BAGIAN 2 — Saat Rahasia Dua Puluh Tiga Tahun Terbuka, Mereka yang Menyingkirkanku Baru Menyadari Siapa yang Sebenarnya Mereka Permalukan
Aku tidak langsung membalas pelukan perempuan itu.
Tubuhku kaku.
Di sekelilingku, lebih dari dua puluh orang berdiri dalam keheningan yang begitu pekat hingga suara pendingin udara terdengar jelas.
Pewaris?
Aku?
Dua kata itu terasa seperti berasal dari kehidupan orang lain.
Perempuan itu perlahan melepaskan pelukannya. Air mata memenuhi matanya, tetapi ia tidak mencoba memaksaku memanggilnya dengan sebutan apa pun.
—Maaf. Aku tahu semua ini terlalu mendadak.
Aku menatapnya.
—Siapa Anda sebenarnya?
Bibirnya bergetar.
Namun sebelum ia menjawab, sang ketua tua tiba-tiba bertanya kepada pengacara:
—Buka berkasnya.
Pengacara membuka segel dokumen.
—Dua puluh tiga tahun lalu, seorang bayi perempuan dari keluarga Anda dinyatakan hilang setelah terjadi kekacauan dalam perjalanan antarkota. Penyelidikan saat itu tidak pernah menemukan keberadaannya.
Ia berhenti sebentar.
—Beberapa bulan lalu, kami menemukan kembali jejak perempuan yang membesarkan anak tersebut.
Jantungku serasa berhenti.
—Ibu saya?
Pengacara mengangguk.
—Perempuan yang Anda kenal sebagai ibu bukanlah orang yang menculik Anda.
Aku mengepalkan tangan.
Ia kemudian menjelaskan bahwa ibuku dulu bekerja di sebuah klinik kecil.
Pada malam penuh kekacauan itu, seseorang menitipkan seorang bayi kepadanya dengan janji akan kembali beberapa jam kemudian.
Namun orang itu tidak pernah kembali.
Ibuku berusaha mencari keluarga bayi tersebut, tetapi informasi yang diterimanya palsu.
Beberapa tahun kemudian, setelah mengetahui ada orang yang masih mencoba melacak keberadaan anak itu dengan maksud yang tidak jelas, ia ketakutan dan memilih pindah.
Ia membesarkanku sebagai anaknya sendiri.
Itulah sebabnya sebelum meninggal, ibu hanya meninggalkan sebuah foto lama, satu anting, dan pesan agar aku tidak mencari perempuan dalam foto tersebut.
Bukan karena ia membencinya.
Melainkan karena ia takut masa lalu akan kembali membahayakanku.
Aku memandang perempuan di depanku.
—Jadi… Anda?
Ia menahan tangis.
—Aku bibimu.
Aku terdiam.
Sang ketua tua tiba-tiba duduk kembali.
Wajahnya tampak jauh lebih tua dibanding beberapa menit sebelumnya.
—Dan aku kakekmu.
Tidak ada seorang pun bergerak.
Aku menatap pria yang selama tiga tahun kukenal sebagai klien yang sedikit keras kepala tetapi selalu memperlakukanku dengan baik.
Tiba-tiba aku teringat banyak hal.
Setiap kali kami makan bersama setelah rapat, ia selalu bertanya makanan apa yang kusukai.
Ketika aku sakit dua tahun lalu, pihak grup mengirimkan obat dan buah.
Setiap kali proyek selesai, ia selalu mengatakan kalimat yang sama.
“Kalau kamu bukan orang perusahaan itu, aku pasti sudah menarikmu bekerja bersamaku.”
Dulu aku menganggapnya sekadar pujian.
Sekarang semuanya terasa berbeda.
Aku bertanya pelan:
—Apakah Anda sudah tahu sejak awal?
—Tidak.
Kakek menggeleng.
—Aku hanya merasa wajahmu mengingatkanku pada seseorang.
Tatapannya beralih kepada bibiku.
—Terutama ketika kamu tersenyum.
