Bagian 3 — Saat Mereka Memaksaku Mengalah, Aku Mengunci Pintu dan Membuka Semua Bukti
Hal pertama yang kulakukan adalah menelepon pengelola apartemen.
“Jangan terbitkan kartu akses apa pun atas nama Raka Prasetyo.”
Petugas administrasi langsung menjawab,
“Baik, Bu.”
“Saya juga meminta semua permohonan mengenai unit saya hanya diproses kalau saya datang sendiri.”
“Bisa.”
Aku mengirimkan salinan KTP, dokumen kepemilikan dan surat pernyataan baru.
Kemudian aku meminta kartu akses lama dinonaktifkan dan mengganti kode pintu digital.
Biayanya tidak seberapa.
Tapi ketika mendengar bunyi kunci baru aktif, untuk pertama kalinya sejak kemarin dadaku terasa sedikit lega.
Aku memotret surat yang menggunakan tanda tanganku.
Lalu menyimpannya.
Aku tidak langsung menelepon keluarga.
Aku ingin tahu seberapa jauh mereka sebenarnya sudah merencanakan semuanya.
Jawabannya datang lebih cepat daripada dugaanku.
Sore itu Dini menelepon.
“Lar.”
Nada suaranya tidak biasa.
“Ada apa?”
“Adikmu menghubungiku.”
Aku menutup mata.
“Minta uang?”
“Bagaimana kamu tahu?”
Aku tertawa tanpa humor.
“Berapa?”
“Rp350 juta.”
Aku membuka mata lagi.
“Tiga ratus lima puluh?”
Dini mengirim tangkapan layar.
Pesan Raka berbunyi:
“Mbak Dini, Kak Laras sebenarnya sudah setuju bantu DP rumah saya, cuma uangnya masih muter di bisnis. Karena Mbak partner dia, mungkin bisa talang dulu Rp350 juta. Nanti Laras yang ganti.”
Aku membaca kalimat itu dua kali.
Lalu tiga kali.
Ada satu pesan lagi.
“Ini juga demi keluarga Kak Laras, Mbak.”
Aku menatap layar cukup lama.
Dini menelepon kembali.
“Laras, dia bilang kamu sudah setuju.”
“Aku tidak tahu apa-apa.”
“Sudah kuduga.”
“Terima kasih sudah tidak transfer.”
Dini mendengus.
“Kalau aku transfer Rp350 juta hanya karena pesan WhatsApp orang yang bahkan belum pernah kutemui, perusahaan kita sudah bangkrut dari tahun pertama.”
Aku tertawa.
Untuk pertama kalinya sejak pertengkaran kemarin, aku benar-benar tertawa.
Namun setelah sambungan berakhir, aku menyimpan seluruh tangkapan layar.
Surat izin palsu.
Pesan Raka kepada Dini.
Percakapan Ibu di grup keluarga.
Semua kumasukkan ke satu folder.
Nama foldernya sederhana.
“Raka.”
Dua hari kemudian, Ayah menelepon.
Aku tidak menjawab.
Ibu menelepon.
Tidak kujawab.
Raka mengirim pesan.
“Kak, kita selesaikan baik-baik.”
Aku membacanya tanpa membalas.
Lima menit kemudian datang pesan kedua.
“Ayah sampai tidak tidur gara-gara kamu.”
Lalu pesan ketiga.
“Kalau ada apa-apa sama Ayah, tanggung jawab kamu.”
Aku meletakkan ponsel.
Dulu kalimat seperti itu selalu berhasil membuatku takut.
Sekarang tidak lagi.
Karena aku mulai memahami pola mereka.
Kalau Raka melakukan kesalahan, mereka mencari alasan.
Kalau aku menolak menanggung akibatnya, aku yang dibuat merasa bersalah.
Tiga hari kemudian, kejadian yang tidak kuduga terjadi.
Resepsionis apartemen menelepon sekitar pukul sepuluh pagi.
“Bu Laras, ada keluarga Pak Raka datang.”
Aku sedang berada di gudang.
“Keluarga?”
“Sekitar delapan orang.”
Aku langsung berdiri.
“Untuk apa?”
Petugas terdengar ragu.
