Bagian 3 — Putraku Diam-Diam Mencoba Menahan Uangku, Lalu Satu Kesaksiannya Membuka Kebohongan Mereka
Lelaki berkemeja batik itu bernama Pak Harjono.
Ia bukan pejabat tinggi.
Bukan pula pengacara terkenal.
Ia bekerja sebagai konsultan pertanahan yang sudah puluhan tahun membantu warga kampung mengurus dokumen jual beli, waris, dan pembebasan lahan.
Dedi mengenalnya karena beberapa tahun sebelumnya ia pernah meminta bantuan mengurus sertifikat tempat usahanya.
Begitu Pak Harjono masuk, Dedi berdiri begitu cepat sampai lututnya menghantam meja.
“Pak… kok Bapak ke sini?”
Pak Harjono tidak langsung menjawab.
Ia menoleh kepadaku.
“Saya datang karena Bu Sulastri yang meminta.”
Wajah Dedi semakin pucat.
Aku menunjuk kursi kosong.
“Duduk dulu, Pak.”
Pak Harjono membuka tasnya.
Rian memandang kakaknya.
“Kamu kemarin ke rumah Pak Harjono?”
Dedi mengusap tengkuk.
“Cuma tanya-tanya.”
Aku menatapnya.
“Tanya apa?”
“Ya… soal proses uang tanah.”
“Lebih jelas.”
Dedi diam.
Akhirnya Pak Harjono sendiri yang berbicara.
“Kemarin Mas Dedi memang datang ke rumah saya.”
Ia kelihatan tidak nyaman.
“Saya kira dia datang atas permintaan Ibu.”
Aku mengangguk.
“Lalu?”
Pak Harjono membuka buku catatan kecil.
“Mas Dedi bertanya apakah anak kandung bisa mengajukan keberatan agar uang ganti kerugian belum dicairkan kalau pemilik tanah dianggap sudah lanjut usia dan mudah dipengaruhi pihak lain.”
Ningrum menatap kakaknya dengan wajah tidak percaya.
Arif masih diam.
Tetapi aku melihat rahangnya mengeras.
Pak Harjono melanjutkan.
“Dia bilang khawatir uang Ibu akan diambil oleh keluarga tempat Ibu tinggal.”
Aku tertawa kecil.
Bukan karena lucu.
Kadang hati yang sudah terlalu sakit justru tidak mampu lagi menangis.
“Jadi begitu?”
Dedi langsung membela diri.
“Aku cuma khawatir, Bu! Ibu tinggal sama Ningrum dan Arif. Kita tidak tahu mereka ngomong apa ke Ibu setiap hari.”
Ningrum bangkit.
“Kak, selama lima belas tahun kamu di mana?”
“Ningrum, jangan ikut campur!”
“Aku ikut campur karena Ibu tinggal di rumahku! Ketika Ibu demam, siapa yang bangun jam dua pagi? Ketika Ibu operasi, siapa yang tanda tangan administrasi? Ketika Ibu menangis karena kangen Bapak, siapa yang duduk di sampingnya?”
Dedi membentak,
“Makanya! Kalian punya kesempatan memengaruhi Ibu!”
Arif akhirnya berdiri.
“Cukup.”
Suaranya tidak keras.
Namun satu ruangan langsung diam.
“Saya tidak pernah meminta uang Ibu.”
Ia menatap Dedi.
“Kalau hari ini Ibu tidak memberikan satu rupiah pun kepada saya, hidup saya tetap jalan. Rumah saya tetap rumah saya. Pekerjaan saya tetap pekerjaan saya.”
Dedi tertawa sinis.
“Enak ngomong begitu setelah dikasih sembilan ratus juta.”
Arif menghadap kepadaku.
“Bu, bagian untuk saya dan Ningrum tidak usah diberikan.”
Aku terkejut.
Ningrum juga menoleh.
Arif melanjutkan,
“Simpan semuanya untuk Ibu.”
Dedi mencibir.
“Nah, pura-pura baik.”
Aku menepuk meja.
Untuk pertama kalinya hari itu, suaraku meninggi.
“Diam!”
Semua membeku.
