SETELAH CALON IBU MERTUAKU MENGUNCI PAGAR DI HARI PERNIKAHANKU DAN BERKATA DI DEPAN SEMUA ORANG, “KAMU TUNGGU DI LUAR TIGA JAM BIAR BELAJAR RENDAH HATI,” CALON SUAMIKU MALAH MENUNDUK DAN MENYURUHKU MENURUT.

Avatar penulis
Cerita 04
21 menit baca 937 tayangan
SETELAH CALON IBU MERTUAKU MENGUNCI PAGAR DI HARI PERNIKAHANKU DAN BERKATA DI DEPAN SEMUA ORANG, “KAMU TUNGGU DI LUAR TIGA JAM BIAR BELAJAR RENDAH HATI,” CALON SUAMIKU MALAH MENUNDUK DAN MENYURUHKU MENURUT.
Indeks

SETELAH CALON IBU MERTUAKU MENGUNCI PAGAR DI HARI PERNIKAHANKU DAN BERKATA DI DEPAN SEMUA ORANG, “KAMU TUNGGU DI LUAR TIGA JAM BIAR BELAJAR RENDAH HATI,” CALON SUAMIKU MALAH MENUNDUK DAN MENYURUHKU MENURUT.

Aku tidak bertengkar.

Aku melepas kerudung pengantinku, membatalkan seluruh acara, lalu pergi.

Keesokan paginya, aku kembali bersama dua truk pindahan dan sebuah map berisi kuitansi senilai lebih dari Rp1,5 miliar…

“Kalau kamu mau masuk ke rumah ini sebagai istri anak saya, kamu harus menunggu di luar selama tiga jam. Mungkin udara di luar bisa menghilangkan sedikit kesombonganmu.”

Itulah kalimat pertama yang kudengar dari calon ibu mertuaku di hari pernikahanku.

SETELAH CALON IBU MERTUAKU MENGUNCI PAGAR DI HARI PERNIKAHANKU DAN BERKATA DI DEPAN SEMUA ORANG, “KAMU TUNGGU DI LUAR TIGA JAM BIAR BELAJAR RENDAH HATI,” CALON SUAMIKU MALAH MENUNDUK DAN MENYURUHKU MENURUT.

Aku berdiri di depan rumah keluarga Arga di kawasan Bintaro, Tangerang Selatan, mengenakan kebaya pengantin putih dengan buket bunga di tangan.

Di belakangku ada hampir lima puluh anggota keluarga dan kerabat.

Pagi itu kami berangkat dari Jakarta dengan keyakinan bahwa sebuah acara pernikahan yang hangat sudah menunggu kami.

Ternyata kami disambut oleh pagar rumah yang digembok dari dalam.

Bu Ratna, ibu Arga, berdiri di balik pagar mengenakan kebaya merah marun.

Wajahnya sama sekali tidak menunjukkan senyum.

“Semalam saya bicara dengan orang pintar,” katanya dengan suara keras, sengaja agar semua orang mendengar.

“Katanya aura Nadira terlalu kuat. Kalau dia langsung masuk ke rumah ini, rumah tangga mereka bisa membawa kesialan untuk keluarga. Jadi dia harus berdiri di luar selama tiga jam. Biar energinya bersih sekaligus belajar rendah hati.”

Awalnya aku benar-benar mengira dia sedang bercanda.

Om Budi menjadi orang pertama yang bereaksi.

“Bu Ratna serius? Mempermalukan calon menantu di hari pernikahannya sekarang disebut tradisi?”

Bu Ratna melipat kedua tangannya di dada.

“Ini rumah saya. Aturan saya.”

Aku menggenggam buket bunga semakin erat sampai tangkai-tangkainya menekan telapak tanganku.

Rumah itu.

Rumah yang bahkan tidak mengizinkanku melewati pagarnya.

Hampir seluruh bagian dalamnya direnovasi menggunakan uangku.

Usiaku tiga puluh dua tahun.

Aku bekerja sebagai manajer keuangan di sebuah perusahaan multinasional di Jakarta.

Arga bekerja sebagai staf administrasi di salah satu kantor pemerintahan daerah.

Ketika kami masih berpacaran, Arga sering bercerita bahwa kondisi ekonomi ibunya sedang sulit.

Rumah keluarga mereka juga sudah tua dan membutuhkan banyak perbaikan.

Atap sering bocor.

Lantai mulai retak.

Jendela kayu sudah lapuk.

Dapur sempit.

Kamar mandi rusak.

Aku mencintai Arga.

Dan karena cinta itulah, aku melakukan kesalahan yang baru kusadari kemudian.

Aku menganggap kemurahan hati sebagai kewajiban.

Aku membayar perbaikan atap.

Mengganti seluruh lantai.

Memasang jendela baru.

Merenovasi dua kamar mandi.

Membongkar dan membangun ulang dapur.

Mengecat seluruh rumah.

Memesan lemari dan kabinet khusus.

