BAGIAN 3 — SETELAH MENINGGALKAN RUMAH, NADIA MEMILIH HIDUPNYA SENDIRI, HINGGA PERUBAHAN ARMAN DAN SEBUAH MAKAN MALAM MENGUBAH KELUARGA MEREKA
Aku tidak langsung pulang.
Aku tinggal terpisah dari Arman selama hampir dua bulan.
Selama waktu itu, banyak hal berubah.
Ratih pindah ke sebuah apartemen sederhana sekitar dua puluh menit dari rumah kami.
Arman tetap mengunjunginya setiap minggu dan memenuhi tanggung jawabnya sebagai anak.
Aku tidak pernah melarangnya.
Yang kuinginkan sejak awal bukanlah memisahkan ibu dan anak.
Aku hanya tidak mau pernikahanku dijadikan harga yang harus dibayar untuk hubungan mereka.
Arman juga mulai menemui konselor pernikahan seorang diri.
Suatu sore ia mengirim pesan kepadaku.
“Aku baru sadar bahwa selama ini aku selalu mengira diam adalah cara menjaga keluarga tetap damai. Padahal sebenarnya aku hanya memindahkan seluruh beban konflik kepadamu.”
Aku membaca kalimat itu berkali-kali.
Itulah yang selama bertahun-tahun ingin kukatakan.
Beberapa minggu kemudian, aku setuju bertemu dengannya di sebuah kedai kopi.
Arman terlihat lebih kurus.
Ia duduk di depanku dan meletakkan sebuah map kecil di meja.
Aku langsung mengernyit.
—Apa ini?
—Dokumen rumah.
Aku tidak menyentuhnya.
Arman menjelaskan bahwa ia telah memastikan tidak ada proses pemindahan kepemilikan apa pun.
Ia juga membuat pengaturan baru untuk keuangan rumah tangga agar setiap keputusan besar menyangkut aset bersama harus diketahui kedua pihak.
—Aku tidak membawa ini supaya kamu percaya begitu saja.
Ia mendorong map itu sedikit ke tengah meja.
—Aku cuma tidak mau ada rahasia lagi.
Aku menatapnya.
—Bagaimana dengan ibumu?
Arman terdiam sesaat.
—Ibu masih marah kepadaku.
Aku tersenyum tipis.
—Karena aku?
—Tidak.
Ia menggeleng.
—Karena untuk pertama kalinya aku mengatakan “tidak”.
Jawaban itu membuatku diam.
Arman tidak memohon agar aku pulang hari itu.
Kami hanya berbicara.
Seminggu kemudian kami bertemu lagi.
Kemudian sekali lagi.
Perlahan, aku mulai melihat sesuatu yang berbeda.
Bukan Arman yang terus mengatakan akan berubah.
Melainkan Arman yang benar-benar melakukan perubahan meskipun aku tidak berada di rumah untuk melihatnya.
Tiga bulan setelah pesta keluarga itu, aku akhirnya kembali.
Namun dengan satu syarat.
Ratih tidak boleh kembali tinggal bersama kami.
Jika ada masalah, kami harus membicarakannya langsung.
Dan tak seorang pun boleh lagi membawa konflik rumah tangga ke grup keluarga untuk mencari dukungan.
Arman menyetujui semuanya.
Kupikir cerita kami selesai sampai di sana.
Ternyata belum.
Sekitar enam bulan kemudian, pada suatu Minggu sore, bel rumah berbunyi.
Ketika kubuka pintu, Ratih berdiri di sana.
Sendirian.
Di tangannya ada sebuah wadah makanan.
Tubuhku langsung menegang.
Ratih tampaknya menyadarinya.
—Ibu tidak akan masuk kalau kamu tidak mau.
Aku tidak menjawab.
Ia menyerahkan wadah itu.
—Ibu membuat klepon.
Aku hampir tertawa karena ironi situasinya.
Dulu makanan adalah senjata yang ia gunakan untuk menyerangku.
Sekarang ia berdiri di depan rumahku membawa makanan.
