Putraku Koma di ICU, Suamiku Dingin Meminta Cerai Lalu Terbang ke Bali Bersama Selingkuhannya
Putraku sedang koma di ruang ICU, sementara suamiku justru berdiri di lorong rumah sakit, bergandengan tangan dengan selingkuhannya, lalu melemparkan berkas perceraian tepat di hadapanku.
Dia mengatakan bahwa liburan ke Bali sudah dipesan sejak lama. Dia tidak mungkin membatalkan semua rencana hanya karena seorang anak belum juga sadar.
Tiga hari kemudian, rumah sakit mengungkap sebuah kenyataan yang membuat seluruh keluarganya runtuh.
Namaku Nadia Putri, usiaku tiga puluh tiga tahun, dan aku tinggal di Bandung, Jawa Barat.
Putraku, Raka, baru saja berusia enam tahun.

Pagi itu, aku duduk di kursi plastik yang dingin di depan ruang ICU Rumah Sakit Bina Kasih Bandung. Kedua mataku bengkak karena hampir dua belas jam tidak tidur. Dari balik kaca, aku hanya bisa melihat wajah kecil Raka di antara selang infus, monitor, dan alat bantu pernapasan yang terus mengeluarkan bunyi bip secara teratur.
Entah sudah berapa kali aku berdoa.
Asalkan Raka membuka matanya.
Asalkan dia memanggilku sekali saja, “Mama.”
Aku rela menukar apa pun.
Lalu suara sepatu kulit terdengar di sepanjang lorong.
Aku langsung mengangkat kepala.
Pada saat itu, aku masih berharap orang yang datang adalah Arif Pratama, suamiku sekaligus ayah Raka.
Arif memang datang.
Namun dia tidak datang sendirian.
Di sampingnya berjalan Citra Maharani, perempuan yang selama berbulan-bulan selalu Arif katakan hanya sebagai rekan bisnis properti perusahaannya.
Citra mengenakan gaun merah dan membawa tas bermerek di lengannya. Rambutnya ditata rapi, wajahnya dirias sempurna, sampai-sampai dia lebih tampak seperti seseorang yang hendak menghadiri pesta daripada menjenguk seorang anak yang sedang berjuang antara hidup dan mati.
Arif berhenti di hadapanku, lalu mengeluarkan setumpuk dokumen dari tas kerjanya.
“Tanda tangani.”
Aku menunduk.
Itu adalah berkas yang telah disiapkan oleh pengacaranya untuk mengurus proses perceraian di Pengadilan Agama Bandung.
Kupikir aku sudah terlalu sakit sampai tidak bisa merasakan apa-apa lagi.
Namun saat itu, dadaku tetap terasa tertusuk.
“Raka belum sadar, Arif.”
Dia menatapku dengan dingin.
“Dokter bilang kondisinya masih belum stabil. Kamu ayahnya. Tidak bisakah kamu menunggu beberapa hari lagi?”
Arif mengernyitkan dahi.
“Hubungan kita sudah lama berakhir. Raka sadar atau tidak, itu tidak akan mengubah keputusanku.”
Citra yang berdiri di sampingnya menghela napas pelan.
“Mbak Nadia, sebaiknya Mbak juga berpikir realistis. Mas Arif dan aku sudah memesan kamar di Nusa Dua dari jauh-jauh hari. Tiket pesawat malam ini juga sudah dibeli. Kalau semuanya dibatalkan sekarang, sayang sekali.”
Aku menatap perempuan itu dengan tidak percaya.
Putraku sedang berjuang mempertahankan hidup.
Sementara yang dia pikirkan hanyalah sebuah kamar resor di Bali.
Aku menoleh kepada Arif.
“Kamu benar-benar mau pergi?”
“Ya.”
“Lalu bagaimana dengan anakmu?”
Arif tersenyum sinis.
“Di rumah sakit ada dokter. Kamu juga bisa tetap di sini. Semua biaya yang perlu dibayar sampai hari ini sudah kulunasi.”
Aku langsung berdiri.
“Kamu bicara seolah-olah sedang beramal untuk anakmu sendiri.”
Wajah Arif seketika menjadi gelap.
“Jangan lupa kenapa Raka bisa terbaring di sini. Kalau hari itu kamu mau menjemputnya sendiri dan tidak terus sibuk dengan pekerjaan akuntansimu, dia tidak akan jatuh dari lantai dua.”
Ucapan itu menusuk tepat ke bagian paling sakit dalam hatiku.
Selama beberapa hari terakhir, aku juga terus menyalahkan diriku sendiri.
Pada hari kecelakaan itu terjadi, perusahaan tempatku bekerja sedang menjalani audit internal. Aku sebenarnya berencana meminta izin pulang sekitar pukul empat lewat tiga puluh untuk menjemput Raka, tetapi sekitar pukul tiga sore, Citra tiba-tiba menelepon.
