GAJIKU HAMPIR RP9 MILIAR SETAHUN, TAPI DI ULANG TAHUN MERTUA, MANTAN ISTRI SUAMIKU DUDUK DI KURSI KELUARGA—MALAM ITU AKU MEMUTUS SEMUA AKSES

Avatar penulis
Cerita 03
18 menit baca 855 tayangan
Indeks

GAJIKU HAMPIR RP9 MILIAR SETAHUN, TAPI DI ULANG TAHUN MERTUA, MANTAN ISTRI SUAMIKU DUDUK DI KURSI KELUARGA—MALAM ITU AKU MEMUTUS SEMUA AKSES

Bagian 1 — Aku Membayar Seluruh Pesta Ulang Tahun Itu, tetapi Perempuan yang Pernah Menjadi Istrinya Justru Diperlakukan Seperti Tuan Rumah

Aku datang ke restoran di kawasan Kemang membawa kotak kue dua tingkat yang sudah kupesan tiga minggu sebelumnya.

Di tangan kiriku ada tas kecil berisi gelang emas untuk Ibu Ratna, ibu mertuaku, yang hari itu genap berusia enam puluh lima tahun.

Pesta itu bukan pesta kecil.

Aku menyewa satu ruangan privat, memilih menu sendiri, membayar dekorasi, fotografer, serta dua kamar hotel untuk kerabat suamiku yang datang dari Semarang.

Total tagihannya hampir Rp68 juta.

Aku tidak keberatan.

Selama tiga tahun menikah dengan Arga, aku selalu berusaha memperlakukan keluarganya seperti keluargaku sendiri.

Namun begitu pintu ruangan dibuka, langkahku berhenti.

Di kursi utama sebelah kanan Ibu Ratna duduk seorang perempuan berkebaya hijau pucat.

Rambutnya disanggul sederhana.

Di samping piringnya ada tas kulit cokelat yang langsung kukenal karena dua tahun lalu aku pernah melihat foto perempuan itu membawanya.

Namanya Maya.

Mantan istri Arga.

Ibu Ratna sedang menggenggam tangannya sambil tertawa.

“Maya, duduk di sini saja. Kamu tahu sendiri Ibu paling nyaman kalau kamu dekat.”

Maya tersenyum tipis.

Lalu matanya bertemu denganku.

“Oh, Mbak Nadia sudah datang.”

Mbak Nadia.

Nada suaranya terdengar sopan, tetapi justru itu membuat dadaku semakin sesak.

Aku belum bergerak ketika Arga buru-buru mendekat.

Ia mengambil kotak kue dari tanganku.

“Kok tidak telepon? Aku bisa turun jemput.”

Aku menatap lurus ke arahnya.

“Kenapa Maya ada di sini?”

Arga menoleh cepat ke meja.

Ekspresinya berubah sepersekian detik.

“Mama yang mengundang.”

“Kamu tahu?”

Ia tidak langsung menjawab.

Aku mengulanginya.

“Kamu tahu dia akan datang?”

Arga mengembuskan napas.

“Baru tahu dua hari lalu.”

Aku hampir tertawa.

“Dua hari lalu?”

“Nadia, jangan mulai sekarang.”

Itulah kalimat pertamanya.

Bukan maaf.

Bukan penjelasan.

Jangan mulai sekarang.

Aku menatap laki-laki yang sudah tidur satu ranjang denganku selama tiga tahun itu.

“Kamu punya waktu dua hari untuk memberitahuku.”

“Ini ulang tahun Mama.”

“Jadi?”

“Jangan bikin suasana tidak enak.”

Aku tidak berkata apa-apa lagi.

Karena belasan orang di meja sudah memperhatikan kami.

Bibi Arga melambai.

“Nadia, sini. Jangan berdiri di pintu.”

Aku masuk.

Seorang pelayan mengambil mantelku.

Ibu Ratna tersenyum lebar seolah tidak terjadi apa-apa.

“Nadia, akhirnya datang juga. Restorannya bagus sekali. Mama suka dekorasinya.”

Aku mengangguk.

“Syukurlah kalau Mama suka.”

