Bagian 3 — Saat Mereka Memaksaku Menandatangani Dokumen, Aku Membuka Satu per Satu Bukti Mereka
Aku membaca surat itu dua kali.
Bukan karena aku ragu.
Aku ingin memastikan mereka benar-benar sebodoh itu.
Tanggal yang tertulis di bagian bawah adalah 14 Juni.
Pada 14 Juni, pukul enam pagi, aku terbang dari Surabaya ke Makassar untuk menghadiri pelatihan pengadaan rumah sakit selama tiga hari.
Tiket pesawat ada.
Invoice hotel ada.
Foto acara ada.
Absensi digital dari penyelenggara juga ada.
Bahkan pada jam yang tertera di surat itu, aku sedang duduk di ruang konferensi bersama lebih dari seratus peserta.
Namun seseorang telah menulis namaku, menempel fotokopi KTP-ku, lalu meniru tanda tanganku.
Aku mengangkat kepala.
“Siapa yang membuat ini?”
Bima menjawab,
“Kamu pernah tanda tangan.”
“Di mana?”
“Di rumah.”
“Kapan?”
“Ya… tanggal itu.”
Aku hampir tersenyum.
“Jam berapa?”
Bima mulai kesal.
“Memangnya penting?”
“Sangat penting.”
Bu Rini menyela.
“Nadira, jangan bikin masalah lebih besar. Itu cuma surat keluarga.”
“Surat keluarga memakai KTP saya dan tanda tangan palsu?”
“Siapa bilang palsu?”
Aku membuka ponsel.
Menunjukkan boarding pass elektronik.
Kemudian foto yang diambil panitia di Makassar.
Tanggalnya terlihat jelas.
14 Juni.
Wajah Bima langsung berubah.
Aku meletakkan ponsel tepat di samping surat.
“Jam sembilan pagi surat ini katanya saya tanda tangani di Surabaya. Jam delapan tiga puluh saya sedang mengikuti pembukaan pelatihan di Makassar.”
Tak ada yang bicara.
Aku menatap Bu Rini.
“Sekarang mau bilang saya punya kembaran?”
Intan menunduk.
Fajar menggeser kursinya.
Pamannya Bima berdeham pelan, seperti baru sadar dia datang ke pertemuan keluarga yang salah.
Bima mengambil surat itu.
“Bisa saja tanggalnya salah.”
“Tanda tangannya juga salah.”
“Itu tanda tanganmu.”
“Bukan.”
“Mirip.”
“Tentu mirip. Karena kalian menyalinnya.”
Bima berdiri.
“Nadira!”
Aku juga berdiri.
“Kamu sudah mengambil emas saya. Mengambil uang saya. Berbohong soal pekerjaan selama berbulan-bulan. Menyuruh ibu kamu datang setiap Minggu untuk menggeledah rumah saya. Sekarang kamu membawa surat dengan tanda tangan palsu dan masih berani menaikkan suara?”
Bu Rini memukul meja.
“Jangan bicara kasar pada suamimu!”
Aku menoleh kepadanya.
“Dan Ibu jangan lagi masuk ke rumah saya tanpa izin.”
Wajahnya memerah.
“Rumah suamimu juga!”
“Rumah itu saya beli sebelum menikah.”
“Tapi kalian tinggal bersama!”
“Tinggal bersama tidak mengubah siapa yang membayar rumahnya.”
Bu Rini menunjuk wajahku.
“Inilah kenapa dari awal Ibu bilang perempuan yang terlalu banyak uang susah jadi istri. Semua dihitung!”
Aku terdiam.
Bukan karena tersinggung.
Aku hanya ingin mengingat kalimat itu dengan jelas.
Lalu aku bertanya,
“Kalau saya tidak menghitung, apa Ibu berharap saya tidak sadar seratus tiga puluh gram emas hilang?”
Ruangan mendadak senyap.
Intan menatap ibunya.
Fajar langsung menoleh ke Bima.
“Seratus tiga puluh gram?”
Ternyata tidak semua orang tahu jumlah sebenarnya.
