Bagian 4 — Malam Mereka Menuntut Uang, Aku Mengeluarkan Sertifikat Rumah dan Memilih Hidupku Sendiri
Kalimat Bu Yuni menggantung di udara.
“Kalau bukan karena Dimas menikahimu, kamu pikir rumah sebesar ini akan ada gunanya untuk siapa?”
Tidak ada yang bergerak.
Sendok berhenti di udara.
Beberapa sepupu menunduk.
Tante Mira yang tadi paling keras bicara mendadak pura-pura sibuk merapikan jilbabnya.
Aku menatap Bu Yuni.
Aneh sekali.
Selama hampir tiga tahun menikah, aku selalu menganggap tidak penting menjelaskan kepada keluarga besar siapa membeli apa.
Aku pikir suami istri tidak perlu berdiri di depan orang lain sambil menyebut,
“Ini milikku.”
“Itu milikmu.”
Aku salah.
Bukan karena pernikahan harus menjadi perlombaan kepemilikan.
Melainkan karena ketika kita terus membiarkan orang lain menikmati sesuatu tanpa tahu batas, sebagian orang akan mulai percaya bahwa semuanya memang hak mereka.
Aku menarik sebuah kursi.
Lalu duduk.
“Bu.”
Suara Bu Yuni masih tinggi.
“Apa?”
“Rumah ini saya beli dua tahun sebelum kenal Dimas.”
Hening.
Bu Yuni mengerjap.
Dimas langsung memotong.
“Laras.”
Aku mengangkat tangan.
“Biar saya selesai.”
Tante Mira terlihat kaget.
Aku membuka map hitam.
Di dalamnya ada salinan dokumen pembelian rumah.
Bukan karena sejak awal aku berniat mempermalukan siapa pun.
Seminggu terakhir aku memang sedang merapikan seluruh dokumen keuanganku.
Aku mengeluarkan fotokopi halaman yang menunjukkan tanggal transaksi.
Aku meletakkannya di meja.
“DP rumah ini berasal dari tabungan saya dan bantuan almarhum Papa.”
Aku mengambil kertas berikutnya.
“Cicilannya sampai sekarang juga dibayar dari rekening saya.”
Salah satu paman Dimas berdeham.
Nisa menatap kakaknya.
“Mas?”
Dimas menunduk.
Dia tahu.
Tentu saja dia tahu.
Saat menikah, dia pindah ke rumah ini membawa pakaian, beberapa buku, televisi dari apartemen sewanya, dan sebuah meja kerja.
Aku tidak pernah menjadikannya masalah.
Kami menikah.
Kupikir tempat tinggalku otomatis menjadi rumah kami.
Kesalahan terbesar bukan membaginya.
Kesalahan terbesar adalah membiarkan orang lain mengubah kemurahan hati menjadi bukti bahwa mereka memiliki hak.
Bu Yuni akhirnya bicara.
“Terus kenapa kalau kamu yang beli? Dimas suamimu.”
“Betul.”
“Kalau sudah menikah jangan pisah-pisahkan seperti itu!”
Aku mengangguk.
“Setuju.”
Aku mengambil catatan transfer.
“Makanya selama ini tidak pernah saya pisahkan.”
Satu demi satu aku letakkan bukti di meja.
“Cicilan rumah.”
“Listrik.”
“Internet.”
“Iuran.”
“ART.”
“Belanja dapur.”
“Semua saya bayar tanpa pernah bilang kepada Tante, Om, atau sepupu-sepupu di sini.”
Aku memandang sekeliling.
“Karena saya pikir ini urusan rumah tangga saya.”
Tidak ada yang menyela.
Aku kemudian menunjuk buku cokelat milik Bu Yuni.
“Tapi ketika urusan rumah tangga saya dibawa ke grup keluarga untuk menggambarkan saya sebagai menantu pelit, saya rasa informasi yang disampaikan harus lengkap.”
Nisa membuka mulut.
“Kak, aku tidak pernah bilang Kak Laras pelit.”
Aku menatapnya.
“Akun WhatsApp kamu yang menulis ‘orang punya rumah bagus tapi hatinya sempit’ dipakai siapa?”