Bahkan hampir seluruh perabot besar di rumah itu dibeli menggunakan uangku.

Kulkas dua pintu.

Mesin cuci.

Televisi.

Meja makan.

Tempat tidur.

Lemari pakaian.

Sampai sofa kulit di ruang tamu yang Bu Ratna sendiri pilih dari katalog karena katanya model itu terlihat “lebih berkelas”.

Jika semua kuitansi dijumlahkan, uang yang kukeluarkan sudah lebih dari Rp1,5 miliar.

Dan sekarang…

Aku bahkan tidak diperbolehkan menginjak halaman rumah itu.

Aku menoleh kepada Arga.

Aku benar-benar berharap dia akan melakukan sesuatu.

Apa saja.

Membuka pagar.

Membela calon istrinya.

Atau sekadar mengatakan kepada ibunya bahwa semuanya sudah keterlaluan.

Namun Arga justru menarikku beberapa langkah menjauh dari kerumunan.

“Nadira, jangan bikin masalah ini tambah besar.”

Aku menatapnya.

“Tambah besar?”

Aku menunjuk pagar yang masih digembok.

“Ibumu mengunci pagar di hari pernikahan kita dan menyuruhku berdiri di jalan selama tiga jam.”

“Sudahlah. Ikuti saja sebentar. Kamu tahu sendiri Mama seperti apa.”

Aku hampir tidak percaya dengan apa yang kudengar.

“Dan kamu akan membiarkan ini?”

Arga melirik ke arah para tetangga yang mulai keluar dari rumah masing-masing.

Beberapa orang bahkan berdiri di pinggir jalan untuk menonton.

Wajah Arga terlihat gelisah.

Bukan karena aku dipermalukan.

Tapi karena dia malu dilihat tetangga.

“Aku kerja di kantor pemerintahan, Nadira. Aku nggak mau ada keributan begini. Nanti orang-orang ngomong macam-macam.”

Aku diam.

Arga melanjutkan.

“Lagian tekanan darah Mama tinggi. Kalau Mama stres terus terjadi sesuatu, siapa yang mau tanggung jawab?”

Kalimat itu membuat dadaku terasa sesak.

Namun kalimat berikutnya justru membuat semuanya menjadi sangat jelas.

Arga menatapku dan berkata,

“Kalau sudah jadi istri, kamu harus belajar menyesuaikan diri dengan keluarga suami.”

Lalu dia pergi begitu saja.

Dia berjalan menuju dua orang temannya di sisi halaman dan mulai berbicara dengan mereka seolah tidak terjadi apa-apa.

Aku berdiri di sana.

Masih mengenakan pakaian pengantin.

Masih memegang bunga.

Masih berada di luar pagar rumah yang sebagian besar renovasinya kubayar sendiri.

Dan laki-laki yang beberapa jam lagi seharusnya menjadi suamiku memilih meninggalkanku sendirian untuk menerima penghinaan itu.

Ayahku mendekat.

Dia tidak marah.

Tidak berteriak.

Ayah hanya berdiri di sampingku dan berkata pelan,

“Nadira, kamu tidak perlu membuktikan apa pun kepada siapa pun.”

Aku menatapnya.

“Kalau kamu mau pulang,” lanjut Ayah, “kita pulang sekarang.”

Aku belum sempat menjawab ketika Arga kembali menghampiriku.

Ekspresinya terlihat kesal.

“Jangan pasang muka begitu. Kamu nanti merusak seluruh acara.”

Aku menatap laki-laki yang hampir kunikahi itu selama beberapa detik.

Aneh sekali.

Tiba-tiba semuanya terasa sangat tenang.

Aku tidak lagi marah.

Aku juga tidak ingin menangis.

Aku hanya merasa seolah sebuah pintu di kepalaku baru saja terbuka.

Selama ini aku selalu berpikir bahwa setelah menikah, Arga akan berubah.

Bahwa setelah kami resmi menjadi suami istri, dia akan mulai membuat batas yang sehat dengan ibunya.

Bahwa semua pengorbananku untuk keluarganya akan membuat mereka menganggapku sebagai bagian dari keluarga.

Ternyata aku salah.

Aku perlahan meletakkan buket bunga di atas kap mobil.

Kemudian aku melepas kerudung pengantinku.

Arga langsung pucat.

“Nadira?”

Aku membuka aksesori rambutku satu per satu.

Karena kebaya pengantinku memiliki bagian luar yang bisa dilepas dan aku sudah mengenakan pakaian sederhana untuk persiapan acara berikutnya, aku meminta sepupuku mengambilkan mantel panjang dari mobil.

Arga maju selangkah.

“Kamu ngapain?”

Aku menatapnya.

“Melakukan sesuatu yang seharusnya kulakukan sejak ibumu menggembok pagar itu.”

Kemudian aku berbalik menghadap keluarga besar kami.

Puluhan pasang mata menatapku.

Beberapa orang mulai berbisik.

Bu Ratna masih berdiri di balik pagar.