Aku berdiri perlahan.
Lututku sudah tidak sekuat dahulu, tetapi hari itu aku tidak ingin duduk.
“Ada satu hal yang belum kalian pahami.”
Aku menatap Dedi dan Rian.
“Uang sembilan ratus juta itu bukan hadiah karena Arif pandai bersandiwara.”
Kutarik sebuah buku lain dari koper cokelat.
Sampulnya lusuh.
Di depannya tertulis tulisan tangan suamiku:
CATATAN RUMAH – 2009
Dedi mengenali tulisan ayahnya.
Wajahnya berubah.
Aku membuka halaman pertama.
“Bapak kalian mulai menulis buku ini tiga tahun sebelum meninggal.”
Isinya bukan rahasia besar.
Pengeluaran rumah.
Panen kebun.
Utang tetangga.
Biaya memperbaiki atap.
Tetapi di halaman-halaman terakhir, setelah kesehatannya mulai memburuk, ada catatan berbeda.
Tanggal kunjungan anak-anak.
Siapa datang.
Siapa membantu.
Siapa berjanji.
Aku membacakan satu bagian.
“Dedi bilang bulan depan mau memperbaiki kamar mandi. Belum jadi.”
Halaman berikutnya.
“Rian meminjam motor. Katanya dikembalikan satu minggu, baru kembali satu bulan.”
Dedi menunduk.
Lalu kutunjukkan halaman terakhir yang ditulis suamiku tiga minggu sebelum meninggal.
Tulisan tangannya sudah goyah.
Kalau aku pergi dulu, jangan paksa Lastri tinggal kepada anak yang tidak mau. Orang tua jangan mengemis perhatian. Lihat siapa yang datang ketika tidak ada harta yang dibicarakan.
Ningrum menutup mulut.
Aku bahkan baru menemukan tulisan itu setelah suamiku meninggal.
Bertahun-tahun aku menyimpannya.
Bukan untuk menghukum anak-anak.
Melainkan karena aku takut suatu hari lupa bahwa suamiku sudah melihat sesuatu yang waktu itu tidak ingin kuakui.
Aku menutup buku.
“Bapak kalian tidak menyuruh Ibu membenci siapa pun.”
Aku menarik napas.
“Dan Ibu juga tidak membenci kalian.”
Dedi memandangku.
“Kalau tidak membenci, kenapa memperlakukan kami begini?”
Pertanyaan itu hampir membuatku marah.
Tetapi aku menahannya.
“Begini bagaimana?”
“Memberikan sembilan ratus juta kepada mereka!”
Aku menatap kedua putraku.
“Baik. Kalian ingin tahu kenapa?”
Kubuka map lain.
“Lima belas tahun lalu, ketika Ibu pindah ke rumah Ningrum, mereka tinggal di rumah kontrakan dua kamar.”
Ningrum menggeleng.
“Ibu, tidak perlu cerita…”
“Perlu.”
Aku melanjutkan.
“Tahun kedua Ibu tinggal di sana, Arif mendapat kesempatan mengambil kredit rumah. Uangnya cukup untuk rumah kecil dua lantai.”
Aku mengingat hari itu dengan jelas.
Aku ikut melihat rumahnya.
Tangga cukup curam.
Aku mengatakan rumah itu bagus.
Tetapi seminggu kemudian Arif membatalkan pembelian.
Ia memilih rumah yang lebih jauh dan lebih mahal.
Alasannya?
Ada kamar di lantai bawah.
“Supaya Ibu tidak perlu naik tangga,” katanya.
DP rumah baru itu lebih besar hampir seratus juta.
Mereka menjual motor.
Ningrum mengambil tambahan jam kerja.
Arif menunda mengganti mobil tuanya.
Tidak sekali pun mereka memberitahuku bahwa keputusan itu dibuat karena kondisi lututku.
Aku baru mengetahuinya bertahun-tahun kemudian.
“Lalu tahun 2019,” kataku, “Ningrum mendapat tawaran pindah kerja ke Surabaya dengan kenaikan gaji besar.”
Rian menoleh kepada adiknya.
Ningrum terdiam.