Wajahnya langsung merah.
“Itu bukan khusus buat Kakak.”
“Baik.”
Aku mengangguk.
“Berarti kebetulan saja ditulis dua jam setelah aku minta usaha kamu berhenti memakai bahan yang kubayar.”
Tante Mira menunduk.
Bu Yuni mencoba mengalihkan.
“Masalahnya cuma makanan. Kenapa rumah dibawa-bawa?”
Aku tersenyum tipis.
“Ibu yang membawa rumah.”
Ia terdiam.
“Barusan Ibu bilang rumah ini ada gunanya karena saya menikah dengan Dimas.”
Aku menunjuk dapur.
“Sama seperti Ibu dulu bilang uang belanja itu ‘uang rumah’, padahal sumbernya sebagian besar dari saya.”
Bu Yuni mulai berkaca-kaca.
“Ibu tidak pernah menganggap kamu orang luar.”
Aku tidak menjawab cepat.
Aku membiarkan kalimat itu berdiri beberapa detik.
Lalu berkata,
“Selama enam hari berturut-turut Ibu memasak dua porsi di rumah yang cicilannya saya bayar.”
Ruangan kembali diam.
“Ibu tahu saya pulang.”
“Kadang saya kirim pesan.”
“Kadang sepatu saya bahkan sudah ada di depan.”
“Tapi Ibu memasak untuk Ibu dan anak Ibu.”
Bu Yuni membuka mulut.
Aku melanjutkan.
“Waktu saya makan di luar, saya dibilang boros.”
“Waktu saya berhenti bayar dapur, saya dibilang perhitungan.”
“Waktu saya bertanya ke mana uang pergi, saya dibilang tidak ikhlas.”
“Sekarang ketika bukti ada di meja, saya tetap dianggap pihak yang mempermalukan keluarga.”
Aku melihat Dimas.
“Mas, ada yang mau kamu tambahkan?”
Dimas tampak seperti seseorang yang berharap lantai bisa terbuka dan menelannya.
Akhirnya dia berkata,
“Semua sudah terlanjur panas. Kita bahas nanti saja.”
Aku tertawa kecil.
“Nanti kapan?”
“Setelah keluarga pulang.”
Aku menggeleng.
“Tidak.”
Nada suaranya berubah.
“Laras.”
“Selama berbulan-bulan aku diminta diam karena katanya ini urusan keluarga.”
Aku menunjuk semua orang di meja.
“Sekarang keluarga sudah ada di sini.”
“Silakan dibahas.”
Beberapa orang terlihat sangat tidak nyaman.
Paman Arif akhirnya berdiri.
“Sudah, mungkin kita sebaiknya pulang.”
Aku mengangguk.
“Tentu.”
Tidak ada yang kutahan.
Aku bahkan membantu membukakan pintu.
Satu per satu mereka keluar.
Tidak ada lagi Tante Mira yang ingin menasihatiku soal rezeki.
Tidak ada yang membahas menantu perhitungan.
Sebelum pulang, Tante Mira sempat mendekat dan berbisik,
“Tante tidak tahu ceritanya begitu.”
Aku menjawab,
“Makanya lain kali tanya sebelum menghakimi.”
Dia tidak membalas.
Sekitar pukul sembilan malam, rumah kembali sunyi.
Tersisa aku, Dimas, Bu Yuni, dan Nisa.
Nisa membereskan wadah makanan dengan kasar.
Bu Yuni duduk sambil menangis.
Dimas berdiri di tengah ruang makan.
“Puas?”
Aku menatapnya.
“Dengan apa?”
“Semua keluargaku sekarang malu.”
“Karena aku menunjukkan bukti?”
“Karena kamu harus membuka semuanya di depan mereka.”
Aku mengangguk pelan.
“Mas, mereka tahu masalah ini dari siapa?”
Dimas terdiam.
“Bukan dari aku.”
Aku menunjuk Bu Yuni dan Nisa.
“Mereka sudah lebih dulu membawa ceritanya keluar.”
Nisa langsung menyahut.
