SEBELUM MENIKAH, AYAH MENITIPKAN DANA RP18,7 MILIAR UNTUK MASA DEPANKU—DUA PULUH HARI KEMUDIAN, SUAMIKU MEMBAWA KARTU BANK ITU KE SHOWROOM UNTUK MEMBELIKAN ADIKNYA MOBIL
Bagian 1 — Dua Puluh Hari Setelah Menikah, Telepon dari Showroom Membongkar Alasan Suamiku Terus Menanyakan Tabungan Pemberian Ayah
Dua puluh hari setelah aku menikah, sebuah telepon dari nomor tak dikenal masuk saat aku sedang melipat pakaian di kamar lantai dua.
“Selamat siang, apakah benar ini Ibu Kirana Prameswari?”
“Iya.”
“Bu, saya Dimas dari salah satu showroom mobil di Surabaya Barat. Kami sedang memproses pembayaran sebesar Rp1,46 miliar menggunakan kartu debit atas nama Ibu. Namun transaksi tidak dapat dilakukan karena rekening terkait memiliki pembatasan penarikan. Kami ingin memastikan apakah Ibu memang menyetujui transaksi tersebut.”
Tanganku berhenti di atas kemeja putih milik suamiku.
Rp1,46 miliar.
Aku bahkan tidak perlu bertanya mobil apa yang sedang dibeli.
Dari jendela kamar, halaman rumah mertuaku terlihat jelas.
Di bawah sana, suamiku, Arga, berdiri bersama adiknya, Citra. Mereka mengenakan pakaian rapi seperti hendak menghadiri acara penting.
Sejak pagi Citra terus memperlihatkan video mobil SUV premium berwarna putih di ponselnya.
Aku sempat mendengar ia bercanda kepada ibunya.
“Kalau Kak Arga benar sayang sama aku, masa adik satu-satunya lulus kuliah cuma dikasih tas?”
Ibu mertuaku tertawa.
“Tenang saja. Kakakmu sekarang sudah menikah. Rezekinya dua orang.”
Saat itu aku hanya mengira mereka sedang bercanda.
Ternyata tidak.
“Bu Kirana?”
Suara pegawai showroom membuatku kembali sadar.
“Saya tidak menyetujui transaksi itu.”
Di ujung telepon terdengar jeda.
“Baik, Bu. Tetapi Bapak Arga mengatakan kartu ini merupakan dana keluarga dan Ibu sudah memberi izin.”
Aku menatap halaman.
Arga sedang mengetik sesuatu dengan cepat di ponselnya.
Beberapa detik kemudian, ponselku bergetar.
Arga: Angkat teleponku. Penting.
Aku tidak menjawab.
Kepada pegawai showroom aku berkata pelan, “Kartu itu memang milik saya. Tapi uang di dalamnya tidak dapat digunakan sekarang.”
“Maksud Ibu, rekening diblokir?”
“Bukan.”
Aku menelan ludah.
“Dana itu ditempatkan dalam deposito berjangka dan instrumen investasi terikat selama sebelas tahun. Bahkan saya sendiri tidak bisa mencairkannya sesuka hati.”
Pegawai itu terdengar terkejut.
“Jadi tidak mungkin digunakan hari ini?”
“Tidak mungkin.”
“Baik, Bu. Kami mengerti. Terima kasih sudah mengonfirmasi.”
Telepon ditutup.
Belum sempat aku meletakkan ponsel, panggilan Arga masuk.
Aku biarkan berdering.
Sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
Lalu sebuah pesan muncul.
Arga: Kamu sengaja mempermalukanku di depan orang showroom?
Aku menatap kalimat itu cukup lama.
Aneh.
Dia mengambil kartu milikku tanpa izin.
Dia mencoba membelanjakan uang yang bukan miliknya.
Tetapi menurutnya, orang yang mempermalukan dia adalah aku.
Namaku Kirana Prameswari.
Aku berusia dua puluh delapan tahun dan bekerja sebagai analis administrasi untuk sebuah perusahaan logistik di Surabaya.
Sejak kecil aku tidak pernah merasa berasal dari keluarga kaya.
Ayahku, Hendra Pranoto, memiliki usaha suku cadang mesin pertanian di Sidoarjo.
Bukan pabrik besar.
Tidak ada gedung tinggi.
Tidak ada mobil mewah.
Gudangnya bahkan hanya bangunan tua dengan pintu rolling yang catnya sudah mengelupas.
Ayah selalu memakai sandal kulit yang sama bertahun-tahun.
Mobilnya Toyota Kijang lama yang lebih sering masuk bengkel daripada dicuci.
Ibuku meninggal ketika aku masih kuliah semester dua.
Sejak itu hanya kami berdua.
Aku mengenal Arga enam tahun lalu melalui teman kampus.
Dia pandai bicara, perhatian, dan pada awal hubungan sangat sabar.
