Aku membaca pesan dari pengacaraku berulang kali.
“Bu, ada satu dokumen lain yang kami temukan saat memeriksa transaksi rumah tersebut. Sepertinya suami Ibu selama ini menyembunyikan sesuatu.”
Malam itu aku tidak bisa tidur.
Aku duduk di tepi ranjang sambil memandangi layar ponsel.
Selama tiga tahun menikah, aku selalu mengira masalah terbesar dalam rumah tanggaku adalah keluarga Dimas yang terlalu ikut campur.
Ternyata mungkin bukan itu.
Ada sesuatu yang bahkan Dimas sembunyikan dariku.
Keesokan paginya aku langsung menemui pengacara tersebut.
Di atas meja sudah tersedia beberapa map.
“Ini semua apa?” tanyaku.
Pengacara itu tidak langsung menjawab.
Dia membuka sebuah salinan rekening transaksi.
“Beberapa bulan sebelum Ibu dan suami menikah, ada sejumlah transfer dari rekening suami Ibu ke rekening adiknya.”
Aku mengerutkan kening.
“Raka?”
“Iya.”
“Berapa?”
Dia mendorong kertas itu kepadaku.
Aku melihat angka di sana.
Jumlahnya membuat tanganku berhenti bergerak.
Bukan jutaan rupiah.
Jumlahnya ratusan juta.
Aku menatap tanggal transaksi.
Sebagian besar dilakukan sebelum pernikahan kami.
Sebagian lainnya terjadi setelah kami menikah.
“Apa hubungannya dengan rumah saya?”
Pengacara itu menarik napas.
“Justru itu yang membuat kami perlu berhati-hati.”
Dia kemudian menunjukkan dokumen lain.
Ternyata beberapa tahun sebelumnya, Dimas pernah menjaminkan sebagian aset usaha miliknya untuk mendapatkan pinjaman.
Pinjaman itu tidak sepenuhnya digunakan untuk bisnis.
Sebagian uangnya dipakai membantu Raka.
Dan sekarang, ketika utang tersebut mulai jatuh tempo, keluarga mereka membutuhkan uang cepat.
Rumahku menjadi sasaran karena dianggap sebagai aset paling mudah dijual.
Aku menatap dokumen itu tanpa berkata apa-apa.
Tiba-tiba semua kejadian selama beberapa bulan terakhir terasa masuk akal.
Desakan untuk memindahkan rumah.
Sikap Bu Sari yang semakin keras.
Raka yang tiba-tiba ingin menjual rumah.
Dimas yang terus mengatakan bahwa semuanya hanya demi keluarga.
Mereka bukan sedang mencari tempat tinggal.
Mereka sedang mencari jalan keluar dari masalah keuangan yang tidak pernah mereka ceritakan kepadaku.
Aku bertanya pelan:
“Apakah Dimas menggunakan rumah ini sebagai jaminan?”
“Belum berhasil.”
Aku mengangkat wajah.
“Belum?”
Pengacara itu mengangguk.
“Karena rumah masih atas nama Ibu. Tetapi ada upaya untuk membuat kepemilikannya berpindah.”
Aku terdiam.
Jadi surat yang mereka berikan kepadaku bukan sekadar formalitas.
Mereka benar-benar ingin mengambil rumah itu.
Saat aku pulang, Dimas sudah menungguku.
Wajahnya terlihat lelah.
“Kita perlu bicara.”
Aku meletakkan tas di meja.
“Aku juga.”
Dia menatapku.
“Kamu sudah tahu?”
Aku tidak menjawab.
Aku hanya mengeluarkan salinan dokumen dari tas.
Wajah Dimas langsung berubah.
“Apa ini?”
“Harusnya aku yang bertanya.”
Dia duduk.
Aku berdiri di depannya.
“Berapa banyak uang yang kamu berikan kepada Raka?”
Dimas menunduk.
“Tidak sebanyak yang kamu pikir.”
“Berapa?”
Dia diam cukup lama.
Lalu menyebutkan jumlahnya.
Aku memejamkan mata.
Ternyata lebih besar dari perkiraanku.
“Kenapa kamu tidak pernah cerita?”
“Aku ingin menyelesaikannya sendiri.”
“Dengan mengambil rumahku?”
Dimas langsung menggeleng.
“Bukan begitu.”
“Lalu apa?”
Dia menatapku.
“Awalnya aku hanya ingin membantu Raka.”
Aku tertawa pahit.
