Bagian 3 — Mereka Memaksaku Membayar, Sampai Satu Map Cokelat Membuka Semua Kebohongan Keluarga

Avatar penulis
Cerita 02
10 menit baca 1,421 tayangan
Bagian 3 — Mereka Memaksaku Membayar, Sampai Satu Map Cokelat Membuka Semua Kebohongan Keluarga
Indeks

Bagian 3 — Mereka Memaksaku Membayar, Sampai Satu Map Cokelat Membuka Semua Kebohongan Keluarga

Kalimatku membuat wajah Kakek berubah drastis.

Beberapa menit sebelumnya ia masih duduk tegak seperti kepala keluarga yang semua perkataannya harus dipatuhi.

Sekarang ia menatapku seperti tidak mengenali cucunya sendiri.

“Apa maksudmu bukan tanggung jawabmu?”

“Persis seperti yang saya katakan.”

Aku menunjuk ballroom.

“Yang memilih hotel ini bukan saya. Yang mengundang lebih dari dua ratus orang bukan saya. Yang menambah menu premium, dekorasi bunga segar, panggung, fotografer, dan hiburan juga bukan saya.”

Pakde Darma memotong.

“Tapi kamu membayar uang muka!”

“Karena Pakde mengatakan rekening Pakde bermasalah dan meminta saya meminjamkan uang.”

“Itu urusan keluarga!”

Aku tertawa pendek.

“Menarik.”

Aku menunjuk meja kami di sudut.

“Tadi ketika keluarga saya masuk, kami tidak cukup pantas duduk bersama keluarga. Sekarang setelah muncul tagihan hampir lima puluh juta, mendadak semuanya menjadi urusan keluarga.”

Tak seorang pun menjawab.

Bahkan beberapa sepupu yang sebelumnya tertawa mulai menundukkan wajah.

Pak Reza akhirnya membuka map kontrak hotel.

“Mohon maaf, saya perlu meluruskan satu hal.”

Pakde Darma langsung menoleh.

Pak Reza menunjukkan halaman terakhir.

“Penanggung jawab acara yang tercantum di kontrak adalah Bapak Darmawan Prasetyo.”

Wajah Pakde Darma berubah.

“Karena saya yang melakukan pemesanan awal.”

“Benar, Pak.”

“Jadi?”

“Jadi secara administrasi, pihak yang bertanggung jawab atas pelunasan tetap Bapak.”

Beberapa tamu mulai berbisik.

Pakde Darma tertawa kaku.

“Tidak masalah. Ini kan acara keluarga. Kami sedang mengatur transfer.”

Pak Reza tetap profesional.

“Kami bisa menunggu hingga acara selesai, Pak. Namun kami perlu kepastian metode pembayaran.”

“Ya sudah. Tunggu saja.”

Pak Reza mengangguk lalu mundur.

Aku pikir persoalannya akan berhenti sementara.

Ternyata tidak.

Kakek berdiri.

Dengan usia hampir sembilan puluh tahun, gerakannya memang lambat, tetapi suaranya masih keras.

“Budi.”

Ayah menatapnya.

“Iya, Pak.”

“Kamu bayar dulu.”

Aku langsung melihat Ayah.

Ayah tampak terkejut.

“Pak?”

“Anakmu punya uang.”

Kalimat itu membuat sesuatu di dalam dadaku seperti patah.

Bukan karena jumlah uangnya.

Aku sanggup membayar.

Tabunganku cukup.

Bahkan kalau mau, aku bisa melunasi seluruh pesta tanpa harus meminjam.

Namun inti masalahnya bukan kemampuan.

Masalahnya adalah mereka merasa berhak.

Kakek menunjukku.

“Raka bekerja sebagai manajer operasional. Gajinya jelas lebih besar dari kalian semua ketika masih muda. Masa membantu pesta Kakeknya sendiri tidak mau?”

Aku menarik napas.

“Ayah sudah membantu Kakek selama bertahun-tahun.”

“Jangan hitung-hitungan dengan orang tua!”

“Yang mulai menghitung status pertama kali bukan saya.”

Kakek terdiam.

Aku melanjutkan.

“Kalau membantu orang tua tidak boleh dihitung, kenapa tadi nilai seseorang dihitung dari jabatan, pakaian, dan uang?”

Beberapa kerabat menunduk.

Ibu memegang tangan Ayah erat-erat.

Pakde Darma mendesis.

“Kamu keterlaluan.”

Aku menatapnya.

“Pakde mau bicara soal keterlaluan?”

Aku kembali membuka map cokelat.

“Ada satu bagian yang tadi belum saya tunjukkan.”