Ketika ayahku pernah dirawat karena demam berdarah, Arga datang membawa bubur setiap malam.
Saat aku lembur, dia menungguku di depan kantor.
Saat ulang tahunku, dia bahkan menyewa motor hanya untuk membawaku makan sate klopo di tempat yang dulu sering dikunjungi ibuku.
Aku percaya padanya.
Mungkin terlalu percaya.
Setelah empat tahun berpacaran, Arga membuka bisnis interior bersama seorang temannya.
Bisnisnya tidak besar, tetapi terlihat berkembang.
Setiap kali aku menanyakan pernikahan, jawabannya selalu sama.
“Tunggu proyek besar ini selesai.”
“Tunggu modalnya lebih aman.”
“Tunggu aku bisa kasih kamu kehidupan yang pantas.”
Aku menunggu hampir dua tahun.
Akhirnya kami menikah.
Seminggu sebelum akad, ayah memintaku datang ke gudangnya seorang diri.
Hari itu hujan.
Ayah menutup pintu kantor kecil di belakang gudang, lalu mengeluarkan sebuah map hitam dari lemari besi.
Di dalamnya ada buku tabungan, beberapa dokumen deposito, dan kartu debit.
“Ini pegang.”
Aku mengernyit.
“Apa?”
“Dana yang Ayah siapkan buat kamu.”
Aku tertawa kecil.
“Ayah jangan berlebihan. Aku sama Arga masih kerja. Kami bisa mulai dari nol.”
Ayah tidak tersenyum.
“Kirana, jumlahnya Rp18,7 miliar.”
Aku mengira aku salah dengar.
“Apa?”
Ayah mengulanginya.
“Delapan belas koma tujuh miliar.”
Aku bahkan tidak langsung memahami angka itu.
Selama ini aku tahu usaha ayah stabil.
Tetapi aku tidak pernah membayangkan nilainya sebesar itu.
Ayah menjelaskan bahwa bertahun-tahun sebelumnya ia membeli sebidang tanah dekat kawasan industri. Nilainya naik berkali-kali lipat. Sebagian dijual, sebagian keuntungan usaha terus disimpan.
“Ini bukan uang untuk gaya hidup,” katanya.
“Lalu untuk apa?”
“Untuk membuatmu punya pilihan.”
Aku masih ingat kalimat itu.
Bukan “supaya kamu kaya”.
Bukan “supaya suamimu hormat”.
Bukan “supaya keluarga kita terlihat hebat”.
Supaya kamu punya pilihan.
Ayah kemudian mengatakan sesuatu yang saat itu terasa berlebihan.
“Jangan beri tahu Arga jumlah pastinya.”
Aku langsung membela calon suamiku.
“Ayah masih nggak percaya sama dia?”
“Ayah tidak bilang dia orang jahat.”
“Lalu?”
Ayah menatapku.
“Orang bisa berubah ketika melihat jumlah uang yang sebelumnya hanya pernah mereka bayangkan.”
Aku terdiam.
Ayah melanjutkan.
“Dan orang lain di sekitarnya juga bisa berubah.”
Kalimat itu membuatku teringat keluarga Arga.
Ibunya, Bu Ratih, beberapa kali menyinggung uang pernikahan.
Pernah suatu malam ia berkata sambil tertawa,
“Kalau keluarga perempuan punya simpanan, biasanya anak perempuan dibekali cukup besar. Biar nggak datang ke rumah laki-laki cuma bawa koper.”
Waktu itu aku mengira hanya guyonan.
Adik Arga, Citra, bahkan pernah bertanya,
“Om Hendra punya gudang sendiri kan? Berarti asetnya lumayan dong, Kak?”
Aku tidak menanggapinya.
Di ruang kantor gudang itu, ayah bertanya kepadaku,
“Kamu mau Ayah ajari cara mengamankan dana ini?”
Aku mengangguk.
Kami pergi ke bank keesokan harinya.
Atas saran penasihat keuangan dan persetujuanku sendiri, sebagian besar dana ditempatkan dalam instrumen deposito berjangka dan obligasi konservatif dengan pembatasan pencairan bertahap.
Bukan benar-benar mustahil dicairkan sebelum sebelas tahun.
Tetapi untuk mencairkannya sebelum jadwal diperlukan prosedur panjang, persetujuan pemilik, verifikasi berlapis, dan konsekuensi finansial besar.
Aku memilih pengaturan itu dengan sadar.
Aku bahkan berkata kepada ayah,
“Anggap saja uang ini tidak ada.”
Ayah tersenyum untuk pertama kalinya hari itu.
“Itu keputusan yang bagus.”
Saat pernikahanku, semuanya tampak normal.
Kami mengadakan resepsi sederhana di gedung serbaguna.
Sekitar dua ratus tamu.
Gaunku disewa.
Dekorasinya paket standar.
Ayah tidak keberatan.
