Aku berdiri di tengah gudang, masih menggenggam map hitam peninggalan ibuku.
Di hadapanku, Arman tidak lagi terlihat seperti suami yang selama sebelas tahun kukenal.
Wajahnya pucat.
Tangannya gemetar.
Sementara Rika berdiri beberapa langkah di belakangnya, menangis tanpa suara.
Lalu dari luar terdengar ketukan lagi.
Tok.
Tok.
Tok.
“Saudari Laras, jangan buka pintu sebelum Anda membaca dokumen yang ada di tangan Anda.”
Suara itu milik Pak Dimas, pengacara lama ibuku.
Aku mengenalnya.
Beberapa kali dia datang ketika ibuku masih hidup.
Tetapi setelah ibu meninggal, aku tidak pernah melihatnya lagi.
Aku menatap Arman.
“Kenapa dia tahu tentang map ini?”
Arman tidak menjawab.
Aku bertanya lagi.
“Dan siapa orang yang dia bilang datang untuk bersaksi?”
Rika tiba-tiba berlutut.
“Laras…”
Aku menatapnya.
“Jangan panggil namaku seolah-olah kita masih berteman.”
Air mata Rika jatuh.
“Aku tidak tahu semuanya.”
“Tidak tahu apa?”
Dia menutup wajahnya.
“Aku hanya disuruh membantu Arman.”
Aku tertawa pahit.
“Membantunya menghancurkan pernikahanku?”
“Bukan begitu…”
“Lalu apa?”

Rika tidak mampu menjawab.
Arman akhirnya berkata, “Cukup.”
Aku menatapnya.
“Tidak. Malam ini tidak cukup.”
Aku mengangkat surat ibu.
“Sebelas tahun aku menjadi istrimu. Aku memasak untukmu, merawat ayahmu ketika sakit, menjual perhiasanku untuk membantu usahamu, bahkan menolak pekerjaan yang kusukai karena kamu bilang keluarga membutuhkan aku.”
Suaraku bergetar.
“Tapi ternyata selama ini kamu sedang merencanakan bagaimana membuatku pergi tanpa membawa apa pun.”
Arman memejamkan mata.
“Laras, semuanya tidak sesederhana itu.”
“Memang.”
Aku mengangguk.
“Karena kalau sederhana, kamu tidak akan takut pada surat ibuku.”
Aku membuka halaman terakhir.
“Di sini tertulis ayahku meninggal setelah menolak menandatangani pengalihan aset.”
Aku menatap Arman lurus-lurus.
“Apakah keluargamu terlibat?”
Arman terdiam terlalu lama.
Dan diamnya adalah jawaban pertama yang jujur darinya malam itu.
Aku merasa lututku lemas.
Ayahku meninggal ketika aku masih kecil.
Selama bertahun-tahun, aku percaya dia mengalami kecelakaan biasa.
Ibu tidak pernah menceritakan hal lain.
Aku bahkan tidak pernah bertanya.
Mungkin karena setiap kali membicarakan ayah, ibu selalu menangis.
Aku mengira itu hanya kesedihan seorang istri yang kehilangan suaminya.
Ternyata ada ketakutan di balik air mata itu.
Terdengar suara pintu utama dibuka.
Aku menoleh.
Pak Dimas masuk bersama seorang pria tua.
Pria itu berjalan perlahan.
Rambutnya sudah memutih.
Tangannya memegang tongkat.
Namun saat dia mengangkat wajah, jantungku seolah berhenti.
Aku mengenali mata itu.
Mata yang selama ini hanya kulihat dalam foto lama.
“…Ayah?”
Suara itu keluar tanpa kusadari.
Pria tersebut menangis.
“Laras…”
Aku mundur beberapa langkah.
Tidak.
Ini tidak mungkin.
Ayahku sudah meninggal.
Aku menghadiri pemakamannya.
Aku melihat peti mati.
Aku melihat ibu menangis.
Bagaimana mungkin?
Pak Dimas berdiri di sampingnya.
“Laras, ayahmu tidak meninggal dalam kecelakaan itu.”
Dunia terasa berputar.
Aku memegang meja agar tidak jatuh.
“Apa maksud Anda?”
Pak Dimas menarik napas panjang.
“Pria yang dimakamkan waktu itu bukan ayahmu.”
Aku menatapnya tidak percaya.
“Apa?”
“Ayahmu mengalami kecelakaan setelah mengetahui adanya penyelewengan besar dalam perusahaan tempat dia bekerja. Dia selamat, tetapi keluarganya mendapat ancaman.”
Aku menoleh kepada Arman.
“Dan keluargamu?”
Pak Dimas mengangguk perlahan.
“Nama keluarga Arman memang muncul dalam dokumen lama.”
Arman menundukkan kepala.
Aku merasa seluruh tubuhku dingin.
Tetapi Pak Dimas segera berkata,
“Namun ada sesuatu yang harus Anda ketahui sebelum menyimpulkan semuanya.”