Dia mengatakan Arif sedang berada di lokasi proyek. Karena aku juga sedang sibuk, dia menawarkan diri untuk menjemput Raka sekalian karena kebetulan melewati sekolahnya.
Aku setuju.
Kurang dari dua jam kemudian, Citra menelepon lagi.
Raka jatuh dari balkon lantai dua ke halaman.
Aku berlari ke rumah sakit dalam keadaan hampir kehilangan akal.
Citra menangis tersedu-sedu. Dia mengatakan hanya turun ke dapur selama beberapa menit untuk memotong buah, sementara Raka entah bagaimana berlari ke lantai atas lalu memanjat pagar balkon.
Arif muncul tidak lama kemudian.
Dia memang memelukku, tetapi kalimat pertama yang keluar dari mulutnya justru menyalahkanku karena tidak menjalankan tanggung jawab sebagai seorang ibu.
Saat itu, aku menerima semua kesalahan itu.
Aku sama sekali tidak tahu bahwa sebenarnya aku sedang berdiri di tengah sebuah sandiwara yang sudah direncanakan sejak awal.
Aku kembali menatap berkas perceraian itu, lalu mengambil pena.
“Aku tanda tangani.”
Arif tampak sedikit terkejut.
Aku menuliskan nama Nadia Putri di bagian akhir dokumen, lalu menatapnya.
“Tapi ingat baik-baik hari ini. Kalau Raka bangun nanti, aku akan menceritakan kepadanya apa yang dipilih ayahnya ketika dia sedang berada di antara hidup dan mati.”
Arif tidak menjawab.
Citra menarik lengannya.
“Ayo, Mas. Kita masih harus pulang mengambil koper.”
Mereka berdua berbalik dan pergi.
Aku melihat mereka menghilang di balik pintu lift, lalu kembali berdiri di depan ruang ICU.
“Raka, kamu harus bertahan.”
Aku menempelkan telapak tangan pada kaca yang dingin.
“Mama sudah tidak punya siapa-siapa selain kamu.”
Sekitar dua jam kemudian, ibu mertuaku, Ibu Ratna, datang bersama dua orang kerabat.
Hal pertama yang dia tanyakan bukan kondisi Raka.
Tatapannya langsung jatuh pada berkas di tanganku.
“Kamu sudah tanda tangan?”
Aku menatapnya.
“Arif memaksaku menandatanganinya tepat di depan ruang ICU.”
Ibu Ratna mengerutkan kening.
“Memaksa bagaimana? Kalau kalian memang sudah tidak punya perasaan lagi, ya bercerai saja. Arif masih punya masa depan. Masa dia harus menanggung seumur hidup seorang anak yang bahkan belum tentu bisa sadar lagi?”
Aku terpaku.
“Dia cucu kandung Ibu.”
“Cucu juga harus sehat.”
Ucapannya terdengar begitu datar.
“Kalau nanti dia hanya bisa terbaring seumur hidup, berapa banyak uang yang harus dikeluarkan keluarga ini? Arif masih punya perusahaan. Dia masih punya karier.”
Kemudian Ibu Ratna membicarakan rumah dua lantai kami di kawasan Antapani.
Dia bilang Arif berencana membiarkan Citra pindah ke rumah itu setelah perceraian selesai.
Aku tertawa karena terlalu pahit untuk menangis.
Sebagian besar uang untuk membeli rumah itu berasal dari hasil penjualan sebidang tanah kecil milik orang tuaku di kampung yang kemudian diberikan kepadaku. Sisanya berasal dari tabunganku sendiri dan cicilan yang kubayar selama bertahun-tahun.
“Tidak ada seorang pun yang boleh menyentuh rumah itu sebelum pengadilan memutuskan semuanya dengan jelas.”
kataku.
Ibu Ratna baru saja hendak memarahiku lagi ketika dokter yang menangani Raka, dr. Bima Santoso, keluar dari ruang ICU.
“Nyonya Nadia, silakan ikut saya ke ruang kerja.”
Wajahnya begitu serius sampai kakiku langsung terasa lemas.
Di dalam ruangan, dr. Bima meletakkan satu bundel berkas di atas meja.
“Kami baru menerima hasil pemeriksaan tambahan Raka.”
Aku menggenggam kedua tanganku erat-erat.
“Bagaimana kondisi anak saya, Dok?”
“Pertama-tama, saya ingin Ibu tetap tenang. Kami menemukan kandungan obat penenang dalam jumlah cukup besar di dalam darah Raka. Obat tersebut tidak termasuk dalam protokol pengobatan apa pun yang kami berikan di rumah sakit.”
Aku menatapnya.
“Obat penenang?”
“Benar.”
Dia memutar layar komputer ke arahku.