“Mereka mengatakan ingin melihat unit yang akan ditempati setelah menikah.”
Aku menutup mata.
Jadi Raka benar-benar belum memberi tahu keluarga calon istrinya.
Aku meminta petugas tidak mengizinkan siapa pun naik.
Lalu aku menghubungi Dini.
“Tolong jaga gudang satu jam.”
“Ada apa?”
“Keluargaku sedang membuat episode baru.”
Dini tertawa.
“Pergilah.”
Aku sampai di apartemen sekitar empat puluh menit kemudian.
Dari luar lobby saja aku sudah melihat Ayah.
Ibu.
Raka.
Nisa.
Dan sepasang suami istri yang kemungkinan besar orang tua Nisa.
Selain mereka, ada dua perempuan paruh baya dan seorang laki-laki muda.
Wajah Ayah merah.
Ia sedang berdebat dengan petugas keamanan.
Saat melihatku masuk, Raka langsung berjalan mendekat.
“Kak!”
Aku berhenti beberapa langkah darinya.
“Ada apa?”
“Kok kartu aksesku diblokir?”
Aku hampir tertawa.
“Kartu aksesmu?”
“Iya.”
“Kapan apartemen ini menjadi rumahmu?”
Wajah Nisa berubah.
Ayah menyela.
“Jangan bicara begitu di depan tamu.”
Aku melihat orang tua Nisa.
Lalu kembali menatap Ayah.
“Tamu siapa?”
Ibu berjalan mendekat sambil berbisik,
“Laras, jangan bikin malu keluarga. Mereka datang untuk membicarakan tanggal pernikahan Raka.”
“Di apartemen saya?”
“Kami cuma mau naik sebentar.”
“Tidak.”
Ayah mengatupkan rahang.
“Laras.”
“Tidak.”
Ayah menurunkan suara.
“Sekali ini saja turuti Ayah.”
Aku menatapnya.
“Untuk apa?”
Raka buru-buru berkata,
“Cuma lihat tempat.”
Ayah Raka—ayahku sendiri—kemudian mengucapkan kalimat yang akhirnya menjelaskan semuanya.
“Orang tua Nisa sudah tahu apartemen ini nanti ditempati mereka.”
Aku menoleh pada Nisa.
Nisa justru menatap Raka.
“Katanya ini apartemen kamu.”
Lobby mendadak sunyi.
Raka membeku.
Ibunya Nisa bertanya,
“Raka?”
Nisa menatap calon suaminya.
“Kamu bilang apartemen ini kamu beli dari hasil kerja selama lima tahun.”
Raka membuka mulut.
Tidak ada suara yang keluar.
Aku akhirnya memahami mengapa ia begitu percaya diri membawa keluarga calon istrinya.
Ia tidak hanya berencana tinggal di rumahku.
Ia telah mengaku rumahku sebagai miliknya.
Ayah buru-buru berkata,
“Bukan begitu maksudnya.”
Aku menatapnya.
“Lalu bagaimana?”
“Dalam keluarga, milik kakak ya bisa dipakai adik.”
Aku tertawa kecil.
“Mari saya jelaskan supaya tidak ada salah paham.”
Ibu langsung mencengkeram lenganku.
“Laras.”
Aku menarik lenganku.
“Unit 18-07 dibeli atas nama saya.”
Aku menatap orang tua Nisa.
“Seluruh pembayaran dilakukan dari rekening saya.”
Raka buru-buru menyela.
“Tapi uangnya pinjaman!”
Aku menatapnya.
“Siapa bilang?”
“Ibu.”
Aku menoleh pada Ibu.
Wajahnya mendadak pucat.
Aku mengeluarkan ponsel.
“Baik.”
Aku membuka aplikasi mobile banking lama yang sudah kusiapkan.
“Pembayaran booking fee.”
Kutunjukkan.
“Pembayaran uang muka.”
Geser.
“Pelunasan.”
Geser lagi.
“Pajak dan biaya administrasi.”
Aku menatap Raka.
“Semua dari rekening saya.”
Ia terdiam.
Ibu Nisa memandang suaminya.
Nisa bertanya pelan,
“Jadi soal uang pinjaman dari teman juga bohong?”