Kemudian Ibu Ratna menepuk tangan Maya.

“Maya tadi datang lebih awal. Dia masih ingat Mama suka sup iga tanpa terlalu banyak merica. Sampai bilang ke pelayannya sendiri.”

Maya tertawa kecil.

“Dulu kan saya sering masak untuk Mama.”

Ibu Ratna langsung menjawab,

“Makanya Mama bilang, kebiasaan tujuh tahun itu memang susah hilang.”

Beberapa orang tersenyum canggung.

Aku berdiri tepat di belakang kursi kosong yang disiapkan untukku.

Kursinya berada tiga tempat dari Ibu Ratna.

Arga di sebelah kiriku.

Pak Darto, pamannya, di sebelah kanan.

Ibu Ratna menunjuk kursi itu.

“Nadia duduk sama Arga saja, ya.”

Aku memandang kursi Maya sekali lagi.

Kursi paling dekat dengan Ibu Ratna.

Kursi yang biasanya diberikan kepada anggota keluarga inti saat foto dan potong kue.

Bibinya Arga terkekeh.

“Ah, duduk di mana saja sama. Keluarga sendiri ini.”

Aku menarik kursiku.

“Betul, Bi.”

Di bawah meja, Arga menyentuh lenganku.

“Jangan dipikirkan.”

Aku langsung menarik tangan.

“Aku belum mengatakan apa-apa.”

“Tapi wajahmu kelihatan.”

Aku menoleh.

“Kalau kamu begitu mengenal wajahku, kenapa kamu tidak tahu aku akan merasa dipermalukan ketika datang ke pesta yang kubayar sendiri dan melihat mantan istrimu duduk seperti menantu utama?”

Wajah Arga menegang.

“Nadia.”

“Apa?”

Ia tidak menjawab.

Pelayan datang menuangkan teh.

Arga memilih diam.

Dan pada saat itulah aku sadar bahwa persoalan sebenarnya bukan Maya.

Masalahnya adalah Arga.

Selama ini aku selalu berpikir diamnya adalah cara dia menghindari konflik.

Ternyata diamnya hanya muncul ketika orang yang harus dikorbankan adalah aku.

Aku menikah dengan Arga saat usiaku tiga puluh tujuh tahun.

Aku bekerja sebagai direktur komersial sebuah perusahaan distribusi alat laboratorium di Jakarta.

Selain gaji dan bonus tahunan, aku memiliki saham kecil di dua perusahaan.

Penghasilanku tidak selalu sama, tetapi dua tahun terakhir totalnya mendekati Rp9 miliar per tahun.

Arga bekerja sebagai kepala divisi proyek di perusahaan properti.

Pendapatannya sekitar Rp900 juta setahun.

Sangat cukup.

Kami tidak pernah kekurangan.

Ketika pertama kali mengetahui penghasilanku, Arga hanya terdiam kemudian berkata,

“Aku harus kerja tiga atau empat tahun untuk dapat angka seperti itu.”

Aku menganggapnya sekadar candaan.

Sebelum menikah, aku sudah memiliki apartemen di Kuningan dan rumah kecil di Tangerang Selatan yang kusewakan.

Arga memiliki rumah di Bekasi yang masih dicicil.

Aku tidak pernah meminta penghasilannya.

Aku juga tidak pernah menuntut dia membayar gaya hidupku.

Saat kami menikah, kami sepakat rekening pribadi tetap terpisah.

Rekening bersama hanya untuk kebutuhan rumah tangga.

Satu-satunya hal yang membuatku ragu sebelum menikah adalah pernikahan pertamanya.

Arga dan Maya menikah hampir delapan tahun.

Mereka tidak punya anak.

Menurut Arga, mereka bercerai karena hubungan mereka sudah terlalu penuh pertengkaran.

“Tidak ada orang ketiga,” katanya.

“Kami cuma sama-sama capek.”

Aku pernah bertanya,

“Setelah cerai masih sering berhubungan?”

“Tidak.”

“Dengan Mama?”

Arga sempat diam.

“Mama memang dekat sama Maya dulu. Tapi mereka tahu batas.”

