Bagian 3 — Mereka Mengira Aku Hanya Istri yang Pergi, Sampai Seluruh Proyek Mereka Berhenti
Tiga hari berikutnya aku tidak menghubungi siapa pun dari keluarga Mahendra.
Aku juga tidak mengunggah sindiran.
Tidak membuat video.
Tidak menulis status panjang tentang pengkhianatan.
Bu Ratri menyuruhku melakukan hal yang paling sulit ketika sedang marah.
Diam.
Dan mengumpulkan bukti.
Kami mendokumentasikan setiap sketsa.
Tanggal pembuatan.
Foto pameran.
Kuitansi penjualan.
Email lama.
Percakapan dengan vendor.
Bahkan kartu memori dari kamera lama yang menyimpan foto proses pengerjaan motif Sekar Awan pada tahun 2018.
Pakde Darma membuka lemari arsip dan mengeluarkan map demi map.
“Almarhum ibumu selalu bilang, simpan semua kertas,” katanya.
Aku tersenyum pahit.
Ternyata ibu benar.
Kertas-kertas yang dulu terlihat sepele kini menjadi pagar yang melindungiku.
Bu Ratri kemudian mengirimkan pemberitahuan resmi kepada Mahendra Hospitality Group, vendor tekstil utama mereka, dan penyelenggara peluncuran.
Isinya sederhana.
Aku adalah pencipta tujuh motif yang akan digunakan.
Izin lama telah berakhir.
Aku tidak pernah menyetujui lisensi baru.
Dan keabsahan dokumen yang mereka gunakan sedang dipersoalkan.
Tidak ada ancaman dramatis.
Tidak ada kalimat kasar.
Hanya tanggal, nomor dokumen, dan bukti.
Efeknya justru jauh lebih besar.
Vendor tekstil menghentikan produksi pada hari yang sama.
Mereka tidak mau mengambil risiko mencetak puluhan ribu meter kain dengan hak penggunaan yang bermasalah.
Penyelenggara peluncuran menunda pemasangan dekorasi.
Salah satu jaringan department store yang semula akan menjual merchandise meminta bukti rantai lisensi sebelum melanjutkan kontrak.
Empat hari sebelum acara, seluruh proyek Warisan Nusantara berhenti seperti kendaraan yang remnya diinjak mendadak.
Barulah Arga datang ke Bantul.
Pukul tujuh pagi, mobil hitamnya berhenti di depan Batik Larasati.
Aku sedang duduk bersama tiga perajin ketika ia memasuki pendopo.
Kemejanya masih rapi.
Tapi wajahnya terlihat seperti seseorang yang sudah dua malam tidak tidur.
“Nara.”
Aku tidak berdiri.
“Kenapa datang?”
“Kita bicara.”
“Silakan.”
Ia melihat orang-orang di sekeliling.
“Berdua.”
Pakde Darma tertawa kecil dari meja seberang.
“Kalau urusannya rahasia, cari kantor pengacara. Di sini semua orang sedang kerja.”
Arga menahan emosi.
Akhirnya ia duduk.
“Kau benar-benar mengirim surat ke vendor?”
“Pengacaraku yang mengirim.”
“Kau tahu berapa kerugian kalau peluncuran tertunda?”
Aku menatap canting di tanganku.
“Tidak.”
Lalu kutambahkan,
“Dan itu bukan tanggung jawabku.”
“Nara.”
Ia merendahkan suara.
“Kita masih suami istri secara hukum.”
“Gugatan sudah terdaftar.”
“Itu tidak berarti kau harus menghancurkan bisnis keluarga.”
Aku akhirnya menatapnya.
“Aku tidak menyentuh bisnis keluargamu.”
Aku menunjuk map di meja.
“Aku hanya meminta kalian berhenti memakai milikku.”
“Motif itu sudah dipakai perusahaan bertahun-tahun.”
“Dengan lisensi terbatas.”
“Semua orang mengira itu bagian dari aset kreatif Mahendra.”
“Itulah masalah kalian.”
Rahang Arga menegang.
“Kau mau apa?”
Kalimat itu membuatku tertawa.
Empat tahun.
Aku pernah meminta waktu makan malam bersama.
Meminta ia hadir saat ibuku dirawat.
Meminta ia membela ketika keluarganya merendahkanku.
Tak pernah sekalipun ia bertanya dengan sungguh-sungguh apa yang kuinginkan.
Sekarang, ketika uang keluarganya terancam, akhirnya pertanyaan itu keluar.
“Aku mau namaku tidak dicuri.”
Arga mengusap wajahnya.
“Keira bilang kau pernah menyetujui perpanjangan.”
“Keira juga tercatat sebagai saksi.”
“Dia mengurus proyek dari awal.”
“Bagus.”
Aku mendorong salinan kontrak palsu ke arahnya.