“Dan setelah kamu tidak sanggup membayar utangmu, kalian memutuskan menggunakan rumahku?”
“Bukan aku yang merencanakannya.”
“Tapi kamu setuju.”
Dimas terdiam.
Aku tahu diamnya adalah jawaban.
Air mataku hampir jatuh, tetapi aku menahannya.
Bukan karena aku ingin terlihat kuat.
Aku hanya sudah terlalu lelah menangis untuk orang yang tidak pernah benar-benar mendengarkanku.
“Dimas,” kataku pelan, “aku bisa memaafkan kesalahan.”
Dia menatapku.
“Tapi aku tidak bisa memaafkan kebohongan yang direncanakan bersama-sama.”
Dimas menunduk.
Untuk pertama kalinya, aku melihat rasa bersalah di wajahnya.
Tetapi semuanya sudah terlambat.
Malam itu Bu Sari datang.
Dia langsung marah ketika mengetahui rumah tersebut tidak berhasil dialihkan.
“Kamu mempermainkan kami?”
Aku menatapnya.
“Tidak. Saya hanya mempertahankan sesuatu yang memang milik saya.”
Raka ikut datang.
Wajahnya panik.
“Kak, kalau rumah itu tidak jadi dijual, aku bisa masuk masalah besar.”

Aku menjawab tenang.
“Masalahmu bukan tanggung jawabku.”
Raka terdiam.
Bu Sari menangis.
“Kami ini keluarga.”
Aku menatap perempuan tua itu.
“Kalau keluarga, kenapa kalian tidak pernah duduk dan mengatakan masalah sebenarnya?”
Tidak ada jawaban.
Aku melanjutkan:
“Kenapa harus mencuri kesempatan di belakang saya?”
Bu Sari langsung membantah.
“Kami tidak mencuri!”
Aku menunjuk dokumen yang tergeletak di meja.
“Lalu apa namanya kalau kalian mencoba membuat saya menyerahkan rumah tanpa menjelaskan alasan sebenarnya?”
Ruangan kembali sunyi.
Kemudian Dimas berdiri.
“Ibu, cukup.”
Bu Sari menatap anaknya.
“Kamu membela istrimu?”
Dimas menarik napas.
“Untuk pertama kalinya, saya membela sesuatu yang memang benar.”
Aku menatapnya.
Itu adalah pertama kalinya selama berbulan-bulan Dimas berani berdiri di hadapan keluarganya.
Tetapi aku belum tahu apakah keberanian itu datang karena penyesalan…
atau karena dia mulai kehilangan semua yang selama ini dia anggap akan selalu ada.
Malam semakin larut.
Raka akhirnya mengaku bahwa utangnya sudah jatuh tempo dalam beberapa hari.
Kalau tidak dibayar, aset usaha yang menjadi jaminan akan disita.
Aku melihat Dimas.
“Berapa kekurangannya?”
Dia menyebutkan jumlahnya.
Aku terdiam.
Jumlah itu besar.
Namun tidak sebesar harga sebuah keluarga yang hancur karena kebohongan.
Aku bisa saja membantu.
Aku punya tabungan.
Aku masih memiliki aset lain.
Tetapi kali ini aku tidak langsung berkata iya.
Aku hanya mengatakan:
“Aku akan membantu satu kali.”
Semua orang menatapku.
“Tapi bukan dengan memberikan rumah.”
Dimas terlihat terkejut.
“Lalu bagaimana?”
Aku menjawab:
“Besok kita duduk bersama. Semua utang harus dibuka. Semua rekening harus diperiksa. Tidak ada lagi yang disembunyikan.”
Raka mengangguk cepat.
Bu Sari menangis.
Dimas hanya menatapku.
Mungkin dia baru sadar bahwa aku tidak sedang berusaha menghukum keluarganya.
Aku hanya ingin memastikan satu hal:
Jika aku menyelamatkan mereka…
mereka harus belajar menyelamatkan diri sendiri.
Namun pagi berikutnya, sebelum kami sempat melakukan apa pun, telepon Dimas berdering.
Wajahnya berubah pucat.
Aku melihatnya.
“Ada apa?”
Dia tidak menjawab.
Setelah menutup telepon, tangannya gemetar.
“Bank akan mengambil aset usaha Raka besok pagi.”
Aku berdiri.
“Kalau begitu kita tidak punya banyak waktu.”
Tetapi yang tidak kami ketahui saat itu…
masalah sebenarnya baru saja dimulai.