Ternyata kedatangan mereka hari itu bukan hanya untuk pemeriksaan akhir proyek.
Beberapa minggu sebelumnya, penyelidik keluarga menemukan petunjuk baru mengenai identitasku.
Mereka berencana memastikan semuanya secara pribadi sebelum memberitahuku.
Tetapi sepasang anting itu membuat bibiku tidak mampu menunggu lebih lama.
Pengacara kemudian mengeluarkan hasil pemeriksaan identitas dan bukti-bukti lama.
Aku tidak langsung menyentuhnya.
—Saya ingin melakukan pemeriksaan ulang sendiri.
Bibiku segera mengangguk.
—Tentu. Pilih rumah sakit atau laboratorium mana pun yang kamu percaya.
Tidak ada paksaan.
Tidak ada permintaan agar aku langsung menerima keluarga yang bahkan baru kukenal hari itu.
Anehnya, justru sikap itu membuat dadaku terasa sedikit lebih ringan.
Saat itulah sebuah suara gugup terdengar.
—Pak Ketua…
Kepala divisiku akhirnya berbicara.
Ia tersenyum kaku.
—Tentang pergantian penanggung jawab proyek ini sebenarnya hanya persoalan internal. Kami sama sekali tidak bermaksud menyinggung—
Kakek mengangkat tangan.
Ia langsung diam.
—Aku tidak mencampuri urusan internal perusahaan kalian.
Kemudian kakek menunjuk meja suvenir.
—Tapi aku berhak bertanya kenapa desain yang sudah disetujui dalam kontrak diubah tanpa izin.
Wajah perempuan yang mengambil alih proyekku memucat.
—Saya hanya ingin meningkatkan kualitas—
—Meningkatkan?
Kakek mengambil suvenir baru itu.
—Apakah harga lebih mahal selalu berarti lebih baik?
Ia meletakkannya kembali.
—Burung kayu itu adalah simbol pertama jaringan resor keluarga kami.
Barulah semua orang mengetahui kisah sebenarnya.
Puluhan tahun lalu, putri kecil keluarga itu sangat suka menggambar burung.
Setelah anak tersebut meninggal karena sakit, keluarganya menggunakan salah satu gambarnya sebagai simbol program sosial untuk anak-anak.
Setiap resor baru menyediakan suvenir burung kayu buatan pengrajin lokal.
Sebagian keuntungan penjualannya disumbangkan untuk pendidikan anak-anak di sekitar lokasi resor.
Jadi benda yang disebut “murahan” tadi sebenarnya memiliki arti jauh lebih besar daripada harganya.
Perempuan itu menunduk.
—Maaf, saya tidak tahu.
Aku akhirnya berkata:
—Karena Anda tidak pernah bertanya.
Ia menatapku.
Aku melanjutkan dengan tenang:
—Semua informasi mengenai filosofi desain ada dalam catatan proyek yang saya serahkan. Tetapi Anda hanya melihat gambarnya, lalu memutuskan bahwa selera Anda lebih baik daripada keputusan klien.
Tak ada yang membelanya.
Direktur perusahaan yang baru tiba bergegas masuk ke lobi.
Setelah mengetahui apa yang terjadi, wajahnya langsung berubah.
—Kembalikan desain awal. Segera!
Kemudian ia menatapku.
—Dan mulai hari ini, proyek kembali berada di bawah tanggung jawabmu.
Aku menggeleng.
—Tidak.
Semua orang terkejut.
Kepala divisi mendekat.
—Jangan emosional. Kita bisa membicarakan posisi dan kompensasi—
—Saya tidak sedang emosional.
Aku menatap mereka satu per satu.
—Kemarin saya mengatakan setelah proyek ini selesai, saya akan mengundurkan diri. Keputusan itu tidak berubah hanya karena hari ini kalian mengetahui siapa keluarga saya.
Ruangan kembali sunyi.
—Kalau saya tetap tinggal karena kalian sekarang takut kehilangan klien, maka selama ini kalian tidak pernah menghargai kemampuan saya. Kalian hanya menghargai hubungan yang saya miliki.
