AKU MENGGENDONG TEMAN SEKELASKU KE SEKOLAH SELAMA 2 TAHUN, 23 TAHUN KEMUDIAN DIA MENJADI DIREKTUR UTAMA, DAN SEBUAH WAWANCARA MENGUBAH SEGALANYA

Avatar penulis
Cerita 01
20 menit baca 798 tayangan
AKU MENGGENDONG TEMAN SEKELASKU KE SEKOLAH SELAMA 2 TAHUN, 23 TAHUN KEMUDIAN DIA MENJADI DIREKTUR UTAMA, DAN SEBUAH WAWANCARA MENGUBAH SEGALANYA
Indeks

AKU MENGGENDONG TEMAN SEKELASKU KE SEKOLAH SELAMA 2 TAHUN, 23 TAHUN KEMUDIAN DIA MENJADI DIREKTUR UTAMA, DAN SEBUAH WAWANCARA MENGUBAH SEGALANYA

Ada kebaikan yang kita lakukan saat masih muda hanya karena kita berpikir sederhana: seseorang sedang kesulitan, dan kita bisa membantunya.

Kita tidak mengharapkan balasan.

Tidak memikirkan masa depan.

Bahkan tidak pernah membayangkan bahwa lebih dari dua puluh tahun kemudian, kebaikan kecil itu justru menjadi benang yang kembali mempertemukan dua kehidupan yang seolah telah berjalan ke arah yang sama sekali berbeda.

Namaku Bima Pratama.

AKU MENGGENDONG TEMAN SEKELASKU KE SEKOLAH SELAMA 2 TAHUN, 23 TAHUN KEMUDIAN DIA MENJADI DIREKTUR UTAMA, DAN SEBUAH WAWANCARA MENGUBAH SEGALANYA

Aku lahir di sebuah desa kecil di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, tempat hamparan sawah membentang hingga kaki pegunungan, dan warga sehari-hari akrab dengan suara sepeda motor tua, sapaan dari warung-warung di tepi jalan, serta aroma jerami basah setelah hujan tropis turun.

Keluargaku miskin.

Ayah bekerja sebagai buruh bangunan dari satu proyek ke proyek lain. Ibu menanam padi dan sayuran, lalu sesekali membawa pisang, tahu, dan tempe ke pasar untuk dijual.

Rumah kami hanyalah rumah sederhana beratap genteng tanah liat yang warnanya mulai kusam. Di belakang rumah tumbuh beberapa pohon pisang dan berdiri sebuah kandang ayam kecil.

Aku bukan anak yang pintar di sekolah.

Nilai-nilaiku hanya biasa saja. Namun sejak kecil tubuhku lebih kuat dibandingkan anak-anak seusiaku karena aku sering membantu Ayah mengangkat sak semen, membawa batu bata, dan membantu Ibu bekerja di sawah.

Saat aku duduk di kelas 8 di sebuah SMP Negeri dekat desa kami, ada seorang teman perempuan di kelasku bernama Alya Rahmawati.

Alya sangat berbeda dariku.

Dia sangat pintar, hampir selalu menjadi juara kelas, tulisannya rapi, cara bicaranya lembut, dan matanya begitu cerah hingga setiap kali guru mengajukan pertanyaan, hanya dengan melihat tatapannya orang sudah bisa menebak bahwa dia tahu jawabannya.

Namun sejak kecil Alya memiliki keterbatasan fisik.

Penyakit berat yang pernah dideritanya sewaktu kecil meninggalkan dampak pada kaki kirinya. Kaki itu menjadi lemah dan mengalami penyusutan otot, sehingga Alya harus menggunakan satu tongkat penyangga untuk berjalan.

Sekolah kami waktu itu masih sangat sederhana.

Banyak bagian halaman sekolah yang belum dipaving. Saat musim kemarau, debu merah beterbangan dan menempel di seragam. Saat musim hujan, tanah berubah menjadi lumpur licin. Toilet sekolah pun berada di ujung halaman, dekat deretan pohon pisang dan sebuah saluran air kecil.

Bagi siswa biasa, berjalan dari kelas menuju toilet bukanlah sesuatu yang sulit.

Namun bagi Alya, setiap kali hujan turun, perjalanan itu berubah menjadi tantangan besar.

Suatu pagi pada musim hujan, aku menyadari Alya sudah cukup lama meninggalkan kelas tetapi belum juga kembali.

Aku pun mencarinya.

Ketika mendekati area toilet, aku melihatnya duduk di tanah yang basah.

