Bagian 3 Tiga Minggu Setelah Menikah, Rumah Itu Berubah Menjadi Medan Perang yang Sebenarnya

Avatar penulis
Cerita 02
7 menit baca 478 tayangan
Bagian 3 Tiga Minggu Setelah Menikah, Rumah Itu Berubah Menjadi Medan Perang yang Sebenarnya
Indeks

Bagian 3
Tiga Minggu Setelah Menikah, Rumah Itu Berubah Menjadi Medan Perang yang Sebenarnya

Keesokan harinya aku tiba pukul sembilan lewat dua puluh.

Ibuku sudah membuat teh, tetapi tidak ada satu pun cangkir yang disentuh.

Pak Budi duduk di ruang tengah dengan wajah pucat. Di meja tergeletak hasil cetak mutasi rekening yang baru ia ambil dari bank.

Aku tidak perlu bertanya.

Cara ia memandang kertas itu sudah cukup.

“Ada berapa?” tanyaku.

Pak Budi menelan ludah.

“Banyak.”

Aku menarik kursi.

Dalam empat belas bulan, terdapat puluhan transfer keluar.

Sebagian memang masuk ke pembayaran listrik, pajak, obat, dan keperluan kos.

Namun ada pula transfer ke rekening Ratih.

Rp12.500.000.

Rp18.000.000.

Rp7.250.000.

Rp31.000.000.

Rp9.800.000.

Kemudian beberapa penarikan tunai.

Total transaksi yang tidak dikenali Pak Budi mencapai lebih dari Rp190 juta.

“Apa Bapak yakin tidak pernah menyuruh Ratih mengambil ini?”

Pak Budi menggeleng.

Wajahnya seperti kehilangan sepuluh tahun usia dalam satu malam.

“Ada beberapa kali saya kasih uang.”

Ia menunjuk dua transaksi.

“Yang ini sepuluh juta. Yang ini lima juta. Ratih bilang tokonya sepi.”

Aku membuat tanda.

Sisanya masih lebih dari Rp170 juta.

Ibuku duduk di sampingnya tanpa bicara.

Aku teringat cara Pak Budi menyuruh Ibu menandatangani perjanjian sehari sebelumnya.

Aneh sekali.

Ia takut istri barunya mengambil rumah.

Tetapi tidak menyadari putrinya mengambil uang melalui pintu yang ia buka sendiri.

Tepat pukul sepuluh, sebuah mobil putih berhenti.

Ratih turun lebih dulu.

Dimas menyusul sambil membawa tas kerja.

Mereka masuk tanpa salam panjang.

Ratih langsung melihat mutasi rekening.

“Papa pergi ke bank?”

Pak Budi mengangkat wajah.

“Kamu pakai uang saya untuk apa?”

Ratih terdiam.

Hanya dua detik.

Setelah itu ia berubah menjadi orang yang sangat tenang.

“Aku kelola.”

“Kelola bagaimana?”

“Ada biaya kos. Pajak. Renovasi. Obat Papa.”

Aku mendorong lembar pertama ke arahnya.

“Kalau begitu cocokkan satu per satu.”

Ratih menatapku tajam.

“Aku bicara sama Papa.”

“Silakan.”

Aku bersandar.

Pak Budi menunjuk transfer Rp31 juta.

“Ini apa?”

Ratih tidak langsung menjawab.

Dimas duduk di sebelahnya.

“Pak Budi, mungkin sebaiknya kita jangan membuat tuduhan sebelum memahami konteks.”

Pak Budi membentak meja.

“Saya tanya anak saya!”

Semua diam.

Ratih menarik napas.

“Itu uang muka mobil.”

“MOBIL SIAPA?”

“Mobil aku.”

Wajah Pak Budi membeku.

Ratih buru-buru melanjutkan.

“Aku akan ganti.”

“Siapa yang mengizinkan?”

“Aku pikir tidak masalah.”

“Tidak masalah?”

Suara Pak Budi bergetar.

“Saya sampai menunda ganti kacamata karena kamu bilang saldo saya jangan disentuh dulu untuk kebutuhan medis!”

Ratih menunduk sebentar.

Kemudian sesuatu yang lebih buruk terjadi.

Ia mulai marah.

“Papa jangan seolah aku pencuri!”

“Apa namanya kalau ambil tanpa izin?”

“Aku anak Papa!”

Kalimat itu keluar begitu mudah.

Seolah menjadi anak adalah kartu akses tanpa batas.

