Bagian 3 — Saat Mereka Pulang dari Bali, Rumah Itu Tak Lagi Menjadi Tempat Mereka Berkuasa

Avatar penulis
Cerita 02
14 menit baca 1,523 tayangan
Bagian 3 — Saat Mereka Pulang dari Bali, Rumah Itu Tak Lagi Menjadi Tempat Mereka Berkuasa
Indeks

Bagian 3 — Saat Mereka Pulang dari Bali, Rumah Itu Tak Lagi Menjadi Tempat Mereka Berkuasa

Hal pertama yang kulakukan bukan mengganti kunci rumah.

Bukan pula mengemas pakaian Arga lalu melemparkannya ke halaman seperti adegan sinetron.

Aku pergi ke rumah sakit.

Siska sudah menungguku di parkiran.

Begitu melihat pipiku yang masih bengkak, wajahnya langsung berubah.

“Dia melakukan ini?”

Aku mengangguk.

Untuk pertama kalinya sejak semalam, seseorang melihat luka di wajahku dan bertanya apakah aku baik-baik saja.

Pertanyaan sederhana itu justru hampir membuatku menangis.

Aku menjalani pemeriksaan medis dan meminta semua hasilnya didokumentasikan.

Setelah itu kami pergi membuat laporan terkait kekerasan yang kualami.

Aku menyerahkan foto memar, percakapan, rekaman kamera ruang tengah yang untungnya masih tersimpan di sistem rumah, dan riwayat kejadian malam sebelumnya.

Aku tidak tahu bagaimana akhirnya proses hukum itu akan berjalan.

Tetapi untuk pertama kalinya, aku tidak ingin diam hanya karena takut disebut membuka aib rumah tangga.

Setelah urusan itu selesai, kami menuju kantor Siska.

Di sana aku membuka semua dokumen keuangan.

Selama hampir tiga tahun menikah, penghasilanku rata-rata sekitar Rp18 juta sampai Rp21 juta per bulan.

Arga juga bekerja.

Gajinya sekitar Rp15 juta.

Tetapi sejak dia membeli mobil baru, lebih dari separuh gajinya digunakan untuk cicilan mobil, asuransi, modifikasi, dan hobinya.

Sisanya?

Sebagian diberikan kepada Mama Ratna.

Sementara hampir semua pengeluaran rumah berada di pundakku.

Listrik.

Internet.

Belanja bulanan.

Iuran keamanan.

Perawatan rumah.

Obat rutin Papa Hendra.

Pemeriksaan kesehatan Mama Ratna.

Bahkan beberapa kali aku yang membayar pajak mobil Arga karena dia mengaku sedang tidak punya uang.

Aku tidak pernah mempermasalahkannya.

Kupikir begitulah pernikahan.

Kadang satu orang sedang lemah, yang lain membantu.

Masalahnya, aku baru sadar bahwa selama ini aku bukan sedang membantu keluarga.

Aku sedang mendanai sebuah sistem yang menempatkanku dan orang tuaku di lapisan paling bawah.

Siska menunjuk dokumen rumah.

“Ini masih jelas.”

Rumah yang kami tempati merupakan warisan dari bibiku sebelum aku menikah.

Sertifikatnya tetap atas namaku.

Sebelum menikah, atas saran keluarga, aku dan Arga juga menandatangani perjanjian pemisahan harta di hadapan notaris karena saat itu aku sudah memiliki rumah dan beberapa simpanan.

Dulu Arga sendiri yang menyetujuinya.

Katanya dia tidak tertarik pada hartaku.

Ironis sekali.

Tiga tahun kemudian, keluarganya tinggal di rumahku, makan dari uangku, lalu menyebut orang tuaku tidak pantas menikmati hasil kerjaku.

“Aku mau bercerai,” kataku.

Siska tidak terkejut.

“Kamu yakin?”

Aku mengeluarkan ponsel.

Foto Ayah berdiri dengan dua bungkus bakpia masih ada di layar.

“Aku lebih takut kalau aku tidak pergi.”

Hari itu aku menandatangani surat kuasa.

Kami mengirimkan pemberitahuan resmi.

Tidak ada tindakan sembarangan.

Tidak ada barang yang dibuang.

Tidak ada kunci yang langsung diganti untuk menghalangi seseorang mengambil barang pribadinya.

Semuanya dilakukan dengan prosedur, dokumentasi, dan saksi.