Ratih menundukkan kepala.
—Nadia, Ibu datang bukan untuk meminta kamu melupakan semuanya.
Aku menatapnya.
—Lalu?
—Untuk minta maaf.
Tidak ada air mata dramatis.
Tidak ada alasan bahwa ia sudah tua.
Tidak ada kalimat “Ibu melakukan semuanya demi Arman”.
Ratih hanya berdiri di sana.
—Ibu iri kepadamu.
Pengakuan itu begitu sederhana hingga membuatku terdiam.
—Setelah ayah Arman meninggal, Ibu merasa tidak punya siapa-siapa. Ketika melihat Arman lebih mendengarkanmu, Ibu takut kehilangan anak sendiri.
Ia menarik napas.
—Lalu Ibu melakukan sesuatu yang jauh lebih buruk. Ibu mencoba membuat anak Ibu bahagia dengan cara menghancurkan rumah tangganya.
Matanya mulai berkaca-kaca.
—Ibu salah.
Aku tidak langsung memeluknya.
Tidak pula berkata semuanya sudah dimaafkan.
Aku hanya menjawab:
—Terima kasih karena akhirnya Ibu mengatakannya.
Itu cukup.
Hubungan kami tidak berubah menjadi sempurna dalam semalam.
Butuh waktu.
Ratih mulai datang sesekali untuk makan malam, tetapi selalu menghubungi kami terlebih dahulu.
Ia berhenti mengeluhkan makanan yang kubeli.
Dan sesuatu yang cukup lucu terjadi beberapa bulan kemudian.
Kami mengadakan makan malam kecil untuk ulang tahun Arman.
Aku membeli kue pandan dari toko yang dulu menjadi awal kecurigaanku.
Ketika kotaknya dibuka, semua orang mendadak terdiam.
Arman menatapku.
Aku menatap Ratih.
Ratih menatap kue.
Kemudian, di luar dugaan, ia tertawa.
—Sepertinya sekarang Ibu sudah sembuh dari “alergi terhadap menantu”.
Seluruh meja langsung tertawa.
Aku pun ikut tertawa.
Bukan karena masa lalu tiba-tiba menjadi lucu.
Tetapi karena untuk pertama kalinya, Ratih mampu mengakui kesalahannya tanpa menyalahkan orang lain.
Ia mengambil sepotong kue.
Memakannya perlahan.
Lalu mengambil potongan kedua.
Aku sengaja bertanya:
—Tidak pusing, Bu?
Ratih menggeleng.
—Tidak.
Arman ikut menggoda:
—Perutnya bagaimana?
Ratih melotot kepada putranya.
—Kalau kamu terus mengejek Ibu, baru perut Ibu sakit.
Kami tertawa lagi.
Namun kebahagiaan terbesar datang setahun kemudian.
Aku memutuskan berhenti dari pekerjaanku sebagai manajer toko.
Bukan karena Arman memintaku.
Justru sebaliknya.
Aku ingin mewujudkan rencana yang selama bertahun-tahun kutunda: membuka studio desain interior kecil milikku sendiri.
Arman mendukungku.
Bahkan Ratih menjadi salah satu pelanggan pertamaku.
Ia meminta bantuanku menata ulang apartemennya.
Ketika proyek selesai, Ratih berdiri di ruang tamu barunya cukup lama.
—Bagus sekali.
Kemudian ia berkata pelan:
—Dulu Ibu selalu ingin mengambil rumah kalian karena takut tidak punya tempat sendiri.
Ia melihat sekeliling apartemennya.
—Sekarang Ibu baru sadar, punya rumah sendiri jauh lebih nyaman daripada merebut rumah orang lain.
Aku tersenyum.
—Yang penting Ibu jangan pura-pura sakit karena warna sofanya tidak cocok.
Ratih tertawa keras.
Setelah itu, ia benar-benar berubah.
Bukan menjadi ibu mertua sempurna.
Kadang ia masih cerewet.
