Bagian 3 — Aku Menemukan Suamiku Bersembunyi, Lalu Mengetahui Mengapa Namaku Sengaja Dihancurkan

Avatar penulis
Cerita 02
9 menit baca 602 tayangan
Indeks

Bagian 3 — Aku Menemukan Suamiku Bersembunyi, Lalu Mengetahui Mengapa Namaku Sengaja Dihancurkan

Aku tidak menjawab telepon Siska.

Aku menunduk, memasukkan ponsel ke tas, lalu berjalan cepat menuju lorong toilet.

Kakiku gemetar.

Bukan karena takut tertangkap.

Melainkan karena untuk pertama kalinya aku melihat dua wajah Siska dalam hari yang sama.

Wajah yang kukenal selama hampir tujuh tahun—perempuan yang membawakan bubur ketika aku demam, memegang tanganku sebelum akad, bahkan menangis lebih keras daripada aku saat ayahku meninggal.

Dan wajah yang baru saja kulihat di kafe.

Dingin.

Menghitung.

Membicarakan kehancuranku seolah aku hanya sebuah berkas.

Aku keluar melalui pintu servis gedung dan masuk ke taksi pertama yang berhenti.

Di dalam mobil, aku baru berani membuka rekaman.

Suaranya tidak sempurna.

Musik kafe cukup keras.

Tetapi beberapa kalimat terdengar jelas.

Dia sudah tahu rumahnya dikunci.

Semakin dia panik, semakin gampang orang percaya dia bersalah.

Kita cuma perlu dia menandatangani satu surat.

Aku menyimpan rekaman ke tiga tempat berbeda.

Email.

Cloud.

Dan kukirimkan salinan ke akun lama milikku sendiri.

Setelah itu aku membaca kembali surat Adrian.

Ada satu instruksi kecil yang tadi hampir kulewatkan.

Cari Bu Ningsih. Dia tahu transaksi pertama.

Bu Ningsih pernah menjadi kepala pembukuan PT Mahendra Distribusi, perusahaan keluarga Adrian.

Perempuan berusia hampir enam puluh tahun itu bekerja bersama ayah mertua selama dua puluh tiga tahun sebelum mendadak mengundurkan diri enam bulan lalu.

Saat itu Adrian hanya mengatakan Bu Ningsih ingin menjaga suaminya yang sakit di Bogor.

Aku menelepon nomor lama yang masih tersimpan.

Tidak aktif.

Aku kemudian menghubungi mantan sopir kantor yang kukenal.

Dari dialah aku mendapat alamat rumah Bu Ningsih di Depok.

Sore itu juga aku datang.

Rumahnya sederhana, bercat hijau muda, berada di sebuah gang dekat Beji.

Bu Ningsih membuka pintu dan langsung pucat ketika melihatku.

“Bu Ratih?”

Aku tidak membuang waktu.

Aku meletakkan print-out transfer di meja.

“Bu, saya mau tahu kenapa nama saya ada di sini.”

Wajahnya berubah.

Dia bahkan tidak langsung duduk.

“Dari mana Ibu dapat ini?”

“Adrian.”

Nama suamiku membuat ekspresinya semakin berat.

“Masuk dulu.”

Di ruang tamu kecil dengan kipas angin tua berputar pelan, Bu Ningsih mulai menceritakan semuanya.

Enam bulan sebelumnya, dia menemukan beberapa pembayaran vendor yang jumlahnya tidak masuk akal.

PT Nusantara Arta Prima menerima pembayaran ratusan juta hampir setiap bulan.

Masalahnya, tidak ada catatan barang masuk yang sesuai.

“Kalau perusahaan beli kardus kemasan empat ratus juta, harus ada barangnya,” katanya.

“Tapi gudang tidak pernah menerima sebanyak itu.”

Bu Ningsih memeriksa lebih jauh.

Setidaknya ada empat vendor serupa.

Alamat berbeda.

Rekening berbeda.

Tetapi pola invoice sama.

Orang yang selalu memberikan persetujuan awal adalah Raka.

“Kenapa Ibu tidak bilang ke Pak Surya?”

“Saya bilang.”

“Ayah Adrian tahu?”

Dia mengangguk.