Ratih menunjuk ibuku.

“Ini pasti gara-gara dia!”

Ibuku yang sejak tadi diam akhirnya mengangkat kepala.

“Jangan bawa saya.”

Ratih tertawa sinis.

“Sejak Ibu masuk rumah ini, Papa berubah.”

Ibu berdiri.

Tidak menangis.

Tidak bergetar.

“Ratih, saya baru menikah dengan ayahmu kemarin. Mutasi ini sudah berjalan lebih dari setahun.”

Ratih kehilangan kata selama sesaat.

Dimas masuk.

“Kita tetap harus berhati-hati dengan kesimpulan.”

Aku membuka map.

“Aku setuju.”

Aku mengeluarkan salinan catatan rumah sakit.

Dimas mengernyit.

“Ini apa?”

“Beberapa tanggal penarikan tunai.”

Aku menaruh tiga lembar berurutan.

“Rp15 juta ditarik tanggal 18 Januari.”

Aku menunjuk dokumen lain.

“Pada tanggal itu Pak Budi menjalani perawatan dan hampir seluruh hari berada di ruang observasi.”

Ratih berkata cepat, “Aku tarik untuk kebutuhan Papa.”

“Mana kuitansinya?”

“Aku tidak simpan semuanya.”

Aku mengangguk.

“Berikutnya. Rp8 juta tanggal 7 Februari. Pak Budi masih menggunakan alat bantu jalan dan tidak pergi ke ATM.”

Ratih mulai pucat.

Aku membuka ponsel.

“Lalu Rp12 juta tiga hari kemudian.”

Aku menatap Pak Budi.

“Bapak tahu?”

Ia menggeleng.

Dimas mencoba mengambil alih.

“Catatan semacam ini tidak otomatis membuktikan penyalahgunaan.”

“Benar.”

Aku menatapnya.

“Karena itu tadi pagi Pak Budi sudah mencabut akses mobile banking yang terhubung ke nomor Ratih.”

Ratih berdiri.

“Apa?”

Pak Budi menatap anaknya.

“Saya juga sudah mencabut surat kuasa.”

Ratih seperti ditampar.

“Papa!”

“Mulai bulan depan uang kos masuk ke rekening saya.”

“Aku yang selama ini urus semuanya!”

“Dan saya baru tahu harga jasa kamu lebih dari seratus juta setahun.”

Ratih menangis.

Tetapi tangisnya tidak membuat Pak Budi melunak.

Ia justru membuka buku catatan kecil.

Buku itu milik ibuku.

Di dalamnya ada tanggal obat, kontrol dokter, pembayaran, menu harian, tekanan darah, serta semua uang yang dikeluarkan.

Selama empat tahun.

“Lihat.”

Pak Budi mendorong buku itu kepada Ratih.

“Sari mengurus saya sampai tahu berapa tablet obat yang tersisa di kotak.”

Ia menunjuk mutasi bank.

“Kamu mengurus uang saya sampai saya tidak tahu ke mana uang saya pergi.”

Ratih membalas dengan kalimat yang membuatku benar-benar muak.

“Jadi sekarang Papa lebih percaya perempuan yang baru jadi istri Papa satu hari daripada anak kandung sendiri?”

Ibuku berdiri.

Ia mengambil tasnya.

“Cukup.”

Semua menoleh.

Ibu memasukkan beberapa helai pakaian yang sejak tadi ternyata sudah disiapkan di kamar ke dalam tas.

Aku terkejut.

“Bu?”

Ia menatap Pak Budi.

“Saya pulang ke rumah Nadia beberapa hari.”

Pak Budi langsung berdiri.

“Sari…”

Ibu mengangkat tangan.

“Saya tidak mau menjadi alasan kalian saling menuduh.”

Ratih mencibir.

“Nah. Bagus.”

Ibu menoleh kepadanya.

“Jangan senang dulu.”

Suara ibuku tenang.

“Semalam saya memikirkan perjanjian yang saya tanda tangani.”

Ratih tersenyum tipis.

Ibu melanjutkan.

“Saya setuju.”

Ratih berkedip.

“Rumah ayahmu bukan milik saya. Pensiunnya bukan milik saya. Tabungannya juga bukan.”

Kemudian Ibu menunjuk Pak Budi.

“Tapi tubuh ayahmu juga bukan kewajiban saya.”

Ruangan langsung sunyi.

“Mulai hari ini,” kata Ibu, “kalau Pak Budi sakit dan membutuhkan pendamping penuh, silakan keluarganya mengurus atau bayar tenaga profesional.”

