Ibu mertuaku memaksaku mendorong mobilnya yang mogok di jalan menanjak saat aku sedang hamil, hanya karena suamiku menghabiskan uang bensin kami untuk perempuan lain.
Dengan lutut yang masih cedera, aku berdiri di belakang mobil dan berusaha mendorongnya, sementara suamiku, Arga, duduk di balik kemudi. Adiknya, Dimas, malah tertawa dari dalam mobil seolah semua ini hanya lelucon.
Belum sampai mobil itu bergerak tiga meter, luka di lututku kembali terbuka. Noda merah mulai merembes di celana panjangku.
Lalu, tanpa peringatan, rem dilepas.
Mobil itu tiba-tiba meluncur mundur.
Aku nyaris tidak sempat menghindar.

Aku menjatuhkan tubuh ke rerumputan di pinggir jalan, refleks melindungi perutku dengan satu tangan. Lututku yang cedera tertekuk di bawah tubuhku.
Rasa sakit langsung menjalar sampai ke paha.
Barulah Arga menarik rem lagi.
Ibu mertuaku, Bu Ratna, menjulurkan kepala dari jendela mobil.
“Kenapa kamu malah minggir?”
Aku menatapnya, tidak percaya dengan apa yang baru saja kudengar.
“Remnya dilepas.”
Arga menggeleng seolah justru aku yang melakukan kesalahan.
“Aku kira kamu masih menahan mobilnya.”
“Menahan pakai apa?” tanyaku. “Lututku yang cedera?”
Dimas tertawa lagi.
Tapi kali ini tawanya terdengar jauh lebih pelan.
Matanya tertuju pada noda yang semakin lebar di celanaku.
Aku berpegangan pada bagian belakang mobil dan memaksa diriku berdiri.
Setiap kali kaki itu menyentuh tanah, rasa panas dan nyeri menusuk lututku.
Arga tidak turun untuk membantuku.
Dia tetap duduk di balik kemudi.
“Sedikit lagi sampai atas,” katanya. “Dorong sekali lagi.”
Aku menatapnya.
“Sudah. Aku nggak mau lanjut.”
Aku mengulurkan tangan.
“Kasih HP-ku.”
HP-ku ada di atas dashboard. Arga yang meletakkannya di sana beberapa menit sebelumnya.
Dia melirik HP itu.
Kemudian menatapku.
“Kamu nggak perlu telepon siapa-siapa cuma gara-gara begini.”
Untuk beberapa detik, aku benar-benar mengira salah dengar.
“Cuma gara-gara begini?”
Bu Ratna mengembuskan napas panjang.
“Kamu itu selalu membesar-besarkan masalah. Dorong dulu mobilnya sampai atas. Setelah itu kalau mau drama, terserah.”
Aku menatap suamiku.
“Kamu menghabiskan uang bensin kita buat perempuan itu. Ibumu tahu soal itu, dan sekarang aku yang dibilang drama?”
Arga membuka mulut.
Tapi Bu Ratna menjawab lebih dulu.
“Ya, tentu saja Ibu tahu soal perempuan itu.”
Kalimat itu terasa lebih menyakitkan daripada lututku.
Aku membeku.
Bu Ratna menyilangkan tangan di depan dada sambil tetap duduk di dalam mobil.
“Ibu sudah bilang sama Arga, kalau dia masih mau bertemu perempuan itu, jangan bawa masalahnya ke rumah Ibu. Tapi bukan berarti dia harus menceritakan semua urusannya kepadamu.”
“Bu!” bentak Arga.
Terlambat.
Selama berminggu-minggu aku mencoba mencari alasan untuk uang kami yang terus hilang.
Aku pikir Arga kembali melakukan kesalahan dalam mengatur keuangan.
Tagihan listrik.
Cicilan.
Keperluan mendadak.
Biaya kendaraan.
Aku menyalahkan semuanya kecuali kenyataan yang sekarang berdiri tepat di hadapanku.
Arga ternyata menggunakan uang kami untuk mempertahankan hubungannya dengan perempuan lain.
“Cuma uang bensin,” gumam Arga.
Aku menatapnya.
“Uang bensin yang kita butuhkan untuk pulang.”
Dia diam.
“Kamu tahu kita butuh uang itu,” lanjutku. “Kamu juga tahu aku hampir nggak bisa jalan di tanjakan ini.”
Bu Ratna memutar matanya.
“Kalau begitu jangan terus bertingkah seolah kamu nggak bisa apa-apa. Selesaikan saja yang sudah kamu mulai.”
Untuk pertama kalinya, Dimas tidak tertawa.
“Bu, sudah.”
Bu Ratna langsung menoleh kepadanya.
“Kamu jangan ikut campur.”
Arga menunjuk ke arah jalan menanjak di depan kami.
“Kita nggak akan bahas ini di pinggir jalan. Dorong mobilnya sampai atas. Nanti kita bicara di rumah.”
Aku memandang mobil itu.
Lalu jalan menanjak di depan kami.
