Bagian 3 — Ketika Bukti Mulai Bicara, Ardi Baru Tahu Keluarganya Tidak Lagi Menunggunya

Avatar penulis
Cerita 02
10 menit baca 3,466 tayangan
Bagian 3 — Ketika Bukti Mulai Bicara, Ardi Baru Tahu Keluarganya Tidak Lagi Menunggunya
Indeks

Bagian 3 — Ketika Bukti Mulai Bicara, Ardi Baru Tahu Keluarganya Tidak Lagi Menunggunya

Malam itu Ardi tidur di ruang kerja.

Aku tidur bersama Raka.

Atau lebih tepatnya, Raka tidur sementara aku menatap langit-langit sampai hampir subuh.

Kalimat Ardi terus berputar di kepalaku.

Kamu pikir kamu bisa hidup tanpa aku?

Delapan tahun lalu, mungkin aku akan takut mendengarnya.

Ketika menikah, penghasilanku sebagai staf administrasi klinik tidak sampai separuh gajinya.

Setelah Raka lahir, aku mengurangi jam kerja agar bisa mengurus anak.

Kemudian ketika Ardi dipromosikan menjadi kepala tim operasional di sebuah perusahaan distribusi, ia mulai membawa pulang pendapatan jauh lebih besar.

Tanpa kusadari, setiap keputusan besar rumah tangga mulai membutuhkan persetujuannya.

Membeli kulkas.

Memperbaiki atap.

Mendaftarkan Raka les renang.

Bahkan ketika ibuku sakit dan aku ingin membelikannya mesin pengecek tekanan darah, Ardi bertanya,

“Memangnya harus sekarang?”

Aku tidak pernah menganggap itu sebagai kendali.

Aku menyebutnya kompromi.

Pagi setelah pertengkaran, Ardi pergi tanpa sarapan.

Ia tidak berbicara kepadaku.

Sebelum berangkat ia hanya masuk ke kamar Raka.

Aku mendengar suaranya dari luar.

“Ayah berangkat dulu.”

Raka tidak menjawab.

Pintu kembali dibuka.

Ardi keluar dengan wajah kaku.

Saat melewatiku, ia berkata,

“Jangan racuni pikiran anak.”

Aku tidak menanggapi.

Setelah mengantar Raka ke rumah ibuku untuk beberapa hari, aku mengambil cuti dan pergi menemui seorang pengacara keluarga yang direkomendasikan teman lama.

Namanya Ratih Wibisono.

Perempuan sekitar empat puluh tahun dengan kacamata tipis dan cara bicara sangat tenang.

Aku menceritakan pernikahanku tanpa melebih-lebihkan apa pun.

Ratih tidak langsung menyuruhku menggugat.

Ia hanya berkata,

“Kalau Ibu sudah memutuskan, mulai sekarang jangan berdebat tentang perasaan. Simpan dokumen. Catat pengeluaran. Amankan kebutuhan anak. Jangan pindahkan uang secara sembarangan. Dan jangan menghapus percakapan apa pun.”

Aku mengangguk.

“Saya tidak mau mengambil yang bukan hak saya.”

“Bagus.”

Ia menutup pulpen.

“Yang paling penting adalah memastikan Ibu tidak kehilangan hak karena terlambat memahami posisi keuangan keluarga.”

Kalimat itu membuatku terdiam.

Posisi keuangan keluarga.

Ironis.

Aku tinggal di rumah yang sama selama delapan tahun, tetapi tidak tahu persis berapa banyak tabungan suamiku.

Ardi selalu berkata ia mengurus investasi.

Ia juga selalu berkata tidak perlu membuatku pusing.

Siang itu aku mulai memeriksa dokumen yang memang secara sah bisa kuakses.

Rekening bersama.

Tagihan rumah.

Cicilan mobil.

Asuransi.

Pengeluaran kartu kredit tambahan yang selama ini jarang kuperhatikan.

Aku tidak menemukan transfer romantis atau pembayaran hotel.

Namun ada sesuatu yang lain.

Selama hampir enam bulan, Ardi berkali-kali membayar restoran, kedai kopi, dan transportasi pada jam kantor di daerah yang tidak sesuai dengan rute kerjanya.

Beberapa pengeluaran memang kecil.

Rp85 ribu.

Rp140 ribu.

Rp230 ribu.

Tetapi frekuensinya membuatku berhenti.

Selasa sore.

Kamis malam.

Sabtu siang.

Aku mencatat semuanya.

Lalu aku menemukan satu transaksi yang membuatku menatap layar lama.

Dua bulan sebelumnya, pada hari ulang tahun ibuku, Ardi mengaku tidak bisa ikut makan malam karena harus menemani pengecekan gudang di Cikarang.