Aku juga menonaktifkan kartu tambahan serta memindahkan gajiku berikutnya ke rekening pribadi yang selama ini hampir tidak pernah kupakai.

Rekening rumah tangga kusisakan sesuai jumlah kewajiban yang memang harus diselesaikan.

Satu rupiah pun tidak kuambil melebihi hakku.

Aku ingin keluar dari pernikahan itu dengan kepala tegak.

Bukan dengan memberi mereka alasan untuk membalikkan cerita.

Sekitar pukul tiga sore, pesan pertama dari Arga masuk.

Sebuah foto kamar hotel.

Balkon luas.

Kolam renang.

Laut biru.

Arga:
Keren juga pilihanmu. Mama senang.

Aku membaca tanpa membalas.

Satu jam kemudian Mama Ratna mengirim foto dirinya menggunakan jubah hotel.

Kamarnya bagus. Nanti kalau ada rezeki kita ke Jepang ya.

Aku tetap diam.

Malamnya mereka makan di Jimbaran.

Arga mengirim foto meja penuh seafood.

Kepiting.

Udang besar.

Ikan bakar.

Cumi.

Aku memperbesar foto itu sebentar.

Bukan karena iri.

Aku hanya teringat Ibu membagi sepotong ayam menjadi dua agar tidak terasa terlalu mahal.

Aneh sekali.

Beberapa hari lalu pemandangan itu membuat dadaku sesak.

Sekarang justru membuat pikiranku sangat jernih.

Sekitar pukul sembilan malam, Ibu menelepon.

“Naya?”

“Iya, Bu.”

“Suaramu kenapa?”

Aku terdiam.

Ibu mengenalku terlalu baik.

Akhirnya aku berkata, “Bu, besok Ayah ada jadwal?”

“Jadwal apa? Ke sawah.”

“Jangan ke sawah dulu.”

“Kenapa?”

“Kita ke Jogja.”

Ibu langsung panik.

“Jangan, jangan. Tidak usah. Nanti Arga marah.”

Aku menutup mata.

“Bu.”

Suaraku pecah.

“Mulai sekarang, Ibu jangan takut Arga marah.”

Di ujung telepon sunyi cukup lama.

Lalu terdengar suara Ibu sangat pelan.

“Kamu bertengkar?”

Aku tidak sanggup menceritakan semuanya lewat telepon.

Aku hanya berkata, “Besok aku jelaskan.”

Pagi berikutnya aku menjemput mereka.

Ayah keluar dengan kaus biasa dan celana kain.

Tidak ada sepatu pantofel.

Tidak ada koper.

Ketika melihat tas di mobilku, dia bertanya heran.

“Memangnya kita jadi pergi?”

“Jadi.”

“Arga?”

“Tidak ikut.”

Ayah dan Ibu saling pandang.

Aku membawa mereka terlebih dahulu ke sebuah klinik mata di Solo.

Ayah baru sadar saat melihat papan nama.

Wajahnya langsung berubah.

“Naya, tidak usah.”

“Ayah sudah mulai sulit melihat malam.”

“Masih bisa.”

“Dana operasinya memang sempat dipakai orang lain.”

Aku menelan ludah.

“Tapi aku akan kumpulkan lagi.”

Ibu memegang lenganku.

“Ada masalah apa sebenarnya?”

Di dalam mobil, aku akhirnya menceritakan semuanya.

Tidak seluruh detail.

Tetapi cukup.

Tentang tabungan.

Tentang Bali.

Tentang penghinaan.

Tentang tamparan.

Ayah tidak berkata apa-apa selama beberapa menit.

Kemudian dia membuka pintu mobil.

Aku panik.

“Ayah mau ke mana?”

Ayah berdiri di luar, membelakangiku.

Bahu tuanya bergerak pelan.

Saat dia kembali masuk, matanya merah.

“Maaf.”

Aku tertegun.

“Kenapa Ayah minta maaf?”

“Karena selama tiga hari itu Ayah terus bilang ke ibumu supaya tersenyum.”

Air mataku langsung jatuh.

“Ayah takut kalau kami terlihat kecewa, kamu pulang lalu bertengkar dengan suamimu.”

Aku memegang tangannya.

“Ayah tidak salah.”

“Ayah pikir kalau kami pura-pura senang, rumah tanggamu akan baik-baik saja.”