Aku menarik napas.

“Pernikahan ini dibatalkan.”

Suasana langsung hening.

Beberapa detik kemudian, semuanya meledak.

“Apa?!”

Bu Ratna berteriak dari balik pagar.

Dia buru-buru membuka gembok lalu berlari keluar.

“Kamu jangan kurang ajar! Semua sudah dipersiapkan! Tamu sudah datang!”

Arga mencoba memegang lenganku.

Aku langsung menarik tanganku.

“Jangan sentuh aku.”

“Nadira, jangan gila. Kita bisa bicara baik-baik.”

Aku menggeleng.

“Aku pergi bukan karena keluargamu tidak punya uang.”

Arga terdiam.

“Aku pergi karena keluargamu bisa mempermalukan seseorang lalu menyebutnya tradisi.”

Aku menunjuk kepadanya.

“Dan kamu bisa berdiri diam melihat perempuan yang katanya kamu cintai dipermalukan, lalu menyebutnya kesabaran.”

Wajah Arga berubah.

Bu Ratna mulai berteriak bahwa aku tidak tahu adat, tidak menghormati orang tua, dan terlalu sombong karena memiliki pekerjaan bagus.

Aku tidak membalas satu kata pun.

Aku menggenggam tangan Ibu.

“Ayo pulang.”

Ayah mengangguk.

Satu per satu anggota keluargaku mulai kembali ke mobil.

Mesin kendaraan mulai dinyalakan.

Suara pintu mobil ditutup terdengar bergantian.

Barulah Arga tampak sadar bahwa aku benar-benar akan pergi.

Dia mengejarku.

“Nadira!”

Aku masuk ke mobil.

Arga mengetuk kaca jendela dengan keras.

“Kamu akan menyesal!”

Aku memandangnya dari balik kaca.

Lalu pandanganku berpindah ke rumah besar di belakangnya.

Atap yang kubayar.

Jendela yang kubayar.

Dapur yang kubayar.

Sofa yang dipilih ibunya tetapi kubayar.

Televisi.

Kulkas.

Mesin cuci.

Meja makan.

Tempat tidur.

Lemari.

Dan puluhan barang lainnya.

Arga masih belum mengerti.

Dia mengira hari itu dia hanya kehilangan calon istri.

Dia belum sadar bahwa dengan mengunci pagar tersebut, keluarganya juga baru saja kehilangan hampir semua barang di dalam rumah yang kubeli menggunakan uangku sendiri.

Malam itu aku tidak menelepon Arga.

Aku juga tidak membalas puluhan pesan dari Bu Ratna.

Aku hanya duduk di meja makan rumah orang tuaku dengan laptop terbuka.

Di sampingku ada sebuah map tebal.

Di dalamnya tersimpan invoice.

Bukti transfer.

Kuitansi toko.

Surat pemesanan furnitur.

Garansi elektronik.

Dan bukti pembayaran renovasi yang selama ini kusimpan dengan rapi.

Aku bekerja di bidang keuangan.

Menyimpan dokumen adalah kebiasaanku.

Aku mulai memilahnya satu per satu.

Barang yang memang sudah kuberikan sebagai hadiah kutaruh di satu sisi.

Barang yang masih tercatat sebagai milikku, belum pernah kuhibahkan, dan memiliki dokumen pembelian atas namaku kutaruh di sisi lainnya.

Setelah selesai, aku menatap tumpukan kedua cukup lama.

Lalu aku mengambil ponsel.

Aku menghubungi perusahaan jasa pindahan.

“Besok pagi,” kataku.

“Saya membutuhkan dua truk.”

Orang di ujung telepon bertanya alamat tujuan pengambilan.

Aku menyebutkan alamat rumah Bu Ratna di Bintaro.

Keesokan paginya, ketika Bu Ratna membuka pagar rumahnya…

dua truk pindahan sudah berhenti di depan.

Aku turun dari mobil dengan pakaian kerja sederhana.

Tidak ada kebaya.

Tidak ada buket.

Tidak ada air mata.

Di tanganku hanya ada sebuah map tebal berisi bukti pembelian senilai lebih dari Rp1,5 miliar.

Arga keluar dari rumah dengan wajah pucat.

“Nadira… kamu mau apa?”

Aku membuka map itu.

Kemudian aku menyerahkan salinan daftar barang kepadanya.

“Aku datang untuk mengambil barang-barang milikku.”

Wajah Bu Ratna langsung berubah.

Karena saat itulah mereka akhirnya memahami sesuatu yang tidak pernah mereka pikirkan sebelumnya.

Mereka begitu sibuk mengajariku tentang “tempat seorang menantu”…

sampai lupa menanyakan siapa sebenarnya yang membayar hampir seluruh isi rumah mereka.

Dan itu baru permulaan.

Arga menatap daftar di tangannya seolah aku baru saja menyerahkan surat penyitaan rumah.

“Kamu serius?”

“Sangat serius.”