Dalam catatan kartu kredit, pukul tujuh lewat dua belas malam ia membayar makan untuk dua orang di sebuah restoran Jepang di Blok M.

Aku masih ingat malam itu.

Ibuku bahkan menyimpan sepotong kue untuk Ardi.

Sampai keesokan pagi.

Aku memotret mutasi tersebut.

Malamnya Ardi pulang hampir pukul sebelas.

Ia mencium kening Raka yang sudah tidur lalu masuk kamar.

Aku sedang melipat pakaian.

“Kita perlu bicara.”

“Aku capek.”

“Aku juga.”

Ia membuka lemari.

“Apa lagi?”

Aku menunjukkan tangkapan layar transaksi.

“Dua bulan lalu kamu bilang di Cikarang.”

Ardi menatap sebentar.

“Makan sama vendor.”

“Vendor siapa?”

“Memangnya kamu kenal?”

“Namanya.”

Ardi membanting pintu lemari.

“Naya, aku tidak mau setiap pengeluaran kantor harus diperiksa seperti tersangka.”

“Kalau memang kantor, kenapa kamu bayar pakai kartu keluarga?”

“Karena gampang.”

“Dan kenapa lokasi makanmu berbeda empat puluh kilometer dari lokasi yang kamu katakan?”

Ia menoleh.

“Kamu sekarang menguntitku?”

Aku tersenyum lelah.

“Tidak perlu. Kebohonganmu meninggalkan struk.”

Ardi keluar dari kamar.

Keesokan harinya, aku menerima pesan dari Farhan lagi.

Bu Naya, saya tidak ingin terlibat terlalu jauh. Tetapi sebaiknya Ibu tahu Pak Ardi sedang mencari siapa yang mengirim foto kemarin.

Aku membalas agar ia tidak menghubungiku lagi melalui nomor kantor dan berhati-hati.

Farhan kemudian mengirim satu kalimat terakhir.

Saya mengerti. Tapi ada hal lain. Kirana sebenarnya sudah bukan anak magang sejak bulan lalu. Kontraknya diperpanjang atas rekomendasi langsung Pak Ardi.

Aku membaca kalimat itu dua kali.

Jadi selama ini ketika Ardi menyebut,

“Anak magang itu masih belajar.”

“Kasihan kalau pulang sendiri.”

“Dia butuh bantuan.”

Perempuan itu bahkan sudah menjadi pegawai kontrak.

Masalahnya bukan status Kirana.

Masalahnya adalah Ardi selalu mengecilkan hubungan mereka supaya kepeduliannya terlihat wajar.

Tiga hari kemudian, Ardi berubah strategi.

Ia pulang membawa pizza kesukaan Raka.

Anakku duduk di ruang keluarga membaca buku.

“Ayah bawa pepperoni.”

Raka menjawab tanpa menoleh,

“Raka tidak suka yang pedas.”

Senyum Ardi membeku.

“Ayah ingat kamu suka.”

“Dulu.”

“Ya sudah, kita pesan yang lain.”

“Tidak usah.”

Ardi akhirnya duduk di lantai.

“Nak, tentang wisuda kemarin…”

Raka menutup bukunya.

“Ayah jangan minta maaf kalau besok diulang lagi.”

Ardi seperti ditampar.

Aku berdiri di dapur dan mendengar semuanya.

“Ayah tidak akan ulang.”

Raka bertanya,

“Janji?”

Ardi diam sedikit terlalu lama.

Raka membuka buku lagi.

“Nah.”

Satu kata.

Tetapi cukup untuk membuat Ardi berdiri dan masuk kamar tanpa menyentuh makanannya.

Seminggu berikutnya, kami hidup di bawah atap yang sama seperti tiga orang asing.

Aku mulai mencari pekerjaan penuh waktu.

Sebelum menikah, aku pernah menjadi administrator logistik.

Salah satu mantan rekan kerjaku sekarang mengelola perusahaan distribusi alat kesehatan di Jakarta Selatan.

Ia menawarkan posisi administrasi procurement dengan gaji yang jauh lebih baik daripada pekerjaanku di klinik.

Jam kerjanya lebih panjang.

Tetapi aku menerima.

Ibuku bersedia membantu menjemput Raka selama masa transisi.

Ketika kuberitahu Ardi, reaksinya bukan senang.

“Kenapa tiba-tiba kerja penuh?”

“Karena aku butuh pendapatan stabil.”

“Kita belum tentu jadi cerai.”

“Aku sudah yakin.”

Ia tertawa pendek.