Tongkat penyangganya tergeletak beberapa meter dari tempatnya berada.

Bagian bawah seragam putih birunya penuh lumpur.

Alya menundukkan kepala sambil menangis.

Itulah pertama kalinya aku melihat gadis yang selalu tampak kuat itu benar-benar tidak berdaya.

Aku mengambil tongkatnya, membersihkan lumpur yang menempel, lalu menyerahkannya kepadanya.

Alya mencoba berdiri, tetapi kakinya gemetar terlalu hebat.

Saat itu aku tidak berpikir panjang.

Aku membalikkan badan lalu berjongkok di depannya.

“Naik.”

Alya menatapku bingung.

“Apa?”

“Aku gendong kamu kembali ke kelas.”

Dia langsung menggeleng.

“Jangan, Bima. Nanti semua orang melihat.”

Aku menunjuk jalan berlumpur di depan kami.

“Lebih menakutkan kalau kamu memaksakan diri berjalan sendiri lalu jatuh lagi.”

Alya terdiam.

Beberapa saat kemudian, aku merasakan kedua lengannya yang kurus perlahan melingkar di bahuku.

Aku berdiri.

Tubuhnya begitu ringan hingga dadaku terasa sesak.

Aku menggendong Alya kembali menuju kelas.

Aku sama sekali tidak menyangka bahwa perjalanan yang hanya beberapa puluh meter pada hari itu akan menjadi awal dari sebuah janji yang berlangsung selama dua tahun.

Sejak hari itu, setiap kali hujan turun, setiap kali Alya harus berpindah ke gedung kelas lain, atau ketika dia harus melewati jalan yang licin, aku selalu menggendongnya.

Pada awalnya, teman-teman sering menggoda kami.

Ada yang bersiul.

Ada pula yang bertanya apakah aku pacarnya Alya.

Kedua telingaku langsung terasa panas, sementara Alya biasanya malu dan menyembunyikan wajahnya di bahuku.

Namun setelah beberapa bulan, semua orang berhenti menggoda.

Mereka mulai terbiasa melihat seorang anak laki-laki bertubuh tinggi membungkuk di samping meja, sementara seorang gadis kecil meletakkan tangannya di bahunya lalu naik ke punggungnya.

Selama dua tahun, sejak kelas 8 sampai kelas 9, punggungku hampir seperti menjadi “sepasang kaki kedua” bagi Alya.

Suatu hari hujan turun sangat deras dan aku terpeleset di koridor sekolah.

Pada saat tubuhku hampir jatuh, aku refleks memutar badan agar Alya jatuh di atas tubuhku.

Siku tanganku terluka.

Lututku berdarah.

Alya begitu panik hingga menangis.

Aku justru tertawa.

“Tidak apa-apa. Kulitku tebal.”

Dia menangis sambil memarahiku karena dianggap terlalu nekat.

Pada kesempatan lain, Alya tiba-tiba mengalami demam tinggi saat berada di sekolah.

Pusat kesehatan masyarakat atau puskesmas berada cukup jauh dari sekolah kami.

Aku mengenakan jas hujan, lalu menggendong Alya melewati jalan desa yang tergenang air menuju puskesmas.

Ketika petugas medis akhirnya menerima dan memeriksanya, pakaianku sudah basah kuyup.

Aku bahkan tidak tahu lagi mana air hujan dan mana keringat.

Namun saat itu aku hanya merasa lega karena Alya sudah berada di tempat yang aman.

Kemudian tibalah hari kelulusan SMP.

Alya memperoleh nilai yang sangat tinggi dan diterima di sebuah SMA bergengsi di Yogyakarta.

Sementara itu, aku tahu keluargaku tidak memiliki cukup uang untuk membiayaiku melanjutkan sekolah.

Pada sore terakhir sebelum kami berpisah, Alya memberiku sebuah buku kecil.

Di halaman pertama terdapat fotonya serta sebuah kalimat yang ditulis dengan rapi:

“Terima kasih, Bima. Kamu adalah sepasang kaki kedua Alya yang paling kuat. Di mana pun kita berada nanti, aku tidak akan pernah melupakanmu.”

Aku membaca kalimat itu berulang kali.

Namun ketika bus yang membawa Alya perlahan meninggalkan desa, aku akhirnya memahami bahwa kami sedang melangkah menuju dua dunia yang berbeda.

