BAGIAN 2 — Rekening Rahasia Itu Membongkar Kebohongan Dimas, Tetapi Aku Tak Menyangka Orang Terdekatnya Justru Menyimpan Bukti Terpenting
“Rekening yang satunya?”
Aku mengulangi kalimat Bu Ratih perlahan.
Wajah perempuan itu seketika berubah.
Tangannya yang menggenggam ponsel Dimas gemetar. Ayah Dimas berdiri tanpa bicara, sedangkan para kerabat yang beberapa menit sebelumnya tertawa dan makan bersama kini saling berpandangan.
Aku mengulurkan tangan.
—Berikan ponselnya kepada saya.
—Alya, ini masalah keluarga.
Aku hampir tertawa mendengarnya.
—Rumah ibu saya kalian jual tanpa izin, tanda tangan saya dipalsukan, lalu uang tiga ratus juta rupiah dari pembeli masuk ke rekening kalian. Sekarang Ibu masih mengatakan ini masalah keluarga?
Bu Ratih terdiam.
Dimas akhirnya maju.
—Alya, kita bicara berdua saja.
—Tidak.
Aku menatapnya.
—Tadi ketika keluargamu membicarakan rumahku di depan semua orang, kamu tidak meminta bicara berdua. Sekarang semuanya terbongkar, kenapa tiba-tiba kamu ingin menjaga privasi?
Dimas mengepalkan tangan.
Perempuan yang telah mentransfer uang tanda jadi berdiri di sampingku.
—Saya juga ingin penjelasan. Kalau rumah itu bukan milik kalian, saya ingin uang saya kembali hari ini.
Hendra mulai panik.
—Dimas, kamu bilang dokumennya aman!
Kalimat itu membuat suasana semakin kacau.
Dimas membentak:
—Diam!
Aku tidak lagi ingin berdebat.
Aku mengambil ponselku dan menghubungi petugas keamanan lingkungan dekat rumah peninggalan Ibu. Aku meminta mereka memastikan tidak ada siapa pun yang mengganti kunci atau memindahkan barang sampai aku tiba.
Kemudian aku berkata kepada pembeli:
—Bu, saya tidak pernah berniat menjual rumah itu. Saya juga tidak pernah menerima uang Ibu. Tapi saya akan bekerja sama untuk menyelesaikan masalah ini.
Perempuan itu mengangguk.
—Nama saya Maya. Saya percaya kepada Anda. Saya hanya tidak ingin uang saya hilang.
Aku mencatat nomor teleponnya.
Dimas tiba-tiba memegang pergelangan tanganku.
—Alya, jangan membuat semuanya semakin besar.
Aku langsung melepaskan tangannya.
—Yang membuatnya besar bukan aku.
Tatapanku jatuh pada dokumen dengan tanda tangan palsu di lantai.
—Kamu yang melakukannya.
Untuk pertama kalinya, Dimas tidak mampu menjawab.
Aku memasukkan salinan dokumen itu ke dalam tas, memotret semua lembar yang berserakan, kemudian meminta Hendra mengirimkan seluruh percakapan dan dokumen yang pernah diterimanya dari Dimas.
Hendra sempat ragu.
Namun ketika Maya mengatakan dirinya siap membawa masalah itu ke pihak berwenang, dia akhirnya menyerah.
Dari percakapan mereka, aku mengetahui bahwa Dimas sudah menawarkan rumah itu sejak hampir dua bulan lalu.
Dua bulan.
Artinya semua ini bukan keputusan spontan.
Saat dia menjemputku sepulang kerja, makan malam bersamaku, bahkan membicarakan rencana pernikahan, dia sudah diam-diam mencari pembeli untuk rumah ibuku.
Hatiku terasa sakit.
Tetapi anehnya, aku tidak menangis.
Mungkin karena pengkhianatan yang terlalu besar justru membuat seseorang berhenti mencari alasan.
Aku hendak pergi ketika sebuah suara memanggil dari belakang.
—Mbak Alya.
Aku berhenti.
Seorang perempuan muda berdiri di ujung teras.
Aku mengenalinya sebagai Nisa, sepupu Dimas yang sejak tadi hampir tidak berbicara.
Dia terlihat ragu.
—Ada sesuatu yang seharusnya Mbak lihat.
Bu Ratih langsung berdiri.
—Nisa! Jangan ikut campur!
Nisa pucat, tetapi tidak mundur.
—Bibi, ini sudah keterlaluan.
Dia mengeluarkan ponsel.
Ternyata tiga minggu sebelumnya, Nisa pernah diminta Dimas membantu memindahkan sejumlah data dari laptop lamanya.
Di sana dia tanpa sengaja menemukan foto beberapa dokumen milikku.
Termasuk kartu identitas dan contoh tanda tanganku.
Nisa merasa curiga dan diam-diam menyimpan tangkapan layar percakapan Dimas dengan seseorang.
Dia menyerahkan ponselnya kepadaku.
Aku membaca pesan itu satu demi satu.
“Aku sudah punya contoh tanda tangannya.”
“Kalau rumah berhasil dilepas, uangnya langsung masuk rekening kedua.”
“Jangan pakai rekening utama. Alya pernah melihat mutasinya.”