Bima menatapku.
“Kamu sudah cek?”
“Aku sudah cek semuanya.”
Bu Rini buru-buru berkata,
“Tidak sebanyak itu.”
Aku mengeluarkan daftar.
“Enam belas keping dengan total seratus enam puluh gram. Sekarang tersisa tiga puluh gram.”
Kubacakan nomor faktur satu per satu.
Tanggal pembelian.
Berat.
Bahkan beberapa nomor seri.
Kemudian kutaruh fotokopi struk pegadaian di meja.
“Saya juga punya rekaman percakapan Minggu lalu.”
Wajah Bu Rini langsung pucat.
Bima melangkah ke arahku.
“Rekaman apa?”
Aku mundur satu langkah.
“Jangan sentuh ponselku.”
“Kamu merekam kami diam-diam?”
“Aku pulang mengambil charger. Aku mendengar kalian.”
Bima menatap ibunya.
Untuk pertama kalinya malam itu, mereka tidak punya jawaban yang sudah disiapkan.
Intan tiba-tiba berkata,
“Mas, kamu bilang emas itu punya kamu.”
Aku menatapnya.
“Kamu tahu ada emas?”
Dia diam.
“Intan.”
“Aku… cuma tahu Mas Bima lagi butuh uang.”
“Untuk mobilmu?”
Matanya mulai merah.
“Aku enggak tahu itu emas Kak Nadira.”
Bima langsung membela adiknya.
“Jangan libatkan Intan.”
Aku tertawa kecil.
“Menarik. Jadi saat uang saya dipakai membeli mobilnya, dia tidak boleh dilibatkan. Tapi saat utangmu harus dibayar, rumah saya boleh dilibatkan?”
Fajar akhirnya membentak adiknya.
“Bima, sebenarnya utangmu berapa?”
Bima diam.
“Berapa?”
“Sekitar enam ratus.”
“Enam ratus apa?”
“Juta.”
Bu Rini menutup mata.
Fajar berdiri begitu cepat hingga kursinya terdorong ke belakang.
“Enam ratus juta?”
“Aku sedang berusaha membereskan.”
“Dengan mencuri emas istrimu?”
“Aku bukan mencuri!”
Bima membentak.
“Aku cuma pinjam!”
Aku memotong,
“Orang yang meminjam meminta izin.”
Ia menatapku tajam.
“Aku suamimu.”
“Dan itu bukan izin.”
Bima mulai kehilangan kendali.
Ia menjelaskan bisnisnya kehilangan proyek besar empat bulan sebelum pernikahan.
Dia punya tagihan pada beberapa pemasok.
Alih-alih jujur kepadaku, dia mengambil pinjaman.
Ketika cicilan menumpuk, dia mencoba mendapat uang cepat melalui judi online.
Awalnya kehilangan dua puluh juta.
Lalu lima puluh.
Lalu lebih dari dua ratus.
Dia terus mengejar kekalahan karena yakin satu kemenangan besar akan menutup semuanya.
Tidak pernah terjadi.
Pada saat kami menikah, utangnya sudah lebih besar daripada tabungannya.
Semua “meeting klien” setelah menikah ternyata sebagian besar adalah kunjungan ke kreditur, mencari proyek kecil, atau sekadar duduk di kafe karena malu pulang.
Bu Rini mengetahui semuanya.
Namun bukannya memaksanya jujur, ia membantu menutupinya.
Mereka mulai mengambil emas dua bulan setelah pernikahan.
Awalnya satu keping.
Kemudian dua.
Lalu semakin sering.
Karena Bu Rini bisa menggadaikan emas menggunakan identitasnya sendiri, namaku tidak muncul dalam transaksi.
Setiap Minggu, aku disuruh keluar.
Bu Rini masuk ke ruang kerja.
Bima membuka lemari menggunakan kunci duplikat yang diam-diam dibuatnya setelah meminjam gantungan kunciku.
Mereka mengambil sedikit demi sedikit.
Mereka yakin aku jarang memeriksa.
Mereka benar.