Bus yang membawa Alya semakin kecil di ujung jalan, lalu akhirnya menghilang di balik tikungan. Aku masih berdiri di depan gerbang desa dengan buku kecil pemberiannya di tangan. Saat itu aku belum tahu bahwa aku baru saja mengucapkan selamat tinggal kepada seseorang yang kelak akan mengubah hidupku untuk kedua kalinya.

Setelah Alya pergi ke Yogyakarta, kehidupanku berjalan dengan arah yang sama sekali berbeda.

Aku tidak melanjutkan sekolah ke SMA. Kondisi ekonomi keluarga memang tidak memungkinkan. Ayah mengajakku bicara suatu malam setelah salat Magrib. Dengan suara berat, beliau meminta maaf karena tidak mampu membiayai sekolahku lebih lama.

Aku justru tersenyum.

“Tidak apa-apa, Yah. Bima bisa bekerja.”

Beberapa minggu kemudian, aku mulai belajar di sebuah bengkel kecil di Klaten milik seorang pria bernama Pak Darma.

Pak Darma terkenal keras. Suaranya besar, wajahnya hampir selalu terlihat serius, dan tangannya tak pernah benar-benar bersih dari oli. Namun di balik sikapnya yang kasar, dia adalah orang yang sangat baik.

Dia tidak hanya mengajariku memperbaiki sepeda motor dan mobil.

Dia juga mengajariku bagaimana menjadi manusia yang bisa dipercaya.

“Kalau kerusakan cuma seratus ribu rupiah, jangan bilang ke pelanggan satu juta,” katanya suatu hari sambil membersihkan tangannya dengan kain tua. “Uang bisa dicari, Bima. Kepercayaan kalau hilang susah dikembalikan.”

Aku mengingat kalimat itu sampai bertahun-tahun kemudian.

Dua tahun bekerja bersama Pak Darma membuatku semakin terampil. Aku mulai bisa membongkar mesin sendiri, mendeteksi kerusakan dari suara mesin, bahkan menangani kendaraan pelanggan tanpa pengawasan.

Aku pikir hidupku akan terus seperti itu.

Sampai suatu pagi, Pak Darma tidak membuka bengkel.

Ketika kami memeriksa rumahnya, beliau ditemukan sudah tidak bernapas.

Serangan jantung.

Aku kehilangan seseorang yang sudah kuanggap sebagai guru sekaligus ayah kedua.

Anak-anak Pak Darma yang tinggal di luar kota kemudian memutuskan menjual bengkel.

Aku kembali kehilangan tempat berpijak.

Dengan beberapa potong pakaian, sedikit tabungan, dan kotak perkakas pemberian Pak Darma, aku berangkat ke Jakarta.

Jakarta menelanku bulat-bulat.

Kota itu terlalu besar bagi pemuda desa sepertiku.

Aku sempat bekerja serabutan sebelum akhirnya diterima sebagai petugas keamanan di sebuah perusahaan distribusi bernama PT Sinar Jaya Niaga.

Pemiliknya adalah Pak Surya Wijaya.

Aku bekerja siang dan malam, menjaga gerbang, mencatat kendaraan, berkeliling gudang dan membantu mengangkat barang kalau tenaga kurang.

Suatu malam, dua pencuri mencoba masuk ke gudang tempat perusahaan menyimpan barang elektronik senilai ratusan juta rupiah.

Aku memergoki mereka.

Perkelahian tidak terhindarkan.

Lenganku terluka terkena batang besi, tetapi aku berhasil menyalakan alarm dan membuat mereka melarikan diri sebelum membawa barang apa pun.

Ketika sadar di rumah sakit, Pak Surya duduk di sebelah tempat tidurku.

Sejak hari itu, hidupku berubah.

Aku dipindahkan dari bagian keamanan ke gudang.

Beberapa tahun kemudian aku bahkan dipercaya menjadi kepala bagian logistik.

Tetapi sebelum sempat menikmati keberhasilan kecil itu, keluargaku kembali dihantam musibah.

Ayah jatuh dari perancah di sebuah proyek pembangunan.

Tulang belakangnya cedera parah.

Biaya operasi mencapai puluhan juta rupiah.

Aku hampir kehilangan akal karena tidak mempunyai uang sebanyak itu.

Pak Surya mengetahui keadaanku.

Tanpa banyak bicara, beliau memberiku pinjaman sebesar sembilan puluh juta rupiah.

“Selamatkan ayahmu dulu,” katanya.

Aku tidak pernah melupakan hari itu.

Operasi Ayah berhasil, tetapi beliau harus menggunakan kursi roda selama sisa hidupnya.