Justru Bu Ratih yang terlihat sedikit kecewa.
“Kalau tahu cuma begini, kenapa nggak ambil gedung yang lebih bagus sekalian?”
Arga langsung menyela.
“Sudahlah, Bu. Kami mau hemat.”
Namun beberapa jam kemudian aku mendengar Bu Ratih bicara dengan saudaranya.
“Keluarga Kirana kelihatannya sederhana, tapi gudangnya pasti menghasilkan. Mana mungkin anak tunggal nggak dibekali apa-apa?”
Malam pertama setelah menikah, pertanyaan Arga muncul.
Saat aku sedang membersihkan makeup di depan cermin, dia bertanya,
“Kirana, tadi ayahmu kasih map sebelum kita berangkat. Isinya apa?”
Aku menjawab jujur sebagian.
“Tabungan.”
“Berapa?”
“Lumayan.”
Dia tertawa.
“Lumayan itu berapa?”
Aku menatap bayangannya di cermin.
“Kenapa?”
“Ya penasaran saja. Kita sudah suami istri.”
Aku tersenyum kecil.
“Kalau tabunganmu berapa?”
Dia tertawa lagi.
“Wah, galak.”
Percakapan selesai.
Setidaknya kupikir begitu.
Tiga hari kemudian dia bertanya lagi.
Lalu seminggu kemudian.
Lalu ibunya ikut bertanya.
“Uang dari ayahmu itu sudah dimasukkan ke rekening bersama belum?”
Aku menjawab, “Belum.”
Bu Ratih memandangku seperti aku baru mengatakan sesuatu yang sangat aneh.
“Lho, sudah menikah kok masih ada uang sendiri-sendiri?”
Arga tidak membelaku.
Dia hanya berkata,
“Nanti dibicarakan pelan-pelan.”
Sejak hari itu aku mulai merasa ada sesuatu yang berubah.
Bahkan Citra mulai mengirim tautan mobil ke grup keluarga.
SUV.
Sedan.
Mobil listrik.
Ia bercanda,
“Nanti kalau Kak Kirana baik hati, siapa tahu hadiah lulusanku naik kelas.”
Semua orang memberi emoji tertawa.
Kecuali aku.
Aku tidak pernah memberi tahu mereka bahwa kartu tersebut kusimpan di laci terkunci di kamar.
Aku juga tidak pernah memberitahu PIN.
Karena itulah hari ini, setelah telepon dari showroom, hanya ada satu pertanyaan yang terus berputar di kepalaku.
Bagaimana Arga bisa membawa kartu itu?
Aku turun dari lantai dua.
Laci di kamar terbuka.
Kuncinya masih tergantung.
Di dalamnya, map hitam pemberian ayah berantakan.
Kartu debit hilang.
Tetapi itu belum semuanya.
Dokumen deposito yang sebelumnya kusimpan dalam amplop cokelat juga telah dipindahkan.
Aku membolak-balik berkas itu.
Salah satu lembar fotokopi rekening tidak ada.
Jantungku mulai berdetak lebih keras.
Saat itulah suara mobil terdengar dari depan rumah.
Pintu dibanting.
Langkah kaki cepat masuk ke ruang tamu.
Arga muncul dengan wajah merah.
Citra berjalan di belakangnya dengan mata sembap.
Bu Ratih mengikuti paling belakang.
Belum sempat aku mengatakan apa pun, Arga melempar kartu debitku ke meja.
“Kamu puas?”
Aku melihat kartu itu berputar dua kali sebelum berhenti.
“Aku seharusnya yang tanya begitu.”
Citra langsung menangis.
“Aku sudah kasih tahu teman-temanku mobilnya diambil hari ini!”
Aku menoleh kepadanya.
“Lalu?”
Wajahnya berubah.
“Lalu aku dipermalukan karena Kakak!”
Bu Ratih menunjukku.
“Kirana, jangan keterlaluan. Arga cuma mau membelikan adiknya mobil.”
“Dengan uang siapa?”
“Uang keluarga!”
“Uang siapa?” ulangku.
Ruangan mendadak hening.
Arga mengepalkan rahang.
“Kita suami istri. Jangan bicara seperti orang asing.”
Aku menatapnya.
“Kalau kita suami istri, kenapa kamu mencuri kartu dari laci?”
“Aku tidak mencuri.”
“Jadi apa?”
“Aku ambil kartu istriku sendiri.”
Aku hampir tertawa.
“Tanpa izin.”
Bu Ratih mendecakkan lidah.
“Masalah kecil dibesar-besarkan.”
Aku mengambil kartu dari meja.
“Kalau kecil, pakai uang Ibu saja.”
Wajahnya langsung berubah.
Arga menepuk meja begitu keras sampai gelas bergeser.
“Kirana!”
Aku tidak bergerak.
Untuk pertama kalinya sejak menikah, aku tidak merasa takut kehilangan hubungan ini.