“Kamu benar-benar mau menghancurkan keluarga karena Kirana?”

Aku menggeleng.

“Ini yang tidak pernah kamu pahami.”

“Kirana bukan alasan aku pergi.”

“Dia hanya orang yang kebetulan berdiri di tempat yang selama bertahun-tahun seharusnya diisi keluargamu.”

Ardi menatapku lama.

Lalu berkata,

“Kalau aku putus komunikasi dengan dia?”

“Aku tetap pergi.”

“Kalau aku pindah departemen?”

“Aku tetap pergi.”

“Kalau aku minta maaf pada Raka?”

“Silakan. Kamu tetap ayahnya.”

Nada suaranya naik.

“Terus apa yang kamu mau dariku?”

“Tidak ada.”

Itulah kalimat yang akhirnya membuatnya benar-benar marah.

Karena selama bertahun-tahun aku selalu menginginkan sesuatu darinya.

Waktu.

Perhatian.

Bantuan.

Kehadiran.

Dan untuk pertama kalinya, aku benar-benar tidak meminta apa-apa.

Dua minggu kemudian, surat panggilan mediasi resmi sampai.

Ardi memegang amplop itu di ruang tamu.

Tangannya gemetar.

“Kamu serius.”

“Aku sudah bilang.”

Ia melempar amplop ke meja.

“Kamu pikir ini akan gampang?”

“Tidak.”

“Aku akan minta hak asuh bersama.”

“Kita bicarakan melalui proses yang benar.”

“Aku bisa menunjukkan kamu sekarang kerja penuh waktu dan menitipkan Raka ke ibumu.”

“Dan aku bisa menunjukkan siapa yang selama enam tahun terakhir mengantar dia imunisasi, sekolah, les, dokter, mengambil rapor, dan menemaninya ketika sakit.”

Wajahnya menegang.

Kemudian ia mengatakan sesuatu yang membuatku sadar bahwa laki-laki di depanku sudah berubah jauh sebelum aku berani mengakuinya.

“Aku juga punya uang lebih banyak.”

Aku menatapnya.

“Raka bukan lelang.”

Ia pergi sambil membanting pintu.

Dua hari kemudian sesuatu yang tidak kuduga terjadi.

Aku baru tiba di kantor ketika nomor HR perusahaan Ardi menelepon.

Mereka tidak memberikan detail.

Hanya bertanya apakah aku mengenal beberapa transaksi dan apakah pada tiga tanggal tertentu Ardi benar-benar sedang melakukan kunjungan kerja seperti tercantum dalam laporan reimburse.

Jantungku berdetak lebih cepat.

Aku tidak berbohong.

Pada ketiga tanggal itu, Ardi mengatakan kepadaku hal yang berbeda.

Salah satunya adalah hari ulang tahun ibuku.

Satu lagi adalah hari ketika Raka demam dan Ardi mengaku sedang inspeksi gudang.

Aku menjawab sesuai fakta.

Telepon selesai kurang dari sepuluh menit.

Sore itu Farhan mengirim pesan singkat.

Audit internal.

Aku menatap dua kata tersebut.

Lalu pesan kedua masuk.

Bukan cuma soal Kirana. Ada laporan perjalanan yang waktunya tidak cocok dengan GPS kendaraan operasional.

Dadaku mendadak sesak.

Aku tidak merasa senang.

Tetapi untuk pertama kalinya aku melihat pola yang selama ini tidak pernah kulihat.

Ardi bukan hanya berbohong kepadaku.

Ia sudah terlalu terbiasa berbohong sampai mulai membawa kebiasaan itu ke tempat lain.

Tiga malam berikutnya Ardi pulang sangat larut.

Pada malam keempat ia tidak pulang.

Ia hanya mengirim pesan:

Aku menginap di hotel dekat kantor. Ada audit. Jangan buat masalah lagi.

Aku tidak membalas.

Paginya, saat mengantar Raka sekolah, anakku bertanya,

“Ayah ke mana?”

“Kerja.”

Ia melihatku dari kursi belakang.

“Bunda masih marah?”

“Bunda sedang menyelesaikan masalah orang dewasa.”

“Bunda sama Ayah jadi tidak tinggal bareng lagi?”

Aku diam sebentar.

Kemudian mengangguk.

“Mungkin sebentar lagi begitu.”

Raka menatap keluar jendela.

“Kalau Raka tinggal sama Bunda, Ayah masih boleh ketemu?”

Aku menggenggam setir.

“Tentu.”

Ia mengangguk.

“Kalau Ayah datang.”

Dua kata terakhir itu menusuk.

Sore harinya Ardi akhirnya pulang.

Tidak membawa tas kerja.

