Rahasia Lama di Balik Tanah Toko Terungkap, dan Aku Akhirnya Tahu Mengapa Putraku Begitu Takut Kehilanganku

Avatar penulis
Cerita 05
6 menit baca 173 tayangan
Indeks

BAGIAN 2 — Rahasia Lama di Balik Tanah Toko Terungkap, dan Aku Akhirnya Tahu Mengapa Putraku Begitu Takut Kehilanganku

Aku menatap layar tablet itu sekali lagi.

Namaku benar-benar tertulis di sana.

Bukan nama putraku.

Bukan nama menantuku.

Namaku.

Aku mengangkat kepala dan memandang pria berkemeja putih itu.

—Apa maksudnya ini?

Pria itu memperkenalkan dirinya sebagai orang yang selama bertahun-tahun membantu mengurus aset milik pemilik lama tanah tersebut.

Dia kemudian menjelaskan sesuatu yang bahkan tidak pernah kubayangkan.

Tujuh tahun lalu, ketika putraku baru membuka toko bahan bangunan, dia tidak mempunyai cukup uang untuk menyewa tempat strategis. Saat itu, suamiku masih hidup.

Diam-diam, suamiku menggunakan sebagian tabungan kami sebagai jaminan sewa jangka panjang.

Namun dia membuat satu syarat.

Hak utama atas penggunaan tempat itu dicatat atas namaku.

Aku terdiam.

—Suami saya melakukan itu?

Pria itu mengangguk.

—Beliau mengatakan satu hal kepada pemilik tanah: “Kalau suatu hari saya tidak ada, jangan biarkan istri saya kehilangan tempat bergantung hanya karena dia terlalu sayang kepada anak-anak.”

Dadaku terasa sesak.

Aku menutup mulut dengan tangan.

Tujuh tahun.

Selama tujuh tahun aku berdiri di toko itu setiap hari tanpa mengetahui bahwa suamiku telah meninggalkan perlindungan terakhir untukku.

Pria itu melanjutkan.

Beberapa bulan terakhir, pemilik tanah berniat menjual seluruh area pertokoan. Karena perjanjian lama memberikan hak prioritas kepadaku, keputusan mengenai kelanjutan kontrak toko harus mendapatkan persetujuanku.

Aku langsung memahami semuanya.

Aku menoleh kepada putraku.

—Kamu sudah tahu?

Dia tidak menjawab.

Aku mengulangi pertanyaanku.

—Sejak kapan kamu tahu?

Akhirnya dia berbisik,

—Sekitar dua bulan lalu.

Dua bulan.

Berarti ketika menantuku menyerahkan pengelolaan toko kepada adiknya, mereka sudah mengetahui semuanya.

Aku menatap menantuku.

—Jadi kalian menyuruhku berhenti, tetapi masih membutuhkan namaku untuk mempertahankan tempat itu?

Wajahnya pucat.

—Bu, sebenarnya bukan begitu…

—Lalu bagaimana?

Dia tidak bisa menjawab.

Putraku tiba-tiba berkata,

—Aku memang salah, Bu. Aku takut mengatakan semuanya karena aku pikir kalau Ibu tahu, Ibu akan mengambil toko itu.

Aku tertawa getir.

—Mengambil?

Aku menunjuk diriku sendiri.

—Tujuh tahun Ibu bekerja di sana tanpa gaji. Ibu membantu kalian sejak toko itu hampir tidak punya pelanggan sampai bisa mempekerjakan beberapa orang. Kapan Ibu pernah meminta bagian?

Dia menunduk.

Putriku berdiri di sampingku dan menggenggam tanganku.

Aku bisa merasakan tangannya gemetar.

Menantuku kemudian berkata pelan,

—Kami bisa memperbaiki semuanya. Ibu pulang saja. Kami tidak akan meminta biaya hidup lagi.

Kalimat itu justru membuatku semakin tenang.

Bukan karena aku tersentuh.

Melainkan karena akhirnya aku benar-benar mengerti posisi mereka.

Aku berkata,

—Aku tidak membutuhkan izin kalian untuk tinggal di sebuah rumah.

Ruangan kembali sunyi.

Kemudian aku mengambil pena.

Putraku menatap tanganku.

—Bu…

Aku menandatangani dokumen pembelian rumah untuk putriku.

Tangannya langsung menutupi wajah.

Namun setelah selesai, aku memandang putriku.

—Rumah ini atas namamu, tetapi Ibu punya satu syarat.

Dia buru-buru berkata,

—Apa saja, Bu.

—Jangan pernah menganggap rumah ini sebagai alasan untuk berhenti berusaha. Halaman depan bisa kamu gunakan untuk memperbesar usaha makananmu. Kamar di lantai bawah biarkan untuk Ibu. Kalau suatu hari Ibu ingin tinggal sendiri, Ibu tetap punya tempat.

Putriku menangis dan memelukku.