Ternyata batas itu hanya ada dalam kalimat Arga.

Setelah menikah, beberapa kali aku mendengar Ibu Ratna menyebut Maya.

Saat aku membelikannya tas untuk Lebaran, ia berkata,

“Maya dulu pernah belikan Mama model seperti ini.”

Saat aku mengajaknya pemeriksaan kesehatan lengkap di rumah sakit swasta, ia berkata,

“Maya juga selalu cerewet soal kolesterol Mama.”

Pernah aku memasakkan soto ayam ketika ia menginap di rumah kami.

Baru satu sendok masuk mulutnya, ia berkata,

“Kalau Maya masak, kuahnya biasanya lebih pekat.”

Aku tetap tersenyum.

Aku tidak pernah melarang Ibu Ratna mengenang mantan menantunya.

Orang tidak bisa menghapus tujuh tahun hubungan hanya karena selembar akta perceraian.

Yang kuminta cuma batas.

Tetapi rupanya semakin aku diam, semakin mereka menganggap batas itu tidak ada.

Malam itu, setelah hidangan pembuka selesai, Ibu Ratna tiba-tiba meminta fotografer bersiap.

“Ayo foto keluarga dulu sebelum makan utama.”

Semua berdiri.

Aku ikut bangkit.

Ibu Ratna berdiri di tengah.

Arga berdiri di kanan.

Aku otomatis hendak berdiri di samping Arga.

Namun tiba-tiba Ibu Ratna memanggil,

“Maya, sini.”

Ruangan langsung sunyi.

Maya mengangkat kedua tangan.

“Jangan, Bu. Saya foto dari samping saja.”

“Kenapa?”

Ibu Ratna tertawa.

“Kamu sudah seperti anak sendiri.”

Kemudian ia menarik Maya ke sebelah kirinya.

Aku berdiri di ujung.

Fotografer bahkan terlihat bingung.

“Bu, semuanya keluarga inti?”

Ibu Ratna menjawab cepat,

“Iya.”

Satu kata itu seperti tamparan.

Aku menoleh kepada Arga.

Ia mendengarnya.

Semua orang mendengarnya.

Tetapi Arga hanya membenarkan manset kemejanya dan berkata kepada fotografer,

“Cepat saja, Mas.”

Flash kamera menyala.

Aku tersenyum.

Bukan karena aku baik-baik saja.

Aku hanya tidak mau wajahku terlihat hancur dalam foto yang suatu hari mungkin akan mereka pajang sebagai bukti betapa bodohnya aku pernah bertahan.

Setelah foto selesai, aku pergi ke toilet.

Arga menyusul.

“Nadia.”

Aku terus berjalan.

Ia menarik siku tanganku pelan.

“Jangan begitu.”

Aku menatap tangannya sampai ia melepaskannya sendiri.

“Kamu mau aku bagaimana?”

“Mama cuma senang Maya datang. Tidak perlu diperbesar.”

“Aku yang memperbesar?”

“Ya bukan begitu maksudku.”

“Kalau mantan pacarku datang ke ulang tahun papaku, duduk di sebelah Papa, lalu Papa menyebut dia keluarga inti sementara kamu berdiri di ujung foto, kamu akan merasa biasa saja?”

Arga terlihat kesal.

“Kamu selalu membuat analogi yang tidak relevan.”

“Kenapa tidak relevan?”

“Karena Maya punya sejarah panjang dengan keluarga ini.”

Aku terdiam.

Kemudian aku tertawa kecil.

“Jadi aku tidak punya?”

“Kamu tahu bukan itu maksudku.”

“Tiga tahun pernikahan kita ternyata kalah penting dibanding delapan tahun masa lalu kalian?”

“Nadia, berhenti.”

Aku memandangnya lama.

“Yang harus berhenti sebenarnya siapa, Ga?”

Ia mengusap wajah.

“Mama sudah tua. Jangan bikin beliau malu di depan keluarga.”

Kalimat itu membuat sesuatu dalam diriku patah.

Bukan karena keras.

Justru karena sangat jelas.

Dalam setiap konflik, aku selalu diminta mengalah karena aku dianggap paling kuat.

