Bagian 3 — Satu Amplop Belanja Membuka Kebohongan yang Selama Ini Disembunyikan Ibu Mertua
Aku tidak langsung berteriak.
Justru karena terlalu marah, suaraku menjadi sangat tenang.
“Kamu tahu?”
Dimas meletakkan kunci mobil di meja.
“Laras, dengarkan dulu.”
Aku tertawa pendek.
Kalimat itu selalu muncul ketika seseorang sudah tertangkap.
Dengarkan dulu.
Bukan “maaf”.
Bukan “aku salah”.
Selalu “dengarkan dulu”.
Aku mengangkat nota grosir yang tadi sempat direbut Bu Yuni.
“Sudah berapa lama?”
Dimas mengusap wajah.
“Nisa baru mulai usaha. Dia butuh bantuan.”
“Sudah berapa lama?”
“Sekitar empat bulan.”
Empat bulan.
Empat bulan berarti empat kali Rp5.500.000.
Rp22.000.000.
Aku mulai menghitung dalam kepala.
Dimas buru-buru menambahkan.
“Bukan semua uang kamu dipakai Nisa.”
“Berapa?”
Bu Yuni menyela.
“Kamu jangan bicara seolah-olah kami mencuri.”
Aku menatapnya.
“Saya tidak bilang mencuri.”
Aku mengangkat nota.
“Saya bertanya berapa banyak.”
Bu Yuni mengeraskan suara.
“Ibu cuma bantu anak sendiri usaha.”
“Dengan uang siapa?”
“Uang rumah.”
“Uang rumah yang saya transfer.”
“Kamu kan bagian keluarga!”
Aku tersenyum hambar.
“Menarik sekali. Kalau uang saya dibutuhkan, saya keluarga. Kalau nasi dibagikan, saya bukan.”
Bu Yuni langsung menunjukku.
“Kamu selalu membesar-besarkan makanan!”
“Bukan soal makanan.”
Aku menunjuk dapur.
“Ini soal perlakuan.”
Aku lalu menatap Dimas.
“Dan soal kebohongan.”
Dimas mendekat.
“Laras, aku memang tahu Mama bantu Nisa. Tapi kupikir tidak perlu dibahas karena bisnis itu nanti juga menghasilkan.”
“Menghasilkan untuk siapa?”
Dia terdiam.
“Nisa.”
“Apakah aku punya saham?”
“Jangan ngomong seperti itu.”
“Aku ikut modal tanpa tahu. Aku ikut bayar gas. Aku ikut bayar listrik. Dapur rumahku dipakai produksi. Tapi aku bahkan tidak pernah diberi tahu.”
Dimas mulai kehilangan kesabaran.
“Nisa adikku!”
Aku membalas tanpa meninggikan suara.
“Dan aku istrimu.”
Dia diam.
Aku lanjut bertanya.
“Apakah Nisa pernah mengembalikan uang belanja?”
Dimas tidak menjawab.
“Apakah dia pernah bayar gas?”
Tetap diam.
“Listrik?”
Diam.
“Pakai dapur?”
Diam lagi.
Jawabannya jelas.
Tidak pernah.
Bu Yuni mencibir.
“Kalau sesama saudara harus dihitung seperti itu, hidup ini tidak akan berkah.”
Aku menatapnya.
“Kalau begitu kenapa makan saya dihitung?”
Wajahnya memerah.
Aku masuk ke kamar dan mengambil laptop.
Dimas mengejarku.
“Mau apa?”
“Kerja.”
“Kita belum selesai.”
“Justru aku baru mulai.”
Hari itu aku mengambil cuti setengah hari.
Aku duduk di sebuah kafe dekat kompleks dan membuka seluruh transaksi rumah tangga setahun terakhir.
Aku bukan orang yang terbiasa menghitung setiap pengeluaran kecil.
Selama kebutuhan rumah terpenuhi, aku tidak pernah meminta Dimas menunjukkan struk bensin atau mempertanyakan berapa harga makan siangnya.
Tapi sekarang aku ingin tahu.
Aku membuat spreadsheet.
Cicilan rumah: Rp8.150.000 per bulan.
Aku yang bayar.
Listrik rata-rata: Rp1.300.000.
Aku.
Internet: Rp495.000.
Aku.
Air dan iuran lingkungan: sekitar Rp600.000.
Aku.
Uang dapur ke Bu Yuni setelah ia datang: Rp5.500.000.
Aku.
Asisten rumah tangga dua kali seminggu: Rp1.200.000.
Aku.
Dimas membayar cicilan mobil Rp4.200.000, bensin, dan sesekali makan akhir pekan.
Selama ini aku tidak masalah karena pendapatanku memang lebih tinggi.
Yang membuatku marah bukan jumlahnya.
Melainkan kenyataan bahwa orang yang paling banyak menanggung rumah justru diperlakukan seperti tamu yang seharusnya sungkan mengambil lauk.
Aku kemudian membuka percakapan lama dengan Dimas.
