BAGIAN 2 — PRIA YANG DATANG MALAM ITU MEMBUKA RAHASIA TERAKHIR IBU, SEMENTARA ISI USB MEMBUAT BAGAS TAK BISA LAGI MENYEMBUNYIKAN KEBENARAN
Aku menatap pria tua yang berdiri di ambang pintu, sementara asap tipis masih memenuhi lorong. Di tanganku, lembar hasil verifikasi hubungan biologis itu bergetar. Bagas masih terduduk di lantai. Untuk pertama kalinya sejak aku pulang, wajah adikku tidak menunjukkan kemarahan ataupun keberanian. Yang kulihat hanyalah ketakutan.
Pria tua itu memperkenalkan dirinya sebagai Pak Hendra. Namanya terasa asing, tetapi ketika dia mengeluarkan sebuah foto lama dari dompetnya, napasku tertahan. Dalam foto itu, Ibu masih sangat muda. Di sebelahnya berdiri Pak Hendra bersama seorang pria lain yang wajahnya memiliki kemiripan aneh denganku.
—Siapa dia?
Pak Hendra tidak langsung menjawab.
—Namanya Arif. Dia adik saya.
Tanganku semakin dingin.
Pak Hendra kemudian menunjuk kertas yang kupegang.
—Dan dia ayah kandungmu.
Aku menatapnya tanpa mampu berkata apa-apa.
Alya menutup mulutnya.
Bagas justru menunduk semakin dalam.
Pak Hendra menjelaskan bahwa puluhan tahun lalu Ibu pernah bertunangan dengan Arif. Namun beberapa bulan sebelum pernikahan mereka, Arif meninggal dalam kecelakaan saat bekerja di luar daerah. Saat itu Ibu sedang mengandungku. Beberapa tahun kemudian, Ibu menikah dengan pria yang selama ini kukenal sebagai ayahku. Pria itu menerima aku sebagai anaknya sendiri dan tidak pernah membedakan aku dengan anak-anak yang lahir setelah pernikahan mereka.
—Kalau begitu, kenapa Ibu menyembunyikannya?
Pak Hendra menatapku lama.
—Karena ayah yang membesarkanmu meminta begitu. Dia bilang seorang anak tidak membutuhkan dua cerita tentang siapa ayahnya. Dia hanya membutuhkan seseorang yang benar-benar mencintainya.
Aku memejamkan mata.
Dadaku sesak, tetapi bukan karena kecewa.
Pria yang membesarkanku telah meninggal bertahun-tahun lalu. Aku masih mengingat tangannya yang kasar mengajariku memperbaiki sepeda, menemaniku mencari pekerjaan pertama, dan mengantar keberangkatanku saat aku memutuskan bekerja di luar negeri.
Darah mungkin menjelaskan asal-usulku.
Tetapi kasih sayang menjelaskan siapa ayahku.
Aku membuka mata.
—Lalu kenapa hasil pemeriksaan ini disimpan Ibu?
Pak Hendra menarik napas.
—Karena keluarga Arif meninggalkan sesuatu untukmu.
Siska yang sejak tadi diam mendadak berubah pucat.
Aku langsung menyadarinya.
—Kau tahu soal ini?
Siska mundur.
—Aku tidak tahu apa-apa.
—Jangan bohong lagi!
Suara Bagas tiba-tiba terdengar.
Kami semua menoleh.
Bagas mengangkat wajah. Matanya merah.
—Dia tahu.
Siska menatap suaminya dengan tidak percaya.
—Bagas!
Namun Bagas seolah sudah kehilangan tenaga untuk terus menyembunyikan semuanya.
—Dua tahun lalu aku menemukan surat Ibu. Di situ ada nama Pak Hendra dan informasi mengenai aset yang ditinggalkan keluarga ayah kandung Kak Damar.
Aku mengepalkan tangan.
—Jadi kalian mengambil rumah ini karena itu?
Bagas menggeleng cepat.
—Awalnya tidak. Aku punya utang bisnis. Aku meminjam uang dan gagal mengembalikannya. Siska takut kami kehilangan semuanya. Kami tahu rumah ini nilainya tinggi. Jadi…
Dia berhenti.
Aku menyelesaikan kalimatnya.
—Jadi kalian menipu Alya agar menandatangani pemindahan kepemilikan.
Bagas menunduk.
Alya menangis tanpa suara.
Namun aku belum selesai.
Aku mengambil USB yang tadi jatuh dari amplop dan meminta salah seorang pria yang datang bersama Pak Hendra mengambil laptop dari mobil.
Beberapa menit kemudian USB itu terpasang.
Di dalamnya terdapat beberapa folder.
Rekaman suara.
Foto dokumen.
Catatan transfer.
Dan sebuah video terakhir dari Ibu.
Tanganku gemetar ketika menekan tombol putar.
Wajah Ibu muncul di layar.
Tubuhnya terlihat lemah, tetapi tatapannya masih setegas yang kuingat.
—Damar, kalau kamu melihat video ini, mungkin Ibu sudah tidak ada.
Aku menggigit bibir.
Alya langsung menangis.
—Maafkan Ibu karena menyimpan rahasia tentang kelahiranmu. Tetapi percayalah, ayah yang membesarkanmu adalah orang terbaik yang pernah Ibu kenal. Jangan pernah merasa bahwa cinta beliau kepadamu menjadi lebih kecil hanya karena kalian tidak memiliki darah yang sama.
