AKU DIMINTA MENANDATANGANI UTANG YANG TAK PERNAH KUBUAT. TAPI SAAT AKU MENOLAK, AYAH MENGELUARKAN SATU BUKTI YANG MEMBUAT DUNIAKU SEAKAN RUNTUH

Avatar penulis
Cerita 01
5 menit baca 942 tayangan
AKU DIMINTA MENANDATANGANI UTANG YANG TAK PERNAH KUBUAT. TAPI SAAT AKU MENOLAK, AYAH MENGELUARKAN SATU BUKTI YANG MEMBUAT DUNIAKU SEAKAN RUNTUH
Indeks

Aku menatap lembar kontrak di atas meja.

Tanganku dingin.

Di bagian paling bawah terdapat sebuah tanda tangan yang bentuknya hampir sama persis dengan tanda tanganku.

Nama lengkapku tercetak jelas.

Nomor identitasku juga benar.

Bahkan alamat apartemenku tercantum di sana.

Tapi aku tahu satu hal dengan pasti.

Aku tidak pernah menandatangani dokumen itu.

“Apa ini?” tanyaku pelan.

Ayah duduk di hadapanku.

Wajahnya tenang.

Terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja meletakkan dokumen utang bernilai miliaran rupiah di depan anaknya.

“Surat jaminan.”

“Jaminan apa?”

“Untuk pinjaman kakakmu.”

Aku menoleh kepada Raka.

Kakakku hanya menunduk.

“Ia butuh modal untuk usahanya,” kata Ayah. “Bisnisnya gagal. Ada beberapa kewajiban yang harus dibereskan.”
AKU DIMINTA MENANDATANGANI UTANG YANG TAK PERNAH KUBUAT. TAPI SAAT AKU MENOLAK, AYAH MENGELUARKAN SATU BUKTI YANG MEMBUAT DUNIAKU SEAKAN RUNTUH

Aku menatap Raka.

“Berapa?”

Dia tidak menjawab.

Ayah yang menjawab.

“Sekitar tiga miliar rupiah.”

Aku tertawa kecil.

“Dan kalian ingin aku membayarnya?”

“Bukan begitu.”

“Lalu?”

Ayah mendorong kontrak itu sedikit lebih dekat kepadaku.

“Kamu hanya perlu menandatangani pengakuan bahwa kamu bersedia menjadi penjamin.”

Aku menatapnya.

“Kalau aku tidak mau?”

Ruangan langsung sunyi.

Ibu yang sejak tadi duduk di sebelah Ayah mulai menangis.

“Kamu tega melihat kakakmu hancur?”

Aku memandang wajah Ibu.

Dulu, pertanyaan seperti itu selalu berhasil membuatku merasa bersalah.

Sekarang tidak lagi.

“Bu, kalau seseorang meminjam uang tanpa kemampuannya untuk membayar, kenapa kewajibannya harus dipindahkan kepadaku?”

Ibu terisak.

“Karena kalian saudara.”

Aku menggeleng.

“Menjadi saudara bukan berarti aku harus menanggung semua keputusan buruknya.”

Raka tiba-tiba berdiri.

“Cukup!”

Aku menatapnya.

“Kamu pikir aku mau begini?”

“Aku tidak tahu.”

“Aku tidak punya pilihan!”

Aku hampir tertawa.

“Semua orang selalu mengatakan tidak punya pilihan ketika mereka ingin membuat orang lain menanggung akibat dari pilihan mereka.”

Raka memukul meja.

“Kalau kamu tidak membantu, aku bisa masuk penjara!”

Aku terdiam.

Ayah langsung memanfaatkan keadaan.

“Dengar? Kakakmu bisa kehilangan segalanya.”

Aku mengambil ponsel.

“Kalau begitu, kita bicarakan ini secara resmi.”

Wajah Ayah berubah.

“Untuk apa?”

“Aku akan membawa kontrak ini ke pengacara.”

Ibu berhenti menangis.

Raka membeku.

Ayah menatapku tajam.

“Tidak perlu sampai sejauh itu.”

“Justru karena ini menyangkut utang miliaran rupiah, aku ingin semuanya jelas.”

Aku mengambil kontrak tersebut.

Ayah mencoba menahannya.

“Jangan dibawa.”

Aku menatap tangannya.

“Kenapa?”

Tidak ada jawaban.

Aku menarik dokumen itu.

Saat itulah aku melihat sesuatu di halaman terakhir.

Ada stempel sebuah perusahaan pembiayaan.

Ada nomor kontrak.

Dan ada tanggal.

Aku membaca tanggal itu dua kali.

Tiga tahun lalu.

Saat aku bahkan belum membeli apartemen.

Saat aku masih bekerja di perusahaan lama dengan gaji yang jauh lebih kecil.

Aku menatap Raka.

“Kapan kamu mengajukan pinjaman ini?”

Dia diam.

“Jawab.”

“Tiga tahun lalu.”

“Dan kenapa namaku ada di sini?”

Raka tidak menjawab.

Ayah tiba-tiba berkata,

“Karena waktu itu kamu tidak bisa dihubungi.”