Aku menjawab,
“Itu cerita yang saya katakan kepada keluarga karena saya tidak ingin mereka tahu kondisi keuangan saya.”
Raka langsung berkata,
“Lihat! Dia sendiri yang bohong!”
Aku mengangguk.
“Betul.”
Aku tidak menyangkal.
“Aku menyembunyikan penghasilanku.”
Aku menatapnya lurus.
“Karena baru dua hari setelah kalian mengira temanku kaya, kamu sudah mencoba meminjam Rp350 juta darinya atas namaku.”
Wajah Raka seketika pucat.
Aku membuka tangkapan layar.
Dini sudah mengizinkanku menunjukkannya.
“Ini pesanmu?”
Nisa membacanya dari samping.
Wajahnya berubah.
“Kamu minta tiga ratus lima puluh juta?”
Raka menjawab cepat,
“Aku cuma—”
“Dan bilang Laras sudah setuju?”
“Aku pikir—”
“Kapan dia setuju?”
Raka tidak menjawab.
Aku belum selesai.
Aku membuka dokumen berikutnya.
“Lalu ini.”
Kutunjukkan surat pendaftaran penghuni apartemen.
“Ada yang mengajukan nama Raka sebagai penghuni tetap.”
Ayah langsung menoleh ke Raka.
Aku memperbesar bagian bawah dokumen.
“Dan seseorang meniru tanda tangan saya.”
Sekarang bahkan Ayah kehilangan kata-kata.
Ibu Nisa langsung menarik napas panjang.
“Astaghfirullah.”
Nisa memandang Raka.
“Kamu tanda tangan sendiri?”
Raka menjawab cepat,
“Bukan!”
Aku tidak menuduh.
Aku hanya berkata,
“Pihak pengelola menyimpan dokumen aslinya.”
Aku memasukkan ponsel ke tas.
“Kalau diperlukan, mereka bisa mengecek rekaman CCTV saat dokumen diserahkan.”
Raka terdiam.
Aku menatapnya.
“Jadi sebaiknya tidak perlu ada yang berbohong lagi.”
Nisa mundur satu langkah.
Ekspresinya bukan lagi marah.
Ia terlihat malu.
Bukan karena tidak mendapatkan apartemen.
Tapi karena baru menyadari calon suaminya telah membangun rencana pernikahan di atas kebohongan.
Ayah Nisa akhirnya berkata,
“Pak, Bu, sepertinya pembicaraan pernikahan hari ini kita hentikan dulu.”
Ibu langsung panik.
“Pak, jangan salah paham.”
“Saya tidak salah paham.”
Ayah Nisa menunjuk Raka.
“Anak saya diberi tahu bahwa calon suaminya punya tempat tinggal sendiri.”
Ia menatap Ayah.
“Kalau memang harus ngontrak, kami tidak masalah.”
Lalu ia menambahkan,
“Yang jadi masalah adalah berbohong.”
Kalimat itu menghantam lebih keras daripada bentakan.
Nisa tidak berkata apa-apa.
Ia hanya melepas cincin kecil dari jarinya.
Raka langsung panik.
“Nis.”
“Aku perlu berpikir.”
“Nisa, dengar dulu.”
“Apa lagi yang harus kudengar?”
Ia menatap Raka dengan mata merah.
“Kamu bilang motormu sudah lunas.”
Raka membeku.
Aku bahkan tidak tahu soal itu.
Nisa tertawa pahit.
“Ternyata masih cicilan.”
Ia melanjutkan.
“Kamu bilang punya tabungan seratus juta.”
Raka tidak menjawab.
“Ternyata cuma sebelas juta.”
Ibu menatap anak laki-lakinya.
“Raka?”
Aku hampir merasa kasihan pada mereka.
Hampir.
Ternyata kebohongan soal apartemen hanyalah salah satu dari banyak kebohongan Raka.
Nisa pergi bersama keluarganya.
Raka mengejar sampai pintu lobby.
Ia kembali beberapa menit kemudian dengan wajah kacau.
Begitu melihatku, seluruh kemarahannya meledak.
“PUAS KAMU?”
Beberapa orang menoleh.
Aku berdiri diam.
“Gara-gara kamu pernikahanku bisa batal!”