Ayah langsung memanggil namaku.

“Raka.”

Kali ini nadanya berbeda.

Ia tahu dokumen apa yang hendak kuambil.

Aku menatap Ayah.

“Sudah waktunya.”

Ayah menutup mata sebentar.

Lalu ia duduk kembali.

Aku mengeluarkan dua lembar rekap rekening.

Enam tahun terakhir.

Aku sudah menyusunnya tiga hari sebelum pesta.

Bukan karena merencanakan pertengkaran.

Pakde Darma yang meminta aku “merapikan urusan keluarga” karena ia ingin menghitung kontribusi anak-anak untuk ulang tahun Kakek.

Lucunya, ketika aku mulai memeriksa angka-angkanya, aku justru menemukan pola yang membuatku muak.

Aku mengangkat lembar pertama.

“Sejak Januari enam tahun lalu sampai bulan lalu, total uang dari Ayah untuk kebutuhan Kakek adalah seratus lima puluh tiga juta dua ratus ribu rupiah.”

Aula gaduh.

Kakek menatapku.

“Berapa?”

“Seratus lima puluh tiga juta dua ratus ribu.”

Kakek seperti tidak percaya.

“Itu tidak mungkin.”

Aku meletakkan rekap di meja.

“Semua ada tanggalnya.”

Aku mulai membaca.

“Biaya rumah sakit.

Obat.

Perbaikan atap.

Pajak.

Listrik.

Pompa air.

Perawatan motor Kakek.

Uang lebaran untuk penjaga rumah.

Biaya tukang.

Bahkan pembayaran catering ketika keluarga mengadakan tahlilan untuk Nenek tiga tahun lalu.”

Kakek menoleh kepada Ayah.

“Budi?”

Ayah tidak menjawab.

Matanya merah.

Aku melihatnya.

Laki-laki yang sejak kecil kukenal tidak pernah menangis itu kini menundukkan kepala seperti anak kecil yang ketahuan menyimpan sesuatu.

Kakek bertanya lagi.

“Kamu yang bayar semua?”

Ayah akhirnya mengangguk.

“Sebagian.”

“Kenapa kamu tidak pernah bilang?”

Ayah menarik napas panjang.

“Bapak selalu bangga kepada Mas Darma dan Yudi.”

Kakek mengernyit.

“Apa hubungannya?”

Ayah tersenyum pahit.

“Kalau saya bilang, nanti Bapak merasa Mas Darma tidak banyak membantu.”

Pakde Darma langsung memotong.

“Mas Budi, jangan sok suci.”

Ayah menatap kakaknya.

“Aku tidak pernah mengatakan aku suci.”

“Tapi sekarang anakmu sedang mempermalukan saya!”

Aku menyela.

“Pakde sendiri yang mempermalukan Pakde.”

Pakde Darma mengepalkan tangan.

“Semua yang saya lakukan untuk menjaga keharmonisan keluarga.”

“Dengan mengakui uang Ayah sebagai uang Pakde?”

“Aku yang mengatur semuanya!”

“Kalau orang lain membayar dan Pakde mengambil pujian, itu bukan mengatur.”

Paman Yudi mulai gelisah.

Ia mengambil ponsel, mungkin hendak keluar.

Aku memanggilnya.

“Paman.”

Ia berhenti.

“Kita belum selesai.”

“Aku tidak ada urusan.”

“Ada.”

Aku mengambil satu amplop bening.

Paman Yudi langsung pucat.

Dua bulan sebelumnya, Kakek sempat dirawat karena tekanan darah tinggi.

Total biaya di luar tanggungan BPJS sekitar sembilan belas juta rupiah.

Ayah menyerahkan sebelas juta.

Aku menambahkan lima juta.

Sisanya kata Paman Yudi akan ia tanggung.

Tetapi ketika Kakek pulang, Paman Yudi bercerita kepada semua orang bahwa ia menanggung “hampir seluruh biaya rumah sakit”.

Aku memperlihatkan bukti transaksi.

“Paman hanya membayar tiga juta.”

Seseorang di meja sebelah tidak sengaja mengeluarkan suara tertawa pendek.

Paman Yudi langsung menoleh tajam.

“Ini bukan pengadilan!”

“Benar.”

Aku mengangguk.

“Kalau pengadilan, mungkin saya akan membawa bukti yang lain.”

Paman Yudi membeku.

Aku memang punya bukti lain.

Tetapi bukan tentang biaya Kakek.

Tentang sesuatu yang jauh lebih buruk.

Pakde Darma sepertinya menyadari arah pembicaraan.

“Raka, cukup. Jangan membuka hal yang tidak berhubungan dengan acara.”