Kadang kami masih berbeda pendapat.
Tetapi sekarang ia tahu batasnya.
Dan aku juga belajar sesuatu.
Menjadi menantu yang baik tidak berarti harus terus-menerus mengalah.
Mencintai seseorang tidak berarti membiarkannya menyakiti kita.
Dan menjaga keluarga bukan berarti menyembunyikan masalah sampai orang yang paling sabar akhirnya hancur.
Suatu malam, tepat dua tahun setelah pesta keluarga yang mengubah segalanya, kami kembali berkumpul untuk makan malam.
Tidak ada dua puluh kerabat.
Tidak ada grup keluarga yang ribut.
Hanya aku, Arman, dan Ratih.
Di atas meja ada sup ayam buatanku.
Ratih mencicipinya.
Aku sengaja memperhatikannya.
Satu sendok.
Dua sendok.
Tiga sendok.
Arman menahan tawa.
—Bagaimana, Bu?
Ratih meletakkan sendok.
Wajahnya tiba-tiba terlihat serius.
Aku dan Arman saling berpandangan.
Lalu Ratih memegangi perut.
—Aduh…
Arman langsung membelalakkan mata.
Aku hampir berdiri.
Namun sedetik kemudian Ratih tertawa terbahak-bahak.
—Bercanda!
Aku mengambil bantal sofa dan melemparkannya ke arahnya.
—Bu!
Arman sampai tertawa sambil menundukkan kepala.
Ratih tertawa hingga matanya berair.
Dan aku pun akhirnya ikut tertawa.
Dulu, meja makan itu adalah tempat aku selalu merasa seperti orang asing di rumah sendiri.
Sekarang, di tempat yang sama, aku akhirnya merasa aman.
Bukan karena kami tak pernah lagi memiliki masalah.
Melainkan karena tidak ada lagi seseorang yang harus berpura-pura sakit untuk mendapatkan kasih sayang.
Tidak ada lagi seorang suami yang bersembunyi di balik kata “mengalah” agar terhindar dari tanggung jawab.
Dan tidak ada lagi seorang istri yang harus diam hanya demi mempertahankan kedamaian palsu.
Aku memandang Arman.
Ia menggenggam tanganku di bawah meja.
Ratih melihat kami, tetapi kali ini ia tidak menunjukkan wajah tidak senang.
Ia justru mengambil mangkuknya dan berkata:
—Nadia, tambah supnya.
Aku mengangkat alis.
—Bu yakin?
Ratih tersenyum.
—Yakin. Masakan menantu Ibu ternyata enak juga.
Aku mengambil mangkuknya.
Di luar jendela, lampu-lampu kota mulai menyala satu per satu.
Aku pernah berpikir akhir bahagia berarti memenangkan pertengkaran dan membuktikan siapa yang benar.
Ternyata bukan.
Akhir bahagia bagiku adalah ketika aku tidak lagi harus kehilangan diriku sendiri demi diterima sebuah keluarga.
Aku mempertahankan batasanku.
Arman belajar menjadi suami tanpa berhenti menjadi anak.
Ratih belajar bahwa kasih sayang seorang anak tidak perlu diperebutkan dari istrinya.
Dan rumah yang hampir menjadi alasan kami berpisah akhirnya kembali menjadi apa yang seharusnya sejak awal.
Bukan hadiah untuk diperebutkan.
Bukan alat untuk mengendalikan seseorang.
Melainkan tempat di mana tiga orang yang pernah saling menyakiti akhirnya belajar menghormati satu sama lain.
Ratih menerima mangkuk sup dariku.
Kali ini ia memakannya tanpa sakit perut.
Tanpa keluhan.
Tanpa drama.
Dan untuk pertama kalinya sejak ia pindah ke rumah kami bertahun-tahun lalu, aku melihat meja makan itu dan tersenyum tanpa sedikit pun rasa takut.
Karena akhirnya aku tahu—
yang berhasil kami sembuhkan bukanlah “alergi” Ratih.
Melainkan keluarga kami.