Aku merasa tengkukku dingin.
Lalu muncul pesan berikutnya.
“Utang harus dibereskan sebelum keluarga Alya tahu.”
Aku menatap Dimas.
—Utang apa?
Dia diam.
Nisa menelan ludah.
—Mbak… Dimas punya utang dari investasi online.
Bu Ratih membentak:
—Sudah, Nisa!
Namun semuanya sudah terlambat.
Sedikit demi sedikit, kebenaran akhirnya terbuka.
Sekitar delapan bulan sebelumnya, Dimas mengikuti investasi berisiko melalui kenalannya. Awalnya dia mendapat keuntungan dan mulai memasukkan uang lebih banyak.
Ketika rugi, dia meminjam.
Lalu meminjam lagi untuk menutup pinjaman sebelumnya.
Totalnya sudah mencapai ratusan juta rupiah.
Ayah dan ibunya mengetahuinya.
Bukannya menyuruh Dimas bertanggung jawab, mereka justru mencari cara menyelamatkannya.
Dan rumahku menjadi jalan keluar termudah.
—Jadi rencana memperbesar usaha itu bohong?
Aku bertanya kepada ayah Dimas.
Pria itu menunduk.
Bu Ratih akhirnya duduk lemas.
—Kami hanya ingin menyelamatkan anak kami.
Aku memandangnya lama.
—Dengan menghancurkan hidup orang lain?
Tidak ada jawaban.
Dimas mendekat.
Matanya merah.
—Alya, aku akan mengembalikannya. Beri aku waktu.
—Dengan apa?
—Aku bisa bekerja. Aku bisa mencicil.
—Lalu kenapa kamu tidak melakukan itu sejak awal?
Dia terdiam.
Aku tahu jawabannya.
Karena menjual sesuatu yang bukan miliknya terasa lebih mudah.
Aku pergi malam itu tanpa menoleh lagi.
Hubungan kami selesai bahkan sebelum aku keluar dari gerbang.
Keesokan paginya aku menemui konsultan hukum dan menyerahkan semua bukti: rekaman kamera, percakapan Hendra, dokumen dengan tanda tangan palsu, bukti transfer Maya, serta tangkapan layar dari Nisa.
Aku juga mengganti seluruh kunci rumah dan mencabut akses Dimas dari kamera keamanan.
Maya bersedia bekerja sama.
Hendra pun akhirnya mengakui bahwa dirinya tidak pernah bertemu langsung denganku sebagai pemilik rumah.
Tiga hari kemudian, setelah mengetahui masalah itu tidak mungkin lagi ditutupi, keluarga Dimas mengembalikan sebagian uang Maya.
Namun jumlahnya hanya seratus dua puluh juta rupiah.
Sisa seratus delapan puluh juta sudah digunakan.
Sebagian untuk membayar utang.
Sebagian lagi telah dipindahkan ke rekening kedua.
Dan justru rekening itulah yang menyimpan kejutan berikutnya.
Suatu sore, Nisa meneleponku.
Suaranya terdengar tergesa-gesa.
—Mbak Alya, aku baru ingat sesuatu. Beberapa bulan lalu Dimas pernah meninggalkan kartu ATM di rumah. Bibi menyuruhku menyimpannya di lemari.
—Lalu?
—Nama pada kartu itu bukan nama Dimas.
Aku berdiri dari kursiku.
—Nama siapa?
Nisa menarik napas.
Lalu menyebut sebuah nama perempuan.
Aku tidak mengenalnya.
Sama sekali.
Malam itu, melalui dokumen yang kemudian diserahkan dalam proses penyelesaian kasus, aku akhirnya mengetahui identitas pemilik rekening kedua tersebut.
Seorang perempuan berusia tiga puluh dua tahun.
Alamatnya berada di kota yang sama denganku.
Dan selama hampir satu tahun terakhir, Dimas rutin mentransfer uang kepadanya.
Bukan sekali atau dua kali.
Hampir setiap bulan.
Aku menatap daftar transaksi dengan tangan dingin.
Lalu pandanganku berhenti pada kolom keterangan transfer.
Beberapa transaksi hanya tertulis singkat.
“Sekolah.”
“Obat.”
“Bulanan.”
Tetapi transfer terakhir berbeda.
Dimas menuliskan dua kata yang membuat seluruh pertanyaan di kepalaku mendadak berubah arah.
“Untuk Rafi.”
Aku belum tahu siapa Rafi.
Sampai keesokan harinya, seorang perempuan datang ke kantorku sambil menggandeng seorang anak laki-laki berusia sekitar lima tahun.
Begitu melihatku, dia berkata pelan:
—Nama saya Salma.
Aku menatap anak kecil di sampingnya.
Wajahnya membuat dadaku seketika sesak.
Terutama matanya.
Mata itu sangat mirip Dimas.
Salma menarik napas panjang.
—Saya rasa sudah waktunya Mbak Alya tahu siapa sebenarnya Rafi.
Dan saat itulah aku sadar, rumah peninggalan Ibu ternyata bukan satu-satunya hal yang Dimas sembunyikan dariku selama hampir tiga tahun.
(Lanjutkan ke BAGIAN 3….)