Sebagian uang dipakai membayar kreditur.
Sebagian untuk menutup kerugian perjudian.
Sebagian diberikan sebagai uang muka mobil Intan setelah Bima telanjur berjanji akan membantu adiknya.
“Kenapa?”
Aku menatap Bima.
“Kenapa kamu membelikan adikmu mobil ketika kamu punya utang ratusan juta?”
Dia menjawab,
“Karena aku sudah janji ke Ayah sebelum Ayah meninggal.”
Aku memandangnya tak percaya.
“Jadi untuk menepati janjimu kepada ayahmu, kamu mencuri peninggalan ayahku?”
Tak ada seorang pun menjawab.
Kalimat itu menghantam lebih keras daripada teriakan.
Bu Rini mulai menangis.
“Nadira, Ibu salah. Tapi Bima tertekan. Dia takut kamu batal menikah kalau tahu bisnisnya jatuh.”
Aku menatapnya.
“Jadi Ibu memilih membiarkan saya menikahi seseorang dengan utang besar tanpa memberi saya kesempatan memilih?”
“Kami pikir setelah menikah semuanya bisa diperbaiki.”
“Dengan uang saya.”
“Dengan uang keluarga.”
“Itulah masalahnya, Bu. Kalian menyebut barang saya ‘uang keluarga’ setiap kali kalian ingin mengambilnya. Tapi utang Bima kalian sembunyikan sebagai ‘urusan Bima’ ketika saya berhak mengetahuinya sebelum menikah.”
Bu Rini terdiam.
Aku mengambil map cokelat itu.
Bima merebut ujungnya.
“Taruh.”
“Ini menggunakan nama saya.”
“Taruh!”
Dia menarik lebih keras.
Aku langsung melepaskannya.
Map itu jatuh.
Kertas berserakan.
Pada saat yang sama ponselku berbunyi.
Pesan dari Reza.
Saya sudah di depan.
Aku memang memintanya datang.
Bukan karena ingin mengintimidasi siapa pun.
Aku tahu begitu keluarga Bima sadar aku mengetahui semuanya, pembicaraan akan berubah menjadi tekanan.
Aku butuh seseorang yang bisa melihat dokumen itu sebagai pihak ketiga.
Ketika Reza masuk, Bu Rini langsung berdiri.
“Kenapa bawa orang luar ke masalah keluarga?”
Aku menjawab,
“Karena masalah keluarga kalian sudah memakai KTP dan tanda tangan saya.”
Reza tidak banyak bicara.
Ia memeriksa salinan surat.
Memotret beberapa bagian dengan izinku.
Lalu mengatakan kepada Bima,
“Sebaiknya jangan gunakan dokumen ini untuk proses apa pun sampai asal-usul tanda tangannya jelas.”
Bima mendengus.
“Kamu mengancam?”
“Saya tidak mengancam siapa pun.”
Reza menutup map.
“Saya hanya menyarankan agar tidak ada pihak yang membuat masalah lebih besar.”
Aku kemudian menatap Bima.
“Tujuh puluh dua jam.”
“Apa?”
“Dalam tujuh puluh dua jam, aku mau daftar lengkap emas yang digadaikan, dijual, atau masih ada. Aku mau semua struk. Aku mau tahu ke mana uangnya pergi. Dan aku mau seluruh dokumen yang menggunakan namaku.”
Bima menatapku seolah aku orang asing.
“Kalau enggak?”
“Aku akan mengambil langkah resmi.”
Bu Rini menangis lebih keras.
“Kamu mau melaporkan suamimu sendiri?”
Aku melihatnya.
“Ibu lebih takut saya melapor daripada takut ketika mengambil barang saya?”
Ia tidak menjawab.
Aku pulang malam itu bersama Reza.
Bukan ke rumah.
Aku menginap di apartemen Dita, sahabatku.
Sebelum pergi, aku mengubah kode akses smart lock rumah melalui aplikasi.
Akses Bima masih kubiarkan sementara karena barang-barangnya ada di sana, tapi seluruh log masuk tersimpan.