“Tapi Pak Raka menunjukkan email dan dokumen seolah instruksi berasal dari Mas Adrian dan…”

Dia berhenti.

“Dan siapa?”

Bu Ningsih menatapku.

“Ibu.”

Aku merasa seperti ditampar.

Dia membuka laptop tua dan memperlihatkan foto beberapa dokumen.

Ada tanda tangan mirip milikku.

Ada potongan percakapan WhatsApp.

Ada email.

Semua terlihat sangat meyakinkan.

Seolah aku diam-diam membantu Adrian mengalihkan uang perusahaan ke vendor milik orang lain.

“Ini palsu.”

“Saya percaya.”

“Kenapa?”

Bu Ningsih memutar layar.

“Salah satu email dikirim tanggal 14 Juni jam delapan lewat tujuh belas malam.”

Sama seperti yang kulihat.

Dia membuka catatan lain.

“Server kantor menyimpan jejak IP. Pesan itu tidak dikirim dari rumah Ibu. Tidak dari kantor. Lokasinya Jakarta Selatan.”

Aku menyebut kawasan apartemen Siska.

Bu Ningsih mengangguk pelan.

“Itu sebabnya saya mulai curiga.”

Namun sebelum dia selesai mengumpulkan bukti, Raka mengetahui pemeriksaannya.

Bu Ningsih ditekan.

Putranya yang bekerja sebagai pemasok kecil untuk perusahaan diancam akan dimasukkan daftar hitam.

Suaminya sedang menjalani cuci darah.

Dia memilih mengundurkan diri.

“Saya pengecut, Bu Ratih.”

“Tidak.”

Suara itu keluar lebih tajam daripada yang kumaksud.

“Ibu punya keluarga yang harus dijaga.”

Aku menarik napas.

“Adrian tahu semua ini?”

Bu Ningsih tidak menjawab.

Tetapi tatapannya sudah cukup.

Marah yang sejak pagi kutahan kembali naik.

Jadi Adrian memang tahu.

Dia tahu namaku sedang dipalsukan.

Dia tahu seseorang sedang menjebakku.

Tetapi bukannya datang dan menjelaskan, dia mengganti kunci rumah dan menghancurkanku melalui telepon.

“Ada satu lagi,” kata Bu Ningsih.

Dia mengambil sebuah flashdisk.

“Sebelum saya keluar dari perusahaan, saya salin daftar transaksi. Saya tidak tahu apakah masih berguna.”

Aku menggenggam benda itu.

“Bu, apakah Adrian pernah menghubungi Ibu?”

Kemudian sesuatu yang tidak kuduga terjadi.

Bu Ningsih berkata,

“Dia ada di belakang.”

Aku berdiri begitu cepat sampai kursiku bergeser keras.

Pintu menuju dapur terbuka.

Dan Adrian muncul.

Tidak memakai jas.

Tidak memakai pakaian dinas.

Hanya kemeja hitam kusut dengan lengan digulung.

Wajahnya terlihat seperti orang yang tidak tidur berhari-hari.

Aku memandangnya.

Dia memandangku.

Selama beberapa detik, kami bahkan tidak bergerak.

Lalu aku berjalan mendekat.

Adrian membuka mulut.

“Ratih—”

Tanganku lebih dulu mendarat di pipinya.

Suara tamparan memecah ruang tamu.

Bu Ningsih terdiam.

Adrian tidak membalas.

Tidak memegang pipinya.

Aku menamparnya sekali lagi.

Kali ini air mataku ikut jatuh.

“Kamu pikir ini melindungiku?”

“Ratih…”

“Kamu mengganti kunci!”

Suaraku pecah.

“Kamu bilang aku tidak perlu pulang! Kamu bikin aku duduk di depan rumah seperti orang gila sementara tetangga melihat!”

“Aku tahu.”

“Nggak. Kamu nggak tahu.”

Aku mendorong dadanya.

“Kalau kamu tahu, kamu nggak akan melakukan itu.”

Adrian menunduk.

Untuk pertama kalinya selama empat tahun pernikahan kami, aku melihat suamiku benar-benar tidak punya jawaban.

Beberapa saat kemudian, dia berkata pelan,

“Aku salah.”