Aku punya uang.

Aku punya pekerjaan bagus.

Aku mandiri.

Aku tidak bergantung kepada siapa pun.

Maka perasaanku selalu dianggap bisa menanggung sedikit luka tambahan.

Kami kembali ke meja.

Aku duduk.

Aku makan beberapa suap tanpa benar-benar merasakan apa pun.

Kemudian datang saat pemberian hadiah.

Kerabat menyerahkan amplop satu per satu.

Aku menunggu semua selesai.

Setelah itu kubuka tas kecilku dan mengeluarkan kotak perhiasan.

“Ma, ini dari saya.”

Ibu Ratna membuka kotak itu.

Gelang emas putih dengan batu safir kecil.

Wajahnya langsung berseri.

“Ya Allah, cantik sekali.”

Salah satu bibinya berseru,

“Wah, pasti mahal.”

Ibu Ratna tertawa.

“Nadia memang kalau kasih hadiah selalu tidak tanggung-tanggung.”

Beberapa orang ikut tertawa.

Kemudian Maya mengeluarkan sebuah kantong kertas kecil.

Ia memberikan syal batik tulis kepada Ibu Ratna.

Ibu Ratna langsung memeluknya.

“Ini yang Mama bilang kemarin?”

Aku membeku.

Kemarin.

Artinya mereka sudah berbicara sebelumnya.

Maya menjawab,

“Iya. Saya pilih warna yang Mama kirim di WhatsApp.”

Aku perlahan menoleh kepada Arga.

Ia menghindari tatapanku.

Namun kejutan sebenarnya baru datang beberapa menit kemudian.

Ibu Ratna sedang menunjukkan syal itu kepada kerabat ketika ponsel Arga yang tergeletak di meja menyala.

Sebuah notifikasi WhatsApp muncul.

Nama grupnya cukup terlihat dari tempatku duduk.

Keluarga Inti Ratna

Di bawahnya muncul pesan baru dari Maya.

“Untung Nadia belum tahu soal rencana rumah Mama. Nanti jelaskan setelah acara saja, ya.”

Aku tidak bergerak.

Aku hanya membaca sekali.

Lalu dua kali.

Kemudian kutatap Arga.

Wajahnya seketika pucat.

Tangannya langsung meraih ponsel.

Terlambat.

Aku sudah melihatnya.

Aku berdiri.

Tidak membanting meja.

Tidak berteriak.

Aku hanya mengambil tas.

Ibu Ratna menoleh.

“Nadia, mau ke mana? Kuenya belum dipotong.”

Aku menatap perempuan yang pesta ulang tahunnya baru saja kubayar hampir tujuh puluh juta rupiah.

Lalu aku memandang suamiku.

“Silakan potong bersama keluarga inti Mama.”

Dan aku berjalan keluar.

Malam itu Arga menelepon dua puluh tiga kali.

Ibu Ratna sebelas kali.

Kakaknya tujuh kali.

Bahkan Maya dua kali.

Tidak satu pun kuangkat.

Sebelum tidur, aku memblokir semuanya.

Lalu aku membuka laptop.

Karena ada satu kalimat dalam pesan Maya yang terus berputar di kepalaku.

Rencana rumah Mama.

Dan ketika kubuka rekening bersama kami, aku melihat tiga transfer dengan nilai total Rp480 juta menuju rekening yang sama—rekening yang sama sekali tidak kukenal.

#DramaKeluarga #RahasiaRumahTangga #KisahPernikahan #CeritaIndonesia #KonflikKeluarga

Bagian 2 — Tiga Transfer dari Rekening Bersama Membuka Rencana Mereka, dan Nama Mantan Istri Suamiku Ternyata Ada di Dalamnya

Aku menatap layar sampai hampir pukul dua pagi.

Rp150 juta.

Rp180 juta.

Rp150 juta.

Total Rp480 juta.

Rekening bersama kami seharusnya hanya berisi dana rumah tangga dan dana darurat.

Setiap bulan Arga memasukkan Rp25 juta.

Aku memasukkan Rp45 juta.

Karena penghasilanku lebih tinggi, aku memang menyetor lebih banyak.

