Bagian 4 — Ketika Kebohongan Mereka Dibuka Satu per Satu, Aku Sudah Tidak Membutuhkan Apa Pun dari Mereka

Avatar penulis
Cerita 02
12 menit baca 982 tayangan
Bagian 4 — Ketika Kebohongan Mereka Dibuka Satu per Satu, Aku Sudah Tidak Membutuhkan Apa Pun dari Mereka
Indeks

Bagian 4 — Ketika Kebohongan Mereka Dibuka Satu per Satu, Aku Sudah Tidak Membutuhkan Apa Pun dari Mereka

Bu Livia merebut kembali map itu.

“Apa maksudmu?”

Aku tidak menjawab.

Bu Ratri yang melangkah maju.

“Bu Livia, mulai sekarang, sebaiknya seluruh komunikasi mengenai dokumen ini dilakukan melalui penasihat hukum.”

“Ini dokumen keluarga kami.”

“Dokumen yang mencantumkan tanda tangan klien saya.”

“Dia memang menandatanganinya.”

Aku memandang mantan ibu mertuaku.

“Di mana?”

Bu Livia menatapku tajam.

“Apa?”

“Di mana saya menandatangani ini?”

Ia membuka mulut.

Tidak ada jawaban.

“Kapan?”

Masih diam.

“Siapa yang hadir?”

Ia mulai marah.

“Kamu jangan memutarbalikkan—”

“Ada tanggalnya.”

Aku menunjuk dokumen.

“Pada tanggal itu saya sedang berada di rumah sakit menemani ibu saya menjalani operasi katarak di Yogyakarta. Ada catatan rumah sakit, tiket kereta, dan CCTV.”

Arga menatap ibunya.

“Mama?”

Bu Livia langsung menoleh.

“Jangan ikut campur.”

Untuk pertama kalinya, Arga tidak menurut.

“Dokumen itu dari mana?”

“Bagian legal.”

“Siapa di bagian legal?”

Bu Livia menggenggam map semakin erat.

“Kita bahas di rumah.”

Bu Ratri memasukkan salinan dokumen yang tadi sempat difotonya ke tas.

“Sayangnya, ini tidak lagi hanya urusan rumah.”

Kami pergi.

Aku tidak menoleh lagi.

Pemeriksaan dokumen berlangsung hampir tiga minggu.

Aku tetap bekerja.

Setiap pagi aku datang ke pendopo sebelum pukul delapan.

Kami memanaskan malam.

Menyiapkan pewarna.

Memeriksa kain.

Pukul sembilan, suara canting mulai terdengar pelan di antara percakapan para perajin.

Itu kehidupan yang pernah kutinggalkan.

Dan semakin lama aku kembali menjalaninya, semakin sulit bagiku memahami mengapa dulu aku rela melepaskannya.

Pameran kecil koleksi Pulang akhirnya dibuka pada Sabtu sore.

Aku hanya menyiapkan sembilan karya.

Tidak ada konferensi pers.

Tidak ada selebritas.

Tidak ada lampu berlebihan.

Tapi sebelum acara dimulai, tiga karya sudah dipesan oleh kolektor lama.

Seorang pemilik butik di Ubud meminta sampel.

Sebuah resort di Lombok menghubungi Mira untuk membicarakan produksi terbatas.

Bukan miliaran.

Bukan keberhasilan ajaib dalam satu malam.

Tapi itu nyata.

Diperoleh dari pekerjaanku sendiri.

Saat sedang menjelaskan teknik pewarnaan kepada seorang pengunjung, aku melihat Arga berdiri di pintu galeri.

Sendirian.

Ia tidak mendekat sampai orang-orang mulai berkurang.

“Koleksinya bagus.”

Aku mengangguk.

“Terima kasih.”

Ia melihat salah satu kain di dinding.

“Nara.”

“Hm?”

“Aku baru tahu semuanya.”

Aku tidak bertanya apa.

Ia sendiri melanjutkan.

“Kontrak lisensi. Dokumen pengalihan hak. Semua.”

Aku menunggu.

“Keira yang membawa dokumen pertama.”

Tidak mengejutkan.

“Tapi dokumen kedua…”

Ia berhenti.

“Itu datang dari staf legal lama perusahaan. Mama tahu dokumennya dibuat belakangan.”

Aku merasakan sesuatu dingin turun di punggung.

“Kenapa?”

Arga menutup mata sebentar.

“Karena waktu investor meminta kepastian kepemilikan desain, perusahaan tidak punya dasar hukum yang cukup.”