“Kakak memang keterlaluan. Mama cuma bantu aku.”
Aku menatapnya.
“Dan aku sudah bilang bantuan boleh.”
“Kenapa sekarang jadi masalah?”
“Karena bantuan itu memakai uangku tanpa izin.”
Nisa mencibir.
“Cuma beberapa juta.”
Aku mengangguk.
“Bagus.”
Aku mengambil buku catatan dari meja dan menyodorkannya.
“Kalau cuma beberapa juta, ganti.”
Dia membeku.
“Apa?”
“Empat bulan bahan baku.”
Aku membuka halaman-halamannya.
Bu Yuni ternyata sangat rapi mencatat.
Beras.
Ayam.
Minyak.
Bumbu.
Telur.
Tepung.
Gas.
Sebagian ada angka jelas.
Sebagian ditulis “ambil dapur”.
Aku menghitung kasar.
“Dari catatan Ibu sendiri, sekitar Rp11.800.000 bahan rumah dipakai untuk usaha.”
Nisa langsung protes.
“Tidak mungkin sebanyak itu!”
“Hitung sendiri.”
Aku mendorong buku ke arahnya.
“Kalau salah, tunjukkan.”
Dia membolak-balik halaman.
Semakin lama wajahnya semakin berubah.
Bu Yuni berkata,
“Tidak perlu dibayar. Mama yang tanggung.”
Aku menoleh kepadanya.
“Pakai uang siapa?”
Dia diam.
Pertanyaan sederhana.
Tapi akhirnya semua topeng jatuh karena pertanyaan sederhana.
Bu Yuni tidak punya penghasilan tetap.
Uang pensiunan almarhum suaminya kecil.
Sejak pindah ke rumah kami, uang pribadinya nyaris tidak dipakai untuk kebutuhan sehari-hari.
Sebagian besar kebutuhannya memang kami tanggung.
Kalau dia mengatakan “Mama yang bayar”, pada akhirnya tetap akan kembali ke rekening Dimas.
Atau rekeningku.
Dimas menghela napas.
“Sudah. Aku yang ganti.”
Aku menatapnya.
“Dari rekening mana?”
“Rekeningku.”
“Silakan.”
Dia membuka aplikasi bank.
Kemudian jarinya berhenti.
Aku memperhatikan wajahnya.
“Kenapa?”
“Tidak ada apa-apa.”
“Transfer.”
“Besok.”
Aku mulai curiga.
“Kenapa besok?”
Dimas meninggikan suara.
“Ya karena aku bilang besok!”
Aku berdiri.
“Buka saldo.”
“Laras, jangan keterlaluan.”
“Kamu bilang mau bayar. Aku cuma ingin tahu bisa atau tidak.”
Wajahnya menegang.
Akhirnya ia menunjukkan layar.
Saldo rekening utamanya hanya sekitar Rp3.200.000.
Aku tidak langsung bicara.
Gaji Dimas cukup baik.
Sekitar Rp18.000.000 sebulan.
Cicilan mobil Rp4.200.000.
Pengeluaran sehari-hari tentu ada.
Tapi seharusnya tidak sampai saldo tersisa begitu kecil.
“Uangmu ke mana?”
“Bukan urusanmu.”
Aku hampir tertawa.
“Lima menit lalu uangku urusan seluruh keluarga.”
Dia tidak menjawab.
Aku mengambil ponsel.
“Baik. Tidak perlu.”
Aku berjalan menuju kamar.
Dimas mengikutiku.
“Laras!”
Aku masuk ke ruang kerja.
Ada satu hal yang belum kukatakan.
Setelah menemukan catatan dapur beberapa hari lalu, aku mulai mengecek bukan hanya pengeluaranku.
Aku juga mengingat berbagai transfer yang diminta Dimas.
Dua bulan sebelumnya dia meminjam Rp15.000.000.
Katanya untuk menutup biaya perbaikan mobil yang tidak ditanggung asuransi.
Aku memberikannya.
Bulan sebelumnya Rp8.000.000.
Katanya untuk biaya sertifikasi kerja.
Aku juga memberi.
