Ketika Mereka Akhirnya Mengetahui Siapa Pemilik Rumah Itu, Aku Memilih Pergi dan Membiarkan Mereka Menghadapi Akibat Keputusan Sendiri

Avatar penulis
Cerita 05
5 menit baca 485 tayangan
Indeks

BAGIAN 2 — Ketika Mereka Akhirnya Mengetahui Siapa Pemilik Rumah Itu, Aku Memilih Pergi dan Membiarkan Mereka Menghadapi Akibat Keputusan Sendiri

Suamiku masih memegang ponsel ketika aku mencapai pintu.

Wajahnya yang tadi dipenuhi kemarahan kini berubah pucat.

—Tunggu!

Aku berhenti, tetapi tidak berbalik.

Suara petugas dari kantor pengelola properti masih terdengar samar dari ponselnya.

Ibu mertuaku bangkit dari sofa.

—Sebenarnya mereka bilang apa?

Suamiku tidak langsung menjawab.

Dia menatap dokumen yang tadi kuberikan, kemudian menatapku.

—Mereka bilang mulai hari ini tidak boleh ada perubahan data penghuni tetap ataupun renovasi apa pun tanpa persetujuan seluruh pemilik yang tercatat.

Aku akhirnya berbalik.

—Benar.

—Kenapa namamu ada di dokumen kepemilikan rumah ini?

Pertanyaan itu membuatku hampir tertawa.

Empat tahun.

Selama empat tahun dia tidak pernah benar-benar bertanya bagaimana keluarganya berhasil mempertahankan rumah tersebut ketika utang ayahnya jatuh tempo.

Saat kami baru menikah, rumah ini masih dijadikan jaminan untuk utang usaha lama keluarga mereka.

Ayah mertuaku sudah meninggal. Usahanya gagal dan meninggalkan kewajiban yang tidak sedikit.

Saat itu, bank memberikan batas waktu terakhir.

Ibu mertuaku menangis.

Suamiku baru mulai bekerja dan tidak memiliki tabungan.

Mereka mengatakan rumah keluarga itu mungkin harus dijual.

Akulah yang menggunakan hampir seluruh tabunganku untuk membantu menyelesaikan kewajiban tersebut.

Namun aku tidak memberikan uang itu secara cuma-cuma.

Atas saran seorang kenalan yang memahami masalah properti, semuanya dibuat secara resmi.

Sebagian hak kepemilikan dialihkan kepadaku sesuai nilai dana yang kukeluarkan.

Saat itu ibu mertuaku menyetujuinya.

Suamiku juga mengetahuinya.

Hanya saja bertahun-tahun kemudian, tampaknya mereka memilih melupakan bagian tersebut.

Aku menatap ibu mertuaku.

—Ibu masih ingat dokumen yang Ibu tanda tangani empat tahun lalu?

Wajahnya berubah.

—Waktu itu… Ibu sedang bingung.

—Tapi Ibu tetap menandatanganinya.

Sepupu suamiku yang sejak tadi diam akhirnya bertanya:

—Jadi rumah ini juga milik Kakak?

—Sebagian hak kepemilikannya tercatat atas namaku.

Dia langsung memandang ibu mertuaku.

Untuk pertama kalinya sejak datang ke rumah itu, wajahnya tidak lagi terlihat percaya diri.

Ibu mertuaku segera berkata:

—Tapi kamu kan istri anakku. Apa bedanya milikmu dan miliknya?

Aku mengangguk perlahan.

—Kalau begitu, kenapa ketika kamar tidurku diberikan kepada orang lain, tidak ada yang merasa perlu bertanya kepadaku?

Ruangan langsung sunyi.

Suamiku berjalan mendekat.

—Aku akui aku salah. Tapi kamu tidak perlu pergi. Kita bisa membicarakan semuanya.

Aku menatapnya.

—Aku sudah mencoba membicarakannya sejak hari pertama.

—Aku pikir kamu tidak keberatan.

—Karena aku tidak berteriak?

Dia terdiam.

Aku melanjutkan:

—Kamu memindahkan meja kerjaku tanpa izin. Barang-barangku dimasukkan ke kardus. Ibumu mengatur kapan dan di mana aku boleh menggunakan laptop. Lalu kamar tidur kita diberikan kepada orang lain. Setiap kali aku melihatmu, kamu hanya mengatakan satu hal: mengalah.

Matanya mulai memerah.

—Aku cuma ingin menjaga keluarga.

—Aku juga keluargamu.

Kalimat itu membuatnya kehilangan kata-kata.

Aku menarik koper lagi.

Kali ini dia tidak menahanku.

Aku tinggal sementara di sebuah apartemen kecil milik perusahaan.