Kepala divisi menundukkan kepala.
Perempuan itu tampak hendak mengatakan sesuatu, tetapi akhirnya diam.
Aku mengambil kartu identitas karyawan dari tas.
Lalu meletakkannya di atas meja.
—Saya akan menyelesaikan tanggung jawab terakhir hari ini karena saya tidak ingin pembukaan resor terganggu. Setelah itu, hubungan kerja kita selesai.
Kakek menatapku lama.
Kemudian ia tersenyum tipis.
Bukan senyum seorang ketua kepada karyawan.
Melainkan senyum seseorang yang tampak bangga.
—Baik.
Aku menoleh kepadanya.
—Anda tidak akan meminta saya berubah pikiran?
—Kenapa harus?
Ia menjawab.
—Kalau kamu benar-benar cucuku, kamu seharusnya bisa memilih jalanmu sendiri.
Untuk pertama kalinya sejak semua rahasia itu terbongkar, aku tersenyum.
Hari itu, pemeriksaan proyek dilanjutkan.
Aku kembali mengambil alih koordinasi.
Dalam tiga jam, semua masalah yang muncul akibat pergantian mendadak berhasil dibereskan.
Suvenir lama diproduksi kembali oleh pengrajin lokal.
Kesalahan penempatan fasilitas diperbaiki.
Seluruh prosedur pembukaan diperiksa ulang.
Menjelang sore, kakek menandatangani berita acara penerimaan proyek.
Tetapi ia tidak menandatangani kontrak lanjutan.
Direktur perusahaan panik.
—Pak Ketua, bagaimana dengan kerja sama tahun depan?
Kakek menutup pulpennya.
—Itu akan kami evaluasi kembali.
Direktur melirikku dengan putus asa.
Aku tidak mengatakan apa pun.
Aku sudah memberikan peringatan.
Mereka sendiri yang memilih mengabaikannya.
Saat aku berjalan meninggalkan resor dengan membawa kotak barang pribadiku, perempuan yang mengambil proyekku tiba-tiba mengejar.
—Tunggu!
Aku berhenti.
Ia berdiri beberapa langkah di belakangku.
Tidak ada lagi kesombongan di wajahnya.
—Apakah sejak awal kamu sengaja menungguku mempermalukan diri sendiri?
Aku menatapnya.
—Tidak.
—Lalu kenapa kamu tidak memberitahuku siapa dirimu?
Aku hampir tertawa.
—Karena kemarin pun aku sendiri belum tahu.
Wajahnya membeku.
Aku berbalik untuk pergi.
Namun ia kembali bertanya:
—Kalau begitu kenapa kamu begitu yakin proyek itu tidak bisa berjalan tanpa kamu?
Aku berhenti sekali lagi.
—Karena selama tiga tahun, aku benar-benar mengerjakannya.
Bukan karena nama keluargaku.
Bukan karena warisan.
Bukan karena siapa kakekku.
Hanya karena aku tahu pekerjaanku.
Aku meninggalkannya di sana.
Tetapi ketika sampai di area parkir, aku melihat kakek dan bibiku sudah menunggu.
Kakek tidak menyuruhku naik ke mobilnya.
Ia hanya mengulurkan sebuah kartu nama.
—Besok datanglah ke tempat ini kalau kamu mau.
Aku menerima kartu itu.
Di belakangnya tertulis sebuah alamat sederhana.
—Apa yang ada di sana?
Kakek menatapku.
—Jawaban tentang ibumu.
Ia berhenti sebentar.
—Dan sesuatu yang telah disimpan untukmu selama dua puluh tiga tahun.
Aku menatap alamat itu lama.
Saat itu aku belum tahu bahwa apa yang menungguku keesokan harinya bukan sebuah rumah mewah, bukan pula tumpukan harta warisan.
Melainkan sebuah tempat yang akan mengubah seluruh rencana hidupku.
(Lanjutkan ke BAGIAN 3….)