Malam itu aku membuka email lamanya yang tersinkron di laptop keluarga.
Aku tidak membuka pesan pribadi.
Aku hanya mencari invoice bengkel yang pernah dia minta aku unduh.
Invoice itu ada.
Biaya perbaikan mobil hanya Rp4.600.000.
Bukan lima belas juta.
Tanganku menjadi dingin.
Aku membuka folder unduhan.
Di sana ada screenshot transfer.
Rp7.500.000.
Ke rekening Nisa.
Keterangan:
“Tambah modal.”
Ada transfer lain.
Rp4.000.000.
Ke rekening Bu Yuni.
Keterangan:
“Arisan.”
Aku duduk lama.
Jadi uang dapur bukan satu-satunya.
Dimas juga menggunakan uang yang dipinjam dariku untuk membangun citra sebagai anak dan kakak yang mampu.
Saat ia masuk ke ruang kerja, aku langsung memutar laptop ke arahnya.
“Apa ini?”
Wajahnya seketika kosong.
Aku menunjuk transfer.
“Katamu mobil.”
“Laras…”
“Rp7.500.000 ke Nisa.”
Dia diam.
“Empat juta ke Mama.”
Tetap diam.
“Mobilmu cuma habis Rp4.600.000.”
Aku menahan napas.
“Dari Rp15.000.000 yang kupinjamkan.”
“Mana sisanya?”
Dimas duduk.
Untuk pertama kalinya malam itu, bahunya terlihat turun.
“Aku cuma mau bantu mereka.”
Aku memejamkan mata sesaat.
“Kenapa pakai kebohongan?”
“Karena kalau aku bilang untuk Nisa, kamu pasti tanya banyak.”
“Karena itu uangku.”
“Aku tahu.”
“Tidak.”
Aku menggeleng.
“Kalau kamu tahu, kamu tidak akan lakukan.”
Dimas mendekat.
“Aku akan ganti.”
“Kapan?”
“Pelan-pelan.”
“Kapan?”
Dia tidak bisa menjawab.
Aku memandang laki-laki yang sudah hampir tiga tahun menjadi suamiku.
Aku tidak membencinya.
Itulah yang paling menyakitkan.
Kalau aku membenci Dimas, keputusan berikutnya mungkin jauh lebih mudah.
Aku masih ingat lelaki yang menungguku di IGD ketika ibuku jatuh.
Aku masih ingat dia memasak bubur ketika aku demam.
Aku masih ingat perjalanan pertama kami ke Yogyakarta.
Tapi manusia tidak dinilai hanya dari hari-hari baiknya.
Kadang karakter justru terlihat ketika ia harus memilih siapa yang boleh kecewa.
Selama ini setiap kali ada benturan, Dimas selalu memilih satu orang yang harus mengalah.
Aku.
Bukan karena aku paling salah.
Tapi karena aku dianggap paling mampu menelan semuanya.
Aku menutup laptop.
“Mas.”
Dia menatapku.
“Mulai malam ini kita tidur terpisah.”
Wajahnya berubah.
“Jangan lebay.”
“Aku serius.”
“Hanya gara-gara uang?”
Aku menggeleng.
“Karena kepercayaan.”
Dimas berdiri.
“Kamu mau cerai?”
“Aku belum bilang cerai.”
“Terus apa?”
“Aku butuh melihat apakah kamu masih bisa menganggapku pasangan, bukan rekening cadangan.”
Dia mengusap wajah.
“Aku minta maaf.”
Itu pertama kalinya kata tersebut keluar.
Tapi anehnya, aku tidak merasa lega.
Aku bertanya,
“Untuk apa?”
Dia terlihat bingung.
“Apa maksudmu?”
“Kamu minta maaf karena ketahuan atau karena sadar salah?”
Dimas tidak menjawab.
Aku sudah mendapatkan jawabannya.
Malam itu dia tidur di sofa.
Bu Yuni tidur di kamar tamu.
Aku mengunci kamar.
Keesokan pagi aku membuat aturan tertulis.
Bukan kontrak.
Hanya daftar sederhana yang kutempel di kulkas.