“Dia menolak.”
“Kenapa?”
Aku tertawa pahit.
“Karena Ibu tidak mau pindah jauh dari dokter yang sudah menangani Ibu dan masih ingin sesekali pulang ke makam Bapak.”
Aku menatap Dedi.
“Kalian tahu itu?”
Tidak.
Tentu saja tidak.
“Ketika Ibu terkena infeksi paru, Arif mengambil cuti tanpa dibayar selama sembilan hari.”
Kubuka lembar penghasilan lama.
“Pendapatannya dipotong.”
Aku menunjuk angka.
“Apakah kalian tahu?”
Mereka diam.
“Sembilan ratus juta itu bukan upah merawat Ibu.”
Aku menutup map.
“Tidak ada harga untuk kasih sayang.”
“Uang itu Ibu berikan karena setelah semua keputusan hidup yang mereka korbankan untuk menampung Ibu, Ibu ingin suatu hari Ningrum dan Arif bisa bernapas lebih lega.”
Arif mengusap wajahnya.
“Bu…”
Aku menghentikannya.
“Ibu sudah memutuskan.”
Lalu aku menghadap Dedi.
“Sekarang kita kembali ke hal yang kamu lakukan kemarin.”
Ia langsung tegang.
Pak Harjono menjelaskan bahwa setelah Dedi bertanya tentang penahanan pencairan, ia menolak membantu karena tidak melihat dasar dokumen apa pun.
Bahkan ketika Dedi mencoba mengatakan bahwa aku mungkin “sudah tidak mampu mengambil keputusan sendiri”, Pak Harjono justru curiga.
Ia mengenalku.
Dua minggu sebelumnya aku sendiri datang memeriksa data bidang tanah, memahami nilai penilaian, bahkan bertanya soal rekening penerima.
Aku jelas bisa mengambil keputusan.
“Karena itu saya telepon Bu Sulastri tadi malam,” katanya.
Dedi menatapku.
Jadi itulah mengapa aku tahu.
Tetapi ternyata belum selesai.
Bu Lasmi yang sejak tadi diam tiba-tiba mengeluarkan teleponnya.
“Aku juga sebenarnya tidak ingin ikut urusan keluarga.”
Ia memandang Dedi.
“Tapi kemarin sore aku dengar sesuatu.”
Dedi langsung menegang.
“Apa?”
“Waktu kamu keluar dari rumah Pak Harjono, kamu menelepon seseorang di depan warung.”
Bu Lasmi tinggal tidak jauh dari sana.
Ia mendengar Dedi berkata,
“Pokoknya begitu uang masuk, Ibu harus tanda tangan. Kalau perlu bilang saja itu untuk simpanan bersama.”
Dedi berdiri.
“Itu bukan urusan Bu Lasmi!”
“Memang bukan.”
Tetanggaku itu menjawab tenang.
“Tapi setelah lima belas tahun aku yang membersihkan halaman rumah ibumu, sementara rumahmu cuma beberapa kilometer dari sana, rasanya aku punya hak untuk mengatakan bahwa jangan memakai kata ‘keluarga’ hanya ketika ada uang.”
Mira terlihat malu.
Wulan menatap suaminya.
Lalu ia bertanya kepada Rian,
“Kamu tahu soal ini?”
Rian cepat-cepat menjawab,
“Tidak.”
Namun tatapannya goyah.
Aku mengenal anakku.
Sejak kecil, setiap berbohong ia selalu mengusap ujung hidungnya.
Dan saat itu tangannya bergerak tepat ke sana.
“Rian.”
Ia tidak menjawab.
“Lihat Ibu.”
Perlahan ia mengangkat wajah.
“Kamu tahu?”
Akhirnya ia berkata,
“Cuma sedikit.”
Dedi langsung membentak,
“Jangan lempar aku sendiri!”
Ruangan berubah.
Dua saudara yang sehari sebelumnya kompak menghitung uangku kini mulai saling membuka rahasia.
Ternyata mereka sudah bertemu seminggu sebelumnya.
Bahkan sebelum meneleponku.
Mereka telah menghitung pembagian sendiri.
