Saat Dua Belas Kontrak Rahasia Dibuka, Surya Menyadari Perempuan yang Diusirnya Memegang Bukti yang Bisa Meruntuhkan Semuanya

Avatar penulis
Cerita 05
5 menit baca 380 tayangan
Indeks

BAGIAN 2 — Saat Dua Belas Kontrak Rahasia Dibuka, Surya Menyadari Perempuan yang Diusirnya Memegang Bukti yang Bisa Meruntuhkan Semuanya

—Siapa yang bertanggung jawab atas dua belas kontrak penyewaan di area timur?

Pertanyaan itu membuat halaman supermarket yang beberapa menit sebelumnya dipenuhi musik dan tepuk tangan mendadak sunyi.

Tak seorang pun menjawab.

Pria dari tim pemeriksaan khusus memperkenalkan dirinya sebagai Arif. Dua rekannya turun dari mobil lain dan langsung menuju kantor administrasi.

Surya berusaha tersenyum.

—Mungkin ada kesalahpahaman. Hari ini acara pembukaan. Kalau pemeriksaan bisa dijadwalkan ulang—

—Tidak bisa.

Arif memotongnya.

—Kami menerima laporan mengenai dugaan perubahan hak sewa pedagang lama dan hubungan antara penyewa baru dengan pengelola proyek.

Surya menoleh kepadaku.

Tatapannya berubah.

Beberapa menit sebelumnya, ia memandangku seperti perempuan miskin yang mengganggu acaranya.

Sekarang ada ketakutan di matanya.

Salah satu anggota direksi yang istrinya tercatat sebagai pemegang saham perusahaan penyewa segera turun dari panggung.

—Pak Arif, jangan membuat kesimpulan terlalu cepat. Semua kontrak melewati prosedur perusahaan.

Aku akhirnya bicara.

—Kalau begitu, seharusnya tidak ada masalah kalau semuanya diperiksa.

Ia menatapku.

—Bu Laras, masalah internal perusahaan tidak perlu dibesar-besarkan di depan pelanggan.

Aku tersenyum tipis.

—Empat puluh tujuh pedagang kehilangan tempat mencari nafkah. Itu bukan masalah kecil.

Surya mencoba menyela.

—Mereka belum kehilangan apa pun. Kami hanya melakukan penyesuaian konsep.

Aku membuka salinan perjanjian di ponsel.

—Pasal tujuh, ayat tiga. Empat puluh tujuh pedagang lama berhak mendapatkan tempat usaha dengan tarif khusus selama lima tahun. Setiap perubahan harus mendapat persetujuan tertulis dari pemilik lahan.

Aku menatapnya.

—Di mana persetujuan saya?

Surya tidak menjawab.

Arif langsung meminta seluruh dokumen penyewaan dibawa keluar.

Beberapa menit kemudian, seorang pegawai administrasi muncul membawa dua kotak arsip.

Surya mendadak bergerak maju.

—Tunggu. Dokumen itu bersifat rahasia.

Arif menghentikannya.

—Justru karena itu kami perlu melihatnya.

Kotak pertama dibuka.

Satu demi satu kontrak dikeluarkan.

Aku tidak menyentuh satu pun dokumen. Pengacaraku sudah memperingatkan agar pemeriksaan dilakukan oleh pihak independen.

Lalu salah seorang pemeriksa menemukan sesuatu.

—Pak Arif, lihat ini.

Ada lembar persetujuan perubahan fungsi area timur.

Di bagian bawah tercantum namaku.

Laras.

Beserta sebuah tanda tangan.

Surya seperti mendapatkan kembali keberaniannya.

—Nah! Sudah jelas, bukan? Bu Laras sendiri menyetujuinya.

Semua orang menoleh kepadaku.

Aku melihat tanda tangan itu cukup lama.

Kemudian aku tertawa kecil.

—Itu bukan tanda tangan saya.

Wajah Surya kembali kaku.

Anggota direksi tadi maju.

—Jangan asal menuduh. Tanda tangan itu jelas—

—Saya tidak menuduh siapa pun.

Aku mengeluarkan ponsel.

—Tiga bulan lalu saya mengganti format tanda tangan untuk dokumen proyek setelah pengacara menemukan beberapa formulir kosong yang pernah dipindai tanpa izin. Sejak saat itu, setiap persetujuan saya memiliki kode verifikasi digital.

Aku menunjuk dokumen tersebut.

—Kertas itu memakai tanda tangan lama dan tidak memiliki kode.

Arif mengambil dokumen dengan sarung tangan.

—Berarti ada dugaan pemalsuan.

