan tidak ada bukti yang mendukung berbagai reaksi ekstrem yang selama ini diklaim Ratih terhadap makanan-makanan tersebut.

Namun Arman mengatakan sesuatu yang lebih mengejutkan.

Ratih akhirnya mengaku.

Semua bermula dari rasa takut kehilangan putranya.

Setelah suaminya meninggal, Ratih merasa Arman adalah satu-satunya orang yang tersisa untuknya.

Setiap kali melihat Arman memperhatikanku, ia merasa posisinya tergeser.

Awalnya ia hanya berpura-pura tidak menyukai masakanku.

Ketika melihat Arman langsung membelanya, ia menyadari bahwa “sakit” adalah cara paling mudah membuat putranya kembali berada di sisinya.

Kebohongan kecil kemudian menjadi semakin besar.

Sampai ia mulai berpikir jika aku dan Arman terus bertengkar, suatu hari aku mungkin pergi.

Dan rumah itu akan menjadi miliknya.

Aku membaca semuanya tanpa tahu harus merasa marah atau sedih.

Namun pesan terakhir Arman membuatku terdiam.

“Aku sudah mencarikan Ibu tempat tinggal sendiri. Aku akan membantu biaya hidupnya, tapi Ibu tidak akan tinggal bersama kita lagi. Aku juga sudah mengatakan bahwa rumah kita tidak akan pernah dipindahkan kepada siapa pun tanpa persetujuan kita berdua.”

Aku menatap layar cukup lama.

Lalu satu pesan lagi muncul.

“Aku tidak meminta kamu pulang sekarang. Aku hanya ingin memperbaiki bagian yang selama ini menjadi tanggung jawabku.”

Untuk pertama kalinya, Arman tidak memintaku memahami ibunya.

Ia mulai memahami apa yang selama ini kurasakan.

Dan aku tahu, jika masih ada kesempatan bagi pernikahan kami, kesempatan itu harus dimulai dari sana.

(Lanjutkan ke BAGIAN 3….)