Tidak memakai kartu identitas kantor.

Kemejanya kusut.

Ia berdiri di pintu seperti seseorang yang baru kehilangan arah.

“Aku dinonaktifkan sementara.”

Aku tidak berkata apa-apa.

Ardi menatapku.

“HR menelepon kamu?”

“Ya.”

“Dan kamu bicara?”

“Mereka bertanya. Aku menjawab sesuai kenyataan.”

Ia tertawa getir.

“Kamu puas?”

“Tidak.”

“Jangan pura-pura.”

“Aku benar-benar tidak puas.”

Aku menatapnya.

“Karena kehilangan pekerjaanmu tidak akan mengembalikan satu pun hari Raka menunggumu.”

Ardi memalingkan muka.

Ia masuk kamar dan mengunci pintu.

Dua hari kemudian barulah aku mengetahui inti audit tersebut.

Ardi ternyata beberapa kali mengajukan biaya perjalanan sebagai kegiatan lapangan padahal kendaraan dinas tidak pernah bergerak ke lokasi yang tercantum.

Sebagian uangnya tidak besar.

Beberapa ratus ribu.

Sekali dua kali lebih dari satu juta rupiah.

Masalah terbesar bukan nilainya.

Melainkan laporan palsu.

Salah satu tanggalnya sama dengan malam ketika ia menemani Kirana menghadiri acara komunitas pemasaran di Jakarta Pusat.

Ia melaporkan perjalanan itu sebagai kunjungan vendor.

Kirana sendiri ikut diperiksa.

Hubungan mereka tidak terbukti sebagai perselingkuhan fisik.

Tetapi sejumlah pesan internal memperlihatkan kedekatan yang jelas melewati batas profesional.

Ardi memberinya jadwal yang lebih ringan.

Mengubah evaluasi keterlambatan.

Mendorong perpanjangan kontraknya.

Dan beberapa kali menggunakan alasan pekerjaan untuk menghabiskan waktu dengannya.

Ketika aku membaca ringkasan yang kemudian ia bawa pulang sendiri, perasaan yang muncul justru aneh.

Bukan cemburu.

Bukan marah.

Hanya kosong.

Aku bahkan tidak peduli lagi apakah mereka pernah berciuman atau tidak.

Karena pengkhianatan terbesar Ardi sudah terjadi jauh sebelum Kirana muncul.

Ia telah membuat anaknya sendiri terbiasa kecewa.

Tiga minggu setelah audit dimulai, perusahaan memutuskan mencopotnya dari jabatan kepala tim.

Ia tidak langsung dipecat.

Tetapi dipindahkan ke posisi nonmanajerial sambil menunggu keputusan disipliner final.

Gajinya turun.

Tunjangan kendaraan ditarik.

Dan Kirana tidak memperpanjang kontraknya.

Malam setelah keputusan itu, Ardi duduk di meja makan sendirian.

“Aku kehilangan semuanya.”

Aku sedang memasukkan dokumen Raka ke dalam tas.

Aku menjawab,

“Belum.”

Ia menatapku penuh harap.

“Kamu masih punya anak.”

Ardi menelan ludah.

“Tapi kamu mau bawa dia.”

“Aku tidak membawa anakmu pergi.”

Aku menutup ritsleting tas.

“Aku cuma berhenti membiarkan hidup kami bergantung pada apakah kamu sedang sempat menjadi ayah.”

Ia memegang kepalanya.

“Naya… batalkan gugatan.”

Aku berdiri diam.

“Aku bisa berubah.”

“Berubahlah.”

Ia mengangkat wajah.

Aku melanjutkan,

“Tapi jangan berubah untuk mendapatkan aku kembali.”

“Berubah supaya suatu hari nanti Raka tidak perlu melihat pintu setiap lima menit untuk memastikan ayahnya datang.”

Ardi tidak menjawab.

Sebelum aku masuk kamar, ponselnya berbunyi.

Ia melihat layar.

Wajahnya langsung berubah.

Nama yang muncul sempat kulihat.

Kirana.

Ardi membalik ponselnya.

Terlambat.

Aku tersenyum kecil.

“Angkat saja.”

“Naya—”

“Tidak perlu menjelaskan.”

Aku melangkah pergi.

Namun beberapa detik kemudian ponselku sendiri bergetar.

Sebuah pesan masuk dari nomor Kirana.

Untuk pertama kalinya perempuan itu menghubungiku langsung.

Isinya membuatku berhenti di tengah lorong.

Bu Naya, saya rasa Bapak Ardi belum menceritakan semuanya. Ada satu hal tentang uang tabungan pendidikan Raka yang seharusnya Ibu tahu.