RAHASIA LIMA PULUH TUJUH TAHUN TERBONGKAR, DAN AYAH AKHIRNYA MENGAKUI SIAPA YANG MEMBAWA KAIN NENEK KELUAR DARI RUMAH

Avatar penulis
Cerita 05
6 menit baca 248 tayangan
Indeks

BAGIAN 2 — RAHASIA LIMA PULUH TUJUH TAHUN TERBONGKAR, DAN AYAH AKHIRNYA MENGAKUI SIAPA YANG MEMBAWA KAIN NENEK KELUAR DARI RUMAH

Suasana di ruangan itu begitu sunyi hingga suara pecahan gelas yang bergeser di bawah sepatu seorang pelayan terdengar jelas.

Ayah tidak segera menjawab.

Wajahnya pucat. Tangannya yang menerima mikrofon bahkan sedikit gemetar.

Aku berdiri di bagian belakang ruangan, tidak tahu apakah harus mendekat atau tetap berada di tempatku.

—Ayah?

Ia mengangkat kepala.

Untuk pertama kalinya malam itu, tatapannya kepadaku tidak mengandung rasa malu ataupun ketidaksabaran.

Yang kulihat justru ketakutan.

Nenek kembali berkata dari panggung,

—Katakan saja. Tidak ada gunanya menyimpan sesuatu yang sudah menghancurkan terlalu banyak hal.

Pria tua dari perusahaan yang logonya baru saja muncul di layar tiba-tiba melangkah maju.

—Saya rasa masalah keluarga tidak perlu dibicarakan di depan semua orang.

Perempuan dari asosiasi kerajinan itu menatapnya.

—Ini bukan hanya masalah keluarga, Pak. Kami sedang membicarakan asal-usul sebuah desain yang telah digunakan secara komersial selama puluhan tahun.

Pria itu terdiam.

Ayah akhirnya menarik napas panjang.

—Waktu itu aku berumur tujuh belas tahun.

Nenek menunduk.

—Keluarga kami miskin. Sangat miskin.

Ayah menatap para tamu, lalu melanjutkan.

—Suatu hari seorang pedagang datang ke rumah. Dia melihat kain buatan Ibu yang belum selesai. Dia menawarkan uang untuk membelinya.

Aku memandang kain di dalam kotak kaca.

—Lalu?

Ayah memejamkan mata.

—Ibu menolak.

Nenek mengangguk perlahan.

—Karena motif itu belum selesai. Dan saya tidak membuatnya untuk dijual.

Ayah menggenggam mikrofon semakin erat.

—Tapi beberapa hari kemudian aku mengambilnya diam-diam.

Ruangan langsung dipenuhi bisikan.

Aku merasa tenggorokanku tercekat.

—Ayah yang mengambilnya?

Ia mengangguk.

—Aku menjualnya.

Nenek tidak menangis.

Mungkin karena luka itu sudah terlalu tua untuk menghasilkan air mata.

Ayah melanjutkan,

—Adik-adikku belum makan dengan layak selama beberapa hari. Ada utang di warung. Aku pikir satu kain tidak akan berarti apa-apa.

—Berapa Ayah mendapatkannya?

Ayah menyebut sebuah jumlah yang bahkan untuk ukuran masa itu tidak besar.

Aku terpaku.

Sebuah desain yang kemudian menghasilkan keuntungan selama puluhan tahun ternyata pertama kali berpindah tangan hanya demi uang yang cukup untuk membeli beras dan membayar beberapa utang.

Namun perempuan dari asosiasi itu menggeleng.

—Masalahnya bukan sekadar kain tersebut dijual.

Ia menghadap pria tua dari perusahaan.

—Catatan yang kami temukan menunjukkan pedagang itu kemudian menjualnya kepada ayah Anda.

Semua mata tertuju kepada pria tersebut.

Ia segera membela diri.

—Ayah saya membeli kain itu. Artinya transaksi terjadi secara sah.

—Kain fisiknya, mungkin.

Perempuan itu menjawab tenang.

—Tetapi bukan berarti penciptanya berhenti menjadi pencipta motif tersebut.

Layar berubah.

Muncul foto lama sebuah katalog produk.

Motif pada kain Nenek terlihat jelas.

Di bawahnya tercantum nama pendiri perusahaan pria itu sebagai pencipta desain.

Nenek menatap layar lama sekali.

—Jadi begitu.

Hanya dua kata.

Namun aku mendengar sesuatu dalam suaranya yang membuat dadaku sakit.

Puluhan tahun kerja kerasnya telah berubah menjadi nama orang lain.

Pria tua itu mulai gelisah.

—Saya tidak tahu apa yang dilakukan generasi sebelum saya.

—Kami memahami itu.

Perempuan tersebut menjawab.

—Karena itulah kami datang untuk mencari penyelesaian, bukan membuat pengadilan di ruang pesta.

Tiba-tiba kakakku berdiri.

—Tunggu dulu.

Wajahnya jauh lebih pucat daripada sebelumnya.

Ia menatap pria tua itu.

—Kontrak perusahaan saya bagaimana?

Aku hampir tidak percaya.

Di tengah pengakuan Nenek, hal pertama yang dipikirkannya masih kontrak.

Pria itu menjawab dingin,

—Kita bicarakan nanti.

—Tidak bisa! Kami sudah menginvestasikan dana besar berdasarkan kerja sama itu.

Ayah menatap kakakku.

—Cukup.

—Ayah tahu berapa besar nilainya?

—Aku bilang cukup!

Untuk pertama kalinya aku mendengar Ayah membentaknya seperti itu.

Ayah kemudian berjalan menuju panggung.