Dalam minggu berikutnya, aku mengurus seluruh persiapan keberangkatan.

Aku juga menemui penasihat hukum untuk memastikan bagian kepemilikan rumahku tetap terlindungi.

Aku tidak mengusir siapa pun.

Aku juga tidak menjual rumah secara diam-diam.

Yang kulakukan hanyalah mencabut surat kuasa lama yang sebelumnya memungkinkan suamiku mengurus beberapa urusan properti atas namaku.

Aku ingin mereka memahami satu hal sederhana: sesuatu yang melibatkan hak milikku harus dibicarakan denganku.

Tiga hari setelah aku pergi, suamiku menelepon.

Aku tidak mengangkatnya.

Dia mengirim pesan.

“Aku sudah mengembalikan kamar tidur kita seperti semula.”

Aku membaca tanpa membalas.

Satu jam kemudian muncul pesan lain.

“Sepupuku akan pindah ke apartemen dekat rumah sakit. Aku yang membantu biaya sewanya.”

Kali ini aku menjawab:

“Itu keputusan yang seharusnya dibuat sejak awal.”

Malam berikutnya, ibu mertuaku menelepon.

Suara beliau jauh lebih pelan daripada biasanya.

—Ibu ingin minta maaf.

Aku diam.

—Ibu terbiasa menganggap rumah itu rumah keluarga kami. Sampai lupa bahwa kamu juga membangun kehidupanmu di sana.

Aku tidak langsung memaafkannya.

Permintaan maaf tidak otomatis menghapus empat tahun kebiasaan mengabaikan batasan.

Namun aku menghargai bahwa akhirnya beliau mengatakannya.

—Saya tidak marah karena ada perempuan hamil membutuhkan bantuan, Bu. Saya marah karena semua orang memutuskan sesuatu tentang rumah dan hidup saya tanpa pernah menganggap pendapat saya penting.

—Ibu mengerti sekarang.

—Semoga benar.

Seminggu kemudian, sepupu suamiku pindah.

Dia bahkan mengirim pesan kepadaku.

“Kak, maaf. Aku seharusnya bertanya sejak awal. Aku terlalu nyaman karena semua orang mengatakan Kakak pasti akan mengalah.”

Kalimat terakhir itu membuatku terdiam cukup lama.

Ternyata masalahnya memang bukan hanya dirinya.

Mereka semua sudah terlalu terbiasa dengan versiku yang selalu mengalah.

Dua minggu kemudian, hari keberangkatanku tiba.

Di bandara, aku tidak menyangka melihat suamiku.

Dia berdiri sendirian.

Tidak membawa bunga.

Tidak membawa hadiah.

Hanya sebuah amplop kecil.

—Aku tidak datang untuk meminta kamu membatalkan keberangkatan.

Aku menatapnya.

—Lalu?

Dia menyerahkan amplop itu.

Di dalamnya ada salinan bukti pembayaran biaya rumah selama beberapa bulan ke depan.

—Mulai sekarang aku akan membayar bagianku sendiri. Aku juga sudah membuat rekening khusus untuk biaya rumah. Aku tidak ingin kamu menanggung semuanya lagi.

Aku menutup amplop.

—Bagus.

Dia menarik napas panjang.

—Aku tahu dua tahun itu lama. Aku juga tahu aku tidak berhak meminta kamu langsung memaafkanku.

Pengumuman keberangkatan terdengar dari pengeras suara.

Aku menggenggam pegangan koper.

Dia kemudian berkata:

—Aku cuma ingin bertanya satu hal. Apakah setelah semua ini… masih ada kesempatan bagiku untuk memperbaiki pernikahan kita?

Aku menatap pria yang telah menjadi suamiku selama hampir empat tahun.

Untuk pertama kalinya, aku tidak menjawab berdasarkan apa yang dia inginkan.

Aku menjawab berdasarkan apa yang kuinginkan.

—Aku tidak tahu.

Dia menunduk.

Namun sebelum berbalik, aku menambahkan:

—Kalau memang ingin memperbaikinya, jangan menunggu aku pulang dua tahun lagi untuk mulai berubah.

Dia mengangkat kepala.

Aku berjalan menuju pemeriksaan keberangkatan.

Kali ini dia tidak mengejarku.

Dan ketika pesawat meninggalkan landasan, aku melihat kota semakin kecil di balik jendela.

Anehnya, aku tidak merasa sedang meninggalkan rumah.

Aku merasa sedang pergi mencari kembali diriku sendiri.

Aku belum tahu bahwa enam bulan kemudian, sebuah pesan dari suamiku akan membuatku untuk pertama kalinya mempertimbangkan apakah pernikahan kami benar-benar layak mendapatkan kesempatan kedua.

(Lanjutkan ke BAGIAN 3….)