BAGIAN 2 — Nama Orang yang Seharusnya Sudah Meninggal Membuka Rahasia Arif, Sementara Pengkhianatan Keluarga Perlahan Terbongkar di Depan Sari
Nama yang terpampang di layar itu membuat lututku lemas.
Bima Prasetyo.
Aku mengenal nama itu.
Bukan sekadar mengenal.
Aku pernah menghadiri pemakamannya.
Bima adalah sahabat Arif sejak kuliah. Tiga bulan sebelum suamiku meninggal, Arif pulang dengan wajah muram dan mengatakan Bima tewas dalam kecelakaan saat bekerja di luar kota.
Aku bahkan pernah melihat foto makamnya.
Lalu bagaimana mungkin tiga hari setelah pemakaman Arif, rekening palsu atas namaku mengirim hampir sembilan ratus juta rupiah kepada orang yang seharusnya sudah meninggal?
—Ini tidak mungkin.
Suaraku hampir tidak terdengar.
Ibuku menutup wajah.
—Ibu minta maaf, Sari.
Aku menoleh cepat.
—Jadi Ibu tahu Bima masih hidup?
Ibuku menangis.
—Ibu tahu setelah Arif meninggal.
—Dari siapa?
—Dari Maya.
Semua kepala langsung menoleh kepada Maya.
Wajahnya pucat.
—Jangan menyeret aku sendirian! —teriaknya—. Dimas juga tahu!
Dimas menghantam meja.
—Diam!
—Kenapa aku harus diam? Kamu yang bilang semuanya aman!
Bu Ratna berdiri.
—Cukup!
Suara perempuan tua itu membuat keduanya membeku.
Pak Hendra meminta semua orang tidak menyentuh laptop. Kemudian ia membuka rincian transaksi lain.
Sebagian besar dana asuransi ternyata sudah berpindah melalui beberapa rekening. Ada transfer untuk rumah, mobil, modal usaha, dan pembayaran kepada beberapa orang.
Namun pembayaran kepada Bima berbeda.
Pak Hendra menunjuk tanggalnya.
—Transaksi ini dilakukan sebelum transaksi-transaksi lainnya. Kalau kita ingin tahu awal masalahnya, kita harus menemukan Bima.
Aku tertawa pahit.
—Menemukan orang yang selama tiga tahun kukira sudah mati?
Ibuku akhirnya bicara.
—Dia masih hidup.
Aku menatapnya.
—Di mana?
—Ibu tidak tahu sekarang. Tapi dulu dia pernah datang menemui Ibu.
Dadaku terasa sesak.
Ibuku lalu menceritakan sesuatu yang sama sekali tidak pernah kubayangkan.
Beberapa bulan sebelum Arif meninggal, Arif mengetahui bahwa Dimas terlilit utang besar akibat investasi yang gagal. Karena takut Bu Ratna mengetahui masalah itu, Dimas meminjam uang dari banyak orang menggunakan nama usaha keluarga.
Arif mengetahuinya.
Bima membantu Arif mengumpulkan bukti.
Tetapi sebelum mereka sempat menyerahkannya kepada Bu Ratna, Bima mendapat ancaman.
Untuk melindungi keluarganya, Bima pergi dan membiarkan kabar bahwa dirinya telah meninggal tersebar.
—Arif sengaja mengatakan kepadamu bahwa Bima meninggal —kata Ibuku— karena dia takut kamu ikut menjadi sasaran.
Air mataku jatuh.
—Kenapa dia tidak mempercayaiku?
—Ia justru terlalu ingin melindungimu.
Aku memejamkan mata.
Untuk pertama kalinya setelah tiga tahun, kenangan tentang Arif terasa berbeda.
Selama ini aku mengira suamiku meninggalkan dunia tanpa rahasia.
Ternyata sebelum meninggal ia sedang berusaha membereskan masalah keluarganya sendiri.
—Lalu sembilan ratus juta itu? —tanyaku.
Ibuku menunduk.
—Bukan Arif yang mengirimkannya.
Pak Hendra mengangguk.
—Benar. Transaksi terjadi setelah Pak Arif meninggal.
Aku menatap Maya.
—Kamu?
Maya menangis.
—Aku cuma mengikuti perintah Dimas!
Dimas langsung berdiri.
—Bohong!
Pertengkaran pecah.
Akhirnya Pak Hendra mengangkat suara.
—Kita bisa mengetahui siapa yang berbohong. Semua transaksi digital meninggalkan jejak.
Maya mendadak terdiam.
Itulah saat aku tahu ia takut.
Pak Hendra kemudian bertanya kepada ibuku bagaimana dokumen identitasku bisa berada di tangan Maya.
Jawabannya jauh lebih menyakitkan.
Ibuku memang memberikan salinannya.
—Ibu pikir mereka sedang membantu mengurus klaim asuransi —katanya sambil menangis—. Maya datang dan mengatakan keluarga Arif akan mengurus semuanya. Ibu memberikan fotokopi kartu identitasmu dan beberapa dokumen.
—Lalu ketika Ibu tahu mereka berbohong?
Ibuku menunduk.
—Ibu takut.
Aku menatapnya tidak percaya.
—Takut apa?