Kemudian aku menatap laki-laki yang selama ini kupanggil suami.
Laki-laki yang baru saja melihatku jatuh.
Melihat lukaku terbuka lagi.
Melihat istrinya yang sedang hamil berdiri dengan susah payah.
Namun hal yang paling dia khawatirkan bukan aku.
Bukan kandunganku.
Bukan lututku.
Melainkan rahasia yang selama ini dia sembunyikan.
“Aku nggak akan mendorong apa pun lagi,” kataku.
Aku mengulurkan tangan.
“Kasih HP-ku.”
Arga langsung meraih dashboard.
Tapi Dimas bergerak lebih cepat.
Dia membuka pintu penumpang, turun, lalu membungkuk masuk melalui pintu yang masih terbuka.
Tangannya mengambil HP-ku tepat sebelum Arga sempat meraihnya.
“Dimas!”
Dimas tidak menjawab.
Dia berjalan lurus ke arahku.
Wajahnya sudah tidak menunjukkan sedikit pun senyuman.
Kemudian dia meletakkan HP itu di telapak tanganku.
Aku menggenggamnya erat.
Dan saat itulah aku melihat ekspresi Dimas berubah.
Seolah ada sesuatu yang sebenarnya sudah lama ingin dia katakan kepadaku.
Sesuatu tentang Arga.
Sesuatu yang mungkin jauh lebih besar daripada sekadar uang bensin.
Dimas tidak langsung melepaskan tangannya dari HP-ku.
Dia menatapku beberapa detik, lalu berkata pelan,
“Nadira, jangan pulang ke rumah dulu.”
Arga langsung membuka pintu mobil.
“Diam, Mas.”
Nada suaranya membuatku menoleh.
Selama aku menikah dengan Arga, aku belum pernah melihat wajahnya seperti itu. Bukan marah.
Takut.
Dimas menatap kakaknya.
“Kalau kamu masih punya sedikit rasa malu, biarkan dia tahu semuanya.”
“Tahu apa?” tanyaku.
Bu Ratna langsung menyela.
“Tidak ada apa-apa. Dimas cuma mau bikin keadaan tambah kacau.”
Dimas tertawa pendek.
Bukan tawa mengejek seperti tadi.
Tawa orang yang baru menyadari betapa buruknya sesuatu yang selama ini dia anggap bukan urusannya.
Dia mengeluarkan kunci mobil dari sakunya.
“Aku antar Nadira ke klinik.”
“Kamu nggak akan bawa dia ke mana-mana,” kata Arga.
Dimas menatap lututku.
“Celananya sudah basah karena lukanya. Dia hamil, Ga.”
“Dia baik-baik saja.”
Kalimat itu membuat sesuatu dalam diriku berubah.
Bukan karena keras.
Justru karena Arga mengatakannya dengan begitu mudah.
Dia bahkan tidak mendekat untuk memastikan.
Aku membuka HP.
Ada tujuh persen baterai.
Aku langsung menelepon Rani, sahabatku yang tinggal di Bintaro.
Begitu dia mengangkat, aku hanya berkata,
“Ran, bisa jemput aku?”
Rani tidak bertanya macam-macam.
“Kirim lokasi.”
Aku mengirim titik lokasi.
Arga mendekat.
“Nadira, jangan keterlaluan.”
Aku mundur satu langkah.
Lututku hampir membuatku jatuh lagi.
Dimas langsung menopang lenganku.
Arga melihat tangan adiknya di lenganku dan wajahnya memerah.
“Lepasin istri gue.”
Dimas tidak bergerak.
“Harusnya dari tadi lo yang pegang dia.”
Sunyi.
Bahkan Bu Ratna tidak langsung menjawab.
Aku menatap Dimas.
“Apa yang tadi mau kamu bilang?”
Dia menghela napas.
“Bukan di sini.”
“Aku mau tahu sekarang.”
Dimas menatap Arga sebentar.
Kemudian dia berkata,
“Perempuan itu namanya Selvi.”
Aku menunggu.
Nama itu tidak kukenal.
“Terus?”
“Hubungan mereka bukan baru beberapa minggu.”
Arga melangkah maju.
“Mas!”
Dimas tetap bicara.
“Sudah hampir dua tahun.”
Aku merasa suara kendaraan di jalan tiba-tiba menjauh.
Dua tahun.
Aku dan Arga baru menikah tiga tahun.
“Bohong,” kataku.
Entah kepada siapa.
Mungkin kepada Dimas.
Mungkin kepada diriku sendiri.
Dimas mengeluarkan HP-nya.
“Aku berharap aku bohong.”
Dia membuka sebuah percakapan WhatsApp.
Bukan percakapannya dengan Selvi.
Percakapannya dengan Arga.
Ada pesan dari delapan bulan lalu.
Mas, pinjam dua juta dulu. Selvi harus bayar kos. Jangan bilang Nadira.
Lalu pesan tiga bulan berikutnya.
Mas, transfer ke rekening ini aja. Nadira mulai cek mutasi rekening.