“Jadi kalian membuatnya.”

“Aku tidak tahu.”

Aku menatapnya.

“Aku percaya itu.”

Ia tampak kaget.

Aku melanjutkan,

“Tapi ketidaktahuanmu bukan berarti tidak ada tanggung jawab.”

Wajahnya menegang.

“Aku tahu.”

Itu mungkin pertama kali dalam empat tahun Arga mengatakan kalimat tersebut tanpa membela diri.

Ia duduk di bangku galeri.

“Aku menandatangani dokumen pengalihan itu.”

Aku terdiam.

“Tandatanganku asli.”

Ia menatap lantai.

“Mama bilang kamu sudah tanda tangan duluan.”

Aku tertawa pelan.

Bukan karena lucu.

Karena semuanya terasa sangat absurd.

“Dan kau tidak meneleponku?”

“Aku…”

Ia berhenti.

Tidak ada jawaban yang bisa menyelamatkannya.

“Aku menganggap itu administrasi perusahaan.”

“Seluruh karya hidupku dianggap administrasi.”

“Nara…”

“Sudah.”

Aku tidak ingin marah di tempat itu.

Galeri ini bukan tentang keluarga Mahendra.

Koleksi Pulang juga bukan.

“Apa yang kau inginkan?”

“Aku ingin minta maaf.”

Aku memandangnya.

“Baik.”

Ia terlihat bingung.

“Apa?”

“Aku dengar.”

“Nara…”

“Aku tidak bilang aku menerima. Aku bilang aku dengar.”

Ia menundukkan kepala.

“Aku tahu aku tidak punya hak meminta kesempatan.”

“Benar.”

“Aku cuma ingin kau tahu, Keira sudah tidak tinggal di apartemen. Aku juga tidak berhubungan dengannya lagi.”

Aku menahan napas.

“Arga.”

Ia menatapku.

“Kenapa kau masih berpikir keputusan tentang Keira penting bagiku?”

Ia membeku.

Aku melanjutkan.

“Kalau kau mengusir dia dua hari setelah aku pergi, aku tetap akan bercerai.”

“Kenapa?”

“Karena masalah kita bukan Keira.”

Aku menunjuknya.

“Masalahnya kau.”

Wajah Arga pucat.

“Keira hanya membuatku melihat lebih cepat siapa dirimu ketika kau yakin aku akan selalu tinggal.”

Ia terdiam lama.

Akhirnya berdiri.

“Aku mengerti.”

Aku tidak tahu apakah ia benar-benar mengerti.

Dan untuk pertama kali, aku tidak merasa perlu memastikan.

Empat hari kemudian, hasil pemeriksaan awal dokumen keluar.

Dugaan kami benar.

Tanda tanganku pada lisensi sepuluh tahun tidak autentik.

Dokumen kedua juga bermasalah.

Kantor notaris mengonfirmasi nomor dan stempel tidak pernah dikeluarkan oleh mereka.

Keira diperiksa oleh internal perusahaan.

Lalu satu demi satu hal lain muncul.

Ternyata ia tidak hanya menjadi konsultan kreatif.

Melalui sebuah agensi milik temannya, ia juga menerima pembayaran awal ratusan juta rupiah untuk “riset warisan motif”, padahal sebagian besar arsip yang dipakainya berasal dari file lamaku.

Beberapa pengeluaran proyek tidak mempunyai dokumen pendukung yang lengkap.

Lebih buruk lagi, proposal yang ia berikan kepada dewan direksi menyatakan bahwa seluruh motif adalah properti intelektual eksklusif Mahendra Hospitality.

Informasi itu yang membuat investor menyetujui anggaran.

Arga meneleponku.

Aku tidak mengangkat.

Bu Ratri mengirim pesan.

Perusahaan meminta pertemuan penyelesaian.

Aku datang seminggu kemudian.

Ruang rapat di kantor pusat Mahendra Hospitality terasa sangat berbeda dibanding terakhir kali aku berada di sana sebagai istri Arga.

Dulu sekretaris bahkan menyuruhku menunggu di luar saat suamiku rapat.

Sekarang tujuh orang sudah menungguku.

Arga.

Bu Livia.

Dua komisaris.

Direktur keuangan.

Pengacara perusahaan.

Dan Keira.

Ia duduk paling ujung.

Tanpa riasan tebal.

Tanpa pakaian elegan.

Namun sorot matanya tetap sama.

Bu Ratri duduk di sampingku.