“Ada hubungannya.”

Aku mengambil fotokopi sebuah buku catatan kecil.

“Tiga tahun lalu, setelah Nenek meninggal, keluarga membentuk kas untuk kebutuhan Kakek.”

Beberapa saudara langsung saling berpandangan.

Aku melihat wajah sepupu-sepupuku.

Mereka tahu tentang kas itu.

Setiap anak dan cucu dewasa diminta menyumbang sesuai kemampuan.

Sebagian seratus ribu per bulan.

Sebagian tiga ratus ribu.

Ada yang lima ratus ribu.

Ayah hampir selalu mengirim satu juta.

Pakde Darma menjadi pemegang rekening.

Menurut laporannya, uang digunakan untuk obat, kebutuhan rumah, dan pendamping Kakek.

Masalahnya, tiga minggu sebelumnya Pakde Darma mengirim file laporan lama kepadaku karena meminta bantuan membuat rekap.

Dan angka-angkanya tidak cocok.

“Total pemasukan kas keluarga selama tiga tahun adalah seratus delapan puluh enam juta lebih.”

Pakde Darma langsung berdiri.

“Jangan diteruskan.”

Aku menatapnya.

“Kenapa?”

“Karena kamu tidak paham pengeluarannya.”

“Justru saya paham.”

Aku membuka satu halaman.

“Dalam laporan, ada pengeluaran dua puluh empat juta untuk perbaikan atap.”

Kakek mengangguk kecil.

“Ada.”

Aku menunjuk Ayah.

“Padahal Ayah membayar perbaikan atap langsung kepada tukang.”

Kakek membeku.

Aku melanjutkan.

“Ada biaya rawat jalan delapan juta tujuh ratus ribu.”

Aku mengangkat kuitansi.

“Ayah juga membayar langsung.”

Pakde Darma mulai berkeringat.

“Ada biaya pajak enam juta dua ratus.”

Aku mengangkat bukti lagi.

“Ayah yang bayar.”

Suasana menjadi sangat sunyi.

Sekarang orang mulai memahami persoalan sebenarnya.

Bukan hanya Pakde Darma mengambil pujian.

Ada uang keluarga yang dilaporkan sebagai pengeluaran, padahal pengeluaran tersebut sudah dibayar Ayah secara terpisah.

Aku menatap Pakde Darma.

“Jadi saya punya satu pertanyaan.”

Ia tidak menjawab.

“Kalau pengeluaran-pengeluaran itu sudah dibayar Ayah…”

Aku meletakkan rekap kas di meja.

“…uang kasnya pergi ke mana?”

Suara kursi bergeser terdengar dari berbagai arah.

Kakek menatap Pakde Darma seperti baru pertama kali melihat putranya.

“Darma?”

Pakde Darma menyeka keringat di dahinya.

“Uangnya tetap untuk kebutuhan keluarga.”

“Kebutuhan apa?”

“Banyak.”

“Contohnya?”

Pakde Darma tidak menjawab.

Aku membuka halaman berikutnya.

“Ada transfer tujuh belas juta dari rekening kas ke rekening pribadi Pakde.”

“Penggantian biaya.”

“Biaya apa?”

“Bensin. Transportasi. Kebutuhan Bapak.”

Aku mengangguk.

“Lalu dua belas juta ke rekening yang sama dua bulan kemudian?”

Tidak ada jawaban.

“Delapan juta lagi?”

Pakde Darma memukul meja.

“Saya tidak perlu menjelaskan semuanya kepada anak kecil!”

Umurku tiga puluh dua tahun.

Aku hampir tertawa.

Namun sebelum aku sempat menjawab, sebuah suara datang dari meja belakang.

“Kalau uang kami ikut masuk ke kas itu, Anda harus menjelaskan.”

Yang berdiri adalah sepupu ibuku, Bu Ratih.

Ia termasuk orang yang rutin mengirim tiga ratus ribu setiap bulan untuk Kakek.

Kemudian seorang paman jauh ikut berdiri.

“Saya juga transfer setiap bulan.”

Orang lain menyusul.

“Saya juga.”

Pakde Darma mulai kehilangan kendali.

“Ini masalah internal anak-anak Bapak!”

“Tidak,” kataku. “Begitu Pakde mengumpulkan uang dari banyak orang dan membuat laporan, semua penyumbang punya hak bertanya.”

Kakek terduduk.

Untuk pertama kalinya malam itu, wajahnya benar-benar pucat.

Ayah malah mencoba mendekat.

“Pak, duduk saja dulu.”

Ironis.

Anak yang dipermalukan sejak awal justru menjadi orang pertama yang khawatir melihat kondisinya.