Kemudian pesan lain.
Kalau Nadira tanya, bilang uangnya buat servis mobil Ibu.
Aku berhenti membaca.
Tanganku gemetar.
Aku menatap Bu Ratna.
“Servis mobil Ibu?”
Dia tidak menjawab.
Aku kembali melihat pesan.
Ada satu pesan dari Dimas.
Ga, berhenti. Istri lo lagi hamil.
Balasan Arga hanya satu kalimat.
Ini urusan gue.
Aku menyerahkan HP itu kembali.
“Aku mau ke klinik.”
Arga mencoba mendekat.
“Nadira, dengar dulu.”
Aku mengangkat tangan.
“Jangan sentuh aku.”
Untuk pertama kalinya sejak mobil itu mogok, dia benar-benar diam.
Rani datang dua puluh menit kemudian.
Dia bahkan tidak mematikan mesin ketika melihat kondisiku.
Begitu turun, matanya langsung menuju lututku.
“Ya Allah, Nad…”
“Aku mau ke klinik.”
Dia membuka pintu mobil.
Arga mencoba menghampiri.
Rani berdiri di depanku.
“Ada apa?”
“Masalah keluarga,” jawab Arga.
Rani menatapnya dari kepala sampai kaki.
“Kalau masalah keluarga sampai teman saya berdiri di pinggir jalan dalam keadaan begini, sepertinya sekarang bukan waktunya diskusi.”
Aku masuk ke mobil.
Dimas memberikan tasku yang tadi ada di mobil Bu Ratna.
Saat dia menyerahkannya, dia berbisik,
“Aku punya sesuatu lagi. Nanti aku kirim.”
Aku tidak bertanya.
Aku sudah tidak punya tenaga untuk menerima satu kebohongan lagi.
Dokter membersihkan luka di lututku dan memeriksa kondisiku.
Syukurlah, setelah pemeriksaan, dokter mengatakan tidak terlihat tanda darurat pada kehamilanku. Aku tetap diminta beristirahat dan segera kembali bila muncul keluhan tertentu.
Saat mendengar itu, aku menangis.
Bukan keras.
Air mataku hanya keluar begitu saja.
Rani duduk di sebelah ranjang.
Dia tidak mengatakan, “Sabar.”
Dia tidak mengatakan, “Namanya juga rumah tangga.”
Dia hanya menggenggam tanganku.
Dan entah kenapa, itu jauh lebih menenangkan.
Ketika kami keluar, baterai HP-ku tinggal empat persen.
Ada dua puluh tiga panggilan dari Arga.
Sebelas pesan dari Bu Ratna.
Aku tidak membuka satu pun.
Ada satu pesan dari Dimas.
Sudah kukirim ke email kamu. Jangan buka kalau kamu sendirian.
Di apartemen Rani, aku meminjam charger.
Satu jam kemudian, aku membuka email itu.
Ada sebuah folder.
Namanya sederhana.
BUKTI.
Di dalamnya ada foto transfer bank, tangkapan layar percakapan, dan beberapa foto.
Transfer kepada Selvi ternyata bukan dua atau tiga kali.
Ada Rp1.500.000.
Rp2.000.000.
Rp3.250.000.
Rp800.000.
Rp4.000.000.
Ketika semuanya dijumlahkan, jumlah
Dimas tidak langsung melepaskan tangannya dari HP-ku.
Dia menatapku beberapa detik, lalu berkata pelan,
“Nadira, jangan pulang ke rumah dulu.”
Arga langsung membuka pintu mobil.
“Diam, Mas.”
Nada suaranya membuatku menoleh.
Selama aku menikah dengan Arga, aku belum pernah melihat wajahnya seperti itu. Bukan marah.
Takut.
Dimas menatap kakaknya.
“Kalau kamu masih punya sedikit rasa malu, biarkan dia tahu semuanya.”
“Tahu apa?” tanyaku.
Bu Ratna langsung menyela.
“Tidak ada apa-apa. Dimas cuma mau bikin keadaan tambah kacau.”
Dimas tertawa pendek.
Bukan tawa mengejek seperti tadi.
Tawa orang yang baru menyadari betapa buruknya sesuatu yang selama ini dia anggap bukan urusannya.
Dia mengeluarkan kunci mobil dari sakunya.
“Aku antar Nadira ke klinik.”
“Kamu nggak akan bawa dia ke mana-mana,” kata Arga.
Dimas menatap lututku.
“Celananya sudah basah karena lukanya. Dia hamil, Ga.”
“Dia baik-baik saja.”
Kalimat itu membuat sesuatu dalam diriku berubah.
Bukan karena keras.
Justru karena Arga mengatakannya dengan begitu mudah.
Dia bahkan tidak mendekat untuk memastikan.
Aku membuka HP.
Ada tujuh persen baterai.
Aku langsung menelepon Rani, sahabatku yang tinggal di Bintaro.
Begitu dia mengangkat, aku hanya berkata,
“Ran, bisa jemput aku?”