Tetapi kami sudah sepakat, pengeluaran di atas Rp30 juta harus diketahui bersama.

Tiga transfer itu dilakukan dalam waktu empat bulan.

Yang membuatku semakin dingin, keterangannya bukan “rumah Mama”.

Melainkan:

DP Renovasi.

Aku memeriksa mutasi lebih lama.

Penerimanya bernama CV Griya Sentosa.

Aku mencari nama itu di internet.

Perusahaan kontraktor kecil di Bekasi.

Direkturnya bernama Bima Santoso.

Nama itu terasa familier.

Lalu aku teringat.

Bima adalah adik Maya.

Jadi uang Rp480 juta dari rekening rumah tangga kami masuk ke perusahaan adik mantan istri suamiku.

Aku tidak langsung menelepon siapa pun.

Aku mengunduh seluruh mutasi.

Menyimpan PDF.

Mengirim salinan ke email pribadi.

Lalu mengganti password mobile banking.

Pagi berikutnya pukul tujuh, Arga datang ke apartemenku di Kuningan.

Aku memang punya apartemen itu sejak sebelum menikah.

Semalam aku memilih tidur di sana.

Ia menekan bel berkali-kali.

Akhirnya kubuka pintu.

Arga terlihat tidak tidur.

“Nadia, kita bicara.”

“Bicara.”

“Aku masuk dulu.”

“Di sini saja.”

Wajahnya berubah.

“Kita suami istri.”

“Karena itu seharusnya kamu lebih mudah menjelaskan Rp480 juta.”

Arga membeku.

Beberapa detik ia hanya menatapku.

“Kamu buka rekening?”

“Rekening itu atas nama kita berdua.”

“Nadia…”

“CV Griya Sentosa punya siapa?”

Ia menutup mata sebentar.

Saat itu aku tahu jawabannya.

“Adiknya Maya.”

“Bagus. Berarti aku tidak salah baca.”

“Aku bisa jelaskan.”

“Silakan.”

Arga menarik napas.

Ternyata enam bulan lalu Ibu Ratna ingin membeli sebuah rumah satu lantai di Salatiga untuk masa pensiun.

Rumah itu milik saudara jauh Maya.

Harganya Rp1,9 miliar.

Ibu Ratna hanya punya sekitar Rp900 juta dalam deposito.

Sisanya rencananya ditutup dari penjualan rumah lamanya.

Namun rumah lama belum laku.

Agar transaksi tidak lepas, Arga diam-diam mengambil dana dari rekening bersama.

“Kenapa lewat perusahaan adik Maya?”

“Karena mereka bantu urus renovasi dan uang tanda jadi.”

“Kenapa aku tidak tahu?”

Arga tidak langsung menjawab.

Aku menatapnya.

“Kenapa?”

“Mama takut kamu tidak setuju.”

Aku tertawa.

“Jadi karena takut aku tidak setuju, kalian memutuskan menggunakan uangku tanpa bertanya?”

“Bukan uangmu saja.”

“Enam puluh empat persen isi rekening itu berasal dariku.”

“Nadia, jangan hitung-hitungan seperti itu.”

Kalimat itu benar-benar luar biasa.

Orang yang menggunakan uang tanpa izin justru meminta pemilik uang untuk tidak berhitung.

Aku bersandar pada pintu.

“Ada hal lain?”

Arga menggeleng.

Aku langsung tahu ia berbohong.

“Aku tanya sekali lagi. Ada hal lain?”

“Nggak ada.”

Aku mengambil ponsel.

Kuperlihatkan tangkapan layar pesan Maya.

Untung Nadia belum tahu soal rencana rumah Mama.

“Kenapa mantan istrimu tahu lebih dulu daripada istrimu?”

Arga tidak punya jawaban.

Aku melanjutkan,

“Kenapa dia ada di grup bernama Keluarga Inti Ratna?”

Ia menunduk.

“Itu grup lama.”

“Lama?”

“Iya.”

“Kenapa kamu masih ada di sana?”

“Mama tidak pernah menghapus Maya.”

“Dan kamu?”

