Aku masih berdiri di tengah kamar kos ketika wanita itu mengatakan bahwa laki-laki yang kuselamatkan kemarin adalah ayah kandungku.
Ayah.
Satu kata yang selama dua puluh empat tahun hanya menjadi bagian kosong dalam hidupku.
Aku menatap foto lama di tanganku.
Di sana, seorang perempuan muda berdiri sambil tersenyum. Di sampingnya ada seorang pria yang wajahnya sangat mirip denganku.
Bukan sekadar mirip.
Bentuk matanya, hidungnya, bahkan garis rahangnya hampir sama.
Tanganku mulai gemetar.
“Siapa sebenarnya Anda?”
Wanita itu menarik napas panjang.
“Namaku Mira. Aku adik dari pria yang kamu selamatkan kemarin.”
“Kalau begitu… kenapa selama ini ibu saya mengatakan ayah saya sudah meninggal?”
Mira menundukkan kepala.
“Karena dia juga percaya begitu.”
Aku terdiam.
“Percaya?”
“Dua puluh empat tahun lalu, keluargaku diberi tahu bahwa bayi laki-laki kakakku meninggal beberapa jam setelah lahir.”

Aku menatapnya.
“Bayi?”
Mira mengangguk.
“Namamu sebenarnya bukan Dimas.”
Jantungku berdetak lebih keras.
“Lalu siapa?”
Mira belum sempat menjawab ketika ponselnya kembali berdering.
Ia mengangkatnya.
“Halo?”
Wajahnya berubah.
“Sekarang?”
Aku berdiri.
“Ada apa?”
Mira mematikan telepon.
“Ayahmu sudah sadar.”
Aku tidak tahu harus merasa bahagia atau takut.
Kami langsung menuju rumah sakit.
Sepanjang perjalanan, aku hanya menatap keluar jendela.
Hujan kemarin sudah berhenti.
Tetapi kepalaku justru semakin penuh dengan pertanyaan.
Jika laki-laki itu benar ayahku, mengapa ibu tidak pernah mengatakan apa pun?
Mengapa ia membiarkanku tumbuh tanpa seorang ayah?
Dan siapa yang membuat keluarganya percaya bahwa aku sudah meninggal?
Sesampainya di rumah sakit, Mira membawaku ke sebuah kamar.
Pintu terbuka.
Aku melihat laki-laki tua itu berbaring di atas tempat tidur.
Wajahnya pucat.
Selang infus terpasang di tangannya.
Ketika matanya melihatku, ia terdiam cukup lama.
Kemudian air mata mengalir dari sudut matanya.
“Dekat sini…”
Aku melangkah perlahan.
Aku berdiri di samping tempat tidurnya.
Ia mengangkat tangan.
Aku ragu.
Namun akhirnya kugenggam tangannya.
Tangannya dingin.
Tetapi genggamannya kuat.
“Namamu…”
Ia menelan ludah.
“Dimas?”
Aku mengangguk.
Ia menutup mata.
Seolah sedang mengumpulkan seluruh keberanian.
“Bukan.”
Satu kata itu membuat dadaku sesak.
“Namamu dulu adalah Raka.”
Aku membeku.
“Raka?”
“Ibumu memberimu nama itu.”
Aku menatap wajahnya.
“Kalau saya anak Anda… kenapa saya dibesarkan dengan nama lain?”
Pria itu memejamkan mata.
“Karena kami semua ditipu.”
Aku ingin marah.
Namun melihat tubuhnya yang lemah, aku hanya bertanya,
“Siapa yang menipu kalian?”
Sebelum ia menjawab, pintu kamar terbuka.
Seorang pria tua masuk bersama dua orang lainnya.
Mira langsung berdiri.
“Kak…”
Pria yang baru masuk itu menatapku.
Tatapannya membuatku merasa tidak nyaman.
Darma—laki-laki yang selama ini kukira hanya seorang pasien tua yang kutolong di jalan—langsung berubah tegang.
“Kenapa kamu datang?”
Pria itu tidak menjawab.
Ia justru menatapku.
“Jadi ini anak itu?”
Aku menoleh kepada Mira.
“Siapa dia?”
Mira berbisik,
“Namanya Bima. Kakak kedua ayahmu.”
Aku kembali menatap pria itu.
Bima tersenyum tipis.
“Dimas, sebaiknya kamu jangan terlalu percaya cerita yang baru kamu dengar hari ini.”
Darma langsung berusaha bangun.
“Jangan libatkan dia.”
Bima menatap kakaknya.
“Sudah terlambat.”
Aku merasa udara di kamar semakin berat.
Bima kemudian mengeluarkan sebuah map.
“Dua puluh empat tahun lalu, ibumu membawa bayi itu pergi.”
Aku menggeleng.
“Tidak.”
“Ibumu meninggalkan rumah keluarga kami setelah anak itu dinyatakan meninggal.”
“Itu bohong!”
Aku bahkan tidak tahu mengapa aku berteriak.
Mungkin karena selama hidupku, aku selalu merasa ada sesuatu yang tidak pernah dikatakan ibu.
Bima tersenyum.
“Kalau ingin tahu kebenarannya, tanyakan sendiri kepada ibumu.”
Aku langsung mengambil ponsel.
Tanganku gemetar saat menekan nomor ibu.
Tidak diangkat.
Aku mencoba lagi.
Tetap tidak diangkat.
Untuk ketiga kalinya, akhirnya tersambung.
“Ibu…”
Suara ibu terdengar dari seberang.
“Dimas?”
Aku menahan napas.
“Ibu kenal seorang pria bernama Darma?”
Tidak ada jawaban.
Hanya suara napas.
Kemudian terdengar suara ibu bergetar.
“Dari mana kamu tahu nama itu?”
Aku menutup mata.
“Dia ada di rumah sakit.”
Lama sekali ibu tidak berbicara.
Lalu terdengar tangisan kecil.
“Dimas… jangan pulang dulu.”
Aku berdiri.
“Kenapa?”
“Ibu takut.”
Dua kata itu membuatku semakin bingung.
“Takut kepada siapa?”
Ibu tidak menjawab.
Tiba-tiba telepon terputus.
Aku mencoba menelepon kembali.
Tidak aktif.
Aku menatap layar.
Mira melihat wajahku.
“Ada apa?”
“Ibu bilang dia takut.”
Darma langsung memegang tanganku.
“Bawa aku ke rumahmu.”
“Apa?”
“Aku harus bertemu Sari.”
Bima langsung membentak,
“Tidak!”
Semua orang terdiam.
Untuk pertama kalinya, wajah Bima terlihat panik.
Darma menatap adiknya.
“Sekarang aku tahu.”
Bima mundur satu langkah.
“Apa?”
“Selama dua puluh empat tahun aku menyalahkan Sari.”
Darma menggenggam tanganku lebih kuat.
“Padahal mungkin dialah satu-satunya orang yang menyelamatkan anakku.”
Aku tidak mengerti.
Tetapi sebelum kami bisa bertanya lebih jauh, seorang perawat masuk dengan wajah cemas.
“Pak Darma…”
“Ada apa?”
“Polisi datang.”
Kami semua terdiam.
Perawat melanjutkan,
“Mereka ingin bertemu keluarga Bapak.”
Bima langsung menatapku.
Dan saat itu aku sadar.
Rahasia dua puluh empat tahun yang selama ini terkubur mungkin baru saja mulai terbuka.
Namun tidak ada seorang pun di ruangan itu yang tahu bahwa malam itu, seseorang sedang menuju rumah ibuku.
Seseorang yang tidak ingin masa lalu ditemukan.