Rani tidak bertanya macam-macam.
“Kirim lokasi.”
Aku mengirim titik lokasi.
Arga mendekat.
“Nadira, jangan keterlaluan.”
Aku mundur satu langkah.
Lututku hampir membuatku jatuh lagi.
Dimas langsung menopang lenganku.
Arga melihat tangan adiknya di lenganku dan wajahnya memerah.
“Lepasin istri gue.”
Dimas tidak bergerak.
“Harusnya dari tadi lo yang pegang dia.”
Sunyi.
Bahkan Bu Ratna tidak langsung menjawab.
Aku menatap Dimas.
“Apa yang tadi mau kamu bilang?”
Dia menghela napas.
“Bukan di sini.”
“Aku mau tahu sekarang.”
Dimas menatap Arga sebentar.
Kemudian dia berkata,
“Perempuan itu namanya Selvi.”
Aku menunggu.
Nama itu tidak kukenal.
“Terus?”
“Hubungan mereka bukan baru beberapa minggu.”
Arga melangkah maju.
“Mas!”
Dimas tetap bicara.
“Sudah hampir dua tahun.”
Aku merasa suara kendaraan di jalan tiba-tiba menjauh.
Dua tahun.
Aku dan Arga baru menikah tiga tahun.
“Bohong,” kataku.
Entah kepada siapa.
Mungkin kepada Dimas.
Mungkin kepada diriku sendiri.
Dimas mengeluarkan HP-nya.
“Aku berharap aku bohong.”
Dia membuka sebuah percakapan WhatsApp.
Bukan percakapannya dengan Selvi.
Percakapannya dengan Arga.
Ada pesan dari delapan bulan lalu.
Mas, pinjam dua juta dulu. Selvi harus bayar kos. Jangan bilang Nadira.
Lalu pesan tiga bulan berikutnya.
Mas, transfer ke rekening ini aja. Nadira mulai cek mutasi rekening.
Kemudian pesan lain.
Kalau Nadira tanya, bilang uangnya buat servis mobil Ibu.
Aku berhenti membaca.
Tanganku gemetar.
Aku menatap Bu Ratna.
“Servis mobil Ibu?”
Dia tidak menjawab.
Aku kembali melihat pesan.
Ada satu pesan dari Dimas.
Ga, berhenti. Istri lo lagi hamil.
Balasan Arga hanya satu kalimat.
Ini urusan gue.
Aku menyerahkan HP itu kembali.
“Aku mau ke klinik.”
Arga mencoba mendekat.
“Nadira, dengar dulu.”
Aku mengangkat tangan.
“Jangan sentuh aku.”
Untuk pertama kalinya sejak mobil itu mogok, dia benar-benar diam.
Rani datang dua puluh menit kemudian.
Dia bahkan tidak mematikan mesin ketika melihat kondisiku.
Begitu turun, matanya langsung menuju lututku.
“Ya Allah, Nad…”
“Aku mau ke klinik.”
Dia membuka pintu mobil.
Arga mencoba menghampiri.
Rani berdiri di depanku.
“Ada apa?”
“Masalah keluarga,” jawab Arga.
Rani menatapnya dari kepala sampai kaki.
“Kalau masalah keluarga sampai teman saya berdiri di pinggir jalan dalam keadaan begini, sepertinya sekarang bukan waktunya diskusi.”
Aku masuk ke mobil.
Dimas memberikan tasku yang tadi ada di mobil Bu Ratna.
Saat dia menyerahkannya, dia berbisik,
“Aku punya sesuatu lagi. Nanti aku kirim.”
Aku tidak bertanya.
Aku sudah tidak punya tenaga untuk menerima satu kebohongan lagi.
Dokter membersihkan luka di lututku dan memeriksa kondisiku.
Syukurlah, setelah pemeriksaan, dokter mengatakan tidak terlihat tanda darurat pada kehamilanku. Aku tetap diminta beristirahat dan segera kembali bila muncul keluhan tertentu.
Saat mendengar itu, aku menangis.
Bukan keras.
Air mataku hanya keluar begitu saja.
Rani duduk di sebelah ranjang.
Dia tidak mengatakan, “Sabar.”
Dia tidak mengatakan, “Namanya juga rumah tangga.”
Dia hanya menggenggam tanganku.
Dan entah kenapa, itu jauh lebih menenangkan.
Ketika kami keluar, baterai HP-ku tinggal empat persen.
Ada dua puluh tiga panggilan dari Arga.
Sebelas pesan dari Bu Ratna.
Aku tidak membuka satu pun.
Ada satu pesan dari Dimas.
Sudah kukirim ke email kamu. Jangan buka kalau kamu sendirian.
Di apartemen Rani, aku meminjam charger.
Satu jam kemudian, aku membuka email itu.
Ada sebuah folder.
Namanya sederhana.
BUKTI.
Di dalamnya ada foto transfer bank, tangkapan layar percakapan, dan beberapa foto.
Transfer kepada Selvi ternyata bukan dua atau tiga kali.