“Aku cuma jarang buka.”

Aku tersenyum.

“Jangan bohong kalau bahkan kamu tidak menyiapkan kebohongannya dengan baik.”

Arga mulai kehilangan kesabaran.

“Kamu mau apa sebenarnya? Uangnya akan kembali setelah rumah Mama terjual.”

“Kalau rumahnya tidak laku?”

“Aku tanggung.”

“Pakai apa?”

Ia diam.

Aku kemudian menanyakan satu hal yang sebenarnya sudah kuketahui jawabannya.

“Siapa yang akan tinggal dengan Mama di Salatiga?”

Arga menghela napas panjang.

“Maya punya rencana buka studio katering di sana. Dia mungkin akan sewa paviliun belakang.”

Aku benar-benar tidak mampu bicara selama beberapa detik.

Jadi begitulah.

Uang dari rekening bersama kami dipakai untuk membantu membeli rumah.

Rumah itu berada dalam transaksi yang diatur keluarga Maya.

Renovasinya dilakukan adik Maya.

Dan setelah selesai, Maya akan menjalankan bisnis dari paviliunnya.

Semua sudah dibicarakan.

Semua sudah direncanakan.

Satu-satunya orang yang tidak perlu tahu adalah aku.

Padahal sebagian besar uang berasal dariku.

“Aku minta uang Rp480 juta dikembalikan dalam tujuh hari.”

Arga menatapku.

“Nadia, jangan gila.”

“Kalau tidak?”

“Itu untuk Mama.”

“Aku tidak pernah melarang kamu membantu ibumu.”

“Terus kenapa begini?”

“Karena kamu mengambil keputusan atas uang bersama tanpa persetujuanku dan menyembunyikannya bersama mantan istrimu.”

“Maya tidak ada hubungannya dengan kita.”

Aku tertawa.

“Namanya ada di grup keluargamu. Adiknya menerima uang kita. Kerabatnya menjual rumah kepada ibumu. Dia akan membuka usaha di sana. Kemarin dia duduk di kursi utama pada pesta yang kubayar. Tapi dia tidak ada hubungannya?”

Arga menatapku dengan wajah keras.

Kemudian ia mengucapkan kalimat yang akhirnya membuatku benar-benar berhenti berharap.

“Kamu punya uang jauh lebih banyak, Nad. Kenapa Rp480 juta harus sampai menghancurkan keluarga?”

Aku menatapnya lama.

“Aku juga ingin bertanya.”

Aku mendekat satu langkah.

“Karena aku punya uang banyak, kenapa kalian merasa boleh mengambilnya?”

Ia terdiam.

Aku menutup pintu.

Siang itu aku menemui pengacara.

Bukan untuk langsung bercerai.

Aku ingin memastikan dokumen, rekening, aset, dan hak kami masing-masing jelas.

Sore harinya, bank mengonfirmasi sesuatu yang lebih buruk.

Arga ternyata sempat mengajukan peningkatan limit transfer rekening bersama tiga bulan lalu.

Ia menandatangani formulir digital melalui perangkat yang pernah kami gunakan bersama.

Aku memeriksa email lama.

Ada notifikasi bank yang masuk ketika aku sedang dinas dua minggu di Surabaya.

Pesannya sudah ditandai terbaca.

Aku tidak pernah membukanya.

Berarti seseorang membukanya dari laptop rumah.

Malamnya, kakak Arga menelepon dari nomor berbeda.

Aku mengangkat karena tidak mengenal nomornya.

“Nadia, kamu keterlaluan. Mama sampai tidak makan.”

“Ada apa?”

“Arga bilang kamu minta uang itu kembali minggu ini.”

“Betul.”

“Itu uang untuk rumah Mama.”

“Sebagiannya uang saya.”

“Kamu kan punya banyak.”

Lagi.

Kalimat yang sama.

Seolah kekayaan adalah surat izin bagi orang lain untuk menginjak batas.

Aku hendak menutup telepon ketika kakaknya berkata,

“Lagian rumah itu nanti juga bisa jadi milik Arga.”

Aku berhenti.

“Apa maksudnya?”

Ia ikut diam.