—Terima kasih, Bu.

Aku membelai rambutnya.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku merasa pemberianku tidak dianggap sebagai sesuatu yang memang seharusnya mereka terima.

Setelah itu, aku kembali menatap pria berkemeja putih.

—Tentang toko itu, saya ingin waktu untuk berpikir.

—Tentu.

Putraku buru-buru mendekat.

—Bu, toko itu sumber penghasilan keluarga kami. Kalau tempat itu hilang, kami…

Aku memotongnya.

—Ibu tahu.

Dia terdiam.

—Karena selama tujuh tahun, Ibu ikut membangunnya.

Wajahnya memerah.

Aku tidak menghancurkan toko itu.

Aku juga tidak menyerahkannya begitu saja.

Tiga hari kemudian, aku mengadakan pertemuan dengan putraku, menantuku, dan orang yang mengurus tanah tersebut.

Aku mengajukan tiga syarat.

Pertama, adik menantuku tidak boleh menjadi pengelola toko hanya karena hubungan keluarga. Jika ingin bekerja, dia harus memulai sebagai pegawai biasa dan dinilai berdasarkan kemampuannya.

Kedua, semua pegawai harus memiliki kontrak dan upah yang jelas.

Ketiga, selama aku masih memiliki hak atas tempat itu, sebagian keuntungan toko harus dialokasikan untuk dana pendidikan kedua cucuku dan biaya perawatan tempat usaha.

Menantuku langsung keberatan.

—Kalau begitu keuntungan kami akan berkurang!

Aku memandangnya.

—Kamu boleh menolak.

Dia langsung diam.

Karena kali ini dia tahu aku benar-benar bisa pergi.

Akhirnya mereka menyetujui semuanya.

Namun aku tidak kembali bekerja di toko.

Aku sudah cukup.

Aku pindah ke rumah baru bersama putriku untuk sementara.

Halaman depannya kami ubah menjadi warung sarapan sederhana.

Putriku pandai memasak.

Nasi uduk, bubur ayam, gorengan, dan kopi buatannya mulai dikenal warga sekitar.

Aku membantu sebisaku, tetapi kali ini berbeda.

Tidak ada yang memaksaku bangun pukul empat pagi.

Kalau lelah, putriku akan berkata,

—Ibu duduk saja. Biar kami yang mengerjakan.

Satu bulan kemudian, untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku membeli dua pot tanaman berbunga dan meletakkannya di depan kamar.

Aku mulai mengikuti kegiatan lansia di lingkungan sekitar.

Aku punya teman baru.

Aku bahkan belajar menggunakan ponsel untuk melakukan panggilan video.

Hidupku ternyata tidak berakhir ketika aku meninggalkan rumah putraku.

Justru baru dimulai.

Namun hubunganku dengan putraku belum membaik.

Dia menelepon beberapa kali.

Aku menjawab seperlunya.

Sampai suatu sore, cucuku menelepon.

Suaranya terdengar sedih.

—Nenek, kapan Nenek pulang?

Aku terdiam.

—Nenek sekarang tinggal di rumah Bibi.

—Apa Nenek marah sama aku?

Hatiku langsung mencelos.

—Tidak. Nenek tidak pernah marah padamu.

Dia terisak.

—Ayah dan Ibu bertengkar terus sejak Nenek pergi.

Aku memejamkan mata.

Kemudian cucuku mengatakan sesuatu yang membuatku terdiam lama.

—Kemarin Ayah duduk sendirian di depan kamar Nenek. Ayah menangis.

Aku tidak tahu apakah itu berarti putraku benar-benar menyesal.

Tetapi beberapa hari kemudian, tanpa memberi tahu siapa pun, aku naik bus kembali ke kota.

Bukan untuk pulang.

Aku hanya ingin mengambil sebuah kotak kayu kecil peninggalan suamiku yang tertinggal di kamar lama.

Ketika membuka pintu rumah itu, aku mendengar suara pertengkaran dari ruang makan.

Menantuku sedang berteriak.

—Kalau ibumu tidak kembali, kita jual saja toko itu!

Lalu terdengar suara putraku.

Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, suaranya begitu tegas.

—Tidak.

—Kenapa tidak?

Putraku menjawab,

—Karena toko itu bukan milikku seorang. Dan selama ini, mungkin aku bahkan tidak pantas menyebutnya milikku.

Aku berhenti di balik pintu.

Kemudian dia mengatakan satu kalimat yang membuat mataku perlahan memanas.

—Aku kehilangan ibuku bukan karena toko. Aku kehilangan Ibu karena selama bertahun-tahun aku terlalu pengecut untuk berdiri di pihak orang yang membesarkanku.

Aku berdiri diam.

Dan untuk pertama kalinya, aku mulai bertanya-tanya…

apakah seorang anak yang pernah membuat kesalahan besar masih layak diberi kesempatan kedua.

(Lanjutkan ke BAGIAN 3….)