Bagian 3 — Aku Meninggalkan Rumah dengan Satu Tas, Lalu Mereka Baru Mengenal Harga Pengorbananku
Transfer balik itu hanya memerlukan beberapa detik.
Aku mengetik nominal tiga juta dua ratus ribu rupiah.
Nama penerima muncul.
BIMA PRADANA.
Aku menekan tombol kirim.
Ponsel Mas Bima berbunyi hampir bersamaan.
Ia melihat layar.
Lalu wajahnya berubah.
“Kamu ngapain?”
“Ngembalikan uang bulan depan.”
“Aku tahu. Maksudku, buat apa?”
“Karena mulai malam ini aku tidak menerima uang untuk merawat Ibu.”
Mas Fajar meletakkan gelas kopinya.
“Ayu, jangan ekstrem.”
Aku mengambil tas ransel dari kamar.
Kemudian menyeret koper kecil ke ruang tengah.
Saat itulah mereka akhirnya sadar aku tidak sedang mengancam.
Aku benar-benar akan pergi.
Ibu menatap koperku seperti melihat pengkhianatan.
“Kamu sudah merencanakan ini?”
“Baru hari ini.”
“Kamu mau tinggal di mana?”
“Ada kos harian dekat Banyumanik. Besok aku cari tempat yang lebih tetap.”
Mas Bima tertawa sinis.
“Terus kerja?”
“Aku cari.”
“Dengan pengalaman apa? Tiga tahun kamu cuma di rumah.”
Kata-katanya menusuk tepat di tempat yang paling sakit.
Namun kali ini aku tidak ingin mempertahankan diriku.
Aku hanya mengeluarkan sebuah map plastik dari tas.
Di dalamnya ada jadwal obat.
Nomor fisioterapis.
Nomor puskesmas.
Nomor dokter.
Salinan kartu BPJS.
Daftar makanan yang membuat lambung Ibu bermasalah.
Catatan tekanan darah tiga bulan terakhir.
Dan nomor dua penyedia caregiver rumahan yang pernah kutanyakan harganya.
Aku meletakkannya di meja.
“Semua yang kalian butuhkan ada di sini.”
Mas Fajar membaca halaman pertama.
“Kamu sampai bikin begini?”
“Karena selama tiga tahun tidak ada seorang pun dari kalian yang tahu Ibu minum amlodipine pagi atau malam.”
Fajar terdiam.
Bima langsung membalas.
“Kalau kamu ingin libur, bilang. Tidak perlu pergi.”
“Aku tidak mau libur.”
Aku menatapnya.
“Aku mau hidupku kembali.”
Ibu mendengus.
“Hidup apa?”
Aku menoleh.
Wajah perempuan yang selama bertahun-tahun membuatku merasa bersalah itu tampak begitu yakin bahwa aku tidak punya dunia selain dirinya.
“Kamu mau jadi apa sekarang?” lanjutnya. “Umurmu sudah dua puluh enam. Teman-temanmu sudah punya karier. Ada yang sudah menikah. Kamu pikir gampang mulai lagi?”
Untuk pertama kalinya aku tidak merasa hancur mendengarnya.
Aku justru merasa lega.
Karena akhirnya semuanya jelas.
“Iya.”
Aku mengangguk.
“Memang tidak gampang.”
“Kemudian?”
“Tetap akan kulakukan.”
Aku membawa koper keluar.
Ibu memanggil namaku.
Sekali.
Dua kali.
Ketiga kalinya suaranya berubah menjadi tangisan.
Namun aku tetap berjalan.
Malam pertama di kos, aku tidur di kamar tiga kali empat meter dengan dinding putih kusam.
Kasurnya tipis.
Kamar mandinya di luar.
Suara motor dari jalan terdengar sampai tengah malam.
Tetapi untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun—
Tidak ada yang memanggilku pukul satu pagi karena ingin mengubah posisi bantal.
Tidak ada yang membentak karena air minum kurang hangat.
Tidak ada bau obat gosok.
Tidak ada suara pispot.
Aku tidur hampir sebelas jam.
Ketika bangun, ada dua puluh enam pesan di ponsel.
Sebagian besar dari grup keluarga.
Mas Bima menulis bahwa Ibu tidak mau sarapan.
Fajar bertanya lokasi stok obat lambung.
Mas Bima bertanya kenapa Ibu marah ketika diminta memakai popok.
Fajar menanyakan cara memindahkan Ibu dari ranjang ke kursi roda tanpa membuat punggung sakit.
Aku menjawab seperlunya.
Tidak lebih.
Siang itu aku membuka laptop tua.
Menyusun ulang CV.
Bagian pengalaman kerja kosong selama lebih dari tiga tahun membuatku menatap layar lama sekali.
Pada akhirnya kutulis sesuatu yang sebelumnya tidak pernah kuanggap sebagai kemampuan.
Pendamping keluarga untuk pasien pascastroke.
Mengatur jadwal obat.
Administrasi BPJS.
Koordinasi kontrol medis.
Mencatat pengeluaran rumah tangga.