Bu Ratna langsung merebut kertas itu dari tangan anaknya.

Matanya bergerak cepat membaca daftar barang.

Kulkas dua pintu.

Mesin cuci.

Televisi ruang keluarga.

Sofa kulit.

Meja makan delapan kursi.

Tempat tidur kamar utama.

Dua lemari pakaian.

Kabinet penyimpanan.

Pendingin ruangan.

Beberapa peralatan dapur.

Semua tercantum lengkap dengan nomor invoice, tanggal pembelian, dan bukti pembayaran.

Wajah Bu Ratna memerah.

“Kamu sudah memberikan semua ini kepada keluarga kami!”

“Tidak semuanya.”

“Jangan bohong!”

Aku membuka map.

“Barang yang memang pernah saya berikan sebagai hadiah tidak ada dalam daftar. Saya tidak akan mengambil satu pun.”

Aku mengeluarkan beberapa lembar dokumen.

“Yang tercantum di sini adalah barang yang saya beli atas nama saya sendiri, menggunakan rekening saya, dengan invoice atas nama saya, dan tidak pernah saya serahkan sebagai hadiah.”

Bu Ratna tertawa sinis.

“Memangnya siapa yang menyimpan kuitansi sofa?”

“Aku.”

Aku menatapnya.

“Karena pekerjaanku mengajarkanku untuk menyimpan bukti transaksi.”

Untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, Bu Ratna kehilangan kata-kata.

Arga menarikku ke samping.

“Nadira, cukup.”

“Jangan sentuh aku.”

Tangannya langsung berhenti.

Dia menurunkan suara.

“Kalau kamu ambil semua barang itu, Mama mau tinggal bagaimana?”

Aku hampir tertawa.

Bukan karena lucu.

Tapi karena akhirnya aku melihat pola yang selama ini tidak ingin kulihat.

Kemarin, ketika aku berdiri di luar pagar mengenakan pakaian pengantin, Arga mengatakan aku harus menyesuaikan diri.

Sekarang, ketika barang-barang yang kubeli hendak diambil, tiba-tiba perasaanku menjadi penting.

“Arga,” kataku pelan, “kemarin aku juga bertanya bagaimana aku harus berdiri tiga jam di depan rumah sementara semua orang menonton.”

Dia menunduk.

“Kamu bilang aku harus sabar.”

Aku menunjuk rumah.

“Sekarang giliran kalian menyesuaikan diri.”

Bu Ratna mendengar itu.

Dia langsung berteriak.

“Kamu perempuan pendendam!”

Aku tidak menjawab.

Aku hanya memberi isyarat kepada koordinator pindahan.

Para pekerja mulai masuk.

Tapi sebelum mereka melewati pagar, aku menghentikan mereka.

“Tolong hanya ambil barang yang nomor serinya sesuai daftar. Kalau ada yang meragukan, jangan disentuh.”

Aku tidak ingin balas dendam.

Aku ingin semuanya bersih.

Jelas.

Dan bisa dipertanggungjawabkan.

Satu per satu barang mulai dikeluarkan.

Televisi lebih dulu.

Kemudian meja makan.

Mesin cuci.

Kulkas.

Beberapa peralatan elektronik.

Bu Ratna mengikuti para pekerja dari satu ruangan ke ruangan lain sambil terus berteriak.

Tetangga mulai keluar rumah.

Ironis.

Kemarin Arga begitu takut membuat keributan karena tetangga.

Hari itu, hampir seluruh jalan menyaksikan isi rumah keluarganya dibawa keluar.

Arga berdiri di teras dengan wajah pucat.

Aku sedang memeriksa nomor seri sebuah mesin cuci ketika dia mendekat lagi.

“Kita bisa memperbaiki ini.”

Aku tidak menoleh.

“Apa yang mau diperbaiki?”

“Kita.”

Aku berhenti menulis.

Baru kali itu dia mengucapkan kata tersebut sejak kemarin.

Kita.

Aku memandangnya.

“Kalau kemarin ibumu membuka pagar setelah sepuluh menit dan meminta maaf, mungkin masih ada sesuatu yang bisa dibicarakan.”

Arga diam.

“Kalau kemarin kamu berdiri di sampingku dan berkata kepada ibumu bahwa mempermalukan calon istrimu bukan tradisi, mungkin aku masih bisa percaya kepadamu.”

Matanya mulai merah.

“Tapi kamu tidak melakukannya.”

“Nadira—”

“Kamu menyuruhku berdiri di luar.”

Dia menelan ludah.

“Aku panik.”

“Tidak.”

Aku menggeleng.

“Kamu memilih.”

Kalimat itu membuatnya diam.

Karena ada perbedaan besar antara panik dan memilih.

Orang yang panik bisa melakukan kesalahan.

Tapi Arga punya banyak kesempatan.

Saat pagar digembok.

Saat ibunya menghina aku.

Saat ayahku membelaku.

Saat aku melepas kerudung.

Saat aku berjalan menuju mobil.