Sejak saat itu aku berjanji dalam hati bahwa selama Pak Surya masih membutuhkan tenagaku, aku tidak akan meninggalkan perusahaan tersebut.

Tahun demi tahun berlalu.

Aku bekerja semakin keras.

Adikku, Raka, akhirnya lulus SMA lalu berangkat ke Jepang melalui program tenaga kerja. Dia mengatakan ingin meringankan bebanku dan mencari masa depannya sendiri.

Aku tetap tinggal di Jakarta.

Dan aku tidak pernah lagi mendengar kabar tentang Alya, selain sesekali mengingat tulisannya di buku kecil yang masih kusimpan di dalam lemari.

Sampai empat belas tahun setelah kami berpisah.

Hari itu aku sedang mencari jaket untuk dikirimkan kepada Raka di sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta ketika seseorang memanggil namaku dari belakang.

“Bima?”

Aku menoleh.

Seorang perempuan berdiri beberapa langkah dariku.

Pakainya sederhana tetapi elegan. Rambutnya tergerai sampai bahu. Wajahnya terlihat matang dan percaya diri.

Aku tidak langsung mengenalinya.

Sampai dia tersenyum.

Aku membeku.

“Alya?”

Dia tertawa.

“Lama sekali baru mengenaliku.”

Aku menatapnya dari ujung kepala sampai kaki.

Tidak ada tongkat.

Alya berdiri dengan kedua kakinya sendiri.

Mataku langsung terasa panas.

Kami duduk di sebuah kedai kopi dan berbicara selama hampir tiga jam.

Alya menceritakan bahwa setelah SMA, dia diterima di universitas di Jakarta, kemudian memperoleh beasiswa ke Eropa. Di sana dia menjalani beberapa operasi dan bertahun-tahun terapi.

Kaki kirinya tidak pernah sepenuhnya sama dengan kaki kanan, tetapi dia bisa berjalan tanpa alat bantu.

Kemudian dia menceritakan kehidupannya.

Alya telah kembali ke Indonesia dan mendirikan perusahaan perdagangan bersama beberapa mitra. Perusahaan kecil itu berkembang menjadi PT Aruna Nusantara Global.

Dan Alya sekarang adalah Direktur Utamanya.

Aku hampir tidak percaya.

Gadis yang dulu kugendong melewati halaman sekolah yang berlumpur kini memimpin perusahaan dengan ratusan karyawan.

Ketika giliranku bercerita, aku tidak menyembunyikan apa pun.

Aku menceritakan kematian Pak Darma, perjalananku ke Jakarta, pekerjaan sebagai satpam, kecelakaan Ayah, bantuan Pak Surya dan kehidupan Raka di Jepang.

Alya mendengarkan tanpa memotong.

Sebelum kami berpisah, dia memberiku kartu nama.

“Datanglah ke kantorku kalau suatu hari kamu ingin mencari tantangan baru,” katanya.

Aku tertawa.

“Kamu mau mempekerjakan orang yang cuma lulusan SMP?”

Alya menatapku serius.

“Aku mau mempekerjakan orang yang tahu arti tanggung jawab.”

Beberapa hari kemudian dia benar-benar menawarkan posisi Direktur Logistik kepadaku.

Gajinya hampir tiga kali lipat.

Aku menolaknya.

Bukan karena tidak tertarik.

Aku hanya tidak sanggup meninggalkan Pak Surya.

Alya memahami keputusanku.

Namun beberapa bulan kemudian, sesuatu yang tidak pernah kami duga terjadi.

Pak Surya mengalami stroke berat di tengah rapat.

Beliau selamat, tetapi kehilangan kemampuan bergerak pada sebagian tubuhnya dan kesulitan berbicara.

Perusahaan langsung goyah.

Beberapa mitra menarik diri.

Bank menekan kami.

Bu Ratih, istri Pak Surya, akhirnya memutuskan menjual perusahaan.

Para pembeli yang datang mencoba mengambil keuntungan dari keadaan.

Mereka menawarkan harga yang begitu rendah hingga terasa menghina semua kerja keras Pak Surya selama puluhan tahun.

Saat itulah aku menelepon Alya.

Tidak sampai satu hari kemudian, dia datang bersama tim keuangan dan pengacaranya.

Selama beberapa hari mereka memeriksa perusahaan dari atas sampai bawah.

Akhirnya Aruna Nusantara Global mengajukan tawaran akuisisi dengan harga yang adil.