Ada Rp1.500.000.
Rp2.000.000.
Rp3.250.000.
Rp800.000.
Rp4.000.000.
Ketika semuanya dijumlahkan, jumlahnya lebih dari Rp38 juta.
Sebagian berasal dari rekening pribadi Arga.
Tapi beberapa transfer berasal dari rekening bersama kami.
Rekening yang kami gunakan untuk menabung biaya persalinan.
Aku sampai harus membaca mutasinya tiga kali.
Kemudian aku melihat satu transaksi yang membuat dadaku sesak.
Rp12.000.000.
Tanggalnya aku kenal.
Hari itu Arga mengatakan pembayaran proyeknya terlambat.
Aku bahkan menelepon kakakku dan meminjam Rp5 juta karena kami harus membayar cicilan dan biaya kontrol kehamilanku.
Malam itu, Arga memelukku dan berkata,
“Maaf kamu harus ikut susah gara-gara kerjaanku.”
Ternyata uangnya tidak terlambat.
Dia memberikannya kepada Selvi.
Aku menutup laptop.
Rani duduk di seberang meja.
“Nad…”
“Tunggu.”
Aku menarik napas.
“Ada yang aneh.”
Aku membuka folder itu lagi.
“Dimas dapat semua ini dari mana?”
Rani tidak menjawab.
Aku menelepon Dimas.
Dia mengangkat pada dering pertama.
“Aku bisa jelasin.”
“Datang ke sini.”
Dimas tiba hampir pukul sembilan malam.
Dia membawa sebuah map cokelat.
Begitu melihatnya, perutku terasa tidak nyaman.
“Apa itu?”
Dimas duduk.
“Ini alasan sebenarnya kenapa aku akhirnya kasih HP kamu tadi.”
Dia meletakkan map di meja.
“Aku memang tahu soal Selvi cukup lama.”
Aku menatapnya.
“Dan kamu diam.”
Dia mengangguk.
“Aku salah.”
Tidak ada pembelaan.
Itu membuat kemarahanku justru terasa lebih jelas.
“Kamu bahkan tadi sempat tertawa.”
Wajahnya berubah.
“Aku kira luka di lututmu cuma lecet biasa. Aku kira kalian cuma lagi ribut dan aku…”
Dia berhenti.
“Aku bodoh.”
Aku tidak membantunya menyelesaikan kalimat.
Dimas membuka map.
“Aku menemukan ini tiga hari lalu di rumah Ibu.”
Ada fotokopi beberapa dokumen.
Salah satunya formulir pengajuan pinjaman.
Namaku tercantum di sana.
Aku membaca lagi.
NADIRA PRAMESWARI.
Ada nomor KTP-ku.
Alamatku.
Bahkan data pekerjaanku.
“Ini apa?”
“Arga punya utang.”
“Berapa?”
Dimas menatapku.
“Kalau semua yang kutemukan benar, sekitar Rp170 juta.”
Aku merasa dingin.
“Untuk Selvi?”
“Sebagian mungkin. Tapi bukan cuma itu.”
Ternyata Arga sudah beberapa bulan mengambil pinjaman dari beberapa tempat.
Awalnya untuk menutup kartu kredit.
Lalu meminjam lagi untuk membayar pinjaman pertama.
Kemudian uangnya dipakai untuk menyewa apartemen kecil yang beberapa kali dia gunakan untuk bertemu Selvi.
Ketika pembayaran mulai menumpuk, dia mencoba mencari pinjaman baru.
Dengan dataku.
Aku membalik halaman.
Ada fotokopi KTP-ku.
Fotokopi slip penghasilanku.
Dan sebuah tanda tangan.
Namaku.
Tapi bukan tanda tanganku.
Aku menatap Dimas.
“Sudah dipakai?”
“Yang ini sepertinya belum selesai diproses.”
“Sepertinya?”
“Aku nggak mau bohong. Aku belum tahu.”
Rani langsung mengambil foto semua dokumen.
“Kita simpan salinannya.”
Aku mengangguk.
Kemudian aku menemukan sesuatu yang lebih buruk.
Sebuah catatan kecil tulisan tangan Bu Ratna.
Kalau Nadira tahu sebelum cair, Arga yang urus. Jangan libatkan Ibu.
Aku mengenali tulisan itu.
Aku pernah menerima kartu ulang tahun darinya.
Huruf “I”-nya selalu panjang dan miring.
Tanganku mulai gemetar lagi.
“Jadi Ibu tahu?”
Dimas menunduk.
“Iya.”
Saat itulah teleponku berbunyi.
Bu Ratna.
Aku menatap layar beberapa detik.
Kemudian kuangkat.
“Nadira.”
Suaranya langsung terdengar tegang.
“Kamu di mana?”
“Kenapa?”
“Kita perlu bicara baik-baik. Arga lagi emosi. Jangan dengarkan semua omongan Dimas.”
Aku menatap map di meja.
“Bu tahu soal pinjaman Rp170 juta?”
Sunyi.