Pak Budi menatapnya tidak percaya.

“Sari…”

“Saya istri.”

Ibu menatap lurus.

“Bukan petugas gratis yang boleh dihina ketika pembagian aset dibicarakan.”

Aku hampir tersenyum.

Untuk pertama kalinya dalam hidupku, Ibu tidak menungguku membela dirinya.

Ia membela dirinya sendiri.

Ratih berkata, “Kalau memang tulus, kenapa perawatan harus dihitung?”

Ibu langsung menjawab.

“Kalau memang percaya, kenapa hartanya harus disembunyikan?”

Ratih diam.

Ibu mengambil koper kecil.

Sebelum keluar ia berkata kepada Pak Budi, “Saya tidak meminta satu rupiah dari uangmu. Tapi saya juga tidak akan memberikan seluruh tenaga saya kepada keluarga yang menganggap tenaga itu tidak ada nilainya.”

Kami pergi.

Tiga hari pertama Pak Budi menelepon hampir setiap malam.

Ibu tetap menjawab.

Ia menanyakan obat.

Menanyakan tekanan darah.

Tetapi ia tidak pulang.

Pada hari keenam, Pak Budi akhirnya menyewa pendamping lansia selama dua belas jam per hari.

Biayanya Rp350.000 per hari.

Belum termasuk malam.

Belum termasuk transportasi kontrol.

Belum termasuk memasak makanan khusus.

Dua minggu kemudian ia meneleponku.

Suaranya terdengar lelah.

“Nadia.”

“Ya?”

“Saya sekarang mengerti angka yang kamu tunjukkan di depan KUA.”

Aku tidak menjawab.

Ia menghela napas.

“Rp331 juta itu ternyata bukan angka besar.”

Aku mengernyit.

Pak Budi tertawa hambar.

“Kalau dihitung semua yang ibumu kerjakan, mungkin malah murah.”

Tiga minggu setelah pernikahan, Pak Budi datang ke apartemenku.

Sendirian.

Ia membawa map.

Tidak membawa Ratih.

Tidak membawa Dimas.

Ia duduk di depan ibuku dan meminta maaf.

Bukan hanya karena perjanjian.

Tetapi karena diam ketika Ratih mempermalukannya.

“Saya pikir dengan tanda tangan itu semuanya selesai,” katanya. “Ternyata yang saya selesaikan justru rasa aman kamu.”

Ibuku mendengarkan.

Pak Budi kemudian membuka map.

Ada surat pencabutan kuasa.

Ada laporan rekening.

Ada daftar uang yang menurutnya digunakan Ratih tanpa izin.

Dan ada satu dokumen baru.

“Ini bukan perjanjian perkawinan.”

Ia mendorongnya kepada Ibu.

“Ini pengakuan biaya.”

Ibuku mengernyit.

Pak Budi menjelaskan bahwa ia menghitung ulang sebagian biaya pengobatan, transportasi, serta pengeluaran yang selama bertahun-tahun ditanggung Ibu.

Jumlahnya Rp214.700.000.

“Aku tidak mau.”

Ibu mendorong kertas itu kembali.

Pak Budi tidak mengambilnya.

“Sari, dengar dulu.”

“Saya merawat kamu bukan untuk menagih.”

“Saya tahu.”

Pak Budi menelan ludah.

“Justru karena itu saya malu.”

Ia mengatakan uang tersebut bukan harga kasih sayang.

Bukan upah istri.

Tetapi pengembalian pengeluaran nyata yang selama ini tidak pernah ia hitung karena menganggap semuanya akan baik-baik saja.

Ibuku masih diam.

Kemudian Pak Budi mengeluarkan lembar terakhir.

Wajahku berubah saat membacanya.

Itu sebuah undangan pertemuan keluarga.

Hari Minggu.

Di rumah adik Pak Budi.

Pak Budi sudah mengundang Ratih, Dimas, dua saudara kandungnya, ibuku, aku, dan seorang notaris yang selama bertahun-tahun membantu keluarganya.

“Ada yang harus dibereskan,” katanya.

Ibuku bertanya, “Apa?”

Pak Budi menjawab dengan kalimat yang membuatku sadar bahwa masalah ini ternyata jauh lebih besar daripada rekening bank.

“Ratih tidak hanya memakai uang saya.”

Ia menatap kami satu per satu.

“Dia sudah menjanjikan rumah Antapani kepada orang lain.”