“Konsentrasinya sangat tidak normal. Untuk anak berusia enam tahun, jumlah seperti itu cukup untuk membuatnya sangat mengantuk, kehilangan keseimbangan, dan mengalami penurunan refleks pertahanan tubuh.”
Aku merasa seluruh ruangan seakan berputar.
“Maksud Dokter… Raka sudah meminum obat itu sebelum jatuh?”
“Kemungkinannya sangat besar.”
Saat itu juga, aku teringat pada satu detail.
Kotak susu.
Sepulang dari rumah sakit malam setelah kecelakaan, aku sempat kembali ke rumah untuk mengambil pakaian Raka. Di meja ruang keluarga masih ada sebuah kotak susu dengan sedotan yang sudah tertancap. Isinya tinggal separuh. Di sampingnya ada sepiring potongan apel yang bahkan belum disentuh.
Waktu itu aku tidak memikirkan apa pun.
Aku hanya mengambil pakaian Raka lalu kembali berlari ke rumah sakit.
Namun sekarang, ucapan dr. Bima membuat ingatan itu terasa seperti sebilah pisau yang perlahan ditarik dari tempat persembunyiannya.
“Dok…” suaraku bergetar. “Sebelum jatuh, Raka minum susu. Citra yang membelikannya.”
Dr. Bima langsung menatapku serius.
“Kotaknya masih ada?”
“Aku tidak tahu. Rumah sudah kutinggalkan sejak malam itu.”
“Jangan menyentuh atau membuang apa pun. Saya sarankan Ibu segera menghubungi polisi. Kalau benda itu masih ada, biarkan petugas yang mengamankannya.”
Aku mengangguk.
Ketika keluar dari ruangan dokter, lututku masih lemas, tetapi pikiranku justru terasa sangat jernih.
Untuk pertama kalinya sejak kecelakaan itu, aku berhenti menyalahkan diriku sendiri.
Aku kembali mengingat balkon lantai dua rumah kami.
Pagarnya terbuat dari kaca tebal dan tingginya hampir satu meter tiga puluh. Raka belum sampai seratus dua puluh sentimeter. Bahkan ketika kami pergi ke pusat perbelanjaan, dia selalu menggenggam tanganku erat saat berdiri dekat pagar lantai atas.
Raka takut ketinggian.
Sangat takut.
Tidak masuk akal dia tiba-tiba memanjat pagar balkon sendirian.
Aku segera menghubungi polisi.
Beberapa jam kemudian, dua petugas datang ke rumah bersama denganku. Mereka memeriksa ruang keluarga, dapur, tangga, dan balkon.
Kotak susu itu masih ada.
Entah karena terburu-buru atau terlalu yakin rencananya sempurna, Citra tidak membuangnya.
Petugas memasukkan kotak susu tersebut ke dalam kantong barang bukti.
Mereka juga memotret balkon dari berbagai sudut.
Salah seorang petugas berdiri di sebelah pagar lalu menatapku.
“Anak Ibu tingginya berapa?”
“Sekitar seratus lima belas sentimeter.”
Petugas itu mengangguk perlahan.
“Kalau tidak menggunakan kursi atau benda lain, sulit baginya untuk naik ke sini sendiri.”
Tidak ada kursi.
Tidak ada bangku.
Tidak ada bekas benda yang dipindahkan.
Sandal Raka bahkan ditemukan rapi di dekat sofa lantai bawah.
Semua itu membuat cerita Citra semakin rapuh.
Malamnya aku kembali ke rumah sakit.
Aku duduk di depan ICU sambil menatap telepon.
Instagram Citra baru saja diperbarui.
Dia mengunggah foto bersama Arif di sebuah resor mewah di Nusa Dua.
Citra mengenakan kacamata hitam besar, sedangkan Arif tersenyum sambil memegang gelas minuman.
Tulisan di bawah foto itu berbunyi:
“Memulai hidup baru bersama orang yang tepat.”
Tanganku menggigil.
Putraku sedang berjuang hidup.
Mereka merayakan hidup baru.
Namun kali ini aku tidak menangis.
Aku hanya mengambil tangkapan layar dan menyimpannya.
Sekitar pukul satu dini hari, seorang perawat mendatangiku.
“Bu Nadia, ada beberapa obat dan tindakan tambahan yang perlu dibayar di luar penjaminan sementara. Bagian administrasi meminta deposit dua puluh juta rupiah.”
Aku langsung membuka aplikasi mobile banking.
Rekening pribadiku hanya tersisa tiga juta lebih sedikit.
Aku lalu membuka rekening tabungan bersama yang selama bertahun-tahun kugunakan bersama Arif.
Aku yakin masih ada sekitar dua ratus lima puluh juta rupiah di sana.
Ketika layar terbuka, napasku berhenti.
Saldo tersedia:
Rp0.