Pengacara perusahaan membuka pembicaraan.

“Kami berharap masalah ini bisa diselesaikan tanpa proses panjang.”

Aku tidak menjawab.

Ia menawarkan penyelesaian.

Perusahaan akan menghentikan seluruh penggunaan tujuh motif sampai kontrak baru dibuat.

Mereka bersedia membayar kompensasi atas penggunaan setelah masa lisensi habis.

Mereka juga akan menarik pernyataan publik bahwa desain itu merupakan arsip keluarga Mahendra.

Namaku akan dicantumkan sebagai pencipta.

Jumlah kompensasinya besar.

Tapi kali ini aku tidak langsung menolak.

Aku melihat rincian.

Meminta revisi.

Hak penggunaan harus terbatas.

Tidak eksklusif.

Tidak boleh memodifikasi desain tanpa persetujuanku.

Setiap produksi harus memiliki jumlah pasti.

Nama Batik Larasati harus tercantum.

Dan aku tidak memberikan hak apa pun untuk motif baru.

Pengacara perusahaan mengangguk.

“Kami bisa membicarakan itu.”

Aku kemudian menambahkan,

“Satu lagi.”

Semua menatapku.

“Semua dokumen palsu harus dinyatakan tidak sah secara tertulis.”

Keira langsung menyela.

“Aku tidak pernah memalsukan tanda tangan.”

Ruangan hening.

Aku menoleh kepadanya.

Itu pertama kalinya aku benar-benar berbicara langsung dengannya sejak keluar dari apartemen.

“Kalau begitu siapa?”

“Aku menerima dokumennya dari Arga.”

Arga langsung menatapnya.

“Jangan bohong.”

Keira membalas,

“Kau memang memberiku file tanda tangan Nara.”

Aku melihat Arga.

Wajahnya berubah.

Ia menoleh padaku.

“Nara, waktu itu bagian administrasi meminta contoh tanda tangan untuk kartu ucapan—”

Aku mengangkat tangan.

“Aku tidak ingin mendengar perdebatan kalian.”

Keira menatapku.

“Kamu senang sekarang?”

Pertanyaan itu sangat aneh hingga aku benar-benar membutuhkan beberapa detik untuk memahaminya.

“Apa?”

“Kamu berhasil.”

Matanya mulai merah.

“Peluncuran batal. Namaku hancur. Semua orang menyalahkanku.”

Aku menatapnya.

“Keira.”

“Apa?”

“Aku tidak pernah menyuruhmu memakai desainku.”

Ia diam.

“Aku tidak menyuruhmu masuk ke kamar tidurku.”

Diam.

“Aku tidak menyuruhmu membuang peti nenekku.”

Bibirnya mengeras.

“Aku juga tidak menyuruhmu mengajukan proposal dengan karya orang lain.”

Aku bersandar.

“Jadi bagian mana dari hidupmu yang sebenarnya aku hancurkan?”

Keira bangkit.

“Kau selalu punya semuanya!”

Aku hampir tertawa.

“Semua?”

“Keluarga. Bakat. Nama. Arga.”

Aku menatap Arga sebentar.

Kemudian kembali kepadanya.

“Kalau Arga dianggap hadiah, aku sudah mengembalikannya.”

Tak seorang pun berbicara.

Keira mengepalkan tangan.

“Kau pikir kau lebih baik dariku?”

“Tidak.”

Aku menggeleng.

“Aku hanya tidak membutuhkan hidupmu agar bisa menghargai hidupku sendiri.”

Wajahnya memerah.

Pengacara perusahaan meminta Keira duduk.

Namun ia mengambil tas.

Sebelum keluar, ia menatap Arga.

“Kau juga pengecut.”

Arga tidak membalas.

Pintu tertutup keras.

Bu Livia menatap meja.

Perempuan yang selama bertahun-tahun tidak pernah kehabisan kata untuk mengkritikku sekarang terlihat jauh lebih tua.

Ia berkata pelan,

“Nara.”

Aku menoleh.

“Tentang dokumen kedua…”

Ia kesulitan melanjutkan.

“Aku mengizinkan staf membuatnya.”

Arga langsung menatap ibunya.

“Mama.”

“Aku pikir hanya untuk memenuhi administrasi sementara.”

“Dengan tanda tangan palsu?”

“Aku berniat meminta Nara menandatangani versi aslinya setelah itu.”

Aku tertawa pendek.

“Setelah investor percaya bahwa haknya sudah dimiliki?”