Dedi berencana memakai uang itu untuk melunasi utang bengkel dan membeli mobil bak baru.
Rian ingin memperbesar toko sembakonya.
Tidak salah memiliki rencana.
Yang membuatku sakit adalah mereka membuat semuanya berdasarkan uang yang belum pernah kuberikan.
Lebih buruk lagi…
Dedi sudah memberikan uang tanda jadi Rp35 juta untuk sebuah mobil bekas.
Ia mengatakan kepada penjual bahwa pelunasan dilakukan setelah “uang warisan ibu cair”.
Padahal aku masih hidup.
Kalimat itu menamparku lebih keras daripada semua perdebatan hari itu.
“Uang warisan?”
Aku mengulang pelan.
Dedi pucat.
“Maksudku bukan begitu.”
“Jadi di luar sana, Ibu sudah mati?”
“Bu…”
“Agar uang Ibu bisa disebut warisan?”
Dedi tidak mampu menjawab.
Rian terlihat panik.
Ia juga akhirnya mengaku telah meminjam Rp70 juta dari saudara istrinya karena yakin akan segera menerima bagian.
Wulan menatapnya seolah disambar petir.
“Kamu bilang uang itu untuk tambahan modal dari tabunganmu!”
Rian menunduk.
Pertengkaran besar hampir terjadi.
Tetapi aku tidak menikmati pemandangan itu.
Aneh.
Selama semalam aku membayangkan mungkin akan merasa puas melihat mereka akhirnya menerima akibatnya.
Ternyata tidak.
Mereka tetap anak-anakku.
Melihat hidup mereka berantakan juga membuat dadaku sakit.
Namun menjadi ibu bukan berarti harus terus menyelamatkan anak dari setiap keputusan buruk yang mereka buat sendiri.
Aku mengambil dua amplop kecil tadi.
“Sepuluh juta ini masih Ibu berikan.”
Dedi menatapku.
“Ambil atau tidak, terserah.”
“Kalau Ibu benar-benar sayang, Ibu bisa membantu utang kami.”
Aku memandangnya lama.
“Lima belas tahun lalu, ketika Ibu tergeletak di halaman, Ibu juga butuh bantuan.”
Ia terdiam.
“Bedanya, utangmu hari ini muncul karena kamu menghitung uang orang lain sebelum menerimanya.”
Aku menggeser amplop itu.
“Itu akibat keputusanmu, bukan kewajiban Ibu.”
Dedi marah.
Ia menendang kursi.
“Kalau begitu jangan pernah anggap aku anak lagi!”
Mira mencoba menarik tangannya.
Tetapi ia menepis.
Ia keluar dari rumah sambil membanting pintu.
Rian juga berdiri.
Namun sebelum pergi, ia menunjuk map di meja.
“Ini belum selesai. Kami akan cari tahu hak kami.”
Aku mengangguk.
“Silakan.”
Ia kelihatan tidak menyangka aku menjawab setenang itu.
Aku menatapnya lurus.
“Tapi mulai hari ini jangan datang membawa kata ‘hak’ sebelum kalian belajar mengingat kata ‘tanggung jawab’.”
Rian pergi.
Makan siang berakhir tanpa seorang pun menyentuh hidangan.
Aku pikir semuanya sudah selesai.
Aku salah.
Tiga hari kemudian, ketika kembali ke Semarang, Arif menerima telepon dari Bu Lasmi.
Pintu rumah lamaku di kampung terbuka.
Gembok belakang rusak.
Seseorang masuk malam-malam.
Tidak ada televisi.
Tidak ada uang.
Hampir tidak ada barang berharga di sana.
Tetapi satu benda hilang.
Koper cokelat tempat aku biasa menyimpan dokumen keluarga.
Dan di lantai ruang tengah, Bu Lasmi menemukan selembar kertas robek yang membuat darahku seakan berhenti mengalir.
Itu fotokopi sertifikat tanah.
Di bagian atasnya ada catatan dengan tulisan tangan yang sangat kukenal.
Tulisan salah satu putraku sendiri.
“Cari cara buktikan ini termasuk harta Bapak.”

