BAGIAN 2 — Satu Panggilan “Papa” Membongkar Kebohongan Bertahun-Tahun, Sementara Kirana Menemukan Bahwa Pengkhianatan Ardi Jauh Lebih Dalam dari Dugaan
—Papa!
Suara anak laki-laki itu membuat halaman depan toko seketika sunyi.
Tanganku terasa dingin.
Sari membeku. Ibu mertuaku menatap anak itu dengan mulut sedikit terbuka, sementara perempuan berpakaian formal di sampingku menghentikan gerakannya.
Hanya Ardi yang terlihat seperti kehilangan seluruh darah dari wajahnya.
Anak itu memeluk kakinya erat.
—Papa, kenapa Papa tidak datang minggu lalu? Mama bilang Papa sibuk.
Perempuan muda yang turun dari mobil hitam berlari menghampiri.
—Rafi!
Dia menarik anak itu menjauh, tetapi semuanya sudah terlambat.
Aku menatap Ardi.
—Jadi ini alasan sebenarnya?
—Kirana, dengarkan aku dulu.
—Aku sedang mendengarkan.
Aku menunjuk anak itu.
—Siapa dia?
Ardi membuka mulut, tetapi tidak ada jawaban.
Perempuan muda tadi justru menatapku.
—Kamu Kirana?
Aku mengangguk.
Wajahnya berubah.
—Aku Maya.
Lalu dia mengatakan sesuatu yang sama sekali tidak kuduga.
—Aku juga baru tahu tiga hari lalu kalau Ardi masih menikah denganmu.
Aku terdiam.
Ibu mertua langsung menyela.
—Jangan bicara sembarangan! Ardi tidak mungkin—
—Bu.
Maya memotongnya.
—Ardi mengatakan kepada saya bahwa dia sudah berpisah dari istrinya bertahun-tahun lalu.
Dia kemudian mengeluarkan ponselnya.
Ada foto Ardi bersama Rafi.
Ada percakapan.
Ada bukti transfer.
Dan ada pesan-pesan Ardi yang menyebut dirinya sudah hidup sendiri.
Maya menatapku dengan mata memerah.
—Lima tahun lalu aku mengenalnya melalui seorang teman. Dia bilang pernikahannya gagal. Ketika aku hamil, dia berjanji akan menikahiku setelah semua urusan selesai.
Lima tahun.
Aku dan Ardi menikah enam tahun.
Artinya hubungan itu dimulai hanya sekitar setahun setelah pernikahan kami.
Aku tertawa kecil.
Bukan karena lucu.
Melainkan karena pada saat itu aku akhirnya memahami betapa bodohnya diriku selama ini.
Saat aku bangun pukul empat pagi membuat kue, dia memiliki keluarga lain.
Saat aku menabung untuk membeli oven kedua, dia mengirim uang kepada perempuan lain.
Saat aku menahan diri setiap kali ibu dan adiknya mengambil uang toko, sebagian keuntungan yang kukumpulkan ternyata digunakan untuk mempertahankan kebohongannya.
Aku menatap perempuan formal di sampingku.
—Bu Ratna, berapa jumlahnya?
Dia membuka berkas.
—Berdasarkan catatan yang bisa kami telusuri, dalam dua tahun terakhir ada sejumlah transfer dari rekening bisnis ke rekening pribadi Pak Ardi. Sebagian kemudian diteruskan ke beberapa rekening lain.
Ardi buru-buru berkata,
—Itu uangku juga!
Aku menoleh kepadanya.
—Uangmu?
Aku tersenyum tipis.
—Sebutkan satu kali saja selama empat tahun terakhir kamu bangun pukul empat pagi untuk membuka toko.
Dia terdiam.
—Sebutkan satu pelanggan yang kamu cari sendiri.
Diam.
—Sebutkan satu pemasok yang kamu negosiasikan.
Masih diam.
Aku mendekatinya.
—Kamu tidak membangun bisnis itu, Ardi. Kamu hanya menikmati hasilnya.
Maya tiba-tiba berkata,
—Tunggu.
Dia membuka ponselnya.
—Kalau uang itu berasal dari toko Kirana, berarti selama ini…
Dia berhenti.
Wajahnya pucat.
—Ardi bilang uang yang dikirim kepadaku berasal dari bisnis investasinya.
Ardi memegang lengannya.
—Maya, kita bicara nanti.
Maya langsung menepis tangannya.
—Jangan sentuh aku.
Rafi terlihat ketakutan.
Aku segera berjongkok.
—Tidak apa-apa. Kamu tidak melakukan kesalahan apa pun.
Anak itu menatapku dengan mata besar.
Aku tidak membencinya.
Bagaimana mungkin?
Kesalahan orang dewasa tidak pernah menjadi dosa seorang anak.
Maya menggandeng Rafi dan berkata kepadaku,
—Aku minta maaf.
—Kamu tidak perlu meminta maaf atas kebohongan yang tidak kamu ketahui.
Mata Maya berkaca-kaca.
Dia mengangguk lalu menatap Ardi.
—Mulai hari ini, jangan datang ke rumahku sebelum semuanya diselesaikan secara resmi.
Ardi panik.
—Maya!
Namun perempuan itu membawa Rafi kembali ke mobil.
Sebelum masuk, dia berhenti.
—Kirana, kalau kamu membutuhkan bukti percakapan atau transfer, aku akan memberikannya.
Aku mengangguk.
—Terima kasih.
Mobil hitam itu pergi.