Aku bertanya pelan,

“Rumah itu atas nama siapa?”

Tidak ada jawaban.

“Mas?”

Telepon ditutup.

Dadaku langsung terasa dingin.

Aku membuka laptop.

Menghubungi notaris yang direkomendasikan pengacaraku.

Dua hari kemudian kami mendapatkan salinan dokumen pemesanan awal rumah tersebut.

Dan ketika pengacaraku mengirim fotonya, aku membaca nama calon pembeli yang tercantum.

Bukan Ibu Ratna.

Bukan Arga.

Melainkan dua nama.

Ratna Wulandari.

Dan tepat di bawahnya:

Maya Permatasari.

Bagian 3 — Ketika Dokumen Rumah Menampilkan Nama Mantan Istrinya, Aku Berhenti Berdebat dan Membiarkan Bukti Mengakhiri Pernikahan Kami

Aku membaca dokumen itu tiga kali.

Kemudian kukirim satu pesan kepada Arga.

Besok pukul sepuluh. Kantor pengacaraku. Datang kalau masih ingin menjelaskan.

Ia datang bersama Ibu Ratna.

Aku tidak keberatan.

Malah lebih mudah.

Begitu duduk, Ibu Ratna langsung berkata,

“Nadia, Mama akui seharusnya memberi tahu kamu. Tapi jangan sampai rumah tangga kalian rusak hanya karena uang.”

Aku mendorong salinan dokumen ke tengah meja.

“Kalau ini rumah Mama, kenapa nama Maya tercantum sebagai calon pemilik bersama?”

Wajah Ibu Ratna berubah.

Arga langsung melihat ibunya.

Itulah pertama kalinya aku sadar bahwa ternyata ada bagian yang bahkan Arga belum tahu.

Ibu Ratna memegang dokumen itu.

“Maya cuma membantu.”

“Orang yang membantu tidak perlu tercantum sebagai pemilik.”

Ibu Ratna mulai gugup.

Akhirnya semuanya keluar.

Rumah di Salatiga itu sebenarnya milik paman Maya.

Harga pasar sekitar Rp1,6 miliar.

Namun kepada Arga mereka menyebut Rp1,9 miliar karena renovasi akan dimasukkan sekaligus.

Ibu Ratna ingin tinggal di sana.

Maya berencana membuka katering dan menggunakan paviliun belakang.

Sebagai gantinya, Maya akan ikut membayar cicilan sisa setelah rumah lama Ibu Ratna terjual.

Karena itulah namanya dimasukkan dalam perjanjian awal.

Masalahnya, hampir setengah miliar uang pertama berasal dari rekeningku.

Arga menatap ibunya.

“Ma, Mama bilang rumah ini atas nama Mama.”

Ibu Ratna menjawab,

“Nanti kan bisa diatur.”

Aku hampir merasa kasihan melihat wajah Arga.

Hampir.

Tetapi kemudian aku ingat ia tetap orang yang mengambil uang tanpa izin.

Hanya saja ternyata ia pun tidak sepenuhnya mengerti permainan yang sedang ia bantu.

Pengacaraku meminta mereka mengembalikan dana.

Jika tidak, kami akan mengambil langkah hukum berdasarkan bukti transfer dan kesepakatan rekening bersama.

Bima, adik Maya, akhirnya mengembalikan Rp330 juta tiga hari kemudian.

Rp150 juta sisanya ternyata sudah dipakai membayar uang muka.

Setelah surat resmi dikirim, pihak penjual setuju membatalkan transaksi dengan potongan penalti Rp28 juta.

Arga mengganti seluruh kekurangan dan penalti menggunakan tabungannya sendiri.

Total yang kembali kepadaku sesuai porsi kontribusiku adalah Rp307 juta lebih.

Aku tidak meminta uang lebih.

Aku hanya mengambil yang menjadi hakku.

Setelah itu aku mengajukan gugatan cerai.

Arga berkali-kali datang.

Ia meminta satu kesempatan.

“Nadia, aku salah.”

Aku mengangguk.

“Aku tahu.”

“Aku cuma mau bantu Mama.”

“Aku juga tahu.”