Utang perusahaan bisa dilunasi.

Karyawan tetap dipertahankan.

Dan keluarga Pak Surya mempunyai cukup dana untuk pengobatan jangka panjang.

Namun Alya memiliki satu syarat.

Aku harus tetap bekerja dan mengambil alih sistem logistik perusahaan setelah proses merger.

Aku menerima.

Bukan karena gaji.

Tetapi karena aku tahu dengan cara itu aku masih bisa menjaga sesuatu yang dibangun Pak Surya.

Hari pertama masuk kantor pusat Aruna Nusantara, aku merasa seperti anak desa yang salah masuk gedung.

Lantai mengilap.

Ruang rapat berlapis kaca.

Para manajer memakai jas dan berbicara mengenai angka miliaran rupiah.

Sementara aku bahkan tidak memiliki ijazah universitas.

Sebagian orang meragukanku.

Beberapa bahkan terang-terangan menganggap aku mendapat jabatan karena kedekatan dengan Alya.

Aku tidak membalas.

Aku memilih bekerja.

Aku datang paling pagi.

Turun langsung ke gudang.

Berbicara dengan sopir.

Memeriksa rute.

Membongkar sistem distribusi yang boros dan memperbaikinya satu per satu.

Dalam waktu enam bulan, biaya logistik turun hampir dua puluh persen tanpa memotong gaji siapa pun.

Pengiriman terlambat berkurang drastis.

Orang-orang mulai berhenti mempertanyakan ijazahku.

Mereka melihat hasilnya.

Hubunganku dengan Alya juga berubah perlahan.

Kami makan siang bersama.

Kadang bekerja sampai malam.

Sesekali dia menggodaku tentang masa sekolah.

“Kamu masih ingat waktu jatuh di koridor?”

Aku terkekeh.

“Kamu menangis lebih keras daripada aku.”

“Karena lututmu berdarah!”

“Aku baik-baik saja.”

Alya mendengus.

“Kamu dari dulu memang keras kepala.”

Suatu malam setelah rapat panjang, Alya mengantarku pulang.

Di dalam mobil, dia tiba-tiba menghentikan kendaraan di tepi jalan.

Kami duduk dalam keheningan.

Lalu Alya berkata,

“Bima, ada sesuatu yang sudah lama ingin kukatakan.”

Aku menoleh.

Tangannya menggenggam setir erat.

“Aku menyukaimu.”

Aku tidak langsung menjawab.

Alya tersenyum kecil, tetapi matanya terlihat gugup.

“Bukan karena kamu pernah menggendongku. Bukan karena aku merasa berutang. Aku menyukai Bima yang sekarang. Orang yang tetap bertahan saat orang lain pergi. Orang yang lebih memilih kehilangan kesempatan daripada meninggalkan seseorang yang pernah menolongnya.”

Hatiku bergetar.

Aku juga mencintainya.

Mungkin sejak lama.

Tetapi rasa rendah diri menutup mulutku.

Aku hanya lulusan SMP.

Ayahku memakai kursi roda.

Ibuku masih tinggal di desa.

Sedangkan Alya adalah direktur sebuah perusahaan besar.

Aku takut orang-orang mengatakan aku memanfaatkannya.

Malam itu aku menolak perasaannya.

Aku melihat kekecewaan dalam mata Alya.

Namun dia tidak memaksaku.

Beberapa minggu setelah itu, hubungan kami kembali profesional.

Sampai perusahaan membuka posisi Direktur Marketing.

Aku dan Alya menjadi bagian dari panel wawancara.

Pelamar terakhir hari itu bernama Adrian Kusuma.

Usianya sekitar tiga puluh tahun.

Dia pernah bekerja di Jepang dan Singapura, fasih dalam beberapa bahasa dan memiliki pengalaman manajemen yang luar biasa.

Tetapi sejak Adrian masuk, aku merasa wajahnya sangat familiar.

Ada sesuatu dalam caranya tersenyum.

Dalam bentuk matanya.

Dalam gerakan tangannya.

Aku hanya tidak mampu mengingat.

Di akhir wawancara, Alya bertanya tentang alasan Adrian bekerja keras.

Dia menjawab,

“Saya lahir dari keluarga miskin di Klaten.”

Aku langsung menatapnya.

“Ayah saya buruh bangunan. Setelah mengalami kecelakaan, beliau menggunakan kursi roda. Kakak saya berhenti sekolah dan bekerja untuk membiayai keluarga. Kalau bukan karena dia, saya tidak akan pernah bisa pergi ke Jepang.”