Pagi berikutnya perang lain dimulai.
Bukan di rumah.
Di grup WhatsApp keluarga.
Bu Rini menulis pesan panjang.
Katanya aku istri yang tidak mau membantu suami.
Katanya Bima sedang mengalami masa sulit dan aku justru mempermalukannya.
Katanya emas dalam rumah tangga “seharusnya tidak dipermasalahkan”.
Dua bibi Bima mengirim emoji sedih.
Seorang sepupu menulis,
“Masalah suami istri jangan dibawa ke hukum.”
Aku tidak membalas selama dua jam.
Kemudian aku mengirim satu pesan.
Masalah suami istri adalah kesulitan yang dibicarakan bersama. Mengambil 130 gram emas tanpa izin, membuat tanda tangan atas nama orang lain, dan mencari sertifikat rumah diam-diam bukan komunikasi rumah tangga. Saya tidak meminta siapa pun memihak. Saya hanya meminta barang saya dikembalikan.
Setelah itu aku keluar dari grup.
Sorenya Fajar menelepon.
“Nadira, aku minta maaf. Aku benar-benar enggak tahu.”
Aku percaya dia.
Karena pada malam pertemuan, wajahnya terlihat sama terkejutnya denganku.
Fajar kemudian memberiku informasi yang justru membuka masalah lebih besar.
“Dua minggu lalu Bima tanya aku kenal orang pembiayaan properti atau enggak.”
Jantungku kembali berdegup keras.
“Untuk apa?”
“Katanya mau refinancing rumah.”
“Rumah siapa?”
“Dia bilang rumah kalian.”
Aku langsung menelepon Reza.
Keesokan harinya kami menghubungi pihak bank tempat aku biasa bertransaksi dan memastikan tidak ada persetujuan dariku untuk pengajuan dengan jaminan rumah.
Aku juga mengamankan salinan seluruh dokumen kepemilikan.
Aku berpikir itu sudah cukup.
Ternyata belum.
Pada hari ketiga, pukul sebelas siang, kamera pintu rumah mengirim notifikasi gerakan.
Aku membuka aplikasi.
Bima berdiri di depan pagar.
Bersamanya seorang laki-laki membawa map, alat ukur laser kecil, dan tanda pengenal tergantung di leher.
Mereka berbicara.
Aku memperbesar suara.
Bima menunjuk ke arah rumah.
“Yang ini. Luas tanah sesuai data. Istri saya sedang kerja.”
Laki-laki itu bertanya sesuatu.
Bima menjawab,
“Sudah setuju. Berkas persetujuannya ada.”
Aku langsung mengambil kunci mobil.
Dua puluh menit kemudian aku tiba.
Bima terlihat kaget ketika aku turun dari mobil.
Pria tadi tersenyum profesional.
“Bu Nadira?”
“Iya.”
“Saya mau melakukan survei awal terkait pengajuan pembiayaan dengan agunan properti.”
Aku menatap Bima.
Lalu menatap orang itu.
“Saya pemilik rumah ini.”
“Iya, Bu. Sesuai dokumen.”
“Saya tidak pernah mengajukan apa pun.”
Wajah petugas berubah.
Bima segera menyela.
“Sayang, ini yang kemarin aku jelaskan—”
Aku mengangkat tangan.
“Diam.”
Petugas membuka mapnya.
Ada fotokopi sertifikat.
Fotokopi KTP.
Dan satu lembar persetujuan pemilik.
Di bawahnya ada tanda tangan atas namaku.
Sekali lagi.
Kali ini bukan sekadar surat yang mereka buat di meja makan.
Dokumen itu sudah dikirim kepada pihak lain.
Petugas menatapku.
“Bu… tanda tangan ini bukan milik Ibu?”
Aku menatap Bima tepat di mata.
“Bukan.”
Untuk pertama kalinya sejak aku mengetahui semua kebohongannya, wajah suamiku benar-benar kehilangan warna.
Dan saat itu aku sadar, emas seratus tiga puluh gram ternyata bukan akhir dari rencana mereka.
Itu baru permulaan.