Dia mengusap wajah.

“Ternyata malah membuat kamu sendirian.”

Aku menangis di dalam mobil.

Ibu ikut menangis.

Tetapi setelah itu, kami tetap berangkat.

Kami tidak menginap di hotel mewah.

Aku memilih hotel nyaman di pusat Yogyakarta dengan harga yang masuk akal.

Kamar Ayah dan Ibu memiliki jendela besar.

Ketika masuk, Ibu memeriksa kamar mandi tiga kali.

Dia tertawa malu.

“Ada air panasnya.”

Malam itu kami berjalan di Malioboro.

Ayah membeli kemeja batik.

Ketika melihat label harga, refleks pertama yang dia lakukan adalah meletakkannya kembali.

Aku mengambil kemeja itu dan membawanya ke kasir.

“Naya!”

“Hadiah.”

“Mahal.”

“Harganya tidak lebih mahal daripada rasa malu yang Ayah telan tiga hari kemarin.”

Ayah terdiam.

Kemudian dia membiarkanku membayar.

Besoknya kami pergi melihat Candi Prambanan.

Ayah membaca setiap papan informasi seolah sedang ujian.

Ibu meminta difoto berkali-kali.

Foto berdiri.

Foto duduk.

Foto sambil memegang topi.

Foto dari dekat.

Foto dari jauh.

Saat istirahat, Ibu membeli tiga es teh.

Lalu dia mengeluarkan uang dari tas.

Aku tertawa.

“Bu, aku yang bayar.”

“Tidak.”

“Kenapa?”

Ibu menyodorkan satu gelas kepadaku.

“Anak boleh mentraktir orang tua. Orang tua juga boleh mentraktir anak.”

Kalimat sesederhana itu membuatku sadar apa yang selama ini hilang dari rumah tanggaku.

Bukan uang.

Bukan hotel.

Bukan makanan.

Melainkan rasa saling menghormati.

Hari kedua di Yogyakarta, Arga mulai menelepon.

Aku tidak mengangkat.

Dia mengirim pesan.

Naya, kartu kreditku kena limit.

Lalu:

Deposit hotel ternyata belum lunas semua.

Kemudian:

Kamu bilang pakai kasbon kantor.

Aku membaca dan meletakkan ponsel.

Lima menit kemudian dia menelepon lagi.

Kali ini kuangkat.

“Apa?”

“Naya, kenapa tagihan semuanya masuk kartuku?”

“Karena kamu memasukkan OTP sendiri.”

“Tapi kamu bilang akan bayar!”

“Aku bilang aku mengajukan kasbon. Aku tidak pernah bilang kasbon itu sudah cair dan akan kupakai membayar liburanmu.”

Dia terdiam.

“Naya, jangan main kata-kata.”

“Aku juga tidak menyembunyikan nominalnya. Semuanya ada di layar ketika kamu melakukan konfirmasi.”

“Sekarang hotel minta pembayaran tambahan!”

“Bayar.”

“Pakai apa?”

“Gajimu.”

“Aku ada cicilan mobil!”

Aku tertawa kecil.

“Bukankah kita keluarga?”

Dia langsung diam.

Kalimat itu adalah kalimat yang selalu dia gunakan kepadaku setiap kali keluarganya membutuhkan uang.

Aku melanjutkan.

“Pinjam Mama. Bukankah selama ini sebagian gajimu juga kamu berikan kepadanya?”

“Naya.”

Nada suaranya berubah.

“Kamu sengaja?”

“Tidak.”

Aku memandang Ayah dan Ibu yang sedang memilih gantungan kunci di seberang jalan.

“Aku hanya berhenti membayar.”

Telepon langsung ditutup.

Belakangan aku tahu Arga akhirnya harus menggunakan hampir seluruh sisa limit kartunya.

Gelang emas dua puluh gram batal dibeli.

Mama Ratna mengamuk.

Tetapi karena dia sudah terlanjur memberitahu saudara-saudaranya bahwa akan pulang membawa gelang dari Bali, dia memaksa Arga membeli gelang yang lebih kecil.

Arga akhirnya meminjam uang dari kakaknya.

Aku tidak merasa bersalah.

Aku tidak memaksa mereka pergi ke Bali.

Aku tidak menyuruh mereka makan seafood mahal.

Aku tidak memilih spa.

Mereka sendiri yang meminta semuanya.