Aku menjawab tenang,
“Pernikahanmu bermasalah karena kebohonganmu.”
“Kalau kamu kasih aku tinggal dua tahun saja, semua ini tidak terjadi!”
Aku menatapnya.
“Justru karena selama ini semua orang selalu memberikan apa yang kamu mau, kamu pikir berbohong pun tidak ada akibatnya.”
Raka hendak maju.
Petugas keamanan langsung berdiri di antara kami.
Ayah menarik bahunya.
“Cukup!”
Untuk pertama kalinya, bentakan Ayah diarahkan kepada Raka.
Adikku terdiam.
Tapi kemudian Ayah menoleh kepadaku.
“Pulang.”
Aku mengangkat alis.
“Kita bicara di rumah.”
“Aku tidak tinggal di sana lagi.”
Rahang Ayah menegang.
“Laras.”
Aku mengambil napas.
“Kalau ingin bicara, bicara sekarang.”
Ibu mulai menangis.
“Apa kamu senang melihat keluarga berantakan?”
Aku memandangnya.
Aku ingin marah.
Tapi tiba-tiba aku terlalu lelah.
“Ibu.”
Suaraku pelan.
“Keluarga ini tidak berantakan hari ini.”
Ibu terdiam.
“Keluarga ini sudah retak sejak bertahun-tahun lalu.”
Aku menatap Ayah.
“Waktu kamar saya diberikan untuk komputer Raka.”
Menatap Ibu.
“Waktu saya harus bekerja sambil kuliah, sedangkan biaya kuliah Raka dibayar penuh.”
Aku kembali melihat mereka berdua.
“Waktu motor Raka rusak, saya diminta transfer.”
“Waktu atap rumah bocor, saya yang bayar.”
“Waktu Ibu dirawat karena demam berdarah, saya yang melunasi rumah sakit.”
Raka langsung menyela.
“Aku juga bantu!”
Aku membuka ponsel.
“Rp500 ribu.”
Ia diam.
“Tagihan rumah sakit waktu itu Rp18,7 juta.”
Aku menunjukkan transfer bank.
“Aku bayar Rp18 juta.”
Kemudian satu per satu kubuka bukti lama.
Perbaikan atap.
Rp14,6 juta.
Kulkas baru.
Rp6,8 juta.
Premi BPJS tambahan.
Tagihan listrik ketika Ayah tidak bekerja dua bulan.
Biaya servis motor Raka.
Bahkan uang muka katering ulang tahun pernikahan Ayah dan Ibu.
Selama bertahun-tahun aku tidak pernah menghitung semuanya.
Hari itu aku menghitung.
Bukan karena ingin menagih.
Tapi karena selama ini keluargaku selalu menceritakan kepada saudara bahwa Raka adalah anak yang paling perhatian.
Aku?
Katanya jarang pulang dan terlalu sibuk bekerja.
“Aku tidak minta satu rupiah pun dikembalikan.”
Aku mematikan layar.
“Tapi mulai hari ini jangan bilang aku tidak pernah membantu keluarga.”
Ayah memandang lantai.
Ibu tidak menangis lagi.
Raka hanya berdiri sambil mengepalkan tangan.
Aku menatapnya.
“Dan mulai hari ini, utangmu bukan tanggung jawabku.”
“Pernikahanmu bukan tanggung jawabku.”
“Rumahmu bukan tanggung jawabku.”
“Kalau suatu hari Ayah atau Ibu sakit dan butuh pengobatan, aku akan bantu sesuai kemampuanku.”
Aku berhenti sebentar.
“Tapi uangnya akan langsung kubayar ke rumah sakit.”
Aku melihat ketiganya.
“Tidak lagi lewat kamu.”
Raka tertawa sinis.
“Jadi sekarang Kakak merasa paling hebat?”
“Tidak.”
Aku menggeleng.
“Aku cuma akhirnya berhenti menjadi orang yang selalu diminta mengalah.”
Hari itu mereka pulang.
Aku naik sendiri ke apartemen.
Tukang renovasi masih bekerja.
Begitu melihatku, kepala tukang bertanya,
“Bu Laras, jadi AC kamar utama bagaimana?”
Aku berdiri di depan pintu kamar.
“Pasang.”
“Kamar kedua?”