Dalam setiap kesempatan itu, dia memilih ibunya.

Bukan itu yang paling menyakitkan.

Yang paling menyakitkan adalah dia memilih untuk tidak melakukan apa-apa.

Menjelang siang, truk pertama hampir penuh.

Lalu sesuatu terjadi.

Seorang pria tua berhenti di depan rumah menggunakan sepeda motor.

Aku mengenalnya.

Pak Hendra.

Tukang kayu yang membuat kabinet dapur dan lemari khusus di rumah Bu Ratna.

Dia turun dari motornya sambil membawa amplop cokelat.

“Nadira?”

Aku menghampirinya.

“Pak Hendra?”

Dia melihat dua truk di depan rumah, lalu melihat Arga.

“Saya kira saya datang terlalu pagi.”

“Bapak ada perlu apa?”

Dia terlihat ragu.

“Saya mau menagih sisa pembayaran.”

Aku mengernyit.

“Sisa pembayaran apa?”

“Lemari belakang dan kabinet tambahan.”

Aku langsung membuka map.

“Aku sudah membayar lunas pekerjaan Bapak delapan bulan lalu.”

Pak Hendra terlihat bingung.

“Yang itu sudah lunas.”

Dia mengeluarkan selembar invoice dari amplop.

“Ini pesanan setelahnya.”

Aku membaca dokumen tersebut.

Ada tambahan kabinet.

Rak penyimpanan.

Meja kecil.

Dan sebuah lemari besar untuk kamar belakang.

Totalnya hampir Rp87 juta.

Aku menatap tanggalnya.

Pesanan dibuat dua bulan sebelumnya.

“Aku tidak pernah memesan ini.”

Pak Hendra semakin bingung.

“Tapi Pak Arga bilang Ibu yang membayar.”

Aku perlahan menoleh.

Arga membeku.

Ada sesuatu dalam ekspresinya yang langsung membuat perutku terasa dingin.

“Arga?”

“Nadira, nanti aku jelaskan.”

Empat kata.

Empat kata yang hampir selalu muncul sebelum seseorang mengetahui sesuatu yang buruk.

Aku mengambil invoice dari tangan Pak Hendra.

“Jelaskan sekarang.”

Bu Ratna tiba-tiba mendekat.

“Sudahlah, itu cuma salah paham.”

Aku menatapnya.

“Ibu tahu?”

Tidak ada jawaban.

Aku kembali melihat invoice.

Di bagian bawah ada catatan.

Pembayaran uang muka melalui transfer.

Nomor rekening pengirim bukan milikku.

Tapi nama yang digunakan dalam pemesanan adalah namaku.

“Nadira Prameswari.”

Aku mengangkat kertas itu.

“Kenapa namaku ada di sini?”

Arga tidak menjawab.

Pak Hendra terlihat semakin tidak nyaman.

“Saya pikir kalian sudah menikah secara administrasi,” katanya pelan.

Aku menatapnya.

“Maksud Bapak?”

“Pak Arga bilang semua renovasi rumah nanti dimasukkan sebagai bagian dari aset keluarga setelah menikah.”

Aku merasa udara di sekitar kami berubah.

“Bagian dari aset keluarga?”

Arga akhirnya bicara.

“Nadira, aku bisa jelaskan.”

“Silakan.”

Dia melihat para pekerja.

“Bukan di sini.”

“Di sini.”

“Nadira.”

“Di sini, Arga.”

Dia mengusap wajah.

Lalu mengembuskan napas panjang.

“Mama mau membuka usaha katering rumahan.”

Aku menunggu.

“Kamar belakang mau diubah jadi tempat penyimpanan. Makanya kami pesan tambahan.”

“Kalian?”

Arga diam.

“Kalian memesan sesuatu menggunakan namaku tanpa izin?”

“Aku pikir setelah kita menikah semuanya akan sama saja.”

Kalimat itu menghantamku jauh lebih keras daripada teriakan Bu Ratna sehari sebelumnya.

Aku pikir setelah kita menikah semuanya akan sama saja.

Tiba-tiba aku memahami sesuatu.

Ini bukan sekadar tentang sofa.

Bukan tentang kulkas.

Bukan tentang pagar.

Selama ini, mereka sudah mulai menganggap uangku sebagai uang mereka bahkan sebelum aku menjadi bagian resmi dari keluarga itu.

Aku membuka map dan mencari dokumen lain.

Ada beberapa transaksi yang sebelumnya tidak terlalu kuperhatikan karena nominalnya kecil dibandingkan biaya renovasi.

Pembelian bahan bangunan.

Tambahan kabel.

Rak.

Perlengkapan dapur.

Aku selalu mengira itu bagian dari renovasi awal.

Sekarang aku bertanya,

“Ada berapa pesanan lain yang menggunakan namaku?”

Arga tidak menjawab.

“Berapa?”

Bu Ratna menyela.

“Jangan bicara kepada anak saya seperti dia penjahat!”

