AKU MEMBUKA HASIL TES DNA ITU, DAN NAMA DI DALAMNYA MEMBUAT DUNIAKU SEAKAN BERHENTI BERPUTAR

Avatar penulis
Cerita 01
6 menit baca 192 tayangan
AKU MEMBUKA HASIL TES DNA ITU, DAN NAMA DI DALAMNYA MEMBUAT DUNIAKU SEAKAN BERHENTI BERPUTAR
Indeks

Aku masih berdiri di depan meja ketika telepon dari pengacara itu berakhir.

Tanganku gemetar.

Di hadapanku, selembar kertas tua tergeletak di atas meja.

Di bagian atas tertulis hasil pemeriksaan DNA.

Nama pertama adalah namaku.

Maya.

Nama kedua adalah nama seorang perempuan yang sama sekali tidak kukenal.

Sari Wulandari.

Aku menatap nama itu berulang kali.

Siapa dia?

Mengapa hasil tes DNA antara aku dan perempuan itu disimpan oleh ayahku?

Dan yang paling membuatku takut…

mengapa pengacara mantan suamiku yang menyimpannya?

Aku segera mengambil tas dan pergi.

Perjalanan menuju kantor pengacara terasa sangat panjang.

Sepanjang jalan, pikiranku dipenuhi pertanyaan.

Aku teringat malam ketika aku didiagnosis kanker.

Aku teringat wajah Ardi.

Aku teringat ibunya yang lebih sibuk membicarakan rumah daripada penyakitku.

Dan aku teringat kalimat Ardi.

“Aku tidak mau hidupku ikut hancur karena penyakitmu.”

Saat itu aku mengira aku kehilangan suami.

Sekarang aku mulai sadar, mungkin sejak awal aku sedang kehilangan sesuatu yang jauh lebih besar.

Begitu sampai, pengacara itu langsung menyambutku.

“Bu Maya, silakan duduk.”

Aku bahkan tidak sempat melepas tas.

“Siapa Sari Wulandari?”

Wajahnya berubah serius.

“Seharusnya saya menjelaskan semuanya setelah Ibu datang.”

“Sekarang.”

Ia menghela napas.

“Sari adalah ibu kandung Ibu.”
AKU MEMBUKA HASIL TES DNA ITU, DAN NAMA DI DALAMNYA MEMBUAT DUNIAKU SEAKAN BERHENTI BERPUTAR

Aku membeku.

Untuk beberapa detik, aku bahkan tidak mengerti arti kalimat itu.

“Ibu saya?”

“Ya.”

Aku tertawa kecil karena gugup.

“Tidak mungkin.”

“Ibu dibesarkan oleh pasangan yang selama ini Ibu kenal sebagai orang tua kandung. Tapi berdasarkan dokumen yang disimpan ayah Ibu, mereka bukan orang tua biologis Ibu.”

Dunia seakan miring.

Aku memegang sisi meja.

“Kenapa ayah tidak pernah mengatakan apa pun?”

“Karena ada alasan yang sangat rumit.”

Pengacara itu kemudian mengeluarkan sebuah map tebal.

Di dalamnya terdapat salinan akta lama, beberapa surat, bukti transfer, dan sebuah perjanjian yang dibuat puluhan tahun lalu.

Ia menjelaskan bahwa Sari Wulandari pernah bekerja di sebuah perusahaan milik keluarga besar Ardi.

Saat masih muda, Sari memiliki hubungan dengan seorang pria dari keluarga tersebut.

Pria itu meninggal sebelum sempat menikahinya.

Sari sedang mengandung.

Namun keluarga pria itu tidak ingin skandal tersebut diketahui.

Bayi itu kemudian diserahkan kepada pasangan yang tidak memiliki anak.

Bayi itu adalah aku.

“Ayah saya tahu?”

“Ya.”

“Lalu mengapa dia membesarkan saya?”

“Karena ayah Ibu adalah orang yang paling dekat dengan Sari pada saat itu. Ia berjanji melindungi Ibu dari keluarga tersebut.”

Aku menunduk.

Air mataku jatuh tanpa terasa.

Selama tiga puluh tahun hidupku, aku percaya satu keluarga adalah tempat aku berasal.

Ternyata ada bagian dari hidupku yang sengaja dikubur.

Namun masih ada satu pertanyaan.

“Kenapa semua ini muncul sekarang?”

Pengacara itu menatapku.

“Karena rumah yang dulu Ibu tinggali bersama Ardi bukan sekadar rumah.”

Aku mengangkat kepala.

Ia menggeser sebuah dokumen ke arahku.

“Rumah itu dibeli dengan dana yang berasal dari ayah Ibu.”

Aku terdiam.

“Secara hukum, kepemilikan akhirnya disusun sedemikian rupa agar keluarga Ardi tidak dapat mengambilnya begitu saja.”

“Jadi… Ardi tidak pernah benar-benar memiliki rumah itu?”

“Tidak sepenuhnya.”

Aku memejamkan mata.

Tiba-tiba aku memahami sesuatu.

Malam ketika aku pergi, Ratna begitu tergesa-gesa meminta perceraian.

Bukan karena penyakitku.

Bukan karena masa depan Ardi.

Mereka takut aku mengetahui sesuatu.

Pengacara itu mengeluarkan dokumen lain.

“Ini surat yang dibuat Ardi enam bulan lalu.”