Aku tertawa getir.

“Bagus. Setidaknya satu hal masih bisa kamu akui.”

Adrian menjelaskan bahwa tiga hari sebelumnya dia menemukan salinan kunci rumah kami di laci meja Raka.

Awalnya dia mengira salah lihat.

Tetapi nomor seri duplikatnya cocok dengan kunci milikku.

Dia kemudian memeriksa rekaman parkir cluster dan menemukan mobil Raka masuk dua kali ketika kami tidak berada di rumah.

Salah satunya saat aku menghadiri arisan bersama Siska.

“Aku sadar mereka mencari sesuatu di rumah.”

“Apa?”

“Bukti transaksi asli.”

Adrian telah memindahkan dokumen tersebut ke unit penyimpanan.

Kemudian dia sengaja memberi tahu Raka bahwa dirinya akan dinas ke Surabaya.

Informasi itu hanya disampaikan kepada tiga orang.

Beberapa jam kemudian, Siska menghubungiku dan memintaku menginap.

Aku menatap Adrian.

“Jadi kamu sudah tahu Siska terlibat sebelum aku pergi?”

“Aku curiga.”

“Dan kamu tetap membiarkanku tidur di rumahnya?”

Raut wajah Adrian hancur.

“Aku pikir selama kamu ada di sana, mereka tidak akan menyakitimu. Target mereka rumah kita.”

“Kamu pikir?”

Aku hampir berteriak.

“Kamu menjadikan aku umpan tanpa memberitahuku!”

Adrian tidak membela diri.

Itulah satu-satunya alasan aku masih duduk mendengarkan.

Dia mengaku berada di Jakarta sepanjang malam.

Dengan bantuan pengacara keluarga bernama Farhan dan seorang auditor independen, dia mengikuti Raka.

Sekitar pukul dua pagi, kamera gerbang cluster merekam Raka memasuki rumah kami.

Adrian kembali dua jam kemudian setelah Raka pergi.

Dia memindahkan dokumen terakhir.

Lalu memanggil tukang kunci pukul enam pagi.

“Kenapa harus bilang pernikahan kita selesai?”

Aku bertanya.

“Mengapa tidak bilang saja jangan masuk rumah?”

Adrian mengusap wajahnya.

“Karena aku nggak tahu saat kamu menelepon kamu sendirian atau bersama Siska. Aku butuh mereka percaya aku sudah memakan cerita mereka.”

“Jadi kamu memilih kalimat paling kejam yang bisa kamu pikirkan?”

Dia menatapku.

“Iya.”

Aku terdiam.

“Dan aku akan menyesali itu selama hidupku.”

Tidak ada alasan yang bisa langsung membuat sakit hatiku hilang.

Tetapi setidaknya akhirnya aku tahu kenapa.

Raka dan Siska sedang membangun satu cerita besar.

Bahwa aku menggunakan kedekatanku dengan Adrian untuk mengalihkan dana perusahaan.

Bahwa ketika Adrian mengetahui pengkhianatan itu, dia langsung mengusirku.

Semakin buruk pertengkaran kami terlihat, semakin meyakinkan tuduhan mereka.

“Apa surat yang mereka ingin aku tandatangani?”

Adrian mengambil berkas.

Surat itu ternyata pernyataan penyelesaian pribadi.

Bahasanya dibuat seolah aku mengakui telah menerima uang perusahaan dan bersedia mengembalikannya secara bertahap.

Jika aku menandatangani dalam keadaan panik, itu akan menjadi “pengakuan” yang mereka butuhkan.

“Dan kalau aku menolak?”

“Mereka sudah menyiapkan rekaman suara dan percakapan palsu.”

Aku mengingat percakapan di kafe.

Dadaku kembali dingin.

“Kenapa Siska melakukan ini?”

Adrian menatap Bu Ningsih sebentar.

Kemudian mengatakan sesuatu yang tidak pernah kuketahui selama tujuh tahun mengenal sahabatku.

Ayah Siska dulu merupakan salah satu pemasok terbesar perusahaan keluarga Mahendra.

Lima tahun lalu kontraknya dihentikan setelah audit menemukan mark-up biaya.

Usahanya bangkrut.

