Bagian 3 — Amplop Tebal Itu Berkeliling Aula Sebelum Isinya Membongkar Aib yang Lama Disembunyikan
Wajah Bude Mira berubah begitu cepat hingga bahkan MC di samping pelaminan tidak tahu harus bereaksi seperti apa.
Tangannya masih memegang uang pecahan Rp1.000.
Satu lembar terlepas dan jatuh ke lantai.
Tidak ada seorang pun yang segera mengambilnya.
Nadya memandang ibunya, lalu menatapku.
“Kak Kirana…”
Aku melihat rasa malu di wajahnya.
Bukan kemarahan.
Itu penting bagiku.
Aku datang bukan untuk menghancurkan hari Nadya.
Aku datang untuk mengakhiri satu kebiasaan buruk yang sudah tiga tahun dibiarkan.
Bude akhirnya menemukan suaranya.
“Kamu bercanda?”
“Tidak.”
“Ini pernikahan sepupumu!”
“Aku tahu.”
“Kamu kerja di Jakarta, gajimu besar, punya rumah, punya mobil, lalu kamu datang membawa seratus satu ribu?”
Beberapa tamu di belakang mulai berbisik.
Aku menjawab tenang.
“Tiga tahun lalu Bude juga punya rumah, toko batik, kos-kosan, dan gelang emas baru. Bude datang ke pernikahanku membawa seratus ribu.”
“Itu berbeda!”
“Bedanya di mana?”
Bude membuka mulut.
Tidak ada jawaban yang keluar.
Aku melanjutkan,
“Waktu itu aku tidak bertanya berapa penghasilan Bude.”
“Aku tidak menuntut.”
“Aku tidak mempermalukan Bude.”
“Justru Bude yang mengangkat amplop itu di depan semua orang dan berkata aku seharusnya tidak melihat nominal.”
Suasana aula semakin tidak nyaman.
Pakde Harno mengalihkan pandangan.
Tante Rini menatap meja.
Beberapa orang yang hadir di pernikahanku tiga tahun lalu jelas mengingat kejadian tersebut.
Bude menggenggam uang itu semakin erat.
“Kamu menyimpan dendam tiga tahun?”
Aku tersenyum kecil.
“Kalau aku menyimpan dendam, aku mungkin tidak datang.”
“Ini bukan dendam.”
“Ini standar yang Bude buat sendiri.”
Dia menunjukku.
“Jangan memutarbalikkan keadaan!”
Untuk pertama kalinya Nadya menarik tangan ibunya.
“Ma…”
Namun Bude menepisnya.
“Kamu diam dulu!”
Nadya langsung terdiam.
Aku melihat ekspresi Arga berubah.
Senyumnya hilang.
Dia berdiri sedikit lebih dekat kepada Nadya.
Bude kembali menatapku.
“Kalau memang masih sakit hati, kenapa tidak bicara dari dulu?”
Pertanyaan itu membuat ibu mengangkat kepala.
Aku tidak langsung menjawab.
Aku mengambil ponsel dari tas.
“Mau benar-benar dibahas sekarang?”
Bude tertawa pendek.
“Mau mengancam Bude?”
“Tidak.”
Aku membuka folder lama.
“Bude tadi bertanya kenapa kami tidak bicara.”
Aku mengangkat ponsel.
“Ibu pernah bicara.”
Wajah Bude berubah.
Aku melihatnya.
Dia ingat.
“Ibu menelepon Bude dua hari setelah pernikahanku.”
Bude buru-buru memotong.
“Sudah lama sekali. Siapa yang ingat?”
“Aku ingat.”
Aku menekan layar.
Suara yang keluar tidak terlalu keras, tetapi karena aula sedang sunyi, orang-orang di sekitar pelaminan bisa mendengarnya dengan jelas.
Suara Bude Mira tiga tahun lalu.
“Kalau aku kasih seratus ribu itu juga uang!”
Wajahnya langsung pucat.
Aku menghentikan rekaman sebentar.
Kemudian memutarnya lagi.
“Kalau aku tidak kasih satu rupiah pun, aku tetap budenya Kirana.”
Beberapa orang mulai saling pandang.
Suara berikutnya terdengar.
“Jangan mentang-mentang punya menantu orang Jakarta terus merasa lebih tinggi.”
Ibu berdiri kaku di sampingku.
Tangannya dingin ketika kugenggam.
Bude melangkah maju.
“Matikan!”
Aku mematikannya.
“Baik.”
Dia jelas tidak menyangka aku masih menyimpan rekaman tersebut.
“Apa-apaan kamu merekam percakapan pribadi?”
“Aku tidak merekam telepon.”
Aku menunjukkan layar.