Aku membuka mutasi rekening.
Seluruh uang telah dipindahkan sore tadi.
Penerima: Citra Maharani.
Aku membaca nama itu berkali-kali.
Arif bukan hanya meninggalkan anaknya.
Dia bahkan mengambil uang terakhir yang seharusnya bisa digunakan untuk pengobatan Raka.
Aku menelepon Ibu Ratna.
Butuh beberapa kali panggilan sebelum dia menjawab dengan nada kesal.
“Kenapa menelepon malam-malam?”
“Ibu, rumah sakit membutuhkan dua puluh juta rupiah untuk pengobatan Raka. Rekening kami kosong. Arif memindahkan semua uang.”
“Apa hubungannya dengan Ibu?”
Aku menahan napas.
“Raka cucu Ibu.”
“Kalau kamu ibunya, ya kamu yang cari uang.”
“Bu, aku hanya ingin meminjam. Besok aku akan mencoba mencari pinjaman dari teman atau kantor.”
Dia terdiam beberapa detik.
Lalu kalimat berikutnya menghancurkan sesuatu di dalam diriku untuk selamanya.
“Kalau anak itu akhirnya cacat dan hanya bisa berbaring seumur hidup, mau sampai kapan kalian menghabiskan uang? Kadang manusia harus menerima takdir.”
Tanganku mengepal.
“Jadi Ibu ingin Raka dibiarkan?”
“Jangan memutarbalikkan ucapan Ibu. Arif juga punya kehidupan sendiri.”
Aku mematikan telepon.
Malam itu aku pergi ke tempat gadai yang masih buka.
Aku melepas gelang emas pemberian ibuku.
Aku juga melepas cincin pernikahanku.
Cincin yang delapan tahun lalu dipasang Arif di jariku sambil berjanji akan menjagaku seumur hidup.
Sekarang benda itu tidak lebih dari logam yang bisa ditukar dengan uang.
Aku mendapatkan cukup uang untuk membayar kebutuhan rumah sakit.
Saat kembali ke ICU, aku menatap Raka dari balik kaca.
“Tidak apa-apa, Nak,” bisikku. “Mama masih bisa berdiri.”
Hari kedua berlalu seperti satu tahun.
Pagi itu Ibu Ratna datang bersama dua kerabat keluarga Arif.
Dia tidak menanyakan keadaan Raka.
Dia justru memarahiku karena belum meninggalkan rumah Antapani.
“Citra sedang mengandung anak Arif,” katanya dengan bangga. “Laki-laki. Keluarga kami akan punya cucu yang sehat.”
Aku membeku.
“Hamil?”
Ibu Ratna tersenyum kecil.
“Sudah hampir tiga bulan. Jadi jangan berpikir kamu masih bisa menggunakan Raka untuk menahan Arif.”
Aku tidak menjawab.
Namun ketika mereka pergi, potongan-potongan teka-teki mulai tersusun.
Arif memiliki utang besar.
Uang perusahaan banyak masuk ke proyek properti yang diperkenalkan Citra.
Rumah kami masih atas nama bersama.
Aku pasti tidak akan menandatangani penjualan rumah untuk membayar utang yang tidak pernah kusetujui.
Dan dua tahun lalu, atas saran agen asuransi, kami memang membeli perlindungan jiwa dan kecelakaan untuk Raka dengan nilai pertanggungan besar.
Aku merasa mual.
Apakah mereka ingin Raka mati?
Aku takut dengan pikiranku sendiri.
Namun aku juga tidak bisa lagi mengabaikan kemungkinan itu.
Pada pagi hari ketiga, dr. Bima meminta aku datang ke ruang rapat rumah sakit.
Di dalam sudah ada direktur rumah sakit dan dua petugas kepolisian.
Aku hampir tidak sanggup duduk.
Dr. Bima membuka pembicaraan.
“Bu Nadia, saya mulai dari kabar baik. Kondisi Raka membaik.”
Aku langsung menatapnya.
“Benarkah?”
“Tekanan intrakranialnya menurun. Respons sarafnya juga mulai muncul. Kalau tidak ada komplikasi baru, kami berharap Raka bisa sadar dalam dua puluh empat sampai empat puluh delapan jam.”
Air mataku langsung jatuh.
Aku menutup mulut dengan kedua tangan.
“Terima kasih, Dok… terima kasih.”
Untuk pertama kalinya selama tiga hari, dunia terasa memiliki cahaya.
Namun salah seorang penyidik kemudian membuka map di depannya.
“Hasil pemeriksaan laboratorium juga sudah keluar. Obat penenang ditemukan dalam konsentrasi yang sangat tinggi. Jejak zat yang sama ditemukan pada sisa susu yang diamankan dari rumah.”
Aku menatapnya tanpa berkedip.