Tidak ada penggunaan uang pribadi pasangan tanpa persetujuan.
Semua pengeluaran rumah dibagi dan dicatat.
Dapur rumah tidak digunakan untuk usaha tanpa kesepakatan.
Tidak ada lagi pembicaraan masalah rumah tangga ke keluarga besar tanpa sepengetahuan kedua pihak.
Bu Yuni tinggal sementara sampai akhir bulan sambil menentukan tempat tinggal berikutnya.
Poin kelima membuat rumah meledak.
Bu Yuni membacanya lalu berteriak,
“Jadi kamu mengusir Ibu?”
Aku berdiri di depan kulkas.
“Saya meminta Ibu mencari tempat tinggal yang lebih cocok.”
“Ini rumah anak saya!”
Aku menjawab pelan,
“Bukan.”
Kalimat itu terdengar keras justru karena aku mengucapkannya tanpa membentak.
Bu Yuni menangis.
Dimas keluar kamar.
“Cabut tulisan itu.”
“Tidak.”
“Mama tidak ke mana-mana.”
“Kalau begitu kita perlu membahas alternatif lain.”
“Apa?”
Aku menatapnya.
“Kamu ikut tinggal bersama Mama.”
Dia terpaku.
Mungkin untuk pertama kalinya Dimas sadar setiap pembelaan memiliki biaya.
Selama ini mudah berkata,
“Kasihan Mama.”
Karena yang menanggung bukan dia.
Mudah berkata,
“Bantu Nisa.”
Karena modalnya bukan dari rekeningnya.
Mudah berkata,
“Jangan hitung-hitungan.”
Karena orang lain yang membayar.
Sekarang aku mengembalikan pilihan itu kepadanya.
Silakan merawat ibu.
Silakan membantu adik.
Silakan menjadi anak yang berbakti.
Tetapi gunakan uangmu sendiri.
Gunakan waktumu sendiri.
Gunakan ruang hidupmu sendiri.
Dua hari kemudian Dimas meminta bicara.
Kami duduk di ruang tamu.
Dia berkata,
“Aku sudah cari kontrakan kecil buat Mama.”
Aku mengangguk.
“Bagus.”
“Dekat rumah Nisa.”
“Lebih bagus.”
Wajahnya tampak lelah.
“Tapi aku akan bantu bayar.”
“Itu keputusanmu.”
Dia seperti menunggu aku melarang.
Aku tidak melakukannya.
Aku tidak pernah ingin memutus hubungan seorang anak dengan ibunya.
Yang kuinginkan hanya satu.
Jangan lagi menyebut pengorbananku sebagai kewajiban.
Bu Yuni pindah seminggu kemudian.
Hari dia pergi, ia hampir tidak bicara kepadaku.
Nisa datang membawa mobil sewaan.
Kotak-kotak dipindahkan.
Peralatan memasak milik Bu Yuni dibawa.
Sebelum keluar, Bu Yuni berdiri di pintu dapur.
“Laras.”
Aku menoleh.
Dia berkata,
“Kamu menang sekarang.”
Aku menggeleng.
“Ini bukan pertandingan, Bu.”
“Kalau bukan, kenapa Ibu harus pergi?”
Aku menatapnya beberapa detik.
“Karena selama tinggal di sini, Ibu tidak pernah benar-benar menganggap saya bagian dari rumah.”
Wajahnya berubah.
Aku melanjutkan,
“Tapi Ibu ingin saya terus membiayainya.”
Ia tidak menjawab.
Lalu pergi.
Rumah menjadi sangat sunyi setelah itu.
Untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu, aku memasak makan malam.
Hanya satu porsi.
Nasi hangat.
Tumis buncis.
Telur balado.
Aku duduk sendiri.
Aneh.
Satu piring di meja malam itu tidak membuatku sedih.
Karena satu piring itu adalah pilihanku.
Bukan pesan bahwa aku tidak diinginkan.
Hubunganku dengan Dimas belum membaik.
Kami mencoba konseling pasangan.
Tiga kali.
Pada sesi pertama, Dimas mengatakan,
“Aku selalu merasa harus terlihat mampu di depan keluarga.”