Manajemen kebutuhan pasien.
Aku mengirim lamaran ke belasan tempat.
Hotel.
Klinik rehabilitasi.
Perusahaan homecare.
Kantor administrasi.
Dua hari kemudian, seorang dosen lamaku membalas status WhatsApp yang kuunggah.
Bu Ratna.
Ia dulu mengajar administrasi layanan.
Setelah mendengar ceritaku, ia mengatakan sebuah klinik fisioterapi di Semarang sedang mencari staf front office yang memahami pasien rehabilitasi.
Gajinya tidak besar.
Empat juta enam ratus ribu.
Tetapi ada BPJS Ketenagakerjaan.
Jam kerja jelas.
Dan yang terpenting—
Aku boleh pulang setelah pekerjaan selesai.
Aku menerima tawaran wawancara.
Sementara itu, keadaan di rumah mulai berantakan.
Hari ketiga, Fajar mengirim foto seprai yang basah.
Yu, Ibu kencing di kasur padahal pispot ada di samping.
Aku mengetik:
Tanya Ibu kenapa.
Lima menit kemudian ia menelepon.
“Ayu.”
Nada suaranya berbeda.
“Apa?”
“Ibu bilang tadi sebenarnya bisa panggil aku.”
“Lalu?”
“Katanya… dia kesal karena aku lama membalas.”
Aku diam.
Fajar juga diam.
Kemudian suaranya mengecil.
“Dia sering begini sama kamu?”
Aku tidak menjawab pertanyaannya.
“Besok aku wawancara. Aku mau tidur.”
Aku mematikan telepon.
Dua hari setelahnya giliran Bima.
Ia harus menjaga Ibu karena Fajar mendapat pekerjaan pemotretan di Solo.
Pukul sembilan pagi Ibu meminta bubur.
Bima memesannya lewat aplikasi.
Ibu menolak karena terlalu asin.
Ia memesan makanan lain.
Ibu bilang terlalu dingin.
Bima menghangatkannya.
Ibu bilang tidak selera.
Pukul sebelas, ketika Bima sedang melakukan panggilan video dengan pemasok, Ibu sengaja menumpahkan teh ke selimut lalu berteriak meminta diganti.
Menurut pesan Fajar malam itu, Bima akhirnya kehilangan kesabaran dan membentak.
Ibu kemudian menelepon tiga bibi kami sambil menangis bahwa anak laki-lakinya sudah tidak sayang lagi.
Aku membaca pesan itu tanpa komentar.
Seminggu kemudian mereka mempekerjakan caregiver pertama.
Namanya Mbak Nur.
Berpengalaman lima tahun.
Gajinya enam juta rupiah sebulan untuk dua belas jam kerja.
Belum termasuk caregiver malam.
Mas Bima langsung meneleponku.
“Enam juta? Kamu dapat nomor dari mana? Mahal sekali.”
“Itu harga yang aku dapat ketika bertanya dua bulan lalu.”
“Kenapa dua bulan lalu kamu sudah cari caregiver?”
“Karena dua bulan lalu aku sudah lelah.”
Ia tidak bisa menjawab.
Mbak Nur bertahan sebelas hari.
Hari kedua belas ia mengundurkan diri.
Alasannya sederhana.
Ibu menuduhnya mencuri uang seratus ribu yang ternyata terselip di dalam sarung bantal.
Caregiver kedua bertahan sembilan hari.
Ia pergi setelah Ibu melempar mangkuk bubur ke lantai karena telur rebusnya terlalu matang.
Caregiver ketiga bahkan hanya empat hari.
Mas Bima mulai mengirim pesan dengan nada yang jauh lebih lembut.
Ayu, bisa pulang sementara satu minggu saja? Kita cari solusi.
Aku membalas:
Aku bisa membantu memilih caregiver. Aku tidak kembali menjadi caregiver.
Ia tidak membalas lagi.
Pada akhir bulan pertama, aku resmi diterima di klinik rehabilitasi.
Hari pertamaku bekerja, tanganku gemetar ketika memakai kartu identitas dengan namaku sendiri.
AYU LESTARI — ADMINISTRASI PASIEN.
Sederhana.
Tetapi aku hampir menangis melihatnya.
Aku memiliki meja.
Aku memiliki jam istirahat.
Aku menerima gaji yang masuk ke rekening atas namaku.
Ketika pulang, aku membeli satu porsi nasi ayam dan sebuah pot kecil tanaman sirih gading untuk kamar kos.
Barang pertama yang kubeli bukan untuk Ibu.
Bukan untuk rumah.
Bukan untuk kakakku.
Untuk diriku sendiri.
Aku mulai berpikir semuanya akan perlahan tenang.
Aku salah.
Dua minggu kemudian, Bude Mira menelepon.
Katanya keluarga akan berkumpul hari Minggu.
“Ibumu bilang ada masalah uang.”
Aku langsung tahu arahnya.
Benar saja.
Ketika tiba di rumah Bude Mira, hampir semua orang sudah duduk.
Ibu ada di kursi roda.