Jantungku mulai berdebar keras.

Itu bukan kisah yang mirip dengan keluargaku.

Itu adalah kisah keluargaku.

Setelah wawancara selesai, aku berdiri begitu cepat sampai kursiku bergeser.

“Siapa nama asli kamu?”

Adrian terdiam.

Wajahnya mendadak pucat.

Aku mendekatinya.

“Jawab aku.”

Tangannya mulai gemetar.

Kemudian dia mengambil dompet dan mengeluarkan sebuah foto kecil yang sudah kusam.

Foto keluarga kami.

Aku.

Ayah.

Ibu.

Dan seorang anak lelaki kecil berdiri di sampingku.

Air mataku langsung jatuh.

“Raka?”

Bibir Adrian bergetar.

“Mas Bima…”

Aku tidak tahu siapa yang bergerak lebih dulu.

Detik berikutnya kami sudah saling memeluk.

Raka menangis seperti anak kecil.

Ternyata selama bertahun-tahun dia menyembunyikan banyak hal.

Di Jepang, dia memang memulai hidup sebagai pekerja pabrik. Namun karena kegigihannya, dia mendapat kesempatan belajar sambil bekerja.

Pemilik perusahaan tempatnya bekerja kemudian membantunya mendapatkan pendidikan tinggi.

Karier Raka berkembang cepat.

Dia menggunakan nama profesional Adrian Kusuma ketika mulai menangani bisnis internasional.

Dia sebenarnya sudah kembali ke Indonesia beberapa bulan sebelumnya.

“Aku takut pulang,” katanya.

Aku menatapnya tidak percaya.

“Takut?”

“Aku terlalu lama menyembunyikan semuanya, Mas. Semakin lama aku diam, semakin aku tidak tahu bagaimana harus menjelaskannya.”

Aku marah.

Aku benar-benar marah.

Ibu menunggu teleponnya setiap minggu.

Ayah selalu bertanya kapan Raka pulang.

Namun setelah melihat adikku menangis di depan mata, aku tidak sanggup mempertahankan kemarahan itu terlalu lama.

“Kita pulang ke Klaten besok.”

Raka menatapku.

“Mas…”

“Tidak ada alasan.”

Keesokan harinya kami pulang.

Alya ikut.

Ketika mobil berhenti di depan rumah, Ibu sedang menyapu halaman.

Raka turun.

Ibu membeku.

Sapu jatuh dari tangannya.

“Raka?”

“Ibu…”

Raka berlari.

Ibu memeluknya begitu erat seakan takut putranya akan menghilang lagi.

Ayah keluar dengan kursi roda.

Raka langsung berlutut di hadapannya.

“Maafkan Raka, Yah.”

Ayah hanya meletakkan tangannya di kepala Raka.

“Pulang itu tidak pernah terlambat selama kamu masih ingat jalan menuju rumah.”

Kami semua menangis.

Alya berdiri sedikit jauh sambil mengusap air mata.

Malam itu, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, keluarga kami makan bersama dalam satu meja.

Tidak ada makanan mahal.

Hanya nasi hangat, sayur lodeh, ayam goreng, tempe dan sambal buatan Ibu.

Namun tidak ada restoran mewah yang bisa menandingi kebahagiaan malam itu.

Setelah makan, Ibu menarik Alya duduk di sebelahnya.

“Ibu masih ingat namamu,” katanya.

Alya terkejut.

“Benarkah, Bu?”

“Bima dulu sering menyebut Alya.”

Wajahku langsung panas.

“Bu…”

Semua orang tertawa.

Ibu menatapku lalu menatap Alya.

“Kalian ini sudah berapa lama saling menunggu?”

Aku hampir tersedak teh.

Alya tertawa untuk pertama kalinya malam itu.

Dalam perjalanan kembali ke Jakarta, aku terus memikirkan ucapan Ibu.

Raka sudah menemukan jalan pulang.

Aku mulai bertanya pada diriku sendiri apakah aku juga sedang bersembunyi dari sesuatu.

Bukan dari kegagalan.

Melainkan dari kebahagiaan.

Beberapa minggu kemudian, aku mengajak Alya kembali ke Klaten.

Aku tidak mengatakan tujuannya.

Kami berhenti di depan SMP lama kami.

Sekolah itu sudah berubah.

Bangunannya lebih bagus.

Halaman berlumpur kini sudah dipaving.

Toilet lama sudah direnovasi.