Hanya dua detik.
Tapi dua detik itu menjawab semuanya.
“Nadira, dengar dulu—”
“Bu tahu?”
“Arga sedang kesulitan.”
“Dan karena dia kesulitan, tanda tangan saya boleh dipalsukan?”
“Itu belum terjadi.”
Aku hampir tertawa.
“Jadi Ibu tahu.”
“Nadira, dalam rumah tangga itu kadang kita harus saling membantu.”
“Saya sudah membantu.”
Suaraku mulai bergetar.
“Saya bayar kebutuhan rumah. Saya pinjam uang dari kakak saya ketika Arga bilang gajinya terlambat. Saya menabung untuk persalinan. Saya bahkan tadi mendorong mobil Ibu dalam keadaan hamil dan lutut cedera.”
Dia diam.
“Berapa banyak lagi bantuan yang harus saya berikan sebelum saya boleh menyelamatkan diri sendiri?”
Bu Ratna mulai menangis.
Tapi anehnya, kali ini aku tidak merasa bersalah.
Kemudian dia mengatakan kalimat yang akhirnya menghancurkan sisa rasa hormatku kepadanya.
“Kalau kamu pergi sekarang, siapa yang akan bantu Arga bayar semua utangnya?”
Aku memejamkan mata.
Jadi itu alasannya.
Bukan karena dia takut rumah tangga anaknya hancur.
Bukan karena cucunya.
Dia takut sumber uang Arga pergi.
Aku memutus telepon.
Keesokan paginya aku mulai melakukan hal-hal yang seharusnya kulakukan sejak lama.
Aku mengganti kata sandi rekening dan emailku.
Aku menghubungi bank untuk memastikan tidak ada perubahan yang kubuat tanpa sepengetahuanku.
Aku menyimpan salinan mutasi rekening.
Aku juga berkonsultasi mengenai dokumen yang menggunakan identitasku tanpa izin dan langkah yang perlu kulakukan untuk melindungi diri.
Aku tidak mengumumkan perang.
Aku hanya berhenti menjadi orang yang bisa mereka gunakan.
Arga datang ke apartemen Rani sore itu.
Dia berdiri di depan pintu hampir empat puluh menit.
Akhirnya aku keluar ke lorong.
Rani tetap berada beberapa meter di belakangku.
Arga tampak seperti tidak tidur.
“Nadira, pulang.”
“Rumah yang mana?”
Dia mengernyit.
“Rumah kita.”
“Yang tagihannya kubayar sementara kamu membiayai perempuan lain?”
Dia menunduk.
“Aku akan putus sama Selvi.”
Aku hampir merasa kasihan mendengar kalimat itu.
Hampir.
“Masalah kita bukan Selvi.”
Dia menatapku.
“Masalahnya kamu.”
Dia mulai menangis.
Untuk pertama kalinya.
“Aku kacau, Nad. Aku tahu.”
“Kenapa pakai dataku?”
“Aku kepepet.”
“Kenapa tanda tanganku?”
“Aku cuma butuh waktu.”
“Kenapa uang persalinan kita kamu ambil?”
Dia tidak menjawab.
Aku menunggu.
Akhirnya dia berkata,
“Selvi bilang dia hamil.”
Aku merasa lorong apartemen itu berputar.
Rani langsung mendekat satu langkah.
Aku berpegangan pada dinding.
“Apa?”
“Dia bilang anaknya anakku.”
Aku tidak tahu bagaimana menjelaskan perasaan saat itu.
Aku sedang mengandung anak suamiku.
Dan perempuan lain mengaku mengandung anak dari laki-laki yang sama.
Aku hanya bertanya,
“Berapa bulan?”
“Empat.”
Aku tertawa kecil.
Bukan karena lucu.
Karena tubuhku tidak tahu lagi harus bereaksi bagaimana.
“Jadi uang kita dipakai untuk dia?”
Arga menangis lebih keras.
“Aku panik.”
Aku menggeleng.
“Tidak. Kamu memilih.”
Tiga minggu kemudian, sesuatu yang sama sekali tidak kuduga terjadi.
Selvi menghubungiku.
Pesannya hanya satu.
Mbak Nadira, saya rasa kita berdua dibohongi orang yang sama.
Aku hampir memblokirnya.
Tapi kemudian dia mengirim sebuah foto.
Foto transfer.
Bukan dari Arga kepadanya.
Dari Selvi kepada Arga.
Rp15 juta.
Aku meneleponnya.
Kami bertemu di sebuah kafe di Jakarta Selatan, di tempat ramai.
Selvi datang sendirian.
Dia terlihat jauh berbeda dari perempuan yang selama ini kubayangkan.
Tidak ada pakaian mewah.
Tidak ada tas mahal.
Dia tampak lelah.
Hal pertama yang dia katakan adalah,
“Saya minta maaf.”
Aku tidak menjawab.
Kemudian dia mengeluarkan HP.
Arga ternyata mengatakan kepadanya bahwa dia dan aku sudah berpisah hampir setahun.