Aku menatap Ayah.

“Tidak bisa dihubungi?”

“Iya.”

Aku menggeleng.

“Tidak mungkin.”

Aku masih menyimpan semua pesan lama.

Aku membuka ponsel.

Tiga tahun lalu, pada tanggal yang tercantum di kontrak, aku sedang berada di luar negeri untuk mengikuti pelatihan perusahaan.

Paspor dan tiketku masih tersimpan.

Aku bahkan memiliki bukti perjalanan.

Aku menunjukkan layar ponsel kepada mereka.

“Aku bahkan tidak berada di Indonesia.”

Wajah Ayah langsung pucat.

Raka berdiri diam.

Ibu mulai gemetar.

Aku tahu saat itu.

Ada sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar permintaan uang untuk membeli rumah.

Aku mengambil foto semua dokumen.

Lalu berdiri.

“Aku tidak akan menandatangani apa pun.”

Ayah bangkit.

“Kamu berani mengancam keluargamu sendiri?”

Aku menatapnya.

“Tidak.”

Aku memasukkan dokumen ke dalam tas.

“Aku sedang melindungi diriku dari orang-orang yang mengaku keluargaku.”

Aku berjalan menuju kamar.

Tapi sebelum pintu tertutup, Ayah berkata,

“Kalau kamu membawa masalah ini ke luar, jangan salahkan kami kalau semuanya terbongkar.”

Aku berhenti.

Aku berbalik.

“Memangnya apa yang harus takut terbongkar?”

Ayah tidak menjawab.

Malam itu aku pergi dari apartemen.

Aku menginap di tempat Dita, sahabatku sejak kuliah.

Dia membiarkanku duduk di ruang tamunya sampai hampir tengah malam.

Setelah mendengar semuanya, dia hanya berkata,

“Kamu harus periksa semua rekening dan riwayat kreditmu.”

Aku mengangguk.

Kami menghabiskan beberapa jam memeriksa dokumen.

Kemudian sebuah laporan muncul.

Ada lebih dari satu pinjaman yang menggunakan identitasku.

Bukan satu.

Bukan dua.

Lima.

Totalnya hampir enam miliar rupiah.

Aku menatap layar tanpa berkedip.

“Dita…”

“Iya.”

“Kalau semua ini atas namaku…”

Dia menggenggam tanganku.

“Jangan panik.”

Tapi aku tahu.

Ada sesuatu yang tidak masuk akal.

Karena jika mereka menggunakan identitasku, seharusnya uangnya masuk ke rekening yang berhubungan denganku.

Kami mulai menelusuri rekening tujuan.

Satu per satu.

Dan akhirnya kami menemukan pola.

Semua dana tidak pernah masuk ke rekeningku.

Semuanya berpindah ke beberapa rekening berbeda.

Salah satunya atas nama perusahaan kecil.

Pemilik perusahaan itu…

adalah kakakku.

Aku menutup mata.

Jadi selama bertahun-tahun, aku bukan hanya diminta membantu kakakku.

Aku sedang diminta membayar utang yang dibuat atas namaku untuk membiayai kehidupannya.

Namun yang paling menyakitkan bukan jumlah uangnya.

Melainkan satu kenyataan.

Orang tuaku tahu.

Karena malam itu, saat aku kembali mengambil beberapa pakaian dari apartemen, aku mendengar suara Ibu dari ruang tamu.

“Aku bilang jangan sampai dia tahu semuanya.”

Lalu suara Ayah menjawab,

“Kalau dia sudah tahu, kita tidak punya pilihan lain.”

Aku berdiri di balik pintu.

Napas tertahan.

Kemudian Raka berkata pelan,

“Kalau begitu, besok kita gunakan dokumen yang satunya.”

Aku tidak tahu dokumen apa yang mereka maksud.

Tetapi satu hal jelas.

Mereka masih menyembunyikan sesuatu.

Dan kali ini aku tidak akan menunggu sampai mereka menghancurkan hidupku.

Aku mengeluarkan ponsel.

Menghubungi pengacara.

Lalu berkata,

“Saya ingin melaporkan dugaan penggunaan identitas dan tanda tangan tanpa izin.”

Namun tepat sebelum panggilan tersambung, ponselku bergetar.

Satu pesan masuk dari Raka.

“Kalau kamu benar-benar melaporkan kami, aku akan memberi tahu siapa sebenarnya yang selama ini membiayai hidupmu.”

Aku menatap pesan itu.

Jantungku berdetak keras.

Apa maksudnya?

Selama ini aku membiayai hidupku sendiri.

Atau…

ada sesuatu tentang masa lalu keluargaku yang bahkan aku sendiri tidak pernah tahu?

Malam itu aku tidak tidur.

Karena untuk pertama kalinya, aku mulai curiga bahwa uang yang kukumpulkan selama sepuluh tahun bukan satu-satunya hal yang sedang diperebutkan keluargaku.

Ada rahasia lain.

Dan rahasia itu mungkin jauh lebih berharga daripada tiga miliar rupiah.