Dan untuk pertama kalinya, orang yang meminta harus membayar keinginannya sendiri.

Pada hari ketiga, sebuah dokumen resmi sampai ke ponsel Arga.

Gugatan perceraian.

Dia meneleponku tujuh belas kali.

Tidak kuangkat.

Lalu pesan masuk bertubi-tubi.

Kamu gila?

Cuma karena ditampar sekali?

Semua suami istri bertengkar.

Mama cuma bicara.

Kamu mau hancurkan keluarga gara-gara orang tuamu?

Aku membaca kalimat terakhir berkali-kali.

Kemudian aku membalas satu kali.

Bukan gara-gara orang tuaku.

Gara-gara aku akhirnya melihat siapa dirimu ketika kamu merasa orang lain tidak cukup berharga untuk dihormati.

Setelah itu aku memblokirnya sementara dan menyerahkan komunikasi kepada kuasa hukum.

Mereka pulang dari Bali dua hari kemudian.

Aku sudah kembali ke rumah.

Bukan sendirian.

Siska berada di sana.

Seorang perwakilan keluarga dari pihakku juga hadir.

Ketua lingkungan yang mengenal kami sudah mengetahui bahwa sedang ada masalah rumah tangga dan diminta menjadi saksi saat pembicaraan mengenai barang-barang dilakukan.

Begitu pintu terbuka, Arga masuk dengan wajah gelap.

Mama Ratna langsung melempar tas kecilnya ke sofa.

“Kamu benar-benar sudah gila!”

Aku berdiri.

“Jangan berteriak.”

“Ini rumah anak saya!”

Aku menunjuk map di atas meja.

“Baca.”

Papa Hendra membuka dokumennya.

Wajahnya berubah.

Sertifikat.

Dokumen warisan.

Perjanjian pemisahan harta.

Surat dari kuasa hukum.

Mama Ratna merebut kertas itu.

“Apa maksudnya?”

“Rumah ini milikku sebelum menikah.”

“Apa kami numpang selama ini?”

Aku menatapnya.

“Bukankah menurut Mama, orang harus tahu diri kalau tinggal menggunakan milik orang lain?”

Wajahnya langsung merah.

Arga melangkah maju.

“Naya, cukup.”

Aku mundur satu langkah.

Siska langsung berdiri.

“Mas Arga, sebaiknya jaga jarak.”

Arga menatapnya.

“Kamu siapa?”

“Kuasa hukum Mbak Naya.”

Wajah Arga pucat.

Mungkin sampai saat itu dia masih mengira gugatan perceraian hanyalah ancaman karena aku sedang marah.

Dia menatapku.

“Kita bicara di kamar.”

“Tidak.”

“Naya.”

“Di sini.”

Dia mengepalkan tangan.

Aku mengangkat dagu.

“Silakan.”

“Kalau kamu menyentuhku lagi, kali ini semuanya sudah tercatat.”

Arga membeku.

Mama Ratna langsung menyela.

“Memangnya anak saya penjahat? Suami menampar istri sekali karena istri kurang ajar sekarang dilaporkan?”

Aku menatap perempuan yang selama tiga tahun kupanggil Mama.

“Menurut Mama, saya harus menunggu berapa kali?”

Dia kehilangan kata-kata.

“Dua kali?”

Aku melanjutkan.

“Sepuluh?”

“Atau sampai saya masuk rumah sakit baru boleh berhenti?”

Ruangan itu sunyi.

Papa Hendra duduk perlahan.

Aku mengambil satu map lagi.

Di dalamnya ada catatan pengeluaran tiga tahun.

Bukan untuk menagih.

Aku hanya ingin mereka melihat sesuatu yang selama ini sengaja tidak terlihat.

“Ini biaya obat Papa tahun lalu.”

Aku meletakkan lembar pertama.

“Ini pemeriksaan Mama.”

Lembar kedua.

“Ini listrik.”

Lembar ketiga.

“Ini belanja rumah.”

Lembar berikutnya.

“Ini perbaikan kamar kalian.”

Lalu rekening koran.

“Ini transfer Arga ke Mama.”

Aku memandang semuanya.

“Dan ini uang yang dikeluarkan untuk orang tuaku selama tiga tahun.”

Aku menunjuk beberapa baris kecil.

“Hadiah Idulfitri.”

“Obat darah tinggi.”