Tetapi koridor tempat aku dulu terpeleset masih ada.

Alya berdiri memandanginya sambil tersenyum.

“Kenapa membawaku ke sini?”

Aku tidak menjawab.

Aku mengeluarkan sebuah kotak kecil dari saku.

Ketika Alya melihatnya, kedua tangannya langsung menutup mulut.

Aku berlutut.

“Alya, dua puluh tiga tahun lalu aku pernah bilang kamu boleh naik ke punggungku karena aku takut kamu jatuh.”

Air matanya mulai mengalir.

“Waktu itu aku cuma anak enam belas tahun. Aku tidak tahu hidup akan membawa kita sejauh ini.”

Aku membuka kotak tersebut.

Sebuah cincin sederhana berada di dalamnya.

“Aku tidak punya gelar sehebat kamu. Aku mungkin tidak pernah menjadi orang paling kaya atau paling pintar di ruangan mana pun.”

Alya menggeleng sambil menangis.

Aku melanjutkan,

“Tapi kalau kamu mau, aku ingin menjadi orang yang berjalan di sampingmu sampai kita tua.”

Aku menarik napas.

“Alya Rahmawati, maukah kamu menikah denganku?”

Dia tidak membiarkanku menunggu.

“Mau.”

Satu kata itu terasa seperti membuka pintu yang selama dua puluh tiga tahun tertutup.

Beberapa bulan kemudian kami menikah.

Akad nikah dilakukan di Klaten dengan keluarga dan sahabat dekat.

Pak Surya datang menggunakan kursi roda ditemani Bu Ratih. Kondisinya sudah jauh lebih baik setelah menjalani rehabilitasi.

Ketika aku menyalaminya, beliau menggenggam tanganku lama.

Dengan suara yang belum sempurna, Pak Surya berbisik,

“Bahagia… ya.”

Aku hampir menangis.

Raka berdiri sebagai salah satu orang yang paling sibuk dalam acara itu.

Ibu memakai kebaya terbaiknya.

Ayah duduk di barisan depan sambil tersenyum tanpa henti.

Dan Alya…

Alya terlihat begitu cantik sampai untuk beberapa detik aku kembali menjadi anak SMP yang terlalu gugup untuk menatapnya.

Setelah acara selesai, kami berdua kembali ke sekolah lama.

Aku membawa Alya ke koridor.

Kemudian aku membalikkan badan dan berjongkok.

Dia tertawa.

“Bima, apa yang kamu lakukan?”

“Naik.”

“Sekarang aku bisa berjalan sendiri.”

“Aku tahu.”

“Lalu?”

Aku menoleh sambil tersenyum.

“Dulu aku menggendongmu karena kamu membutuhkan kakiku.”

Aku menepuk punggung.

“Sekarang aku menggendongmu karena aku mau.”

Alya tertawa sambil menangis.

Dia naik ke punggungku.

Aku berdiri perlahan.

Tangannya melingkari leherku seperti dua puluh tiga tahun lalu.

Aku berjalan menyusuri koridor.

Di belakang kami terdengar tepuk tangan keluarga, guru lama dan beberapa teman sekolah yang sengaja datang.

Alya menyandarkan kepalanya di bahuku.

“Bima.”

“Hmm?”

“Capek?”

Aku tertawa.

“Dua puluh tiga tahun lalu kamu jauh lebih ringan.”

Dia langsung mencubit bahuku.

Semua orang tertawa.

Aku terus berjalan.

Di ujung koridor, cahaya sore menyinari halaman sekolah yang dulu dipenuhi lumpur.

Aku tiba-tiba teringat hari pertama menemukan Alya menangis di tanah basah.

Seandainya saat itu aku memilih berpaling…

Seandainya aku berpikir itu bukan urusanku…

Mungkin hidup kami akan berbeda.

Tetapi kehidupan memang aneh.

Kadang keputusan terbesar tidak datang dalam bentuk sesuatu yang megah.

Kadang ia hanya berupa seorang anak laki-laki berusia enam belas tahun yang berjongkok di depan seorang gadis dan berkata,

“Naiklah.”

Aku tidak pernah menggendong Alya karena berharap mendapatkan imbalan.

Alya juga tidak menikah denganku karena merasa berutang.

Kami hanya dua orang yang berjalan melalui jalan hidup masing-masing, jatuh, terluka, kehilangan, lalu dipertemukan kembali ketika kami sudah memahami arti sebenarnya dari kesetiaan.