Kakek menatap Ayah.

Lama.

Kemudian ia melihat ke arah meja kami.

Meja kecil di samping toilet.

Kotak batik yang belum dibuka masih berada di sana.

Wajahnya berubah.

Namun sebelum ia berkata sesuatu, Pak Reza kembali mendekat.

Kali ini ia membawa mesin EDC dan lembar tagihan.

“Mohon maaf, Bapak-Ibu. Waktu penggunaan ballroom tinggal tiga puluh menit. Kami perlu memastikan pembayaran.”

Semua mata kembali kepada Pakde Darma.

Pakde Darma membuang napas kasar.

Lalu ia menunjukku.

“Tagih dia.”

Pak Reza menggeleng sopan.

“Kontrak atas nama Bapak.”

“Dia keluarga saya!”

“Namun secara administrasi—”

“Saya bilang tagih dia!”

Aku mengambil dompet.

Semua orang menatapku.

Pakde Darma tampak lega.

Aku mengeluarkan kartu.

Lalu berkata kepada Pak Reza,

“Pak, tolong hitung empat porsi meja nomor dua puluh dua beserta pajaknya.”

Pakde Darma langsung berteriak.

“Raka!”

Aku tidak menoleh.

Pak Reza melihat daftar.

“Empat porsi berikut minuman sekitar satu juta empat ratus enam puluh ribu, Pak.”

Aku menyerahkan kartu.

“Silakan.”

Mesin berbunyi.

Transaksi berhasil.

Aku mengambil struk.

Kemudian memasukkannya ke dalam map cokelat.

“Selesai.”

Pakde Darma menghampiriku.

“Kamu benar-benar mau membuat keluarga dipermalukan karena uang?”

Aku menatap matanya.

“Bukan.”

Aku merapikan map.

“Saya sedang berhenti membayar harga dari kebohongan Pakde.”

Paman Yudi menunjuk pintu.

“Kalau begitu pergi saja!”

Aku mengangguk.

“Memang itu rencana saya.”

Aku meraih tangan Laras.

Ibu berdiri.

Ayah masih diam.

Tetapi sebelum kami melangkah, Kakek tiba-tiba berkata,

“Budi jangan pergi.”

Ayah berhenti.

Kakek memandangnya.

“Duduk dulu.”

Ayah menoleh kepadaku.

Aku tidak berkata apa pun.

Keputusan itu miliknya.

Ayah akhirnya kembali duduk.

Aku pun ikut berhenti.

Kakek menarik napas pelan.

“Darma.”

Pakde Darma menjawab dengan kesal.

“Apa lagi, Pak?”

“Buka rekening kas.”

Wajah Pakde Darma langsung berubah.

“Nanti di rumah saja.”

“Sekarang.”

“Pak, banyak tamu.”

“Sekarang.”

Paman Yudi mendekati Kakek.

“Sudahlah, Pak. Jangan dipermalukan seperti ini.”

Kakek menatapnya tajam.

“Yang malu harusnya siapa?”

Paman Yudi terdiam.

Pakde Darma mulai memasukkan ponselnya ke saku.

“Aku tidak bawa akses mobile banking.”

Aku mengangkat ponselku.

“Tidak masalah.”

Semua orang menatapku.

“Tiga minggu lalu Pakde mengirimkan mutasi rekening lengkap untuk saya rekap.”

Pakde Darma memucat.

Aku membuka folder di ponsel.

“Ada satu transaksi yang belum sempat saya tanyakan.”

Tangannya mulai gemetar.

Aku membaca tanggalnya.

“Dua puluh enam Februari.”

Lalu jumlahnya.

“Tiga puluh lima juta rupiah.”

Aula kembali diam.

Kakek bertanya,

“Untuk apa?”

Aku menatap Pakde Darma.

Kemudian menjawab,

“Uang itu ditransfer dari kas keluarga ke dealer mobil.”

Pakde Darma menutup mata.

Aku melanjutkan.

“Sebelas hari kemudian, Pakde datang ke acara keluarga dengan mobil baru.”

Kakek perlahan berdiri lagi.

Tatapannya berubah menjadi sesuatu yang belum pernah kulihat sebelumnya.

Bukan marah.

Bukan kecewa.

Lebih buruk.

Rasa sadar bahwa seseorang yang selama ini paling ia banggakan mungkin telah memanfaatkan kepercayaannya selama bertahun-tahun.

“Darma…”

Suara Kakek sangat pelan.

“Jangan bilang mobilmu dibeli pakai uang untuk kebutuhan saya.”

Pakde Darma tidak menjawab.

Dan keheningan itu sudah menjadi jawaban.