“Jadi… seseorang benar-benar memasukkannya?”
“Kami punya alasan kuat untuk menduga demikian.”
Dia melanjutkan bahwa kasus itu kini diselidiki sebagai tindak pidana serius terhadap anak.
Polisi juga mulai memeriksa rekaman gerbang kompleks, riwayat komunikasi, transaksi keuangan, dan orang-orang yang terakhir bersama Raka.
Lalu dr. Bima mengeluarkan sebuah map lain.
“Ada satu hal lagi, Bu Nadia.”
Aku menoleh.
“Dalam penelusuran rekam medis keluarga, kami menemukan catatan pemeriksaan Pak Arif di rumah sakit ini sekitar delapan bulan lalu.”
“Arif?”
Aku tidak tahu dia pernah datang.
Pada waktu itu, dia mengatakan sedang melakukan perjalanan bisnis ke luar kota.
Dr. Bima menunjukkan kesimpulannya.
Arif pernah menjalani pemeriksaan andrologi.
Diagnosisnya adalah azoospermia, kondisi ketika tidak ditemukan sperma dalam cairan semen pada pemeriksaan saat itu.
Aku membaca kalimat tersebut berulang kali.
Lalu teringat ucapan Ibu Ratna.
Citra hamil tiga bulan.
Aku mengangkat wajah.
“Dok… apakah itu berarti Arif tidak mungkin menjadi ayah bayi Citra?”
Dr. Bima berhati-hati menjawab.
“Dalam dunia medis kami tidak boleh mengambil kesimpulan mengenai kehamilan seseorang hanya dari satu informasi. Namun berdasarkan hasil pemeriksaan yang tercatat, kemampuan Pak Arif untuk memiliki anak secara alami pada waktu itu dinilai sangat rendah. Jika ada klaim kehamilan, kepastian biologis harus diperiksa secara khusus.”
Aku hampir tertawa.
Bukan karena lucu.
Karena ironi itu terlalu kejam.
Arif meninggalkan anaknya sendiri demi bayi yang bahkan belum tentu miliknya.
Aku keluar dari ruangan lalu meneleponnya melalui WhatsApp.
Dia menjawab setelah cukup lama.
Suara ombak dan musik terdengar dari seberang.
“Apa lagi?”
“Raka masih hidup.”
Dia diam.
“Dokter bilang dia mungkin sadar dalam satu atau dua hari.”
“Aku sedang liburan, Nadia. Jangan mulai membuat drama.”
Aku menghela napas.
“Polisi juga sudah menemukan obat penenang di tubuh Raka dan di sisa susunya.”
Suara di seberang mendadak sunyi.
“Apa?”
“Dan aku punya hadiah lain untukmu.”
Aku mengirim foto salinan kesimpulan pemeriksaan androloginya.
Beberapa detik kemudian terdengar suara benda jatuh.
“Nadia… dari mana kamu dapat ini?”
“Rumah sakit.”
“Ini pasti salah.”
“Kamu tahu kamu pernah diperiksa delapan bulan lalu.”
Dia mulai bernapas berat.
Lalu aku berkata pelan:
“Citra bilang dia hamil tiga bulan, kan?”
Tidak ada jawaban.
“Kalau begitu, mungkin kamu sebaiknya bertanya siapa ayah bayinya.”
Tiba-tiba suara Arif berubah.
“Citra!”
Aku mendengar suara perempuan mendekat.
“Ada apa, Mas?”
“Ke sini.”
“Apa?”
“Bayi itu anak siapa?”
Citra langsung meninggikan suara.
“Mas bicara apa sih?”
“Jawab!”
Aku mendengar pertengkaran mereka dari telepon.
Citra menangis.
Arif membentak.
Kemudian terdengar suara pegawai hotel mencoba menenangkan keadaan.
Aku memutus panggilan.
Aku tidak merasa menang.
Aku hanya merasa sangat lelah.
Malam itu aku menghubungi Maya Anindita, teman kuliahku yang sekarang bekerja di bidang investigasi fraud perusahaan.
Sebelumnya aku pernah bercerita kepadanya tentang investasi Arif yang mencurigakan.
Setelah mendengar kasus Raka, Maya membantu menelusuri jejak bisnis Citra melalui data publik dan sejumlah mantan mitra.
Dua hari kemudian, Maya datang ke rumah sakit membawa beberapa dokumen.
“Nadia, perempuan itu punya banyak masalah.”
Dia menunjukkan beberapa laporan lama.
Nama Citra Maharani ternyata pernah muncul dalam sengketa investasi properti.
Ada beberapa orang yang mengaku kehilangan ratusan juta rupiah setelah berinvestasi melalui jaringan yang sama.
Maya juga menemukan seorang pria bernama Doni Saputra, yang berkali-kali terlihat bersama Citra jauh sebelum Citra mengenal Arif.