Beberapa tahun setelah pernikahan kami, Aruna Nusantara Global semakin berkembang.

Alya tetap menjadi Direktur Utama.

Aku memimpin seluruh divisi operasional dan logistik.

Raka akhirnya membuka perusahaan konsultasi perdagangan sendiri dan memilih tinggal lebih dekat dengan orang tua.

Kami merenovasi rumah di Klaten, bukan menjadi rumah mewah yang berlebihan, tetapi menjadi rumah yang nyaman untuk Ayah.

Kami membuat jalur landai untuk kursi rodanya, memperlebar kamar mandi dan membuat teras besar tempat Ayah bisa menikmati kopi setiap pagi.

Ibu tetap bersikeras memasak sendiri.

“Kalau semuanya dibantu orang, Ibu nanti ngapain?” protesnya.

Jadi kami membiarkannya.

Setiap kali pulang ke Klaten, rumah itu selalu ramai.

Suara Ibu dari dapur.

Ayah menonton berita dari ruang depan.

Raka datang bersama keluarganya.

Dan Alya, perempuan yang dahulu harus kugendong melintasi lumpur, sekarang berjalan sendiri membawa dua cangkir teh ke teras.

Suatu sore, kami kembali mengunjungi sekolah lama.

Sekolah sedang mengadakan acara untuk murid-murid dari keluarga kurang mampu.

Alya dan aku memutuskan mendirikan program beasiswa kecil.

Namanya bukan memakai nama kami.

Kami menyebutnya Langkah Kedua.

Program itu membantu siswa berkebutuhan khusus dan anak-anak dari keluarga sederhana agar tetap bisa melanjutkan pendidikan.

Saat melihat seorang siswi menggunakan tongkat berjalan memasuki kelas dengan ramp baru yang dibangun sekolah, Alya menggenggam tanganku.

Matanya berkaca-kaca.

“Dulu aku harus menunggumu supaya bisa melewati halaman.”

Aku mengangguk.

“Sekarang mereka tidak perlu menunggu siapa pun.”

Alya tersenyum.

Saat itulah aku akhirnya memahami sesuatu.

Kebaikan yang benar-benar berarti tidak berhenti pada orang pertama yang menerimanya.

Ia bergerak.

Dari satu manusia kepada manusia lain.

Pak Darma mengajariku kejujuran.

Pak Surya menolong keluargaku ketika kami hampir kehilangan harapan.

Aku membantu Alya ketika dia membutuhkan sepasang kaki.

Alya menyelamatkan perusahaan Pak Surya ketika keluarganya berada di titik terendah.

Raka pulang dan kembali menjaga orang tua kami.

Dan sekarang, bersama-sama, kami membantu anak-anak yang bahkan belum kami kenal.

Mungkin begitulah kebaikan bekerja.

Tidak pernah benar-benar hilang.

Ia hanya berpindah tangan.

Sore itu, sebelum meninggalkan sekolah, Alya berdiri di tempat yang hampir sama dengan lokasi kami pertama kali bertemu setelah dia terjatuh.

Dia menatapku sambil tersenyum.

“Bima.”

“Apa?”

“Kalau bisa kembali ke dua puluh tiga tahun lalu, kamu masih mau menggendongku?”

Aku pura-pura berpikir.

Alya memukul lenganku.

Aku tertawa.

Lalu kujawab,

“Tentu.”

“Walaupun tahu bakal harus menggendongku seumur hidup?”

Aku meraih tangannya.

“Kamu salah.”

Dia mengernyit.

Aku tersenyum.

“Dua puluh tiga tahun lalu aku memang menggendongmu.”

Aku menggenggam tangannya lebih erat.

“Tapi sejak kita bertemu kembali, justru kamu yang berkali-kali membantuku berdiri.”

Alya terdiam.

Kemudian dia menyandarkan kepalanya di bahuku.

Kami berjalan keluar melewati gerbang sekolah.

Tidak ada bus yang membawa salah satu dari kami pergi kali ini.

Tidak ada perpisahan.

Tidak ada dua jalan yang menjauh.

Hanya ada satu jalan kecil di Klaten, cahaya matahari sore di atas sawah, dan dua orang yang akhirnya berjalan pulang ke arah yang sama.

Dua puluh tiga tahun sebelumnya, aku pernah menjadi sepasang kaki kedua bagi Alya.

Dan pada akhirnya aku menyadari bahwa sepanjang hidup ini, kami sebenarnya telah menjadi tempat bersandar satu sama lain.