BAGIAN 2 — DI BALIK TIGA PINJAMAN RAHASIA, AKU MENEMUKAN BUKTI BAHWA UANGKU HANYALAH AWAL DARI RENCANA KELUARGA SUAMIKU
Aku menatap suamiku beberapa detik sebelum akhirnya berjalan menuju pintu.
—Jangan dibuka dulu!
Dia tiba-tiba menarik lenganku.
Wajahnya pucat, napasnya tidak teratur.
—Kalau benar rumah ini dijadikan jaminan, kita harus tahu dulu apa yang sebenarnya terjadi.
Aku melepaskan tangannya.
—Justru karena itu kita harus membuka pintu.
Ketika pintu terbuka, dua pria dan seorang perempuan berdiri di luar. Mereka memperkenalkan diri sebagai petugas dari perusahaan pembiayaan dan menunjukkan identitas mereka.
Perempuan itu berbicara dengan tenang.
—Kami tidak datang untuk menyita rumah hari ini. Kami perlu mengklarifikasi dokumen karena ada ketidaksesuaian dalam proses verifikasi.
Aku sedikit lega.
Kami mempersilakan mereka masuk.
Beberapa lembar salinan dokumen diletakkan di atas meja.
Untuk pertama kalinya, aku melihat rincian tiga pinjaman itu.
Pinjaman pertama sebesar 250 juta rupiah.
Pinjaman kedua 550 juta.
Pinjaman ketiga 600 juta.
Totalnya 1,4 miliar rupiah.
Yang membuatku merinding bukan jumlahnya.
Melainkan tanggal pencairannya.
Pinjaman pertama dibuat delapan bulan lalu.
Tepat ketika ibu mertuaku mulai sering membicarakan keinginannya agar adik iparku membuka usaha.
Pinjaman kedua dibuat empat bulan kemudian.
Dan pinjaman terakhir dicairkan beberapa hari sebelum toko kosmetik itu dibuka.
Suamiku menunjuk tanda tangan di salah satu dokumen.
—Ini mirip tanda tangan saya, tapi saya tidak pernah menandatangani berkas ini.
Petugas perempuan itu mengangguk.
—Itulah alasan kami melakukan pemeriksaan ulang.
Kemudian dia mengeluarkan tablet.
Sebuah video diputar.
Di layar terlihat suamiku duduk di ruang makan rumah kami.
Dia menyebutkan nama lengkapnya.
Kemudian membaca sebuah kalimat:
“Saya menyatakan bahwa seluruh informasi yang saya berikan benar dan saya bertanggung jawab atas proses pengajuan ini.”
Suamiku menutup mulut.
Aku mengenali kaus yang dikenakannya.
Aku bahkan ingat malam itu.
Ibu mertuaku memang mengatakan video tersebut untuk urusan asuransi.
Namun video berhenti tepat setelah kalimat tadi.
Petugas itu berkata:
—Rekaman ini kemudian dilampirkan sebagai verifikasi pinjaman.
—Tapi saya ditipu!
Suamiku hampir berteriak.
—Saya tidak tahu itu untuk pinjaman!
—Karena itulah kami menyarankan Anda segera membuat laporan resmi jika merasa identitas Anda disalahgunakan.
Aku bertanya:
—Bagaimana dengan rumah ini?
Petugas itu membuka dokumen lain.
—Permohonan untuk memasukkan rumah sebagai jaminan baru diajukan pagi tadi. Belum disetujui.
Aku langsung mengembuskan napas panjang.
Suamiku hampir jatuh terduduk.
Namun kalimat berikutnya membuatku kembali tegang.
—Ada masalah lain.
Dia menunjuk nama pemilik yang tercantum pada dokumen rumah.
Namaku.
Hanya namaku.
Rumah itu kubeli dua tahun sebelum menikah melalui cicilan panjang. Setelah menikah, kami tinggal di sana bersama orang tua suamiku.
Aku tidak pernah mengubah kepemilikannya.
—Karena aset bukan atas nama peminjam, proses tidak dapat dilanjutkan tanpa persetujuan pemilik sah.
Aku menatap suamiku.
Untuk pertama kalinya sejak pagi tadi, aku merasa pikiranku benar-benar jernih.
Rumahku aman.
Setidaknya untuk saat ini.
Setelah ketiga petugas pergi, suamiku duduk di sofa sambil memegangi kepalanya.
—Aku tidak percaya Ibu melakukan ini.
Aku menatapnya tanpa berkata apa-apa.
Beberapa jam sebelumnya, dia masih menganggap mengambil tabunganku tanpa izin sebagai sesuatu yang wajar.
Sekarang, ketika hal serupa terjadi pada dirinya, barulah dia memahami rasa dikhianati.
Dia mengangkat wajah.