“Dan soal kehamilan?”
tanyaku.
Maya menggeleng.
“Aku belum menemukan bukti medis bahwa dia benar-benar hamil. Foto USG yang pernah dia unggah ternyata sama dengan gambar yang pernah beredar di akun lain.”
Aku terdiam.
Jadi bahkan kehamilan itu mungkin bohong.
Keesokan harinya Arif kembali ke Bandung.
Dia datang ke rumah sakit dengan wajah kusut.
Tidak ada lagi lelaki percaya diri yang datang membawa dokumen perceraian.
Dia terlihat seperti seseorang yang baru sadar lantai di bawah kakinya telah menghilang.
“Nadia.”
Aku berdiri di depan ICU.
“Apa?”
“Citra pergi.”
Aku hanya menatapnya.
“Dia mengambil uangku. Ada transfer lain. Aku tidak bisa menghubunginya.”
“Itu urusanmu.”
“Nadia, dengarkan aku.”
“Untuk apa?”
Arif memegang kepalanya.
“Aku dibohongi.”
Aku tersenyum pahit.
“Dan Raka?”
Dia terdiam.
“Kamu juga dibohongi sampai lupa bahwa dia anakmu?”
“Aku tidak tahu Citra akan melakukan sesuatu pada Raka.”
“Benarkah?”
“Aku bersumpah.”
“Kalau begitu jelaskan kenapa setelah anakmu jatuh, kamu bahkan tidak bertanya apa yang sebenarnya terjadi. Kamu justru menyalahkanku. Tiga hari kemudian kamu pergi ke Bali.”
Arif menunduk.
“Aku salah.”
“Tidak, Arif. Salah itu ketika orang lupa membawa dompet. Yang kamu lakukan adalah pilihan.”
Dia menangis.
Untuk pertama kalinya dalam delapan tahun, aku melihat Arif menangis seperti anak kecil.
Namun anehnya, hatiku tidak bergerak.
Dulu aku mungkin akan memeluknya.
Sekarang aku hanya melihat seorang lelaki yang terlambat memahami harga dari tindakannya.
Tidak lama kemudian dua polisi datang.
Mereka meminta Arif ikut untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Arif menatapku sebelum pergi.
“Jaga Raka.”
Aku menjawab pelan.
“Itu sudah kulakukan sejak dia lahir.”
Beberapa jam setelah Arif dibawa pergi, aku mendapat hadiah terbesar dalam hidupku.
Jari Raka bergerak.
Aku berdiri begitu cepat sampai kursiku hampir jatuh.
“Raka?”
Kelopak matanya bergetar.
Kemudian perlahan terbuka.
Matanya tampak bingung.
Aku mendekat.
“Mama di sini.”
Bibirnya bergerak.
“Mama…”
Aku menangis begitu keras sampai perawat harus memintaku tenang.
Raka mengangkat tangannya yang lemah.
“Peluk…”
Aku meraih tangannya.
“Mama tidak ke mana-mana.”
Hari itu aku merasa dilahirkan kembali bersama putraku.
Raka masih harus menjalani perawatan panjang.
Dia perlu fisioterapi.
Dia kadang mengalami sakit kepala.
Awalnya dia takut pada tangga dan tidak mau tidur sendirian.
Tetapi perlahan-lahan dia pulih.
Polisi terus bekerja.
Dari data transaksi dan komunikasi, terungkap bahwa Citra memang terlibat jaringan penipuan investasi bersama Doni dan beberapa orang lain.
Mereka menggunakan perusahaan cangkang dan proyek tanah yang kepemilikannya bermasalah untuk menarik dana.
Arif telah menanamkan uang perusahaan dan uang pribadi dalam jumlah sangat besar.
Mengenai kejadian Raka, penyidik menemukan komunikasi sebelum kecelakaan yang memperkuat dugaan adanya perencanaan.
Proses hukum tidak selesai dalam semalam.
Ada pemeriksaan saksi.
Ada ahli.
Ada bukti digital yang harus diverifikasi.
Ada persidangan panjang.
Aku belajar bahwa keadilan di dunia nyata bukan sebuah pintu yang langsung terbuka ketika kebenaran ditemukan.
Keadilan lebih menyerupai jalan panjang yang harus dilewati sedikit demi sedikit.
Citra dan Doni akhirnya ditangkap ketika mencoba berpindah kota setelah mengetahui polisi mencari mereka.
Kasus penipuan dan kasus terhadap Raka diproses sesuai bukti masing-masing.
Arif pun harus mempertanggungjawabkan perannya berdasarkan apa yang berhasil dibuktikan penyidik dan jaksa.
Aku hadir di beberapa sidang.
Tidak untuk menikmati kehancuran siapa pun.
Aku datang karena Raka tidak bisa berbicara untuk dirinya sendiri ketika semua itu terjadi.