Aku menunduk.
Air mataku akhirnya jatuh.
Kemudian Ibu mengatakan sesuatu yang membuat kami semua terdiam.
—Rumah ini Ibu wariskan kepada Damar dan Alya. Bagas sudah menerima bagian berupa tanah dan modal usaha. Tidak seorang pun berhak mengambil bagian Damar ataupun Alya.
Aku perlahan menoleh kepada Bagas.
Jadi benar.
Dia sudah menerima bagiannya.
Tetapi dia masih mengambil milik kami.
Video berlanjut.
—Untuk Damar, keluarga almarhum Arif juga menitipkan sebidang tanah perkebunan dan kepemilikan dalam usaha keluarga mereka. Ibu tidak pernah menggunakannya. Semua dokumennya dipegang Pak Hendra sampai kamu kembali.
Pak Hendra mengangguk.
—Semuanya masih utuh. Tidak pernah disentuh.
Siska tiba-tiba berlari menuju laptop.
—Matikan itu!
Namun salah seorang pria Pak Hendra menghalanginya.
Siska berteriak:
—Rumah ini sudah atas namaku! Kalian tidak bisa mengambilnya begitu saja!
Aku menatapnya.
Anehnya, aku tidak lagi marah.
Aku justru merasa sangat tenang.
—Kalau pemindahan dilakukan dengan penipuan, tanda tangan yang diperoleh dengan informasi palsu bisa dipersoalkan secara hukum.
Wajah Siska berubah.
Bagas tiba-tiba berdiri.
—Aku akan mengaku.
Siska menatap suaminya.
—Kamu gila?
—Sudah cukup, Siska.
—Semua ini kita lakukan untuk keluarga kita!
Bagas menggeleng.
—Tidak. Kita melakukannya karena serakah.
Ruangan mendadak sunyi.
Bagas berjalan mendekati Alya.
—Maafkan aku.
Alya mundur.
Bagas berhenti.
—Aku tidak meminta kamu memaafkanku sekarang. Aku cuma ingin mengatakan bahwa semua uang dari Kak Damar masih bisa dilacak. Sebagian kupakai untuk membayar utang. Sebagian masuk ke rekening Siska. Aku akan menyerahkan semua catatannya.
Siska langsung menampar Bagas.
Namun Bagas tidak membalas.
Aku segera memanggil bantuan untuk memastikan api benar-benar padam. Setelah itu, Pak Hendra menghubungi orang yang bisa membantu kami mengamankan dokumen dan rekaman sebelum ada yang sempat menghilangkannya lagi.
Tetapi di tengah semua kekacauan itu, Alya kembali batuk.
Kali ini tubuhnya mendadak limbung.
Aku sempat menangkapnya sebelum jatuh.
—Alya!
Matanya setengah terpejam.
—Kak… jangan marah lagi…
—Jangan bicara.
Tubuhnya terasa panas.
Aku mengangkatnya dan membawanya keluar.
Malam itu pesta ulang tahun berakhir tanpa musik, tanpa tawa, tanpa ucapan selamat.
Aku duduk di samping Alya sepanjang perjalanan menuju rumah sakit.
Beberapa jam kemudian dokter keluar.
Aku langsung berdiri.
—Bagaimana kondisi adik saya?
Dokter mengatakan Alya mengalami infeksi saluran pernapasan yang cukup berat dan kondisinya diperburuk oleh kelelahan serta pengobatan yang tidak teratur. Bercak darah yang kulihat harus diperiksa lebih lanjut, tetapi dokter meminta kami tidak langsung mengambil kesimpulan sebelum seluruh hasil pemeriksaan keluar.
Aku menatap Alya melalui kaca.
Untuk pertama kalinya setelah dua belas tahun, aku sadar bahwa semua uang yang kukumpulkan tidak berarti apa-apa jika aku kembali terlalu terlambat.
Aku menggenggam gantungan kayu pemberian Alya yang selama ini masih kusimpan.
Lalu aku membuat satu janji.
Kali ini aku tidak akan pergi sebelum adikku benar-benar pulih.
Namun keesokan paginya, ketika aku kembali ke rumah untuk mengambil pakaian Alya, Pak Hendra sudah menungguku di halaman.
Di tangannya ada sebuah map.
—Ada satu hal lagi yang harus kamu ketahui, Damar.
—Tentang apa?
Dia menyerahkan map itu.
Di dalamnya terdapat laporan transaksi dari rekening yang selama ini menerima kiriman uangku.
Aku membaca halaman pertama.
Lalu halaman kedua.
Dan tiba-tiba aku berhenti.
Karena di sana aku menemukan sesuatu yang bahkan tidak diakui Bagas malam sebelumnya.
Selama tiga tahun, uangku bukan hanya dipakai membayar utang.
Setiap bulan, sejumlah besar uang dipindahkan ke rekening lain.
Pemilik rekening itu adalah seseorang yang sangat kukenal.
Aku mengangkat wajah.
—Ini… rekening Siska?
Pak Hendra menggeleng pelan.
—Bukan.
Dia menunjuk nama yang tercetak di bawah nomor rekening.
Dan saat aku membacanya, jantungku seakan berhenti.
Nama itu adalah nama orang yang selama ini dianggap Alya sebagai satu-satunya orang yang diam-diam membantunya setelah Ibu meninggal.
(Lanjutkan ke BAGIAN 3….)