—Nisa, kita harus menemukan mereka.
Aku menjawab pelan:
—Kamu yang harus menemukan mereka.
Dia membeku.
Aku menarik koperku kembali.
—Aku tetap pergi.
—Di saat seperti ini?
—Justru di saat seperti ini.
Dia berdiri.
—Aku sedang punya utang 1,4 miliar!
—Dan aku kehilangan 120 juta karena kamu.
Dia terdiam.
—Masalah yang dilakukan ibumu kepadamu tidak menghapus apa yang kamu lakukan kepadaku.
Aku membuka pintu.
Kali ini dia tidak mencoba menghentikanku.
Aku tinggal sementara di rumah orang tuaku.
Ketika ibu melihatku datang membawa koper, beliau tidak bertanya apa pun.
Beliau hanya memelukku.
Pelukan sederhana itu membuat pertahananku runtuh.
Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, aku menangis di depan orang tuaku.
Bukan karena uang.
Melainkan karena akhirnya aku menyadari betapa lama aku menganggap pengorbanan sebagai kewajiban seorang istri.
Dua hari kemudian, suamiku menghubungiku.
Dia telah membuat laporan terkait dugaan penyalahgunaan identitas.
Ternyata ibu dan adiknya belum pergi jauh.
Mereka ditemukan tinggal di sebuah rumah sewa di kota lain.
Namun rahasia terbesar justru terbongkar setelah pemeriksaan rekening.
Dari total dana pinjaman, tidak semuanya digunakan untuk toko kosmetik.
Ratusan juta rupiah telah dipindahkan ke rekening pribadi ibu mertuaku.
Sebagian lagi dipakai adik iparku untuk membayar utang lama dari bisnis sebelumnya yang tidak pernah diketahui keluarga.
Toko kosmetik itu sejak awal dibangun di atas utang.
Bahkan uang 120 juta milikku hanya digunakan untuk menutup kekurangan biaya renovasi dan membeli persediaan awal.
Suamiku meneleponku malam itu.
Suaranya terdengar berbeda.
Tidak ada lagi nada memerintah.
—Nisa, aku sudah tahu semuanya.
Aku diam.
—Aku akan mengembalikan uangmu.
—Bagaimana?
—Aku punya tabungan.
Aku tertawa getir.
Akhirnya.
Tabungan yang selama tiga tahun tidak boleh disentuh siapa pun kini muncul.
Jumlahnya 310 juta rupiah.
—Aku akan mengembalikan 120 juta milikmu besok.
Aku tidak langsung menjawab.
Lalu dia berkata:
—Aku juga akan menjual mobil.
Mobil yang cicilannya selama ini sebagian besar kubantu bayar.
—Untuk apa?
—Menyelesaikan masalah yang menjadi tanggung jawabku.
Beberapa detik kemudian dia menambahkan:
—Dan aku akan pindah dari rumahmu.
Aku terdiam.
—Kenapa?
—Karena sekarang aku mengerti. Selama ini aku tinggal di rumahmu, makan dari uangmu, membiarkan orang tuaku hidup dari penghasilanmu, tapi tetap merasa semua itu adalah kewajibanmu.
Suaranya bergetar.
—Aku tidak punya hak meminta kamu terus tinggal bersamaku seolah tidak terjadi apa-apa.
Untuk pertama kalinya, dia mengucapkan sesuatu tanpa mencari pembenaran.
Keesokan harinya, 120 juta rupiah benar-benar masuk ke rekeningku.
Aku menatap notifikasi itu lama.
Namun anehnya, aku tidak merasa bahagia.
Uang bisa kembali.
Kepercayaan tidak sesederhana itu.
Tiga minggu kemudian, penyelidikan memasuki tahap baru.
Suatu sore, aku menerima telepon dari suamiku.
—Nisa, ada sesuatu yang harus kamu ketahui.
—Apa?
Dia menarik napas panjang.
—Ibu akhirnya mengaku siapa yang pertama kali merencanakan semua pinjaman itu.
Aku menunggu.
Namun nama yang keluar dari mulutnya sama sekali tidak kuduga.
—Bukan adikku.
Aku berdiri dari kursi.
—Lalu siapa?
Suara suamiku terdengar berat.
—Ayah.
Tanganku langsung membeku.
Ayah mertua yang sejak awal hampir tidak pernah ikut campur.
Pria pendiam yang selalu duduk di depan televisi dan mengaku tidak memahami urusan keuangan.
Ternyata selama delapan bulan terakhir, dialah orang yang mengatur semuanya.
Dan menurut suamiku, ada satu alasan mengapa dia membutuhkan uang sebanyak itu.
Alasan yang bahkan tidak diketahui ibu mertuaku sampai semuanya terbongkar.
(Lanjutkan ke BAGIAN 3….)