Empat bulan lalu, tepat ketika Nisa mulai menjual nasi kotak, Dimas pernah meminta uang belanja dinaikkan dari Rp4.000.000 menjadi Rp5.500.000.
Alasannya?
“Mama bilang bahan makanan makin mahal.”
Aku dulu langsung setuju.
Sekarang semuanya masuk akal.
Aku menyimpan screenshot.
Lalu aku membuka aplikasi listrik.
Empat bulan terakhir pemakaian memang melonjak hampir tiga puluh persen.
Aku ingat beberapa kali pulang dan mencium aroma gorengan dari dapur meski makan malam di rumah hanya sayur bening.
Ternyata minyak panas itu bukan untuk kami.
Itu untuk pesanan Nisa.
Sore harinya aku pulang.
Dimas sudah menungguku.
“Mama nangis dari tadi.”
Aku melepas sepatu.
“Kenapa?”
“Karena kamu mempermalukan dia.”
“Di depan siapa?”
Dia tidak bisa menjawab.
Aku berjalan melewatinya.
Dimas menarik lenganku.
“Laras.”
Aku menepis tangannya.
“Jangan pegang aku kalau kamu mau bicara sambil membela kebohongan.”
Dia terlihat tersinggung.
“Aku tidak bohong.”
“Kamu tahu empat bulan dan sengaja tidak bilang.”
“Itu bukan bohong. Aku cuma tidak memberitahu.”
Aku menatapnya lama.
“Kalau begitu kalau suatu hari aku mengambil tabunganmu untuk membiayai adikku tanpa bilang, itu juga bukan bohong?”
Wajahnya langsung mengeras.
“Jangan samakan.”
“Kenapa?”
“Karena kondisinya beda.”
“Bedanya hanya satu.”
Aku meletakkan tas di meja.
“Yang dirugikan sekarang aku.”
Bu Yuni keluar dari kamar.
Matanya merah.
Entah benar menangis atau baru saja menggosoknya.
Ia membawa sebuah amplop cokelat.
Lalu melemparkannya ke meja.
“Ini!”
Aku melihatnya.
“Apa?”
“Uang.”
Aku membukanya.
Di dalam ada Rp1.500.000.
“Untuk apa?”
“Ganti bahan makanan yang dipakai Nisa.”
Aku menatap uang itu.
Empat bulan.
Puluhan pesanan.
Dapur, listrik, gas, bahan baku.
Rp1.500.000.
Bu Yuni berkata dengan nada tinggi,
“Sudah puas sekarang?”
Aku mengembalikan amplop itu kepadanya.
“Belum.”
Dimas langsung membentak.
“Kamu keterlaluan!”
Aku menoleh.
“Aku belum selesai menghitung.”
Bu Yuni menangis.
“Kamu mau menghitung sampai rupiah terakhir kepada keluarga sendiri?”
Aku menjawab,
“Tidak.”
Aku menunjuk dapur.
“Saya mau mulai menghitung batas.”
Malam itu aku membuat keputusan kedua.
Mulai bulan berikutnya semua tagihan yang bukan atas namaku akan dipisah.
Aku berhenti membayar paket TV yang hanya ditonton Bu Yuni.
Aku mengganti sistem belanja rumah menjadi masing-masing pihak membeli kebutuhan pribadi.
Aku juga memberitahu bahwa dapur tidak boleh lagi digunakan untuk produksi usaha komersial tanpa persetujuanku.
Bukan karena aku ingin mematikan usaha Nisa.
Aku bahkan mengatakan Nisa boleh memakai dapur dengan kontribusi wajar untuk gas, listrik, dan kebersihan.
Nisa langsung meneleponku malam itu.
“Kak, serius banget cuma gara-gara beberapa kilo ayam?”
Aku menarik napas.
“Nisa, kamu tahu bahan itu dibeli pakai uangku?”
Dia terdiam sebentar.
“Mama bilang uang rumah.”
“Siapa yang isi uang rumah?”
“Ya kan Kak Laras sama Mas Dimas.”
“Mayoritas aku.”
Dia mendengus.
“Aku nanti juga mau bayar kalau usaha stabil.”
“Kapan?”
“Ya nanti.”
“Empat bulan lalu juga bilang nanti?”
Ia langsung defensif.
“Kalau Kak Laras keberatan dari awal, kenapa tidak bilang?”
Aku hampir tertawa.
“Karena dari awal aku tidak tahu.”
Telepon berakhir buruk.
Keesokan harinya grup keluarga besar Dimas mulai ramai.
Tantenya mengirim pesan tanpa menyebut namaku.
“Sekarang banyak menantu terlalu perhitungan dengan mertua. Padahal rezeki yang diberikan ke keluarga tidak akan membuat miskin.”
Sepupunya memberi emoji tangan berdoa.
Nisa menulis,
“Kadang orang punya rumah bagus tapi hatinya sempit.”
Aku membaca semuanya.
Tidak membalas.
Sampai malamnya Dimas mengatakan sesuatu yang mengubah semua rencanaku.
Dia duduk di sisi ranjang, berkata,
“Minggu depan Mama ulang tahun. Jangan bikin masalah di depan keluarga.”