Justru aku mulai takut pada sesuatu yang lain.
Berapa lama mereka sudah merencanakan semua ini?
Kemudian Citra, mungkin karena terlalu marah, tiba-tiba berteriak,
“Kalau dari awal tahu uang itu nggak bisa dicairkan, ngapain Kak Arga repot-repot salin dokumen segala?”
Aku membeku.
Arga langsung menoleh tajam kepada adiknya.
“Citra!”
Terlambat.
Aku menatapnya.
“Salin dokumen apa?”
Tidak ada yang menjawab.
Aku melangkah mendekati Arga.
“Dokumen apa yang kamu salin?”
Bu Ratih buru-buru menyela.
“Kirana, jangan bikin suasana tambah panas.”
Tetapi aku tidak lagi melihat kepadanya.
Aku melihat tangan Arga.
Di antara jari-jarinya masih ada sebuah map biru tipis dari showroom.
Dan ketika map itu sedikit terbuka, aku melihat fotokopi sesuatu dengan namaku tercetak di bagian atas.
Arga cepat-cepat menutupnya.
Namun aku sudah mengenali format dokumen tersebut.
Itu bukan formulir pembelian mobil.
Itu fotokopi dokumen rekening investasiku.
Aku menatap wajah suamiku.
“Kenapa dokumen bankku ada di dalam mapmu?”
Arga tidak menjawab.
Aku menarik map itu dari tangannya.
Dia berusaha menahan.
Kami sempat tarik-menarik beberapa detik sebelum beberapa lembar kertas jatuh ke lantai.
Salah satunya terbalik.
Aku membungkuk dan mengambilnya.
Di sana ada catatan tulisan tangan.
Bukan tulisan Arga.
Tulisan Bu Ratih.
Ada daftar angka.
Rp1,46 miliar — mobil Citra.
Rp2,8 miliar — pelunasan utang proyek Arga.
Rp900 juta — renovasi rumah Ibu.
Rp1,2 miliar — modal franchise.
Dan di baris paling bawah:
Sisanya dibahas setelah rekening berhasil dicairkan.
Aku mengangkat kertas itu perlahan.
Tidak seorang pun di ruangan bergerak.
Ternyata mobil Citra bukan masalah terbesar.
Mereka sudah membuat daftar pembagian uangku bahkan sebelum mereka tahu apakah uang itu bisa mereka ambil.
Aku menatap Arga.
“Sejak kapan?”
Dia pucat.
“Kirana, dengarkan dulu.”
“Sejak kapan kalian membagi uangku?”
Bu Ratih berdiri.
“Jangan pakai kata ‘membagi’. Kami hanya merencanakan keuangan keluarga.”
Aku tertawa kecil.
“Dengan uang yang bahkan jumlahnya tidak pernah kuberitahu?”
Ruangan kembali sunyi.
Lalu aku menyadari sesuatu.
Aku memang tidak pernah memberi tahu Arga jumlah persisnya.
Tapi angka-angka di kertas itu jika dijumlahkan mencapai miliaran.
Artinya mereka bukan sekadar menebak bahwa aku punya tabungan ratusan juta.
Mereka tahu.
Atau setidaknya mereka tahu bahwa jumlahnya sangat besar.
Aku menatap Arga sekali lagi.
“Siapa yang kasih tahu kamu jumlah uangku?”
Untuk pertama kalinya sejak pulang dari showroom, wajahnya benar-benar kehilangan warna.
Dan dari reaksinya, aku langsung tahu satu hal.
Jawaban atas pertanyaan itu jauh lebih buruk daripada kartu yang ia ambil dari laci.
#DramaKeluarga #CeritaRumahTangga #KisahPernikahan #KonflikKeluarga #CeritaIndonesia
Bagian 2 — Aku Mengira Mereka Hanya Mengincar Tabunganku, Sampai Kutemukan Perjanjian Utang yang Diam-Diam Memakai Namaku sebagai Jaminan
Arga akhirnya menyuruh ibunya dan Citra masuk kamar.
Mereka menolak.
Bu Ratih bahkan berkata, “Ini masalah keluarga, semua berhak tahu.”
Aku duduk di sofa.
“Bagus. Kalau begitu bicara di sini.”
Arga berjalan mondar-mandir beberapa kali.
Akhirnya dia mengaku bahwa sekitar sebulan sebelum pernikahan, dia pernah melihat dokumen milik ayahku di mobilku.
Aku langsung ingat.
Hari itu aku baru pulang dari bank bersama ayah dan meninggalkan map di bagasi.
Arga meminjam mobilku untuk mengambil sampel material.
“Aku cuma lihat sekilas,” katanya.
“Sekilas sampai tahu jumlah?”
Dia diam.
Ternyata dia memotret dokumen itu.
Diam-diam.
Kemudian menyimpannya.