“Ini pesan suara yang Bude kirim sendiri ke ponsel Ibu.”
Bude terdiam.
Tante Rini berbisik,
“Mira, memang itu suaramu.”
Bude menoleh tajam.
“Tidak usah ikut campur!”
Aku memasukkan ponsel kembali ke tas.
“Sudah cukup.”
Aku menatap Nadya.
“Nadya, aku minta maaf karena situasi seperti ini terjadi di hari pernikahanmu.”
Dia menggigit bibir.
Aku mengambil satu amplop putih kecil dari dalam tas.
“Kado dariku untukmu sebenarnya bukan uang itu.”
Bude langsung menatap.
Aku memberikan amplop putih tersebut kepada Nadya.
Di dalamnya ada voucher menginap dua malam di Yogyakarta untuk Nadya dan Arga, hadiah pribadi yang kubeli dua minggu sebelumnya.
Bukan barang mewah.
Tapi aku membelinya karena Nadya pernah mengatakan ingin beristirahat sebentar setelah berbulan-bulan mengurus pernikahan.
“Kado ini untuk kalian berdua.”
Nadya menatapku dengan mata berkaca-kaca.
“Terima kasih, Kak.”
Bude langsung merebut perhatian.
“Kalau punya hadiah lain kenapa bikin sandiwara uang seribuan?”
Aku menoleh kepadanya.
“Karena hadiah ini untuk Nadya.”
Aku menunjuk tumpukan uang dalam tangannya.
“Yang itu untuk menjawab Bude.”
Beberapa orang menahan napas.
Aku turun dari pelaminan bersama ibu.
Kupikir masalah selesai sampai di situ.
Ternyata belum.
Sekitar lima belas menit kemudian, ketika aku dan ibu duduk di meja kerabat, Bude datang.
Tidak ada lagi senyum.
Dia meletakkan amplop cokelat beserta uang Rp101.000 di depan piringku.
“Ambil kembali.”
Aku melihatnya.
“Kenapa?”
“Aku tidak butuh uang penghinaanmu.”
Aku mengangkat alis.
“Tiga tahun lalu ketika Ibu merasa dihina, Bude bilang kalau tidak suka, uangnya boleh dikembalikan.”
“Aku bilang ambil!”
Beberapa orang di meja berhenti makan.
Aku menarik amplop itu perlahan.
“Baik.”
Bude tampak sedikit kaget karena aku menerimanya tanpa membantah.
Aku memasukkan uang tersebut ke tas.
Lalu berkata,
“Nanti aku masukkan ke kotak donasi masjid dekat rumah.”
Wajahnya semakin merah.
“Jangan sok suci.”
Ibu akhirnya bicara.
“Mira.”
Suara ibu tidak keras.
Tapi berbeda dari tiga tahun lalu.
Tidak gemetar.
“Kirana sudah diam tiga tahun.”
Bude menatap kakaknya sendiri.
“Mbak membela anak Mbak?”
Ibu tersenyum pahit.
“Kalau bukan saya, siapa?”
Kalimat sederhana itu membuatku menelan ludah.
Selama ini ibu selalu menjadi orang pertama yang mengatakan, sudahlah, namanya juga keluarga.
Hari itu untuk pertama kalinya dia tidak menyuruhku mengalah.
Bude menyilangkan tangan.
“Baik.”
Dia tertawa pendek.
“Jadi sekarang kalian puas mempermalukan aku di pernikahan anakku?”
Ibu menjawab,
“Kamu yang membuka amplop itu di depan orang.”
Bude terdiam.
Tante Rini yang duduk dua kursi dari kami ikut mengangguk.
“Betul, Mira. Kalau tadi langsung diberikan ke Nadya, tidak akan ada kejadian seperti ini.”
“Semua orang sekarang membelanya?”
“Bukan membela.”
Pakde Harno akhirnya ikut bicara.
“Kamu memang terlalu sering bicara soal nominal sumbangan.”
Bude membelalak.
“Pakde juga?”
Pakde Harno menghela napas.
“Kemarin kamu bahkan telepon saya dua kali memastikan saya jadi kasih dua juta atau tidak.”
Suasana meja berubah.
Ternyata bukan hanya aku.
Tante Rini mengangkat kepala.
“Kamu juga kirim daftar nominal ke saya.”
Sepupu lain yang duduk dekat kami tertawa hambar.
“Ke saya malah dikasih tahu kalau minimal keluarga dekat satu juta.”
Bude memandang satu per satu wajah mereka.
Untuk pertama kalinya, dia tampak kehilangan kendali atas percakapan.
Dia berusaha menyerangku lagi.
“Setidaknya mereka menepati ucapan. Kamu sudah dicatat sepuluh juta.”