Konselor bertanya,
“Kenapa?”
Dia diam lama.
“Karena sejak Papa meninggal, Mama selalu bilang aku satu-satunya laki-laki yang bisa diandalkan.”
Untuk pertama kalinya aku memahami sesuatu.
Dimas selama ini tidak hanya memanjakan keluarganya.
Ia terperangkap dalam kebutuhan untuk menjadi penyelamat mereka.
Masalahnya, ia membangun peran itu menggunakan tenaga dan uang orang lain.
Konselor bertanya kepadaku,
“Apakah Anda ingin mempertahankan pernikahan ini?”
Aku menjawab jujur.
“Aku ingin melihat apakah orang yang menikah denganku masih ada.”
Dimas menunduk.
Dua bulan kami mencoba.
Dia mulai membayar separuh listrik.
Membayar sebagian kebutuhan rumah.
Ia mengembalikan uang pinjaman sedikit demi sedikit.
Awalnya aku berpikir mungkin kami masih bisa memperbaiki semuanya.
Lalu sesuatu terjadi.
Suatu malam Nisa menelepon.
Usaha nasi kotaknya kesulitan.
Harga bahan naik.
Pelanggan berkurang.
Dia membutuhkan Rp10.000.000 untuk memenuhi pesanan sebuah kantor.
Dimas datang kepadaku.
Bukan untuk meminta uang.
Setidaknya tidak langsung.
Dia duduk di meja makan.
“Nisa dapat order besar.”
Aku tetap makan.
“Bagus.”
“Tapi modalnya kurang.”
Aku melihatnya.
Dimas cepat-cepat menambahkan,
“Aku tidak minta kamu bantu.”
“Lalu?”
“Aku cuma cerita.”
Aku mengangguk.
“Semoga dia dapat solusi.”
Dia diam.
Lima menit.
Sepuluh menit.
Akhirnya dia berkata,
“Kalau kesempatan ini lewat, sayang.”
Aku meletakkan sendok.
“Mas.”
“Iya?”
“Kalau kamu mau pinjamkan uangmu, silakan.”
“Tabunganku belum cukup.”
“Berarti belum bisa.”
“Nisa nanti ganti.”
Aku tersenyum kecil.
“Dulu juga begitu.”
Wajahnya langsung menegang.
“Aku kan cuma ngobrol.”
“Dan aku cuma jawab.”
Dia berdiri.
Malam itu kami bertengkar lagi.
Bukan tentang Rp10.000.000.
Tentang pola yang ternyata tidak pernah benar-benar berubah.
Besoknya aku membuka rekening bersama yang selama ini kami gunakan untuk beberapa kebutuhan.
Ada penarikan Rp5.000.000.
Dilakukan dua hari sebelumnya.
Aku bertanya.
Dimas mengatakan itu untuk “keperluan mendadak”.
Setelah didesak, dia mengaku uang itu dikirim ke Nisa.
Lagi.
Aku tidak marah.
Tidak menangis.
Tidak berteriak.
Aku hanya merasa sesuatu di dalam diriku akhirnya padam.
Malam itu aku mencetak formulir konsultasi perceraian.
Dimas pulang dan melihatnya di meja.
Wajahnya pucat.
“Kamu serius?”
Aku mengangguk.
“Serius.”
“Aku cuma pakai lima juta.”
Aku menatapnya.
“Dan itulah kenapa kita selesai.”
Dia seperti tidak mengerti.
“Laras, lima juta tidak sebanding dengan pernikahan kita.”
“Benar.”
Aku mengangguk.
“Karena yang menghancurkan pernikahan kita bukan lima juta.”
“Lalu apa?”
“Fakta bahwa setelah semua yang terjadi, kamu masih yakin kamu berhak mengambil keputusan menggunakan uang bersama tanpa persetujuanku.”
Dimas duduk perlahan.
“Aku bisa kembalikan.”
“Aku tahu.”
“Aku bisa berubah.”
“Aku sudah memberimu kesempatan.”
Dia menutup wajah.
Aku tetap duduk.
Tidak ada kemenangan.