“Kalau begitu tanya dia dari mana tanda tangan ini berasal.”
Arga melihat kertas tersebut.
“Ini tanda tanganmu.”
“Bukan.”
“Kau sendiri sering lupa dokumen yang pernah kau tanda tangani.”
Aku diam.
Kalimat itu lebih menyakitkan daripada yang kuduga.
Bahkan sekarang ia lebih percaya selembar dokumen dan Keira daripada aku yang hidup bersamanya empat tahun.
Aku menutup map.
“Kalau kau yakin itu tanda tanganku, biarkan proses pemeriksaan membuktikannya.”
Arga langsung berdiri.
“Kau mau membawa ini ke polisi?”
“Aku belum bilang begitu.”
“Jangan lakukan tindakan yang tidak bisa ditarik kembali.”
Aku menatap wajahnya.
“Aneh.”
“Apa?”
“Waktu kau menyuruhku tidur di gudang, kau tidak pernah memikirkan apakah tindakanmu bisa ditarik kembali.”
Ia terdiam.
Aku berdiri.
“Pulanglah.”
“Nara.”
“Dan jangan datang tanpa janji lagi.”
Ia menahan lenganku.
Pakde Darma langsung bangkit.
Aku menatap tangan Arga.
Ia melepaskannya.
“Nara, dengar dulu.”
“Aku sudah mendengarkanmu selama empat tahun.”
Aku menggeser kursi.
“Sekarang giliranmu mendengar kata tidak.”
Arga pulang dengan wajah gelap.
Sore harinya, ibu mertuaku menelepon.
Aku tidak menjawab.
Lalu datang pesan.
Kamu sudah keterlaluan. Masalah rumah tangga kenapa dibawa ke perusahaan?
Aku membalas satu kali.
Karena perusahaan memakai karya saya.
Balasan datang cepat.
Kalau bukan karena keluarga Mahendra, siapa yang tahu nama kamu?
Aku membaca pesan itu dua kali.
Kemudian tertawa.
Mereka benar-benar sudah lupa.
Aku berkarya sebelum mengenal Arga.
Mereka bukan menciptakanku.
Aku yang justru menghilang setelah menikah dengan Arga.
Hari-hari berikutnya, aku kembali bekerja.
Aku memanggil beberapa mantan perajin yang dulu pernah bekerja di studioku.
Tidak semuanya bisa kembali.
Dua orang sudah punya usaha sendiri.
Satu pindah ke Pekalongan.
Tapi enam orang bersedia membantu koleksi baru.
Aku memberi nama koleksi itu Pulang.
Bukan tentang perceraian.
Bukan tentang Arga.
Tentang perempuan yang terlalu lama meninggalkan dirinya sendiri lalu memutuskan kembali.
Warna pertamanya indigo gelap.
Kemudian sogan hangat.
Di bagian tepi ada bunga kecil yang perlahan terbuka.
Pakde melihat desain itu dan berkata,
“Ini seperti orang yang habis tenggelam.”
Aku menggeleng.
“Bukan.”
Aku tersenyum.
“Seperti orang yang akhirnya ingat caranya bernapas.”
Dua minggu kemudian, seorang kurator tekstil dari Jakarta yang pernah mengenalku sebelum menikah melihat foto proses koleksi itu dari akun Batik Larasati.
Namanya Mira Santoso.
Ia menghubungiku.
“Kamu kembali?”
“Sedang mencoba.”
“Jangan mencoba.”
Aku tertawa.
“Terus?”
“Kembali sekalian.”
Ia menawarkan ruang kecil dalam pameran tekstil kontemporer di Yogyakarta.
Bukan panggung besar.
Bukan acara mewah.
Hanya sebuah kesempatan.
Aku menerimanya.
Sementara itu, masalah Mahendra Hospitality semakin buruk.
Vendor meminta ganti rugi atas bahan baku yang sudah terlanjur dibeli.
Investor meminta penjelasan.
Dewan komisaris memanggil Arga.
Aku tahu semuanya bukan dari gosip.
Bu Ratri menunjukkan surat yang dikirim pengacara perusahaan untuk negosiasi.
Mereka menawarkan sejumlah uang agar aku menandatangani lisensi baru dan menyatakan bahwa perselisihan sebelumnya hanyalah “kesalahpahaman administratif”.
Aku menolak.
Jumlah kedua lebih besar.
Kutolak lagi.
Jumlah ketiga membuat Pakde Darma bersiul.
“Tiga miliar?”
Aku mengangguk.
“Kalau Pakde mau, ambil saja.”
Ia memukul kepalaku pelan dengan gulungan kertas.
“Bodoh.”
Aku tertawa.
Ia duduk di sampingku.
“Kalau uang itu bayaran yang adil untuk lisensi, boleh dipikirkan.”
