REKAMAN TERAKHIR IBU MEMBUKA RAHASIA MALAM KEMATIAN AYAH, SEMENTARA UTANG SEPULUH MILIAR TERNYATA MENYEMBUNYIKAN PENGKHIANATAN YANG LEBIH BESAR

Avatar penulis
Cerita 05
6 menit baca 218 tayangan
Indeks

BAGIAN 2 — REKAMAN TERAKHIR IBU MEMBUKA RAHASIA MALAM KEMATIAN AYAH, SEMENTARA UTANG SEPULUH MILIAR TERNYATA MENYEMBUNYIKAN PENGKHIANATAN YANG LEBIH BESAR

—Adalah kakakmu sendiri.

Kalimat ibu dari ponsel tua itu membuat seluruh ruangan membeku.

Kakakku berhenti meronta.

Wajahnya pucat.

Aku menatapnya, lalu kembali menatap layar.

—Tujuh tahun lalu, ayahmu mengetahui ada uang toko yang hilang dalam jumlah besar. Kakakmu menggunakan stempel usaha tanpa izin untuk menjamin pinjaman. Awalnya jumlahnya belum terlalu besar, tetapi dia terus menutup satu utang dengan utang lain.

Aku menahan napas.

Ibu melanjutkan,

—Malam sebelum ayah meninggal, mereka bertengkar di gudang belakang toko.

Kakakku tiba-tiba berteriak.

—Cukup!

Aku menaikkan volume ponsel.

—Biarkan ibu menyelesaikannya.

Ia menatapku dengan mata merah.

—Kamu tidak tahu apa-apa!

—Itulah sebabnya aku mendengarkan.

Dalam video, ibu menarik napas panjang.

—Ayahmu sangat marah. Dia meminta kakakmu mengembalikan stempel dan berencana melaporkannya ke pihak bank keesokan harinya. Kakakmu memohon agar diberi waktu.

Lalu ibu mengatakan sesuatu yang sama sekali tidak kuduga.

—Mereka bertengkar hebat. Ayahmu mendorong kursi, kakakmu membanting pintu lalu pergi. Tidak lama setelah itu, ayah tiba-tiba memegangi dadanya dan jatuh.

Aku menatap kakakku.

—Jadi kau meninggalkan Ayah sendirian?

Bibirnya bergetar.

Namun video belum selesai.

—Kakakmu kembali beberapa menit kemudian. Dia melihat ayah tergeletak. Dia menelepon ambulans, tetapi terlambat.

Dadaku terasa sesak.

Jadi kakakku bukan pembunuh ayah.

Tetapi mengapa ibu mengatakan dia paling mengetahui apa yang terjadi?

Jawabannya segera muncul.

—Ibu menemukan sesuatu setelah pemakaman. Sebelum ambulans datang, kakakmu mengambil stempel toko dan sebuah map dari meja ayah. Dia takut semuanya terbongkar. Setelah ayah meninggal, dia memanfaatkan keadaan untuk menyembunyikan utangnya.

Aku memejamkan mata.

Potongan masa lalu mulai tersusun.

Sikap kakakku setelah pemakaman.

Keputusannya mengambil alih toko.

Keheningan ibu.

Dan bagaimana aku tiba-tiba dianggap tidak memiliki hak apa pun.

—Lalu bagaimana denganku? —bisikku.

Seolah mengetahui pertanyaan itu akan muncul, ibu dalam rekaman berkata,

—Kesalahan terbesar ibu adalah membiarkanmu pergi.

Air mataku jatuh.

—Ibu takut jika kamu mengetahui kepemilikan toko atas namamu, pihak pemberi pinjaman akan mengejarmu. Kakakmu mengatakan satu-satunya cara melindungimu adalah membuatmu percaya bahwa kamu tidak mendapatkan apa pun.

Aku menoleh tajam kepada kakakku.

—Jadi kalian mengusirku untuk melindungiku?

Ia tertawa pahit.

—Awalnya begitu.

—Awalnya?

Ia menunduk.

—Setelah kamu pergi, aku mulai berpikir kalau semuanya bisa diperbaiki sebelum kamu mengetahui kebenarannya.

—Dengan menjual rumah?

Ia tidak menjawab.

Aku mengerti.

Kesalahan yang awalnya ingin ditutupi sementara berubah menjadi kebohongan selama tujuh tahun.

Video ibu terus berjalan.

—Utang yang dulu dibuat kakakmu sudah dilunasi sebagian dari hasil penjualan rumah lama. Tetapi tiga tahun lalu, ibu mengetahui ada pinjaman baru bernilai lebih dari sepuluh miliar rupiah yang tercatat menggunakan aset toko sebagai jaminan.

Kakakku langsung mengangkat kepala.

—Yang itu bukan aku!

Aku menatapnya.

—Apa?

—Aku memang membuat utang tujuh tahun lalu. Aku mengaku. Aku juga menjual rumah untuk melunasinya. Tapi pinjaman sepuluh miliar itu bukan milikku.

Pria paruh baya yang menjemputku akhirnya bicara.

—Itulah alasan ibumu meminta saya menunggumu.

Ia memperkenalkan dirinya sebagai mantan akuntan ayah.

Selama setahun terakhir, ia membantu ibu memeriksa pembukuan.

Ia membuka kotak kayu pertama.

Di dalamnya terdapat salinan laporan transaksi, catatan lama, dan daftar pembayaran.