Tidak ada kepuasan melihatnya hancur.
Yang ada hanya kelelahan yang akhirnya memiliki nama.
Cukup.
Proses kami tidak selesai dalam semalam.
Ada mediasi.
Ada pembicaraan panjang.
Ada hari ketika Dimas marah.
Ada hari ketika ia meminta kesempatan.
Ada hari ketika aku hampir mundur karena mengingat masa-masa baik kami.
Tetapi setiap kali ragu, aku mengingat sesuatu yang sederhana.
Dua piring di meja.
Bukan karena aku ingin terus menyimpan dendam soal nasi.
Melainkan karena dua piring itu adalah bentuk paling kecil dari pola yang lebih besar.
Aku selalu diminta memahami.
Mereka tidak pernah diminta mempertimbangkanku.
Aku selalu diminta memberi.
Mereka marah ketika aku bertanya.
Aku selalu diminta menjaga nama baik keluarga.
Mereka bebas membicarakanku di belakang.
Akhirnya kami sepakat berpisah.
Karena rumah sudah kumiliki sebelum pernikahan dan sejak awal tercatat atas namaku, Dimas tidak mempermasalahkan rumah dalam kesepakatan kami.
Mobil tetap dia bawa.
Barang pribadinya ia pindahkan.
Beberapa perabot yang kami beli bersama dibagi secara damai.
Hari terakhirnya di rumah, Dimas berdiri cukup lama di dapur.
Aku sedang menuang kopi.
Dia berkata,
“Aku baru ngerti sekarang.”
Aku tidak menoleh.
“Mengerti apa?”
“Waktu kamu bilang ini bukan soal nasi.”
Aku berhenti menuang.
Dimas tertawa pahit.
“Aku kira kamu membesar-besarkan.”
Aku menatapnya.
“Sekarang?”
“Sekarang aku tinggal sendiri beberapa minggu dan harus bayar semuanya sendiri.”
Ia menghela napas.
“Aku baru sadar banyak sekali yang dulu kamu tanggung tanpa pernah bicara.”
Aku tidak menjawab.
Dia melanjutkan,
“Aku juga baru sadar Mama selalu menganggap bantuan sebagai sesuatu yang pasti ada.”
Aku bersandar ke meja.
“Bukan cuma Mama.”
Dimas mengangguk.
“Iya.”
Dia menatap lantai.
“Aku juga.”
Beberapa detik kami diam.
Lalu dia berkata,
“Maaf.”
Kali ini aku tidak bertanya untuk apa.
Aku bisa mendengar perbedaannya.
Bukan permintaan maaf untuk menghentikan pertengkaran.
Bukan permintaan maaf agar keadaan kembali nyaman.
Dia terlihat benar-benar paham.
Sayangnya, pemahaman tidak selalu berarti hubungan harus disambung kembali.
Kadang seseorang belajar setelah semuanya terlambat.
Dan kita tidak berkewajiban menjadi hadiah atas pelajaran itu.
Aku berkata,
“Aku terima maafmu.”
Matanya terangkat.
“Tapi keputusanmu tetap?”
“Iya.”
Dia mengangguk.
“Baik.”
Untuk pertama kalinya, Dimas menghormati jawabanku tanpa mencoba mengubahnya.
Setelah semuanya selesai, hidupku menjadi jauh lebih sederhana.
Tagihan listrik turun hampir separuh.
Belanja bulanan bahkan tidak sampai sepertiga dari uang yang dulu kukirim kepada Bu Yuni.
Aku kembali makan di rumah.
Kadang memasak.
Kadang pesan makanan.
Kadang hanya membuat mi rebus dengan telur dan irisan cabai.
Tidak ada lagi orang yang menghitung berapa lauk yang kuambil.
Tidak ada lagi yang mengatakan aku boros ketika membeli makanan dengan uangku sendiri.
Beberapa bulan kemudian aku bertemu Tante Mira di sebuah acara keluarga teman.
Dia kelihatan canggung.
Setelah basa-basi, ia berkata,
“Bu Yuni sekarang tinggal dekat Nisa.”
Aku mengangguk.
“Semoga sehat.”