“Dan dua kali belanja sembako.”

Aku tertawa hambar.

“Bahkan itu pun hampir semuanya dari rekening pribadiku.”

Mama Ratna berkata cepat.

“Jadi sekarang kamu menagih?”

“Tidak.”

Aku menggeleng.

“Saya ingin kalian mengerti bahwa saya tidak pergi karena uang.”

Aku menatap Arga.

“Aku pergi karena setelah menerima semua itu, kalian masih bisa melihat orang tuaku lalu mengatakan mereka bahkan tidak layak menginap satu malam di hotel.”

Arga menunduk.

“Aku emosi waktu itu.”

“Tidak.”

Aku menjawab cepat.

“Kamu tidak sedang emosi ketika sengaja tidak memesan tiket.”

Dia diam.

“Kamu tidak sedang emosi ketika membuang tiga hari mereka.”

Diam.

“Kamu tidak sedang emosi ketika menggunakan tabungan operasi mata Ayah.”

Diam.

“Kamu juga tidak sedang emosi saat dua minggu sebelumnya diam-diam membeli tiket Bali.”

Aku menarik napas.

“Tamparanmu cuma bagian paling keras dari sesuatu yang sudah kamu lakukan sejak lama.”

Untuk pertama kalinya, Arga tidak punya jawaban.

Proses setelah itu tidak selesai dalam satu malam.

Tidak ada keajaiban.

Tidak ada orang kaya tiba-tiba datang menyelamatkanku.

Tidak ada warisan miliaran rupiah yang muncul dari langit.

Aku tetap bekerja setiap hari.

Aku tetap harus membayar pengacara.

Aku harus menghadapi panggilan, dokumen, percakapan keluarga, dan orang-orang yang berkata:

“Sayang sekali kalau rumah tangga bubar.”

“Arga sebenarnya baik.”

“Namanya juga suami istri.”

“Coba kasih kesempatan.”

Aku mendengarkan semuanya.

Tetapi untuk pertama kalinya, keputusan tentang hidupku tidak lagi dibuat berdasarkan rasa takut mengecewakan orang lain.

Papa dan Mama mertua akhirnya pindah.

Bukan karena aku melempar mereka ke jalan.

Melalui pembicaraan resmi, diberikan waktu yang cukup untuk mengambil barang dan mengatur tempat tinggal.

Arga menyewa rumah kecil tidak jauh dari kantor.

Penghasilannya yang dulu sebagian besar bisa dipakai membayar mobil kini harus dibagi untuk biaya hidupnya sendiri, membantu orang tuanya, dan kewajiban lainnya.

Beberapa bulan kemudian dia menjual mobilnya.

Aku mengetahuinya bukan dari dia.

Seorang teman lama mengirim foto iklan mobil itu.

Dulu Arga pernah berkata kepadaku:

“Mobil ini hasil kerja kerasku.”

Aku tidak pernah membantah.

Sekarang aku juga tidak merasa perlu berkomentar.

Laporan terkait kekerasan tetap berjalan sesuai proses.

Aku menyerahkan semuanya kepada pihak yang menangani dan berhenti menjadikan nasib Arga pusat kehidupanku.

Proses perceraianku juga berjalan.

Arga beberapa kali mencoba meminta bertemu berdua.

Aku menolak.

Sekali dia mengirim pesan panjang.

Dia mengatakan menyesal.

Mengatakan baru sadar selama ini aku menanggung terlalu banyak.

Mengatakan Mama memang sering keterlaluan.

Mengatakan dia terbawa kebiasaan keluarganya.

Aku membaca sampai selesai.

Lalu membalas:

Aku percaya kamu menyesal.

Tapi penyesalan tidak otomatis mengembalikan kepercayaan.

Itu pesan terakhir yang kukirim kepadanya.

Beberapa bulan kemudian perceraian kami selesai.

Rumah tetap menjadi milikku sesuai status dan dokumen kepemilikannya.

Aku mengecat ulang ruang tamu.

Bukan karena cat lama rusak.

Aku hanya tidak ingin setiap kali duduk di sana teringat suara tamparan malam itu.

Kamar yang dulu dipakai Papa dan Mama mertua kuubah menjadi ruang kerja.

Di dindingnya kupasang satu foto.

Foto Ayah dan Ibu di Yogyakarta.

Ayah memakai kemeja batik cokelat yang dulu takut dibelinya.