“Pasang juga.”
“Ruang tamu?”
Aku tersenyum.
“Pasang semuanya.”
Dua minggu kemudian apartemen selesai.
Aku pindah masuk bersama delapan kardus, dua koper dan satu tanaman monstera yang diberikan Dini.
Tidak ada pesta besar.
Cuma Dini, Maya, beberapa teman kerja dan nasi tumpeng kecil di meja makan.
Malam pertama tinggal di sana, aku menyalakan AC kamar pada suhu 25 derajat.
Aku berbaring di tempat tidur.
Tidak ada atap bocor.
Tidak ada suara game dari kamar sebelah.
Tidak ada yang membuka pintu tanpa mengetuk.
Aku menangis.
Bukan karena sedih.
Aku hanya baru sadar betapa lama aku menunggu malam seperti itu.
Setelah kejadian di lobby, hubungan Raka dan Nisa tidak langsung berakhir.
Tapi pernikahan mereka ditunda.
Nisa meminta Raka menunjukkan seluruh kondisi keuangannya.
Barulah diketahui bahwa ia memiliki cicilan motor, kartu kredit dan beberapa paylater dengan total lebih dari Rp90 juta.
Tidak sebesar angka yang bisa menghancurkan hidup seseorang.
Tapi cukup untuk membuktikan bahwa ia tidak pernah memiliki tabungan seperti yang selama ini ia ceritakan.
Nisa akhirnya memutuskan pertunangan tiga bulan kemudian.
Bukan karena Raka miskin.
Setidaknya itu yang Maya ceritakan kepadaku.
Nisa berkata kepada keluarganya,
“Aku bisa hidup susah dengan orang jujur. Tapi aku takut hidup nyaman bersama pembohong.”
Aku tidak ikut campur.
Raka sempat mengirimiku pesan panjang.
Isinya sebagian besar menyalahkanku.
Aku membacanya sekali.
Kemudian membalas satu kalimat.
“Semoga setelah ini kamu belajar membangun sesuatu yang tidak perlu diambil dari orang lain.”
Setelah itu aku memblokir nomornya selama beberapa bulan.
Ayah juga tidak pernah datang ke apartemen.
Aku tidak mengundang.
Ia pernah berkata tidak akan menginjakkan kaki ke rumahku kalau aku memasang AC.
Aku menghormati ucapannya.
Anehnya, setelah kehilangan satu-satunya orang yang selalu menutupi akibat dari keputusan buruknya, Raka mulai berubah.
Bukan secara ajaib.
Bukan tiba-tiba menjadi anak sempurna.
Ia hanya tidak punya pilihan.
Ia menjual motor besarnya dan menggantinya dengan motor bekas yang lebih murah.
Sebagian uangnya digunakan menutup cicilan.
Ia mengambil lembur.
Berhenti membeli ponsel baru setiap tahun.
Enam bulan kemudian, Maya memberitahuku Raka sudah pindah ke kontrakan yang lebih kecil.
“Sekarang dia masak sendiri,” kata Maya sambil tertawa.
Aku hampir tidak percaya.
“Serius?”
“Iya.”
“Bisa?”
“Katanya dua kali gosong.”
Aku tertawa.
Kadang-kadang konsekuensi memang menjadi guru yang jauh lebih efektif daripada kakak perempuan.
Hubunganku dengan orang tua juga berubah.
Ibu masih beberapa kali mencoba meminta uang.
Tetapi sekarang aku selalu bertanya,
“Untuk apa?”
Kalau benar-benar untuk kebutuhan rumah, kadang aku bantu.
Kalau untuk Raka, jawabanku sama.
“Tidak.”
Pada awalnya Ibu marah.
Kemudian merajuk.
Lalu mendiamkanku.
Tapi ketika semua itu tidak lagi berhasil, perlahan-lahan ia berhenti.
Hampir setahun setelah aku pindah, suatu Minggu pagi, resepsionis menelepon.
“Bu Laras, ada tamu.”
“Siapa?”
“Pak Hendra.”
Ayah.
Aku terdiam cukup lama.
“Sendiri?”
“Dengan Bu Ratna.”
Ibu juga datang.
Aku turun ke lobby.