Aku langsung mengeluarkan ponsel.
“Dicatat oleh siapa?”
Bude membeku.
“Kamu sendiri kirim daftarnya.”
“Betul.”
“Jadi?”
“Aku tidak pernah setuju.”
Aku membuka tangkapan layar pesan pribadi darinya.
Bude tulis sepuluh juta dulu ya supaya kelihatan bagus. Kamu pasti tidak akan bikin Bude malu di depan keluarga calon besan.
Aku meletakkan layar ponsel menghadap ke atas.
Tante Rini membacanya.
Pakde Harno ikut melihat.
Bude langsung mengambil ponselku.
Aku lebih cepat menariknya kembali.
“Kirana!”
“Ini ponselku.”
“Apa perlu semua masalah keluarga kamu sebarkan?”
Aku menatapnya.
“Yang menyebarkan angka sepuluh juta ke grup keluarga bukan aku.”
Bude tidak dapat menjawab.
Nadya tiba-tiba muncul dari arah pelaminan.
Dia mungkin mendengar suara ibunya.
“Ma, cukup.”
Bude menoleh.
“Kamu kembali ke pelaminan.”
“Orang-orang lihat.”
“Justru karena orang-orang lihat!”
Suara Bude kembali naik.
“Sekarang keluarga kita kelihatan seperti apa gara-gara dia?”
Nadya menatapku.
“Kak Kirana tidak pernah bilang mau kasih sepuluh juta?”
Aku menggeleng.
“Tidak pernah.”
Nadya menoleh kepada ibunya.
“Tapi Mama bilang ke aku Kak Kirana sendiri yang menawarkan.”
Aula terasa semakin senyap.
Bude kehilangan kata-kata.
Aku juga terkejut.
“Nadya…”
Dia menatapku.
“Mama bilang anggaran dekorasi bisa ditambah karena Kak Kirana akan bantu sepuluh juta.”
Aku perlahan menoleh ke arah Bude.
Jadi bukan sekadar pamer.
Namaku benar-benar dipakai sebagai sumber dana.
Bude segera berkata,
“Sudah, itu hanya perhitungan keluarga.”
Nadya terlihat panik.
“Ma, uang dari Kak Kirana belum masuk berarti pembayaran dekorasi bagaimana?”
Bude menelan ludah.
“Kamu tidak perlu pikirkan.”
“Bukannya hari ini harus lunas?”
“Nadya.”
“Mama bilang semua sudah dibayar.”
“Sudah!”
Terlambat.
Seorang pria berkemeja hitam dengan kartu identitas vendor berjalan mendekati kami.
Aku mengenalinya sebagai koordinator acara yang sejak tadi mondar-mandir dekat panggung.
Wajahnya tegang.
“Permisi, Bu Mira.”
Bude langsung berubah gugup.
“Nanti saja.”
Pria itu tidak pergi.
“Maaf, Bu. Dari pihak kami sudah mencoba menghubungi sejak tadi pagi.”
“Aku bilang nanti.”
“Tapi bagian keuangan meminta kepastian sebelum acara sesi sore dimulai.”
Nadya memandang ibunya.
“Kepastian apa?”
Pria itu ragu sejenak.
Kemudian menjawab,
“Sisa pembayaran dekorasi dan katering, Mbak.”
Wajah Nadya memucat.
“Berapa?”
Bude buru-buru memotong.
“Tidak perlu dibahas di sini!”
Namun pria tersebut sudah membuka ponselnya.
“Sisa keseluruhannya Rp12.400.000.”
Aku merasakan ibu di sampingku menegang.
Nadya menatap ibunya seolah tidak mengenal perempuan di depannya.
“Tadi Mama bilang semuanya sudah lunas.”
Bude tidak menjawab.
Koordinator acara kemudian menatapku.
“Maaf, Mbak Kirana?”
Aku mengangguk pelan.
“Iya.”
Wajah pria itu seperti sedikit lega.
“Syukurlah.”
Aku mengernyit.
“Kenapa?”
Dia memperlihatkan percakapan WhatsApp di ponselnya.
Nama pengirimnya jelas.
Mira Pratiwi.
Dan di sana terdapat satu pesan yang dikirim dua hari sebelumnya.
Tenang, sisa Rp12,4 juta nanti dibayar keponakan saya, Kirana, begitu sampai di gedung. Dia bagian keuangan perusahaan di Jakarta.
Aku menatap layar itu lama.
Lalu menatap Bude.
Ternyata Rp10 juta di daftar keluarga baru permulaan.
Tanpa pernah bertanya kepadaku, Bude Mira bahkan sudah menjadikan namaku jaminan pembayaran utang pernikahan putrinya.