Dia menyerahkan satu amplop kepadaku.
“Baca ini.”
Aku membukanya.
Surat itu ditulis ibu.
Tanganku gemetar.
“Laras, kalau suatu hari ayahmu kembali, jangan langsung membencinya.”
Aku menahan napas.
“Dia tidak meninggalkan kita karena tidak mencintaimu. Dia pergi karena kalau dia tetap tinggal, keselamatanmu akan terancam.”
Air mataku jatuh.
Selama bertahun-tahun aku membenci ayahku.
Aku pernah bertanya kepada ibu mengapa ayah meninggalkan kami.
Ibu hanya berkata,
“Kadang orang pergi bukan karena tidak sayang. Kadang mereka pergi karena ingin orang yang disayanginya tetap hidup.”
Aku tidak pernah mengerti.
Sampai malam itu.
Aku memandang pria tua di depanku.
“Ayah… kenapa baru sekarang?”
Dia menangis.
“Karena selama ini aku diawasi.”
Aku menggigit bibir.
“Lalu kenapa aku menikah dengan Arman?”
Ayah menatapku lama.
“Aku tidak tahu.”
Arman tiba-tiba berkata,
“Aku tahu.”
Semua orang menoleh.
Dia mengusap wajahnya.
“Aku tahu sejak awal.”
Aku menatapnya.
“Apa yang kamu tahu?”
Arman menarik kursi dan duduk.
Wajahnya terlihat seperti seseorang yang akhirnya kehabisan tenaga untuk berbohong.
“Ayahku mengetahui bahwa ayahmu masih hidup.”
Aku membeku.
“Dia kemudian mencari kamu.”
“Untuk apa?”
“Untuk mendapatkan dokumen yang diyakini ayahmu simpan.”
Aku menggenggam surat itu.
“Dokumen apa?”
Arman menatapku.
“Bukti bahwa sebagian aset perusahaan keluargaku diperoleh secara ilegal.”
Ruangan mendadak sunyi.
Aku baru memahami satu hal.
Arman menikahiku bukan karena cinta.
Tetapi juga bukan sesederhana karena ingin mengambil rumah.
Ada sesuatu yang jauh lebih besar.
“Lalu selama sebelas tahun ini?”
Arman menunduk.
“Aku mencari dokumen itu.”
Aku tertawa dengan air mata di pipi.
“Jadi semua ini benar-benar sandiwara?”
Dia tidak langsung menjawab.
“Awalnya iya.”
Jawaban itu terasa seperti pisau.
“Awalnya?”
Arman menatapku.
“Seiring waktu… aku benar-benar mencintaimu.”
Aku menggeleng.
“Jangan.”
“Aku serius.”
“Jangan katakan cinta setelah kamu merencanakan perceraian dan mengambil rumahku.”
Arman menunduk.
“Aku tahu.”
Untuk pertama kalinya aku melihat penyesalan di wajahnya.
Tetapi aku tidak bisa lagi percaya pada kata-kata.
Pak Dimas kemudian berkata,
“Laras, ada satu hal terakhir.”
Dia menunjuk map hitam.
“Dokumen yang dicari keluarga Arman selama sebelas tahun sebenarnya bukan di dalam rumah ini.”
Aku menatapnya.
“Lalu di mana?”
Pak Dimas menatap ayahku.
Ayahku berkata pelan,
“Di tempat ibumu dimakamkan.”
Aku terdiam.
Kemudian terdengar suara mobil berhenti di luar.
Kali ini beberapa orang turun.
Pak Dimas melihat keluar jendela.
“Sudah terlambat.”
Aku bertanya,
“Siapa mereka?”
Dia menjawab,
“Orang-orang yang selama ini mencari dokumen itu.”
Arman berdiri.
“Laras, kita harus pergi.”
Aku menatapnya.
Dulu aku akan mengikuti suamiku tanpa bertanya.
Malam itu aku justru mundur.
“Tidak.”
Arman terdiam.
Aku menggenggam surat ibu.
“Aku tidak akan lari lagi.”
Di luar, suara langkah kaki semakin mendekat.
Dan tepat ketika pintu rumah dibuka…
Aku melihat beberapa orang berdiri di halaman.
Salah satunya adalah pria yang selama ini hanya kukenal dari foto lama milik ayah.
Pria yang menurut ayahku seharusnya sudah meninggal bertahun-tahun lalu.
Dia tersenyum.
Lalu berkata,
“Laras, akhirnya kamu menemukan kebenaran.”
Aku belum sempat menjawab.
Pak Dimas tiba-tiba menarik tanganku.
“Jangan percaya siapa pun.”
Aku menatapnya bingung.
“Bahkan ayahmu?”
Pak Dimas diam.
Dan dari ekspresinya, aku tahu…
Masih ada satu rahasia terakhir yang belum mereka ceritakan kepadaku.
