Tanganku masih menggantung di udara.
Satu lembar terakhir dari surat itu belum kubalik.
Di depanku, Ibu berdiri dengan wajah pucat. Untuk pertama kalinya sepanjang hidupku, aku melihat perempuan yang selalu tampak kuat itu benar-benar ketakutan.
“Jangan baca,” katanya lagi.
Aku menatapnya.
“Kenapa?”
Dia tidak menjawab.
Dimas berdiri beberapa langkah di belakangnya, menundukkan kepala.
Aku menatap keduanya bergantian.
“Selama dua puluh tahun aku dianggap anak yang tidak berguna. Ayah memberikan rumah, usaha, dan semua aset keluarga kepada Dimas. Aku tidak pernah bertanya kenapa.”
Suaraku bergetar.
“Tapi sekarang, ketika aku akhirnya menemukan jawabannya, kalian malah memintaku berhenti?”
Ibu mulai menangis.
“Aku tidak bermaksud menyakitimu.”
“Lalu siapa yang bermaksud?”
Tidak ada jawaban.
Aku membalik halaman terakhir.
Hanya ada tiga kalimat.
Tetapi tiga kalimat itu cukup untuk membuat kakiku lemas.
“Namamu tercatat sebagai anak kandung seorang perempuan bernama Ratna.”
Aku menelan ludah.
Ratna.
Nama itu tidak asing.
Aku pernah mendengarnya.
Bukan sekali.
Berkali-kali.
Dari sebuah cerita lama tentang seseorang yang pernah bekerja bersama Ayah sebelum perusahaan keluarga berkembang.
Seorang perempuan yang meninggal dalam sebuah kecelakaan ketika aku masih bayi.
Aku menatap Ibu.
“Ratna?”
Dia menutup wajah dengan kedua tangan.
Aku merasa dunia di sekelilingku berputar.
“Jadi… aku anaknya?”
Ibu mengangguk sambil menangis.
“Tapi kenapa selama ini?”
Sebelum Ibu menjawab, suara Ayah terdengar dari telepon yang masih tersambung di saku jaketku.
“Karena waktu kamu lahir, keluarga Ratna sudah hancur.”

Aku membeku.
Aku bahkan lupa bahwa sejak tadi teleponku belum ditutup.
“Ayah?”
Suara Ayah terdengar lemah.
“Pulanglah. Ayah akan menceritakan semuanya.”
Aku membawa semua dokumen itu.
Tidak ada yang mencoba menghentikanku lagi.
Malam itu, ketika kami kembali ke rumah, Ayah sudah menunggu di ruang tengah.
Tubuhnya masih lemah, tetapi sorot matanya berbeda.
Seperti seseorang yang akhirnya memutuskan untuk berhenti bersembunyi.
“Duduklah, Nak.”
Aku duduk di depannya.
Dimas dan Ibu juga duduk.
Ayah mengambil napas panjang.
“Ratna adalah sahabat Ayah sejak muda.”
Dia berhenti sebentar.
“Dia bukan hanya sahabat. Dia juga orang yang membantu Ayah membangun usaha pertama.”
Aku mendengarkan tanpa menyela.
“Ketika usaha itu mulai berkembang, Ratna menemukan bahwa salah satu rekan bisnis Ayah melakukan penyelewengan dana.”
“Lalu?”
“Dia ingin melaporkannya.”
Ayah menatap meja.
“Tetapi sebelum sempat melakukannya, Ratna mengalami kecelakaan.”
Aku mengerutkan kening.
“Dan aku?”
“Kamu masih bayi.”
Ayah menggenggam tangannya sendiri.
“Ratna meninggal. Ayah membawa kamu pulang.”
“Kenapa?”
“Karena sebelum meninggal, dia menitipkanmu kepada Ayah.”
Aku menatapnya.
“Lalu kenapa aku tidak pernah diberi tahu?”
Ayah menutup mata.