“Aku tidak pernah berniat mengambil uangmu.”

“Kamu mengambilnya.”

Kalimat itu membuatnya terdiam.

Aku tidak membutuhkan niatnya.

Aku melihat tindakannya.

Beberapa minggu kemudian, Ibu Ratna juga menghubungiku.

Kali ini bukan marah.

Ia menangis.

Katanya hubungannya dengan Maya memburuk setelah transaksi batal.

Maya menuduh keluarga Arga mempermalukannya.

Adiknya kehilangan proyek renovasi.

Kerabat yang menjual rumah menolak mengembalikan penalti penuh.

Lucunya, ketika uangku tidak lagi tersedia, kedekatan mereka mendadak tidak sehangat sebelumnya.

Aku tidak tertawa.

Aku hanya menjawab,

“Semoga Mama sehat.”

Kemudian kututup telepon.

Proses perceraian kami selesai beberapa bulan kemudian.

Apartemen tetap milikku.

Rumah Bekasi tetap milik Arga.

Investasi masing-masing tidak disentuh.

Tidak ada perebutan dramatis.

Tidak ada adegan saling menghancurkan.

Justru ketenangan itulah yang membuat semuanya terasa selesai.

Hari ketika putusan selesai, Arga menungguku di luar.

Ia tampak jauh lebih kurus.

“Nadia.”

Aku berhenti.

“Aku baru sadar selama ini aku selalu meminta kamu mengerti karena aku tahu kamu paling mampu mengerti.”

Aku tidak menjawab.

Ia melanjutkan,

“Waktu Mama menyinggung Maya, aku minta kamu mengalah. Waktu pesta, aku minta kamu diam. Waktu soal uang, aku pikir karena kamu kaya, kerugiannya tidak terasa buat kamu.”

Aku berkata,

“Dan sekarang?”

“Sekarang aku tahu bukan soal jumlah uangnya.”

Aku tersenyum tipis.

“Memang bukan.”

Masalahnya tidak pernah tentang Rp480 juta.

Bukan juga tentang kursi di pesta.

Bahkan bukan tentang Maya.

Masalahnya adalah setiap kali seseorang harus terluka agar keluarga Arga tetap nyaman, mereka selalu memilihku.

Karena mereka yakin aku akan sanggup.

Karena aku tidak pernah berteriak.

Karena aku selalu bisa membayar.

Karena aku selalu terlihat kuat.

Mereka lupa bahwa orang kuat juga boleh pergi.

Enam bulan setelah perceraian, aku membeli rumah kecil di Bogor.

Bukan rumah mewah.

Ada halaman belakang dengan dua pohon mangga dan sebuah teras yang menghadap taman.

Ibuku datang membantu memilih tirai.

Ayahku membawa pot tanaman sendiri karena katanya teras terlalu kosong.

Pada ulang tahunku yang keempat puluh satu, aku mengundang hanya sembilan orang.

Tidak ada ruangan VIP.

Tidak ada dekorasi mahal.

Tidak ada fotografer profesional.

Kami makan nasi liwet di halaman.

Ibuku duduk di sebelah kanan.

Ayahku di sebelah kiri.

Ketika hendak memotong kue, ibuku berkata,

“Kamu kelihatan lebih tenang sekarang.”

Aku tersenyum.

Memang.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku berada di sebuah meja makan tanpa harus bertanya apakah aku benar-benar dianggap keluarga.

Dan malam itu aku akhirnya mengerti satu hal.

Penghasilanku boleh mencapai miliaran rupiah.

Aku bisa membayar restoran terbaik, hadiah mahal, rumah, perjalanan, dan hampir semua kenyamanan yang bisa dibeli dengan uang.

Tetapi aku tidak akan pernah lagi membayar harga untuk diterima di sebuah keluarga yang hanya menghargai keberadaanku selama aku terus memberi.

Aku lebih memilih meja kecil dengan sembilan orang yang benar-benar menginginkanku di sana.

Daripada kursi mahal di sebuah pesta besar, tetapi harus melihat orang lain menentukan berapa harga yang harus kubayar untuk disebut keluarga.