—Dimas mengatakan kalau masalah itu dibongkar, rumahmu bisa ikut disita karena ada dokumen yang menggunakan namamu. Ibu bodoh. Ibu percaya.
Aku merasa marah, tetapi melihat tubuh ibu yang gemetar, aku tahu ada perbedaan antara kesalahan ibu dan apa yang dilakukan Dimas serta Maya.
Ibu bersalah karena diam.
Mereka merencanakannya.
Pak Hendra tiba-tiba menemukan sesuatu.
—Nomor Bima masih tercatat pada salah satu dokumen lama.
Ia mencoba menghubunginya.
Tidak aktif.
Lalu ia mengirim pesan.
Kami menunggu.
Satu menit.
Lima menit.
Sepuluh menit.
Tidak ada jawaban.
Dimas mulai terlihat lebih tenang.
—Sudah kubilang. Orang itu mungkin memang sudah mati.
Saat itulah ponsel Pak Hendra berbunyi.
Sebuah pesan masuk.
Hanya satu kalimat.
“Jangan bicara di rumah itu. Bawa Sari ke tempat umum. Aku akan datang.”
Wajah Dimas berubah.
Pak Hendra menatapku.
Dua jam kemudian, aku, Bu Ratna, ibuku, dan Pak Hendra menunggu di sebuah kedai kopi yang ramai.
Dimas dan Maya tidak kami ajak.
Aku hampir tidak bisa menyentuh minumanku.
Kemudian seorang pria bertopi masuk.
Ia duduk beberapa meja dari kami, mengamati keadaan, lalu perlahan berjalan mendekat.
Ketika ia melepas topinya, aku langsung mengenalinya.
Bima.
Lebih kurus.
Lebih tua.
Tapi jelas masih hidup.
—Maafkan aku, Sari.
Aku menatapnya dengan mata panas.
—Suamiku meninggal membawa begitu banyak rahasia. Sekarang katakan semuanya.
Bima duduk.
Lalu ia mengeluarkan sebuah benda kecil dari sakunya.
Sebuah flashdisk.
—Arif memberikan ini kepadaku dua minggu sebelum dia meninggal.
Tanganku gemetar.
—Isinya apa?
—Bukti utang Dimas, pemalsuan dokumen, dan rekaman percakapan.
Bu Ratna memucat.
—Kenapa baru sekarang?
Bima menatapnya.
—Karena setelah Arif meninggal, seseorang mendatangi rumah keluarga saya. Mereka tahu alamat istri dan anak saya.
Aku langsung memahami ketakutannya.
—Lalu uang sembilan ratus juta itu?
Bima menarik napas.
—Uang tutup mulut.
—Dari Dimas?
Bima menggeleng.
—Dari Maya.
Aku tercengang.
Bima menjelaskan bahwa Maya menghubunginya tiga hari setelah pemakaman Arif. Ia menawarkan uang agar Bima pergi jauh dan tidak menyerahkan bukti.
Bima menerima transfer itu.
Tetapi bukan untuk dirinya.
—Saya mengembalikan sebagian besar uang itu beberapa bulan kemudian ke rekening terpisah karena saya tahu suatu hari Sari akan membutuhkannya.
Pak Hendra langsung bertanya,
—Rekening apa?
Bima menuliskan nomor.
Pak Hendra memeriksanya.
Beberapa menit kemudian, ia menatapku.
—Rekeningnya masih ada.
—Berapa?
—Sekitar tujuh ratus delapan puluh juta rupiah.
Aku menutup mulut.
Untuk pertama kalinya hari itu, ada uang yang ternyata belum hilang.
Namun Bima belum selesai.
—Ada satu hal yang harus kamu dengar.
Ia memasukkan flashdisk ke laptop Pak Hendra.
Sebuah file audio muncul.
Suara Arif terdengar.
Aku langsung menangis.
Sudah tiga tahun aku tidak mendengar suaranya.
—Kalau sesuatu terjadi padaku, jangan biarkan Dimas menguasai dokumen keluarga. Aku menemukan bukti dia menggunakan tanda tangan Ibu untuk menjaminkan aset. Maya tahu semuanya. Aku akan bicara dengan Ibu setelah semuanya lengkap.
Lalu terdengar suara lain.
Dimas.
—Kalau kamu bongkar ini, kamu menghancurkan keluarga sendiri.
Suara Arif menjawab tenang.
—Keluarga tidak berarti membiarkan orang mencuri.
Rekaman berhenti.
Bu Ratna menangis.
Namun kemudian Bima membuka file terakhir.
—Ini bagian yang tidak pernah didengar siapa pun.
Rekaman dimulai lagi.
Kali ini suara Dimas terdengar jauh lebih jelas.
—Kamu pikir setelah kamu pergi, Sari masih bisa melawan kami?
Aku membeku.
Lalu terdengar suara benda jatuh dan Arif berteriak.
Rekaman berhenti mendadak.
Aku berdiri begitu cepat hingga kursiku hampir terbalik.
—Apa maksudnya “setelah kamu pergi”?
Bima menatapku.
—Itulah alasan sebenarnya aku kembali, Sari.
Ia menarik napas panjang.
—Karena setelah mendengar rekaman ini lagi, aku tidak yakin kematian Arif hanya serangan jantung biasa.
(Lanjutkan ke BAGIAN 3….)