Aku menutup buku.
“Siapa yang bikin masalah?”
“Kamu tahu maksudku.”
“Aku tidak tahu.”
“Transfer saja uang dapur seperti biasa. Nanti setelah ulang tahun kita bahas.”
Aku menatapnya.
“Tidak.”
“Laras.”
“Tidak.”
Dia mengusap rambut dengan frustrasi.
“Kamu mau bikin aku malu?”
Aku menahan tatapannya.
“Aku yang dibohongi. Kenapa kamu yang malu?”
Dimas berdiri.
“Karena semua orang sekarang pikir aku tidak mampu mengurus rumah tangga gara-gara istriku ribut soal uang belanja!”
Akhirnya.
Kalimat yang sebenarnya keluar juga.
Bukan karena ibunya terluka.
Bukan karena adiknya kesulitan.
Tapi karena harga dirinya.
Aku bertanya,
“Jadi selama ini uangku juga dipakai supaya orang mengira kamu mampu?”
Dia diam.
Aku bisa melihat jawabannya di wajahnya.
Dimas selalu senang ketika ibunya bercerita kepada keluarga bahwa anak laki-lakinya sekarang sudah mapan.
Rumah dua lantai.
Mobil.
Dapur penuh.
Membantu adik usaha.
Mengirim uang untuk ibu.
Padahal sebagian besar fondasi “kemapanan” itu dibayar olehku.
Dan aku tidak pernah mempermasalahkannya.
Sampai mereka mulai memperlakukanku seolah semua itu kewajiban.
Hari ulang tahun Bu Yuni tiba pada Minggu sore.
Aku sebenarnya tidak ingin datang ke acara keluarga di rumah.
Namun acaranya memang diselenggarakan di rumah kami.
Sejak pagi, Nisa sudah datang membawa dua orang temannya.
Mereka memasak puluhan porsi.
Aku tidak melarang.
Syaratku cuma satu.
Semua bahan dibeli sendiri.
Gas mereka bawa sendiri.
Mereka menurut, meski wajahnya masam.
Sekitar tiga puluh orang datang.
Tante, paman, sepupu.
Rumah ramai.
Aku membantu menata kursi secukupnya.
Tidak lebih.
Saat makan malam dimulai, aku sengaja duduk di sisi paling ujung.
Bu Yuni tampak bahagia menerima ucapan selamat.
Sampai Tante Mira melihatku dan berkata cukup keras,
“Laras, masa kamu biarkan mertua beli bahan sendiri untuk ulang tahun?”
Suasana langsung berubah.
Beberapa kepala menoleh.
Aku meletakkan sendok.
Bu Yuni langsung berpura-pura menenangkan.
“Sudahlah, Mira. Jangan dibahas.”
Kalimat itu justru membuat semua orang semakin penasaran.
Nisa menyandarkan tubuh ke kursi.
Tante Mira melanjutkan,
“Katanya sekarang uang dapur juga distop?”
Aku melihat Dimas.
Dia tidak membelaku.
Malah berkata,
“Memang lagi ada sedikit salah paham.”
Salah paham.
Empat bulan kebohongan disebut salah paham.
Aku berdiri.
Semua mata mengarah kepadaku.
Aku berkata,
“Kalau mau dibahas, sebaiknya lengkap.”
Bu Yuni langsung pucat.
“Laras, tidak perlu.”
Tapi aku sudah masuk ke ruang kerja.
Beberapa menit kemudian aku kembali membawa sebuah map hitam.
Aku mengeluarkan salinan transfer.
Nota grosir.
Tagihan listrik.
Screenshot pesan.
Dan satu buku kecil warna cokelat yang kutemukan pagi itu di laci dapur.
Buku milik Bu Yuni.
Di halaman pertama tertulis:
“Modal Nisa.”
Di bawahnya ada angka-angka.
Dan di samping angka Rp5.500.000 tertulis dengan bolpoin biru:
“Dari Laras — jangan bilang dulu.”
Ruang makan langsung sunyi.
Aku meletakkan buku itu tepat di depan Dimas.
Lalu berkata,
“Sekarang, Mas.”
“Coba jelaskan kepada semua orang siapa sebenarnya yang selama empat bulan membiayai usaha adikmu.”
Dimas tidak menyentuh buku itu.
Wajahnya memutih.
Tetapi sebelum dia sempat menjawab, Bu Yuni berdiri sambil memukul meja.
Dan kalimat berikutnya membuatku sadar bahwa masalah keluarga ini sudah jauh lebih besar daripada uang makan.
“Kalau bukan karena Dimas menikahimu,” bentaknya, “kamu pikir rumah sebesar ini akan ada gunanya untuk siapa?”
Aku menatapnya.
Lalu menatap Dimas.
Karena rumah yang sedang ia klaim sebagai buah pernikahan anaknya itu sebenarnya sudah kubeli dua tahun sebelum aku mengenal Dimas.
Dan malam itu, untuk pertama kalinya, aku memutuskan mereka semua perlu mendengar fakta tersebut.