Aku menatapnya.

“Kalau begitu Ibu yang jawab.”

Dia memalingkan wajah.

Aku langsung tahu jawabannya.

Lebih dari satu.

Aku mengambil ponsel dan menelepon kantor.

Aku meminta staf administrasi keuangan membantuku memeriksa beberapa invoice yang pernah dikirim ke email pribadiku.

Tidak sampai setengah jam kemudian, aku menerima daftar.

Ada lima transaksi.

Totalnya Rp214 juta.

Sebagian belum lunas.

Semuanya menggunakan namaku sebagai pihak yang disebut akan bertanggung jawab atas pembayaran.

Aku menatap Arga.

“Kamu berencana memberitahuku kapan?”

Dia mulai menangis.

Itu pertama kalinya aku melihat Arga menangis.

“Setelah menikah.”

Aku tertawa kecil.

Bukan karena bahagia.

“Jadi setelah aku resmi menjadi istrimu?”

“Aku akan menjelaskan.”

“Dan kalau aku menolak?”

Dia tidak menjawab.

Aku sudah mendapatkan jawabannya.

Aku meminta semua pekerja berhenti sementara.

Lalu aku memotret setiap dokumen dan meminta Pak Hendra mengirimkan salinan percakapan pemesanan.

Aku tidak membuat ancaman.

Tidak berteriak.

Aku hanya berkata,

“Mulai hari ini, jangan ada pesanan apa pun menggunakan nama saya tanpa persetujuan tertulis dari saya.”

Pak Hendra mengangguk cepat.

“Saya mengerti.”

Bu Ratna masih marah.

“Lihat? Karena uang sedikit saja kamu mempermalukan keluarga!”

Kali ini ayahku yang menjawab.

Sejak pagi Ayah hanya berdiri di dekat mobil, mengawasi.

Sekarang dia berjalan mendekat.

“Bu Ratna.”

Suaranya tenang.

“Masalahnya bukan jumlah uang.”

Bu Ratna terdiam.

Ayah menunjuk pagar.

“Kemarin anak saya berdiri di luar sana dan Ibu ingin mengajarinya rendah hati.”

Kemudian Ayah melihat rumah.

“Hari ini mungkin kita semua sedang belajar sesuatu.”

Bu Ratna tidak menjawab.

Menjelang sore, kedua truk selesai dimuat.

Tapi aku meninggalkan satu benda.

Sofa kulit.

Koordinator pindahan bertanya,

“Bu, sofa ini juga ada di daftar.”

“Aku tahu.”

“Tidak dibawa?”

Aku menatap Bu Ratna.

Dia berdiri di ruang tamu yang kini terasa jauh lebih kosong.

“Biarkan.”

Bu Ratna menatapku penuh curiga.

“Kenapa?”

Aku menjawab jujur.

“Karena Ibu yang memilihnya.”

Wajahnya berubah sedikit.

“Anggap saja itu hadiah terakhir dari saya.”

Aku berjalan keluar.

Namun ketika hampir sampai di mobil, seseorang memanggilku.

“Nadira.”

Bukan Arga.

Bu Ratna.

Aku berhenti.

Dia berdiri di ambang pintu.

Untuk pertama kalinya, suaranya tidak keras.

“Kamu benar-benar tidak akan menikah dengan Arga?”

Aku memandangnya.

“Tidak.”

Dia menunduk.

Lalu mengatakan sesuatu yang tidak kuduga.

“Bagus.”

Arga langsung menoleh.

“Mama?”

Aku pun terpaku.

Bu Ratna masuk ke dalam rumah.

Beberapa detik kemudian dia kembali membawa sebuah amplop putih.

Tangannya gemetar ketika menyerahkannya kepadaku.

“Apa ini?”

“Buka.”

Di dalamnya ada salinan mutasi rekening.

Beberapa bukti transfer.

Dan satu dokumen pinjaman.

Nama peminjamnya adalah Arga Pratama.

Nilainya hampir Rp480 juta.

Aku membaca tujuan pinjaman.

Modal usaha.

Aku menatap Arga.

Dia pucat seperti kertas.

“Usaha apa?”

Tidak ada jawaban.

Bu Ratna menjawab untuknya.

“Investasi online.”

Arga langsung membentak.

“Mama!”

“Cukup!”

Untuk pertama kalinya, Bu Ratna berteriak kepada anaknya, bukan kepadaku.

Dia mulai menangis.

“Cukup kamu bohongi perempuan ini!”

Aku tidak bergerak.

Bu Ratna memegang lenganku.

“Nadira, saya tidak suka kamu.”

Kejujurannya hampir membuatku tersenyum pahit.

“Saya pikir kamu terlalu mandiri. Terlalu berani. Saya takut setelah menikah Arga akan lebih mendengarkan kamu daripada saya.”

Air matanya jatuh.

“Makanya kemarin saya sengaja membuat aturan bodoh itu.”

Dia menarik napas gemetar.

