SURAT AYAH YANG MEMBUATKU SADAR: SUAMIKU MENIKAHIKU BUKAN KARENA CINTA, TAPI KARENA RAHASIA YANG SELAMA INI DISEMBUNYIKANNYA DARIKU

Avatar penulis
Cerita 01
4 menit baca 186 tayangan
SURAT AYAH YANG MEMBUATKU SADAR: SUAMIKU MENIKAHIKU BUKAN KARENA CINTA, TAPI KARENA RAHASIA YANG SELAMA INI DISEMBUNYIKANNYA DARIKU
Indeks

Aku menatap kalimat terakhir surat itu sampai mataku terasa perih.

“Kalau suatu hari Raka meminta kamu menyerahkan dokumen ini, jangan pernah percaya padanya. Karena alasan sebenarnya dia menikahimu… bukan karena mencintaimu.”

Ruang tamu mendadak terasa begitu sunyi.

Bahkan suara hujan di luar jendela seakan menghilang.

Raka masih berdiri di hadapanku.

Wajahnya pucat.

Tangannya yang tadi menggenggam pergelangan tanganku perlahan terlepas.

Aku mengangkat kepala.

“Sejak kapan?”

Raka tidak menjawab.

“Sejak kapan kamu tahu tentang semua ini?”

Ia menarik napas dalam.

“Maya, dengarkan aku dulu.”

“Jangan panggil namaku seperti itu.”
SURAT AYAH YANG MEMBUATKU SADAR: SUAMIKU MENIKAHIKU BUKAN KARENA CINTA, TAPI KARENA RAHASIA YANG SELAMA INI DISEMBUNYIKANNYA DARIKU

Suaraku tidak keras.

Justru karena terlalu pelan, aku bisa melihat wajahnya semakin tegang.

“Tiga tahun aku menjadi istrimu. Aku percaya kepadamu. Bahkan ketika kamu tidak datang saat ayahku meninggal, aku masih berusaha mencari alasan untuk membelamu.”

Aku mengangkat surat itu.

“Tapi sekarang ayahku meninggalkan bukti bahwa dia sudah tahu sesuatu tentangmu sebelum aku menikah denganmu.”

Raka menunduk.

“Aku memang tahu tentang perjanjian itu.”

“Bukan itu yang kutanyakan.”

Aku menunjuk kalimat terakhir.

“Kenapa ayah menulis ini?”

Raka diam.

Pak Arman akhirnya membuka suara.

“Karena dua tahun sebelum pernikahan kalian, ayah Maya menemukan transaksi yang tidak pernah ia setujui.”

Aku menoleh.

“Transaksi apa?”

Pak Arman mengeluarkan beberapa salinan rekening.

“Sebagian dana yang seharusnya digunakan untuk mengembangkan usaha keluarga Raka ternyata dialihkan ke rekening pribadi.”

Aku merasakan jantungku berdegup keras.

“Siapa yang mengalihkan?”

Pak Arman memandang Raka.

“Bukan Raka.”

Aku terdiam.

Raka juga mengangkat kepala.

Pak Arman melanjutkan,

“Yang melakukan adalah ayah Raka.”

Raka memejamkan mata.

Untuk pertama kalinya, aku melihat rasa malu di wajahnya.

“Ayahku memang melakukan kesalahan,” katanya pelan.

“Lalu kamu tahu?”

“Aku tahu setelah semuanya terjadi.”

“Dan kamu tetap menikahiku?”

Raka tidak menjawab.

Air mataku jatuh tanpa kusadari.

Aku tidak menangis karena kehilangan uang.

Aku menangis karena tiba-tiba semua kenangan dalam tiga tahun terakhir terasa seperti sesuatu yang harus kuperiksa kembali.

Pertemuan pertama.

Lamaran.

Pernikahan.

Semua kalimat manisnya.

Semua janji yang pernah ia ucapkan.

Apakah semuanya bohong?

“Aku menikahimu karena awalnya aku memang mencintaimu.”

Aku tertawa getir.

“Awalnya?”

Raka mengangguk.

“Tapi kemudian aku mengetahui bahwa ayahmu ingin mengambil kembali bagian usaha yang secara hukum memang menjadi haknya.”

Aku menatapnya.

“Dan kamu takut kehilangan semuanya.”

Ia tidak menyangkal.

“Ya.”

Jawaban itu justru lebih menyakitkan daripada kebohongan.

Aku memalingkan wajah.

“Jadi aku apa?”

Raka menatapku lama.

“Awalnya kamu adalah orang yang kucintai.”

Ia berhenti.

“Lalu kamu menjadi orang yang paling kutakuti.”

Aku berdiri.

“Keluar.”

“Maya…”

“Keluar dari rumah ini.”

“Aku ingin menjelaskan semuanya.”

“Tidak malam ini.”

Raka tidak bergerak.

Aku menunjuk pintu.

“Pergi.”

Akhirnya ia mengambil jaketnya dan berjalan keluar.

Sebelum pintu tertutup, ia menoleh.

“Ada satu hal yang belum kamu tahu.”

Aku tidak menjawab.

“Perjanjian itu bukan alasan ayahmu menyuruhku menikahimu.”

Aku membeku.

Raka melanjutkan,

“Ayahmu justru pernah memberiku kesempatan untuk membatalkan semuanya.”

Pintu tertutup.

Aku berdiri tanpa bergerak.

Pak Arman menatapku.

“Besok kita harus membuka dokumen terakhir.”

Aku menoleh.

“Masih ada?”

Ia mengangguk.

“Ada satu pernyataan yang sengaja disimpan ayahmu sampai kamu siap membacanya.”

“Isinya apa?”

Pak Arman menghela napas.

“Bukti bahwa ayahmu sebenarnya sudah tahu siapa yang paling bertanggung jawab atas semua penipuan itu.”

Aku merasakan tubuhku kembali dingin.

“Siapa?”

Pak Arman tidak langsung menjawab.

Ia hanya menatap pintu tempat Raka pergi.

Kemudian berkata,

“Orang yang selama ini kamu kira sedang membelamu.”

Aku menoleh ke arah ibu.

Wajahnya pucat.

Dan untuk pertama kalinya malam itu, ibu berkata dengan suara bergetar,

“Maya… sebelum kamu membaca dokumen itu, ada sesuatu tentang ayahmu yang harus Ibu ceritakan.”

Aku menatap ibu.

“Apa?”

Ibu menggenggam tanganku.

“Ayahmu pernah meminta Ibu merahasiakan satu hal darimu.”

Aku menahan napas.

“Bahwa sebelum kamu menikah dengan Raka…”

Ibu menunduk.

“…ayahmu sudah pernah menyelamatkan Raka dari kebangkrutan.”

Aku terdiam.

Ternyata kisah ini jauh lebih dalam dari sekadar uang.

Dan malam itu, aku sadar satu hal.

Ayah tidak meninggalkan warisan untuk membuatku kaya.

Ia meninggalkan kebenaran agar aku tidak lagi hidup dalam kebohongan.