Aku merasakan dingin merambat dari punggung sampai tengkuk.
Jadi sebelum akad, sebelum dia berdiri di depan penghulu dan mengucapkan janji pernikahan, dia sudah mengetahui uang itu.
Bu Ratih mencoba membela.
“Kalau sudah mau menikah, wajar suami tahu kondisi ekonomi istrinya.”
Aku menatapnya.
“Wajar tahu berbeda dengan diam-diam memotret dokumen.”
Arga menghela napas.
“Aku cuma takut kamu menyembunyikan aset.”
“Kita bahkan belum menikah waktu itu.”
“Justru karena mau menikah.”
Aku hampir tidak mengenali laki-laki di depanku.
Lalu kutanyakan daftar pembagian uang.
Arga mengatakan bisnis interiornya sedang kesulitan.
Satu proyek hotel gagal dibayar tepat waktu.
Ia punya utang ke pemasok sekitar Rp2,3 miliar.
Menurutnya, jika dana dariku dapat dipakai sementara, bisnis akan selamat.
“Kenapa tidak bilang?”
“Aku tahu kamu pasti panik.”
“Jadi solusinya mencuri kartu?”
“Aku berniat mengganti.”
Aku menatap angka Rp2,8 miliar dalam daftar.
“Ini lebih besar dari utang yang kamu sebut.”
Arga terdiam.
Bu Ratih menyela lagi.
“Ya sisanya buat usaha baru.”
“Usaha siapa?”
Tidak ada jawaban.
Aku mengambil semua kertas dari lantai.
Ada fotokopi dokumen bank.
Ada brosur franchise restoran.
Ada estimasi renovasi rumah.
Ada brosur mobil Citra.
Semua sudah disusun rapi.
Seolah mereka sedang membuat anggaran menggunakan dana perusahaan sendiri.
Aku berpikir semuanya sudah cukup buruk.
Ternyata belum.
Di bagian bawah map ada dokumen lain.
Logo sebuah perusahaan pembiayaan.
Nama peminjam: Arga Mahendra.
Jumlah fasilitas: Rp3,4 miliar.
Aku membaca beberapa baris.
Lalu melihat bagian jaminan tambahan.
Namaku tercantum.
Kirana Prameswari.
Di bawahnya terdapat fotokopi KTP-ku.
Aku berdiri begitu cepat sampai meja terdorong.
“Ini apa?”
Arga langsung mencoba mengambil kertas.
Aku mundur.
“Jangan sentuh!”
Suasana berubah.
Citra yang tadi banyak bicara sekarang diam.
Bu Ratih bahkan berhenti membela.
“Apa ini?” ulangku.
Arga berkata cepat, “Itu belum jadi.”
“Kenapa KTP-ku ada di sini?”
“Cuma persyaratan awal.”
“Aku tidak pernah kasih.”
“Kita suami istri.”
“Berhenti pakai kalimat itu!”
Suaraku pecah untuk pertama kalinya.
Aku tidak peduli.
“Suami istri bukan berarti kamu boleh pakai identitasku tanpa izin!”
Arga mencoba menjelaskan bahwa perusahaan pembiayaan meminta data pasangan.
Katanya belum ada tanda tangan resmi dariku.
Katanya tidak ada pinjaman yang bisa cair tanpa verifikasi.
Katanya hanya “persiapan”.
Tetapi aku sudah tidak percaya.
Aku memotret seluruh dokumen.
Lalu mengirimkannya kepada ayah.
Tidak sampai tiga menit, ayah menelepon.
“Kamu di mana?”
“Rumah Arga.”
“Ada dia?”
“Ada.”
“Jangan tanda tangan apa pun. Jangan kasih OTP. Jangan serahkan dokumen asli. Ayah berangkat sekarang.”
Arga mendengar.
Wajahnya semakin tegang.
“Kamu harus bawa ayahmu ke sini?”
Aku menatapnya tidak percaya.
“Setelah ini kamu masih pikir masalahnya adalah ayahku?”
Bu Ratih tiba-tiba mulai menangis.
“Kirana, jangan hancurkan rumah tangga hanya karena salah paham uang.”
Aku tertawa getir.
“Salah paham?”
“Arga sedang tertekan. Dia cuma ingin mempertahankan usahanya.”
“Lalu mobil Citra?”
“Itu…”
“Renovasi rumah?”
Bu Ratih tidak menjawab.
“Franchise?”
Diam.
Aku kembali melihat dokumen perusahaan pembiayaan.
Ada nomor seorang marketing.
Aku meneleponnya saat itu juga.
Arga langsung panik.
“Kirana, jangan!”
Aku tetap menelepon.
Seorang pria menjawab.
Aku memperkenalkan diri dan menanyakan status pengajuan atas nama Arga.
Awalnya dia berhati-hati.
Setelah verifikasi identitas, ia mengatakan ada proses pengajuan yang memang belum selesai karena membutuhkan persetujuan pasangan.
