BAGIAN 2 — Lelaki dalam Rekaman Membuka Rahasia Enam Tahun, dan Suamiku Baru Menyadari Bengkel Itu Menyimpan Bukti yang Bisa Menghancurkannya
Tak seorang pun langsung berbicara.
Suara pendingin ruangan terdengar lebih jelas daripada napas orang-orang di dalam ruangan.
Laki-laki yang baru masuk itu bernama Pak Harun. Usianya hampir enam puluh tahun. Rambutnya sudah banyak memutih, tetapi langkahnya masih tegap.
Aku mengenalnya sejak kecil.
Dulu dia bekerja bersama ayahku. Setelah ayah meninggal, dia tetap membantu mengurus pembukuan bengkel sampai suamiku mengambil alih pengelolaan.
Suamiku menatapnya dengan wajah pucat.
—Kenapa Anda ada di sini?
Pak Harun tidak menjawab pertanyaan itu.
Dia meletakkan sebuah tas hitam di atas meja.
—Karena enam tahun lalu saya berjanji kepada ayah mertua Anda bahwa selama putrinya masih menjadi pemilik bengkel ini, saya tidak akan membiarkan siapa pun mengambilnya dengan cara kotor.
Suamiku tertawa pendek.
—Jangan membuat drama. Saya yang mengelola bengkel ini bertahun-tahun. Saya tahu setiap transaksi yang terjadi.
—Benarkah?
Pengacaraku membuka laptop.
—Kalau begitu, Anda pasti bisa menjelaskan transaksi-transaksi berikut.
Sebuah tabel muncul di layar.
Tahun pertama, ada beberapa pembayaran kepada pemasok yang tidak pernah mengirim barang.
Tahun kedua, muncul biaya perbaikan mesin dalam jumlah besar, padahal mesin tersebut bahkan sudah tidak digunakan.
Tahun ketiga, sejumlah uang dipindahkan secara berkala ke sebuah perusahaan konsultan.
Tahun keempat dan kelima, jumlahnya semakin besar.
Dan delapan bulan terakhir, uang itu mulai mengalir ke sebuah perusahaan baru.
Nama pemilik perusahaan tersebut membuat adik suamiku mendadak berdiri.
Itu adalah namanya.
—Apa ini?
Dia menatap kakaknya.
—Kak, kenapa ada namaku?
Suamiku langsung menjawab:
—Itu modal awal perusahaanmu. Aku sudah pernah menjelaskannya.
—Kau bilang itu uangmu!
Suara adiknya meninggi.
—Kau bilang uang itu berasal dari investasi dan bonus pekerjaanmu!
Ibu mertua memegang lengannya.
—Jangan bertengkar sekarang.
Aku tetap duduk.
Selama ini mereka mengira aku tidak mengetahui apa-apa karena setiap hari aku hanya membuat roti, melayani pelanggan, dan pulang dengan pakaian yang terkadang masih berbau mentega.
Mereka tidak pernah tahu bahwa tiga bulan lalu aku menemukan sesuatu yang aneh.
Penyewa gudang menghubungiku karena menerima pemberitahuan perubahan rekening pembayaran.
Rekening baru itu bukan milikku.
Aku mulai memeriksa semuanya.
Semakin dalam aku mencari, semakin banyak kejanggalan yang kutemukan.
Aku kemudian menemui Pak Harun.
Ternyata dia menyimpan salinan pembukuan lama karena sejak dua tahun pertama sudah mencurigai beberapa transaksi.
—Kenapa Anda tidak pernah memberitahuku?
tanyaku waktu itu.
Pak Harun menundukkan kepala.
—Saya pernah mencoba. Tapi suami Nyonya mengatakan Nyonya sedang sakit dan tidak boleh diganggu urusan bisnis. Setelah itu akses saya ke pembukuan dibatasi.
Saat itulah aku mengerti.
Suamiku bukan mulai berbohong delapan bulan lalu.
Dia sudah melakukannya bertahun-tahun.
Pengacaraku menggeser beberapa dokumen ke tengah meja.
—Berdasarkan pemeriksaan sementara, ada dana bengkel dalam jumlah sangat besar yang dialihkan tanpa persetujuan pemilik sah. Sebagian masuk ke perusahaan yang berkaitan dengan keluarga Anda.
Wajah ibu mertuaku berubah.
—Itu tidak mungkin! Anak saya bukan pencuri!
Aku menatapnya.
—Saya belum menyebut dia pencuri, Bu. Saya hanya menunjukkan transaksi.
Beliau terdiam.
Perwakilan perusahaan pembeli kemudian menutup map kontraknya.
—Dalam kondisi seperti ini, kami menghentikan proses pembelian sampai status hukum aset jelas.
Suamiku panik.
—Tunggu! Semua ini bisa dijelaskan!
—Silakan jelaskan kepada pengacara.
Aku berdiri.
Dia tiba-tiba meraih lenganku.
—Kita bicara berdua.
Aku melepaskan tangannya.