“Nisa berhenti jual nasi kotak.”
Aku tidak bertanya.
Tapi Tante Mira melanjutkan sendiri.
“Katanya margin terlalu kecil kalau semua bahan harus beli sendiri.”
Aku hampir tersenyum.
Jadi itulah jawabannya.
Bisnis yang dulu terlihat menguntungkan ternyata hanya tampak menguntungkan karena sebagian biaya disubsidi diam-diam oleh orang lain.
Tante Mira lalu berkata,
“Dimas sekarang lebih jarang ikut kumpul.”
“Kenapa?”
“Katanya lagi beresin keuangan.”
Aku mengangguk.
Itu baik.
Aku tidak membutuhkan mereka hancur.
Aku hanya ingin mereka akhirnya membayar harga dari pilihan mereka sendiri.
Dan itu terjadi.
Dimas menjual mobilnya setahun kemudian karena cicilannya terlalu berat.
Dia membeli mobil bekas yang lebih sederhana.
Nisa kembali bekerja di kantor administrasi sambil menerima pesanan kecil hanya ketika punya modal.
Bu Yuni, menurut kabar terakhir, mulai menerima bahwa anak-anaknya tidak bisa terus menjadi sumber dana tanpa batas.
Aku?
Aku tetap tinggal di rumah yang sama.
Tapi rasanya benar-benar berbeda.
Aku mengganti meja makan.
Meja lama kuberikan kepada tetangga yang baru pindah.
Meja baru berbentuk bulat, kayu sederhana dengan empat kursi.
Temanku, Sinta, tertawa saat pertama kali melihatnya.
“Kenapa empat kursi? Tinggal sendiri.”
Aku sedang membawa semangkuk sup.
Aku menjawab,
“Supaya kalau ada orang datang, semua kebagian tempat.”
Dia tertawa.
Aku juga.
Malam itu kami makan bersama.
Sinta.
Aku.
Ibuku yang kebetulan menginap.
Dan keponakanku yang sibuk mengambil kerupuk.
Empat kursi terisi.
Empat piring tersedia.
Tidak ada siapa pun yang harus bertanya,
“Memangnya aku dapat bagian?”
Saat membereskan meja, aku tiba-tiba teringat malam ketika Bu Yuni pertama kali hanya menyiapkan dua piring.
Dulu aku merasa dipermalukan.
Sekarang aku justru bersyukur melihatnya.
Karena terkadang sebuah rumah tidak menunjukkan siapa yang mencintaimu lewat kata-kata besar.
Ia menunjukkannya melalui hal-hal kecil.
Siapa yang mengingat ada satu orang lagi ketika memasak nasi.
Siapa yang memikirkanmu ketika mengambil keputusan.
Siapa yang bertanya sebelum memakai sesuatu yang menjadi milikmu.
Siapa yang membelamu saat orang lain merendahkanmu.
Dan siapa yang hanya mengingat keberadaanmu ketika tagihan jatuh tempo.
Aku pernah berpikir mempertahankan keluarga berarti terus mengalah.
Ternyata aku salah.
Keluarga yang sehat bukan tempat satu orang terus berkorban supaya semua orang lain tetap nyaman.
Keluarga seharusnya menjadi tempat di mana bahkan ketika makanan hanya tinggal sedikit, seseorang akan berkata,
“Kita bagi.”
Bukan,
“Kamu cari sendiri.”
Sekarang, setiap kali aku menanak nasi, aku selalu membuat sedikit lebih banyak.
Bukan karena takut seseorang datang.
Bukan pula karena ingin membuktikan bahwa aku lebih baik daripada siapa pun.
Aku hanya menyukai perasaan bahwa di rumahku, tidak ada orang yang sengaja dibuat merasa tidak punya tempat.
Dan kalau suatu hari nanti aku kembali membangun keluarga dengan seseorang, aku tahu satu aturan yang tidak akan pernah kutawar lagi.
Aku tidak membutuhkan seseorang yang menjanjikan dunia.
Aku hanya membutuhkan orang yang ketika menata meja makan, secara alami menghitung keberadaanku di dalamnya.