“Apakah saya pernah memberikan persetujuan?”
“Belum, Bu.”
“Apakah pernah ada orang yang mengaku sudah mendapat persetujuan saya?”
Pria itu terdiam beberapa detik.
“Bapak Arga menyampaikan bahwa Ibu mengetahui prosesnya.”
Aku menatap suamiku.
Dia membuang muka.
Aku berkata kepada pihak pembiayaan dengan jelas bahwa aku tidak memberikan izin penggunaan dokumen pribadiku di luar proses yang diwajibkan secara hukum dan meminta seluruh komunikasi dicatat.
Setelah telepon selesai, Arga meledak.
“Kamu mau bikin bisnisku mati?”
Aku menatapnya.
“Bisnismu mati karena apa?”
Dia diam.
“Karena aku tidak memberikan Rp3,4 miliar, atau karena kamu membuat utang yang tidak sanggup kamu bayar?”
“Semua pengusaha punya utang!”
“Semua pengusaha mencuri kartu istrinya juga?”
Wajahnya memerah.
Untuk sesaat aku melihat sesuatu dalam matanya yang belum pernah kulihat.
Bukan rasa bersalah.
Bukan takut kehilangan aku.
Marah karena rencananya gagal.
Dua puluh menit kemudian ayah tiba.
Dia masuk tanpa banyak bicara.
Aku menyerahkan semua dokumen.
Ayah membaca satu per satu.
Ekspresinya hampir tidak berubah.
Kemudian dia bertanya kepada Arga,
“Kamu utang berapa sebenarnya?”
Arga menjawab Rp2,3 miliar.
Ayah menatapnya.
“Jangan bohong.”
Arga terdiam.
Ayah mengeluarkan ponselnya.
“Ayah punya teman lama di asosiasi pemasok interior. Sebelum ke sini, Ayah minta orang cek nama perusahaanmu.”
Wajah Arga berubah.
Ayah melanjutkan.
“Utang dagangmu bukan Rp2,3 miliar.”
Bu Ratih berdiri.
“Pak Hendra, jangan ikut campur urusan usaha anak saya.”
Ayah bahkan tidak melihatnya.
“Total kewajiban yang sudah jatuh tempo hampir Rp5,1 miliar.”
Aku merasa dada sesak.
Arga langsung berkata, “Itu termasuk tagihan proyek yang masih berputar.”
Ayah mengangguk.
“Dan ada dua vendor yang sedang mempertimbangkan laporan hukum karena cek yang kamu berikan tidak bisa dicairkan.”
Aku menoleh kepada Arga.
Dia tidak menyangkal.
Saat itu aku sadar.
Mereka bukan hanya ingin memakai uangku.
Mereka sedang mencoba menenggelamkan lubang bisnis Arga menggunakan seluruh dana yang ayah simpan untuk masa depanku.
Ayah kemudian bertanya satu hal.
“Arga, waktu kamu tahu Kirana punya dana Rp18,7 miliar, apakah keputusanmu mempercepat pernikahan ada hubungannya dengan uang itu?”
Bu Ratih langsung memprotes.
“Pertanyaan macam apa itu?”
Tetapi Arga diam terlalu lama.
Terlalu lama.
Aku menatapnya.
“Jawab.”
Dia tidak menjawab.
Lalu Citra, dengan wajah ketakutan, tanpa sengaja berkata,
“Kak, waktu itu kan Mama sendiri bilang kalau sudah menikah, dana Kak Kirana bisa lebih gampang dibicarakan…”
Semua kepala menoleh kepadanya.
Bu Ratih membentak,
“Citra!”
Aku tidak mendengar apa pun setelah itu selama beberapa detik.
Suara kipas.
Suara motor di jalan.
Suara orang menjual bakso dari kejauhan.
Semuanya terdengar lebih jelas daripada napasku sendiri.
Aku menatap laki-laki yang kunikahi dua puluh hari lalu.
“Jadi itu alasannya?”
Arga maju satu langkah.
“Kirana, dengar—”
Aku mundur.
Tetapi sebelum dia sempat menjelaskan, ayah mengeluarkan satu lembar kertas dari tumpukan dokumen.
Kertas itu bukan milikku.
Ayah menunjukkannya.
“Ini bukan pengajuan pinjaman.”
Aku mengambilnya.
Sebuah surat pernyataan internal.
Di bagian bawah ada ruang tanda tangan atas namaku.
Dan tepat di atas garis tanda tangan itu, seseorang telah mencoba meniru bentuk tandatanganku dengan pensil berkali-kali.
Ada enam percobaan.
Enam.
Aku menatap Arga.
Tanganku benar-benar gemetar.
“Kamu latihan tanda tanganku untuk apa?”
Kali ini tidak ada seorang pun yang berani menjawab.