Barulah ibu mertua seperti tersadar.
Dia langsung memukul bahu Ardi.
—Kamu gila?! Lima tahun?! Kamu punya anak di luar dan tidak pernah memberi tahu Ibu?!
Ardi membalas dengan kesal.
—Ibu jangan pura-pura tidak tahu apa-apa!
Suasana langsung berubah.
Aku menatap mereka.
—Apa maksudmu?
Ibu mertua pucat.
—Tidak ada.
Ardi tertawa sinis.
—Tidak ada?
Dia menunjuk ibunya.
—Ibu memang tidak tahu soal Rafi. Tapi bukankah Ibu tahu aku sering mengambil uang toko?
Ibu mertua langsung membentak,
—Jangan menyeret Ibu!
—Bukankah Ibu yang bilang uang Kirana akhirnya juga uang keluarga?
Dadaku terasa sesak.
Jadi begitulah.
Bukan hanya satu orang.
Mereka semua terbiasa menganggap apa yang kumiliki sebagai milik mereka.
Sari perlahan mundur.
Aku menatapnya.
—Kamu mau ke mana?
—Aku tidak tahu apa-apa.
—Benarkah?
Aku mengangkat ponsel.
—Lalu transfer untuk cicilan mobilmu?
Wajahnya berubah.
—Kak…
—Tahun lalu kamu bilang uang muka mobil itu dari tabunganmu.
Dia tidak menjawab.
Bu Ratna membuka halaman lain.
—Ada beberapa transaksi yang sesuai dengan tanggal pembayaran kendaraan tersebut.
Sari langsung menangis.
—Aku cuma meminjam!
—Pernah meminta izin?
Diam.
—Pernah mengatakan akan mengembalikannya?
Tetap diam.
Aku tiba-tiba merasa sangat tenang.
Selama bertahun-tahun, aku takut dianggap istri yang perhitungan.
Takut dianggap menantu tidak tahu berterima kasih.
Takut rumah tanggaku rusak hanya karena uang.
Hari itu aku baru memahami bahwa rumah tanggaku bukan rusak karena aku mulai menghitung.
Rumah tanggaku rusak karena mereka terlalu lama menganggap aku tidak akan pernah menghitung.
Aku mengambil tas.
—Bu Ratna, kita pergi.
Ardi langsung menghalangi.
—Kirana, tunggu. Kita masih bisa menyelesaikan ini.
—Tentu.
Matanya sedikit berbinar.
Lalu aku melanjutkan,
—Melalui pengacara.
Wajahnya membeku.
—Kamu mau cerai?
Aku menatap laki-laki yang pernah sangat kucintai.
Anehnya, tidak ada lagi air mata.
—Bukan “mau”.
Aku mengangkat tangan kiriku dan melepaskan cincin pernikahan.
Kutaruh cincin itu di atas meja kasir.
—Aku sudah memutuskan.
Aku berjalan menuju mobil.
Di belakangku, ibu mertua berteriak,
—Kirana! Jangan gegabah! Kalau kamu pergi sekarang, jangan berharap bisa kembali!
Aku berhenti.
Menoleh.
Lalu tersenyum.
—Bu, sejak kapan saya mengatakan ingin kembali?
Aku masuk ke mobil.
Saat kendaraan bergerak meninggalkan rumah itu, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun aku tidak merasa sedang kehilangan sebuah keluarga.
Aku merasa sedang mendapatkan kembali hidupku.
Namun masalah belum selesai.
Keesokan paginya, tepat ketika aku hendak membuka toko baru, puluhan pelanggan sudah menunggu di depan.
Bunga ucapan selamat memenuhi pintu.
Dua pegawaiku datang lebih awal.
Pemasok membawa bahan segar.
Aku berdiri di bawah papan nama yang sama, tetapi kini tergantung di tempat yang benar-benar berada di bawah kendaliku.
Aku hampir menangis.
Tepat pukul delapan, pintu kubuka.
—Selamat datang.
Hari pertama itu kami kehabisan hampir semua makanan sebelum pukul tiga sore.
Kupikir akhirnya aku bisa bernapas lega.
Sampai salah satu pegawaiku berlari menghampiri.
—Bu Kirana, ada masalah.
Dia menyerahkan ponselnya.
Di media sosial beredar sebuah unggahan anonim.
Isinya menuduhku mencuri pelanggan dari bisnis keluarga suami, membawa kabur peralatan, dan meninggalkan ibu mertua tepat pada hari raya.
Unggahan itu menyebar cepat.
Tetapi bagian terakhir membuatku tersenyum dingin.
Karena orang yang menulisnya melakukan satu kesalahan besar.
Dia menyertakan foto sebuah dokumen lama untuk “membuktikan” bahwa toko itu milik keluarga Ardi.
Padahal foto tersebut justru memperlihatkan sesuatu yang selama ini tidak pernah kusadari.
Aku memperbesar gambar.
Melihat tanda tangan di bagian bawah.
Lalu menatap Bu Ratna.
—Ini bukan tanda tanganku.
Bu Ratna memeriksanya beberapa detik.
Ekspresinya berubah serius.
—Kalau begitu, Bu Kirana, masalah ini bukan lagi sekadar perselingkuhan atau uang yang diambil tanpa izin.
Dia menatapku.
—Seseorang mungkin telah menggunakan nama Anda untuk menandatangani dokumen tanpa sepengetahuan Anda.
(Lanjutkan ke BAGIAN 3….)