Ayah berdiri membawa satu kantong besar mangga dari Karawang.
Ibu membawa rantang.
Tidak ada Raka.
Kami saling menatap.
Ayah terlihat lebih kurus.
Rambut putihnya bertambah.
Ia mengangkat kantong mangga.
“Pohon belakang rumah berbuah.”
Aku mengangguk.
“Oh.”
Kami kembali diam.
Lalu Ibu berkata,
“Ayahmu mau melihat rumahmu.”
Aku menatap Ayah.
“Bukannya Ayah bilang tidak akan masuk kalau ada AC?”
Ibu menyikut lengannya.
Ayah berdeham.
“Ayah waktu itu…”
Ia berhenti.
Sepertinya kata maaf terlalu berat keluar dari mulutnya.
Aku tidak membantu.
Aku menunggu.
Hampir sepuluh detik kemudian, ia berkata,
“Ayah salah.”
Hanya dua kata.
Tapi seumur hidupku, aku hampir tidak pernah mendengarnya mengatakan itu kepadaku.
Aku bertanya,
“Salah soal AC?”
Ayah menatapku.
“Salah banyak hal.”
Dadaku terasa sesak.
Bukan karena AC.
Aku melihat wajahnya lama.
Aku tahu sebuah permintaan maaf tidak bisa menghapus masa kecilku.
Tidak bisa mengubah malam-malam di kamar belakang.
Tidak bisa mengembalikan tahun-tahun ketika aku selalu menjadi anak yang harus mengerti.
Tapi aku juga tahu menerima permintaan maaf tidak berarti menyerahkan kunci rumahku lagi.
Aku menekan tombol lift.
“Naiklah.”
Kami masuk.
Begitu pintu apartemen terbuka, Ibu melihat sekeliling.
Tidak banyak berubah.
Sofa sederhana.
Meja makan kecil.
Rak buku.
Tanaman di balkon.
Tidak ada kemewahan seperti yang mungkin mereka bayangkan.
Hanya rumah yang nyaman.
Rumahku.
Ayah duduk di sofa.
AC ruang tamu menyala pada suhu 26 derajat.
Aku sengaja tidak mematikannya.
Sepuluh menit berlalu.
Ayah makan potongan semangka.
Dua puluh menit.
Ia minum teh.
Setengah jam kemudian aku bertanya,
“Ayah sesak?”
Ia mengernyit.
“Kenapa?”
“AC.”
Ayah terdiam.
Ibu langsung tertawa.
Aku ikut tertawa kecil.
Akhirnya Ayah bergumam,
“Tidak.”
Aku memandang udara dingin yang bergerak lembut dari ventilasi.
Ternyata sejak awal memang bukan AC yang membuat rumah terasa sesak.
Bukan ukuran kamar.
Bukan harga apartemen.
Bukan pula siapa yang menikah lebih dulu.
Yang membuat sebuah rumah sesak adalah ketika kasih sayang selalu ditimbang berdasarkan siapa anak laki-laki dan siapa anak perempuan.
Aku membutuhkan tiga puluh tahun untuk memahami satu hal sederhana:
Membantu keluarga adalah pilihan.
Mencintai keluarga adalah perasaan.
Tapi mengorbankan hidup agar orang lain tidak perlu bertanggung jawab atas hidupnya sendiri bukan kewajiban.
Ketika Ayah dan Ibu pulang sore itu, mereka tidak membawa kunci cadangan.
Mereka tidak meminta kamar.
Mereka tidak membicarakan Raka.
Ayah hanya berdiri di depan pintu.
“Rumahmu bagus.”
Aku tersenyum.
“Terima kasih.”
Pintu lift menutup.
Aku kembali masuk.
Menutup pintu.
Dan ketika bunyi kunci digital berbunyi pelan, aku tersadar bahwa janji yang pernah kubuat di kamar sempit bertahun-tahun lalu akhirnya benar-benar terpenuhi.
Aku punya rumah sendiri.
Bukan sekadar karena namaku tertulis di dokumennya.
Tetapi karena untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku bisa menentukan siapa yang boleh masuk, siapa yang harus mengetuk, dan batas apa yang tidak boleh dilanggar siapa pun.
Termasuk keluargaku sendiri.