Aku menatap tanda tangannya.

“Baca.”

Aku membaca perlahan.

Isi surat itu membuat napasku tercekat.

Ardi mengakui bahwa ibunya mengetahui asal-usulku.

Ia juga mengakui bahwa selama beberapa tahun, keluarganya berusaha mencari dokumen tentang status kepemilikan rumah.

Namun yang paling mengejutkan adalah satu paragraf terakhir.

“Jika Maya mengetahui semuanya, jangan biarkan ibu saya menjual rumah itu. Rumah tersebut seharusnya dikembalikan kepada Maya.”

Aku tidak bisa berkata apa-apa.

“Kenapa Ardi melakukan ini?”

Pengacara itu menjawab pelan.

“Karena pada akhirnya dia tahu bahwa ibunya telah berbohong kepadanya.”

Aku menutup mata.

Untuk pertama kalinya setelah enam bulan, aku merasakan sesuatu yang berbeda.

Bukan cinta.

Bukan juga keinginan untuk kembali.

Hanya rasa sedih.

Sedih karena mungkin Ardi baru memahami kesalahannya ketika semuanya sudah terlambat.

Tiba-tiba telepon pengacara berdering.

Ia mengangkatnya.

Wajahnya langsung berubah.

“Ya… saya mengerti.”

Ia menutup telepon.

Aku berdiri.

“Apa yang terjadi?”

“Ardi sadar.”

Jantungku berdegup keras.

“Dokter bilang kondisinya kritis, tetapi dia meminta satu hal.”

“Apa?”

“Dia meminta bertemu dengan Ibu.”

Aku diam lama.

Aku pernah berjanji tidak akan kembali.

Tetapi aku juga tahu, ada perbedaan antara kembali sebagai istri dan datang sebagai manusia.

Aku akhirnya berdiri.

“Aku akan datang.”

Ketika sampai di rumah sakit, aku melihat Ratna berdiri di lorong.

Wajahnya jauh lebih tua daripada yang kuingat.

Begitu melihatku, ia langsung berjalan mendekat.

“Maya…”

Aku berhenti.

“Jangan panggil aku seperti dulu.”

Ratna menangis.

“Aku salah.”

Aku menatapnya.

“Ya.”

Hanya satu kata.

Tetapi mungkin itulah jawaban yang paling jujur.

Ratna memegang lenganku.

“Ardi ingin meminta maaf.”

“Aku sudah memaafkannya.”

Ia terkejut.

“Benarkah?”

Aku mengangguk.

“Tapi memaafkan bukan berarti aku harus kembali.”

Pintu kamar terbuka.

Seorang perawat keluar.

“Dia memanggil nama Ibu.”

Aku masuk.

Ardi terbaring di ranjang.

Tubuhnya jauh lebih kurus.

Pria yang dulu kukenal sebagai suamiku kini tampak seperti seseorang yang sedang kehilangan seluruh kekuatannya.

Ia membuka mata.

Ketika melihatku, air matanya langsung jatuh.

“Maya…”

Aku berdiri beberapa langkah darinya.

“Aku datang.”

Ia mencoba bangun.

Aku menghentikannya.

“Jangan.”

Ardi menangis.

“Aku minta maaf.”

Aku tidak menjawab.

“Aku pikir kalau kita bercerai, semuanya akan lebih mudah.”

“Untuk siapa?”

Ia menutup mata.

“Untuk diriku sendiri.”

Kejujuran itu justru lebih menyakitkan daripada kebohongan.

“Aku takut.”

“Aku tahu.”

“Aku takut melihat kamu sakit.”

Aku menatapnya.

“Jadi kamu meninggalkanku.”

Ia menangis.

“Ya.”

Aku tidak membencinya.

Entah mengapa, setelah semua yang terjadi, kebencian terasa terlalu berat untuk kubawa.

Namun sebelum aku pergi, Ardi meraih tanganku.

“Maya…”

“Apa?”

“Jangan percaya ibuku.”

Aku mengerutkan kening.

“Kenapa?”

Ardi menatapku dengan mata penuh ketakutan.

“Dia belum mengatakan semuanya.”

Aku membeku.

“Masih ada apa?”

Ardi mencoba berbicara.

Namun tiba-tiba monitor di samping ranjang berbunyi keras.

Perawat berlari masuk.

Dokter datang.

Aku terpaksa mundur.

Sebelum pintu ditutup, aku mendengar Ardi berteriak dengan sisa tenaganya:

“Cari brankas ayahmu! Bukan rumah itu yang dia lindungi, Maya… tapi sesuatu yang ada di dalamnya!”

Pintu tertutup.

Aku berdiri di lorong dengan tubuh gemetar.

Brankas ayahku.

Aku bahkan tidak tahu ayah memiliki brankas.

Dan untuk pertama kalinya, aku mulai merasa bahwa semua yang terjadi selama enam bulan terakhir bukanlah kebetulan.

Penyakitku.

Perceraian.

Rumah.

Hasil DNA.

Dan keluarga Ardi.

Semuanya seperti potongan puzzle yang perlahan mulai menyatu.

Aku belum tahu apa yang ada di dalam brankas itu.

Tetapi satu hal sudah pasti.

Rahasia terbesar dalam hidupku belum terbuka.

Dan kali ini…

aku tidak akan lari.