Bu Livia tidak menjawab.

Aku merasa marah.

Tapi bukan marah yang membakar.

Lebih seperti melihat sesuatu yang akhirnya terbuka sepenuhnya.

Selama ini keluarga Mahendra selalu menganggap batas milik orang lain fleksibel.

Waktuku.

Tenagaku.

Karyaku.

Bahkan kamar tidurku.

Semuanya dianggap bisa digunakan selama mereka merasa membutuhkan.

Aku berdiri.

“Saya menerima negosiasi kompensasi perusahaan.”

Semua melihatku.

“Tapi soal pemalsuan dokumen, saya tidak akan menandatangani pernyataan bahwa itu hanya kesalahan administrasi.”

Wajah Bu Livia menegang.

“Nara.”

Aku menatapnya.

“Kalau dulu Ibu tidak mau disebut pencuri karya orang, seharusnya jangan membuat dokumen untuk mengambil karya orang.”

Aku dan Bu Ratri pergi.

Proses berikutnya tidak selesai dalam sehari.

Tidak juga seminggu.

Mahendra Hospitality melakukan audit internal.

Keira akhirnya dikeluarkan dari proyek.

Kontrak agensinya dihentikan dan sebagian pembayaran yang tidak bisa dipertanggungjawabkan dituntut kembali melalui jalur hukum.

Perkara dugaan penggunaan dan pemalsuan dokumen diproses terpisah berdasarkan bukti masing-masing.

Aku tidak mengikuti setiap perkembangan.

Aku sudah tidak punya tenaga untuk menjadikan kehancuran mereka sebagai pusat hidupku.

Dewan komisaris juga mencopot Arga sementara dari posisi pengelola proyek strategis.

Bukan karena ia memalsukan dokumen.

Tidak ada bukti bahwa ia melakukan itu.

Tapi karena ia menyetujui proyek bernilai besar tanpa memastikan rantai hak kekayaan intelektual yang dipakai.

Kesalahan tata kelola.

Begitu istilah resminya.

Untuk pertama kalinya, nama belakang Mahendra tidak bisa melindunginya dari konsekuensi keputusan sendiri.

Empat bulan setelah aku meninggalkan apartemen, putusan perceraian keluar.

Pagi itu hujan tipis.

Aku datang bersama Bu Ratri.

Arga datang sendiri.

Tidak ada Keira.

Tidak ada Bu Livia.

Setelah semuanya selesai, kami berdiri di tangga gedung.

Arga memanggilku.

“Nara.”

Aku berhenti.

Ia mengeluarkan sebuah benda dari tas.

Syal batik sogan milik nenekku.

Yang malam terakhir itu dipakai Keira.

“Aku menemukan ini di lemari.”

Aku menerimanya.

“Terima kasih.”

Ia tersenyum pahit.

“Kau tahu apa yang paling bodoh?”

Aku tidak menjawab.

“Waktu kau pergi, aku pikir kau akan kembali tiga hari.”

Aku memandang hujan di depan gedung.

“Lalu satu minggu.”

Ia tertawa getir.

“Lalu ketika gugatan datang, aku masih berpikir kau cuma ingin membuatku takut.”

Aku akhirnya melihatnya.

“Karena selama ini aku selalu kembali.”

Arga mengangguk.

“Itulah yang membuatku begitu yakin.”

Ia menelan ludah.

“Aku terbiasa kau memaafkan sebelum aku benar-benar meminta maaf.”

Kalimat itu setidaknya jujur.

“Semoga setelah ini kau belajar.”

“Apa?”

“Jangan menganggap kesabaran orang sebagai izin untuk menyakitinya.”

Ia menunduk.

“Nara.”

“Hm?”

“Kalau waktu itu aku tidak meminta kau pindah kamar…”

Aku tersenyum tipis.

“Kita mungkin akan bercerai lebih lambat.”

Ia memejamkan mata.

Aku melanjutkan,

“Kamar itu cuma pintu terakhir.”

Aku memasukkan syal ke tas.

“Yang runtuh sebenarnya sudah lama.”

Aku melangkah pergi.

Ia tidak mengejar.

Dan kali ini, aku tidak menunggu.

Setahun kemudian, Batik Larasati memiliki dua puluh satu perajin tetap.

Tidak ada kerajaan bisnis mendadak.

Tidak ada kekayaan ajaib.

Kami tumbuh pelan.

Pesanan butik.

Proyek interior.

Koleksi terbatas.

Workshop.