“Karena orang yang menyebabkan kehancuran Ratna masih mencari dokumen yang dia simpan.”
Aku terdiam.
“Dokumen apa?”
Ayah menunjuk kotak besi yang kubawa.
“Semua jawabannya ada di sana.”
Aku membuka satu demi satu.
Ternyata dokumen itu bukan hanya mengenai diriku.
Ada catatan transaksi lama.
Ada surat perjanjian.
Ada bukti bahwa sebagian besar modal awal perusahaan keluarga berasal dari Ratna.
Dan yang paling mengejutkan, ada surat pengakuan kepemilikan.
Nama Ratna tercantum sebagai pemilik sebagian besar modal.
“Kalau begitu…”
Aku menatap Ayah.
“Perusahaan itu sebenarnya bukan sepenuhnya milik Ayah?”
Ayah menggeleng.
“Tidak.”
Dimas tiba-tiba mengangkat kepala.
“Dan itu alasan kenapa Ayah memberikannya kepadaku.”
Aku menatapnya.
“Apa maksudmu?”
Dimas menarik napas.
“Kalau perusahaan tetap atas nama Ayah, orang-orang tertentu akan terus mencari dokumen lama. Ayah mengalihkan sebagian aset kepadaku agar tidak mudah dilacak.”
Aku tertawa getir.
“Jadi selama ini aku mengira Ayah lebih menyayangi kamu.”
Dimas menunduk.
“Maaf.”
Aku menatap adikku.
“Kamu tahu semuanya?”
“Tidak semuanya.”
“Sejak kapan?”
“Dua tahun terakhir.”
“Lalu kenapa kamu meninggalkan Ayah di panti?”
Wajah Dimas berubah.
“Aku tidak meninggalkannya.”
Aku menatapnya tajam.
“Lalu?”
“Aku takut.”
Aku terdiam.
Dimas mengusap wajahnya.
“Beberapa bulan lalu aku menemukan transaksi mencurigakan dari perusahaan. Ada seseorang yang menggunakan nama perusahaan untuk mengambil pinjaman besar. Aku mencoba menghentikannya.”
“Siapa?”
“Orang yang sama yang dulu terlibat dalam kematian Ratna.”
Ruangan menjadi sunyi.
Aku merasakan tengkukku merinding.
“Dia masih hidup?”
Ayah mengangguk.
“Dan dia sudah berada di sekitar kita selama bertahun-tahun.”
Aku menatap Ibu.
Dia menangis lagi.
“Aku tahu,” katanya pelan.
“Siapa?”
Ibu tidak langsung menjawab.
Kemudian dia berkata,
“Orang yang paling sering datang ke rumah ini.”
Aku dan Dimas saling memandang.
Tiba-tiba terdengar suara mobil berhenti di depan rumah.
Semua orang membeku.
Dimas berdiri.
Dia melihat ke arah jendela.
Wajahnya berubah pucat.
“Dia datang.”
“Siapa?”
Dimas tidak menjawab.
Pintu depan diketuk.
Sekali.
Dua kali.
Kemudian suara seorang pria terdengar dari luar.
“Buka pintunya.”
Aku mengenal suara itu.
Selama bertahun-tahun, suara itu sering terdengar di rumah kami.
Suara orang yang selalu kami percaya.
Aku berjalan mendekati jendela.
Melihat sosok di balik pagar.
Dan saat itulah Ayah berbisik:
“Jangan buka pintunya.”
Aku menoleh.
“Siapa dia, Ayah?”
Ayah menatapku dengan mata penuh penyesalan.
“Dia orang yang selama ini Ayah jadikan wali perusahaan.”
Aku kembali melihat ke luar.
Pria itu mengangkat kepalanya.
Dan tersenyum.
Aku baru sadar bahwa selama ini, aku mungkin tidak sedang berhadapan dengan rahasia keluarga.
Aku sedang berhadapan dengan seseorang yang telah menunggu dua puluh tahun agar rahasia itu tidak pernah terbongkar.