Bagian 3 — Enam Contoh Tanda Tanganku Menjadi Bukti Terakhir, dan Keluarga yang Menganggap Hartaku Milik Bersama Akhirnya Kehilangan Semuanya
Aku tidak tidur di rumah itu malam tersebut.
Ayah membawaku kembali ke Sidoarjo.
Sebelum pergi, aku mengambil semua barang pribadiku yang penting: laptop, dokumen asli, perhiasan peninggalan ibu, pakaian kerja, dan dokumen bank.
Arga berdiri di depan pintu kamar.
Dia terus mengatakan hal yang sama.
“Kita bisa bicarakan.”
Tetapi aku hanya menjawab,
“Kita sudah bicara. Kamu hanya baru panik karena sekarang aku tahu semuanya.”
Keesokan paginya aku pergi ke bank bersama ayah.
Kami mengganti seluruh akses perbankan.
Kartu lama dinonaktifkan.
Nomor telepon verifikasi diperbarui.
Instruksi tambahan diberikan agar setiap perubahan terkait dana investasi harus dilakukan langsung olehku dengan verifikasi berlapis.
Setelah itu aku berkonsultasi dengan pengacara.
Aku membawa foto daftar pembagian uang.
Fotokopi dokumen pembiayaan.
Riwayat telepon showroom.
Dan yang paling menggangguku: enam contoh latihan tanda tangan.
Pengacara menyarankan agar aku mendokumentasikan seluruh kejadian dan segera memberikan pemberitahuan tertulis kepada perusahaan pembiayaan bahwa aku tidak pernah memberi kuasa kepada Arga untuk menandatangani apa pun atas namaku.
Aku melakukan semuanya.
Tiga hari kemudian, Arga datang ke rumah ayah.
Dia terlihat jauh berbeda.
Tidak ada lagi nada tinggi.
Tidak ada lagi amarah.
Ia membawa bunga.
Aku bahkan hampir tertawa melihatnya.
“Kirana, aku salah.”
Aku duduk berhadapan dengannya di ruang tamu.
Ayah sengaja tidak ikut campur.
“Apa yang salah?”
“Semuanya.”
“Jelaskan.”
Arga menunduk.
Dia mengaku bisnisnya sudah bermasalah hampir delapan bulan.
Beberapa proyek rugi.
Partnernya menarik dana.
Ia meminjam sana-sini untuk menutup kewajiban lama.
Ketika melihat dokumen dan mengetahui jumlah uangku, dia merasa ada jalan keluar.
“Awalnya aku cuma mau pinjam.”
“Kenapa tidak minta?”
“Aku takut kamu menolak.”
“Karena itu kamu ambil sendiri?”
Dia diam.
Aku bertanya soal mobil Citra.
Arga mengatakan mobil itu adalah janji lama.
“Dengan uangku?”
Dia tidak menjawab.
“Soal renovasi rumah ibumu?”
“Mama cuma memberi ide.”
“Franchise?”
“Itu rencana kalau dana cukup.”
Aku mengangguk pelan.
Ternyata daftar itu benar-benar rencana mereka.
Bukan salah paham.
Bukan lelucon.
Bukan coretan tanpa arti.
Mereka menghitung hidup baru menggunakan uangku.
Terakhir aku bertanya soal tanda tangan.
Arga bersumpah belum pernah menggunakannya.
Katanya dia hanya mencoba melihat apakah bentuk tandatanganku sulit ditiru karena seorang teman mengatakan pengajuan administrasi kadang bisa dipercepat.
Aku menatapnya cukup lama.
“Kamu dengar sendiri apa yang baru saja kamu katakan?”
Dia menunduk.
Aku kemudian mengeluarkan satu map.
Di dalamnya ada dokumen dari pengacaraku.
Permohonan proses hukum perceraian.
Arga langsung pucat.
“Kirana.”
“Aku tidak pergi karena kamu miskin.”
Dia menatapku.
“Aku juga tidak pergi karena bisnismu gagal.”
Aku mendorong map itu ke arahnya.
“Aku pergi karena setelah menikah dua puluh hari, kamu sudah menganggap dompetku lebih penting daripada persetujuanku.”
Dia mulai menangis.
Untuk pertama kalinya aku melihat Arga menangis.
Dulu, pemandangan itu mungkin akan menghancurkanku.
Hari itu tidak.
Dua minggu berikutnya kacau.
Bu Ratih menelepon hampir setiap hari.
Kadang memohon.
Kadang menyalahkan.
Kadang mengatakan aku perempuan tidak tahu berterima kasih.
Suatu malam ia bahkan berkata,
“Kalau bukan karena Arga, siapa yang mau menikahi perempuan sedingin kamu?”
Aku hanya menjawab,
“Kalau syaratnya kartu ATM saya harus ikut menikah juga, lebih baik tidak ada.”
Lalu aku memblokir nomornya.
Masalah bisnis Arga juga semakin buruk.