Jadi aku yang berbicara untuknya.
Di luar perkara pidana, proses perceraianku dengan Arif juga berjalan.
Aku membawa bukti transfer.
Bukti kontribusi pembelian rumah.
Rekening cicilan.
Dokumen dari orang tuaku.
Untuk pertama kalinya aku merasa bersyukur karena selama bertahun-tahun bekerja sebagai akuntan, aku terbiasa menyimpan dokumen.
Rumah Antapani akhirnya diselesaikan melalui proses hukum dan pembagian hak yang jelas.
Aku mendapat bagian yang memang menjadi hakku.
Aku tidak mengambil lebih.
Aku juga tidak mau kurang.
Setelah semuanya selesai, aku menjual bagianku dan membeli sebuah rumah yang lebih kecil di kawasan yang tenang di Bandung.
Hanya satu lantai.
Ada halaman kecil.
Ada dua kamar.
Dan ada pohon jambu yang setiap pagi didatangi burung.
Pertama kali melihat rumah itu, Raka bertanya:
“Di sini tidak ada balkon, Ma?”
Aku tersenyum.
“Tidak ada.”
Dia langsung mengangguk.
“Aku suka.”
Aku menggunakan sebagian uang yang tersisa untuk membuka usaha kecil dari rumah.
Aku menjual perlengkapan rumah tangga dan produk buatan UMKM melalui marketplace.
Awalnya pesanan hanya lima atau enam sehari.
Lalu menjadi dua puluh.
Lalu lima puluh.
Aku tidak menjadi kaya.
Tetapi untuk pertama kalinya, setiap rupiah yang masuk terasa benar-benar milikku.
Tidak ada orang yang diam-diam memindahkannya.
Tidak ada investasi misterius.
Tidak ada kebohongan.
Enam bulan setelah kecelakaan, Raka kembali sekolah penuh.
Pagi pertamanya, dia berdiri di depan cermin sambil merapikan seragam merah putihnya.
“Mama.”
“Ya?”
“Aku kelihatan kuat?”
Aku berlutut di depannya.
“Sangat kuat.”
“Lebih kuat dari Papa?”
Pertanyaan itu membuatku terdiam.
Aku tidak ingin membesarkan Raka dengan kebencian kepada ayahnya.
Jadi aku menjawab:
“Orang kuat bukan orang yang tidak pernah salah. Orang kuat adalah orang yang berani melakukan hal benar meski sulit.”
Raka berpikir sebentar.
Lalu tersenyum.
“Berarti Mama kuat.”
Aku tertawa sambil menahan air mata.
Beberapa bulan kemudian Ibu Ratna datang.
Dia berdiri di depan pagar rumah baruku dengan tubuh yang tampak jauh lebih tua.
Tidak ada perhiasan mencolok.
Tidak ada suara tinggi.
Dia membawa sekotak kue dan sebuah mobil-mobilan kecil untuk Raka.
“Nadia…”
Aku berdiri di ambang pintu.
“Ada apa, Bu?”
Dia menunduk.
“Ibu ingin minta maaf.”
Aku tidak langsung menjawab.
“Ibu salah kepada kamu. Juga kepada Raka.”
Matanya mulai berair.
“Ibu terlalu membela Arif. Ibu terlalu percaya bahwa keluarga harus selalu berpihak pada anak sendiri, bahkan ketika anak sendiri salah.”
Aku memandangnya lama.
“Maaf tidak bisa menghapus semuanya, Bu.”
“Ibu tahu.”
“Raka pernah hampir meninggal. Dan ketika saya meminta bantuan, Ibu mengatakan lebih baik menerima takdir.”
Dia menangis.
“Aku tahu.”
Aku tidak memeluknya.
Aku juga tidak mengusirnya.
Aku hanya mengatakan:
“Kalau suatu hari Raka ingin bertemu Ibu, saya tidak akan melarang. Tapi keputusan itu harus mengikuti kesiapan Raka, bukan keinginan kita.”
Ibu Ratna mengangguk.
“Terima kasih.”
Setelah dia pergi, aku merasa aneh.
Bukan lega.
Bukan puas.
Hanya tenang.
Aku akhirnya memahami bahwa memaafkan dan membuka kembali pintu adalah dua hal berbeda.
Aku bisa berhenti membawa kemarahan tanpa harus mengizinkan orang yang sama menyakitiku lagi.
Setahun setelah kecelakaan, suatu sore hujan turun lembut di Bandung.
Aku sedang mengemas pesanan di ruang tengah ketika Raka duduk di lantai menggambar.
Dia sekarang sudah tujuh tahun.
Bekas luka kecil di dekat rambutnya masih ada.
Namun dia sudah bisa berlari.
Bisa bersepeda.
Bisa tertawa sampai perutnya sakit.