Siska percaya Pak Surya menghancurkan keluarganya.

Dua tahun kemudian dia mulai bekerja sama dengan Raka, yang juga punya masalah utang dan akses penuh ke keuangan perusahaan.

“Jadi dia berteman denganku karena keluarga kalian?”

“Awalnya, mungkin.”

Aku merasa mual.

Semua ulang tahun.

Semua liburan.

Semua cerita yang kubisikkan kepadanya saat aku sedang rapuh.

Apakah semua itu pekerjaan?

Atau pada suatu titik dia benar-benar menganggapku sahabat lalu memilih mengkhianatiku?

Pertanyaan itu justru lebih sakit.

Kami tidak punya banyak waktu.

Besok malam Pak Surya mengadakan rapat keluarga sekaligus rapat terbatas pemegang saham di rumahnya di Pondok Indah.

Raka sudah mengatakan bahwa dia memiliki “bukti final”.

“Dia akan membuka semuanya di depan keluarga,” kata Adrian.

“Bagus.”

Adrian menatapku.

“Aku nggak mau kamu datang.”

Aku tertawa pendek.

Dia langsung sadar kesalahannya.

“Jangan.”

Aku berdiri.

“Jangan sekali lagi menentukan apa yang boleh dan tidak boleh kulakukan demi alasan melindungiku.”

Adrian terdiam.

Aku mengambil flashdisk Bu Ningsih.

“Namaku yang mereka hancurkan.”

Aku menunjuk pintu.

“Besok aku datang.”

Hari berikutnya aku tidak pulang ke rumah.

Aku juga tidak menemui Siska.

Aku menghabiskan waktu bersama Farhan dan auditor independen, memeriksa satu per satu bukti.

Kami memperoleh log server.

Riwayat email.

Salinan invoice.

Catatan parkir.

Dan rekaman kamera gerbang cluster.

Sore harinya, satu bukti terakhir tiba.

Rekaman kamera dari lobi apartemen Siska pada 14 Juni.

Pukul 19.52, aku terlihat keluar bersama sepupuku untuk menuju restoran.

Pukul 20.17, tepat ketika email palsu dikirim dari akunku, Siska terlihat sendirian memasuki unitnya.

Malam berikutnya, aku masuk ke rumah Pak Surya memakai blouse putih sederhana dan celana hitam.

Ruangan langsung hening.

Ibu mertuaku, Bu Mira, berdiri.

“Ratih?”

Pak Surya tidak menyambutku.

Tatapannya seperti melihat tersangka.

Di sisi meja panjang duduk Raka.

Siska berada di sebelahnya.

Dia mengenakan blazer krem dan wajah sedih yang sangat kukenal.

Ketika mata kami bertemu, dia bahkan mencoba terlihat terluka.

“Aku sudah cari kamu ke mana-mana.”

Aku tidak menjawab.

Rapat dimulai.

Raka memproyeksikan transfer demi transfer ke layar.

Total dana yang hilang mencapai lebih dari Rp4,2 miliar.

Namaku muncul dalam email.

Namaku muncul di chat.

Tanda tanganku muncul di dua lembar persetujuan.

Bu Mira mulai menangis.

Pak Surya mengepalkan tangan.

Kemudian Siska berdiri.

“Aku sebenarnya nggak mau melakukan ini.”

Aku hampir muak mendengarnya.

“Tapi Ratih sahabatku. Kalau dia melakukan kesalahan, dia harus bertanggung jawab.”

Dia menyerahkan sebuah flashdisk kepada Raka.

Sebuah rekaman suara diputar.

Suaraku sendiri memenuhi ruangan.

Jernih.

Tidak terbantahkan.

“Aku yang atur transfernya. Jangan sampai Adrian tahu dulu.”

Bu Mira menutup mulut.

Pak Surya langsung berdiri.

Dua penyidik yang sebelumnya dipanggil untuk menerima dokumen laporan saling berpandangan.

Bahkan Adrian membeku sesaat.

Siska menatapku.

Untuk pertama kalinya malam itu, senyum kecil muncul di sudut bibirnya.

Dan aku akhirnya mengerti.

Mereka tidak hanya memalsukan dokumen.

Mereka mempunyai suaraku sendiri.