Dia bilang kami hanya tinggal serumah karena aku sedang mengalami masalah keuangan.
Bahkan Arga mengatakan bayi yang kukandung bukan anaknya.
Aku sampai kehilangan kata-kata.
“Tapi kamu bilang kamu hamil,” kataku.
Wajah Selvi berubah.
“Saya tidak hamil.”
Aku menatapnya.
“Apa?”
“Saya nggak pernah bilang begitu.”
Dia menunjukkan percakapan mereka.
Tidak ada kehamilan.
Tidak ada biaya pemeriksaan.
Tidak ada ancaman.
Sebaliknya, selama enam bulan terakhir, Arga berkali-kali meminjam uang dari Selvi.
Untuk “modal usaha”.
Untuk “biaya pengacara perceraian”.
Untuk “membantu ibunya”.
Totalnya hampir Rp47 juta.
Saat itulah seluruh pola itu terlihat.
Arga bukan mempertahankan Selvi dengan uang kami.
Dia mengambil uang dariku untuk meyakinkan Selvi bahwa hidupnya baik-baik saja.
Lalu mengambil uang dari Selvi untuk menutup lubang keuangan yang dia sembunyikan dariku.
Ketika semuanya mulai runtuh, dia menciptakan kebohongan baru.
Selvi hamil.
Agar aku mengira dialah alasan semua uang itu hilang.
Dan mungkin agar aku terlalu sakit hati untuk memeriksa angka-angkanya.
Aku menatap perempuan di depanku.
Selama berminggu-minggu aku membencinya.
Ternyata dia memang melakukan kesalahan karena menjalin hubungan dengan laki-laki yang katanya sudah berpisah.
Tapi dia juga sedang berdiri di reruntuhan kebohongan yang sama.
“Ada satu lagi,” katanya.
Dia membuka sebuah pesan suara.
Suara Arga terdengar jelas.
Kalau pinjaman atas nama Nadira cair, semua beres. Setelah itu aku bisa mulai dari nol.
Aku tidak menangis.
Aku hanya meminta Selvi mengirimkan salinannya kepadaku.
Aku tidak kembali kepada Arga.
Proses setelahnya tidak cepat dan tidak indah.
Ada dokumen.
Ada konsultasi.
Ada rekening yang harus diperiksa satu per satu.
Ada malam-malam ketika aku terbangun dan bertanya bagaimana aku bisa tidur di sebelah seseorang selama bertahun-tahun tanpa mengetahui siapa dia sebenarnya.
Bu Ratna sempat datang meminta aku “memikirkan anak.”
Aku menjawab,
“Justru karena saya memikirkan anak saya, saya tidak kembali.”
Dia tidak datang lagi.
Dimas juga meminta maaf.
Bukan sekali.
Dia tidak meminta aku memaafkannya.
Dia hanya memberikan semua bukti yang dia punya dan bersedia menjelaskan apa yang dia ketahui ketika dibutuhkan.
Beberapa bulan kemudian, aku melahirkan seorang bayi perempuan.
Aku menamainya Kirana.
Cahaya.
Hari pertama aku pulang bersama Kirana, aku duduk di dekat jendela rumah kakakku sambil menggendongnya.
Lututku sudah jauh membaik.
Di meja ada sebuah amplop.
Dimas mengantarkannya pagi itu.
Di dalamnya ada uang Rp5 juta.
Uang yang dulu kupinjam dari kakakku ketika Arga berbohong bahwa pembayaran proyeknya terlambat.
Ada secarik kertas.
Ini bukan dari Arga. Aku menjual motor lamaku. Anggap ini bagian kecil dari utang keluarga kami kepadamu. Kamu tidak perlu memaafkan siapa pun.
Aku menatap uang itu cukup lama.
Lalu kukembalikan kepada Dimas.
Aku hanya menyimpan kertasnya.
Bukan karena aku tidak membutuhkan uang.
Aku membutuhkannya.
Tapi untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, aku ingin sesuatu dalam hidupku tidak memiliki utang emosional kepada keluarga itu.
Setahun kemudian, aku bertemu Dimas lagi.
Dia datang membawa hadiah ulang tahun pertama Kirana.
Sebelum pulang, dia berdiri di dekat pintu dan berkata,
“Ada sesuatu yang selama ini nggak pernah aku bilang.”
Aku menunggu.
“Hari mobil itu mogok… sebenarnya bensinnya belum benar-benar habis.”
Aku mengernyit.
“Apa maksudmu?”
“Arga bilang ke Ibu indikatornya rusak dan bensinnya kosong. Tapi setelah kalian pergi, aku cek lagi. Masih ada bensin.”
Aku merasa tengkukku dingin.
“Kenapa mobilnya berhenti?”
“Aku nggak tahu pasti. Tapi setelah didiamkan sebentar, mobilnya bisa hidup lagi.”
Aku menatapnya.
Lalu perlahan aku memahami sesuatu.
Hari itu Bu Ratna tidak pernah terlihat panik soal mobil.