“Saya ingin melihat apakah kamu bisa saya kendalikan.”

Arga menatap ibunya dengan wajah tidak percaya.

Tapi Bu Ratna belum selesai.

“Namun ketika kamu pergi, Arga bukan marah karena kehilangan kamu.”

Dia menatap anaknya.

“Dia panik karena minggu depan dia harus membayar cicilan.”

Aku merasa tubuhku dingin.

Bu Ratna melanjutkan.

“Dia bilang setelah menikah, dia akan meminta kamu mengambil pinjaman atas nama kamu untuk menutup utangnya.”

Sunyi.

Bahkan para pekerja berhenti bicara.

Aku menatap laki-laki yang sehari sebelumnya hampir menjadi suamiku.

“Benar?”

Arga menangis.

“Nadira, aku berniat mengembalikannya.”

“Benar atau tidak?”

Dia menutup wajah.

“Itu cuma sementara.”

Aku tidak menangis.

Anehnya, setelah mendengar semuanya, justru ada ketenangan besar dalam diriku.

Pagar itu menyelamatkanku.

Penghinaan yang kupikir merupakan hari terburuk dalam hidupku ternyata menghentikanku beberapa jam sebelum aku mengikat hidupku dengan seseorang yang sudah merencanakan menggunakan namaku untuk menyelamatkan utangnya.

Aku menoleh kepada Bu Ratna.

“Kenapa Ibu memberi tahu saya?”

Dia melihat ke lantai.

Jawabannya membuat dadaku sesak.

“Karena kemarin saya ingin menghancurkan kesombonganmu.”

Dia menyeka air mata.

“Tapi hari ini saya sadar, kalau kamu menikah dengan anak saya tanpa mengetahui ini, saya bukan cuma ibu yang jahat.”

“Saya ikut menipu seorang perempuan.”

Arga langsung masuk ke rumah.

Aku tidak mengejarnya.

Tidak ada lagi yang perlu dibicarakan.

Aku memasukkan dokumen itu ke map.

Kemudian aku menyerahkannya kembali kepada Bu Ratna.

“Simpan. Itu urusan keluarga Ibu sekarang.”

Dia mengangguk.

Aku berjalan menuju mobil.

“Nadira.”

Aku berhenti sekali lagi.

Bu Ratna berdiri di dekat pagar.

Pagar yang sehari sebelumnya dia kunci untuk mempermalukanku.

Sekarang pagar itu terbuka lebar.

“Saya minta maaf.”

Aku menatapnya cukup lama.

“Aku menerima permintaan maaf Ibu.”

Dia menangis semakin keras.

“Tapi menerima permintaan maaf tidak berarti aku harus kembali.”

Aku masuk ke mobil.

Ayah duduk di sampingku.

Ibu duduk di belakang.

Tidak ada yang berbicara selama beberapa menit.

Ketika mobil mulai bergerak, aku melihat rumah itu melalui kaca spion.

Semakin kecil.

Semakin jauh.

Dan anehnya, untuk pertama kalinya aku tidak melihat Rp1,5 miliar yang telah kuhabiskan.

Aku melihat harga dari sebuah pelajaran yang sangat mahal.

Beberapa minggu kemudian, aku membatalkan seluruh rencana bersama Arga secara resmi.

Aku juga menghubungi setiap vendor yang namanya pernah digunakan tanpa izin dan memberikan pemberitahuan tertulis bahwa aku tidak bertanggung jawab atas transaksi yang tidak kusetujui.

Barang-barang yang kuambil dari rumah Bu Ratna tidak kubawa ke apartemenku.

Aku tidak membutuhkan tiga tempat tidur.

Aku tidak membutuhkan meja makan besar.

Aku juga tidak ingin setiap benda menjadi pengingat tentang Arga.

Sebagian kujual.

Sebagian kusumbangkan.

Mesin cuci dan beberapa peralatan rumah tangga kuberikan kepada sebuah rumah singgah perempuan di Tangerang Selatan.

Saat petugas rumah singgah menerima barang-barang itu, seorang perempuan muda yang tinggal di sana menghampiriku.

Dia membawa anak perempuan kecil.

“Mbak,” katanya pelan, “terima kasih.”

Hanya dua kata.

Tapi entah mengapa, dua kata itu membuatku menangis untuk pertama kalinya sejak hari pernikahanku dibatalkan.

Bukan karena Arga.

Bukan karena Bu Ratna.

Aku menangis karena akhirnya aku mengerti bahwa barang-barang yang dulu kubeli demi mendapatkan tempat di sebuah keluarga bisa memiliki arti jauh lebih besar di tangan orang yang benar-benar membutuhkannya.

Enam bulan berlalu.

Aku pindah ke apartemen yang lebih kecil di Jakarta Selatan.

Tidak mewah.

Tapi setiap benda di dalamnya kupilih sendiri.

Suatu sore, sebuah paket datang.

Tidak ada nama pengirim.

Di dalamnya ada buket bunga kecil dan sebuah amplop.