Untuk pertama kalinya, Surya benar-benar kehilangan kata-kata.

Di belakang kami, empat puluh tujuh pedagang mulai mendekat.

Perempuan tua yang membawa papan kios berdiri tepat di belakangku.

Aku bisa mendengar napasnya.

Surya tiba-tiba berkata:

—Saya hanya menjalankan perintah!

Semua kepala berbalik.

Anggota direksi di sampingnya langsung menatap tajam.

—Surya!

—Kenapa saya harus menanggung semuanya?

Surya menunjuk ke arah panggung.

—Ide memindahkan pedagang bukan dari saya!

Suasana meledak.

Kamera ponsel kembali terangkat.

Arif meminta semua orang tenang.

Surya mengeluarkan ponselnya.

Tangannya gemetar.

—Saya punya pesan. Saya punya percakapan. Saya disuruh mengosongkan area timur karena nilai sewanya bisa empat kali lebih tinggi daripada tarif pedagang lama.

Anggota direksi itu mencoba mengambil ponselnya.

Namun petugas pemeriksa berdiri di antara mereka.

—Jangan menyentuh barang bukti.

Surya membuka percakapan.

Pesan-pesan itu menunjukkan bagaimana area pedagang lama sengaja dialihkan ke perusahaan-perusahaan baru.

Ada pembahasan tentang keuntungan.

Ada instruksi menggunakan alasan “modernisasi”.

Bahkan ada satu pesan yang berbunyi:

“Kalau Laras bertanya, bilang semuanya masih sesuai rencana.”

Aku membaca kalimat itu dua kali.

Jadi mereka bukan hanya mengkhianati para pedagang.

Mereka memang sengaja menyembunyikannya dariku.

Pemeriksaan berlangsung sampai malam.

Acara pembukaan dibatalkan.

Para pelanggan dipulangkan dengan penjelasan bahwa sistem sedang mengalami masalah administratif.

Aku meminta air minum dan makanan dibagikan kepada seluruh pedagang yang sejak pagi menunggu di luar.

Ketika matahari hampir tenggelam, Surya duduk sendirian di kursi dekat pintu masuk.

Jasnya sudah dilepas.

Wajahnya terlihat jauh lebih tua.

Ia memanggilku.

—Bu Laras.

Aku berhenti.

—Saya tahu permintaan maaf tidak akan memperbaiki semuanya.

Aku diam.

—Saya dibayar untuk menjalankan perintah. Awalnya saya pikir cuma perubahan bisnis. Kemudian saya tahu ada perusahaan keluarga di belakangnya. Tapi saya sudah terlalu jauh.

—Dan pagi tadi?

Ia menunduk.

—Saya tidak tahu siapa Ibu.

Aku menatapnya.

—Itulah masalah sebenarnya, Surya.

Ia mengangkat kepala.

—Kalau sejak awal tahu saya pemilik tanah ini, Anda pasti memperlakukan saya dengan baik.

Aku menunjuk para pedagang.

—Tapi bagaimana dengan mereka? Apakah seseorang harus memiliki tanah dua hektare dulu untuk pantas diperlakukan dengan hormat?

Surya tak mampu menjawab.

Malam itu aku akhirnya menandatangani satu dokumen.

Bukan aktivasi sistem pembayaran.

Melainkan keputusan sementara untuk menghentikan seluruh kontrak baru di area timur sampai penyelidikan selesai.

Tepat ketika aku hendak pulang, perempuan tua yang membawa papan kios menghampiriku.

—Bu Laras.

—Ya?

Ia menyerahkan papan tua itu kepadaku.

—Ibu Anda dulu pernah bilang sesuatu kepada saya.

Aku terdiam.

—Apa?

Matanya berkaca-kaca.

—Katanya, kalau suatu hari pasar ini berubah menjadi gedung besar, jangan sampai orang kecil merasa pintunya terlalu mewah untuk mereka masuki.

Aku memegang papan kayu itu.

Sudah dua tahun sejak ibuku meninggal.

Namun malam itu, rasanya aku mendengar suaranya lagi.

Aku menoleh ke bangunan modern di belakangku.

Lalu sebuah keputusan muncul dalam pikiranku.

Aku menelepon pengacaraku.

—Besok pagi, siapkan rancangan baru untuk area timur.

—Untuk empat puluh tujuh pedagang?

—Bukan.

Aku memandang kios-kios besar yang kini gelap.

—Kita akan mengubah seluruh lantai dasar.

Dan kali ini, bukan hanya empat puluh tujuh orang yang akan mendapatkan tempat.

(Lanjutkan ke BAGIAN 3….)