Ia berhenti di depan Nenek.

—Maafkan aku, Bu.

Nenek memandang anak laki-lakinya.

—Selama lima puluh tujuh tahun, Ibu bertanya-tanya ke mana kain itu pergi.

—Aku takut mengaku.

—Lalu setelah dewasa?

Ayah tidak bisa menjawab.

Nenek tersenyum pahit.

—Saat miskin, kamu mencurinya karena ingin memberi makan keluarga. Ibu mungkin bisa memahami anak tujuh belas tahun yang ketakutan.

Ia berhenti.

—Tapi setelah kamu menjadi orang dewasa, punya rumah, uang, dan koneksi, kenapa kamu masih diam?

Ayah menunduk.

—Karena aku malu.

Nenek menghela napas.

—Itulah masalahmu sejak dulu. Kamu terlalu takut pada rasa malu.

Kalimat itu membuatku membeku.

Karena beberapa jam sebelumnya, rasa malu yang sama membuat Ayah menempatkanku di meja paling belakang.

Nenek menatapku.

Ayah pun perlahan mengikuti pandangannya.

Sepertinya ia baru menyadari hal yang sama.

Ia berjalan mendekatiku.

—Laras…

Aku menggeleng.

—Jangan minta maaf kepadaku sekarang. Selesaikan dulu urusan Nenek.

Ayah terdiam.

Perempuan dari asosiasi kemudian menjelaskan bahwa timnya tidak datang untuk langsung menuntut siapa pun. Mereka telah menghubungi perusahaan tersebut beberapa minggu sebelumnya.

Ada sebuah tawaran penyelesaian.

Nama Nenek harus dicatat sebagai pencipta asli motif itu dalam arsip perusahaan dan setiap pameran sejarah mereka.

Selain itu, perusahaan diminta mendanai program pelestarian bagi para perajin tradisional.

Pria tua tersebut berdiri lama sebelum akhirnya berkata,

—Saya perlu melihat semua bukti secara resmi.

—Tentu.

—Jika semuanya terbukti, saya tidak akan mempertahankan kebohongan yang dibuat generasi sebelum saya.

Ruangan kembali sunyi.

Kemudian ia melakukan sesuatu yang tidak kuduga.

Ia berjalan ke hadapan Nenek dan membungkukkan badan.

—Saya belum bisa meminta maaf atas sesuatu yang belum saya ketahui sepenuhnya. Tetapi saya bisa berjanji bahwa saya tidak akan menutupinya.

Nenek mengangguk.

—Itu sudah cukup untuk malam ini.

Aku mengira semuanya telah selesai.

Ternyata belum.

Perempuan dari asosiasi kembali mengambil mikrofon.

—Ada satu hal terakhir mengenai Mbak Laras.

Aku terkejut.

—Saya?

Layar kembali berubah.

Kali ini muncul logo proyekku.

Kemudian angka-angka.

Enam puluh tiga perajin.

Empat desa.

Ratusan produk.

Program pelatihan bagi perempuan yang kehilangan pekerjaan.

Dan sebuah kerja sama internasional yang belum pernah kuceritakan kepada keluarga.

Ibu menutup mulutnya.

Adikku menatapku tak percaya.

Kakakku tidak berkata apa-apa.

Perempuan itu tersenyum.

—Proyek yang didirikan Laras telah dipilih sebagai salah satu penerima dukungan pengembangan kerajinan tradisional untuk tiga tahun ke depan.

Tepuk tangan mulai terdengar.

Pelan.

Kemudian semakin keras.

Aku menatap Nenek.

Dia tersenyum sambil menangis.

Namun perempuan itu belum selesai.

—Dan ada satu syarat yang diajukan Laras sebelum menerima dukungan tersebut.

Ayah memandangku.

Aku berjalan ke depan.

Kali ini bukan karena seseorang menyuruhku.

Aku naik ke panggung dan menerima mikrofon.

—Saya tidak ingin nama saya menjadi nama utama program ini.

Semua orang terdiam.

Aku menoleh kepada Nenek.

—Saya ingin pusat pelatihan pertama kami menggunakan nama perempuan yang mengajarkan kepada saya bahwa pekerjaan tangan tidak pernah menjadi pekerjaan rendah.

Nenek menutup mulutnya.

Aku melanjutkan,

—Dan saya ingin tempat itu dibangun di rumah lama tempat Nenek dahulu mulai membatik.

Tepuk tangan memenuhi ruangan.

Aku turun dari panggung.

Namun sebelum aku mencapai Nenek, Ayah berdiri di depanku.

Matanya merah.

Ia menunjuk meja kehormatan di depan.

—Laras, duduklah di sana.

Aku menatap kursi itu.

Lalu menatap Ayah.

—Tidak, Yah.

Semua orang terdiam.

Aku tersenyum kecil.

—Aku tidak membutuhkan kursi di depan untuk mengetahui nilai diriku.

Wajah Ayah berubah.

Aku kemudian berjalan melewatinya dan duduk di samping Nenek.

Karena malam itu aku akhirnya mengerti sesuatu.

Selama bertahun-tahun aku berusaha membuktikan bahwa pilihanku tidak salah.

Padahal orang yang benar-benar percaya pada jalan hidupnya tidak membutuhkan meja kehormatan untuk membuktikannya.

Tetapi aku belum tahu bahwa keesokan paginya, satu keputusan dari kakakku akan membuat kontrak bisnisnya berada di ambang kehancuran—dan memaksanya datang ke bengkel yang selama bertahun-tahun ia hina untuk meminta bantuanku.

(Lanjutkan ke BAGIAN 3….)