Tulisan tangan di depannya langsung kukenal.

Bu Ratna.

Aku membuka surat itu.

Isinya hanya beberapa paragraf.

Arga telah pindah dari rumah.

Dia menjual motornya dan mulai mencicil utangnya sendiri.

Bu Ratna menutup rencana usaha kateringnya.

Lalu di bagian terakhir dia menulis:

“Nadira, selama bertahun-tahun saya pikir menjadi ibu berarti selalu melindungi anak, bahkan ketika anak salah. Ternyata kadang-kadang perlindungan seperti itu justru membuat anak tidak pernah belajar menjadi laki-laki dewasa.

Hari itu saya mengunci pagar karena ingin mengajarkan kamu kerendahan hati.

Tapi ternyata orang yang perlu belajar rendah hati adalah saya.

Terima kasih karena tidak membalas penghinaan saya dengan penghinaan.”

Aku membaca kalimat terakhir berkali-kali.

Lalu menemukan sebuah foto di dasar amplop.

Foto pagar rumah.

Pagar itu terbuka.

Di sampingnya terdapat pot kecil berisi bunga putih.

Di belakang foto, Bu Ratna menulis satu kalimat:

“Sekarang pagar ini tidak pernah saya kunci ketika ada tamu datang.”

Aku tersenyum sambil menangis.

Aku tidak kembali kepada Arga.

Aku juga tidak menjadi sahabat Bu Ratna.

Beberapa luka memang tidak harus diubah menjadi hubungan baru agar bisa dianggap sembuh.

Kadang-kadang memaafkan hanya berarti kita berhenti membawa seseorang di dalam kepala kita ke mana pun kita pergi.

Setahun kemudian, aku berdiri di depan sebuah rumah kecil yang baru kubeli sendiri di pinggiran Jakarta.

Tidak sebesar rumah Bu Ratna.

Tidak memiliki sofa kulit mahal.

Tidak ada kabinet mewah.

Tapi sertifikatnya atas namaku.

Kuncinya ada di tanganku.

Dan tidak ada seorang pun yang bisa menyuruhku berdiri di luar.

Ayah datang membawa satu pot tanaman.

Ibu membawa makanan.

Kami duduk di lantai karena meja makan baruku belum datang.

Kami makan menggunakan kotak makanan sederhana sambil tertawa.

Ayah tiba-tiba bertanya,

“Kalau dipikir-pikir, kamu masih marah sama pagar itu?”

Aku memandang pintu rumahku yang terbuka.

Kemudian aku menggeleng.

“Tidak.”

Ayah tersenyum.

“Kenapa?”

Aku menatap kunci di tanganku.

“Karena pagar itu memang menahanku di luar selama beberapa menit.”

Aku tersenyum.

“Tapi ternyata pagar itu juga mencegahku masuk ke kehidupan yang salah.”

Ayah mengangguk perlahan.

Malam itu, sebelum tidur, aku berdiri di depan rumah.

Aku memandang jalan yang sunyi dan teringat diriku setahun sebelumnya.

Perempuan dengan kebaya putih.

Buket bunga di tangan.

Berdiri di luar sebuah pagar sambil bertanya-tanya mengapa orang yang dicintainya tidak membelanya.

Kalau aku bisa kembali ke hari itu, aku tidak akan mengatakan kepadanya untuk berhenti menangis.

Aku juga tidak akan mengatakan semuanya akan baik-baik saja.

Aku hanya akan berbisik:

“Jangan takut ketika sebuah pintu tertutup di depanmu.

Kadang-kadang itu bukan penolakan.

Kadang-kadang itu perlindungan.”

Aku masuk ke rumah.

Kemudian untuk pertama kalinya, aku menutup pintu rumah milikku sendiri.

Bukan untuk mengusir siapa pun.

Bukan untuk mempermalukan siapa pun.

Melainkan karena akhirnya aku mengerti satu hal:

Cinta tidak pernah meminta kita kehilangan harga diri agar diterima.

Keluarga tidak dibangun dengan ketakutan.

Dan pernikahan bukan tentang seorang perempuan belajar menyesuaikan diri dengan segala penghinaan.

Orang yang benar-benar mencintaimu tidak akan berdiri di balik pagar dan menyuruhmu menunggu sampai kamu cukup patuh untuk diterima.

Dia akan membuka pagar itu.

Lalu berdiri di sampingmu.

Dan kalau suatu hari seseorang mencoba membuatmu merasa bahwa kamu harus membayar, mengalah, diam, atau merendahkan dirimu sendiri demi mendapatkan tempat di hidup mereka…

ingatlah kisahku.

Aku hampir menghabiskan Rp1,5 miliar untuk membangun rumah yang tidak pernah benar-benar menjadi rumahku.

Namun pada akhirnya, benda paling berharga yang berhasil kuselamatkan dari sana bukan kulkas.

Bukan televisi.

Bukan sofa.

Bukan uang.

Melainkan diriku sendiri.