Lalu wajahnya serius.
“Tapi kalau uang itu untuk membeli diammu, harganya selalu terlalu murah.”
Aku memahami maksudnya.
Bu Ratri meminta audit independen terhadap asal dokumen.
Kami juga meminta konfirmasi dari kantor notaris yang namanya tercantum.
Jawaban mereka membuat perkara semakin aneh.
Nomor akta tersebut tidak sesuai.
Format stempel berbeda.
Dan tanda tangan notaris pada dokumen bukan tanda tangan asli.
Namun sebelum kami mengambil langkah berikutnya, panggilan mediasi perceraian datang.
Arga menghadirinya.
Aku juga.
Untuk pertama kali sejak meninggalkan apartemen, kami duduk berhadapan di ruangan kecil tanpa Keira, tanpa ibunya, tanpa keluarga.
Mediator bertanya apakah ada kemungkinan berdamai.
Arga menjawab lebih dulu.
“Ada.”
Aku menjawab,
“Tidak.”
Ia menatapku.
Mediator memberi kami kesempatan berbicara.
Arga menghela napas panjang.
“Keira sudah pindah dari apartemen.”
Aku tidak bereaksi.
“Aku juga sudah meminta dia keluar dari proyek.”
Tetap tidak bereaksi.
“Aku bisa memperbaiki semuanya.”
“Tidak.”
“Nara, kita menikah empat tahun.”
“Benar.”
“Tidak mungkin empat tahun hilang karena satu kesalahan.”
Aku menatapnya cukup lama.
“Arga.”
“Apa?”
“Masalahnya bukan satu kesalahan.”
Aku menghitung dengan jari.
“Ketika ibumu menghina pekerjaanku dan kau diam, itu satu.”
“Ketika kau membatalkan perjalanan ulang tahun pernikahan karena Keira pulang, itu dua.”
“Ketika kau membicarakan masalah pernikahan kita kepada dia sebelum kepadaku, tiga.”
“Ketika kau ingin menyingkirkanku dari kamar sendiri, empat.”
Aku berhenti.
“Dan ketika kau lebih percaya tanda tangan palsu daripada kata-kataku, aku berhenti menghitung.”
Wajahnya berubah.
Untuk pertama kali, aku melihat sesuatu yang mirip rasa takut.
Bukan takut kehilangan perusahaan.
Takut aku benar-benar tidak akan kembali.
Mediasi gagal.
Ketika keluar dari gedung, ibu Arga sudah menunggu.
Bu Livia Mahendra mengenakan kacamata hitam besar dan membawa map biru.
“Nara.”
Aku berhenti.
Ia menatapku dari atas ke bawah.
“Kita bicara sekarang.”
“Silakan melalui pengacara saya.”
“Jangan sok penting.”
Bu Ratri yang berjalan di sebelahku langsung berhenti.
Bu Livia membuka map.
“Kamu pikir tujuh motif itu bisa membuatmu memeras keluarga kami?”
Aku hendak pergi.
Tapi ia mengeluarkan selembar dokumen.
“Baca.”
Aku mengambilnya.
Judulnya membuatku membeku.
PERJANJIAN PENGALIHAN HAK EKONOMI KARYA SETELAH PERNIKAHAN.
Isinya menyatakan seluruh motif yang kubuat selama dan sebelum pernikahan telah dialihkan secara permanen kepada badan usaha keluarga Mahendra dengan kompensasi tertentu.
Di bawahnya ada tanda tanganku.
Ada tanda tangan Arga.
Ada dua saksi.
Dan ada stempel notaris.
Bu Livia tersenyum tipis.
“Masih mau mengaku semuanya milikmu?”
Bu Ratri mengambil dokumen itu.
Aku tidak menjawab.
Bukan karena takut.
Tetapi karena aku mengenali nama notaris di bagian bawahnya.
Dua tahun lalu aku pernah menghadiri pemakamannya.
Aku menatap tanggal dokumen.
Dibuat sebelas bulan setelah notaris tersebut meninggal.
Aku mengangkat kepala.
“Bu Livia.”
“Apa?”
Aku menyerahkan kertas itu kepada Bu Ratri.
“Terima kasih.”
Ia mengernyit.
“Untuk apa?”
Aku tersenyum untuk pertama kalinya di depan keluarga Mahendra sejak perceraian dimulai.
“Karena Ibu baru saja menyerahkan bukti kedua kepada pengacara saya dengan tangan Ibu sendiri.”
Wajah Bu Livia berubah.
Dan untuk pertama kali, Arga yang berdiri beberapa langkah di belakang ibunya tidak melihatku.
Ia menatap map biru itu seperti baru menyadari bahwa masalah keluarganya mungkin jauh lebih besar daripada tujuh lembar motif batik.