—Pinjaman baru diajukan melalui perusahaan yang menggunakan nama toko keluarga sebagai penjamin.

—Siapa pemilik perusahaan itu?

Ia menatap kakakku.

—Mantan rekan bisnis Anda.

Kakakku membeku.

Pria itu menyebut sebuah nama.

Aku tidak mengenalnya.

Tetapi reaksi kakakku cukup menjadi jawaban.

—Tidak mungkin.

Ia meraih salah satu salinan.

Tangannya gemetar.

—Dia bilang perusahaan itu sudah ditutup.

Ternyata bertahun-tahun sebelumnya, kakakku bekerja sama dengan seorang teman untuk memperluas bisnis distribusi.

Ketika usahanya gagal, kakakku menyerahkan sejumlah dokumen perusahaan kepada orang tersebut untuk menyelesaikan kewajiban terakhir.

Dokumen itu tidak pernah dimusnahkan.

Tiga tahun kemudian, dokumen lama tersebut digunakan untuk menciptakan transaksi dan jaminan yang tidak pernah disetujui keluarga kami.

Ibu menemukan kejanggalan ketika menerima surat penagihan.

Sejak itulah ia diam-diam mengumpulkan bukti.

—Kenapa Ibu tidak melapor? —tanyaku.

Pria paruh baya itu menghela napas.

—Karena beliau belum mempunyai bukti lengkap. Dan beliau takut putranya akan dipenjara karena transaksi lama ikut diperiksa.

Aku menatap kakakku.

Untuk pertama kalinya, pria yang selama ini kuanggap telah merebut seluruh hidupku terlihat benar-benar hancur.

Ia duduk perlahan.

—Aku yang memulai semuanya.

Tak ada pembelaan lagi dalam suaranya.

—Kalau tujuh tahun lalu aku tidak menggunakan stempel itu, Ayah mungkin tidak akan marah. Rumah tidak akan dijual. Ibu tidak perlu hidup dalam ketakutan. Dan kamu…

Ia menatapku.

—Kamu tidak akan pergi.

Aku ingin membencinya.

Selama penerbangan pulang, aku bahkan membayangkan akan meninggalkan negeri ini lagi tanpa menoleh.

Namun melihatnya saat itu, aku hanya merasa lelah.

—Jangan gunakan penyesalan untuk menghapus kesalahanmu.

Ia mengangguk.

—Aku tahu.

—Dan jangan berharap aku memaafkanmu hari ini.

—Aku juga tahu.

Tiba-tiba Nara mendekat dan memegang tanganku.

—Ibu, videonya belum selesai.

Aku tersentak.

Benar.

Layar masih menyala.

Aku menekan tombol putar.

Wajah ibu kembali muncul.

—Kalau kalian berdua sedang menonton ini bersama, ibu hanya meminta satu hal.

Suara ibu melemah.

—Jangan saling menghancurkan demi kesalahan yang sudah terjadi.

Aku menggigit bibir.

—Ibu sudah kehilangan suami. Jangan biarkan ibu juga kehilangan dua anak hanya karena kalian terlalu keras kepala untuk mengatakan kebenaran.

Video hampir berakhir.

Namun sebelum layar menjadi gelap, ibu mengangkat sebuah amplop ke depan kamera.

—Dan untuk rumah tempat ibu tinggal sekarang, jangan berebut.

Untuk pertama kalinya, ada sedikit senyum di wajahnya.

—Rumah itu bukan milik kalian berdua.

Aku dan kakakku saling berpandangan.

Ibu berkata,

—Ibu sudah menghibahkannya kepada Nara.

Aku membeku.

Nara menunjuk dirinya sendiri.

—Aku?

Layar kemudian gelap.

Untuk beberapa detik, tak seorang pun berbicara.

Lalu perempuan tua di samping lemari tertawa sambil menangis.

—Bahkan sampai akhir, ibumu masih tahu bagaimana membuat kalian berdua diam.

Aku menunduk memeluk Nara.

Namun ketenangan itu hanya berlangsung beberapa detik.

Ponsel pria paruh baya tiba-tiba berdering.

Ia mengangkatnya.

Wajahnya berubah serius.

—Kapan?

Ia berdiri.

—Jangan biarkan mereka masuk.

Setelah menutup telepon, ia menatap kami.

—Ada orang datang ke toko.

—Siapa?

—Pihak yang mengaku sebagai kreditur.

Jantungku kembali berdegup kencang.

—Mereka membawa petugas dan surat penyitaan.

Kakakku berdiri.

—Tidak mungkin. Prosesnya belum selesai.

Pria itu menatapnya.

—Mereka tidak datang untuk menunggu proses selesai.

Ia kemudian menoleh kepadaku.

—Kalau toko disegel malam ini, bukti transaksi asli yang disimpan ibumu di ruang administrasi bisa hilang.

Aku mengambil tas.

—Kalau begitu kita ke sana sekarang.

Kakakku menatapku tidak percaya.

—Kamu mau ikut?

Aku menggenggam tangan Nara dan menyerahkannya kepada perempuan tua itu.

Lalu aku menatap kakakku.

—Aku bukan pergi untuk menyelamatkanmu.

Aku mengambil kotak kayu milik ibu.

—Aku pergi untuk menyelesaikan apa yang Ibu tidak sempat selesaikan.

(Lanjutkan ke BAGIAN 3….)