—Enam tahun kau punya kesempatan bicara denganku.
—Aku melakukan semuanya untuk keluarga!
Aku hampir tertawa.
—Keluarga yang mana?
Dia membeku.
Aku menunjuk layar.
—Uang bengkel digunakan untuk membayar sewa kantor perusahaan adikmu. Renovasi ruang pamer. Mobil operasional. Bahkan uang muka apartemen yang terdaftar atas nama ibumu. Di bagian mana dari semua itu ada aku?
Ibu mertua langsung memotong.
—Apartemen itu katanya dibeli dari bonus kerjanya!
Aku memandang suamiku.
Untuk pertama kalinya, bahkan ibunya sendiri terlihat seperti tidak mengenali laki-laki di hadapannya.
Adiknya duduk perlahan.
—Kak… perusahaan yang kau berikan kepadaku itu sebenarnya dibangun menggunakan uang bengkel Kakak Ipar?
Suamiku tidak menjawab.
Air mata mulai memenuhi matanya.
—Jawab aku!
—Aku hanya meminjam!
teriak suamiku.
—Setelah perusahaanmu menghasilkan keuntungan, aku akan mengembalikannya!
Aku menggeleng.
—Orang yang berniat meminjam meminta izin. Orang yang mengambil diam-diam lalu memalsukan tanda tangan sedang melakukan sesuatu yang berbeda.
Ruangan kembali sunyi.
Kemudian Pak Harun membuka tas hitamnya.
Dia mengeluarkan sebuah buku pembukuan tua.
Sampulnya sudah menguning.
—Ini bukan satu-satunya alasan saya datang.
Aku menatapnya.
Hal ini bahkan tidak pernah dia ceritakan kepadaku.
Pak Harun membuka halaman terakhir.
Di sana terdapat tulisan tangan ayahku.
Tanganku seketika dingin.
Aku mengenali tulisan itu.
Pak Harun berkata:
—Beberapa bulan sebelum meninggal, ayah Anda mengetahui kawasan sekitar bengkel akan masuk rencana pengembangan komersial. Karena itu, beliau mengubah struktur kepemilikan aset.
Suamiku menatapnya tajam.
—Apa maksud Anda?
Pak Harun menoleh kepadaku.
—Bangunan bengkel memang tercatat sebagai aset usaha. Tetapi tanah di bawahnya tidak pernah menjadi bagian dari aset yang boleh dikelola suami Anda.
Aku terdiam.
Pengacaraku segera mengambil dokumen pendukung dari tasnya.
Beberapa detik kemudian, dia menatapku dengan ekspresi yang bahkan belum pernah kulihat sebelumnya.
—Ini berarti kontrak penjualan yang mereka persiapkan sejak awal tidak bisa dilakukan tanpa persetujuan langsung Anda.
Suamiku seperti kehilangan tenaga.
Dia jatuh kembali ke kursinya.
Namun Pak Harun belum selesai.
—Dan ada satu hal lagi.
Dia membuka halaman berikutnya.
Di sana tertempel salinan sebuah perjanjian lama.
Pak Harun menatapku.
—Ayah Anda meninggalkan pesan. Kalau suatu hari ada orang yang mencoba mengambil bengkel ini melalui tanda tangan palsu atau penyalahgunaan kepercayaan, dokumen ini harus diberikan kepada Anda.
Aku menerima kertas itu dengan tangan gemetar.
Di bagian bawah terdapat tulisan ayah.
Hanya satu kalimat.
“Jangan mempertahankan seseorang hanya karena takut memulai hidup dari awal.”
Pandangan mataku langsung kabur.
Tujuh tahun aku mengira warisan terakhir ayah adalah sebidang tanah.
Ternyata bukan.
Warisan terakhirnya adalah sebuah jalan keluar.
Aku menutup dokumen itu.
Lalu menatap laki-laki yang pernah kupanggil suami.
—Mulai hari ini, kau tidak lagi memiliki akses apa pun ke bengkel.
Dia berdiri.
—Kau mau menghancurkanku?
Aku menggeleng.
—Tidak.
Aku mengambil tasku.
—Aku hanya mengambil kembali sesuatu yang sejak awal bukan milikmu.
Saat aku berjalan menuju pintu, adik suamiku tiba-tiba memanggil.
—Kakak Ipar!
Aku berhenti.
Dia berdiri dengan mata merah.
Lalu melakukan sesuatu yang tidak pernah kuduga.
Dia mengambil map pendirian perusahaan barunya, berjalan ke arahku, dan meletakkannya di tanganku.
—Kalau perusahaan ini dibangun dari uang yang bukan milik kami…
Suaranya bergetar.
—Aku tidak menginginkannya.
Suamiku membentak:
—Kau gila?!
Adiknya berbalik.
—Yang gila adalah aku hampir merayakan masa depanku menggunakan sesuatu yang kau curi dari istrimu sendiri.
Dan pada saat itulah aku sadar, pertarungan sebenarnya baru saja dimulai.
(Lanjutkan ke BAGIAN 3….)