Tanpa dana yang dia kira akan datang dariku, ia tidak mampu menutup kewajibannya.
Satu proyek dibatalkan.
Dua pemasok menuntut pembayaran.
Partner bisnisnya mundur.
Mobil pribadinya dijual.
Peralatan kantor dilelang sebagian.
Yang ironis, mobil mewah untuk Citra tentu tidak pernah jadi dibeli.
Beberapa bulan kemudian aku mendengar Citra bekerja di sebuah perusahaan event organizer dan membeli motor bekas dengan cicilan dari penghasilannya sendiri.
Aku tidak membenci dia.
Setidaknya akhirnya dia belajar bahwa keinginan memiliki kendaraan harus dibayar oleh orang yang menginginkannya.
Bu Ratih juga terpaksa membatalkan rencana renovasi rumah.
Rumahnya tidak berubah.
Dinding masih sama.
Pagar masih sama.
Hanya cara mereka memandangku yang berubah.
Dulu mereka menganggap aku gadis dari keluarga biasa yang beruntung menikah dengan Arga.
Sekarang mereka sadar bahwa kesederhanaan ayahku tidak pernah berarti kami bisa diperlakukan sembarangan.
Proses perceraian tidak selesai dalam semalam.
Arga beberapa kali mencoba berdamai.
Dia mengirim pesan panjang.
Mengirim foto-foto lama.
Menghubungi teman-temanku.
Ia bahkan datang ke gudang ayah.
Ayah hanya mengatakan satu kalimat kepadanya.
“Kesempatanmu menjaga anak saya sudah diberikan ketika dia percaya kepadamu.”
Tidak ada pertengkaran.
Tidak ada pukulan.
Tidak ada drama di depan umum.
Justru itu yang membuat semuanya terasa final.
Enam bulan kemudian, pernikahanku resmi berakhir.
Tidak ada pesta.
Tidak ada kemenangan besar seperti dalam film.
Aku keluar dari gedung dengan map dokumen di tangan, berdiri di bawah matahari Surabaya yang panas, dan menarik napas panjang.
Ayah menungguku di mobil.
Dia bertanya,
“Mau makan apa?”
Aku tertawa.
Setelah semua yang terjadi, pertanyaan pertama ayah justru soal makan.
“Soto ayam.”
Ayah mengangguk.
“Yang dekat gudang?”
“Iya.”
Kami makan siang seperti hari biasa.
Beberapa bulan setelah itu aku meminta penasihat keuangan meninjau kembali seluruh rencana dana yang ayah berikan.
Aku tidak mencairkannya untuk membeli mobil.
Tidak membeli rumah mewah.
Tidak membuka bisnis agar terlihat sukses.
Aku mempertahankan sebagian besar rencana jangka panjang.
Tetapi kali ini aku membuat satu perubahan.
Sebagian pendapatan investasinya kusiapkan untuk dana pendidikan dan modal kerja atas namaku sendiri.
“Ayah dulu bilang uang itu supaya aku punya pilihan,” kataku suatu sore.
Ayah mengangguk.
“Sekarang sudah paham maksudnya?”
Aku tersenyum.
“Sudah.”
Uang memang tidak bisa membeli pernikahan yang baik.
Tidak bisa membeli kesetiaan.
Tidak bisa memastikan seseorang mencintai kita dengan tulus.
Tetapi kemandirian bisa memberi seseorang kemampuan untuk berkata tidak ketika diperlakukan tidak adil.
Setahun setelah perceraian, aku pindah ke apartemen kecil dekat kantorku.
Bukan apartemen mewah.
Dua kamar.
Balkon kecil.
Dapur sempit.
Aku membelinya dengan penghasilanku sendiri dan sebagian dana yang memang telah dialokasikan secara legal untuk kebutuhan tempat tinggal.
Hari pertama pindah, ayah datang membawa tanaman melati kecil.
Dia meletakkannya di balkon.
“Biar nggak sepi.”
Malamnya aku duduk sendiri sambil minum teh.
Tidak ada suara Bu Ratih.
Tidak ada sindiran Citra.
Tidak ada Arga yang bertanya berapa isi rekeningku.
Hanya suara kendaraan dari jalan raya dan angin malam yang masuk melalui jendela.
Aku membuka aplikasi bank sebentar.
Angka itu masih ada.
Sebagian besar bahkan belum tersentuh.
Lalu aku menutup aplikasinya.
Aneh sekali.
Dulu aku mengira warisan terbesar ayah adalah Rp18,7 miliar itu.
Ternyata bukan.
Warisan terbesar yang ia berikan kepadaku adalah satu kalimat sederhana:
Jangan serahkan pilihan hidupmu kepada orang yang belum membuktikan bahwa ia menghargai batasmu.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku merasa tidak sedang kehilangan rumah tangga.
Aku sedang mendapatkan kembali hidupku sendiri.