“Mama, lihat!”
Dia berlari membawa gambar.
Di kertas itu ada sebuah rumah kecil.
Ada pohon.
Ada matahari besar.
Dan dua orang bergandengan tangan.
“Ini siapa?”
Aku menunjuk sosok yang lebih besar.
“Mama.”
Dia menunjuk sosok kecil di sebelahnya.
“Ini Raka.”
Aku tersenyum.
“Cuma kita?”
Raka berpikir sebentar.
Lalu mengangguk.
“Untuk sekarang, iya.”
Aku tertawa.
“Kenapa?”
Dia memeluk pinggangku.
“Karena rumah kita sudah cukup ramai kalau Mama ngomel soal mainan.”
Aku mencubit pipinya.
“Dasar.”
Kami tertawa bersama.
Lalu Raka kembali duduk di lantai dan menambahkan seekor kucing ke gambar.
“Sekarang tiga.”
Aku melihatnya menggambar sambil mendengar suara hujan di luar.
Dulu aku berpikir keluarga yang sempurna harus memiliki ayah, ibu, anak, rumah besar, mobil bagus, dan foto-foto liburan yang indah.
Sekarang aku tahu aku salah.
Keluarga bukan tentang berapa orang yang duduk di meja makan.
Keluarga adalah tempat seseorang merasa aman.
Tempat anak tidak takut ditinggalkan ketika sakit.
Tempat uang tidak lebih penting daripada nyawa.
Tempat cinta tidak dipakai sebagai alasan untuk mengendalikan atau menyakiti.
Aku pernah kehilangan pernikahan.
Kehilangan rumah besar.
Kehilangan tabungan.
Kehilangan kepercayaan kepada orang yang pernah paling kucintai.
Namun aku mendapatkan kembali sesuatu yang jauh lebih penting.
Diriku sendiri.
Dan aku mendapatkan kesempatan kedua bersama Raka.
Malam itu, setelah hujan berhenti, udara Bandung terasa dingin dan bersih.
Aku menutup pintu rumah setelah memastikan semua pesanan siap dikirim besok.
Raka sudah berbaring di tempat tidur.
Aku menyelimutinya.
“Mama?”
“Hmm?”
“Besok jemput aku lebih cepat, ya.”
“Kenapa?”
“Aku mau makan bakso.”
Aku tersenyum.
“Boleh.”
“Terus es krim.”
“Pilih satu.”
“Bakso dan es krim kan beda jenis makanan.”
Aku tertawa.
“Kamu pintar sekali kalau soal begini.”
Raka terkikik.
Aku mematikan lampu lalu berjalan menuju pintu kamar.
Sebelum keluar, aku mendengar suaranya lagi.
“Ma.”
Aku menoleh.
“Aku sayang Mama.”
Dadaku menghangat.
“Mama juga sayang Raka.”
Aku menutup pintu perlahan.
Di ruang tengah, gambar yang dibuatnya sore tadi masih tergeletak di meja.
Rumah kecil.
Pohon.
Matahari.
Mama.
Raka.
Dan seekor kucing yang baru ditambahkan.
Tidak ada vila di Bali.
Tidak ada mobil mewah.
Tidak ada rekening berisi ratusan juta rupiah.
Namun ketika melihat gambar itu, aku sadar aku tidak merasa kehilangan apa pun.
Karena akhirnya aku memiliki sesuatu yang selama bertahun-tahun tidak pernah benar-benar kumiliki.
Kedamaian.
Aku berdiri di depan jendela dan melihat lampu-lampu Bandung berkilau setelah hujan.
Setahun lalu, di lorong ICU yang dingin, aku mengira hidupku sudah berakhir.
Ternyata tidak.
Yang berakhir hanyalah kehidupan yang selama ini kupaksakan untuk tetap utuh.
Kadang sesuatu memang harus runtuh agar kita bisa melihat mana yang benar-benar layak dibangun kembali.
Dan kali ini, aku tidak membangun hidupku di atas janji seseorang.
Aku membangunnya dengan tanganku sendiri.
Untuk diriku.
Untuk Raka.
Untuk sebuah rumah kecil yang mungkin tidak sempurna di mata orang lain, tetapi dipenuhi satu hal yang selama ini paling kami butuhkan.
Rasa aman.
Aku tersenyum, mematikan lampu ruang tengah, lalu berjalan menuju kamar.
Besok pagi aku akan kembali bangun lebih awal.
Menyiapkan sarapan.
Mengantar Raka ke sekolah.
Memeriksa pesanan toko.
Menjemputnya sebelum sore.
Lalu mungkin kami benar-benar akan makan bakso dan es krim sekaligus.
Kehidupan kami tidak lagi mewah.
Tetapi kehidupan itu milik kami.
Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, itu sudah lebih dari cukup.