Mas Bima di sebelah kanan.
Mas Fajar di kiri.
Di atas meja ada teh manis dan pisang goreng.
Aku baru duduk ketika Ibu berkata, “Ibu cuma ingin semuanya jelas.”
Aku menatapnya.
“Jelas tentang apa?”
Mas Bima mengambil alih.
“Selama tiga tahun aku kasih kamu uang setiap bulan.”
“Ya.”
“Sekarang Ibu bilang banyak kebutuhan ternyata tidak pernah kamu jelaskan.”
Aku hampir tertawa.
“Setiap bulan aku kirim foto pengeluaran.”
“Tidak semuanya ada struk.”
“Warung sayur tidak memberi struk.”
Salah satu paman menunduk menahan senyum.
Tetapi Bima belum selesai.
“Ibu juga kehilangan gelang.”
Aku menatap Ibu.
Gelang emas dua belas gram.
Hadiah dari almarhum Bapak.
Selama ini disimpan Ibu di kotak kecil dalam lemari.
“Kapan hilang?”
“Setelah kamu pergi.”
Mas Fajar terlihat tidak nyaman.
Aku langsung memahami permainan itu.
Tidak cukup membuatku menjadi anak durhaka.
Sekarang mereka butuh membuatku menjadi pencuri.
Aku bertanya pelan.
“Ibu menuduh aku mengambilnya?”
Ibu tidak menjawab langsung.
“Ibu cuma bilang, selama ini yang pegang lemari ya kamu.”
Ruangan mendadak senyap.
Bude Mira mencoba menengahi.
“Mungkin dicari dulu.”
“Aku sudah cari!” bentak Ibu.
Aku membuka tas.
Mengeluarkan buku tebal bersampul cokelat.
Mas Bima mengernyit.
“Apa itu?”
“Catatan tiga tahun.”
Di dalamnya ada semua pengeluaran.
Beras.
Listrik.
Popok.
Obat.
Transportasi.
Kontrol.
Salep.
Perbaikan kursi roda.
Kasur antidekubitus.
Bahkan fotokopi dan parkir rumah sakit.
Aku juga membawa rekening koran.
Total uang yang ditransfer Bima selama tiga tahun lebih sedikit daripada total pengeluaran rumah tangga yang tercatat.
Selisihnya—
Empat puluh tiga juta tujuh ratus ribu rupiah.
Uangku sendiri.
Hasil menjahit.
Input data.
Menjual beberapa barang.
Tabungan kuliah.
Aku mendorong buku itu ke tengah meja.
“Kalau Mas Bima ingin menghitung, kita hitung.”
Wajahnya berubah.
Aku melanjutkan.
“Kalau uang tiga juta dua ratus itu memang gajiku, berarti seluruh kebutuhan Ibu selama tiga tahun belum pernah kalian bayar.”
Ruangan benar-benar sunyi.
Mas Fajar mengambil buku itu.
Membuka halaman demi halaman.
Tangannya melambat ketika menemukan tanda tangannya sendiri di beberapa nota rumah sakit.
Namun Ibu tetap tidak mau kalah.
“Uang lagi, uang lagi. Keluarga kok hitung-hitungan.”
Aku menatapnya.
“Ibu yang memulai pembicaraan tentang uang.”
Wajahnya memerah.
Lalu ia mengucapkan kalimat yang membuat seluruh ruangan berubah.
“Pokoknya rumah ini nanti untuk Bima dan Fajar. Kamu jangan berharap apa-apa. Perempuan kalau sudah menikah ikut suami.”
Aku menatapnya beberapa detik.
Anehnya tidak ada rasa terkejut.
Mungkin karena aku sudah tahu.
Bima tampak salah tingkah.
Fajar berbisik, “Bu, jangan bahas warisan sekarang.”
Tetapi Ibu sedang marah.
Ia terus bicara.
“Bapakmu dulu juga tahu dua anak laki-laki yang akan meneruskan keluarga.”
Aku perlahan membuka kompartemen terakhir tasku.
Mengeluarkan amplop putih yang kutemukan ketika mengemasi barang malam aku pergi.
Di dalamnya ada fotokopi bukti penjualan sebidang tanah milik Bapak lima tahun sebelum meninggal.
Ada pula tiga lembar catatan lama.
Salah satunya bertuliskan tangan Ibu sendiri.
Aku meletakkannya di depan beliau.
“Ibu yakin mau membahas apa yang Bapak tinggalkan?”
Wajah Ibu seketika pucat.
Karena di kertas itu tertulis jelas pembagian uang hasil penjualan tanah.
Delapan puluh juta untuk modal usaha Bima.
Empat puluh juta membantu Fajar membeli kamera dan motor.
Dan enam puluh juta—
Disimpan untuk biaya pendidikan dan masa depan Ayu.
Aku menatap Ibu.
“Kalau begitu, sebelum membicarakan rumah, mungkin kita bisa membicarakan dulu ke mana uang enam puluh juta milikku pergi.”
Untuk pertama kalinya sejak aku kecil—
Ibu tidak memiliki jawaban.