Arga juga tidak mencoba menelepon bengkel.
Mereka hanya terus menyuruhku mendorong.
Seolah yang sedang diuji bukan mobilnya.
Tapi aku.
Beberapa hari kemudian, Dimas mengirimkan tangkapan layar lama yang baru dia temukan dari percakapan keluarga.
Pesan Bu Ratna kepada Arga dikirim pagi sebelum perjalanan itu.
Kalau Nadira masih mau bantu dalam keadaan begini, berarti dia nggak akan ninggalin kamu waktu masalah utang keluar.
Aku membaca kalimat itu berulang kali.
Ternyata tanjakan itu bukan sekadar kecelakaan buruk.
Bu Ratna sudah mengetahui masalah utang Arga.
Dia tahu kemungkinan aku akan menemukan dokumen pinjaman.
Dan sebelum semuanya terbongkar, mereka ingin tahu satu hal:
Seberapa jauh aku masih bisa dipaksa untuk bertahan.
Mereka mengira seorang perempuan yang sedang hamil, terluka, dan masih mau mendorong mobil keluarga suaminya akan menjadi perempuan yang cukup mudah ditekan untuk ikut menanggung utang mereka.
Mereka hampir benar.
Aku memang mendorong mobil itu.
Aku mendorong sampai lututku kembali terluka.
Aku mendorong sambil menahan sakit.
Aku mendorong karena selama bertahun-tahun aku diajarkan bahwa menjadi istri berarti membantu, memahami, mengalah, dan menjaga keluarga agar tidak pecah.
Tapi mereka membuat satu kesalahan.
Mereka melepaskan rem.
Dan ketika mobil itu meluncur mundur ke arahku, tubuhku melakukan sesuatu sebelum pikiranku sempat memutuskan.
Aku menyingkir.
Aku menyelamatkan diriku sendiri.
Setahun kemudian, saat Kirana mulai belajar berjalan, aku sering teringat hari itu.
Dia akan berdiri sambil memegang sofa, mengambil satu langkah kecil, lalu jatuh terduduk.
Kemudian dia tertawa.
Bangun.
Mencoba lagi.
Suatu sore, dia berjalan tiga langkah tanpa berpegangan.
Aku berjongkok di depannya.
“Ayo, Sayang.”
Dia melangkah ke arahku.
Satu.
Dua.
Tiga.
Empat.
Lalu jatuh ke pelukanku sambil tertawa.
Aku memeluk tubuh kecilnya dan tiba-tiba menangis.
Kakakku yang sedang di dapur bertanya,
“Kamu kenapa?”
Aku menggeleng sambil tersenyum.
“Nggak apa-apa.”
Dan kali ini, kalimat itu benar.
Aku baik-baik saja.
Bukan karena hidupku kembali seperti dulu.
Justru karena tidak.
Aku tidak mendapatkan kembali pernikahanku.
Aku tidak mendapatkan kembali uang yang hilang dengan mudah.
Aku juga tidak mendapatkan penjelasan yang bisa membuat semua pengkhianatan itu terasa masuk akal.
Tapi aku mendapatkan sesuatu yang dulu hampir hilang tanpa kusadari.
Hak untuk mempercayai diriku sendiri.
Aku menatap Kirana yang kembali mencoba berdiri.
Dulu aku pikir hari terburuk dalam hidupku adalah hari ketika suamiku membiarkanku mendorong mobil dalam keadaan hamil dan terluka.
Sekarang aku melihatnya berbeda.
Hari terburukku memang dimulai di sebuah tanjakan.
Tapi hidup baruku juga dimulai di sana.
Bukan ketika Dimas memberikan HP-ku.
Bukan ketika aku menemukan bukti perselingkuhan.
Bukan ketika aku mengetahui soal utang atau tanda tangan palsu.
Melainkan beberapa detik sebelumnya.
Saat sebuah mobil meluncur mundur ke arahku dan aku akhirnya berhenti menahannya.
Karena terkadang kita menghabiskan bertahun-tahun mendorong sesuatu yang sebenarnya tidak pernah menjadi tanggung jawab kita.
Pernikahan yang hanya diperjuangkan satu orang.
Utang yang dibuat orang lain.
Kebohongan yang kita diminta tutupi.
Keluarga yang menganggap pengorbanan kita sebagai kewajiban.
Hari itu aku akhirnya mengerti:
Aku tidak harus berdiri di belakang sesuatu yang terus bergerak mundur dan menghancurkanku hanya karena orang lain menyebutnya keluarga.
Kadang-kadang, satu-satunya cara menyelamatkan diri bukan dengan mendorong lebih kuat.
Tapi dengan menyingkir dari jalurnya.
Aku mengangkat Kirana ke dalam pelukanku.
Dia menyentuh bekas luka kecil di lututku dengan jarinya.
Aku mencium keningnya.
Lalu kami berjalan masuk ke rumah.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, tidak ada siapa pun di belakangku yang menyuruhku kembali dan mendorong.