Kerja sama dengan dua hotel kecil yang benar-benar mencantumkan nama perajin di setiap produk.

Koleksi Pulang menjadi koleksi yang paling banyak diminta.

Tapi aku tidak membuatnya massal.

Setiap seri dibatasi.

Setiap kain memiliki nama orang yang mengerjakannya.

Aku tidak ingin lagi ada tangan-tangan yang bekerja lalu dilupakan.

Suatu sore, ketika sedang mengecek kain di halaman belakang, Pakde Darma datang membawa amplop.

“Undangan.”

“Dari siapa?”

“Jakarta.”

Ternyata dari sebuah pameran desain nasional.

Mereka meminta Batik Larasati mengisi satu instalasi tentang perjalanan motif tradisional ke desain kontemporer.

Di bagian bawah surat, namaku tercetak jelas.

Nara Prameswari — Perancang Tekstil dan Pendiri Kembali Batik Larasati.

Aku tertawa membaca frasa “pendiri kembali”.

Pakde bertanya,

“Kenapa?”

“Tidak apa.”

Aku meletakkan surat itu di meja.

Di halaman depan, beberapa perajin sedang bercanda sambil menjemur kain.

Bibi membawa teh.

Anak-anak tetangga berlarian di gang.

Semua terlihat biasa.

Tapi justru itu yang paling kusukai.

Hidupku tidak lagi bergantung pada apakah seseorang pulang terlambat.

Apakah seseorang membalas pesan.

Apakah keluarga seseorang menyukaiku.

Apakah ada perempuan lain yang dianggap lebih pantas menempati kamar tidurku.

Malamnya, aku naik ke kamar lama.

Di dinding tergantung desain pertama Sekar Awan.

Di sampingnya, ada satu karya baru.

Bunga-bunga kecil tumbuh dari pola garis yang awalnya tampak seperti retakan.

Pakde pernah bertanya apa namanya.

Aku menjawab,

Rumah.

Ia tertawa.

“Kenapa rumah?”

Aku waktu itu tidak menjelaskan.

Karena sekarang aku tahu.

Rumah bukan selalu alamat.

Bukan apartemen mahal.

Bukan kamar tidur paling besar.

Bukan nama keluarga yang tercetak di kartu undangan.

Rumah adalah tempat seseorang tidak perlu mengecilkan dirinya agar diizinkan tinggal.

Aku mematikan lampu kerja.

Sebelum tidur, ponsel berbunyi.

Pesan dari Mira.

Besok jangan lupa rapat jam sepuluh. Klien Lombok setuju produksi 120 lembar, bukan 200. Mereka menerima batas yang kamu minta.

Aku membalas,

Bagus. Kualitas dulu.

Beberapa detik kemudian ia mengirim emoji jempol.

Aku tersenyum.

Dulu aku pernah diberi tahu bahwa pekerjaanku hanya menghasilkan “uang receh”.

Sekarang aku tidak lagi merasa perlu membuktikan kepada siapa pun bahwa mereka salah.

Arga sudah menerima akibat pilihannya.

Keira menerima akibat perbuatannya.

Bu Livia belajar bahwa nama keluarga tidak bisa mengubah dokumen palsu menjadi sah.

Dan aku?

Aku tidak memenangkan suamiku kembali.

Tidak merebut rumah.

Tidak membuat siapa pun berlutut meminta maaf.

Aku memenangkan sesuatu yang jauh lebih penting.

Namaku sendiri.

Pekerjaanku sendiri.

Dan hak untuk memilih hidup seperti apa yang ingin kujalani.

Aku menutup jendela.

Dari bawah terdengar Pakde berteriak,

“Nara! Lampu pendopo belum dimatikan!”

Aku membuka pintu kamar.

“Pakde saja!”

“Yang terakhir pakai siapa?”

Aku tertawa sambil turun tangga.

“Ya, ya! Aku matikan!”

Di tengah rumah tua yang penuh aroma malam, kain basah, dan suara keluarga yang saling berteriak dari ruangan berbeda, aku berhenti sebentar.

Setahun lalu aku datang ke tempat ini dengan dua koper dan hati yang terasa kosong.

Malam itu aku pernah mengira aku kehilangan sebuah rumah.

Sekarang aku tahu aku hanya meninggalkan tempat yang terlalu lama kupaksa untuk kusebut rumah.

Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ketika seseorang bertanya di mana aku tinggal, aku tidak perlu berpikir.

Aku punya jawaban yang sederhana.

Aku sudah pulang.