Ibu mengenakan kerudung biru muda yang sudah disiapkannya untuk perjalanan pertama yang gagal.

Mereka berdiri berdampingan sambil tertawa.

Ayah akhirnya menjalani operasi katarak beberapa bulan kemudian.

Biayanya memang membuat tabunganku terkuras.

Tetapi ketika perbannya dibuka dan dia bisa membaca tulisan kecil di kalender tanpa mendekatkan wajah, dia tersenyum kepadaku.

“Jelas sekali.”

Aku tertawa.

“Apa yang jelas?”

“Wajah anak Ayah.”

Aku berpura-pura sibuk merapikan tas supaya dia tidak melihat mataku mulai berair.

Ibu masih seperti dulu.

Setiap berkunjung, dia membawa terlalu banyak makanan.

Tempe bacem.

Telur pindang.

Sambal.

Pisang dari kebun tetangga.

Dia selalu berkata semua itu “tidak ada harganya”.

Sekarang aku tidak pernah lagi membiarkannya mengatakan begitu.

Aku akan menjawab:

“Kalau dari Ibu, ada harganya.”

Setahun setelah kejadian itu, kami pergi bertiga lagi.

Bukan Bali.

Bukan hotel bintang lima.

Kami memilih Malang dan Batu.

Ayah ingin melihat kebun apel.

Ibu ingin naik kereta karena belum pernah.

Saat kereta berangkat dari stasiun, Ayah duduk dekat jendela sambil memegang kopi.

Ibu sibuk memotret sawah yang sebenarnya hampir sama dengan sawah di kampungnya.

Aku duduk di seberang mereka.

Ponselku bergetar.

Sebuah nomor yang tidak kusimpan mengirim satu pesan.

Aku langsung tahu itu Arga.

Aku lihat foto orang tuamu. Sekarang kamu sering ajak mereka jalan-jalan.

Aku tidak menjawab.

Pesan kedua masuk.

Dulu kalau kamu bicara baik-baik mungkin semuanya tidak akan begini.

Aku menatap layar beberapa detik.

Kemudian kuketik satu balasan terakhir.

Dulu aku bicara baik-baik.

Kalian hanya mendengar setelah aku berhenti membayar semuanya.

Pesan terkirim.

Nomor itu kublokir.

Ibu tiba-tiba menunjuk ke luar jendela.

“Naya, lihat!”

Aku menoleh.

Matahari pagi jatuh di atas hamparan sawah.

Tidak ada sesuatu yang luar biasa.

Tidak ada pemandangan mahal.

Tidak ada laut dari balkon hotel.

Tetapi Ayah dan Ibu tersenyum.

Dan kali ini, senyum mereka bukan untuk menjaga perasaanku.

Bukan untuk mencegah menantunya marah.

Bukan untuk berpura-pura bahwa makanan murah sudah cukup menggantikan tiga hari yang sengaja dihancurkan.

Mereka benar-benar bahagia.

Saat itulah aku akhirnya mengerti.

Masalahnya sejak awal bukan apakah seseorang makan ayam cepat saji atau seafood mahal.

Bukan pula apakah seseorang tidur di rumah sederhana atau hotel menghadap laut.

Orang tuaku tidak pernah menuntut kemewahan.

Mereka hanya ingin diperlakukan seolah keberadaan mereka juga berarti.

Dan aku pun sama.

Dulu aku pikir mempertahankan pernikahan adalah bentuk kesetiaan.

Sekarang aku tahu, bertahan di tempat yang terus-menerus merendahkanmu bukan kesetiaan.

Kadang itu hanya ketakutan yang diberi nama lebih indah.

Aku kehilangan seorang suami.

Tetapi setelah keluar dari rumah tangga itu, aku mendapatkan kembali orang tuaku.

Aku mendapatkan kembali rumahku.

Penghasilanku.

Keputusanku.

Dan yang paling penting—

aku mendapatkan kembali diriku sendiri.

Sejak hari itu, aku tidak pernah lagi bertanya apakah orang yang kucintai “pantas” menikmati sesuatu yang baik.

Karena cinta yang sehat tidak pernah menghitung harga untuk menentukan siapa yang layak dihormati.

Dan keluarga yang sesungguhnya tidak membutuhkan satu orang terus-menerus berkorban agar semua orang lain bisa merasa berkuasa.